Minggu, 04 Februari 2018

TIGA PERBUATAN BAIK YANG HARUS DISEGERAKAN



TIGA PERBUATAN BAIK YANG HARUS DISEGERAKAN

Oleh : Azwir B. Chaniago

Seorang hamba haruslah bersegera untuk melakukan kebaikan. Jangan di tunda  tunda berlombalah. Allah berfirman : “Fastabiqul khairaat”. Maka berlomba lombalah (dalam melakukan) kebaikan. (Q.S al Baqarah 148).


Khalifah Umar bin Khaththab berkata : Perlahan lahan (tidak tergesa gesa, pen.) dalam semua urusan itu baik KECUALI UNTUK URUSAN AKHIRAT. (Kitab az Zuhud, Imam Ahmad).


Sungguh kita tak mengetahui kapan kita akan dipanggil untuk kembali kepada Allah Ta’ala. Dan kalau sudah dipanggil yaitu diwafatkan, hakikatnya tak ada lagi kebaikan atau amal shalih yang bisa kita lakukan.  Jadi bersegeralah melakukan kebaikan. Diantara kebaikan kebaikan yang sangat perlu kita segerakan adalah :

Pertama : Bersegera minta ampun dan bertaubat.

Ketika datang waktunya seseorang diwafatkan maka tidak ada syarat apakah seseorang itu sudah bertaubat atau belum. Pada hal kita sering berbuat dosa. Oleh karena itu bersegeralah bertaubat. Jangan sampai dosa dosa kita dibawa ke alam kubur. Jangan sampai menjadi orang yang merugi.  
    
Sungguh Allah Ta’ala menyuruh kita untuk  bertaubat agar kita menjadi orang yang beruntung. Allah Ta’ala berfirman :  “Wa tuubuu ilallahi jamiian aiyuhal mu’minuuna, la’allakum tuflihuun”. Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang orang yang beriman, agar kamu beruntung.  (Q.S an Nuur 31).

Ketahuilah bahwa seorang hamba wajib  untuk bersegera memohon ampun dan bertaubat kepada Allah. Jangan sekali kali menunda nundanya. Allah berfirman : “Wa saari’u ila maghfiratin min rabbikum” Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Rabbmu. (Q.S Ali Imran 133).

Imam Ibnul Qayyim berkata : Menyegerakan taubat dari dosa merupakan kewajiban dan tidak boleh ditunda tunda. Jika menunda taubat maka berarti telah bermaksiat dengan penundaan itu. Bila bertaubat dari dosa, maka masih tersisa darinya taubat yang lain, yaitu taubat dari sikap menunda nunda taubat itu. Hal ini jarang sekali terbetik dalam jiwa pelaku taubat, dia beranggapan bahwa jika ia bertaubat dari dosa tidak ada lagi dosa yang tersisa darinya. Padahal dia harus (pula) bertaubat terhadap dosa penundaan taubatnya. 

Kedua : Bersegera melakukan amal shalih.

Imam Hasan al Bashri mengingatkan agar kita tidak  lalai  dalam berbuat kebaikan. Beliau berkata : Jauhkan dirimu dari “taswif” yaitu berkata “nanti sajalah.

Barangkali di zaman ini ada sebagian orang yang berkata : Saya akan  shalat ke masjid setelah pensiun, saya akan membaca al Qur an secara rutin mulai awal Ramadhan yang akan datang ataupun ungkapan lain yang semacamnya. 

Sungguh tak ada yang mengetahui apakah seseorang masih punya umur sampai pensiun atau sampai awal Ramadhan yang akan datang. Saat kematian seseorang itu hakikatnya memang ada dua yaitu sudah dekat atau sudah sekali. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

Oleh sebab itu seorang hamba hendaklah bersegera dalam beribadah atau melakukan amal shalih. Ketahuilah modal paling utama seorang hamba untuk mendapatkan surga adalah iman dan amal shalih. Allah berfirman : “Wa basysyiril ladziina aamanuu wa ‘amilush shalihaati anna lahum jannatin tajrii min tahtihal anhaar” . Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang orang yang beriman dan beramal shalih bahwa untuk mereka (disediakan) surga surga yang mengalir dibawahnya sungai sungai.  (Q.S al Baqarah 25)

Ketiga : Bersegera belajar ilmu.

Dalam syariat Islam belajar ilmu dihukumi sebagai wajib. Oleh karena itu tidaklah pantas jika seorang hamba melalaikannya. Rasulullah bersabda  :  Thalibul ilmi faridhatun ‘ala kulli muslim” Belajar ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim. (H.R Imam Ahmad dan Imam Ibnu Majah).

Perkara yang paling utama untuk dipelajari lebih dahulu atau disegerakan belajarnya adalah ilmu syar’i. Kenapa ? : Karena itu kebutuhan kita sebagai seorang hamba. Perhatikanlah saudaraku :  (1) Tidaklah seorang hamba bisa mengingat Allah secara benar kecuali dengan ilmu (2) Tidaklah seorang hamba bisa melakukan ketaatan kepada Allah dengan benar kecuali dengan ilmu. (3) Tidaklah seorang hamba bisa bersyukur atas  nikmat Allah kecuali dengan ilmu (4) Tidaklah seorang hamba bisa bersabar secara benar  terhadap ujian yang diberikan Allah kecuali dengan ilmu.

Dan sungguh kita butuh ilmu untuk memahami aqidah yang benar. Kita butuh ilmu untuk beribadah yang benar. Kita butuh ilmu untuk berakhlak yang terpuji. Kita butuh ilmu agar bisa bermuamalah dengan baik. Bahkan beberapa saat sebelum matipun kita masih butuh ilmu yaitu ilmu tentang kalimat apa yang harus kita ucapkan pada saat yang kritis itu. 

Oleh karena itu bersegera belajar ilmu adalah  perkara yang sangat ditekankan karena ini adalah kebutuhan manusia. Imam Ahmad bin Hambal berkata : Kebutuhan manusia terhadap ilmu melebihi kebutuhannya terhadap makan dan minum. Untuk makan dan minum manusia hanya butuh dua atau tiga kali saja sehari. Tapi kebutuhan manusia terhadap ilmu adalah sebanyak tarikan nafasnya.

Sebagai penutup tulisan ini, dinukil satu hadits tentang keutamaan menuntut ilmu yaitu dari Abu Darda’ Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya para Malaikat membentangkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha atas apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya orang yang berilmu benar-benar dimintakan ampun oleh penghuni langit dan bumi, bahkan oleh ikan-ikan yang berada di dalam air.” (H.R Abu Dawud, at Tirmidzi, Imam Ahmad dan juga yang selainnya).

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.228).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar