Minggu, 14 Juni 2015

AMALAN KECIL JANGAN DIABAIKAN



AMALAN YANG KELIHATAN KECIL JANGAN DIABAIKAN

Oleh : Azwir B. Chaniago

Kalau kita mau dengan sungguh sungguh memperhatikan kehidupan kita, maka menjadi tahulah kita bahwa pada hari ini saja kita telah banyak mengabaikan amalan amalan yang mungkin kelihatannya kecil. Diantara contohnya adalah berapa kali kita hari ini sudah masuk ke kamar mandi-wc. Mungkin ada yang sudah tiga, empat ataupun lima kali bahkan bisa lebih.

Adakah semua kita yang keluar masuk kamar mandi pada hari ini telah melaksanakan adabnya. Minimal membaca (1) Doa masuk kamar mandi dan (2) Doa keluar kamar mandi. Semuanya itu barangkali dianggap amalan kecil padahal menghasilkan kebaikan dan pahala yang banyak.

Mungkin ada sementara orang yang menyangka bahwa ini hanyalah amalan kecil saja dan tidak pula wajib. Bukankah kita harus mengutamakan amalan amalan yang besar apalagi yang bersifat fardhu atau wajib. Persangkaan seperti ini tidaklah salah tapi tidak pula seluruhnya benar. 

Pertama : Memang seorang hamba seharusnya mengutamakan amal amalan yang wajib, paling utama dan utama sesuai jenis amalnya, waktu dan tempatnya.
  
Kedua : Ketahuilah andaikata suatu amal itu mungkin (?) kita anggap kecil dan remeh tapi kita tidak tahu apakah amalan yang menurut kita  kecil,  akan kecil pula dimata Allah. Allahu A’lam. Kita tidak mengetahuinya karena ilmu kita sedikit. Allah berfirman : “Wamaa uutiitum minal ‘ilmi illa qaliilaa” (Q.S al Israa’ 85).

Ketiga : Betapa banyak amal amal yang kelihatan kecil ternyata mempunyai nilai yang amat besar disisi Allah Ta’ala. Diantaranya contohnya adalah   berdzikir dengan empat kalimat yang  Agung.

Rasulullah mengajarkan kepada kita empat kalimat dzikir yang paling utama dan paling agung yaitu : 1. Subhanallah, 2. Alhamdulillah, 3. Lailaha ilallah dan 4. Allahu Akbar. Beliau sangat menganjurkan kita berdzikir dengan empat kalimat ini disamping kalimat kalimat taiyibah yang lainnya. Secara zhahir adalah ringan untuk berdzikir dengan empat kalimat ini, namun memiliki  keutamaan dan nilai yang  banyak seperti yang  dijelaskan  dalam beberapa sabda Rasulullah, diantaranya adalah :

Point satu : Kalimat yang paling dicintai Allah.
Rasulullah bersabda : “Perkataan yang paling dicintai Allah ada empat : 1. Subhanallah (Mahasuci) 2. Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah) 3. La ilaaha illallah (Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah) dan 4. Allahu Akbar (Allah Mahabesar). Tidak mengapa engkau memulai menyebutnya dari yang mana saja”  (H.R Imam Muslim).

Point dua : Lebih dicintai Rasulullah daripada dunia dan seisinya.
Rasulullah Salallahu ‘alaihi wassalam telah mengabarkan bahwa empat kalimat tersebut lebih beliau cintai daripada apa yang tersinari matahari yaitu dunia dan Beliau bersabda : “Sungguh aku mengucapkan Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha ilallaah dan Allahu Akbar, lebih aku cintai daripada apa apa yang disinari matahari (dunia dan seisinya). H.R Imam Muslim dari Abu Hurairah.

Point tiga : Menghapuskan dosa.
Diriwayatkan dari  sahabat Anas bin Malik bahwa Rasulullah melalui sebatang pohon yang daunnya mengering. Lalu beliau memukul pohon tersebut dengan tongkatnya, maka berguguranlah daun daunnya. Kemudian beliau bersabda : “Sesungguhnya Alhamdulillah, Subhanallah, Laa ilaaha ilallaah dan Allahu Akbar akan menggugurkan dosa dosa seorang hamba sebagaimana bergugurannya dedaunan dari pohon ini. (H.R Imam at Tirmidzi, dengan sanad hasan).

Point empat : Berat dalam timbangan.
Dari Abu Salma, bahwa dia mendengar Nabi bersabda : “Bagus, sangat bagus lima perkara ini dan alangkah beratnya dalam timbangan amal : 1. Laa ilaaha ilallaah, 2. Subhanallah, 3. Alhamdulillah, 4. Allahu Akbar, 5. Anak shalih seorang muslim yang meninggal lalu ia berharap pahala Allah (atas musibah tersebut).” H.R an Nasa’i, Ibnu Hibban, Imam Ahmad dan yang lainnya).

Point lima : Sebagai perisai terhadap api neraka.
Sungguh empat kalimat ini akan datang pada hari Kiamat dan menjadi perisai atau penghalang seseorang yang selalu mengucapkannya, dari jilatan api neraka. Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah bersabda : “Khudzuu junnatakum” Ambillah perisai kalian. 

Lalu para sahabat berkata : Wahai Rasulullah, apakah ada musuh yang datang ?. Rasulullah bersabda : “Tidak (tidak ada musuh yang datang) akan tetapi (ambillah) perisai (sebagai pelindung) dari Neraka, yakni dengan mengucapkan : 1. Subhanallah 2. Alhamdulillah 3. La ilaaha ilallah 4. Allahu Akbar. Keempat kalimat itu akan datang di hari Kiamat sebagai mujannabaat (yang berjalan disisi kita) dan sebagai mu’aqqibaat (yang berjalan dibelakang kita). Keempat kalimat itu merupakan al baaqiyaatush shaalihaat (kekal pahalanya hingga hari Kiamat dan berguna bagi pembacanya). Hadits Hasan Lihat Shahiihut Targhib  wat Tarhib).

Point enam : Kalimat pilihan Allah bagi hambanya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memilih kalimat ini bagi para hambaNya. Dan pahala yang besar disediakan bagi orang yang melazimkan diri untuk membacanya.

Dari Abu Hurairah dan juga dari Abu Sa’id al Khudri bahwa Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam bersabda :  “Sesungguhnya Allah telah memilih dari perkataan empat kalimat : Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallaah dan Allahu Akbar. Maka barangsiapa mengucapkan Subhanallah, Allah menulis duapuluh kebaikan baginya atau dihapus darinya duapuluh kesalahan. Barangsiapa mengucapkan Alllahu Akbar maka ia mendapatkan seumpama yang tadi.
Barangsiapa membaca Laa ilaaha ilallaah akan mendapat seumpama yang tadi. Barang siapa membaca Alhamdulillahi rabbil ‘alamin dengan ikhlas dari dirinya maka dituliskan baginya tigapuluh kebaikan dan dihapuskan darinya tigapuluh kesalahan. (H.R Imam Ahmad dan al Hakim, Lihat shahihut Targhib wa Tarhiib).

Begitulah Allah yang Mahapemurah memberikan pahala yang besar meskipun dengan amal yang kelihatan ringan untuk dilakukan oleh seorang yang beriman.  Oleh karena itu janganlah seorang hamba mengabaikan amalan yang kelihatannya kecil dan ringan.
Selanjutnya mari kita telaah sedikit tentang membaca doa masuk dan keluar kamar mandi yang kelihatannya kecil dan ringan. 

Pertama : Doa masuk kamar mandi-wc. 
“(Bismillahi) Allahumma inni a’udzubika minal khubutsi wal khabaa-its.”  Dengan nama Allah. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari godaan syaithan laki laki dan syaithan perempuan. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Kedua : Doa keluar kamar mandi-wc.
Ghufraanaka  Aku memohon ampun kepada Engkau ya Allah. (H.R Imam Ahmad, at Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Kedua doa ini jika dilazimkan membacanya maka akan mendatangkan banyak manfaat, diantaranya adalah :

Point satu : Seorang yang membaca doa ini berarti dia telah menghidupkan dan mengamalkan sunnah yang shahih dan mencontoh atau ittiba’ kepada Rasulullah.
Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Man ahya sunnatan min sunnatii fa ‘amila bihannaasu, kaana lahu mitslu ajru man ‘amila biha laa yanqushu min ujurihim syai-a” Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun.  (H.R Ibnu Majah, pada sanadnya ada kelemahan, Dengan dikuatkan oleh riwayat riwayat lain maka Syaikh al Albani menshahihkannya dalam Shahih Ibnu Majah).

Point dua : Para ulama sangat menganjurkan kita untuk membaca doa doa dari al Qur an dan doa yang di ajarkan oleh Rasulullah karena lebih utama. Dan ini termasuk salah satu doa yang paling utama karena Rasulullah yang mengajarkannya. 

Point tiga : Mendapat kebaikan yang banyak dan sebagai tanda cinta kita kepada Allah karena mengikuti apa yang diajarkan oleh Rasulullah. Allah berfirman : “Qul inkuntum tuhibbunallaha fattabi’unii, yuhbib kumullahu wa yaghfir lakum dzunuubakum, wallahu ghafuurur rahiim”  Katakanlah (Muhammad) : Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa dosamu. Dan Allah Mahapengampun, Mahapenyayang. (Q.S Ali Imran 31)

Point empat : Melaksanakan perintah yang menyuruh berdoa kepada-Nya : Allah berfirman : “Wa qaala rabbukum. Ud’uunii astajib lakum” Dan Rabbmu berfirman, berdoalah kepadaKu, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. (Q.S al Mu’min 60).

Point lima : Sebagai tambahan ibadah yaitu dengan banyak berdoa. Rasulullah telah bersabda :  “Ad du’aa huwal ‘ibadah” Do’a adalah ibadah.(H.R at Tirmidzi).

Ya Allah, ya Rabb berilah kami kekuatan untuk selalu beribadah kepada Engkau dalam setiap keadaan kami. 

Wallahu A’lam. (348).

Sabtu, 13 Juni 2015

BERINFAK DI WAKTU LAPANG DAN SEMPIT



BERINFAK DIWAKTU LAPANG DAN SEMPIT

Oleh : Azwir B. Chaniago

Muqaddimah.
Allah telah memberikan rezki kepada manusia termasuk rezki berupa harta. Allah berfirman : “Innallaha huwar razzaaqu, dzulquwatil matiin” Sungguh Allah, Dia pemberi rezki  yang mempunyai kekuatan lagi sangat kukuh.  (Q.S az Dzaariyaat 58). Bahkan seorang hamba ada yang mendapat rezki yang lebih dari hamba yang lainnya. Begitu juga ada yang mendapat rizki kurang dari yang lain. Semua itu pastilah dengan hikmah yang Mahasempurna dari sisi Allah Ta’ala.

Allah berfirman : “Wallahu fadhdhal ba’dakum ‘alaa ba’din firrizqi, Famalladziina fudhdhiluu biraddii rizqihim ‘alaa maa malakat aimaanuhum  fahum fiihi sawaa-un, fabini’matillahi yajhaduun”   Dan Allah melebihkan sebagian kamu atas sebagian yang lain dalam hal rezki. Tetapi orang yang dilebihkan (rezkinya itu) tidak mau memberikan rezkinya kepada para hamba sahaya yang mereka miliki, sehingga mereka sama sama (menikmati) rezki itu. Mengapa mereka mengingkari nikmat Allah ?. (Q.S an Nahl 71)

Allah berfirman : “Awalam ya’lamuu annallaha yabsuthur rizqa liman yasyaa-u wa yaqdir. Inna fii dzaalika la-aayatin li qaumin yu’minuun” Dan tidaklah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki dan membatasinya (bagi yang Dia kehendaki) Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman. (Q.S az Zumar 52).

Perintah untuk berinfak
Dengan kasih sayang-Nya, Allah menyuruh manusia untuk membelanjakan  sebagian rezkinya berupa harta di jalan Allah. Sungguh Allah memerintahkan hal ini dalam banyak ayat al Qur an, diantaranya adalah :

Allah berfirman : “Wa anfiquu fii sabiilillahi wa laa tulquu bi aidiikum ilat tahlukati, wa ahsinuu. Innallaha yuhibbul muhsiniin. Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (dirimu sendiri) kedalam kebinasaan dengan tanganmu sendiri dan berbuat baiklah. Sungguh Allah menyukai orang orang yang berbuat baik. (Q.S al Baqarah 195).

Allah berfirman : “Yaa aiyuhal ladziina aamanuu anfiquu mimmaa razaqnaakum min qabli aiya’tiya yaumun laa bai’un fiihi walaa khullatun walaa syafaa-‘ah. Wal kaafiruuna humuzh zhaalimuun” Wahai orang orang yang beriman. Infakkanlah sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari ketika tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan dan tidak ada lagi syafaat. Orang orang kafir itulah orang yang zhalim. (Q.S al Baqarah 254)

Berinfaklah pada semua keadaan.
Demikian besarnya keutamaan dan manfaat berinfak maka Allah perintahkan agar  melakukannya bukan hanya pada saat lapang tapi juga dikala sempit dan ini merupakan salah satu tanda orang bertakwa. Allah berfirman : “Alladziina yunfiquuna fissarraa-i wadhdharra-i” (Orang yang bertakwa yaitu) orang yang berinfak baik di waktu lapang maupun diwaktu sempit. (Q.S Ali Imran 134). 

Syaikh as Sa’di berkata tentang ayat ini : Yaitu pada saat keadaan mereka sedang sulit atau keadaan mereka sedang lapang. Bila mereka lapang maka mereka (orang yang takwa ini) akan berinfak lebih banyak. Apabila mereka sedang kesulitan mereka tidak menganggap remeh suatu kebaikan walaupun hanya (berinfak) sedikit (Tafsir Karimur Rahman) 

Orang yang dalam keadaan sempit, dia bersedekah sedikit  nilainya disisi Allah bisa jadi lebih besar dari orang yang dalam keadaan lapang dan  memiliki harta  melimpah lalu dia bersedekah dalam jumlah yang banyak. Itulah keadilan Allah. 

Rasulullah bersabda : “Sabaqa dirhamun mi-ata alfi  dirhamin. Faqala rajulun : Wa kaifa dzaka ya rasulullah ? Qaala : Rajulun lahu maalun katsiirun, akhadza min ‘urdhihi mi-ata alfi dirhamin tashaddaqa bihaa, wa rajulun laisa lahu illa dirhaman , fa-akhadza  ahaduhumaa fa tashaddaqa bihi” Satu dirham mengungguli seratus ribu dirham. Seorang bertanya : Bagaimana itu wahai Rasulullah ? Beliau menjawab : Seseorang mempunyai harta yang melimpah lalu dia mengambil dari kantongnya seratus ribu dirham dan menyedekahkannya, dan seseorang yang lain hanya memilik dua dirham, dia mengambil satu dirham lalu  mensedekahkannya. (H.R Imam an Nasa-i, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam shahihnya). 

Insya Allah bermanfaat bagi kita semua. Wallahu A’lam. (347)

BERGEMBIRA MENYAMBUT RAMADHAN



BERGEMBIRA MENYAMBUT RAMADHAN

Oleh : Azwir B. Chaniago

Muqaddimah
Ramadhan datang kepada kita setiap tahun. Diantara manusia ada yang telah bertemu Ramadhan lebih dari sepuluh kali bahkan ada yang telah  bertemu Ramadhan lebih dari lima puluh kali. Untuk menyambutnya manusia melakukan beragam cara dan kegiatan. 

Tapi disayangkan ada yang menyambutnya dengan kegiatan yang tidak terpuji. Diantaranya ada yang menyambut dengan mercon, pesta kembang api seolah-olah Ramadhan identik dengan pembakaran mercon dan kembang api. Adapula yang mulai melakukan kegiatan belanja secara berlebihan sehingga melalaikan ibadah. Ada lagi dengan makan dan minum berlebihan mumpung belum puasa. Juga ada yang menyambutnya dengan cara-cara adat atau kebiasaan yang kadang-kadang berseberangan dengan syari’at. 

Sungguh ini adalah kenyataan yang sudah sejak lama kita lihat dalam masyarakat Islam dinegeri ini. Bahkan terus berulang dari tahun ketahun entah sampai kapan dan juga kita tidak tahu siapa diantara manusia yang bisa menghentikannya.

Kita sangat memahami bahwa tujuan Ramadhan yang kita diperintahkan berpuasa dan banyak beribadah pada bulan itu adalah agar menjadi orang yang bertakwa. Jika demikian, tentu untuk mencapainya diperlukan amal atau kegiatan yang bisa mengantarkan seseorang kepada takwa. Dengan kata lain janganlah sekali kali menyambut Ramadhan dengan cara yang menjauhkan diri dari takwa.  

Seorang hamba hendaknya tidak melakukan kegiatan ibadah yang Rasulullah tidak mengajarkannya. Rasulullah bersabda : “Man ‘amala ‘amilan laisa ‘alaihi amruna fa huwa raddun” Barang siapa yang melakukan suatu amal yang tidak ada perintahnya dari kami maka (amalnya) tertolak (H.R Imam Muslim).


Tidak semua bisa mendapatkan predikat takwa
Puncak tertinggi tujuan shaum adalah melaksanakan perintah Allah agar mendapatkan predikat takwa.
Allah berfirman : “Yaa aiyuhalladzi naamanu kutiba ‘alaikumush shiam, kamaa kutiba ‘alalladzina min qablikum, la’allakum tattaquun.” Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan kepada kamu untuk berpuasa, sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, mudahan-mudahan kamu menjadi orang orang yang bertakwa (Q.S al Baqarah 183).

Dalam ayat ini ada kata la’alla yang terjemahannya adalah mudah-mudahan.
Menurut pakar bahasa, ada beberapa kata dalam bahasa Arab yang bisa diterjemahkan dengan mudah-mudahan meskipun dengan makna yang sedikit berbeda, yaitu :
     
Pertama : La’alla, dalam surat al Baqarah ayat 183 diterjemahkan dengan mudah-mudahan. Ini mempunyai dua kemungkinan yaitu bisa dapat bisa juga tidak.

Kedua : ‘Asaa, dalam surat al Al Isra’ ayat 79, diterjemahkan dengan mudah-mudahan. Tapi ini maksudnya adalah pasti dapat atau pasti terjadi.

Ketiga : Laita, dalam surat an Naba’ ayat 40, bisa diterjemahkan dengan mudah-mudahan (alangkah baiknya, seandainya). Tapi ini maksudnya adalah sesuatu yang tidak mungkin dapat atau tidak mungkin terjadi. 

Mari kita perhatikan bahwa dalam surat al Baqarah ayat 183 ini digunakan kata la’alla. Ini berarti bahwa takwa itu bisa dapat dan bisa pula tidak dapat meskipun seseorang itu telah melaksanakan shaum  Ramadhan.   
     
Tentang hal ini, Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam telah mengingatkan kita bahwa ada manusia berpuasa  yang hanya memperoleh lapar dan haus saja. Rubba shaa’imin hazhzhuhu min shiyamihi al ju’ wal ‘athasy. Berapa banyak orang yang puasa hanya mendapatkan lapar dan haus saja. (H.R Ibnu Majah, an Nasa’i).

Dari hadits ini dapat kita ketahui bahwa tidak semua orang yang berpuasa  mendapat predikat takwa tapi ada yang hanya mendapatkan lapar dan haus saja. Tentang hal ini Rasulullah yang bersabda.  Beliau menyebut dengan rubba dan kata rubba dalam bahasa Arab bukan bermakna  satu atau dua tetapi menunjukkan jumlah yang banyak.

Namun demikian setiap hamba pasti sangat ingin dan selalu berusaha untuk menjadi orang bertakwa yang salah satunya didapat melalui berpuasa di bulan Ramadhan.

Predikat takwa adalah sesuatu yang nilainya sangat agung, karena Allah telah berfirman bahwa surga itu disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. “Wa saari’u ila maghfiratim mirrabbikum wa jannatin ‘ardhuhas samaawaatu wal ardhu, u’iddat lil muttaqiin.” Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Rabb-mu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. (Q.S Ali Imran 133).

Jadi takwa itu adalah boarding pass ke surga. Oleh sebab itu janganlah lalai sedikitpun untuk mendapatkan dan menjaga takwa itu. Sungguh takwa semestinya   selalu ada dalam diri kita sampai kapanpun.

Orang shalih menyambut ramadhan dengan gembira.
Para ulama salaf dan orang-orang shalih menyambut Ramadhan dengan penuh kegembiraan. Enam bulan sebelum Ramadhan mereka telah berdoa agar mendapatkan Ramadhan yang berikutnya.
Diantara doa yang mereka panjatkan adalah : “Allahhumma salimni ila ramadhan wa salimlii ramadhan wa tasallamhu minni  mutaqaabilan”.  Ya Allah, selamatkan kami hingga dapat merasakan Ramadhan, dan selamatkan kami untuk Ramadhan, dan diterima amal ibadah kami setelah Ramadhan.

Semakin dekat Ramadhan maka semakin meningkat pula kegembiraan mereka. Kenapa bisa begitu, karena sungguh mereka sangat paham keutamaan dan keistimewaan bulan Ramadhan. Mereka telah siap untuk melaksanakan berbagai ibadah Ramadhan guna mencapai tingkat takwa.

Gembira karena banyak keutamaan
Sungguh sangatlah banyak  keutamaan dan keistimewaan yang ada pada Ramadhan. Semuanya sangatlah patut membuat kita menjadi gembira dengan kedatangannya. Diantaranya adalah :

Pertama : Ada kesempatan untuk mendapat berkah yang lebih besar. Rasulullah bersabda : Qad jaa’akum syahrur ramadhan, syahru mubaarak.  Sungguh telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. (H.R Imam Ahmad dan an Nasa’i) 

Ketahuilah bahwa kita sangat membutuhkan berkah karena berkah bermakna kebaikan yang banyak dan terus menerus ada. Imam an Nawawi dalam  Syarah Sahih Muslim berkata : Makna asal keberkahan adalah kebaikan yang banyak dan abadi (di dunia sampai ke akhirat, pen.)

Kedua : Ada kesempatan untuk mendapat ibadah satu malam bernilai ibadah seribu bulan. Dan ini tidak ada pada bulan lain kecuali pada Ramadhan saja. Allah berfirman : “Wamaa adraaka maa lailatul qadri. Lailatul qadri khairum minalfi syahr”.  Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu. Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. (Q.S al Qadr 2-3).

Ketiga : Ada kesempatan untuk diampuni dosa-dosa yang telah lalu.
Rasulullah bersabda : “Man shama ramadhaana imanan wahtisaaban ghufiralahu maa taqaddama min dzambih”. Barang siapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (H.R Bukhari dan Muslim).

Keempat : Ada kesempatan doa diijabah. Rasulullah bersabda : Tsalatsa da’awaatin mustajaabaat, da’watush shaa’imi, wa da’watul mazhluumi, wa da’watul musaafir. Ada tiga macam doa yang dikabulkan, doa orang yang berpuasa, doa orang yang terzhalimi dan doa orang musafir (H.R Imam al Baihaqi).

Kelima : Ada kesempatan mendapat perisai sebagai benteng terhadap api neraka. Rasulullah bersabda : Ash shiyamu junnatun yastahjinnu bihal ‘abdu minnaar. Puasa merupakan perisai yang digunakan seorang hamba untuk membentengi diri dari neraka (H.R Imam Ahmad).
  
Bergembira dengan hukum atau ketetapan Allah  
Selain itu kita perlu pula  bergembira jika berhadapan dengan syari’at, hukum ataupun ketetapan Allah. Ketahuilah bahwa hukum Allah itu adalah berupa perintah dan larangan. Jika ada perintah maka pasti disitu ada kebaikan, dan jika ada larangan maka pasti disitu ada mudharat bagi manusia. Manfaat dan mudharat itu bisa ada yang diketahui sebagiannya, belum diketahui atau tidak diketahui sama sekali karena keterbatasan ilmu yang ada pada manusia. “Wamaa uutiitum minal ‘ilmi illaa qaliilaa” Sedangkan kamu diberi pengetahuan yang sedikit. (Q.S al Israa’ 85).

Jadi pantaslah kegembiraan itu muncul karena semua hukum dan ketetapan Allah adalah untuk kebaikan manusia di dunia maupun di akhirat.
Hal itu juga membuat seorang mukmin jika berhadapan dengan hukum-hukum Allah maka mereka langsung mengambil posisi sami’na wa atha’na, kami dengar dan kami patuhi.

Sungguh, Ramadhan dan kewajiban shaum adalah hukum atau ketetapan Allah Ta’ala.  Bulan yang memiliki banyak keutamaan kebaikan dan berkah. Oleh karenanya orang yang beriman dan berakal (sehat) pasti akan gembira dengan kedatangan Ramadhan dan bersedih dengan kepergiannya.

Allah berfirman :  Qul bifadhlillahi wa bi rakhmatihi fa bidzaalika falyafrahuu, huwa khairun mimmaa yajma’uun.” Katakanlah (Muhammad), dengan karunia Allah dan rakhmat Nya, hendaknya dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.  (Q.S Yunus 58).

Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini merupakan dalil yang mewajibkan untuk menghadirkan kegembiraan dalam hati  seorang hamba jika berhadapan dengan 
syari’at atau ketetapan Allah. 

Selanjutnya para ahli Tafsir menjelaskan bahwa makna karunia dalam ayat ini bukanlah harta atau perhiasan dunia tetapi maknanya adalah iman. Sedangkan rakhmat disini maknanya adalah al Qur’an. Ini antara lain sebagai mana yang dijelaskan oleh Imam Mujahid, murid Ibnu Abbas.

Sungguh ketetapan syari’at tentang kewajiban berpuasa adalah dari al Qur’an sehingga menjadi wajib untuk menyambutnya dengan kegembiraan.
Para ulama terdahulu juga ada yang memberikan penjelasan bahwa kegembiraan menyambut Ramadhan menjadi barometer imannya. Semakin kuat iman seseorang maka semakin besar pula kegembiraannya menyambut Ramadhan. Begitupun sebaliknya.

Lalu bagaimana dengan sebagian manusia yang merasa sedih dan berat dengan datangnya Ramadhan. Wallahu a’lam, mungkin keimanannya bisa dipertanyakan. 

Pada kenyataannya ada pula sebagian orang yang bergembira menyambut Ramadhan bukan karena imannya tapi karena akan mendapatkan tambahan harta dunia. Misalnya akan mendapatkan THR dan berbagai hadiah. Mungkin juga  pedagang yang membayangkan bahwa dagangannya akan lebih laris sehingga akan mendatangkan keuntungan lebih besar dari biasa. Atau kesempatan cuti dan mudik bertemu dengan sanak keluarga.
Ini tentu tidak salah, asal tetap memelihara kegembiraannya menyambut Ramadhan dalam rangka  melaksanakan perintah Allah dan  kesempatan untuk mendapat nilai takwa bukan karena keuntungan atau manfaat duniawi.

Bahkan terkadang bukan hanya orang muslim yang bergembira, bisa jadi non muslim juga ikut gembira karena dagangannya akan lebih banyak laku dan produknya akan lebih banyak terjual. Tapi kegembiraan mereka hanya sebatas harta dunia dan tidak memiliki nilai ukhrawi sedikitpun. 

Kiranya patut kita perhatikan apa yang dikatakan oleh Syaikh Dr. Abdurrahman as Sudais yang kita kenal pernah dalam waktu yang lama menjadi Imam Besar Masjidil Haram. Dalam satu khutbahnya di Masjidil Haram menjelang Ramadhan beberapa tahun yang lalu, mengingatkan kaum muslimin agar bergembira dengan kedatangan Ramadhan. Syaikh as Sudais berkata :

Wahai umat Islam, bergembiralah dengan kedatangan bulan Ramadhan yang mulia, sebab Ramadhan merupakan kesempatan yang sangat baik bagi kalian, yaitu :

Pertama : Bagi orang-orang yang taat untuk menambah amal shalihnya.

Kedua : Bagi orang-orang yang selama ini mungkin penuh dosa, ini merupakan kesempatan paling berharga untuk memohon ampun dan bertaubat, kembali kepada syari’at Islam yang benar.

Semoga Allah menumbuhkan kegembiraan dihati kita dalam menyambut Ramadhan tahun ini dan tahun-tahun yang akan datang. Kita juga berdoa semoga Allah memberi kita kekuatan untuk beribadah pada bulan Ramadhan tahun ini lebih baik dari Ramadhan ramadhan yang telah lalu. Insya Allah. 

Wallahu A’lam.  (346)