Selasa, 12 September 2017

BELAJAR ILMU SYAR'I DARI DUNIA MAYA ??



BELAJAR ILMU SYA’I DARI DUNIA MAYA ??

Oleh : Azwir B. Chaniago

Dengan kemajuan tekhnologi komunikasi yang sangat hebat beberapa tahun terakhir ini maka dunia maya atau cyberspace mampu menyajikan berbagai informasi dan ilmu pengetahuan termasuk ilmu syar’i.

Oleh karena itu sangatlah banyak penuntut ilmu yang memanfaatkannya sebagai salah satu sarana untuk belajar. Ini tentu tidak ada salahnya asal berhati hati dalam memanfaatkannya. Tetap waspada terhadap kekurangannya

Menuntut ilmu memang sesuatu yang sangat utama dalam syari'at Islam. Diantara keutamaannya adalah sebagaimana sabda : “Man salaka thariiqan yaltamizu bihi ilman salallahu lahu bihi  thariqan  illal  jannah.” Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu,  Allah mudahkan jalannya menuju surga. (H.R Imam Muslim). 

Imam Ibnu Rajab al Hambali menjelaskan bahwa menempuh jalan untuk menuntut ilmu memiliki dua makna yaitu :
 
Pertama : Menempuh jalan dalam arti sebenarnya yaitu melangkahkan kaki menuju majelis-majelis ilmu. 

Kedua : Menempuh  jalan (cara-cara) yang mengantarkan seseorang untuk mendapatkan ilmu seperti menghafal dan mengulangi pelajaran, membaca dan menelaah kitab-kitab. Juga termasuk cara-cara lain yang dapat menghantarkan seorang hamba memperoleh ilmu syar’i.

Namun demikian ketahuilah bahwa belajar dari dunia maya melalui internet dengan memanfaatkan sarana Instigram, WhatsApp dan yang semacamnya memiliki beberapa kekurangan, diantaranya :

(1) Hampir tidak ada bimbingan langsung dari guru serta kesempatan bertanya.

(2) Dengan membaca saja bisa jadi salah paham tentang sesuatu subjek. 

(3) Bisa jadi membuat sebagian penuntut ilmu malas menghadiri majlis ilmu, lalu mencukupkan dengan belajar dari dunia maya saja dan tak perlu keluar rumah. 

(4) Segala macam ilmu tumpah ruah di dunia maya. Sehingga sangat sulit bagi pemula untuk memilih dan memilah mana ilmu yang bermanfaat mana yang mudharat, mana ilmu yang lurus dan mana yang menyesatkan, mana yang sunnah dan mana yang mengada ada.  

Oleh karena itu maka hadir di majlis ilmu dan duduk di hadapan guru adalah cara paling baik dan paling bermanfaat dalam belajar  terutama  belajar ilmu syar’i. Bahkan ada ilmu agama yang tidak bisa tidak harus dipelajari dengan cara  berhadapan langsung dengan guru. Duduk dihadapan guru. Diantara contohnya adalah ilmu tentang cara membaca al Qur-an dengan benar dan juga belajar bahasa. 

Syaikh Muhammad Shalih al Utsaimin pernah ditanya perihal belajar dari buku buku saja tanpa bimbingan guru. Beliau menjawab : “Tidak diragukan lagi bahwa memperoleh ilmu melalui ulama atau guru lebih bisa mencapai hasil daripada melalui buku buku. Karena menuntut ilmu melalui buku buku lebih susah dan lebih membutuhkan kesungguhan yang lebih…. Juga tekadang bisa jadi samar baginya beberapa perkara …. Adapun perkataan : Barangsiapa dalilnya adalah bukunya maka kesalahannya lebih banyak daripada benarnya, maka (perkataan ini) tidak mutlak benar dan tidak pula mutlak salahnya.
Adapun yang mengambil ilmu dari buku apa saja yang dia lihat (dan baca) maka tidak diragukan lagi bahwa dia akan banyak kesalahannya. (Kitabul ‘Ilmi)

Ketahuilah bahwa diantara keutamaan yang juga akan diperoleh seorang penuntut ilmu dengan hadir dihadapan guru adalah :

Pertama : Dimintakan ampun oleh penghuni langit dan bumi serta dinaungi malaikat. 

Dari Abu Darda’ Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya para Malaikat membentangkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha atas apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya orang yang berilmu benar-benar dimintakan ampun oleh penghuni langit dan bumi, bahkan oleh ikan-ikan yang berada di dalam air.” (H.R Abu Dawud, at Tirmidzi, Imam Ahmad dan juga yang selainnya).

Kedua : Dikelilingi oleh malaikat dan diliputi  rahmat serta ketenangan.

Rasulullah bersabda : “Dan tidaklah sekelompok orang berkumpul di dalam satu rumah di antara rumah rumah Allah, mereka membaca Kitab Allah dan saling belajar diantara mereka kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka. Malaikat mengelilingi mereka dan Allah menyebut nyebut mereka dikalangan (para Malaikat) dihadapan-Nya. (H.R Imam Muslim, at Tirmidzi dan yang lainnya).

Oleh karena itu seorang penuntut ilmu hendaklah terus berusaha untuk belajar dengan hadir di majlis ilmu. Sedangkan belajar melalui sarana lain seperti dari dunia maya ataupun dari buku buku memang tidak mengapa tetapi  diperlukan kehati hatian agar tak salah dalam memahami suatu subjek apalagi ilmu syar’i. Wallahu A’lam. (1.119)

2 komentar:

  1. Terima Kasih, sudah memberi Pencerahan. Jazakumullah Khoiron Katsiro. Barakallahu.

    BalasHapus
  2. Terima Kasih, sudah memberi Pencerahan. Jazakumullah Khoiron Katsiro. Barakallahu.

    BalasHapus