Rabu, 30 Maret 2022

AL QUR AN PASTI TAK BISA DIRUBAH KARENA ALLAH YANG MENJAGANYA

 

AL QUR AN PASTI TAK  BISA DIRUBAH  KARENA ALLAH YANG MENJAGANYA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Muqaddimah

Al Qur-an adalah Kalamullah, firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi wasallam melalui Malaikat Jibril, dengan lafal dan maknanya. (Ensiklopedi Islam jilid 4/132)

Dalam al Qur-an banyak penjelasan tentang al Qur-an itu sendiri, diantaranya dalam  surat asy Syu’ara ayat 192-195 Allah Ta’ala berfirman :

نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ   وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ    عَلَىٰ قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ ٱلْمُنذِرِينَ
 

Dan sungguh (al Qur-an) ini benar benar diturunkan oleh Rabb seluruh alam. Yang dibawa turun oleh ar Ruuh al Amin (Jibril). Kedalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan. Dengan bahasa Arab yang jelas.

Kedudukan al Qur an yang sangat tinggi dan mulia

Sungguh al-Qur’an memiliki kedudukan yang sangat utama, sangat tinggi dan mulia, karena beberapa sebab yang penting, diantaranya :

Pertama : Al Qur’an merupakan wahyu dari Rabbul ‘alamin, penguasa alam semesta, Dzat yang Mahakuasa atas segala sesuatu yaitu Allah Tabaraka wa Ta’ala. Al Qur- an adalah Kalamullah.

Kedua : Al-Qur’an diturunkan kepada manusia yang paling agung dan mulia semenjak Allah menciptakan manusia yang pertama hingga terakhir. Pemimpin para nabi dan rasul, pemberi syafaat (dengan izin Allah) pada hari kiamat dan seorang yang pertama kali membuka pintu surga dan memasukinya sebelum yang lainnya yaitu Nabi kita Muhammad Salallahu alaihi wassalam. 

Ketiga : Al-Qur’an diturunkan dengan perantaraan makhluk yang paling ta’at kepada Allah yaitu Malaikat Jibril. Dia adalah malaikat terbaik dan pemimpin dikalangan malaikat. Allah menjelaskan dalam surat an Najmu ayat 5 dan 6 bahwa Jibril itu sangat kuat, memiliki akal yang cerdas. Dan didalam surat at Takwir ayat 19-21 Allah menjelaskan pula bahwa Jibril adalah utusan yang mulia, yang mempunyai kekuatan memiliki kedudukan yang tinggi disisi Allah  serta dipercaya.

Keempat : Al-Qur’an pertama kali diturunkan pada waktu yang sangat mulia dan penuh berkah yaitu bulan Ramadhan. Bahkan malam diturunkannya adalah malam kemuliaan yaitu lailatul qadr, yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Allah Ta’ala benar benar menjaga dan melihara al Qur an

Sungguh, al Qur an adalah kalamullah dan Allah Ta’ala benar benar menjaga dan memeliharanya. Oleh karena tidak akan ada yang mampu  merubah rubahnya sampai hari Kiamat. Sungguh PASTI TIDAK  dirubah  dalam semua keadaannya seperti pergantian, penambahan maupun pengurangan. Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al Qur an Dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya. (Q.S al Hijr 9).

Pada catatan kaki terjemahan resmi al Qur an Departemen Agama disebutkan  : Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian al Qur an selama lamanya.

Tentang ayat ini, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di berkata :  (Yaitu Allah Ta’ala menjaga al Qur an) di saat diturunkan dan sesudah diturunkan. Di saat diturunkan, yaitu Allah Ta’ala menjaganya dari pencurian syaithan yang dilaknat.

Sesudah diturunkan, yaitu Allah memasukkan ke dalam hati Rasul-Nya lalu memasukkan kedalam hati umatnya. Dan Allah Ta’ala menjaga kata katanya dari perubahan, penambahan dan pengurangan. Allah Ta’ala juga menjaga makna maknanya dari pergantian.

Tidak ada orang yang menyimpangkan maknanya kecuali Allah Ta’ala pasti menetapkan orang yang akan menjelaskan kebenaran yang nyata. Dan ini termasuk tanda tanda kekuasaan Allah Ta’ala dan nikmat-Nya yang paling besar kepada hamba hamba-Nya yaitu orang orang yang beriman.

Dan diantara bentuk penjagaan Allah bahwa Allah menjaga umat Islam dari musuh mereka. Dan Allah Ta’ala tidak akan memenangkan musuh sehingga menghancurkan seluruh umat Islam. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).      

Tentang ayat ini pula, Imam al Mawardi berkata :  Ada tiga makna terkait  kata menjaga. (1) Allah menjaga al Quran hingga hari Kiamat. (2) Allah menjaga Al-Quran dari syaithan yang ingin membuat kebathilan di dalamnya atau menghilangkan kebenaran al Quran.  (3) Allah menjaga Al-Quran di dalam hati orang-orang yang Allah kehendaki menjadi orang baik dan menghilangkan Al-Quran dari hati orang-orang yang Allah kehendaki menjadi orang yang buruk. (Al Nukat wa al ‘Uyun).

Oleh karena itu sungguh beruntung umat Muhammad Salallahu ‘alaihi Wasallam yang diberi al Qur an sebagai petunjuk yang dijaga dan dipelihara Allah Ta’ala. Jadi, hamba hamba Allah hendaklah memperbanyaklah interaksi, aktivitas atau kegiatan  bersama al Qur an, diantaranya dengan : (1) Selalu membaca dan berusaha menghafalnya. (2) Mempelajari dan berusaha memahami maknanya. (3) Megamalkan kandungannya. (4) Berusaha mengajarkannya dan mendakwahkannya sesuai kemampuan.

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (2.590)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selasa, 29 Maret 2022

KELIRU BERAT MENGANGGAP HUKUM SYARIAT TAK SESUAI ZAMAN

 

KELIRU BERAT MENGANGGAP HUKUM SYARIAT TAK SESUAI ZAMAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh di zaman ini banyak manusia yang TIDAK BERAKHLAK KEPADA ALLAH TA’ALA. Perhatikanlah  diantaranya ada manusia yang menganggap bahkan lancang  dan berani mengatakan    bahwa hukum Allah yang termaktub dalam al Qur an  dan dijelaskan oleh Rasul-Nya sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan manusia sekarang. 

Diantara manusia yang tidak berakhlak kepada Allah Ta’ala itu ada yang berpendidikan. Mereka ada yang mengatakan bahwa HUKUM WARIS adalah tidak adil dalam syariat Islam. HUKUM RAJAM adalah kejam. Oleh karena itu perlu dirubah dan disesuaikan dengan keadaan di zaman ini.

Sungguh rusak dan keliru berat mereka yang mengatakan bahwa hukum waris tidak adil. Allah Ta’ala berfirman :

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan telah sempurna firman Rabb-mu (al Qur an) dengan BENAR DAN ADIL. Tidak ada yang DAPAT MENGUBAH FIRMAN-NYA. Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Q.S al An’am 115).

Tentang ayat ini, Imam Ibnu Katsir berkata : Semua yang diberitakan al Qur an adalah haq (kebenaran) tidak ada keraguan padanya. Semua yang diperintahkan al Qur an ADALAH ADIL, TIDAK ADA KEADILAN SELAINNYA. Dan semua yang dilarang oleh al Qur an adalah bathil karena al Qur an tidak melarang kecuali dari kerusakan. (Tafsir Ibnu Katsir).

Sungguh rusak dan keliru berat pula mereka yang mengatakan bahwa hukum rajam kejam artinya mereka menganggap Allah Ta’ala memiliki sifat zhalim. Ketahuilah bahwa Allah Ta’ala mengharamkan kezhaliman bagi diri-nya. Dari Abu Dzar dari Nabi salallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau meriwayatkan dari Rabbnya bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman : 

يَا عِبَادِيْ إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِيْ وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوْا 

Wahai sekalian hamba-Ku, Sesungguhnya Aku mengharamkan kezhaliman pada diri-Ku dan mengharamkannya pada kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi … (H.R Imam Muslim).

Sungguh Allah Ta’ala Maha Pengasih dan juga Maha Penyayang. Allah Ta’ala berfirman :

الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ   ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam. Yang Maha Pengasih Maha Penyayang. (Q.S al Fatihah 2-3).

Sangat kuat keyakinan kita untuk mengatakan bahwa orang orang yang mencela hukum Allah tentang waris TAK PAHAM MAKNA HAKIKI DARI KEADILAN. Dan yang mencela hukum Allah tentang rajam TAK PAHAM TENTANG MAKNA ALLAH YANG MAHA PENGASIH DAN MAHA PENYAYANG.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz, seorang ulama besar Saudi Arabia, bekas Rektor Universitas Islam Madinah, bekas Ketua Lajnah Daimah yaitu Dewan Tetap Urusan Riset dan Fatwa  dan juga bekas Mufti Besar Kerajaan Saudi Arabia. Beliau  wafat tahun 1420 H/2000 M. Beliau berkata : Barangsiapa yang meyakini bahwa yang lebih mashlahat adalah hukum lain yang BERTENTANGAN DENGAN HUKUM ALLAH maka dia telah kafir.

Demikian juga orang yang memandang boleh menyelisihi hukum Allah, dia juga dianggap telah kafir. Karena dia telah MENENTANG ALLAH DAN RASUL-NYA. Dan juga menentang ijma’ (kesepakatan) umat. (Majmuu’ Fataawaa wa Maqaalaat). 

Wallahu A’lam. (2.589)