Kamis, 14 Mei 2026

BERUSAHALAH MEMPERMUDAH URUSAN ORANG LAIN

 

BERUSAHALAH MEMPERMUDAH URUSAN ORANG LAIN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Berusaha mempermudah urusan orang lain adalah satu sikap tolong menolong terhadap sesama. Sungguh  Allah Ta'ala memerintahkan orang orang beriman untuk SALING TOLONG MENOLONG DALAM KEBAIKAN yaitu sebagaimana firman-Nya :

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa. Dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah sangat berat siksa-Nya. (Q.S al Maidah 2).

Imam Ibnu Katsir berkata : Maknanya adalah bahwa Allah Ta'ala memerintahkan hamba hamba-Nya yang beriman untuk senantiasa tolong menolong DALAM BERBUAT KEBAIKAN. Itulah yang disebut dengan al birru atau kebaikan. (Tafsir Ibnu Katsir).

Syaikh as Sa’di berkata : “Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan takwa”, maksudnya hendaknya sebagian dari kamu membantu sebagian yang lain dalam kebaikan. Dan kebaikan adalah nama yang mengumpulkan segala perbuatan, baik lahir ataupun bathin, baik hak Allah maupun hak manusia, YANG DICINTAI DAN DIRIDHAI OLEH ALLAH.

Dan takwa di sini adalah nama yang  mengumpulkan sikap meninggalkan segala perbuatan (buruk)  lahir dan bathin YANG DIBENCI OLEH ALLAH DAN RASUL-NYA.

“Dan janganlah kamu saling tolong menolong dalam perbuatan dosa”, yaitu saling mendorong melakukan kemaksiatan dimana pelakunya memikul beban dosa yang berat. “Dan pelanggaran”, yaitu pelanggaran terhadap manusia pada darah, harta dan kehormatan mereka. Seorang hamba wajib menghentikan diri dari segala kemaksiatan dan kezhaliman dan juga menolong orang lain untuk meninggalkannya. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Ketahuilah bahwa mempermudah urusan orang adalah bagian penting dari tolong menolong dan merupakan  salah sikap terpuji dalam syariat Islam. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda : 

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

Barangsiapa yang melepaskan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barangsiapa yang memudahkan urusan orang yang sedang kesulitan, maka Allah akan memudahkan baginya (urusan) di dunia dan akhirat. (H.R Imam Muslim).

Ketahuilah bahwa sungguh, mempermudah urusan orang lain adalah amalan yang sangat dianjurkan. Sikap ini termasuk bentuk kasih sayang, tolong-menolong, dan akhlak mulia yang dicintai Allah.

Bahwa kebaikan sekecil apa pun bisa menjadi jalan datangnya pertolongan Allah Ta'ala. Sungguh, ada banyak jalan untuk mempermudah urusan orang lain  bisa dengan harta, dengan tenaga, dengan ilmu termasuk pula memberi perhatian dan ucapan yang menyenangkan dan yang lainnya. Namun demikian ingatlah bahwa semuanya mestilah dilakukan dengan ikhlas mencari ridha Allah.

Wallahu A'lam. (3.708). 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rabu, 13 Mei 2026

SANGAT PENTING MEMPERBAIKI CARA HIDUP DI SISA UMUR

 

SANGAT PENTING MEMPERBAIKI CARA HIDUP DI SISA UMUR

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ada diantara kita yang  menjalani masa lalunya dengan cara yang kurang terpuji. Lalai belajar ilmu syariat, lalai beribadah, lalai membantu orang lain baik dengan harta maupun dengan fisik ataupun nasehat.

Dengan kasih sayang-Nya, Allah Ta'ala masih memberi umur kepada kita sampai saat ini dan atas izinnya untuk beberapa waktu ke depan yang bisa kita sebut sebagai SISA UMUR. Ketahuilah bahwa SUNGGUH SANGAT TIDAK PANTAS kalau sisa umur ini disia siakan.

Bukankah kematian akan mendatangi kita sewaktu waktu. Ketahuilah bahwa ketika ajal seseorang telah sampai maka tak ada yang bisa memajukan atau memundurkan barang sesaat. Allah Ta'ala berfirman :

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Dan setiap umat mempunyai ajal. Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun. (Q.S al A'raf 34)

Oleh karena itu, orang orang beriman SEMESTINYA DAN SUNGGUH SUNGGUH memanfaatkan sisa umur ini dengan sebaik mungkin untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mencari ridha-Nya.

Saudaraku, mari kita simak apa yang disebutkan  Imam Ibnul Rajab al Hambali yang menceritakan bahwa pada suatu kali Imam Fudhail bin Iyadh seorang Tabi'in, pernah bertanya kepada seorang laki laki :  Berapa usiamu ?. Orang itu menjawab : 60 tahun.

Lalu Imam Fudhail berkata : Berarti selama 60 tahun engkau telah berjalan menuju Rabb-mu dan saat ini engkau hampir sampai kepada-Nya.

Maka laki laki itu berkata : Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun (sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali). Kemudian Imam Fudhail bertanya kepadanya : Tahukah engkau tafsir dari apa yang engkau ucapkan itu ?. Laki laki itu berkata : Tafsirkanlah ucapan itu untukku, wahai Abu Ali. Fudhail bin Iyadh menjelaskan : 

Pertama : Barangsiapa yang mengetahui bahwa ia adalah hamba Allah dan akan kembali kepada-Nya  maka hendaklah ia mengetahui bahwa kelak ia akan disuruh berdiri dihadapan Rabb-nya. 

Kedua : Barangsiapa yang mengetahui bahwa ia akan disuruh berdiri dihadapan  Rabb-nya maka harus dia mengetahui bahwa dia pasti akan ditanya.

Ketiga : Barangsiapa yang mengetahui bahwa ia akan ditanya maka hendaklah ia mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan itu.

Selanjutnya laki laki itu berkata : Lalu bagaimana jalan keluarnya ?. Jalan keluarnya mudah kata Fudhail bin Iyadh. Orang itu bertanya lagi : Apakah itu wahai Abu Ali ?

Imam Fudhail bin Iyadh menjawab : Hendaklah engkau BERBUAT KEBAIKAN DI SISA UMURMU.  Niscaya Allah akan mengampuni (dosa) apa yang telah lalu atas dirimu. Sesungguhnya jika engkau tetap berbuat keburukan pada sisa umurmu niscaya engkau akan dihisab atas semua perbuatan (buruk) mu yang telah lalu dan yang akan datang (Jami’ul Ulum wal Hikam)

Imam Ibnu Katsir memberi nasehat, beliau berkata : Termasuk GHANIMAH TERBAIK adalah engkau memperbaiki sisa sisa umurmu. Niscaya Allah Ta'ala akan mengampunimu akan mengampunimu dari apa yang telah berlalu dari umurmu itu. (Al Bidayah wa Nihayah).    

Wallahu A'lam. (3.707) 

ORANG ORANG BERIMAN HANYA MENGADU KEPADA ALLAH

 

ORANG ORANG BERIMAN HANYA MENGADU KEPADA ALLAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, ketika menjalani kehidupan di dunia, orang orang beriman akan menemukan keadaan sulit dan mudah, keadaan susah dan senang. Memang demikian adanya, orang beriman selalu akan diuji dengan berbagai  keadaan.

Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telah mengingatkan bahwa orang orang beriman itu akan selalu diuji. Yaitu sebagaimana sabda beliau :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ الزَّرْعِ لَا تَزَالُ الرِّيحُ تُفِيئُهُ، وَلَا يَزَالُ الْمُؤْمِنُ يُصِيبُهُ الْبَلَاء

Perumpamaan seorang beriman tak ubahnya seperti tanaman, angin akan selalu menerpanya, ia akan selalu mendapat cobaan (H.R Imam Muslim).

Semestinya, ketika orang beriman didatangi ujian yang terasa berat, tidak menyenangkan hatinya merasa hati gundah, tidak nyaman   maka jangan sekali kali mengadu kepada manusia apalagi MENGELUHKAN kesulitan atau kesusahaan yang menimpa diri.

Ketahuilah bahwa manusia itu lemah sehingga bisa jadi mendatangkan kekecewaan. Bahkan bisa jadi juga dianggap memberi beban kepada orang lain. Dan juga ketika sering mengadukan keaaan diri kepada manusia mereka bisa bosan bahkan bisa oula salah paham.

Selain itu mengadukan keadaan diri kepada orang bisa bermakna tidak ridha atas apa yang telah ditetapkan Allah Ta;ala. Sungguh Allah Ta'ala telah mengingatkan dalam firman-Nya :


قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَىٰنَا ۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ

Katakanlah (Muhammad). Tidak akan menimpa kami melainkan APA YANG TELAH DITETAPKAN ALLAH BAGI KAMI. (Q.S at Taubah 51)

Syaikh as Sa'di berkata : Allah adalah Rabb yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, yakni yang dituju dalam seluruh kebutuhan. Kepada-Nya mereka meminta apa yang mereka perlukan.

Dan keadaan-Nya mereka bergantung pada apa yang mereka inginkan, karena Dia Maha Sempurna dalam sifat-sifat-Nya, Maha Mengetahui Yang sempurna ilmu-Nya, Maha Penyantun yang sempurna Santun-Nya. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Sungguh, wajib diketahui dan dipahami pula bahwa tempat mengadukan keadaan diri HANYALAH ALLAH TA'ALA Yang Mahakuasa dan Mahabijaksana. Dalam hal ini kita perlu belajar dari kisah  Nabi Ya'qub bahwa Allah Ta'ala adalah sebaik-baik tempat mengadu :

قَالَ إِنَّمَآ أَشْكُوا۟ بَثِّى وَحُزْنِىٓ إِلَى ٱللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Ya'qub berkata : Sesungguhnya HANYALAH KEPADA ALLAH aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya. (Q.S Yusuf 86).

Wallahu A'lam. (3.706). 

 

 

 

Minggu, 10 Mei 2026

RASULULLAH MENGENAL UMAT BELIAU DARI BEKAS TANDA WUDHU

 

RASULULLAH MENGENAL UMAT BELIAU DARI BEKAS TANDA WUDHU

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketahuilah bahwa di akhirat kelak Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam akan dianugerahi oleh Allah Ta'ala satu telaga yang disebut telaga al Kautsar dan semua umat beliau boleh meminum airnya.  

Tentang telaga al Kautsar antara lain dijelaskan dalam  hadits dari Abu Dzar al-Ghifari radhiallahu ‘anhu :

يا رسول الله ما آنِيَةُ الحَوْضِ؟ قال: “وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لآنِيَتُهُ أَكْثَرُ مِنْ عَدَدِ نُجُومِ السَّمَاءِ وَكَوَاكِبِهَا فِي لَيْلَةٍ مُظْلِمَةٍ مُصْحِيَةٍ مِنْ آنِيَةِ الجَنَّةِ، مَنْ شَرِبَ مِنْهَا شَرْبَةً لَمْ يَظْمَأْ، آخِرَ مَا عَلَيْهِ عَرْضُهُ مِثْلُ طُولِهِ مَا بَيْنَ عُمَانَ إِلَى أَيْلَةَ مَاؤُهُ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ وَأَحْلَى مِنَ العَسَلِ

Aku pernah bertanya : Ya Rasulullah, apakah ada gelas-gelas di dalam telaga surga ?. Beliau menjawab : Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh gelas-gelasnya sebanyak bilangan bintang-bintang di langit pada malam yang gelap gulita. Itulah gelas-gelas di surga.

Barangsiapa yang minum air telaga tersebut, ia tidak akan merasa haus selamanya. Lebarnya sama dengan panjangnya, yaitu seukuran antara Oman dan Ailah. Airnya lebih putih dari pada susu dan rasanya lebih manis dari pada manisnya madu. (H.R at Tirmidzi  dan Imam Ahmad).

Diantara manusia yang begitu banyak Padang Mahsyar, Nabi shalallahu alaihi wasallam akan mengenal umat beliau yaitu ketika datang ke telaga al Kautsar dengan tanda tanda khusus sebagaimana disebutkan dalam satu hadits :

وَدِدْتُ أَنَّا قَدْ رَأَيْنَا إِخْوَانَنَا. قَالُوا : أَوَلَسْنَا إِخْوَانَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، قَالَ : أَنْتُمْ أَصْحَابِي ، وَإِخْوَانُنَا الَّذِينَ لَمْ يَأْتُوا بَعْدُ . فَقَالُوا 
كَيْفَ تَعْرِفُ مَنْ لَمْ يَأْتِ بَعْدُ مِنْ أُمَّتِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ فَقَالَ : أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ رَجُلًا لَهُ خَيْلٌ غُرٌّ مُحَجَّلَةٌ بَيْنَ ظَهْرَيْ خَيْلٍ دُهْمٍ بُهْمٍ أَلَا يَعْرِفُ خَيْلَهُ؟ قَالُوا : بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ ، قَالَ : فَإِنَّهُمْ يَأْتُونَ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ الْوُضُوءِ وَأَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ

Saya berharap bahwa kami sudah bisa melihat saudara-saudara kami”. Mereka (para sahabat) berkata : Bukankah kami adalah saudara-saudaramu, wahai Rasulullah ?. Beliau menjawab : Kalian adalah sahabat-sahabatku, saudara-saudara kami adalah mereka yang belum datang (lahir) saat ini.

Mereka (sahabat) berkata : Bagaimana engkau mengetahui orang yang belum ada saat ini dari umatmu, wahai Rasulullah ?. Beliau menjawab : Tidakkah engkau melihat, jika seseorang memiliki kuda bertanda putih pada muka dan kaki-kakinya berada diantara kuda-kuda hitam pekat, tidakkah ia bisa mengenal kudanya ?, Mereka menjawab : Ya, wahai Rasulullah.

Beliau bersabda : Mereka akan datang dengan wajah putih bersinar dan kaki tangan bercahaya PADA BAGIAN AIR WUDHU, dan saya menunggu mereka di Telaga. (H.R Imam Muslim).

Oleh karena itu, orang orang beriman selalu berwudhu dengan sempurna yaitu sebagai syarat untuk melaksanakan shalat. Dan juga sebagai salah satu tanda atau identitas umat Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam di akhirat kelak.

Wallahu A'lam. (3.705). 

 

 

Jumat, 08 Mei 2026

CARA MATI SESEORANG AKAN SELARAS DENGAN CARA HIDUPNYA

 CARA MATI SESEORANG AKAN SELARAS DENGAN CARA HIDUPNYA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, setiap hamba menginginkan bahkan sangat berharap diwafatkan Allah Ta'ala dalam keadaan baik yaitu husnul khatimah, akhir hidup yang baik. Ketahuilah bahwa tidak semua orang mendapatkan akhir hidup yang baik kecuali yang menjalani hidup dengan baik pula. Sungguh cara mati seseorang selaras atau bersesuaian dengan cara hidupnya.

Allah Ta'ala telah mengingatkan dalam firman-Nya, yaitu : 

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula. (Q. S ar Rahman 60).

Oleh karena itu, jalan paling utama untuk mendapatkan akhir hidup atau cara mati yang baik adalah  menjalani hidup dengan PENUH KETAATAN sesuai petunjuk syariat. Hamba hamba Allah haruslah berusaha sungguh sungguh MENJAGA IBADAH FARDHU atau yang diwajibkan.

Kemudian berusaha pula mengamalkan ibadah ibadah sunnah yang disyariatkan sesuai kemampuan.   Perbanyak shalat sunnah, perbanyak puasa sunnah, perbanyak berdzikir, membaca al Qur an, berbuat baik dengan membantu orang lain seperti berinfak dan bersedekah.

Tentang cara hidup dan cara mati yang bersesuian, Imam Ibnul Qayyim berkata bahwa : 

(1) Saya pernah diberitahu oleh orang yang pernah menyaksikan sakaratul maut seorang pengemis. Menjelang ajalnya, pengemis tersebut terus berkata : Recehannya, demi Allah, recehannya … , hingga akhirnya meninggal.

(2) Saya diberi tahu oleh sebagian pedagang bahwasanya ketika ada kerabatnya mengalami sakaratul maut dan ditalqin atau dituntun dengan kalimat Laa ilaha illa Allah, dia malah berkata : Barang ini murah, barang ini bagus, barang ini begini dan begitu …, hingga akhirnya dia meninggal.

Beliau juga berkata : Bagaimana mungkin taufik untuk husnul khatimah akan didapat seseorang yang : (1) Hatinya lalai dari dzikir kepada Allah Ta’ala. (2) Selalu mengikuti hawa nafsunya. (3) Dan keadaannya yang melampaui batas.

Sungguh, orang yang hatinya lalai dari mengingat Allah Ta’ala sangat jauh dari husnul khatimah, tertawan oleh syahwatnya, lisannya kering dari dzikir kepada-Nya. Anggota tubuhnya tidak mentaati perintah Allah Ta’ala bahkan dia selalu sibuk dengan maksiat.

Imam Ibnul Qayyim juga memberi nasehat tentang penghambat mendapat husnul khatimah, beliau berkata : Bagaimana mungkin taufik untuk husnul khatimah akan didapat seseorang yang : (1) Hatinya lalai dari dzikir kepada Allah Ta’ala. (2) Selalu mengikuti hawa nafsunya. (3) Dan keadaannya yang melampaui batas.

Sungguh, orang yang hatinya lalai dari mengingat Allah Ta’ala sangat jauh dari husnul khatimah, tertawan oleh syahwatnya, lisannya kering dari dzikir kepada-Nya. Anggota tubuhnya tidak mentaati perintah Allah Ta’ala bahkan dia selalu sibuk dengan maksiat. (Ad Daa’ wad Dawaa’)

Selain itu, agar diwafatkan dalam husnul khatimah  maka hamba hamba Allah juga sangat dianjurkan untuk berdoa. Diantara doa yang diajakan Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam adalah : 

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمْرِي آخِرَهُ، وَخَيْرَ عَمَلِي خَوَاتِيمَهُ، وَخَيْرَ أَيَّامِي يَوْمَ أَلْقَاكَ فِيهِ

Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku adalah umur yang terakhirnya, sebaik-baik amalku adalah amal-amal penutupannya dan sebaik-baik hariku adalah hari saat aku menghadap-Mu. (H.R ath Thabrani)

Wallahu A'lam. (3.704).   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kamis, 07 Mei 2026

ENGKAU DISEBUT ORANG CERDAS JIKA BANYAK MENGINGAT MATI

ENGKAU DISEBUT ORANG CERDAS JIKA BANYAK MENGINGAT MATI

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Semua orang pasti akan mengalami mati. Inilah kenyatan yang sangat kita pahami dan juga Allah Ta'ala menjelaskan perkara ini dengan tegas dalam beberapa  firman-Nya :


كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ

Tiap tiap yang berjiwa akan merasakan mati. (Q.S al Anbiya’ 35).

Dan juga Allah Ta’ala berfirman :

أَيۡنَمَا تَكُونُواْ يُدۡرِككُّمُ ٱلۡمَوۡتُ وَلَوۡ كُنتُمۡ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍۗ

Di mana saja kalian berada, kematian pasti akan mendapati kalian, walaupun kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. (Q.S an Nisa’ 78).

Ketahuilah bahwa hakikatnya, masalah besar kita bukan mati atau kapan mati atau ditempat mana akan mati tetapi sudah cukupkah persiapan kita untuk menghadapi mati.

Sungguh Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam mengingatkan orang yang cerdas diantaranya adalah selalu mengingat mati dan memiliki persiapan yang  baik untuk menghadapi mati. Perhatikanlah sabda beliau  dalam satu hadits dari Ibnu Umar :

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما أَنَّهُ قَالَ: كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ: «أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا» قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ: «أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ»

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia bercerita : Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu datang seorang lelaki dari kaum Anshar mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bertanya :  Wahai Rasulullah, orang beriman manakah yang paling baik ?. Beliau menjawab : Yang paling baik akhlaknya.

Orang ini bertanya lagi :  Lalu orang beriman manakah yang paling berakal (cerdas) ?. Beliau menjawab : Yang paling banyak MENGINGAT KEMATIAN dan paling baik persiapannya (untuk hidup)  setelah kematian, merekalah yang berakal. (H.R Ibnu Majah).

Diantara MANFAAT MENGINGAT MATI ADALAH TIDAK TERTIPU OLEH DUNIA. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasalam telah mengingatkan perkara ini dalam sabda beliau :

 

أكثروا ذكر هَاذِمِ اللَّذَّاتِ فإنه ما ذكره أحد فى ضيق من العيش إلا وسعه عليه ولا فى سعة إلا ضيقه عليه

 

Perbanyaklah banyak mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian) karena jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya sempit, maka ia akan merasa lapang dan jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya lapang, maka IA TIDAK TERTIPU DENGAN DUNIA. (H.R Ibnu Hibban dan Al Baihaqi, dihasan oleh Syaikh Al Albani).

Hakikatnya, mengingat mati harus dilakukan setiap detik dari umur kita supaya tak lalai darinya dan termasuk kelompok orang yang cerdas.

Wallahu A'lam. (3.703).

  

Rabu, 06 Mei 2026

PELIHARA HATIMU AGAR TETAP TENANG TIDAK GELISAH

 

PELIHARA HATIMU AGAR TETAP TENANG TIDAK GELISAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketahuilah bahwa  hati ibarat penguasa dalam tubuh manusia. Abu Hurairah mengatakan bahwa hati adalah ibarat raja sedangkan anggota badan ibarat pasukannya. Apabila buruk rajanya maka buruk pula pasukannya.

Rasulullah salallahu alaihi wassalam mengingatkan   dalam sabda beliau :

ألآ وإن في الجسد مضغة, إذا صلحتصلح الجسد كله,وإذا فسدت فسدالجسد كله, ألآ وهي القلب       

Sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Apabila ia baik maka akan baik pula seluruh tubuhnya. Dan apabila ia buruk maka buruk pula seluruh tubuh. Ketahuilah dia itu adalah hati. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Oleh karena itu JAGALAH KEADAAN HATIMU agar tetap tenang. Jangan sampai dipenuhi oleh kegelisahan, kesedihan dan gundah gulana. Ingatlah bahwa ketika hati gundah gulana maka akan mendatangkan rasa malas beribadah, tak bisa berfikir jernih, sulit mengendalikan emosi bahkan mudah marah.

Ketahuilah bahwa ada beberapa jalan yang bisa dilakukan agar hati menjadi tenang, terasa nyaman, diantaranya :

Pertama : Dengan banyak berdzikir mengingat Allah. Allah Ta’ala berfirman :

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

(Yaitu) orang orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah, Ketahuilah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram. (Q.S ar Ra’du 28).

Kedua : Dengan banyak membaca al Qur an. Allah Ta'ala berfirman :

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

Dan Kami turunkan dari al Qur an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat BAGI ORANG YANG BERIMAN, sedangkan bagi orang yang zhalim (al Qur an itu) hanya akan menambah kerugian. (Q.S al Isra’ 82).

Imam Ibnu Katsir  berkata : Allah Ta'ala memberi tahukan tentang al Qur an yang tidak datang kepadanya kebathilan baik dari depan maupun dari belakangnya. Al Qur an merupakan obat penyembuh dan rahmat bagi orang orang yang beriman yakni dapat MENGHILANGKAN BERBAGAI PENYAKIT DI DALAM HATI seperti keraguan, kemunafikan, kemusyrikan dan penyimpangan. Sekali gus SEBAGAI RAHMAT yang membawa dan mengantarkan kepada keimanan, hikmah dan melahirkan keinginan untuk mencari kebaikan. (Tafsir Ibnu Katsir).

Syaikh Muhammad Amin asy Syinqith  berkata : Penawar atau obat bagi penyakit hati atau jiwa seperti keraguan, kemunafikan dan perkara lainnya. (Tafsir Adhwaul Bayan).

Tentang surat al Isra’ 82 ini, Syaikh as Sa’di berkata : PENYEMBUHAN yang dimaksud adalah bersifat umum untuk menyembuhkan PENYAKIT HATI dari syubhat dan kebodohan, pemikiran rusak dan penyimpangan yang buruk serta niat yang buruk. (Selain itu) juga untuk MENYEMBUHKAN TUBUH DARI RASA SAKIT DAN GANGGUANNYA. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Wallahu A'lam. (3.702).