Senin, 04 September 2017

BERDZIKIR TIDAKLAH DENGAN SUARA KERAS



BERDZIKIR TIDAKLAH DENGAN SUARA KERAS

Oleh : Azwir B. Chaniago

Berdzikir kepada Allah Ta’ala  adalah sebaik baik amalan bagi orang orang beriman. Perhatikanlah bahwa  Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam telah  mengabarkan kepada para sahabat dalam sabda beliau : “Maukah aku kabarkan kepada kalian amal amal kalian  yang terbaik, yang paling suci di sisi Raja kalian, yang paling meningkatkan derajat kalian, dan lebih baik bagi kalian daripada memberikan emas dan perak, serta lebih baik bagi kalian daripada bertemu musuh, lalu kalian memenggal leher mereka dan mereka memenggal leher kalian ? Para sahabat menjawab : Tentu saja wahai Rasulullah. Maka beliau salallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Yaitu dzikir kepada Allahazza wa Jalla”. (H.R Imam Ahmad, Imam Ibnu Majah, al Hakim dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Sungguh Allah Ta’ala telah memerintahkan orang  beriman untuk banyak berdzikir pada setiap waktu sebagaimana  firman-Nya : “Wahai orang orang yang beriman, ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (Nama-Nya) sebanyak banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang”. (Q.S al Ahzaab 41)

Ketahuilah bahwa salah satu pintu masuk syaithan kedalam diri manusia adalah karena lalai berdzikir. Imam Ibnul Qayiim menyebutkan tiga pintu masuk syaithan kedalam diri manusia ada tiga. Satu diantaranya  adalah : Lalai berdzikir, karena orang yang berdzikir (seolah olah) berada dalam benteng. Ketika dia lalai (dari berdzikir) maka pintu benteng itu terbuka. Lalu musuh pun akan memasukinya dan orang ini akan kesulitan untuk mengeluarkan musuh (syaithan) yang telah masuk.

Dzikir adalah ibadah. Oleh karena itu harus dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah dan ittiba’ yaitu dengan cara cara yang diajarkan Rasulullah. Diantara cara atau adab dalam berdzikir adalah dengan merendahkan diri, rasa takut dan tidaklah dengan mengeraskan suara sebagaimana difirmankan Allah Ta’ala : “Wadzkur rabbaka fii nafsika tadharru’an wa khiifatan wa duunal jahri minal qauli bil ghuduwwi wal aashaali wa laa takun minal ghaafiliin”. Dan ingatlah Rabb-mu dalam hatimu  dengan rendah hati dan rasa takut dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang orang yang lalai.  (Q.S al A’raf 205).

Syaikh as Sa’di berkata : Dzikir kepada Allah bisa dengan hati, dengan lisan dan bisa pula dengan keduanya. Dengan lisan dan hati adalah bentuk dzikir yang paling sempurna. Allah memerintahkan hamba dan Rasul-Nya Muhammad dan orang orang yang mengikutinya agar mengingat Allah pada dirinya, yakni dengan ikhlas dan dalam keadaan sendiri “dengan merendahkan diri” dengan lisanmu, mengulang ulang macam macam dzikir “dan rasa takut” didalam hatimu dimana kamu takut kepada Allah. Hatimu khawatir dan cemas terhadap amalmu yang mungkin tak diterima.

Bukti rasa takut tersebut adalah kesungguh kesungguhan dan keseriusan dalam (1) menyempurnakan (2) memperbaiki dan (3) mengikhlaskan amal. “Dan dengan tidak mengeraskan suara” . Yakni ambillah jalan tengah. Janganlah kamu mengeraskan doa (dan dzikirmu) dan jangan pula menyamarkannya dan carilah jalan tengah di antara itu.

“Di waktu pagi dan petang”. Dua waktu ini memiliki keistimewaan dan keutamaan untuk berdzikir kepada Allah. “Dan janganlah kamu termasuk orang orang yang lalai”. Yaitu orang orang yang melupakan Allah lalu Allah menjadikan mereka melupakan diri mereka sendiri. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).  
   
Dalam hadits Abu Musa al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika sampai ke suatu lembah, kami bertahlil dan bertakbir dengan mengeraskan suara kami. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda : “Wahai sekalian manusia. Lirihkanlah suara kalian. Kalian tidaklah menyeru sesuatu yang tuli dan ghaib. Sesungguhnya Allah bersama kalian. Allah Maha Mendengar dan Mahadekat. Mahaberkah nama dan Mahatinggi kemuliaan-Nya. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Hadits ini dengan sangat jelas menunjukkan bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah suka dengan suara keras ketika berdzikir. Beliau langsung menegor para sahabat ketika berdzir dengan keras.
Imam ath Thabari  berkata : Hadits ini menunjukkan dimakruhkannya mengeraskan suara pada doa dan dzikir. Demikianlah yang dikatakan para salaf yaitu para sahabat dan tabi’in.” (Fathul Bari).

Oleh karena itu maka seorang hamba tentulah akan senantiasa banyak berdzikir kepada Allah dan dengan merendahkan diri dan suara lirih serta rasa takut. Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.112)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar