Sabtu, 27 Agustus 2016

JAUHKAN AMALAN DARI RIYA'



JAUHKANLAH AMALAN DARI RIYA’

Oleh : Azwir B. Chaniago

Menurut istilah riya’ adalah : Memperlihatkan suatu ibadah atau amal shalih kepada orang lain, bukan karena Allah tetapi karena sesuatu selain Allah, dengan keinginan untuk  mendapat pujian atau penghargaan dari orang lain.

Syaikh Muhammad Shalih al Utsaimin berkata : Ia melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala hanya ingin mengambil perhatian orang lain dan agar mendapat nama di tengah tengah masyarakat, bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ia bersedekah karena ingin dikatakan dermawan, menyempunakan shalatnya agar orang mengatakan shalatnya bagus dan lain lain. Seharusnya ibadah hanya untuk Allah akan tetapi menginginkan dengan itu pujian dari orang lain. Mereka mendekatkan diri kepada manusia dengan cara melaksanakan ibadah kepada Allah Ta’ala. Seperti inilah yang disebut riya’. (Tafsir Juz ‘Amma).

Riya’ dalam beramal shalih adalah kerugian besar karena bisa menghapus amal. Allah berfirman : “Wahai orang-orang yang beriman !. Janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”. (Q.S al Baqarah 264).

Oleh karena itu seorang hamba haruslah menjaga dirinya dari perbuatan riya’ yang akan merusak bahkan bisa menghapus nilai ibadahnya. Lalu apakah kita bisa mengetahui bahwa seseorang telah berlaku riya’ ?. Tidak, karena ini berkaitan dengan amalan hati atau niatnya masing masing orang.

Namun demikian kita bisa mendeteksi diri kita sendiri dalam beramal apakah ada riya’-nya atau terjauh dari riya’  karena kita mengetahui keadaan hati dan niat kita dalam melakukan amal shalih. 

Untuk mengetahui atau mendeteksi apakah kita sudah jauh dari riya’ dalam beribadah maka bisa dilakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan terhadap diri sendiri tentang ibadah  yang kita lakukan, diantaranya :

Pertama : Apakah saya selalu berusaha menyembunyikan amal shalih yang saya lakukan, kecuali yang memang tidak bisa disembunyikan. 

Ini memang perkara yang sulit kecuali bgi orang orang yang diberi petunjuk, karena ada kecenderungan dalam diri manusia untuk senang jika amalnya diketahui orang banyak. Hatinya akan sangat gembira jika banyak orang  mengetahui dan membicarakan amalnya sehingga jadi tersohor kemana mana. 

Kita mengetahui bahwa sebagian manusia terkadang tertipu dengan amal shalihnya, diantaranya   adalah orang orang yang bersemangat membelanjakan hartanya di jalan Allah seperti membangun masjid, membangun gedung gedung pesantren dan apa saja yang secara fisik terlihat dengan jelas dimata orang banyak.

Selain itu dia juga sangat suka menafkahkan hartanya untuk membantu orang orang miskin, anak anak yatim dan orang yang kesulitan. Dia infakkan hartanya  berupa uang, membeli makanan, pakayan dan yang lainnya untuk orang orang yang membutuhkan. Ini tentu suatu yang sangat baik. 

Cuma sayangnya pada waktu menyerahkan santunan itu dia undang orang orang yang akan mendapat santunan itu beramai ramai datang kerumahnya atau kesuatu gedung pertemuan. Dibuatlah acara yang cukup meriah dalam rangka menyerahkan santunan tersebut. Padahal jika dia mau tentu amalan ini bisa disembunyikan atau paling tidak hanya diketahui oleh segelintir orang saja. 
      
Kedua : Apakah dalam beramal saya tidak terpengaruh oleh pujian manusia. 

Ketahuilah orang yang jauh dari riya’  dalam beribadah hanya berharap penilaian Allah Ta’ala dan tidak terpengaruh dengan penilaian manusia. Dia selalu sibuk menjaga hatinya agar mendapatkan ridha Allah dalam semua amal shalihnya. Sungguh pujian dan sanjungan manusia tidaklah akan merubah hakikat kita di hadapan Allah Yang Maha Mengetahui apa yang nampak dan tersembunyi. Orang lain boleh terpedaya dengan penampilan kita… dengan indahnya perkataan kita…  ta'jubnya dengan tulisan-tulisan kita… akan tetapi kitalah yang lebih tahu tentang hakikat diri kita yang penuh dosa dan sangat sedikit melakukan amal shalih.

Selain itu perlu diketahui bahwa  kemuliaan seorang hamba tidak datang bersama pujian tapi kemuliaan itu datang dengan ketakwaan. Allah berfirman : “Inna akramakum ‘indallahi atqaakum” Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. (Q.S al Hujurat 13).

Ali bin Abi Thalib ketika dipuji seseorang beliau berdoa : Ya Allah, ampunilah diriku karena sesuatu yang tidak mereka ketahui. Jadikanlah diriku lebih baik daripada yang mereka sangka.

Ketiga : Apakah saya suka berhenti sejenak sebelum melakukan amal shalih untuk memeriksa keikhlasan saya.

Ini perkara yang sangat penting untuk menjauhkan amal dari riya’.  Berhentilah barang sejenak untuk memeriksa dan  meluruskan niat  sebelum melakukan amal apapun seperti berjalan menuju masjid untuk  shalat, membaca al Qur an, bersedekah, menyusun tulisan ilmiah, memberi komentar di WA, menjawab pertanyaan dan yang lainnya.

Tanyakan kepada diri kenapa saya melakukan ini kenapa saya tidak melakukan itu dan lain sebagainya. Apakah semua karena Allah Ta’ala dan dalam rangka mencari ridha-Nya saja atau ada tujuan lain yang tampak dan tersembunyi.

Agaknya kita perlu merenungkan atsar berikut ini. Ada seseorang yang berkata kepada Nafi’ bin Jubair : Apakah engkau tidak menghadiri janazah ?. Maka beliau menjawab : Tetaplah di tempat mu hingga aku berniat. Lalu beliau berfikir sejenak dan berkata, mari kita jalan (untuk menghadiri janazah). Lihat Jami’ul Ulum wal Hikam. 
  
Keempat : Apakah saya melakukan amal shalih untuk tujuan harta, jabatan atau popularitas yang sifatnya duniawi.

Ketahuilah bahwa jika seseorang melakukan amal shalih untuk tujuan yang sifatnya duniawi maka dia akan sulit untuk menjauh dari perbuatan  riya’. Kalau seseorang beramal dengan tujuan duniawi seperti harta, jabatan  popularitas dan yang lainnya maka dia akan memperolehnya tapi dia kehilangan bagiannya di akhirat.

Allah berfirman :  “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan (balasan) dengan sempurna atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang orang yang tidak mempeoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka dan sia sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S Huud 15-16).

Syaikh as Sa’di berkata : Orang yang sengsara ini, yang sepertinya hanya dia diciptakan untuk dunia saja, “niscaya Kami berikan (balasan) dengan sempurna atas pekerjaan mereka di dunia” maksudnya Allah memberi mereka sesuatu yang telah dibagikan kepada mereka di Ummul Kitab berupa balasan dunianya. “Dan mereka di dunia tidak akan dirugikan”. (maknanya adalah) tidak sedikitpun dari sesuatu yang telah ditakdirkan untuknya akan dikurangi. Akan tetapi (dunia) ini adalah puncak nikmat mereka. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Itulah diantara pertanyaan yang bisa diajukan kepada diri sendiri agar bisa jauh dari riya’ dalam melakukan amalan shalih. Wallahu A’lam. (770).
 
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar