Minggu, 25 Februari 2018

ORANG YANG DIMURKAI DAN YANG SESAT JANGAN DIIKUTI



ORANG YANG DIMURKAI DAN YANG SESAT JANGAN DIIKUTI

Oleh : Azwir B. Chaniago

Empat belas abad yang lalu, Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan bahwa pada akhir zaman akan ada diantara orang orang yang mengaku umat beliau tapi mengikuti jejak atau jalan orang orang yang dimurkai dan orang orang yang sesat.
Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahuanhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahualaihi wa sallam bersabda :

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ فَمَنْ؟
Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, pen.), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata : “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani? Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (H.R Imam Muslim).

Ibnu Taimiyah berkata :  Tidak diragukan lagi bahwa umat Islam ada yang kelak akan mengikuti jejak Yahudi dan Nasrani dalam sebagian perkara. (Majumu’ Fatawa).
Beliau, Imam Ibnu Taimiyah juga berkata : Hadits ini menunjukkan bahwa kita dilarang mengikuti jejaknya orang sebelum umat ini. Barangsiapa mengikuti jejak mereka (maka) tergolong orang jahil, seperti mengikuti (acara) hari ulang tahun mereka dan upacara lainnya.

Beliau juga berkata : Jika meniru mereka dalam urusan dunia akan menarik kecintaan dan kasih saying maka bagaimana dengan mengikuti upacara keagamaan mereka, tentu lebih berbahaya dan bisa jadi lenyap keimanan mereka. (Iqtidha’ ash Shirath al Mustaqim)  

Imam an Nawawi  ketika menjelaskan hadits di atas berkata : Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal) dan dziraa’ (hasta) serta lubang dhab (lubang hewan tanah yang penuh liku liku), adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan Nashroni. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan, bukan dalam hal-hal kekafiran mereka yang diikuti. Perkataan beliau ini adalah suatu mukjizat bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah terjadi saat-saat ini.  (Syarh Shahih Muslim).

Oleh karena itu, agar terhindar dari mengikuti jalan orang yang dimurkai dan jalan orang yang sesat maka paling kurang 17 kali sehari kita dalam shalat fardhu, yaitu :

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّين

Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Q.S al Fatihah  6-7).

Namun demikian ketahuilah bahwa Rasulullah juga menjelaskan bahwa pada akhir zaman masih ada sebagian umat beliau yang tetap teguh membela Sunnah dan berada diatas kebenaran yang beliau bawa. 

Dari Tsauban, Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tetap ada golongan dari umatku ini yang membela kebenaran. Tidaklah membahayakan bagi mereka orang yang menghinanya, sehingga datang ketentuan Allah (Hari Kiamat) sedangkan mereka tetap berpegang kepada kebenaran”. (H.R Imam Muslim).

Semoga kita tergolong orang orang yang tetap teguh memegang kebenaran yaitu Sunnah Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam dan semua yang beliau ajarkan. Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.235)




  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar