Selasa, 21 April 2026

PURA PURA JADI PENGEMIS DEMI BELAJAR HADITS

 

PURA PURA JADI PENGEMIS DEMI BELAJAR HADITS

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Imam adz Dzahabi menceritakan kisah bagaimana seorang ulama mencari ilmu ke negeri yang sangat  jauh dari negerinya dengan berjalan kaki. Lalu harus menyamar sebagai pengemis agar bisa belajar hadits.

Diriwayatkan bahwa Baqi' bin Makhlad al Andalusi, berjalan kaki dari negerinya yaitu Andalusia (Spanyol) menuju Baghdad, untuk belajar ilmu hadits dari Imam Ahmad bin Hambal.

Sesampai di Baghdad, kata Baqi bin Makhlad : Aku mencari rumah Imam Ahmad dan orang orang dengan mudah menunjukan kepadaku dimana rumah Imam Ahmad. Sesampainya di rumah Imam Ahmad (setelah memberi salam) lalu aku mengetuk pintu rumahnya. Dia keluar, lalu aku berkata : Wahai Abdullah, seseorang asing telah meninggalkan kampung halamannya. Ini adalah pertama kali aku datang ketempat ini.

Aku ingin mempelajari hadits dan mengalungkan sunnah pada diriku. Tidak ada yang kutuju dari perjalanan ini selain engkau. Imam Ahmad berkata : Masuklah ke lorong dekat tiang ini  agar engkau tidak terlihat (oleh intel intel penguasa, peny.) 

Kemudian aku masuk dan dia berkata kepadaku : Dari mana asalmu ?. Jauh dari sebelah barat, jawabku. Dia kembali bertanya : Afrika ? Aku menjawab : Lebih jauh dari Afrika. Aku harus mengarungi lautan bila ingin pergi dari negeriku ke Afrika, negeriku Andalusia. Imam Ahmad berkata : Tempatmu sungguh jauh. Tidak ada yang lebih aku sukai dari pada menjamu orang seperti engkau. Akan tetapi aku berada dalam keadaan sedang diuji, mungkin engkau sudah mendengar hal ini.

(Catatan : Pada saat itu Imam Ahmad sedang berselisih dengan penguasa  Daulah Bani Abbasiah yang sedang berkuasa. Perselisihan ini dimulai tahun 198 H yaitu setelah meninggal Khalifah Harun al Rasyid dan digantikan oleh anaknya al Makmun Abu Ja’far bin Harun al Rasyid. Al Ma’mun dipengaruhi oleh aliran menyimpang yaitu Mu’tazilah pada hal di  zaman Khalifah Harun al Rasyid Mu’tazilah ini telah dibungkam. (peny.)

Perselisihan paling sengit antara Imam Ahmad dengan penguasa  yang dipengarui oleh Mu’tazilah adalah : Penguasa menetapkan bahwa al Qur-an adalah makhluk sedangkan Imam Ahmad berpendapat dengan dalil dalil yang benar dan sangat kuat bahwa al Qur-an  bukanlah makhluk tapi Kalamullah.

Akhirnya Imam Ahmad mendapat berbagai hukuman diantaranya adalah  diboikot yaitu dilarang keras untuk mengajarkan ilmu kepada siapapun. Itulah  diantara ujian berat yang pernah dialami Imam Ahmad, pen.)    

Aku berkata : Ya aku telah mendengar bahwa engkau sedang mendapat ujian. Engkau sedang diboikot tidak boleh mengajarkan ilmu kepada siapapun. Lalu aku mengusulkan : Di negeri ini tidak ada orang yang kenal denganku. Jika engkau mengizinkan aku akan datang setiap hari ke sini dengan penampilan seperti seorang pengemis. Ketika sampai di pintu aku akan berkata seperti apa yang biasa dikatakan pengemis. Kemudian engkau keluar. Kalau engkau mengajarkan satu hadits saja setiap harinya, itu sudah cukup bagiku. 

Imam Ahmad berkata kepadaku : Baiklah, aku setuju, dengan syarat engkau tidak menceritakannya kepada siapapun dan tidak juga kepada para ahli hadits. Kukatakan : Aku memegang syarat yang engkau berikan. 

Kemudian aku  mencari sebuah tongkat dan membalut kepalaku dengan sehelai kain yang sudah sangat lusuh. Aku tampil sebagaimana layaknya seorang pengemis. Lalu setiap hari aku datang  kerumah Imam Ahmad dan di depan rumahnya aku berteriak : Kasihanilah aku ! Semoga Allah merahmati engkau. 

Kemudian Imam Ahmad keluar dan mengajakku masuk. Dia segera menutup pintu dan mengajarkan aku dua tiga hadits bahkan terkadang lebih banyak. Itulah yang aku lakukan terus menerus hingga aku bisa belajar dan mendapatkan banyak   hadits yang  aku bawa pulang   kenegeriku yang jauh, Andalusia. (Dari Kitab Siyar A’lam an Nubala’)

Begitulah salah satu kisah bagaimana usaha dan semangat orang orang terdahulu dalam mencari ilmu sehingga mereka menjadi orang orang yang lebih ‘alim dibanding kita. Ilmunya jadi bermanfaat bagi dirinya dan bermanfaat pula bagi orang lain. Lalu bagaimana dengan kita ?.

Wallahu A'lam. (3.694)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sabtu, 18 April 2026

SEMBUNYIKAN PERBUATAN BAIK AGAR PAHALANYA TIDAK TERHAPUS

 

SEMBUNYIKAN PERBUATAN BAIK AGAR PAHALANYA TIDAK TERHAPUS

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh Allah Ta'ala telah SANGAT BANYAK BERBUAT BAIK kepada hamba hamba-Nya. Allah Ta'ala menjelaskan perkara ini dalam firman-Nya :

وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat bak kepadamu.  (Q.S al Qashash 77).

Dalam berbuat baik Allah Ta'ala  menyuruh orang beriman bukan hanya sekedar bersegera tetapi DISURUH BERLOMBA. Allah berfirman :  

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ

Maka berlomba lombalah kamu dalam kebaikan. (Q.S al Baqarah 148

Sungguh, berbuat baik terutama kepada  saudara seiman  adalah sifat terpuji dan   sangat dianjurkan dalam syariat Islam.  Namun demikinan ketahuilah bahwa  salah satu sifat yang dianjurkan dalam berbuat baik adalah TIDAK MENYEBUT MENYEBUTNYA.

Dalam satu riwayat disebutkan bahwa seorang laki laki datang kepada Syabramah dan berkata : Aku telah melakukan ini untuk si Fulan, aku telah memberi ini untuk si Fulan. Aku bantu si Fulan dengan begini. Maka beliau, Syabramah, berkata : Tidaklah ada suatu kebaikan pada suatu perbuatan baik jika DIHITUNG HITUNG. (Uyunil Akbar).

Dalam perkara ini, Allah Ta'ala  mengingatkan dalam firman-Nya :


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى

Wahai orang-orang yang beriman !. Janganlah kamu merusak (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima). Q.S al Baqarah 264.

Imam Ibnu Katsir berkata : Dalam ayat tersebut dijelaskan  sedekah menjadi sia-sia hanya karena si pemberi MENGUNGKIT UNGKIT  sedekah (perbuatan baik, peny.) yang telah ia beri dan ia MENYAKITI (perasaan) penerima. Seseorang tidak mendapatkan pahala sedekah akibat melakukan dua kesalahan tersebut. (Tafsir Ibnu Katsir).

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata : Sekiranya ada seseorang memberikan sesuatu kepada orang lain, jika berupa sedekah maka ikhlaskanlah karena Allah dan jika bentuknya kebaikan maka kebaikan adalah memang sesuatu yang harus dilakukan.

Jika demikian adanya maka maka ia tidak boleh menyebut nyebut sedekahnya seperti dengan mengatakan : Aku telah memberimu sesuatu. Aku telah memberimu suatu barang. Diucapkan secara langsung di depannya maupun tidak secara langsung. Contohnya dia mengatakan didepan orang lain : Aku telah memberi si Fulan itu sebuah barang, yaitu dengan maksud untuk menyebut nyebut pemberian atau sedekahnya. 

Ayat dalam surat al Baqarah 264 menjelaskan bahwa jika seseorang suka menyebut nyebut sedekahnya maka pahala sedekah itu akan hancur. Ia tidak akan memperoleh pahala dari sedekahnya dan perbuatannya (mengungkit ungkit sedekahnya itu) termasuk dosa besar. (Syarah Riyadush Shalihin).

Jadi ternyata bahwa mengungkit ungkit pemberian  bukanlah sekedar menghilangkan pahalanya tetapi akan mendatangkan dosa besar. Dengan mengungkit ungkit itu berarti  telah menyakiti perasaan sipenerima sehingga bisa membuatnya merasa terhina. Imam adz Dzahabi mengatakan bahwa mengungkit ungkit kebaikan termasuk salah satu dosa besar (Kitab al Kaba-ir).

Wallahu A'lam. (3.693). 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Minggu, 12 April 2026

HARTA LETAKKAN DI TANGAN JANGAN DI HATI

 

HARTA LETAKKAN DI TANGAN JANGAN DI HATI

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Orang orang beriman berusaha menempatkan harta hanya di tangan tidak ditempatkan di hati. Sungguh ketahuilah bahwa ketika harta ditempatkan di hati maka :

(1) Seseorang akan tergiur mengejar dan mengumpulkan harta yang banyak sesuai kehendak hatinya. Ketika sibuk mencari harta besar kemungkinan lalai dalam melakukan amal shalih

(2) Seseorang yang meletakkan harta di hatinya maka ketika hartanya hilang atau berkurang hatinya akan sangat gundah dan gelisah.

Imam Ibnul Qayyim berkata : Harta kalau sudah MASUK KEHATIMU maka itu akan membahayakanmu meskipun engkau tidak berharta. (Madarijus Saalikin),

Maka ketika seseorang  memiliki harta letakkan ditangan saja tidak masuk ke hati. Ketika harta dapat sedikit atau banyak maka hati tetap merasa lega dan datanglah sifat qana'ah sebagai tanda bersyukur. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :


يَا أَبَا هُرَيْرَةَ كُنْ وَرِعًا، تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ، وَكُنْ قَنِعًا، تَكُنْ أَشْكَرَ النَّاسِ

 

Wahai Abu Hurairah, jadilah orang yang wara’ niscaya dirimu akan menjadi hamba yang paling taat. Jadilah orang yang qana’ah, niscaya dirimu akan menjadi hamba yang paling bersyukur. (H.R Ibnu Majah).

 

Ketahuilah bahwa pertanggungan jawab harta di akhirat kelak sangatlah berat. Harta dimana diperoleh lalu dibelanjakan untuk apa. Rasulullah Salallahu ;alaihi Wasallam bersabda :

 

  لَا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ جَسَدِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيْهِ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ     

 

Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak dari tempat hisabnya pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai empat perkara :

 

(1) Umurnya, untuk apakah ia habiskan. (2) Jasadnya, untuk apakah ia gunakan. (3) Ilmunya, apakah telah ia amalkan (4) HARTANYA, DARI MANA DIA PEROLEH DAN KEMANA DIA BELANJAKAN. (H.R Ibnu Hibban dan at Tirmidzi).

Ketahuilah bahwa Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telah mengingatkan kita semua bahwa orang kaya atau banyak harta akan terlambat masuk surga dibanding orang yang sedikit harta. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُؤْمِنِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ الأَغْنِيَاءِ بِنِصْفِ يَوْمٍ خَمْسِمِائَةِ عَامٍ

Orang beriman yang miskin akan masuk surga sebelum orang-orang kaya yaitu lebih dulu setengah hari yang setara dengan 500 tahun. (H.R Ibnu Majah  dan at Tirmidzi).

Oleh karena itu masih perlukah hamba hamba  Allah berusaha keras mengejar dan mengumpulkan harta ketika hidup  di dunia ini ? 

Wallahu A'lam. (3.692).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

 

 

Rabu, 08 April 2026

MANUSIA DIWAFATKAN SESUAI CARA MEREKA MENJALANI KEHIDUPAN

 

MANUSIA DIWAFATKAN SESUAI CARA MEREKA MENJALANI KEHIDUPAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, hamba hamba Allah AMAT SANGAT INGIN DIWAFATKAN DALAM KEADAAN BAIK YAITU HUSNUL KHATIMAH. Tetapi ketahuiah bahwa  semuanya tergantung pada kebiasaan masing-masing saat menjalani hidupnya.

Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir dan Imam as-Sa'adi serta ulama lainnya rahimahumullaah bahwa : "Sungguh siapa saja yang hidup di atas suatu kebiasaan tertentu, ia pun akan diwafatkan di atas kebiasaan tersebut" (Ibnu Katsir, Tafsiir al-Qur'aan al-'Azhiim, as-Sa'adi, Taisiir al-Kariim ar-Rahmaan fii Tafsiir Kalam al Manaan)

Kita  memang selalu dan amat sangat berharap diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah. Namun demikian, ketahuilah bahwa pada akhirnya, kita akan diwafatkan sesuai dengan kebiasaan kita di saat hidup.

Apakah biasa taat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala  ataukah biasa berbuat dosa dan bermaksiat kepada-Nya. Apakah dalam keadaan selalu ingat  atau sering lalai kepada Allah Ta'ala.

Sungguh, konsep "diwafatkan sebagaimana keadaan hidupnya" merujuk pada kaidah Islam bahwa kebiasaan seseorang semasa hidup, baik ketaatan maupun maksiat, cenderung menjadi penutup ajalnya yaitu husnul khatimah atau suul khatimah.

Perkara ini  didasarkan pada prinsip dasar atau kaidah :  "Man 'Aasya Ala Syaiin Maata Alaihi"   siapa  terbiasa hidup dalam sesuatu, akan wafat di atasnya. 

Ketahuilah bahwa ada banyak penghambat untuk mendapatkan husnul khatimah. Imam Ibnul Qayyim berkata : Bagaimana mungkin taufik untuk husnul khatimah akan didapat seseorang yang : (1) Hatinya lalai dari dzikir kepada Allah Ta’ala. (2) Selalu mengikuti hawa nafsunya. (3) Dan keadaannya yang melampaui batas.

Sungguh, orang yang hatinya lalai dari mengingat Allah Ta’ala sangat jauh dari husnul khatimah, tertawan oleh syahwatnya, lisannya kering dari dzikir kepada-Nya. Anggota tubuhnya tidak mentaati perintah Allah Ta’ala bahkan dia selalu sibuk dengan maksiat. (Ad Daa’ wad Dawaa’).

Oleh karena itu, hamba hamba Allah mestilah memeriksa keadaan dirinya dalam menjalani kehidupan ini sebelum al maut datang.  Sungguh kita  betul betul tidak tahu kapan kematian itu akan mendatangi   kita. Jadi bersegeralah,  bergegaslah untuk memperbaiki kekurangan  diri. Segeralah  isi kehidupan ini dengan  kebiasaan yang terpuji baik dalam hal aqidah, ibadah, akhlak dan muamalah, sehingga meninggal dalam kondisi sedang melakukan perbuatan perbuatan  baik yang disyariatkan.

Selain itu sangat dianjurkan untuk senantiasa berdoa agar mendapat husnul khatimah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam mengajarkan doa berikut ini dan sangat baik untuk kita amalkan yaitu :

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمْرِي آخِرَهُ، وَخَيْرَ عَمَلِي خَوَاتِيمَهُ، وَخَيْرَ أَيَّامِي يَوْمَ أَلْقَاكَ فِيهِ.

Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku adalah umur yang terakhirnya, sebaik-baik amalku adalah amal-amal penutupannya dan sebaik-baik hariku adalah hari saat aku menghadap-Mu. (H.R ath Thabrani dalam al Mu’jam al Ausath).

Wallahu A'lam. (3.691). 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sabtu, 04 April 2026

HAMBA ALLAH JANGAN MENGABAIKAN KEWAJIBAN ZAKAT HARTA

 

HAMBA ALLAH JANGAN MENGABAIKAN KEWAJIBAN ZAKAT HARTA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Mengeluarkan zakat mal atau zakat harta adalah KEWAJIBAN dan  salah satu RUKUN ISLAM yang wajib ditunaikan oleh orang orang beriman.

Selain itu di dalam al Qur an juga sangat banyak firman Allah Ta'ala menyebutkan perintah berzakat bahkan digandengkan dengan perintah yang sangat penting yaitu perintah shalat, diantaranya :


وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱرْكَعُوا۟ مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ

Dan dirikanlah shalat dan TUNAIKANLAH ZAKAT dan rukuklah bersama orang yang rukuk. (Q.S al Baqarah 43).

Hakikatnya, Allah Ta'ala telah menetapkan bahwa 2,5 persen dari nikmat harta yang diberikan Allah Ta'ala  kepada hamba hamba-Nya ada hak orang lain didalamnya terutama HAK ORANG MISKIN.

Ketika jumlah harta seseorang telah mecapai nisab atau jumlah tertentu lalu  yang 2,5 persen ini tidak ditunaikan maka berarti telah terjadi kezhaliman terhadap orang miskin. Apakah seseorang tega menzhalimi orang miskin dengan harta yang dimilikinya.

Ketahuilah bahwa ketika hak orang miskin tidak dikeluarkan yaitu berupa zakat mal maka adzab yang berat akan mendatangi  orang yang telah mengabaikan kewajiban zakat mal, diantaranya :

وَٱلَّذِينَ يَكْنِزُونَ ٱلذَّهَبَ وَٱلْفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

يَوْمَ يُحْمَىٰ عَلَيْهَا فِى نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ ۖ هَٰذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنفُسِكُمْ فَذُوقُوا۟ مَا كُنتُمْ تَكْنِزُونَ

Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih,

Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka : Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu. (Q.S at Taubah 34-35).

 

Dalam satu hadits shahih juga disebutkan bahwa orang yang tidak mau membayar zakat, kelak di akhirat hartanya akan berubah menjadi ular yang akan melilit lehernya :

 

مَا مِنْ أَحَدٍ لاَ يُؤَدِّى زَكَاةَ مَالِهِ إِلاَّ مُثِّلَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ حَتَّى يُطَوِّقَ عُنُقَهُ

 

Tidaklah seseorang yang tidak menunaikan zakat hartanya kecuali pada hari kiamat hartanya itu akan diwujudkan dalam bentuk seekor ular botak yang melilit lehernya. (H.R Ibnu Majad dan an Nasa’i).

 

Dan juga juga orang yang tidak mau membayar zakat, maka kelak tempat kembalinya adalah neraka yang apinya menyala-nyala. Yang siksanya tiada pernah terbayangkan oleh manusia. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

 

مَانِعُ الزَّكَاةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي النَّارِ

 

Orang yang tidak membayar zakat, akan berada di neraka pada hari kiamat. (HR. Thabrani).

 

Oleh karena itu, hamba hamba Allah janganlah sekali kali mengabaikan kewajiban zakat mal ketika harta telah memenuhi nisab dan waktunya sudah satu tahun.

Wallahu A'lam. (3.690). 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selasa, 31 Maret 2026

AGAR RUMAH KEDIAMAN DAN PENGHUNINYA AMAN DARI GANGGUAN

 

AGAR RUMAH KEDIAMAN DAN PENGHUNINYA AMAN DARI GANGGUAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Di zaman kita ini, umumnya orang yang tinggal  di kota besar membuat pengamanan yang sangat memadai di rumahnya. Diantaranya membuat pagar yang kokoh dan tinggi, pintu rumah berlapis bahkan terbuat dari besi, jendela  diberi teralis. Dan juga  banyak orang yang memasang  cctv dengan kamera di setiap sudut rumah.

Tujuannya adalah agar rumahnya ketika dihuni terasa tenang dan  terhindar dari gangguan  orang orang yang berniat jahat kepada penghuni rumah. 

Namun demikian sekokoh apapun pagar dan pintu rumah ketahuilah bahwa musuh manusia yang namanya syaithan senantiasa bisa masuk kapan pun terutama mereka menginginkan. Syaithan bisa berada dalam rumah kita terus menerus.

Tujuannya adalah berbuat buruk kepada penghuni rumah dengan berbagai rayuan dan godaan yang menyesatkan. Allah Ta’ala berfirman  : 

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Sungguh syaithan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah dia sebagai musuh karena sesungguhnya syaithan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala nyala. (Q.S Faatir 6).

Allah Ta’ala berfirman :  

وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالا بَعِيدًا

Dan syaithan itu bermaksud menyesatkan mereka (manusia, dengan) kesesatan yang sejauh jauhnya. (Q.S an Nisa’ 60). 

Ingatlah bahwa syaithan telah (berhasil) menyesatkan sebagian manusia, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

وَلَقَدْ أَضَلَّ مِنكُمْ جِبِلًّا كَثِيرًا أَفَلَمْ تَكُونُوا۟ تَعْقِلُونَ

Dan sungguh (syaithan itu) telah menyesatkan sebagian besar diantara kamu. Maka apakah kamu tidak mengerti ? (Q.S Yasin 62).

Sunggguh syaithan bisa diusir dari rumah kita dengan bacaan al Qur an. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ سَنَامًا وَسَنَامُ الْقُرْآنِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ، وَإِنَّ الشَّيْطَانَ إِذَا سَمِعَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ تُقْرَأُ خَرَجَ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي يُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

Sesungguhnya segala sesuatu punya puncak, dan puncak al Qur an adalah surah al Baqarah, dan sesungguhnya syaithan jika mendengar surah Al-Baqarah dibaca maka ia akan keluar dari rumah yang dibaca di dalamnya surah al Baqarah. (H.R Hakim, dihasankan oleh Syaikh Albani).

Abu Hurairah  berkata : Rumah yang dibacakan Kitabullah akan banyak kebaikannya. Malaikat pun hadir dan syaithan syaithan PERGI DARINYA.

Adapun rumah yang TIDAK DIBACAKAN KITABULLAH akan terasa sempit bagi penghuninya, sedikit kebaikannya dan akan DIMASUKI SYAITHAN DAN MALAIKAT PUN KELUAR DARINYA. (Kitab az Zuhud Ibnul Mubarak).

Wallahu A'lam. (3.689).

 

 

 

 

 

Minggu, 29 Maret 2026

MEMOHON AMPUN LEBIH UTAMA DARI DOA PADA UMUMNYA

 

MEMOHON AMPUN LEBIH UTAMA DARI DOA PADA UMUMNYA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, manusia diciptakan dalam keadaan lemah yaitu sebagaimana dijelaskan  Allah Ta'ala dalam firman-Nya :


وَخُلِقَ ٱلْإِنسَٰنُ ضَعِيفًا

Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah. (Q.S an Nisa’ 28.)

Syaikh as Sa'di berkata : Jadi sungguh manusia itu diciptakan dalam keadaan lemah. Syaikh as Sa’di berkata : Manusia itu adalah lemah dalam hal fisik, lemah dalam berkehendak, lemah dalam bertekad dan lemah dalam iman dan kesabaran (Lihat Tafsir Kariimir Rahman).

Dengan keadaannya yang lemah termasuk lemah iman dan kesabaran maka mudah terjatuh kepada keburukan dan dosa. Apalagi manusia itu memiliki hawa nafsu yang cenderung kepada keburukan dan juga syaithan yang selalu berusaha untuk mengelincirkan kepada maksiat dan dosa.

Oleh karena itu menjadi kewajiban utama bagi hamba hamba Allah untuk selalu bahkan terus menerus   beristighfar, yaitu memohon ampunan kepada Allah Ta'ala.  Dengan memperbanyak istighfar, seorang Muslim berharap dosa-dosanya diampuni, hatinya dibersihkan, dan hidupnya diberkahi. Selan itu, istighfar juga diyakini dapat membuka pintu rizki, memudahkan segala urusan, dan memberikan ketenangan hati.

Syaikh Utsaimin berkata : Ketika engkau mengucapkan astaghfirullah yaitu memohon ampun kepada Allah engkau memohon dua perkara yaitu :

(1) Agar Allah menutupi dosamu (agar tidak diketahui orang lain.

(2) Agar Allah memaafkan dosamu sehingga Allah tidak mengadzabmu (Majmu' Fatawa wa Rasail).

Hakikatnya mengucapkan istighfar adalah doa dan ketahuilah ini lebih utama dari doa pada umumnya. Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata : Istighfar (memohon ampun kepada Allah) bagi seseorang LEBIH PENTING dibandingkan semua doa..(Jami’ul Masail).

Namun demikian hamba hamba Allah TETAPLAH BANYAK BERDOA terutama memohon kebaikan untuk dunia dan akhiratnya. Dan juga tentu harus banyak pula memohon ampun kepada Allah Ta'ala disetiap saat terutama pada waktu yang sangat dianjurkan diantaranya adalah di sepertiga malam terakhir.

Selain itu, ketika seseorang senantiasa meminta ampun dan bertaubat maka pastilah akan mendatangkan kebaikan dan keberuntungan, diantaranya adalah sebagaimana firman Allah Ta’ala :  

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى

Dan hendaklah kamu memohon ampun kepada Rabb-mu dan bertaubat kepada-Nya niscaya Dia akan memberikan kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan. (Q.S Huud 3).

Syaikh as Sa’di berkata : “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu”, dari dosa dosa yang kamu kerjakan “dan bertaubat kepada-Nya”. Pada (sisa) umurmu yang kamu hadapi dengan kembali dan mendekatkan diri kepada-Nya, meninggalkan sesuatu yang dibenci-Nya kepada sesuatu yang dicintai dan diridhai-Nya. (Tafsir Taisir Karimir Rahman)

Wallahu A'lam. (3.688)

 

 

 

 

 

 

 

 


"