Selasa, 03 Maret 2026

CEPAT BOSAN MEMBACA AL QUR AN SATU TANDA HATI YANG BERPENYAKIT

 

CEPAT BOSAN MEMBACA AL QUR AN SATU TANDA HATI YANG BERPENYAKIT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Salah satu kewajiban hamba  Allah terhadap al Qur an adalah mempelajari  cara membacanya, selalu membacanya, mempelajari  maknanya dan mengamalkannya dan juga mengajarkannya sesuai kemampuan.

Dalam satu hadits disebutkan bahwa manusia paling baik adalah yang belajar al Qur an dan mengajarkannya :


خيركم من تعلم القرآن وعلمه 

Sebaik baik kalian adalah yang belajar al Qur an dan mengajarkannya (H.R Imam Bukhari, dari Utsman bin Affan).

Imam Ibnu Hajar Ashqalani berkata : Tidak diragukan lagi bahwa orang yang bisa menggabungkan antara belajar dan mengajarkan al Qur an adalah orang yang sempurna bagi dirinya dan bagi orang lain, yaitu yang mampu mengumpulkan kebaikan yang sedikit dan yang banyak (Fathul Bari).

Selain itu, ketahuilah bahwa membaca al Qur an adalah menjadi satu kemestian bagi hamba hamba Allah. Ketahuilah sangat banyak saudara saudara kita yang melakukan amal yang baik ini yaitu membaca al Qur an dari awal.

Ketika sudah khatam mengulangi lagi dari awal dan khatam lagi. Sungguh, Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telah mengingatkan dalam sabda beliau tentang al hal wal murtahal :

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ قَالَ : الْحَالُّ الْمُرْتَحِلُ - قَالَ : وَمَا الْحَالُّ الْمُرْتَحِلُ؟ قَالَ الَّذِي يَضْرِبُ مِنْ أَوَّلِ الْقُرْآنِ إِلَى آخِرِهِ كُلَّمَا حَلَّ ارْتَحَلَ

Dari Ibnu Abbas, beliau mengatakan ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam : Wahai Rasulullah, AMALAN APAKAH YANG PALING DICINTAI ALLAH ?. Beliau menjawab :  Al hal wal murtahal.

Orang ini bertanya lagi : Apa itu al hal wal murtahal, wahai Rasulullah ?. Beliau menjawab : Yaitu yang membaca al Qur’an dari awal hingga akhir. Setiap kali khatam ia mengulanginya lagi dari awal. (H.R at  Tirmidzi).

Ketahuilah bahwa ada juga sebagian orang yang  CEPAT BOSAN MEMBACA AL QUR AN. Kenapa ?, Salah satu penyebabnya adalah jika hati seseorang berpenyakit. Dalam perkara ini Usman bin Affan menyebutkan bahwa : Sekiranya hati kita bersih (tidak ada penyakitnya, peny.) tidaklah dia akan bosan membaca Kalamullah yaitu al Qur an. (Ighatsul Lahfan, Imam   Ibnul Qayyim).

Selain itu, ketahuilah bahwa ketika seseorang  sering  merasa bosan membaca al Qur an adalah termasuk musibah. Sungguh Allah Ta’ala  berfirman :  

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan musibah apapun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan kesalahanmu) Q.S asy Syuura 30.

Oleh karena itu maka ketika sering didatangi rasa bosan dalam membaca al Qur an maka bersegeralah bertaubat dan memohon ampun. Dengan demikian penyakit hati akan hilang.

Selanjutnya paksa diri agar selalu membaca al Qur an. Ingatlah kebaikan kebaikan yang sangat banyak akan mendatangi   seseorang yang selalu membaca al Qur an.

Wallahu A'lam. (3.672).    

 

 

 

 

 

 

 

 

Sabtu, 28 Februari 2026

LIMA PERKARA YANG BISA MENGHAPUS PAHALA PUASA

 

LIMA PERKARA YANG BISA MENGHAPUS PAHALA PUASA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Hamba hamba Allah selalu berusaha menjaga ibadahnya agar bernilai di sisi Allah mendapatkan pahala dan kebaikan yang banyak dan bisa dipetik manfaatnya di dunia dan di akhirat kelak.

Sungguh Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telah mengingatkan bahwa ada orang berpuasa hanya mendapat lapar dan haus saja yaitu sebagaimana sabda beliau :


رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga. (H.R Ath Thabrani).

Ketahuilah bahwa ada banyak jalan atau penyebab nilai atau pahala puasa kita tidak berbekas meskipun zhahirnya kita  berpuasa, tidak makan dan minum. Sungguh dalam perkara ini Rasululah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda.     

عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ عُمَرَ الْجُرَشِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسٌ يُفْطِرْنَ الصَّائِمَ الْكَذِبُ وَالْغِيبَةُ وَالنَّمِيمَةُ وَالْيَمِينُ الْكَاذِبَةُ وَالنَّظْرُ بِشَهْوَةٍ

Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  bersabda : Lima hal yang menghapus (pahala) puasa orang yang berpuasa, (1) Berbohong, (2) Ghibah (bergunjing), (3) Namimah (mengadu domba), (4) Sumpah palsu, dan (5) Memandang dengan syahwat. (H.R at  Tirmidzi).

Sungguh, di zaman ini ada orang orang  terjatuh atau tergelincir kepada  5 perbuatan buruk ini kecuali orang orang yang mendapat petunjuk yang lurus dari Allah Ta'ala. Apalagi manusia memiliki hawa nafsu dalam dirinya dan hawa nafsu ini cenderung kepada keburukan jika tidak dijaga dan dikendalikan.

Dan juga ada musuh manusia  yang bernama  syaithan yang ingin menggelincirkan kepada perbuatan maksiat. Memang di bulan Ramadhan syaithan yang JENIS  JIN sudah dibelenggu tetapi SYAITHAN JENIS MANUSIA MASIH ADA BERKELIARAN DI BERBAGAI TEMPAT. 

Sungguh, lima perkara yang bisa menghapus atau paling tidak bisa mengurangi pahala puasa seseorang tersebut diatas tetapi tidaklah membatalkan ibadah puasa. Yang hilang atau  berkurang hanyalah nilai pahala dari puasanya.

Imam Nawawi menjelaskan bahwa perilaku buruk, jika dilakukan saat berpuasa, dapat membatalkan PAHALA PUASA meskipun secara hukum fiqih puasanya tetap sah. (Lihat al Majmu').

Oleh karena itu hamba hamba Allah berusahalah dengan sungguh sungguh menjaga perkara perkara yang bisa menghapus atau mengurangi nilai pahala puasa. Sungguh kita sangat butuh untuk membawa pahala yang banyak ke akhirat kelak sehingga memberatkan timbangan amal. Dan ketahuilah bahwa Allah Ta’ala berfirman :

وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ ۚ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ

Timbangan pada hari itu (menjadi ukuran) kebenaran. Maka barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan) nya, MEREKA ITULAH ORANG YANG BERUNTUNG. Dan barangsiapa ringan timbangan (kebaikan) nya maka mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri, karena mereka mengingkari ayat ayat kami. (Q.S al A’raf 8-9).

Wallahu A'lam. (3.671).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kamis, 26 Februari 2026

HAMBA ALLAH MESTI BERSEGERA MELAKUKAN AMAL SHALIH

 

HAMBA ALLAH MESTI BERSEGERA MELAKUKAN AMAL SHALIH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketika seseorang telah sungguh sungguh memohon ampun dan bertaubat maka wajib pula baginya untuk bersegera  melakukan amal shalih dan melakukan kebaikan yang mungkin selama ini ada yang belum sempurna ataupun tertinggal.

Ketahuilah bahwa yang akan menyelamatkan manusia di akhirat kelak adalah RAHMAT ALLAH dan amalan shalih yang dilakukan di dunia dengan LANDASAN IMAN. Allah Ta’ala berfirman :  

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ

Sungguh orang orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih mereka akan mendapat surga yang mengalir di bawahnya sungai sungai. Itulah kemenangan yang agung. (Q.S al Buruj 11).

Sungguh,  Allah Ta’ala memuji hamba-Nya yang selalu bersegera dalam melakukan kebaikan, terutama beramal shalih. Diantaranya dalam surat al Anbiya’ 90 Allah memuji Nabi Zakaria dan istrinya yang selalu bersegera dalam melakukan kebaikan. Allah berfirman : 

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

Sungguh mereka SELALU BERSEGERA dalam (mengerjakan) kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang orang yang khusyuk kepada Kami.

Ketahuilah bahwa ketika seorang hamba selalu bersegera dalam mengerjakan kebaikan dan  melakukan amal shalih maka TERBUKA PELUANG  DAN HARAPAN BESAR  baginya agar Allah Ta'ala  menyegerakan pula datangnya  rahmat, ampunan bahkan rizki bagi dirinya.

Sungguh Allah Ta'ala  telah menjelaskan bahwa balasan kebaikan adalah kebaikan pula yaitu sebagaimana  firman-Nya :


هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula. (Q. S ar Rahman 60).

Tentang ayat ini, Syaikh as Sa'di berkata : Tidak ada balasan bagi seseorang yang telah beribadah kepada sang Pencipta dengan baik dan memberikan manfaat bagi hamba-Nya yang lain, melainkan dia akan dibalas dengan kebaikan (pula) dengan pahala yang melimpah, kemenangan besar, kenikmatan abadi, dan kehidupan sejahtera. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Oleh karena itu hamba hamba Allah mestilah selalu bersegera melakukan amal shalih yaitu beribadah kepada-Nya  dan juga melakukan berbagai kebaikan yang bermanfaat bagi orang lain. Dan ingatlah bahwa dalam  melakukan kebaikan bukan saja bersegera tertapi berlomba. Allah Ta'ala befirman :

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ

Maka berlomba lombalah kamu dalam kebaikan. (Q.S al Baqarah 148).

Wallahu A'lam. (3.670).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Senin, 23 Februari 2026

BERPUASA RAMADHAN HANYA DI AWAL AWAL RAMADHAN SAJA ?

 

BERPUASA RAMADHAN HANYA DI AWAL AWAL RAMADHAN SAJA ?

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, Allah Ta'ala hanya mewajibkan berpuasa kepada orang orang beriman yaitu sebagaimana firman-Nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai orang-orang yang beriman !.  Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Q.S al Baqarah 183). 

Pengamalan puasa adalah WAJIB sebulan Ramadhan penuh yaitu 29 atau 30 hari. Tetapi kita mengetahui bahwa ada diantara saudara saudara yang hanya melakukan ibadah puasa  di awal awal Ramadhan saja yaitu sekitar 3 atau 5 hari meskipun sebenarnya dia mengetahui bahwa puasa wajib Ramadhan itu sebulan penuh.

Mereka lalai berpuasa dengan sengaja tanpa udzur. Diantara penyebab yang membuat mereka melalaikan puasa diantaranya :

Pertama : Imannya masih sangat lemah atau sangat tipis. Sehingga tidak bersemangat beribadah secara sempurna sebagaimana yang disyariatkan. Sungguh yang dipanggil untuk berpuasa adalah  orang yang benar imannya.

Kedua : llmu syariat yang dimilikinya sangat sedikit sehingga tidak ada rasa takut kepada Allah. Sungguh Allah telah menjelaskan dalam firman-Nya :


إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Diantara hamba hamba Allah yang takut kepada-Nya HANYALAH PARA ORANG BERILMU. Sungguh Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun. (Q.S Fathir 28).

Ketiga : Memiliki teman bergaul yang tidak baik. Bisa jadi ikut ikutan kepada teman yang tidak patuh kepada perintah dan larangan Allah Ta'ala. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telang mengingatkan :


الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

 Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman akrab. (H.R Abu Dawud dan at Tirmidzi).

Ketahuilah bahwa hukuman atau adzab untuk orang yang meninggalkan puasa Ramadhan atau sengaja berbuka sebelum waktunya JIKA TIDAK ADA UDZUR SYAR'i adalah sangat berat.

Mereka akan digantung tubuhnya dalam keadaan terbalik,atas dan kepala kebawah. Mulutnya dirobek dan mengeluarkan darah. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam menjelaskan perkara ini dalam satu hadits, yaitu :  

   عَنْ أَبي أُمَامَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ يَقُولُ: بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ إِذْ أَتَانِى رَجُلاَنِ فَأَخَذَا بِضَبْعَىَّ، ثُمَّ انْطُلِقَ بِى فَإِذَا أَنَا بِقَوْمٍ مُعَلَّقِينَ بِعَرَاقِيبِهِمْ مُشَقَّقَةٌ أَشْدَاقُهُمْ تَسِيلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا. قُلْتُ: مَنْ هَؤُلاَءِ؟ قَالَ: هَؤُلاَءِ الَّذِينَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ   

Dari Abu Umamah berkata, aku mendengar Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  bersabda : Pada saat aku tidur, aku bermimpi didatangi dua orang laki laki memegang lenganku.

Kemudian mereka membawaku, saat itu aku mendapati suatu kaum yang bergantungan tubuhnya, dari mulutnya yang pecah keluar darah. Aku bertanya : Siapa mereka ?. Ia menjawab : Mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa sebelum diperbolehkan waktunya berbuka. (H.R an Nasa’i).

Wallahu A'lam. (3.669)

Rabu, 18 Februari 2026

JUMLAH IBADAH SUNNAH LEBIH BANYAK DIBANDING IBADAH WAJIB

JUMLAH  IBADAH SUNNAH LEBIH BANYAK DIBANDING IBADAH WAJIB

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, Allah Ta'ala telah menetapkan ada beberapa ibadah fardhu atau wajib yang dibebankan kepada hamba hamba-Nya. Diantaranya adalah shalat fardhu, puasa Ramadhan, mengeluarkan zakat harta dan berkunjung ke Baitullah untuk ibadah haji.

Selain itu sangat banyak ibadah sunnah yang disyariatkan diantaranya adalah shalat sunnah yang banak jenisnya, puasa  sunnah, memberi infak dan sedekah, berkunjung ke Batullah untuk ibadah Umrah dan juga banyak yang lainnya.

Lalu kenapa ada ibadah yang wajib dan ada pula ibadah yang tidak wajib. Itu adalah karena :

Pertama : Tanda kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Kita diperintahkan melakukan yang wajib tapi diberi pula kesempatan untuk mendapatkan tambahan pahala melalui amalan amalan sunnah sehingga kita bisa mendapat kedudukan yang semakin tinggi disisi Allah dengan ibadah ibadah sunnah.

Kedua : Sangatlah besar kemungkinan amalan wajib yang kita lakukan banyak kekurangannya. Lalu Allah beri kesempatan untuk menutup kekurangan itu dengan amalan yang tidak wajib atau amalan amalan sunnah.  

Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  bersabda :“Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab pada manusia di hari kiamat nanti adalah shalat. Allah ‘azza wa jalla berkata kepada malaikat-Nya dan Dia-lah yang lebih tahu, “Lihatlah pada shalat hamba-Ku. Apakah shalatnya sempurna ataukah tidak?

Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna. Namun jika dalam shalatnya ada sedikit kekurangan, maka Allah berfirman: Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah. Jika hamba-Ku memiliki amalan sunnah, Allah berfirman: sempurnakanlah kekurangan yang  ada pada amalan wajib dengan amalan sunnahnya.” Kemudian amalan lainnya akan diperlakukan seperti ini.” (H.R Imam Ahmad, Abu Daud dan at Tirmidzi)

Selain itu ketahuilah bahwa setiap amalan yang dilakukan seorang hamba akan diberikan ganjaran berupa pahala yang banyak. Selain itu amalan yang kita lakukan juga bermanfaat untuk menghapus dosa.

Ada satu riwayat dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu menyebutkan bahwa  pada suatu kali : “Ada seorang laki-laki yang pernah mencium seorang wanita (yang tidak halal baginya), lalu ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan hal tersebut. 

Lalu Allah azza wa jalla menurunkan firman-Nya: “Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan perbuatan yang buruk. (Q.S Hud 114).

Kemudian orang itu bertanya : Ya Rasulullah, apakah ini khusus untukku? Beliau menjawab: Untuk umatku seluruhnya. (H.R Imam Bukhari)

Dan juga, diantara keutamaan melakukan amalan amalan sunnah yang tidak diwajibkan adalah sebagai pendekatan diri kepada Allah Ta’ala sehingga mendatangkan kecintaan-Nya.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Kucintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya.

Nah, ketika seorang hamba mendapat  kecintaan Allah Ta’ala maka Allah Ta’ala  akan memberi jika dia meminta dan Allah Ta’ala akan membimbing pendengaran, penglihatan dan semua gerak dan langkahnya. Dalam satu hadits qudsi disebutkan :

فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ

Jika Aku mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, menjadi penglihatannya, yang dengannya dia melihat, menjadi tangannya yang dengannya dia memukul dan menjadi kakinya yang dengannya dia melangkah.

Jika dia meminta kepada-Ku maka Aku memberinya. Dan jika dia memohon perlindungan kepada-Ku maka Aku akan melindunginya”. (H.R Imam Bukhari).

Wallahu A'lam. (3.638).

 

 

  

Selasa, 17 Februari 2026

TIDAK MENYEMPURNAKAN RUKUK DAN SUJUD SEPERTI MENCURI DALAM SHALAT

 

TIDAK MENYEMPURNAKAN RUKUK DAN SUJUD SEPERTI MENCURI DALAM SHALAT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

 

Mencuri atau mengambil harta orang lain tanpa hak adalah sangat tercela dalam syariat Islam. Hukumannya sangatlah berat yatu mendapat  laknat dan  dipotong tangan. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 

لَعَنَ اللَّهُ السَّارِقَ ، يَسْرِقُ الْبَيْضَةَ فَتُقْطَعُ يَدُهُ ، وَيَسْرِقُ الْحَبْلَ فَتُقْطَعُ يَدُهُ

Allah melaknat pencuri yang mencuri sebutir telur lalu tangannya dipotong, begitu pula mencuri tali lalu tangannya dipotong. (HR. Bukhari no. 6783 dan Muslim

Tetapi ada pula mencuri yang lebih berat lagi aklibatnya yaitu mencuri dalam shalat.

Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  telah mengingatkan  bahwa yang tidak tuma’ninah dalam shalat disebut sebagai sejahat jahat pencuri dalam shalat. Beliau bersabda :

 أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ؟ قَالَ: لاَ يُتِمُّ رُكُوعَهَا وَلَا سُجُوْدَهَا أَوْ قَالَ: لَا يُقِيْمُ صُلْبَهُ فِى الرُّكُوْعِ وَالسُّجُودِ.  

Sejahat jahat pencuri adalah orang yang mencuri dalam shalatnya. Mereka (para sahabat) bertanya : Bagaimana dia mencuri dalam shalatnya ? Beliau menjawab : (Dia)  tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya. (H.R  Imam Ahmad, lihat Shahihul Jami’). 

Jadi orang yang tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya atau tidak tuma’ninah karena shalat dengan tergesa gesa  disebut Rasulullah sebagai  pencuri dalam shalat.

Tuma'ninah adalah tenang sejenak setelah semua anggota badan berada pada posisi sempurna ketika melakukan suatu gerakan rukun shalat. Diantara makna lain dari  tuma’ninah adalah memberikan hak kepada setiap gerakan shalat secara sempurna.

Tuma'ninah ketika rukuk berarti tenang sejenak setelah rukuk sempurna. Tuma’ninah setelah i’tidal berarti tenang sejenak pada saat i’tidal sebelum sujud.Tuma’ninah ketika sujud berarti tenang sejenak setelah sujud sempurna dan juga harus tuma’ninah pada setiap perpindahan satu gerakan kepada gerakan lain.

Nah, ketika seseorang shalat dengan tergesa gesa yang dilalaikan biasanya adalah tuma’ninah. Padahal tuma’ninah yang mendatangkan khusyu’ dalam shalat sulit untuk dicapai jika shalat tergesa gesa.

Dan ketahuilah bahwa tuma'ninah adalah termasuk rukun  dalam shalat, Ketika hal ini diabaikan maka shalat bisa tidak bernilai atau bisa jadi sangat rendah nilainya.

Oleh karena itu hamba hamba Allah hendaklah menjaga nilai shalatnya termasuk menyempurnakan rukuk dan sujudnya. Sungguh shalat adalah amalan yang pertama kali dihisab kelak di negeri akhirat. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :  

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَوَّلُ مَا يُـحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ، فَإِنْ صَلَحَتْ صَلَحَ لَهُ سَائِرُ عَمَلِهِ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda : Perkara yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik, maka seluruh amalnya pun baik. Apabila shalatnya buruk, maka seluruh amalnya pun buruk. (H.R ath Thabrani).

Wallahu A'lam. (3.667).

Minggu, 15 Februari 2026

BERAPA RAKAATPUN SHALAT TARAWEH TETAP MENJAGA TUMA'NINAH

 

BERAPA RAKAATPUN SHALAT TARAWEH TETAP MENJAGA TUMA'NINAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ulama yang mumpuni ilmunya termasuk imam madzhab besepakat bahwa shalat taraweh bisa dilakukan minimal dua rakaat, boleh dilakukan 11 rakaat termasuk witir sebagaimana yang dilakukan Rasulullah Salalallahu 'alaihi Wasallam. Dan juga boleh lebih dari itu misalnya 23 rakaat termasuk witir. Diantara dalilnya adalah sabda Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  :

وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : صَلاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Shalat malam itu dua rakaat salam, dua rakaat salam. Maka apabila engkau takut masuk waktu Shubuh, hendaklah melakukan witir satu rakaat. (Muttafaqun ‘alaih)

 

Tetapi berapapun jumlah rakaat shalat lail atau shalat taraweh yang dilakukan maka hamba hamba  TETAP MENJAGA TUMA'NINAH karena tuma'ninah termasuk rukun dalam shalat. Perhatikanlah satu hadits tentang seorang yang shalat lalu disuruh mengulang shalatnya oleh Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam sampai tiga kali karena mengabaikan tuma’ninah.

Abu Hurairah berkata : “Sesungguhnya Nabi Salallahu ‘alaihi wasallam masuk masjid lalu seorang juga (masuk masjid) dan shalat. Kemudian dia datang kepada Nabi seraya mengucapkan salam, lalu Nabi membalas salamnya dan beliau bersabda : Kembalilah lalu lakukanlah shalat karena kamu belum shalat !.  Ini dilakukan sebanyak tiga kali.

Lalu orang itu berkata : Demi Allah yang mengutusmu membawa kebenaran !. Saya tidak bisa shalat lebih baik dari itu, maka ajarilah aku !. Beliau bersabda : Apabila kamu ingin shalat maka bertakbirlah kemudian bacalah yang mudah bagimu dari al Qur-an kemudian rukuklah sampai kamu thuma’ninah (tenang) dalam keadaan rukuk.

Kemudian sujudlah sampai kamu thuma’ninah dalam keadaan rukuk dan sujud. Lalu bangkitlah dari sujud sampai kamu tuma’ninah dalam keadaan duduk. Kemudian sujudlah kembali sampai kamu tuma’ninah dalam keadaan sujud Berbuatlah seperti itu dalam shalat kamu seluruhnya”  (Mutafaqun ‘alaihi).

Oleh karena itu jangan mengabaikan tuma'ninah karena  ingin mengejar atau mendapat jumlah rakaat yang banyak dalam shalat taraweh.

Selain itu ketahuilah bahwa Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan dalam sabda beliau :


أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ؟ قَالَ: لاَ يُتِمُّ رُكُوْعُهَا وَلاَ سُجُوْدُهَا

Sejahat jahat pencuri adalah orang yang mencuri dalam shalatnya. Mereka (para sahabat) bertanya : Bagaimana dia mencuri dalam shalatnya ? Beliau menjawab : (dia)  tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya. (H.R  Imam Ahmad, lihat Shahihul Jami’).

Bahkan Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  bersabda tentang pencuri yang jelek ini dalam sabda beliau : “Lai maata haadzaa ‘alaa maa huwa ‘alaihi maata ‘alaa ghairi millati Muhammad” Kalau orang ini mati dengan kondisi shalat yang demikian, maka dia mati bukan di atas ajaran Muhammad” (H.R Abu Ya’la dan ath Thabrani, dihasankan oleh Syaikh al Albani).

Oleh karena itu hamba hamba  jangan mengabaikan tuma'ninah karena  ingin mengejar atau mendapat jumlah rakaat yang banyak dalam shalat taraweh.

Wallahu A'lam. (3.666).