Selasa, 05 Mei 2026

SANGAT BAIK DIAM KETIKA SESEORANG TERPICU UNTUK MARAH

 

SANGAT BAIK DIAM KETIKA SESEORANG TERPICU UNTUK MARAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam sangat menganjurkan kita untuk selalu berbicara yang baik atau diam yaitu sebagaimana sabda beliau :

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam. (Mutafaq ‘alaihi).

Dari hadits ini, pertama sekali ada faedah yang bisa diambil, diantaranya bahwa BERKATA YANG BAIK ATAU DIAM bukanlah sekedar masalah adab berbicara tetapi terkait dengan iman.

Tentang hadits ini,  Imam an Nawawi berkata : Apabila salah seorang dari kalian hendak berbicara dan pembicaraan tersebut  benar benar baik dan berpahala, baik  dalam membicarakan yang wajib maupun sunnah, silahkan dia mengatakannya.

Jika belum jelas baginya, apakah perkataan itu baik dan berpahala atau perkataan itu  tampak samar baginya  antara haram, makruh dan mubah, hendaknya dia tidak mengucapkannya. (Syarah Shahih Muslim).

Nah, sikap diam atau tidak berbicara ternyata lebih penting lagi dijaga  ketika seseorang sedang TERPICU UNTUK MARAH. Kenapa ?, karena ketika marah seseorang sulit mengendalikan emosinya.

Sungguh, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan apabila seseorang marah hendaklah ia diam, sebagai mana sabda beliau :

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ.

Apabila seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam. (H.R Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad dan juga ahli hadits yang selainnya, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Selain itu, ketika seseorang terpicu untuk marah maka hendaklah merubah posisi dirinya. Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan agar orang yang marah ketika seorang marah ketika berdiri maka hendaklah  dia duduk atau berbaring. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ ، وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ.

Apabila seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk; apabila amarah telah pergi darinya, (maka itu baik baginya) dan jika belum, hendaklah ia berbaring. (H.R Imam Ahmad, Abu Dawud  dan Ibnu Hibban dari sahabat Abu Dzarr).

Wallahu A'lam. (3.701). 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ini juga merupakan cara atau sikap  yang PALING UTAMA DAN SANGAT DIANJURKAN untuk  diamalkan  jika terpicu marah, karena jika orang sedang marah maka biasanya keluarlah darinya ucapan-ucapan yang kasar, keji, melaknat, mencaci-maki dan lain-lain yang dampaknya  sangat buruk. Bahkan bisa menjadi penyesalan.

Wallahu A'lam. (1.327).  Disusun oleh : Azwir B. Chaniago – 05.05.2026

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

RUGI BESAR JIKA TERGESA GESA MENINGGALKAN TEMPAT SHALAT

 

RUGI BESAR JIKA TERGESA GESA MENINGGALKAN TEMPAT SHALAT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Setelah mengucapkan salam sebagai tanda selesai melakukan shalat, terutama shalat fardhu sangat dianjurkan untuk tetap berada ditempat shalat beberapa saat. Jangan tergesa gesa meninggalkan tempat shalat. Gunakan waktu yang sangat baik ini untuk membaca dzikir setelah shalat.

Pada shalat shubuh gunakan untuk menambah dengan bacaan dzikir pagi dan pada shalat ashar gunakan untuk menambah dengan bacaan dzikir petang dan juga baik digunakan untuk ibadah ibadah lainnya yang disyariatkan. Dan juga bisa dilanjutkan dengan bacaan dzikir mutlak serta membaca al Qur an.

Terkadang ada saudara saudara kita  yang setelah shalat fardhu segera meninggalkan tempat shalatnya. Mungkin terburu buru untuk mengejar dan melanjutkan urusan dunia yang mereka inginkan.

Namun demikian ketahuilah bahwa sungguh sangat banyak keutamaan yang akan diperoleh seorang hamba yang tetap tinggal ditempat shalat beberapa saat, diantaranya  :

Pertama : Mendapat ampunan dosa. Dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :

مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَتْلِكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

Barangsiapa bertasbih (mengucapkan Subhanallah) di setiap akhir shalat sebanyak 33 kali, bertahmid (mengucapan Alhamdulillah) sebanyak 33 kali, bertakbir (mengucapkan Allahu Akbar) sebanyak 33 kali lalu sebagai penyempurna (bilangan) 100 ia mengucapkan :

‘Laa ilaha illallahu wahdahu la syarikalahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir (tiada yang berhak disembah dengan haq selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala puji dan bagi-Nya kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu), maka Aku akan mengampuni dosa-dosanya sekalipun sebanyak BUIH DILAUTAN. (H.R Imam Muslim).

Kedua : Mendapat doa dari malaikat.  Rasulullah  Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

المَلائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلاَّهُ الَّذي صَلَّى فِيهِ مَا لمْ يُحْدِثْ، تَقُولُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ

Para malaikat terus mendoakan salah seorang di antara kalian selama dia berada di tempat shalatnya yang dia shalat di tempat itu, selama dia tidak berhadats. Para Malaikat berdoa dengan mengucapkan : Ya Allah ampunilah orang ini, Ya Allah rahmatilah dia. (H.R Imam Bukhari).

Ketahuilah bahwa doa malaikat sangat besar kemungkinan diijabah karena  para malaikat adalah makhluk yang sangat patuh kepada Allah Ta'ala.

Wallahu A'lam. (3.700).

 

 

 

Minggu, 03 Mei 2026

HAMBA HAMBA ALLAH HARAP CEMAS SETELAH MELAKUKAN IBADAH

 

HAMBA HAMBA ALLAH HARAP CEMAS SETELAH MELAKUKAN IBADAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Para ulama terdahulu dan orang-orang shaleh, jika selesai beribadah, senantiasa merasa harap dan cemas. Harap ibadahnya diterima dan cemas dan khawatir  kalau  ditolak. Ketahuilah, bahwa bisa jadi tidak semua ibadah kita diterima Allah karena keikhlasan kita tidak penuh atau ittiba’ kita yang belum sempurna.

Sungguh, sikap harap dan cemas ini akan menumbuhkan dorongan bagi setiap mukmin untuk terus  berusaha memperbaiki amalnya agar bernilai disisi Allah. Allah Ta’ala berfirman :  

وَٱلَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآ ءَاتَوا۟ وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَٰجِعُونَ

Dan mereka yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka. (Q.S. Al Mu’minun 60).

Syaikh as Sa’di dalam kitab Tafsirnya antara  lain menjelaskan makna “dengan hati yang takut” adalah mereka merasa takut saat amalan-amalannya ditampilkan kepada Allah dan berdiri dihadapanNya, sekiranya amalan mereka tidak bisa menyelamatkan mereka dari siksa Allah.

 

Ketahuilah bahwa Rasulullah salallahi wasallam selesai shalat  subuh selalu berdzikir pagi, antara lain dengan  membaca doa : 

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً نَافِعاً، وَرِزْقاً طَيِّباً، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

Ya Allah aku bermohon ilmu yang bermanfaat, rizki  yang  baik dan amalan yang diterima. (H.R. Imam Ahmad).

Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam selalu berdoa antara lain meminta agar amalan diterima. Ini suatu indikasi bahwa ada kemungkinan amal seseorang ditolak.

Nabi Ibrahim alaihissalam, setelah melakukan amal yang besar, yang diperintahkan Allah,  meninggikan fondasi bangunan Ka’bah  atau ada yang menyebut   membangun Ka’bah bersama anaknya  Ismail, beliau berdoa : 

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

 Ya Rabb kami terimalah amal kami sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. (Q.S al Baqarah 127).

Beliau berdoa seperti itu karena berharap amalnya diterima dan cemas kalau ditolak.

Oleh karena itu, amal shalih yang telah kita lakukan haruslah dijaga dan dipelihara agar bermanfaat untuk akhirat kita karena ini bekal kita pada saat kembali ke kampung akhirat. Sungguh yang akan ditimbang dan dihisab nanti adalah amal shalih, tidak yang lain.

Wallahu A'lam. (3.699). 

 

 

 

 

BERSEDEKAH TIDAKLAH TERLALU BERAT BAGI ORANG YANG IMANNYA KOKOH

 

BERSEDEKAH TIDAKLAH TERLALU BERAT BAGI ORANG YANG IMANNYA KOKOH

Disusun oleh : Azwur B. Chaniago

Bersedekah berupa harta adalah dianjurkan dan sangat terpuji dalam syariat Islam. Allah Ta'ala telah mengingatkan perkara ini dalam firman-Nya :


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ ۗ

Wahai orang orang yang beriman !. Infakkanlah sebagian dari rizki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari ketika tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan dan tidak ada lagi syafaat. (Q.S al Baqarah 254).

Dan juga Allah Ta'ala berfirman :

 

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ

 

Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang diantara kamu.  (Q.S al Munaafiquun 10).

Sungguh, bersedekah dengan harta  TIDAKLAH TERASA TERLALU BERAT BAGI ORANG ORANG YANG IMANNYA KOKOH, karena banyak keutamaannya :

Pertama : Sebagai tanda orang bertakwa. Allah Ta'ala berfirman :

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(Orang yang bertakwa adalah) orang yang menafkahkan hartanya dalam  KEADAAN LAPANG ATAU DALAM KEADAAN SEMPIT, menahan amarahnya dan suka memaafkan kesalahan manusia. Dan Allah menyukai orang orang yang berbuat baik. (Q.S Ali Imran 134).

Kedua : Akan mendapat ganti berlipat ganda sampai 700 kali lipat. Allah Ta'ala berfirman : 

مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنۢبُلَةٍ مِّا۟ئَةُ حَبَّةٍ ۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S al Baqarah 261).

Ketiga : Sedekah sebagai penghapus dosa.  Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :

الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ وَالْحَسَدُ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

Sedekah itu akan menghapuskan dosa sebagaimana air dapat memadamkan api. Hasad akan memakan kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar. (H.R al Baihaqi dalam Syu’abul Iman).

Wallahu A'lam. (3.698).

 

 

 

 

 

 

 

Jumat, 24 April 2026

CAHAYA DI AKHIRAT DIPEROLEH DARI AMAL SHALIH DI DUNIA

 

CAHAYA DI AKHIRAT DIPEROLEH DARI AMAL SHALIH DI DUNIA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Hakikatnya negeri akhirat itu gelap gulita, tidak ada listrik, tidak ada lampu petromak, tidak ada cahaya obor ataupun lilin. Apalagi senter atau cahaya dari hp. Padahal saat itu sungguh semua orang sangat membutuhkan cahaya bagi dirinya terutama ketika meniti sirath.

Namun demikian, ketahuilah bahwa sungguh orang orang beriman akan memiliki cahaya yang terang benderang bagi dirinya masing masing yang diberikan Allah Ta'ala kepadanya. Dan ketahuilah bahwa cahaya yang diberikan Allah Ta'ala  berasal dari amal shalih yang dilakukannya di dunia.

عن بُريدَة  رضي الله عنه  ، عن النبيِّ  صلى الله عليه وسلم  ، قَالَ : بَشِّرُوا المَشَّائِينَ في الظُّلَمِ إلى المَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ القِيَامَةِ

Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan di dalam kegelapan menuju masjid-masjid, bahwa ia akan mendapatkan cahaya sempurna pada hari kiamat (H.R Abu Daud, at Tirmidzi. Al Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Tentang hadits ini, Syaikh Salim al Hilali antara lain menjelaskan beberapa makna, diantaranya bahwa :

(1) Setiap hamba berada dalam kegelapan (di hari Kiamat). kecuali orang yang beriman.

(2) Orang beriman mendapatkan kabar gembira tentang keadaannya yang bercahaya pada hari kiamat.

(3) Hadits ini menunjukkan keutamaan orang yang berjalan di kegelapan dan ini ditemukan dalam shalat Isya’ dan shalat Shubuh yang dilakukan berjamaah di masjid. Mereka yang menjaga shalat tersebut, itulah yang akan mendapatkan cahaya pada hari Kiamat. (Bahjah an Nazhirin).

Selain itu ketahuilah bahwa orang orang beriman laki laki dan perempuan akan mendapat kabar gembira dengan cahaya yang diberikan Allah Ta'ala kepada mereka yaitu sebagaimana firman-Nya :

يَوْمَ تَرَى ٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ يَسْعَىٰ نُورُهُم بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَٰنِهِم بُشْرَىٰكُمُ ٱلْيَوْمَ جَنَّٰتٌ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ

(Yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka) : Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar. (Q.S al Hadid 12).

Syaikh as Sa'di berkata : Maksudnya, ketika hari KIamat terjadi, ketika matahari digulung, rembulan pun mengalami gerhana, manusia pun berada dalam kegelapan, shirath ditegakkan diatas Neraka Jahanam, pada hari itu orang-orang Mukmin, baik lelaki maupun perempuan terlihat cahayanya.

Cahaya mereka berjalan di hadapan mereka dan  di sebelah kanan mereka, mereka pun berjalan dengan cahaya di depan masing-masing orang berdasarkan keimanannya.

Dan orang-orang yang beriman kala itu diberi kabar gembira besar seraya dikatakan : Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.

Demi Allah, alangkah bergembiranya hati mereka dengan kabar gembira ini dan alangkah nikmat terasa dalam diri mereka, karena mereka memperoleh segala yang diminta dan selamat dari segala keburukan dan semua yang ditakutkan. Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Oleh karena itu maka hamba hamba Allah baik laki laki maupun perempuan mestilah senantiasa menjaga agar iman tetap kokok dan selalu ada di dalam diri masing masing.

Selain itu,  khusus bagi laki laki yang beriman mestilah senantiasa shalat berjamaah di masjid bersama imam terutama shalat shubuh dan shalat isya sebagaimana yang disyariatkan agar mendapat cahaya yag terang benderang di akhirat .

Wallahu A'lam. (3.697)

 

 

 

 

 

Kamis, 23 April 2026

DOSA MASA LALU DIAMPUNI DENGAN MELAKUKAN KETAATAN DI SISA UMUR

 

DOSA MASA LALU DIAMPUNI  DENGAN MELAKUKAN KETAATAN DI SISA UMUR

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Masa lalu adalah sesuatu yang tidak bisa dijemput lagi karena betul betul telah berlalu dari hadapan kita. Namun demikian hamba hamba Allah bisa mengambil banyak pelajaran dari pengalaman masa lalunya.

Bisa jadi seseorang telah mengisi masa lalunya dengan ketaatan dan juga sebaliknya telah mengisi masa lalunya dengan perbuatan dosa. Tetapi saudaraku, ternyata dosa dosa masa lalu bisa dihapus dengan sungguh sungguh bertaubat atau dalam bahasa syariat disebut dengan TAUBAT NASUHA.

Diantara cara taubat nasuha adalah menyesal dengan perbuatan buruk yang telah dilakukan dan bersungguh sungguh untuk menjauhi perbuatan buruk sekecil apapun. Selanjutnya memohon ampun dan ikuti dengan perbuatan baik atau amal shalih yang disyariatkan. Allah Ta’ala berfirman :

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ ۚ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ

Dan laksanakanlah shalat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. PERBUATAN PERBUATAN BAIK ITU MENGHAPUS KESALAHAN KESALAHAN. Itulah peringatan bagi orang orang yang selalu mengingat (Allah). Q.S Hud 114.

Saudaraku, mari kita simak tentang dosa masa lalu,  yang disebutkan  Imam Ibnu Rajab al Hambali yang menceritakan bahwa pada suatu kali Imam Fudhail bin Iyadh seorang Tabi'in, pernah bertanya kepada seorang laki laki :  Berapa umurmu ?. Orang itu menjawab : 60 tahun.

Lalu Imam Fudhail berkata : Berarti selama 60 tahun engkau telah berjalan menuju Rabb-mu dan saat ini engkau hampir sampai kepada-Nya. Maka laki laki itu berkata : Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun (sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali). Kemudian Imam Fudhail bertanya kepadanya : Tahukah engkau tafsir dari apa yang engkau ucapkan itu ?. Laki laki itu berkata : Tafsirkanlah ucapan itu untukku, wahai Abu Ali. Fudhail bin Iyadh menjelaskan : 

Pertama : Barangsiapa yang mengetahui bahwa ia adalah hamba Allah dan akan kembali kepada-Nya  maka hendaklah ia mengetahui bahwa kelak ia akan disuruh berdiri dihadapan Rabb-nya. 

Kedua : Barangsiapa yang mengetahui bahwa ia akan disuruh berdiri dihadapan  Rabb-nya maka  dia harus mengetahui bahwa   akan ditanya.

Ketiga : Barangsiapa yang mengetahui bahwa ia akan ditanya maka hendaklah ia mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan itu. Selanjutnya laki laki itu berkata : Lalu bagaimana jalan keluarnya ?. Jalan keluarnya mudah kata Fudhail bin Iyadh. Orang itu bertanya lagi : Apakah itu wahai Abu Ali ?

Imam Fudhail bin Iyadh menjawab : Hendaklah engkau BERBUAT KEBAIKAN DI SISA UMURMU.  Niscaya Allah akan mengampuni (dosa) apa yang telah lalu atas dirimu. Sesungguhnya jika engkau tetap berbuat keburukan pada sisa umurmu niscaya engkau akan dihisab atas semua perbuatan (buruk) mu yang lalu dan yang akan datang (Jami’ul Ulum).

Wallahu A'lam. (3.696).

 

 

Rabu, 22 April 2026

JIKA IMAN KOKOH HIDUPMU AKAN BERJALAN SANGAT BAIK

 

JIKA IMAN KOKOH HIDUPMU AKAN BERJALAN SANGAT BAIK

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Kehidupan hamba hamba Allah yang DILANDASI IMAN YANG KOKOH pastilah  berjalan atau berada dalam kebaikan, nyaman bahkan tenteram. Nyaman dalam beraqidah yang lurus, nyaman dalam berakhlak yang baik, nyaman dalam beribadah dan dalam bermuamalah.

Ketika datang kesulitan berupa ujian maka orang beriman menjalaninya dengan sabar dan lapang dada karena dia mengetahui bahwa ini adalah ujian terhadap imannya dan juga tanda kasih sayang kepadanya. Allah Ta'ala berfirman :

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, KAMI TELAH BERIMAN DAN MEREKA TIDAK DIUJI ?. (Q.S al Ankabut 2).

Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

إذا أحَبَّ اللهُ قومًا ابْتلاهُمْ

 

Jika Allah mencintai suatu kaum maka mereka akan diuji. (H.R ath Thabrani dishahihkan  oleh Syikh al Albani).

Sungguh, orang orang beriman memang menakjubkan keadaannya. Dalam satu hadits dari Shuhaib bin Sinan disebutkan, Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :  

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya. (H.R Imam Muslim).

Oleh karena itu hamba hamba Allah mestilah menjaga agar iman tetap kokoh dalam dirinya sehingga  selalu berada dalam kebaikan. Namun demikian, ketahuilah bahwa iman seorang hamba bisa naik bisa turun dan melemah. Allah Ta'ala berfirman : 

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya orang orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar  hatinya dan apabila dibacakan ayat ayat-Nya kepada mereka bertambah (kuatimannya dan hanya kepada Rabb mereka bertawakal.  (Q.S al Anfaal 2).

Para ulama menjelaskan bahwa sesuatu yang bertambah bisa pula berkurang. Oleh karena itu maka yang harus kita jaga jangan sampai iman kita turun apalagi hilang. Kalau saat iman kita turun dan semangat kita beramal shalih melemah lalu kita diwafatkan maka tentu  akan mendatangkan kerugian dan penyesalan selama lamanya.

Dari Abdullah bin Amr bin al 'Ash, dia berkata, bahwa Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda : 

إنَّ الإيمانَ ليَخلَقُ في جوفِ أحدِكم كما يَخْلَقُ الثوبُ ، فاسأَلوا اللهَ أن يُجدِّدَ الإيمانَ في قلوبِكم 

Sesungguhnya iman benar-benar bisa menjadi usang di dalam tubuh seseorang dari kalian sebagaimana usangnya pakaian. Maka mohonlah kepada Allah supaya memperbarui iman di hati kalian !. (H.R al Hakim)

Wallahu A'lam. (3.695)