Jumat, 08 Mei 2026

CARA MATI SESEORANG AKAN SELARAS DENGAN CARA HIDUPNYA

 CARA MATI SESEORANG AKAN SELARAS DENGAN CARA HIDUPNYA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, setiap hamba menginginkan bahkan sangat berharap diwafatkan Allah Ta'ala dalam keadaan baik yaitu husnul khatimah, akhir hidup yang baik. Ketahuilah bahwa tidak semua orang mendapatkan akhir hidup yang baik kecuali yang menjalani hidup dengan baik pula. Sungguh cara mati seseorang selaras atau bersesuaian dengan cara hidupnya.

Allah Ta'ala telah mengingatkan dalam firman-Nya, yaitu : 

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula. (Q. S ar Rahman 60).

Oleh karena itu, jalan paling utama untuk mendapatkan akhir hidup atau cara mati yang baik adalah  menjalani hidup dengan PENUH KETAATAN sesuai petunjuk syariat. Hamba hamba Allah haruslah berusaha sungguh sungguh MENJAGA IBADAH FARDHU atau yang diwajibkan.

Kemudian berusaha pula mengamalkan ibadah ibadah sunnah yang disyariatkan sesuai kemampuan.   Perbanyak shalat sunnah, perbanyak puasa sunnah, perbanyak berdzikir, membaca al Qur an, berbuat baik dengan membantu orang lain seperti berinfak dan bersedekah.

Tentang cara hidup dan cara mati yang bersesuian, Imam Ibnul Qayyim berkata bahwa : 

(1) Saya pernah diberitahu oleh orang yang pernah menyaksikan sakaratul maut seorang pengemis. Menjelang ajalnya, pengemis tersebut terus berkata : Recehannya, demi Allah, recehannya … , hingga akhirnya meninggal.

(2) Saya diberi tahu oleh sebagian pedagang bahwasanya ketika ada kerabatnya mengalami sakaratul maut dan ditalqin atau dituntun dengan kalimat Laa ilaha illa Allah, dia malah berkata : Barang ini murah, barang ini bagus, barang ini begini dan begitu …, hingga akhirnya dia meninggal.

Beliau juga berkata : Bagaimana mungkin taufik untuk husnul khatimah akan didapat seseorang yang : (1) Hatinya lalai dari dzikir kepada Allah Ta’ala. (2) Selalu mengikuti hawa nafsunya. (3) Dan keadaannya yang melampaui batas.

Sungguh, orang yang hatinya lalai dari mengingat Allah Ta’ala sangat jauh dari husnul khatimah, tertawan oleh syahwatnya, lisannya kering dari dzikir kepada-Nya. Anggota tubuhnya tidak mentaati perintah Allah Ta’ala bahkan dia selalu sibuk dengan maksiat.

Imam Ibnul Qayyim juga memberi nasehat tentang penghambat mendapat husnul khatimah, beliau berkata : Bagaimana mungkin taufik untuk husnul khatimah akan didapat seseorang yang : (1) Hatinya lalai dari dzikir kepada Allah Ta’ala. (2) Selalu mengikuti hawa nafsunya. (3) Dan keadaannya yang melampaui batas.

Sungguh, orang yang hatinya lalai dari mengingat Allah Ta’ala sangat jauh dari husnul khatimah, tertawan oleh syahwatnya, lisannya kering dari dzikir kepada-Nya. Anggota tubuhnya tidak mentaati perintah Allah Ta’ala bahkan dia selalu sibuk dengan maksiat. (Ad Daa’ wad Dawaa’)

Selain itu, agar diwafatkan dalam husnul khatimah  maka hamba hamba Allah juga sangat dianjurkan untuk berdoa. Diantara doa yang diajakan Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam adalah : 

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمْرِي آخِرَهُ، وَخَيْرَ عَمَلِي خَوَاتِيمَهُ، وَخَيْرَ أَيَّامِي يَوْمَ أَلْقَاكَ فِيهِ

Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku adalah umur yang terakhirnya, sebaik-baik amalku adalah amal-amal penutupannya dan sebaik-baik hariku adalah hari saat aku menghadap-Mu. (H.R ath Thabrani)

Wallahu A'lam. (3.704).   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kamis, 07 Mei 2026

ENGKAU DISEBUT ORANG CERDAS JIKA BANYAK MENGINGAT MATI

ENGKAU DISEBUT ORANG CERDAS JIKA BANYAK MENGINGAT MATI

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Semua orang pasti akan mengalami mati. Inilah kenyatan yang sangat kita pahami dan juga Allah Ta'ala menjelaskan perkara ini dengan tegas dalam beberapa  firman-Nya :


كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ

Tiap tiap yang berjiwa akan merasakan mati. (Q.S al Anbiya’ 35).

Dan juga Allah Ta’ala berfirman :

أَيۡنَمَا تَكُونُواْ يُدۡرِككُّمُ ٱلۡمَوۡتُ وَلَوۡ كُنتُمۡ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍۗ

Di mana saja kalian berada, kematian pasti akan mendapati kalian, walaupun kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. (Q.S an Nisa’ 78).

Ketahuilah bahwa hakikatnya, masalah besar kita bukan mati atau kapan mati atau ditempat mana akan mati tetapi sudah cukupkah persiapan kita untuk menghadapi mati.

Sungguh Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam mengingatkan orang yang cerdas diantaranya adalah selalu mengingat mati dan memiliki persiapan yang  baik untuk menghadapi mati. Perhatikanlah sabda beliau  dalam satu hadits dari Ibnu Umar :

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما أَنَّهُ قَالَ: كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ: «أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا» قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ: «أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ»

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia bercerita : Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu datang seorang lelaki dari kaum Anshar mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bertanya :  Wahai Rasulullah, orang beriman manakah yang paling baik ?. Beliau menjawab : Yang paling baik akhlaknya.

Orang ini bertanya lagi :  Lalu orang beriman manakah yang paling berakal (cerdas) ?. Beliau menjawab : Yang paling banyak MENGINGAT KEMATIAN dan paling baik persiapannya (untuk hidup)  setelah kematian, merekalah yang berakal. (H.R Ibnu Majah).

Diantara MANFAAT MENGINGAT MATI ADALAH TIDAK TERTIPU OLEH DUNIA. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasalam telah mengingatkan perkara ini dalam sabda beliau :

 

أكثروا ذكر هَاذِمِ اللَّذَّاتِ فإنه ما ذكره أحد فى ضيق من العيش إلا وسعه عليه ولا فى سعة إلا ضيقه عليه

 

Perbanyaklah banyak mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian) karena jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya sempit, maka ia akan merasa lapang dan jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya lapang, maka IA TIDAK TERTIPU DENGAN DUNIA. (H.R Ibnu Hibban dan Al Baihaqi, dihasan oleh Syaikh Al Albani).

Hakikatnya, mengingat mati harus dilakukan setiap detik dari umur kita supaya tak lalai darinya dan termasuk kelompok orang yang cerdas.

Wallahu A'lam. (3.703).

  

Rabu, 06 Mei 2026

PELIHARA HATIMU AGAR TETAP TENANG TIDAK GELISAH

 

PELIHARA HATIMU AGAR TETAP TENANG TIDAK GELISAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketahuilah bahwa  hati ibarat penguasa dalam tubuh manusia. Abu Hurairah mengatakan bahwa hati adalah ibarat raja sedangkan anggota badan ibarat pasukannya. Apabila buruk rajanya maka buruk pula pasukannya.

Rasulullah salallahu alaihi wassalam mengingatkan   dalam sabda beliau :

ألآ وإن في الجسد مضغة, إذا صلحتصلح الجسد كله,وإذا فسدت فسدالجسد كله, ألآ وهي القلب       

Sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Apabila ia baik maka akan baik pula seluruh tubuhnya. Dan apabila ia buruk maka buruk pula seluruh tubuh. Ketahuilah dia itu adalah hati. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Oleh karena itu JAGALAH KEADAAN HATIMU agar tetap tenang. Jangan sampai dipenuhi oleh kegelisahan, kesedihan dan gundah gulana. Ingatlah bahwa ketika hati gundah gulana maka akan mendatangkan rasa malas beribadah, tak bisa berfikir jernih, sulit mengendalikan emosi bahkan mudah marah.

Ketahuilah bahwa ada beberapa jalan yang bisa dilakukan agar hati menjadi tenang, terasa nyaman, diantaranya :

Pertama : Dengan banyak berdzikir mengingat Allah. Allah Ta’ala berfirman :

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

(Yaitu) orang orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah, Ketahuilah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram. (Q.S ar Ra’du 28).

Kedua : Dengan banyak membaca al Qur an. Allah Ta'ala berfirman :

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

Dan Kami turunkan dari al Qur an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat BAGI ORANG YANG BERIMAN, sedangkan bagi orang yang zhalim (al Qur an itu) hanya akan menambah kerugian. (Q.S al Isra’ 82).

Imam Ibnu Katsir  berkata : Allah Ta'ala memberi tahukan tentang al Qur an yang tidak datang kepadanya kebathilan baik dari depan maupun dari belakangnya. Al Qur an merupakan obat penyembuh dan rahmat bagi orang orang yang beriman yakni dapat MENGHILANGKAN BERBAGAI PENYAKIT DI DALAM HATI seperti keraguan, kemunafikan, kemusyrikan dan penyimpangan. Sekali gus SEBAGAI RAHMAT yang membawa dan mengantarkan kepada keimanan, hikmah dan melahirkan keinginan untuk mencari kebaikan. (Tafsir Ibnu Katsir).

Syaikh Muhammad Amin asy Syinqith  berkata : Penawar atau obat bagi penyakit hati atau jiwa seperti keraguan, kemunafikan dan perkara lainnya. (Tafsir Adhwaul Bayan).

Tentang surat al Isra’ 82 ini, Syaikh as Sa’di berkata : PENYEMBUHAN yang dimaksud adalah bersifat umum untuk menyembuhkan PENYAKIT HATI dari syubhat dan kebodohan, pemikiran rusak dan penyimpangan yang buruk serta niat yang buruk. (Selain itu) juga untuk MENYEMBUHKAN TUBUH DARI RASA SAKIT DAN GANGGUANNYA. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Wallahu A'lam. (3.702). 

 

 

 

 

Selasa, 05 Mei 2026

SANGAT BAIK DIAM KETIKA SESEORANG TERPICU UNTUK MARAH

 

SANGAT BAIK DIAM KETIKA SESEORANG TERPICU UNTUK MARAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam sangat menganjurkan kita untuk selalu berbicara yang baik atau diam yaitu sebagaimana sabda beliau :

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam. (Mutafaq ‘alaihi).

Dari hadits ini, pertama sekali ada faedah yang bisa diambil, diantaranya bahwa BERKATA YANG BAIK ATAU DIAM bukanlah sekedar masalah adab berbicara tetapi terkait dengan iman.

Tentang hadits ini,  Imam an Nawawi berkata : Apabila salah seorang dari kalian hendak berbicara dan pembicaraan tersebut  benar benar baik dan berpahala, baik  dalam membicarakan yang wajib maupun sunnah, silahkan dia mengatakannya.

Jika belum jelas baginya, apakah perkataan itu baik dan berpahala atau perkataan itu  tampak samar baginya  antara haram, makruh dan mubah, hendaknya dia tidak mengucapkannya. (Syarah Shahih Muslim).

Nah, sikap diam atau tidak berbicara ternyata lebih penting lagi dijaga  ketika seseorang sedang TERPICU UNTUK MARAH. Kenapa ?, karena ketika marah seseorang sulit mengendalikan emosinya.

Sungguh, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan apabila seseorang marah hendaklah ia diam, sebagai mana sabda beliau :

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ.

Apabila seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam. (H.R Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad dan juga ahli hadits yang selainnya, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Selain itu, ketika seseorang terpicu untuk marah maka hendaklah merubah posisi dirinya. Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan agar orang yang marah ketika seorang marah ketika berdiri maka hendaklah  dia duduk atau berbaring. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ ، وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ.

Apabila seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk; apabila amarah telah pergi darinya, (maka itu baik baginya) dan jika belum, hendaklah ia berbaring. (H.R Imam Ahmad, Abu Dawud  dan Ibnu Hibban dari sahabat Abu Dzarr).

Wallahu A'lam. (3.701). 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ini juga merupakan cara atau sikap  yang PALING UTAMA DAN SANGAT DIANJURKAN untuk  diamalkan  jika terpicu marah, karena jika orang sedang marah maka biasanya keluarlah darinya ucapan-ucapan yang kasar, keji, melaknat, mencaci-maki dan lain-lain yang dampaknya  sangat buruk. Bahkan bisa menjadi penyesalan.

Wallahu A'lam. (1.327).  Disusun oleh : Azwir B. Chaniago – 05.05.2026

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

RUGI BESAR JIKA TERGESA GESA MENINGGALKAN TEMPAT SHALAT

 

RUGI BESAR JIKA TERGESA GESA MENINGGALKAN TEMPAT SHALAT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Setelah mengucapkan salam sebagai tanda selesai melakukan shalat, terutama shalat fardhu sangat dianjurkan untuk tetap berada ditempat shalat beberapa saat. Jangan tergesa gesa meninggalkan tempat shalat. Gunakan waktu yang sangat baik ini untuk membaca dzikir setelah shalat.

Pada shalat shubuh gunakan untuk menambah dengan bacaan dzikir pagi dan pada shalat ashar gunakan untuk menambah dengan bacaan dzikir petang dan juga baik digunakan untuk ibadah ibadah lainnya yang disyariatkan. Dan juga bisa dilanjutkan dengan bacaan dzikir mutlak serta membaca al Qur an.

Terkadang ada saudara saudara kita  yang setelah shalat fardhu segera meninggalkan tempat shalatnya. Mungkin terburu buru untuk mengejar dan melanjutkan urusan dunia yang mereka inginkan.

Namun demikian ketahuilah bahwa sungguh sangat banyak keutamaan yang akan diperoleh seorang hamba yang tetap tinggal ditempat shalat beberapa saat, diantaranya  :

Pertama : Mendapat ampunan dosa. Dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :

مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَتْلِكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

Barangsiapa bertasbih (mengucapkan Subhanallah) di setiap akhir shalat sebanyak 33 kali, bertahmid (mengucapan Alhamdulillah) sebanyak 33 kali, bertakbir (mengucapkan Allahu Akbar) sebanyak 33 kali lalu sebagai penyempurna (bilangan) 100 ia mengucapkan :

‘Laa ilaha illallahu wahdahu la syarikalahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir (tiada yang berhak disembah dengan haq selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala puji dan bagi-Nya kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu), maka Aku akan mengampuni dosa-dosanya sekalipun sebanyak BUIH DILAUTAN. (H.R Imam Muslim).

Kedua : Mendapat doa dari malaikat.  Rasulullah  Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

المَلائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلاَّهُ الَّذي صَلَّى فِيهِ مَا لمْ يُحْدِثْ، تَقُولُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ

Para malaikat terus mendoakan salah seorang di antara kalian selama dia berada di tempat shalatnya yang dia shalat di tempat itu, selama dia tidak berhadats. Para Malaikat berdoa dengan mengucapkan : Ya Allah ampunilah orang ini, Ya Allah rahmatilah dia. (H.R Imam Bukhari).

Ketahuilah bahwa doa malaikat sangat besar kemungkinan diijabah karena  para malaikat adalah makhluk yang sangat patuh kepada Allah Ta'ala.

Wallahu A'lam. (3.700).

 

 

 

Minggu, 03 Mei 2026

HAMBA HAMBA ALLAH HARAP CEMAS SETELAH MELAKUKAN IBADAH

 

HAMBA HAMBA ALLAH HARAP CEMAS SETELAH MELAKUKAN IBADAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Para ulama terdahulu dan orang-orang shaleh, jika selesai beribadah, senantiasa merasa harap dan cemas. Harap ibadahnya diterima dan cemas dan khawatir  kalau  ditolak. Ketahuilah, bahwa bisa jadi tidak semua ibadah kita diterima Allah karena keikhlasan kita tidak penuh atau ittiba’ kita yang belum sempurna.

Sungguh, sikap harap dan cemas ini akan menumbuhkan dorongan bagi setiap mukmin untuk terus  berusaha memperbaiki amalnya agar bernilai disisi Allah. Allah Ta’ala berfirman :  

وَٱلَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآ ءَاتَوا۟ وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَٰجِعُونَ

Dan mereka yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka. (Q.S. Al Mu’minun 60).

Syaikh as Sa’di dalam kitab Tafsirnya antara  lain menjelaskan makna “dengan hati yang takut” adalah mereka merasa takut saat amalan-amalannya ditampilkan kepada Allah dan berdiri dihadapanNya, sekiranya amalan mereka tidak bisa menyelamatkan mereka dari siksa Allah.

 

Ketahuilah bahwa Rasulullah salallahi wasallam selesai shalat  subuh selalu berdzikir pagi, antara lain dengan  membaca doa : 

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً نَافِعاً، وَرِزْقاً طَيِّباً، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

Ya Allah aku bermohon ilmu yang bermanfaat, rizki  yang  baik dan amalan yang diterima. (H.R. Imam Ahmad).

Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam selalu berdoa antara lain meminta agar amalan diterima. Ini suatu indikasi bahwa ada kemungkinan amal seseorang ditolak.

Nabi Ibrahim alaihissalam, setelah melakukan amal yang besar, yang diperintahkan Allah,  meninggikan fondasi bangunan Ka’bah  atau ada yang menyebut   membangun Ka’bah bersama anaknya  Ismail, beliau berdoa : 

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

 Ya Rabb kami terimalah amal kami sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. (Q.S al Baqarah 127).

Beliau berdoa seperti itu karena berharap amalnya diterima dan cemas kalau ditolak.

Oleh karena itu, amal shalih yang telah kita lakukan haruslah dijaga dan dipelihara agar bermanfaat untuk akhirat kita karena ini bekal kita pada saat kembali ke kampung akhirat. Sungguh yang akan ditimbang dan dihisab nanti adalah amal shalih, tidak yang lain.

Wallahu A'lam. (3.699). 

 

 

 

 

BERSEDEKAH TIDAKLAH TERLALU BERAT BAGI ORANG YANG IMANNYA KOKOH

 

BERSEDEKAH TIDAKLAH TERLALU BERAT BAGI ORANG YANG IMANNYA KOKOH

Disusun oleh : Azwur B. Chaniago

Bersedekah berupa harta adalah dianjurkan dan sangat terpuji dalam syariat Islam. Allah Ta'ala telah mengingatkan perkara ini dalam firman-Nya :


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ ۗ

Wahai orang orang yang beriman !. Infakkanlah sebagian dari rizki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari ketika tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan dan tidak ada lagi syafaat. (Q.S al Baqarah 254).

Dan juga Allah Ta'ala berfirman :

 

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ

 

Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang diantara kamu.  (Q.S al Munaafiquun 10).

Sungguh, bersedekah dengan harta  TIDAKLAH TERASA TERLALU BERAT BAGI ORANG ORANG YANG IMANNYA KOKOH, karena banyak keutamaannya :

Pertama : Sebagai tanda orang bertakwa. Allah Ta'ala berfirman :

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(Orang yang bertakwa adalah) orang yang menafkahkan hartanya dalam  KEADAAN LAPANG ATAU DALAM KEADAAN SEMPIT, menahan amarahnya dan suka memaafkan kesalahan manusia. Dan Allah menyukai orang orang yang berbuat baik. (Q.S Ali Imran 134).

Kedua : Akan mendapat ganti berlipat ganda sampai 700 kali lipat. Allah Ta'ala berfirman : 

مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنۢبُلَةٍ مِّا۟ئَةُ حَبَّةٍ ۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S al Baqarah 261).

Ketiga : Sedekah sebagai penghapus dosa.  Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :

الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ وَالْحَسَدُ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

Sedekah itu akan menghapuskan dosa sebagaimana air dapat memadamkan api. Hasad akan memakan kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar. (H.R al Baihaqi dalam Syu’abul Iman).

Wallahu A'lam. (3.698).