Jumat, 24 April 2026

CAHAYA DI AKHIRAT DIPEROLEH DARI AMAL SHALIH DI DUNIA

 

CAHAYA DI AKHIRAT DIPEROLEH DARI AMAL SHALIH DI DUNIA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Hakikatnya negeri akhirat itu gelap gulita, tidak ada listrik, tidak ada lampu petromak, tidak ada cahaya obor ataupun lilin. Apalagi senter atau cahaya dari hp. Padahal saat itu sungguh semua orang sangat membutuhkan cahaya bagi dirinya terutama ketika meniti sirath.

Namun demikian, ketahuilah bahwa sungguh orang orang beriman akan memiliki cahaya yang terang benderang bagi dirinya masing masing yang diberikan Allah Ta'ala kepadanya. Dan ketahuilah bahwa cahaya yang diberikan Allah Ta'ala  berasal dari amal shalih yang dilakukannya di dunia.

عن بُريدَة  رضي الله عنه  ، عن النبيِّ  صلى الله عليه وسلم  ، قَالَ : بَشِّرُوا المَشَّائِينَ في الظُّلَمِ إلى المَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ القِيَامَةِ

Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan di dalam kegelapan menuju masjid-masjid, bahwa ia akan mendapatkan cahaya sempurna pada hari kiamat (H.R Abu Daud, at Tirmidzi. Al Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Tentang hadits ini, Syaikh Salim al Hilali antara lain menjelaskan beberapa makna, diantaranya bahwa :

(1) Setiap hamba berada dalam kegelapan (di hari Kiamat). kecuali orang yang beriman.

(2) Orang beriman mendapatkan kabar gembira tentang keadaannya yang bercahaya pada hari kiamat.

(3) Hadits ini menunjukkan keutamaan orang yang berjalan di kegelapan dan ini ditemukan dalam shalat Isya’ dan shalat Shubuh yang dilakukan berjamaah di masjid. Mereka yang menjaga shalat tersebut, itulah yang akan mendapatkan cahaya pada hari Kiamat. (Bahjah an Nazhirin).

Selain itu ketahuilah bahwa orang orang beriman laki laki dan perempuan akan mendapat kabar gembira dengan cahaya yang diberikan Allah Ta'ala kepada mereka yaitu sebagaimana firman-Nya :

يَوْمَ تَرَى ٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ يَسْعَىٰ نُورُهُم بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَٰنِهِم بُشْرَىٰكُمُ ٱلْيَوْمَ جَنَّٰتٌ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ

(Yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka) : Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar. (Q.S al Hadid 12).

Syaikh as Sa'di berkata : Maksudnya, ketika hari KIamat terjadi, ketika matahari digulung, rembulan pun mengalami gerhana, manusia pun berada dalam kegelapan, shirath ditegakkan diatas Neraka Jahanam, pada hari itu orang-orang Mukmin, baik lelaki maupun perempuan terlihat cahayanya.

Cahaya mereka berjalan di hadapan mereka dan  di sebelah kanan mereka, mereka pun berjalan dengan cahaya di depan masing-masing orang berdasarkan keimanannya.

Dan orang-orang yang beriman kala itu diberi kabar gembira besar seraya dikatakan : Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.

Demi Allah, alangkah bergembiranya hati mereka dengan kabar gembira ini dan alangkah nikmat terasa dalam diri mereka, karena mereka memperoleh segala yang diminta dan selamat dari segala keburukan dan semua yang ditakutkan. Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Oleh karena itu maka hamba hamba Allah baik laki laki maupun perempuan mestilah senantiasa menjaga agar iman tetap kokok dan selalu ada di dalam diri masing masing.

Selain itu,  khusus bagi laki laki yang beriman mestilah senantiasa shalat berjamaah di masjid bersama imam terutama shalat shubuh dan shalat isya sebagaimana yang disyariatkan agar mendapat cahaya yag terang benderang di akhirat .

Wallahu A'lam. (3.697)

 

 

 

 

 

Kamis, 23 April 2026

DOSA MASA LALU DIAMPUNI DENGAN MELAKUKAN KETAATAN DI SISA UMUR

 

DOSA MASA LALU DIAMPUNI  DENGAN MELAKUKAN KETAATAN DI SISA UMUR

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Masa lalu adalah sesuatu yang tidak bisa dijemput lagi karena betul betul telah berlalu dari hadapan kita. Namun demikian hamba hamba Allah bisa mengambil banyak pelajaran dari pengalaman masa lalunya.

Bisa jadi seseorang telah mengisi masa lalunya dengan ketaatan dan juga sebaliknya telah mengisi masa lalunya dengan perbuatan dosa. Tetapi saudaraku, ternyata dosa dosa masa lalu bisa dihapus dengan sungguh sungguh bertaubat atau dalam bahasa syariat disebut dengan TAUBAT NASUHA.

Diantara cara taubat nasuha adalah menyesal dengan perbuatan buruk yang telah dilakukan dan bersungguh sungguh untuk menjauhi perbuatan buruk sekecil apapun. Selanjutnya memohon ampun dan ikuti dengan perbuatan baik atau amal shalih yang disyariatkan. Allah Ta’ala berfirman :

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ ۚ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ

Dan laksanakanlah shalat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. PERBUATAN PERBUATAN BAIK ITU MENGHAPUS KESALAHAN KESALAHAN. Itulah peringatan bagi orang orang yang selalu mengingat (Allah). Q.S Hud 114.

Saudaraku, mari kita simak tentang dosa masa lalu,  yang disebutkan  Imam Ibnu Rajab al Hambali yang menceritakan bahwa pada suatu kali Imam Fudhail bin Iyadh seorang Tabi'in, pernah bertanya kepada seorang laki laki :  Berapa umurmu ?. Orang itu menjawab : 60 tahun.

Lalu Imam Fudhail berkata : Berarti selama 60 tahun engkau telah berjalan menuju Rabb-mu dan saat ini engkau hampir sampai kepada-Nya. Maka laki laki itu berkata : Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun (sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali). Kemudian Imam Fudhail bertanya kepadanya : Tahukah engkau tafsir dari apa yang engkau ucapkan itu ?. Laki laki itu berkata : Tafsirkanlah ucapan itu untukku, wahai Abu Ali. Fudhail bin Iyadh menjelaskan : 

Pertama : Barangsiapa yang mengetahui bahwa ia adalah hamba Allah dan akan kembali kepada-Nya  maka hendaklah ia mengetahui bahwa kelak ia akan disuruh berdiri dihadapan Rabb-nya. 

Kedua : Barangsiapa yang mengetahui bahwa ia akan disuruh berdiri dihadapan  Rabb-nya maka  dia harus mengetahui bahwa   akan ditanya.

Ketiga : Barangsiapa yang mengetahui bahwa ia akan ditanya maka hendaklah ia mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan itu. Selanjutnya laki laki itu berkata : Lalu bagaimana jalan keluarnya ?. Jalan keluarnya mudah kata Fudhail bin Iyadh. Orang itu bertanya lagi : Apakah itu wahai Abu Ali ?

Imam Fudhail bin Iyadh menjawab : Hendaklah engkau BERBUAT KEBAIKAN DI SISA UMURMU.  Niscaya Allah akan mengampuni (dosa) apa yang telah lalu atas dirimu. Sesungguhnya jika engkau tetap berbuat keburukan pada sisa umurmu niscaya engkau akan dihisab atas semua perbuatan (buruk) mu yang lalu dan yang akan datang (Jami’ul Ulum).

Wallahu A'lam. (3.696).

 

 

Rabu, 22 April 2026

JIKA IMAN KOKOH HIDUPMU AKAN BERJALAN SANGAT BAIK

 

JIKA IMAN KOKOH HIDUPMU AKAN BERJALAN SANGAT BAIK

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Kehidupan hamba hamba Allah yang DILANDASI IMAN YANG KOKOH pastilah  berjalan atau berada dalam kebaikan, nyaman bahkan tenteram. Nyaman dalam beraqidah yang lurus, nyaman dalam berakhlak yang baik, nyaman dalam beribadah dan dalam bermuamalah.

Ketika datang kesulitan berupa ujian maka orang beriman menjalaninya dengan sabar dan lapang dada karena dia mengetahui bahwa ini adalah ujian terhadap imannya dan juga tanda kasih sayang kepadanya. Allah Ta'ala berfirman :

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, KAMI TELAH BERIMAN DAN MEREKA TIDAK DIUJI ?. (Q.S al Ankabut 2).

Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

إذا أحَبَّ اللهُ قومًا ابْتلاهُمْ

 

Jika Allah mencintai suatu kaum maka mereka akan diuji. (H.R ath Thabrani dishahihkan  oleh Syikh al Albani).

Sungguh, orang orang beriman memang menakjubkan keadaannya. Dalam satu hadits dari Shuhaib bin Sinan disebutkan, Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :  

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya. (H.R Imam Muslim).

Oleh karena itu hamba hamba Allah mestilah menjaga agar iman tetap kokoh dalam dirinya sehingga  selalu berada dalam kebaikan. Namun demikian, ketahuilah bahwa iman seorang hamba bisa naik bisa turun dan melemah. Allah Ta'ala berfirman : 

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya orang orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar  hatinya dan apabila dibacakan ayat ayat-Nya kepada mereka bertambah (kuatimannya dan hanya kepada Rabb mereka bertawakal.  (Q.S al Anfaal 2).

Para ulama menjelaskan bahwa sesuatu yang bertambah bisa pula berkurang. Oleh karena itu maka yang harus kita jaga jangan sampai iman kita turun apalagi hilang. Kalau saat iman kita turun dan semangat kita beramal shalih melemah lalu kita diwafatkan maka tentu  akan mendatangkan kerugian dan penyesalan selama lamanya.

Dari Abdullah bin Amr bin al 'Ash, dia berkata, bahwa Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda : 

إنَّ الإيمانَ ليَخلَقُ في جوفِ أحدِكم كما يَخْلَقُ الثوبُ ، فاسأَلوا اللهَ أن يُجدِّدَ الإيمانَ في قلوبِكم 

Sesungguhnya iman benar-benar bisa menjadi usang di dalam tubuh seseorang dari kalian sebagaimana usangnya pakaian. Maka mohonlah kepada Allah supaya memperbarui iman di hati kalian !. (H.R al Hakim)

Wallahu A'lam. (3.695)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selasa, 21 April 2026

PURA PURA JADI PENGEMIS DEMI BELAJAR HADITS

 

PURA PURA JADI PENGEMIS DEMI BELAJAR HADITS

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Imam adz Dzahabi menceritakan kisah bagaimana seorang ulama mencari ilmu ke negeri yang sangat  jauh dari negerinya dengan berjalan kaki. Lalu harus menyamar sebagai pengemis agar bisa belajar hadits.

Diriwayatkan bahwa Baqi' bin Makhlad al Andalusi, berjalan kaki dari negerinya yaitu Andalusia (Spanyol) menuju Baghdad, untuk belajar ilmu hadits dari Imam Ahmad bin Hambal.

Sesampai di Baghdad, kata Baqi bin Makhlad : Aku mencari rumah Imam Ahmad dan orang orang dengan mudah menunjukan kepadaku dimana rumah Imam Ahmad. Sesampainya di rumah Imam Ahmad (setelah memberi salam) lalu aku mengetuk pintu rumahnya. Dia keluar, lalu aku berkata : Wahai Abdullah, seseorang asing telah meninggalkan kampung halamannya. Ini adalah pertama kali aku datang ketempat ini.

Aku ingin mempelajari hadits dan mengalungkan sunnah pada diriku. Tidak ada yang kutuju dari perjalanan ini selain engkau. Imam Ahmad berkata : Masuklah ke lorong dekat tiang ini  agar engkau tidak terlihat (oleh intel intel penguasa, peny.) 

Kemudian aku masuk dan dia berkata kepadaku : Dari mana asalmu ?. Jauh dari sebelah barat, jawabku. Dia kembali bertanya : Afrika ? Aku menjawab : Lebih jauh dari Afrika. Aku harus mengarungi lautan bila ingin pergi dari negeriku ke Afrika, negeriku Andalusia. Imam Ahmad berkata : Tempatmu sungguh jauh. Tidak ada yang lebih aku sukai dari pada menjamu orang seperti engkau. Akan tetapi aku berada dalam keadaan sedang diuji, mungkin engkau sudah mendengar hal ini.

(Catatan : Pada saat itu Imam Ahmad sedang berselisih dengan penguasa  Daulah Bani Abbasiah yang sedang berkuasa. Perselisihan ini dimulai tahun 198 H yaitu setelah meninggal Khalifah Harun al Rasyid dan digantikan oleh anaknya al Makmun Abu Ja’far bin Harun al Rasyid. Al Ma’mun dipengaruhi oleh aliran menyimpang yaitu Mu’tazilah pada hal di  zaman Khalifah Harun al Rasyid Mu’tazilah ini telah dibungkam. (peny.)

Perselisihan paling sengit antara Imam Ahmad dengan penguasa  yang dipengarui oleh Mu’tazilah adalah : Penguasa menetapkan bahwa al Qur-an adalah makhluk sedangkan Imam Ahmad berpendapat dengan dalil dalil yang benar dan sangat kuat bahwa al Qur-an  bukanlah makhluk tapi Kalamullah.

Akhirnya Imam Ahmad mendapat berbagai hukuman diantaranya adalah  diboikot yaitu dilarang keras untuk mengajarkan ilmu kepada siapapun. Itulah  diantara ujian berat yang pernah dialami Imam Ahmad, pen.)    

Aku berkata : Ya aku telah mendengar bahwa engkau sedang mendapat ujian. Engkau sedang diboikot tidak boleh mengajarkan ilmu kepada siapapun. Lalu aku mengusulkan : Di negeri ini tidak ada orang yang kenal denganku. Jika engkau mengizinkan aku akan datang setiap hari ke sini dengan penampilan seperti seorang pengemis. Ketika sampai di pintu aku akan berkata seperti apa yang biasa dikatakan pengemis. Kemudian engkau keluar. Kalau engkau mengajarkan satu hadits saja setiap harinya, itu sudah cukup bagiku. 

Imam Ahmad berkata kepadaku : Baiklah, aku setuju, dengan syarat engkau tidak menceritakannya kepada siapapun dan tidak juga kepada para ahli hadits. Kukatakan : Aku memegang syarat yang engkau berikan. 

Kemudian aku  mencari sebuah tongkat dan membalut kepalaku dengan sehelai kain yang sudah sangat lusuh. Aku tampil sebagaimana layaknya seorang pengemis. Lalu setiap hari aku datang  kerumah Imam Ahmad dan di depan rumahnya aku berteriak : Kasihanilah aku ! Semoga Allah merahmati engkau. 

Kemudian Imam Ahmad keluar dan mengajakku masuk. Dia segera menutup pintu dan mengajarkan aku dua tiga hadits bahkan terkadang lebih banyak. Itulah yang aku lakukan terus menerus hingga aku bisa belajar dan mendapatkan banyak   hadits yang  aku bawa pulang   kenegeriku yang jauh, Andalusia. (Dari Kitab Siyar A’lam an Nubala’)

Begitulah salah satu kisah bagaimana usaha dan semangat orang orang terdahulu dalam mencari ilmu sehingga mereka menjadi orang orang yang lebih ‘alim dibanding kita. Ilmunya jadi bermanfaat bagi dirinya dan bermanfaat pula bagi orang lain. Lalu bagaimana dengan kita ?.

Wallahu A'lam. (3.694)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sabtu, 18 April 2026

SEMBUNYIKAN PERBUATAN BAIK AGAR PAHALANYA TIDAK TERHAPUS

 

SEMBUNYIKAN PERBUATAN BAIK AGAR PAHALANYA TIDAK TERHAPUS

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh Allah Ta'ala telah SANGAT BANYAK BERBUAT BAIK kepada hamba hamba-Nya. Allah Ta'ala menjelaskan perkara ini dalam firman-Nya :

وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat bak kepadamu.  (Q.S al Qashash 77).

Dalam berbuat baik Allah Ta'ala  menyuruh orang beriman bukan hanya sekedar bersegera tetapi DISURUH BERLOMBA. Allah berfirman :  

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ

Maka berlomba lombalah kamu dalam kebaikan. (Q.S al Baqarah 148

Sungguh, berbuat baik terutama kepada  saudara seiman  adalah sifat terpuji dan   sangat dianjurkan dalam syariat Islam.  Namun demikinan ketahuilah bahwa  salah satu sifat yang dianjurkan dalam berbuat baik adalah TIDAK MENYEBUT MENYEBUTNYA.

Dalam satu riwayat disebutkan bahwa seorang laki laki datang kepada Syabramah dan berkata : Aku telah melakukan ini untuk si Fulan, aku telah memberi ini untuk si Fulan. Aku bantu si Fulan dengan begini. Maka beliau, Syabramah, berkata : Tidaklah ada suatu kebaikan pada suatu perbuatan baik jika DIHITUNG HITUNG. (Uyunil Akbar).

Dalam perkara ini, Allah Ta'ala  mengingatkan dalam firman-Nya :


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى

Wahai orang-orang yang beriman !. Janganlah kamu merusak (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima). Q.S al Baqarah 264.

Imam Ibnu Katsir berkata : Dalam ayat tersebut dijelaskan  sedekah menjadi sia-sia hanya karena si pemberi MENGUNGKIT UNGKIT  sedekah (perbuatan baik, peny.) yang telah ia beri dan ia MENYAKITI (perasaan) penerima. Seseorang tidak mendapatkan pahala sedekah akibat melakukan dua kesalahan tersebut. (Tafsir Ibnu Katsir).

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata : Sekiranya ada seseorang memberikan sesuatu kepada orang lain, jika berupa sedekah maka ikhlaskanlah karena Allah dan jika bentuknya kebaikan maka kebaikan adalah memang sesuatu yang harus dilakukan.

Jika demikian adanya maka maka ia tidak boleh menyebut nyebut sedekahnya seperti dengan mengatakan : Aku telah memberimu sesuatu. Aku telah memberimu suatu barang. Diucapkan secara langsung di depannya maupun tidak secara langsung. Contohnya dia mengatakan didepan orang lain : Aku telah memberi si Fulan itu sebuah barang, yaitu dengan maksud untuk menyebut nyebut pemberian atau sedekahnya. 

Ayat dalam surat al Baqarah 264 menjelaskan bahwa jika seseorang suka menyebut nyebut sedekahnya maka pahala sedekah itu akan hancur. Ia tidak akan memperoleh pahala dari sedekahnya dan perbuatannya (mengungkit ungkit sedekahnya itu) termasuk dosa besar. (Syarah Riyadush Shalihin).

Jadi ternyata bahwa mengungkit ungkit pemberian  bukanlah sekedar menghilangkan pahalanya tetapi akan mendatangkan dosa besar. Dengan mengungkit ungkit itu berarti  telah menyakiti perasaan sipenerima sehingga bisa membuatnya merasa terhina. Imam adz Dzahabi mengatakan bahwa mengungkit ungkit kebaikan termasuk salah satu dosa besar (Kitab al Kaba-ir).

Wallahu A'lam. (3.693). 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Minggu, 12 April 2026

HARTA LETAKKAN DI TANGAN JANGAN DI HATI

 

HARTA LETAKKAN DI TANGAN JANGAN DI HATI

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Orang orang beriman berusaha menempatkan harta hanya di tangan tidak ditempatkan di hati. Sungguh ketahuilah bahwa ketika harta ditempatkan di hati maka :

(1) Seseorang akan tergiur mengejar dan mengumpulkan harta yang banyak sesuai kehendak hatinya. Ketika sibuk mencari harta besar kemungkinan lalai dalam melakukan amal shalih

(2) Seseorang yang meletakkan harta di hatinya maka ketika hartanya hilang atau berkurang hatinya akan sangat gundah dan gelisah.

Imam Ibnul Qayyim berkata : Harta kalau sudah MASUK KEHATIMU maka itu akan membahayakanmu meskipun engkau tidak berharta. (Madarijus Saalikin),

Maka ketika seseorang  memiliki harta letakkan ditangan saja tidak masuk ke hati. Ketika harta dapat sedikit atau banyak maka hati tetap merasa lega dan datanglah sifat qana'ah sebagai tanda bersyukur. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :


يَا أَبَا هُرَيْرَةَ كُنْ وَرِعًا، تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ، وَكُنْ قَنِعًا، تَكُنْ أَشْكَرَ النَّاسِ

 

Wahai Abu Hurairah, jadilah orang yang wara’ niscaya dirimu akan menjadi hamba yang paling taat. Jadilah orang yang qana’ah, niscaya dirimu akan menjadi hamba yang paling bersyukur. (H.R Ibnu Majah).

 

Ketahuilah bahwa pertanggungan jawab harta di akhirat kelak sangatlah berat. Harta dimana diperoleh lalu dibelanjakan untuk apa. Rasulullah Salallahu ;alaihi Wasallam bersabda :

 

  لَا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ جَسَدِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيْهِ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ     

 

Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak dari tempat hisabnya pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai empat perkara :

 

(1) Umurnya, untuk apakah ia habiskan. (2) Jasadnya, untuk apakah ia gunakan. (3) Ilmunya, apakah telah ia amalkan (4) HARTANYA, DARI MANA DIA PEROLEH DAN KEMANA DIA BELANJAKAN. (H.R Ibnu Hibban dan at Tirmidzi).

Ketahuilah bahwa Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telah mengingatkan kita semua bahwa orang kaya atau banyak harta akan terlambat masuk surga dibanding orang yang sedikit harta. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُؤْمِنِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ الأَغْنِيَاءِ بِنِصْفِ يَوْمٍ خَمْسِمِائَةِ عَامٍ

Orang beriman yang miskin akan masuk surga sebelum orang-orang kaya yaitu lebih dulu setengah hari yang setara dengan 500 tahun. (H.R Ibnu Majah  dan at Tirmidzi).

Oleh karena itu masih perlukah hamba hamba  Allah berusaha keras mengejar dan mengumpulkan harta ketika hidup  di dunia ini ? 

Wallahu A'lam. (3.692).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

 

 

Rabu, 08 April 2026

MANUSIA DIWAFATKAN SESUAI CARA MEREKA MENJALANI KEHIDUPAN

 

MANUSIA DIWAFATKAN SESUAI CARA MEREKA MENJALANI KEHIDUPAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, hamba hamba Allah AMAT SANGAT INGIN DIWAFATKAN DALAM KEADAAN BAIK YAITU HUSNUL KHATIMAH. Tetapi ketahuiah bahwa  semuanya tergantung pada kebiasaan masing-masing saat menjalani hidupnya.

Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir dan Imam as-Sa'adi serta ulama lainnya rahimahumullaah bahwa : "Sungguh siapa saja yang hidup di atas suatu kebiasaan tertentu, ia pun akan diwafatkan di atas kebiasaan tersebut" (Ibnu Katsir, Tafsiir al-Qur'aan al-'Azhiim, as-Sa'adi, Taisiir al-Kariim ar-Rahmaan fii Tafsiir Kalam al Manaan)

Kita  memang selalu dan amat sangat berharap diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah. Namun demikian, ketahuilah bahwa pada akhirnya, kita akan diwafatkan sesuai dengan kebiasaan kita di saat hidup.

Apakah biasa taat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala  ataukah biasa berbuat dosa dan bermaksiat kepada-Nya. Apakah dalam keadaan selalu ingat  atau sering lalai kepada Allah Ta'ala.

Sungguh, konsep "diwafatkan sebagaimana keadaan hidupnya" merujuk pada kaidah Islam bahwa kebiasaan seseorang semasa hidup, baik ketaatan maupun maksiat, cenderung menjadi penutup ajalnya yaitu husnul khatimah atau suul khatimah.

Perkara ini  didasarkan pada prinsip dasar atau kaidah :  "Man 'Aasya Ala Syaiin Maata Alaihi"   siapa  terbiasa hidup dalam sesuatu, akan wafat di atasnya. 

Ketahuilah bahwa ada banyak penghambat untuk mendapatkan husnul khatimah. Imam Ibnul Qayyim berkata : Bagaimana mungkin taufik untuk husnul khatimah akan didapat seseorang yang : (1) Hatinya lalai dari dzikir kepada Allah Ta’ala. (2) Selalu mengikuti hawa nafsunya. (3) Dan keadaannya yang melampaui batas.

Sungguh, orang yang hatinya lalai dari mengingat Allah Ta’ala sangat jauh dari husnul khatimah, tertawan oleh syahwatnya, lisannya kering dari dzikir kepada-Nya. Anggota tubuhnya tidak mentaati perintah Allah Ta’ala bahkan dia selalu sibuk dengan maksiat. (Ad Daa’ wad Dawaa’).

Oleh karena itu, hamba hamba Allah mestilah memeriksa keadaan dirinya dalam menjalani kehidupan ini sebelum al maut datang.  Sungguh kita  betul betul tidak tahu kapan kematian itu akan mendatangi   kita. Jadi bersegeralah,  bergegaslah untuk memperbaiki kekurangan  diri. Segeralah  isi kehidupan ini dengan  kebiasaan yang terpuji baik dalam hal aqidah, ibadah, akhlak dan muamalah, sehingga meninggal dalam kondisi sedang melakukan perbuatan perbuatan  baik yang disyariatkan.

Selain itu sangat dianjurkan untuk senantiasa berdoa agar mendapat husnul khatimah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam mengajarkan doa berikut ini dan sangat baik untuk kita amalkan yaitu :

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمْرِي آخِرَهُ، وَخَيْرَ عَمَلِي خَوَاتِيمَهُ، وَخَيْرَ أَيَّامِي يَوْمَ أَلْقَاكَ فِيهِ.

Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku adalah umur yang terakhirnya, sebaik-baik amalku adalah amal-amal penutupannya dan sebaik-baik hariku adalah hari saat aku menghadap-Mu. (H.R ath Thabrani dalam al Mu’jam al Ausath).

Wallahu A'lam. (3.691).