Jumat, 31 Desember 2021

APAKAH MUHASABAH DILAKUKAN TUNGGU PERGANTIAN TAHUN

 

APAKAH MUHASABAH DILAKUKAN TUNGGU PERGANTIAN TAHUN ?.

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Evaluasi diri,  atau muhasabah adalah suatu upaya dalam melakukan evaluasi terhadap diri sendiri untuk melihat kebaikan dan keburukan yang telah dilakukan. Dengan begitu ada upaya untuk memperbaiki diri baik perkataan maupun perbuatan termasuk  evaluasi terhadap amal shalih yang telah dilakukan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala  telah mengingatkan agar orang orang beriman senantiasa melakukan introspeksi diri atau muhasabah, sebagaimana firman-Nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman !. Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Q.S al Hasyr 18).

Syaikh as Sa’di berkata : Ayat ini adalah PANGKAL DALAM MUHASABAH DIRI. Setiap orang HARUS SELALU mengintrospeksi diri. Jika melihat adanya kekeliruan SEGERA menyelesaikannya dengan cara melpaskan diri darinya, bertaubat dengan sungguh sungguh dan berpaling dari hal hal yang menghantarkan kepada kekeliruan itu.  

Jika menilai dirinya bersikap sekenanya saja dalam menunaikan perintah perintah Allah Ta’ala maka dia akan mengerahkan segala kemampuannya dengan memohon pertolongan pada Rabb-nya untuk mengembangkan dan menyempurnakannya. Serta membandingkan antara karunia dan kebaikan Allah Ta’ala yang diberikan kepadanya dengan kemalasannya. Karena hal itu mengharuskannya merasa malu. (Tafsir Taisir Karimir Rahman)   

Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam juga mengingatkan tentang muhasabah, sebagaimana sabda beliau :

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ والعَاجِرُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنِّى عَلَى اللهِ

Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala. (H.R at Tirmidzi, Hadits ini Hasan).

Dalam satu atsar yang diriwayatkan oleh Imam at Tirmidzi  dari Umar bin Khaththab, dia berkata : Hisablah (amal perbuatan) diri kalian sebelum kalian dihisab !. Timbanglah (amal pebuatan) diri kalian sebelum kalian ditimbang !. Perhitungan kalian kelak (di akhirat) akan lebih ringan di karenakan telah kalian perhitungkan diri kalian pada hari ini (di dunia).

Berhiaslah (persiapkanlah) diri kalian demi menghadapi hari ditampakkannya perbuatan. Pada hari itu  kalian dihadapkan (kepada Rabb kalian). Tiada sesuatupun dari keadaan kalian yang tersembunyi (bagi Allah).  Demikian nasehat Umar.

Diantara keutamaan evakuasi diri adalah untuk mengetahui aib dan kesalahan dan kekurangan diri. Memang terkadang seseorang  lupa dengan aib dan kekurangan dirinya. Dan yang lebih buruk lagi adalah jika dia tidak pernah lupa dengan aib orang lain. Sungguh ini adalah musibah besar. Diantara cara agar terhindar dari musibah ini adalah senantiasa melakukan  evaluasi diri, introspeksi diri atau muhasabah.

Lalu kapan waktu yang paling baik atau dianggap tepat untuk melakukan muhasabah ?. Sebagian orang mengatakan pada akhir tahun menjelang tahun baru. Apakah yang dimaksud adalah tahun baru Hijriah atau tahun baru Masehi atau kedua duanya ?. Wallahu a’lam.

Tetapi sungguh kita melakukan  berbagai kegiatan atau aktivitas setiap saat maka yang tampak adalah melakukan muhasabah atau evakuasi diri itu juga setiap saat. Mungkin juga bisa jadi setiap hari. Oleh karena itu menjadikan akhir tahun sebagai saat evaluasi diri atau muhasabah terasa kurang pas. Tak ada yang menjamin kita bisa masih ada umur sampai akhir tahun.

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (2.503)

 

 

 

 

 

 

 

 

     

 

 

 

 

 

Kamis, 30 Desember 2021

MERAYAKAN TAHUN BARU MASEHI TERMASUK TASYABBUH

 

MERAYAKAN TAHUN BARU MASEHI TERMASUK TASYABBUH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Setiap tahun orang orang kafir merayakan tahun baru atau pergantian tahun Masehi. Kita menyaksikan ternyata sebagian  orang Islam ada pula yang ikut ikutan merayakannya. Ini sungguh keliru berat.

Sangatlah banyak keburukan yang akan mendatangi orang orang Islam yang ikut merayakan tahun baru Masehi. Salah satu keburukannya adalah dia jatuh kepada TASYABBUH. Ketahuilah bahwa tasyabbuh adalah kegiatan menyerupai umat agama lain dalam segala bentuk dan sifatnya, baik dalam aqidah, peribadatan, kebudayaan, atau dalam pola tingkah laku yang menunjukkan ciri khas mereka.
Sungguh Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam telah melarang perbuatan tasyabbuh yaitu sebagaimana  sabda beliau :

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka. (H.R Imam Ahmad dan Abu Dawud dari Ibnu Umar).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا

Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami (H.R at Tirmidzi, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Kenapa  kita dilarang meniru-niru orang kafir secara lahiriyah ?. Al Imam  Ibnu Taimiyah rahimahullah mengingatkan : Keserupaan dalam perkara lahiriyah bisa berpengaruh pada keserupaan dalam akhlak dan amalan. Oleh karena itu, kita dilarang tasyabbuh dengan orang kafir.  (Majmu’ Al Fatawa)

Sungguh Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam telah mengingatkan kita bahwa memang akan ada diantara umat ini yang melakukan perbuatan tasyabbuh. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ  . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ  وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ

Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi ?. Beliau menjawab : Selain mereka, lantas siapa lagi ?. (H.R Imam Bukhari)

Dalam riwayat yang lain dari Abu Sa’id al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ

Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhab pasti kalian pun akan mengikutinya. Kami (para sahabat) berkata :  Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani ?. Beliau menjawab : Lantas siapa lagi ?. (H.R Imam Muslim).

Al Imam Ibnu Taimiyah menjelaskan :  Tidak diragukan lagi bahwa umat Islam ada yang kelak akan mengikuti jejak Yahudi dan Nashrani dalam sebagian perkara. (Majmu’ al Fatawa).

Oleh sebab itu hamba hamba Allah janganlah mengikuti kebiasaan yang khusus untuk orang kafir seperti merayakan tahun baru mereka. Ketika orang Islam ikut merayakannya, dia jatuh kepada perbuatan tasyabbuh yang dilarang dalam syariat.

Wallahu A’lam. (2.502)

 




 

  

HAMBA ALLAH MESTI BERIBADAH SAMPAI AJAL DATANG

 

HAMBA ALLAH MESTI BERIBADAH SAMPAI AJAL DATANG

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh Allah Ta’ala telah mengingatkan bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk mengabdi, menyembah dan beribadah kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Aku tidak menjadikan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (Q.S adz Dzariyat 56).

Syaikh as Sa’di berkata : Inilah tujuan penciptaan jin dan manusia dan Allah Ta’ala mengutus semua Rasul untuk menyeru kepada tujuan tersebut. Tujuan tersebut adalah menyembah Allah Ta’ala yang mencakup berilmu tentang Allah Ta’ala dan mencintai-Nya, kembali kepada-Nya, menghadap kepada-Nya dan berpaling dari selain-Nya. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Ketahuilah bahwa ibadah aau amal shalih yang kita lakukan hakikatnya adalah untuk kemashalatan dan keselamatan diri kita sendiri di dunia dan terutama sekali keselamatan di akhirat. Allah Ta’ala berfirman :

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ

Jika kamu berbuat baik (itu berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. (Q.S al Isra’ 7).

Sungguh Allah Ta’ala akan memberi nilai pahala terhadap ibadah atau amal shalih yang dilakukan seorang hamba.  Allah Ta’ala berfirman : 

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا

Sungguh, mereka yang beriman dan beramal shalih, Kami benar benar TIDAK AKAN MENYIA NYIAKAN pahala orang yang mengerjakan perbuatan yang baik itu. (Q.S al Kahfi 30).

Ketahuilah bahwa beribadah atau ubudiyah kepada Allah Ta’ala yang kita lakukan haruslah terus menerus, tidak boleh putus, tak boleh berhenti sampai ajal datang. Allah Ta’ala berfirman :

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Beribadahlah kepada Rabb-mu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal). Q.S al Hijr 99.

Imam Ibnu Katsir mengatakan : Dari ayat ini disimpulkan bahwa ibadah seperti shalat dan ibadah lainnya wajib dilakkan seseorang SELAMA AKALNYA MASIH ADA. Ia (boleh) melakukannya sesuai dengan keadaan yang dia mampu.

Beliau menilai sebagai salah satu bentuk kekufuran, kesesatan dan kebodohan kepada orang yang berpandangan bahwa SESEORANG AKAN BEBAS DARI BEBAN TAKLIF (TIDAK DIKENAI KEWAJIBAN IBADAH0 BILA TELAH SAMPAI DERAJAT MA’RIFAH.

Beliau mengungkapkan fakta bahwa para Nabi dan sahabat sahabatnya adalah orang orang yang paling mengenal Allah Ta’ala dan mengetahui hak hak dan sifat sifat-Nya. (Ternyata) mereka adalah orang yang paling banyak beribadah dan istiqamah untuk melakukan amal kebaikan sampai wafat. (Tafsir Ibnu Katsir).

Tentang ayat ini pula, Syaikh as Sa’di berkata : (“Beribadahlah kepada Rabb-mu sampai datang kepadamu al Yaqin”. Yaitu SAMPAI AJAL TIBA, maksudnya, kontinyulah engkau untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan segala macam ibadah di setiap waktu. Maka beliau Salallahu ‘alaihi Wasallam mentaati perintah Rabb-nya dan senantiasa membiasakan beribadah sampai datang al Yaqin (ajal) dari Rabb-nya. (Tafsir Taisir Karimir Rahman)

Oleh karena itu hamba hamba Allah hendaklah selalu bersemangat untuk beribadah sampai ajal atau kematian tiba. Sungguh kita butuh amal shalih sebagai bekal agar selamat menuju negeri akhirat. Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (2.501)