Kamis, 25 Agustus 2016

KERUGIAN DI DUNIA BAGI YANG RIYA'



KERUGIAN DI DUNIA BAGI ORANG YANG RIYA’

Oleh : Azwir B. Chaniago

Riya berasal dari kata ra-a yang berarti melihat. Menurut bahasa riya’ berarti pamer, memperlihatkan, memamerkan, atau ingin memperlihatkan yang bukan sebenarnya. Sedangkan menurut istilah riya’ adalah : Memperlihatkan suatu ibadah atau amal shalih kepada orang lain, bukan karena Allah tetapi karena sesuatu selain Allah, dengan keinginan untuk  mendapat pujian atau penghargaan dari orang lain.

Syaikh Muhammad Shalih al Utsaimin berkata : Ia melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala hanya ingin mengambil perhatian orang lain dan agar mendapat nama di tengah tengah masyarakat, bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ia bersedekah karena ingin dikatakan dermawan, menyempunakan shalatnya agar orang mengatakan shalatnya bagus dan lain lain. Seharusnya ibadah hanya untuk Allah akan tetapi menginginkan dengan itu pujian dari orang lain. Mereka mendekatkan diri kepada manusia dengan cara melaksanakan ibadah kepada Allah Ta’ala. Seperti inilah yang disebut riya’. (Tafsir Juz ‘Amma).

Orang yang riya’ pasti akan merugi di dunia. Dan di akhirat dia akan mengalami kerugian yang lebih besar lagi karena bisa terhapus amalnya. Allah berfirman :
"Wahai orang-orang yang beriman !. Janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir". (Q.S al Baqarah 264)

Pada tulisan ini hanya akan dijelaskan sedikit tentang kerugian di dunia yang akan mendatangi orang yang riya’ sedangkan kerugian di akhirat insya Allah akan dibahas pada kesempatan yang lain.

Ketahuilah bahwa diantara kerugian di dunia bagi yang riya’ adalah  sulit untuk mendapatkan kebahagian di dunia. Kenapa, karena dia beramal untuk mencari pujian orang lain. Sebaik apapun amal yang dia pertontonkan belum tentu orang memuji sesuai keinginannya. Terkadang dia bersedekah untuk memperoleh pujian orang sekampung tapi ternyata yang memuji hanya dua tiga orang saja. Ini jelas membuat dia sedih. Dia sudah berpayah payah mengeluarkan harta tapi tidak dapat pujian yang diharapkan. 

Terkadang dengan amalnya yang riya’dia mengharapkan pujian yang tinggi dari orang sekitar tapi ternyata pujian itu tak pernah datang. Akhirnya lemahlah semangatnya untuk beramal. Dia telah tertipu oleh hartanya dan amalnya. 

Orang yang beramal dengan riya’ ada  kemungkinan memperoleh  pujian   yang dia harapkan  dari orang banyak. Sehingga namanya tersohor kemana mana. Ini sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah : “Man samma’a samma’allahu bihi, wa man yuraa-ii yuraa-illahu bihi”. Barangsiapa yang memperdengarkan maka Allah Ta’ala akan memperdengarkan tentangnya. Dan barangsiapa yang memperlihatkan (riya’) maka Allah Ta’ala akan memperlihatkan tentang itu. (H.R Imam Bukhari).

Al Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan bahwa diantara makna hadits : “Allah Ta’ala memperdengarkan tentangnya”  adalah barangsiapa beramal dengan maksud meraih kedudukan dan kehormatan di masyarakat dan bukan karena mengharap Wajah Allah maka Allah Ta’ala akan menjadikan dia bahan pembicaraan di antara orang orang yang dia harapkan pujian dan tidak akan mendapat pahala di akhirat (Fathul Bari).

Sungguh Allah Ta’ala menjelaskan pula bahwa orang orang orang yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya akan diberi, yaitu sebagai firman-Nya : “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan (balasan) dengan sempurna atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang orang yang tidak mempeoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka dan sia sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S Huud 15-16).

Syaikh as Sa’di berkata : Orang yang sengsara ini, yang sepertinya hanya dia  diciptakan untuk dunia saja, “niscaya Kami berikan (balasan) dengan sempurna atas pekerjaan mereka di dunia” maksudnya Allah memberi mereka sesuatu yang telah dibagikan kepada mereka di Ummul Kitab berupa balasan dunianya. “Dan mereka di dunia tidak akan dirugikan”. (maknanya adalah) tidak sedikitpun dari sesuatu yang telah ditakdirkan untuknya akan dikurangi. Akan tetapi (dunia) ini adalah puncak nikmat mereka. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).  
  
Oleh karena itu, terkadang kita melihat orang orang yang riya’ dalam melakukan kebaikan mendapat sanjungan dan penghormatan dari masyarakat. Sebatas itulah keinginan mereka dan Allah Ta’ala memenuhi keinginannya tanpa dikurangi sedikitpun. Ketahuilah bahwa pujian dan sanjungan itu hanyalah semu dan sementara karena terkadang Allah Ta’ala membongkar aib, keburukan dan kedustaan mereka di dunia. Na’udzubillah.

Wallahu A’lam (768)      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar