Jumat, 19 Agustus 2016

MAKSIAT BERTAMBAH TAPI RIZKI LANCAR ?



MAKSIAT BERTAMBAH TAPI RIZKI SEMAKIN LANCAR ?

Oleh : Azwir B. Chaniago

Sebagian manusia berkata : Saya mengetahui bahwa  si Fulan  adalah seorang Islam tapi tidak taat. Sering lalai beribadah. Bahkan ibadah yang fardhu terkadang diabaikan. Selain itu dia sering melakukan perbuatan  yang dilarang Allah Ta’ala. Seolah olah tidak ada takutnya kepada adzab Allah.

Sementara itu kehidupannya secara materi nampak semakin baik. Hartanya terlihat semakin bertambah. Posisinya ditempat kerja juga semakin meningkat. Pada hal Allah berfirman :  “Waman a’radha ‘an dzikrii fa inna lahuu ma’iisyatan dhankaa, wa nahsyuruhuu yaumal qiyaamati a’maa”. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit dan pada hari Kiamat (dibangkitkan) dalam keadaan buta.  (Q.S Thaha 124).

Lalu kenapa ya ?. Ketahuilah bahwa keadaan yang demikian memang sering kita lihat secara zhahir. Bagaimana keadaan sebenarnya tentu Allah Yang Maha Mengetahui. Bisa jadi orang tersebut berada pada keadaan yang  sangat dikhawatirkan keselamatannya di dunia bahkan di akhirat, karena :

Pertama : Limpahan rizki bagi orang yang  jauh dari Allah bisa jadi merupakan kenikmatan yang semu dan membuat mereka semakin lalai mengingat Allah. Dia juga semakin terbenam dalam kemaksiatan. Ketahuilah bahwa  akhir kesudahannya  mereka akan mendapat adzab yang semakin berat karena lalai mengingat Allah pada hal sudah memberi nikmat yang banyak. 

Kedua : Memang bisa jadi Allah  memberikan rizki yang secara zhahir kelihatan berlimpah kepada seseorang padahal dia sangatlah lalai mengingat Allah. Tapi ketahuilah bahwa Allah tidak menurunkan berkah terhadap rizki tersebut. Sementara itu orang orang yang bertakwa ada yang tidak mendapat rizki yang banyak tetapi Allah turunkan berkah bagi rizkinya itu. Ini tentu lebih baik dari pada rizki yang banyak tapi berkah tidak Allah turunkan bersama rizki itu.

Ketiga : Sungguh  perlu dikhawatirkan pula, jangan jangan nikmat  materi berlimpah yang  didapatkan  saat ini adalah beriringan dengan apa disebut istidraj dan  berujung pada kebinasaan dan penyesalan yang berkepanjangan.

Lalu, apa itu istidraj. Istidraj secara bahasa diambil dari kata da-ra-ja yang artinya naik dari satu tingkatan ke tingkatan selanjutnya. Secara istilah istidraj dari Allah kepada hamba dipahami sebagai hukuman yang diulur  dan tidak diberikan langsung. Untuk sementara waktu Allah membiarkan orang ini dan tidak disegerakan adzab baginya bahkan diberikan kenikmatan dan kesenangan yang semu. Pada waktunya Allah akan menimpakan adzab yang sangat berat
.
Penjelasan lain tentang istidraj adalah semua perbuatan  maksiat yang Allah balas untuk waktu tertentu dengan nikmat, dan Allah membuat dia lupa untuk mengingat-Nya serta lupa bertaubat dan beristighfar. Akibatnya dia semakin dekat dengan adzab sedikit demi sedikit, selanjutnya Allah berikan  hukuman yang berat, itulah istidraj. Allahu a’lam.

Allah berfirman : "Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa." (Q.S al An’am 44)

Ayat di atas  memberikan ancaman kepada orang-orang yang telah diberikan peringatan sebelumnya, namun mereka melupakan dan mengabaikan peringatan dari Allah Ta’ala. Allah tidak segera menurunkan siksaa atau adzabnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala justru membukakan semua pintu-pintu kesenangan (sementara) untuk mereka. Dan mereka, manusia itu bergembira ria dengan semua kesenangan yang telah Allah bukakan pintu-pintunya itu. Dan apabila telah sampai pada waktunya, Allah akan menyiksa mereka, dengan sekonyong-konyong. Maka ketika itu, mereka terdiam, tidak berdaya serta berputus asa.

Rasulullah bersabda :   “Apabila engkau melihat Allah memberikan kenikmatan dunia kepada seorang hamba, sementara dia masih bergelimang dengan maksiat, maka itu hakikatnya adalah istidraj dari Allah.” Kemudian beliau membacakan surat al Qalam ayat 44.  Allah berfirman : “Sanastadriju hum  min haitsu laa ya’lamun”  Nanti Kami akan menghukum mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui.

Dalam sebuah hadits juga disebutkan bahwa Rasulullah bersabda :  “Jika ada orang yang berbuat dosa tetapi mendapat kesenangan dan tidak mendapat adzab dari 
Allah maka bisa jadi itu adalah istidraj. Kesenangan tersebut hanyalah kesenangan sesaat di dunia yang akan dibalas  dengan adzab oleh Allah baik segera di dunia atau di akhirat.” (H.R Imam Ahmad dan ath Thabrani, dishahihkan oleh Syaikh al Albani)

Ali bin Abi Thalib  berkata : Hai anak Adam ingat dan waspadalah bila kau lihat Rabbmu terus menerus melimpahkan nikmat atas dirimu sementara engkau terus-menerus melakukan maksiat kepadaNya.

Oleh karena itu jika nikmat terasa terus bertambah sementara ketaatan kita terasa berkurang maka segeralah melakukan muhasabah atau intropeksi diri agar tidak jatuh kepada kebinasaan  murka Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua.. Wallahu A’lam. (761)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar