Kamis, 18 Juni 2026

PAHALA YANG MASIH MENGALIR SETELAH WAFAT

 

PAHALA YANG MASIH MENGALIR SETELAH WAFAT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketika masih berada di dunia, orang orang beriman haruslah tetap bersemangat melakukan amal shalih sebagai bekal menuju alam kubur atau alam barzakh serta alam akhirat. Sungguh Allah Ta'ala mengingatkan agar orang orang beriman hendaklah berbekal dengan amal shalih, sebagaimana firman-Nya :


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Wahai orang orang yang beriman. Bertakwalah kepada Allah dan hendaknya setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (Q.S  al Hasyr 18).

Berbekal untuk hari esok yaitu dengan melakukan amal shalih yang dilandasi iman KETIKA MASIH HIDUP DI DUNIA. Tetapi ketahuilah bahwa meskipun seseorang sudah wafat ternyata masih ada kesempatan untuk memperoleh pahala yang mengalir.

Pertama : Riwayat Imam Muslim. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila manusia meninggal, maka terputuslah amalnya, kecuali tiga perkara : sedekah jariah dan IMU YANG BERMANFAAT (YANG IA AJARKAN)  dan anak shalih yang mendoakannya.

Kedua : Riwayat Ibnu Majah dan Baihaqi. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ

Sesungguhnya yang didapati oleh orang yang beriman dari amalan dan kebaikan yang ia lakukan setelah ia mati  : (1)  ILMU YANG IA AJARKAN DAN IA SEBARKAN. (2) Anak shalih yang ia tinggalkan. (3) Mushaf al Qur’an yang ia wariskan.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu Ta'ala berkata : Setiap ilmu (yang engkau ajarkan) dan orang lain memperoleh manfaat dengannya, maka sesungguhnya itu akan memberikan manfaat kepadamu setelah kematianmu,

Sampaipun engkau mengajari manusia satu shalat sunnah dari sunnah-sunnah rawatib, atau satu sunnah yang dilakukan atau dibaca di dalam shalat, dan manusia memperoleh manfaat dengan apa yang telah engkau ajarkan setelah kematianmu, maka engkau memperoleh pahala yang terus mengalir.

Maka setiap ilmu yang dimanfaatkan, meskipun sedikit sungguh akan tercatat sebagai pahala bagi orang yang mengajarkannya setelah kematiannya. (Fathu Dzil Jalaali Wal-Ikram).

Wallahu A'lam. (3.734). 

 

 

Selasa, 16 Juni 2026

SUATU KAUM BANYAK BERMAKSIAT AKAN MENDAPAT PEMIMPIN ZHALIM

 

SUATU KAUM BANYAK BERMAKSIAT AKAN MENDAPAT PEMIMPIN ZHALIM

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Semua orang yang dipimpin sangat berharap mendapat pemimpin yang baik, adil dan TIDAK ZHALIM. Dengan demikian mereka bisa menjalani kehidupan bermasyarakat dan  bernegera dengan nyaman dan lebih mudah mencapai kemakmuran bersama.

Tetapi ketahuilah bahwa  ketika pemimpin  zhalim bahkan sangat zhalim adalah  tersebab kezhaliman mereka yang dipimpin. Allah Ta'ala berfirman :


وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ 

Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan. (Q.S al An`am 129).

Syaikh as Sa'di berkata :  Termasuk dalam hal ini adalah jika kezhaliman manusia, kerusakan dan penolakan manusia untuk menunaikan hak hak yang wajib telah memuncak  maka ALLAH TA'ALA AKAN MEMUNCULKAN ORANG ZHALIM YANG MENGUASAI MEREKA. Orang zhalim ini akan memerintah mereka dengan KEZHALIMAN DAN KESEWENANG WENANGAN yang jauh lebih besar daripada hak hak Allah dan hamba hamba-Nya yang tidak mereka tunaikan.

Jika manusia baik dan lurus maka Allah Ta'ala memperbaiki pemimpin mereka, menjadikan mereka sebagai pemimpin pemimpin yang adil. Bukan pemimpin yang zhalim lagi lalim. (Tafsir Taisir Karimir Rahman, dengan diringkas).

Imam Ibnul Qayyim berkata : Sesungguhnya diantara hikmah Allah Ta’ala dalam keputusan-Nya memilih para raja, pemimpin dan pelindung umat manusia adalah sama dengan amalan rakyatnya bahkan perbuatan rakyat seperti  cerminan  pemimpin dan penguasa mereka.

Jika rakyat lurus, maka akan lurus juga penguasa mereka. Jika rakyat adil, maka akan adil pula penguasa mereka. Namun, jika rakyat berbuat zhalim, maka penguasa mereka akan ikut berbuat zhalim. Jika tampak tindak penipuan di tengah-tengah rakyat, maka demikian pula hal ini akan terjadi pada pemimpin mereka. Jika rakyat menolak hak-hak Allah dan enggan memenuhinya, maka para pemimpin juga enggan melaksanakan hak-hak rakyat dan enggan menerapkannya. (Miftah Daaris Sa'adah).

Oleh karena itu maka hamba hamba Allah hendaklah terus menerus menjaga ketaatannya kepada perintah perintah Allah Ta'ala. Jangan berbuat.  Menjaga diri dan menjauhi dosa dan maksiat yang dilarang. Dengan demikian akan memperoleh pemimpin yang adil. Bukan pemimpin zhalim.

Sebagai penutup tulisan ini dinukil satu firman Allah Ta'ala yang harus menjadi peringatan bagi hamba hamba-Nya :


هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula. (Q. S ar Rahman 60).

Wallahu A'lam. (3.733).

 

Senin, 15 Juni 2026

DOA SESEORANG MUDAH DIIJABAH KETIKA MENGKHATAMKAN AL QUR AN

 

DOA SESEORANG MUDAH DIIJABAH KETIKA MENGKHATAMKAN AL QUR AN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Salah satu ibadah yang SANGAT SANGAT DIANJURKAN BAGI ORANG BERIMAN  ADALAH MEMBACA AL QUR AN. Sungguh banyak keutamaan akan mendatangi orang orang yang selalu membaca al Qur an apalagi sampai khatam.

Ketahuilah bahwa orang yang membaca al Qur an sampai khatam lalu mengulangi lagi sampai khatam adalah MENDATANGKAN CINTA ALLAH. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :


عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ قَالَ : الْحَالُّ الْمُرْتَحِلُ - قَالَ : وَمَا الْحَالُّ الْمُرْتَحِلُ؟ قَالَ الَّذِي يَضْرِبُ مِنْ أَوَّلِ الْقُرْآنِ إِلَى آخِرِهِ كُلَّمَا حَلَّ ارْتَحَلَ

Dari Ibnu Abbas, beliau mengatakan ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam : Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling dicintai Allah ?. Beliau menjawab :  Al hal wal murtahal.

Orang ini bertanya lagi : Apa itu al hal wal murtahal, wahai Rasulullah ?. Beliau menjawab : Yaitu yang membaca al Qur’an dari awal hingga akhir. Setiap kali khatam ia mengulanginya lagi dari awal. (H.R at  Tirmidzi).

Oleh karena itu hamba hamba Allah teruslah berusaha membaca dan mengkhatamkan al Qur an sesuai kemampuan. Ketahuilah bahwa salah satu keutamaan orang yang telah mengkhatamkan bacaan al Qur an maka DOANYA MUDAH DIIJABAH. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

من ختم القرآن فله دعوة مستجابة.

Barangsiapa telah khatam al Qur'an,  maka dia memiliki doa yang mustajab. H.R ath Thabrani).

Oleh karena itu hamba hamba Allah ketika merasa banyak kebutuhan ataupun banyak kesulitan  maka sering seringlah membaca al Qur an sampai khatam. Lalu berdoalah dengan sungguh. Insya Allah doamu mudah diijabah.

Selain itu ketahuilah bahwa hamba hamba Allah yang senantiasa membaca al Qur an akan memperoleh pertolongan atau syafaat dari al Qur an di akhirat :

 

 عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اِقْرَؤُوْا القُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ

 

Dari Abu Umamah, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Bacalah Al-Qur’an karena pada hari kiamat, ia akan datang sebagai syafaat untuk para pembacanya. (H.R Imam Muslim).

 

Dan juga ketahuilah bahwa membaca al Qur an memang sangat baik dan sangat dianjurkan. Tetapi hamba hamba Allah mestilah pula berusaha mentadaburi yaitu berusaha memahami makna maknanya yaitu dengan membaca terjemahannya dan kitab Tafsir al Qur an.

Wallahu A'lam. (3.732). 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

   

 

Minggu, 14 Juni 2026

NIKMAT AIR SEGAR JUGA HARUS DIPERTANGGUNG JAWABKAN

 

NIKMAT AIR SEGAR JUGA HARUS DIPERTANGGUNG JAWABKAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketika mendengar seseorang wafat maka kita dianjurkan mengucapkan kalimat istirja' yaitu  innallihai wa inna ilaihi raji'un. Tetapi ketahuilah bahwa dibalik kalimat istrija' ada pertanggung jawaban yang harus dihadapi yaitu kita akan ditanya di akhirat kelak tentang semua nikmat yang telah kita terima di dunia. Allah Ta’ala berfirman :

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

Kemudian kamu pasti akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)  (QS. At Takatsur: 8).

Mungkin kita melihat nikmat berupa air segar yang kita gunakan terutama untuk minum dan membersih badan  adalah suatu yang terasa  biasa biasa saja karena hakikatnya relatif mudah untuk mendapatkannya di zaman ini.

Tetapi ketahuilah bahwa  nikmat air itu termasuk perkara YANG AKAN DITANYAKAN PERTAMA KALI di akhirat kelak. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُسْأَلُ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِى الْعَبْدَ مِنَ النَّعِيمِ أَنْ يُقَالَ لَهُ أَلَمْ نُصِحَّ لَكَ جِسْمَكَ وَنُرْوِيكَ مِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ

Sungguh nikmat yang akan ditanyakan pada hamba PERTAMA KALI pada hari kiamat kelak adalah dengan pertanyaan : Bukankah Kami telah memberikan kesehatan pada badanmu dan telah memberikan padamu AIR YANG MENYEGARKAN ?.  (H.R at  Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani).

 

Kalau begitu, bagaimana nikmat nikmat lainnya yang lebih besar seperti rumah mewah, mobil mewah, sawah ladang, kebun yang luas dan banyak lagi yang lainnya. Semuanya pasti diminta pertanggung jawabannya

 

Ketahuilah bahwa dalam perkara rizki ada dua masalah yang perlu ditakutkan seorang hamba yaitu : (1) Apakah rizkiku didapat dengan cara yang halal atau syubhat atau haram. (2) Apakah aku mampu membelajakan rizkiku untuk yang halal di jalan yang Allah ridha. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : 

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ

Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba ketika hari Kiamat kelak hingga ia ditanya : (1) Tentang umurnya untuk apa ia habiskan. (2) Tentang ilmunya untuk apa dia amalkan. (3) TENTANG HARTANYA DARI MANA DIA DAPATKAN DAN UNTUK APA DIA BELANJAKAN. (4) Tentang badannya untuk apa dia letihkan(H.R Imam at Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Silsilah Hadits Shahih).

 

Oleh karena itu hamba hamba Allah tetaplah berusaha mencari atau mendapatkan rizki yang halal dan membelanjakan di jalan  yang halal pula. Dengan demikian insya Allah tidak terlalu berat mempertanggung jawabkannya nati di akhhirat.

Wallahu A'lam. (3.731). 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sabtu, 13 Juni 2026

HAMBA ALLAH HARUSLAH MENJAGA IMANNYA AGAR TETAP KOKOH

 

HAMBA ALLAH HARUSLAH MENJAGA IMANNYA AGAR TETAP KOKOH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, modal penting dan paling utama hamba hamba Allah untuk kembali ke negeri akhirat DENGAN SELAMAT ADALAH AMAL SHALIH YANG DILANDASI IMAN. Allah Ta'ala berfirman :


إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ

Sungguh orang orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih mereka akan mendapat surga yang mengalir di bawahnya sungai sungai. Itulah kemenangan yang agung. (Q.S al Buruj 11)

Ketahuilah bahwa iman yang ada dalam diri seseorang itu bisa bertambah, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آَمَنُوا إِيمَانًا

Dan supaya orang yang beriman bertambah imannya. (Q.S al Mudatstsir  31).

Para ulama yang mumpuni ilmuya menjelaskan bahwa sesuatu yang bisa bertambah bisa pula berkurang. Oleh sebab itu berusahalah untuk  memeliharal iman agar tetap kokoh, tidak turun atau berkurang.

Ketahuilah bahwa Allah Ta'ala mengingatkan agar orang orang beriman TETAP MENJAGA IMANNYA, sebagaimana firman-Nya :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ ءَامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِى نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ مِن قَبْلُ ۚ وَمَن يَكْفُرْ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًۢا بَعِيدًا

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya.

Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaik kita at-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. (Q.S an Nisa' 136).

Syaikh as Sa'di berkata : Dalam ayat ini, Allah memerintahkan untuk beriman kepada-Nya, kepada Rasul rasul-Nya, kepada al Quran dan kitab-kitab sebelumnya.

Semua itu adalah di antara keimanan yang wajib di mana seorang hamba tidaklah dikatakan beriman kecuali dengannya, beriman secara keseluruhan, apabila tidak sampai kepadanya rincian tentangnya, dan beriman secara rinci bila hal bersangkutan diketahui secara rinci.

Barangsiapa yang beriman dengan keimanan yang diperintahkan tersebut, sesungguhnya ia telah mendapat hidayah dan telah selamat. (Tafsir Taisir Karimir Rahman)

Dan juga Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam mengingatkan kita semua untuk tetap memperbaharui iman, sebagaimana sabda beliau : 

 وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَدِّدُوا إِيمَانَكُمْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ نُجَدِّدُ إِيمَانَنَا قَالَ أَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ 

 Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Perbaharuilah iman kalian.  Maka ditanyakan kepada beliau, bagaimana kami memperbaharui iman kami wahai Rasulullah ?.  Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Perbanyaklah mengucapkan, LAA ILAAHA ILLAALLAH(H.R Imam Ahmad). 

Wallahu A'lam. (3.730).

 

 

 

Rabu, 10 Juni 2026

HAMBA ALLAH SANGAT DIANJURKAN MEMAAFKAN KESALAHAN SAUDARANYA

 

HAMBA ALLAH SANGAT DIANJURKAN MEMAAFKAN KESALAHAN SAUDARANYA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketika kita  bergaul dengan  sesama saudara orang orang beriman terkadang ada saatnya mereka, sengaja atau tidak, memperlakukan kita dengan perbuatan yang tidak menyenangkan bahkan bisa jadi menzhalimi kita. Dalam hal ini, kita boleh membalas dengan yang setimpal sebagaimana firman-Nya :


وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat buruk) maka pahalanya dari Allah. Sungguh Dia tidak menyukai orang orang yang zhalim. (Q.S asy Syura 40).

Ketahilah bahwa diantara makna memaafkan adalah engkau mempunyai hak untuk membalas terhadap orang lain yang menzhalimi dirimu tetapi engkau melepaskan (hakmu itu), tidak menuntut qishash atau denda kepadamya (Minhajul Qashidin, Imam Ibnu Qudamah).

Syaikh as Sa'di berkata : Dan pada pahalanya dari Allah, mengandung himbauan untuk memberikan maaf. Dan hendaknya seorang hamba memperlakukan manusia dengan perlakuan yang dicintai oleh Allah Ta'ala.

Sebagaimana seseorang senang dimaafkan oleh Allah Ta'ala maka hendaknya dia memaafkan mereka. Sebagaimana dia senang kalau diampuni Allah Ta'ala maka hendaklah dia mengampuni mereka karena ganjaran itu sejenis dengan perbuatan. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Ketahuilah bahwa diantara makna memaafkan adalah engkau mempunyai hak untuk membalas terhadap orang lain yang menzhalimi dirimu tetapi engkau melepaskan (hakmu itu), tidak menuntut qishash atau denda kepadamya (Minhajul Qashidin, Imam Ibnu Qudamah).

Dan  juga, sungguh Allah Ta'ala telah menjelaskan bahwa ketika kita memaafkan maka dosa kita diampuni-Nya :

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak menginginkan ALLAH MENGAMPUNIMU dan Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. (Q.S an Nur 22)

Imam Ibnul Qayyim berkata : Wahai anak Adam, sesungguhnya antara engkau dan Allah Ta'ala terdapat kesalahan yang tidak ada mengetahuinya selain Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Jika engkau ingin agar Allah Ta'ala  mengampuni dosamu maka hendaknya engkau BERLAPANG DADA  kepada hamba hamba-Nya. Dan jika engkau ingin agar Allah mengampuni kesalahan atau dosa dosamu maka maafkalah kesalahan hamba hamba-Nya. Karena sesungguhnya balasan itu sesuai dengan jenis perbuatan. (Bada'iul Fawaid).

Selain itu, ketahuilah bahwa suka memaafkan adalah salah satu sikap atau tanda  orang bertakwa, yaitu sebagaimana Allah Ta'ala berfirman :


الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(Orang yang bertakwa adalah) orang yang menafkahkan hartanya dalam keadaan lapang dan dalam keadaan sempit, menahan amarahnya dan SUKA MEMAAFKAN kesalahan manusia. Dan Allah menyukai orang orang yang berbuat baik. (Q.S Ali Imran 134).

Wallahu A'lam. (3.729).

 

 

 

 

 

PERSIAPAN KEBUTUHAN AKHIRAT HARUS DIUTAMAKAN

 

PERSIAPAN KEBUTUHAN AKHIRAT HARUS DIUTAMAKAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Dalam menjalani kehidupan di dunia, sudah lumrah orang orang mempersiapkan keperluan atau kebutuhan harian, kebutuhan bulanan bahkan tahunan serta kebutuhan beberapa tahun kemudian.

Itulah sikap yang ada dalam diri orang orang pada umumnya karena tidak ada orang yang ingin kekurangan dalam kebutuhannya sehinga menjadi susah dunia hidup di dunia.

Diantara contoh sederhana tentang kebutuhan dunia   yang terkadang harus dipersiapkan secara tergesa gesa adalah  jika pada suatu hari misalkan ada pengumuman dari PLN bahwa aliran listrik akan berhenti atau padam mulai sore ini jam 04.00 sampai jam 11.00 malam.

Dengan pengumuman ini maka orang orang akan mempersiapkan segala sesuatu mengantisipasi pemadaman listrik dengan menyediakan lilin dan korek api, menyiapkan emergency lamp dan yang lainnya agar tidak bergelap gelap malam ini.

Selain itu hampir semua orang memasang charger hp  bahkan ibu ibu segera memasak nasi dengan rice cookernya sebelum listrik padam. Dalam hal ini kapan waktu pemadaman listrik sudah diketahui dengan jelas.

Perkara ini mestilah menjadi pelajaran bagi hamba hamba Allah bahwa pemadaman listrik yang waktunya sudah diketahui dan hanya beberapa jam  membuat diri kita sibuk mempersiapkan bekal atau kebutuhan.

Lalu bagaimana dengan umur kita yang PADAMNYA adalah sewaktu waktu. Allah Ta'ala  berfirman :

مَا تَسْبِقُ مِنْ أُمَّةٍ أَجَلَهَا وَمَا يَسْتَأْخِرُونَ

Tidak ada satu umat pun yang dapat mendahului ajalnya dan tidak (pula) dapat mengundurkan. (Q.S al Hijr 5).

Dan juga Allah Ta'ala berfirman :

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat, dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok.

Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S Lukman 34).

Sungguh  dalam hal ini sangat pantas bahkan BENAR BENAR DIBUTUHKAN PERSIAPAN untuk menghadapi kematian melebihi persiapan untuk kebutuhan dunia. Ketahuilah bahwa perjalanan menuju akhirat sangatlah panjang. Sungguh, Allah Ta'ala mengingatkan agar kita berbekal untuk menghadapinya yaitu sebagaimana firman-Nya :


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Wahai orang orang yang beriman. Bertakwalah kepada Allah dan hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (Q.S  al Hasyr 18).

Oleh karena itu hamba hamba Allah mestilah setiap saat  mempersiapkan dengan sungguh sungguh  bekal untuk PADAMNYA UMUR atau saat diwafatkan yang waktunya dirahasiakan Allah Ta'ala. 

Wallahu A'lam. (3.728)