CARA MATI SESEORANG AKAN SELARAS DENGAN CARA HIDUPNYA
Disusun oleh : Azwir B. Chaniago
Sungguh, setiap hamba menginginkan bahkan sangat
berharap diwafatkan Allah Ta'ala dalam keadaan baik yaitu husnul khatimah,
akhir hidup yang baik. Ketahuilah bahwa tidak semua orang mendapatkan akhir
hidup yang baik kecuali yang menjalani hidup dengan baik pula. Sungguh cara
mati seseorang selaras atau bersesuaian dengan cara hidupnya.
Allah Ta'ala telah mengingatkan dalam firman-Nya,
yaitu :
هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ
Tidak
ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula. (Q. S ar Rahman 60).
Oleh karena itu,
jalan paling utama untuk mendapatkan akhir hidup atau cara mati yang baik
adalah menjalani hidup dengan PENUH
KETAATAN sesuai petunjuk syariat. Hamba hamba
Allah haruslah berusaha sungguh sungguh MENJAGA IBADAH FARDHU atau yang
diwajibkan.
Kemudian
berusaha pula mengamalkan ibadah ibadah sunnah yang disyariatkan sesuai
kemampuan. Perbanyak shalat sunnah, perbanyak puasa sunnah,
perbanyak berdzikir, membaca al Qur an, berbuat baik dengan membantu orang lain
seperti berinfak dan bersedekah.
Tentang
cara hidup dan cara mati yang bersesuian, Imam Ibnul Qayyim berkata bahwa
:
(1)
Saya pernah diberitahu oleh orang yang pernah menyaksikan sakaratul maut
seorang pengemis. Menjelang ajalnya, pengemis tersebut terus berkata :
Recehannya, demi Allah, recehannya … , hingga akhirnya meninggal.
(2)
Saya diberi tahu oleh sebagian pedagang bahwasanya ketika ada kerabatnya
mengalami sakaratul maut dan ditalqin atau dituntun dengan kalimat Laa ilaha
illa Allah, dia malah berkata : Barang ini murah, barang ini bagus, barang ini
begini dan begitu …, hingga akhirnya dia meninggal.
Beliau
juga berkata : Bagaimana mungkin taufik untuk husnul khatimah akan didapat
seseorang yang : (1) Hatinya lalai dari dzikir kepada Allah Ta’ala. (2) Selalu
mengikuti hawa nafsunya. (3) Dan keadaannya yang melampaui batas.
Sungguh,
orang yang hatinya lalai dari mengingat Allah Ta’ala sangat jauh dari husnul
khatimah, tertawan oleh syahwatnya, lisannya kering dari dzikir kepada-Nya.
Anggota tubuhnya tidak mentaati perintah Allah Ta’ala bahkan dia selalu sibuk
dengan maksiat.
Imam
Ibnul Qayyim juga memberi nasehat tentang penghambat mendapat husnul khatimah,
beliau berkata : Bagaimana mungkin taufik untuk husnul khatimah akan didapat
seseorang yang : (1) Hatinya lalai dari dzikir kepada Allah Ta’ala. (2) Selalu
mengikuti hawa nafsunya. (3) Dan keadaannya yang melampaui batas.
Sungguh,
orang yang hatinya lalai dari mengingat Allah Ta’ala sangat jauh dari husnul
khatimah, tertawan oleh syahwatnya, lisannya kering dari dzikir kepada-Nya.
Anggota tubuhnya tidak mentaati perintah Allah Ta’ala bahkan dia selalu sibuk
dengan maksiat. (Ad Daa’ wad Dawaa’)
Selain
itu, agar diwafatkan dalam husnul khatimah
maka hamba hamba Allah juga sangat dianjurkan untuk berdoa. Diantara doa
yang diajakan Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam adalah :
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمْرِي آخِرَهُ، وَخَيْرَ
عَمَلِي خَوَاتِيمَهُ، وَخَيْرَ أَيَّامِي يَوْمَ أَلْقَاكَ فِيهِ
Ya
Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku adalah umur yang terakhirnya, sebaik-baik
amalku adalah amal-amal penutupannya dan sebaik-baik hariku adalah hari saat
aku menghadap-Mu. (H.R ath Thabrani)
Wallahu A'lam. (3.704).