Sabtu, 07 Februari 2026

SATU LANGKAH MENGHAPUS DOSA SATU LANGKAH MENGANGKAT DERAJAT

 

SATU LANGKAH MENGHAPUS DOSA SATU LANGKAH MENGANGKAT DERAJAT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, Allah Ta'ala mengingatkan bahwa hamba hamba Allah, laki laki shalat bersama sama di masjid. Allah Ta'ala berfirman :


وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah bersama orang orang yang rukuk, (Q.S al Baqarah 43).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan tentang ayat ini bahwa : Hendaklah kalian bersama orang orang beriman dalam berbagai perbuatan mereka yang terbaik. Dan yang paling utama dan sempurna dari semua itu adalah shalat. Dan banyak ulama yang menjadikan ayat ini sebagai dalil bagi diwajibkannya shalat berjamaah. (Lihat Kitab Tafsir al Qur’an al ‘Azhim).

Ibnul Qayyim al Jauziyah berkata : Makna firman Allah rukuklah beserta orang-orang yang rukuk, faedahnya yaitu tidaklah dilakukan (shalat fardhu) kecuali bersama jamaah yang shalat dan bersama-sama. (Ashalatu wa Hukmu Tarikiha)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di  menjelaskan : “Dan rukuklah bersama orang yang rukuk” maksudnya shalatlah bersama orang orang yang shalat. Dalam hal ini ada suatu perintah untuk shalat berjamaah dan kewajibannya.

Syaikh as Sa’di melanjutkan : Bahwasanya rukuk itu merupakan rukun diantara rukun rukun shalat, karena Allah menyebutkan shalat dengan kata rukuk sedangkan mengungkapkan suatu ibadah dengan kata yang merupakan bagian darinya adalah menunjukkan kepada wajibnya hal itu padanya. (Lihat Kitab Tafsir Karimir Rahman).

Ketahuilah bahwa sungguh Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  senantiasa shalat berjamaah di masjid bersama para sahabat. Dan kita sebagai pengikut beliau haruslah berusaha dengan sungguh sungguh untuk  melazimkannya pula sebagaimana yang dicontohkan beliau. Beliau bersabda :          

وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي   

Dan shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat. (H.R Imam Bukhari).

Untuk memenuhi kewajiban shalat berjamaah di masjid maka hamba hamba Allah mestilah keluar dari rumah berjalan ke masjid di setiap waktu shalat wajib yaitu lima kali sehari semalam.

Sepintas mungkin terasa capek karena terus menerus setiap waktu shalat harus berjalan ke masjid. Tetapi ketahuilah bahwa bagi hamba hamba Allah yang ingin memenuhi perintah Allah Ta'ala dan  mencari ridha-Nya dan ingin mendekatkan diri kepada Rabb-Nya tidaklah  merasa berat berjalan kaki pergi ke masjid di setiap waktu shalat.

Apalagi dalam hal ini Allah Ta'ala menjanjikan hadiah yang besar yaitu satu langkah penghapus dosa dan satu langkah mengangkat derajat ketika berjalan ke masjid untuk shalat fardhu. Dalam perkara ini, Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telah menjelaskan :

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً  

Barangsiapa yang bersuci dari rumahnya kemudian berangkat ke rumah Allah untuk menunaikan kewajiban yang Allah wajibkan, maka kedua langkah kakinya menghapuskan kesalahan dan yang lainnya mengangkat derajat. (H.R Imam Muslim)

Wallahu A'lam. (3.662)

Jumat, 06 Februari 2026

ABDULLAH BIN ABBAS AHLI TAFSIR TERBAIK.

 

ABDULLAH BIN ABBAS AHLI TAFSIR TERBAIK.

Disusun oleh : Azwir B. Chaniag

Abbas Abdullah bin Abbas lebih dikenal dengan Ibnu Abbas adalah saudara sepupu Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam yaitu salah satu anak paman Nabi yaitu Abdul Muthalib. Di kalangan  sahabat  yang sangat terkenal dalam sejarah Islam.

Banyak julukan yang disematkan kepada Ibnu Abbas seperti Turjuman al-Qur’an (penafsir al-Quran), Habrul ummah (guru umat) dan Ra’isul mufassirin (pemuka para ahli tafsir). Julukan paling menonjol pada dirinya dan selalu melekat sepanjang masa adalah ahli takwil yaitu ahli tafsir al-Quran.

Keahliannya di bidang tafsir tentu erat kaitannya dengan doa Rasululah Salallahu 'alaihi Wasallam kepada Ibnu Abbas yaitu :

 

اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

 

Ya Allah, jadikanlah ia orang yang memahami agama Islam (dengan baik). H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

 

اللَّهُمَّ عَلِّمْهُ الكِتَابَ

 

Ya Allah ajarkanlah kepadanya ilmu Alquran. (H.R Imam Bukhari).

 

اللهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ ، وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ

 

Ya Allah, jadikanlah ia orang yang memahami agama Islam (dengan baik) dan ajarkanlah kepadanya ilmu Tafsir.  (As Silsilah ash Shahihah, Syaikh al Albani).

Dr. Mustafa Said Khan berkata : Hampir semua kitab-kitab tafsir, baik yang ditulis oleh ulama terdahulu maupun ulama yang datang belakangan  selalu mengutip pandangan dan pendapat Ibnu Abbas dalam kitab tafsir mereka. Bahkan, ada kitab khusus berisi pandangan-pandangan tafsirnya, yaitu Tanwirul Miqbas yang ditulis oleh al-Fairuz abadi (w. 817 H).

Bahkan para sahabat Nabi umumnya, setelah Nabi wafat, sering kali bertanya kepada Ibnu Abbas tentang ayat al-Quran, karena mereka mengakui dia adalah sosok yang paling memahami maksud dari ayat tersebut. Lebih daripada itu, mereka mengakui keluasan ilmu, kecerdasan akal, dan kebijaksanaannya, sehingga dia selalu menjadi tempat bertanya tentang masalah-masalah agama.

Tidaklah mengherankan, jika banyak para sahabat yang menimba ilmu darinya. Dan jawaban-jawaban yang diberikan, selalu merujuk dari al Qur’an, jika ia mendapatinya. Apabila tidak ditemukan didalam kitabullah beliau menjawab sesuai dengan sabda Rasulullah Saw.

Jika tidak mendapati Al-Qur’an dan as-Sunnah, maka beliau pun mengutarakannya. Dan jika tidak ditemukan dalam dua rujukan ini, beliau merujuk pada perkatan sahabat Abu Bakar ataupun Umar, jika semua itu tidak ditemukan maka beliau berijtihad. (Kitab tentang Ibnu Abbas

Wallahu A'lam. (3.661).

IBNU ABBAS DAN ABU HURAIRAH PERNAH DIDOAKAN NABI

 

IBNU ABBAS DAN ABU HURAIRAH PERNAH DIDOAKAN NABI

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam sangatlah banyak mendoakan para sahabat secara khusus baik diminta maupun tidak diminta. Diantara sahabat yang  pernah mendapat doa yang sangat baik dari  Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam adalah :

Pertama : Abdullah bin Abbas atau dikenal dengan  Ibnu Abbas.

 

 Beliau adalah salah satu ulama Ahli Tafsir di kalangan para sahabat. Bahkan disebut sebagai Turjumanul Qur`an (Penyampai makna Alquran) dan  Habrul Ummah (Ulama umat Islam). Beliau menjadi ahli tafsir paling terkemuka diantara sahabat karena pernah mendapat doa dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantara doa Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam untuk Ibnu Abbas adalah :

 

اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

 

Ya Allah, jadikanlah ia orang yang memahami agama Islam (dengan baik). H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

 

اللَّهُمَّ عَلِّمْهُ الكِتَابَ

 

Ya Allah ajarkanlah kepadanya ilmu Alquran. (H.R Imam Bukhari).

 

اللهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ ، وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ

 

Ya Allah, jadikanlah ia orang yang memahami agama Islam (dengan baik) dan ajarkanlah kepadanya ilmu Tafsir.  (As Silsilah ash Shahihah, Syaikh al Albani).

 

Kedua : Abdurrahman bin Shakhr Ad Dausi al Yamani atau dikenal dengan Abu Hurairah


Beliau adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Menurut beberapa riwayat, urutan sahabat yag meriwayatkan hadits paling banyak adalah : (1) Abu Hurairah, 5.374 hadits. (2) Abdullah bin Umar, 2.630 hadits. (3) Anas bin Malik, 2.266 hadits. (4) Aisyah, 2.210 hadits. (5) Abdulllah bin Abbas, 1.660 hadits. (Lihat Ensiklopedi Islam 2/45).

Beliau tak menulis hadits tetapi menyimpan dengan kuat DALAM HAFALANNYA. Beliau mengajarkan  hadits dan juga ilmu fikih kepada sahabat lainnya dan juga para tabi’in yaitu muridnya yang berjumlah sekitar 800 orang. 

Kemudian, tentang banyaknya hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, dia berkata : Sungguh kalian mengatakan bahwa aku Abu Hurairah memperbanyak hadits dari Rasulullah dan mengatakan bahwa mengapa kaum Muhajirin dan kaum Anshar tidak meriwayatkan sepertinya ?. Sungguh saudara saudaraku Muhajirin dulu disibukkan dengan urusan perdagangan di pasar dan saudaraku kaum Anshar dulu disibukkan dengan mengurus hartanya (kebun dan ternaknya, pen.)

Sedangkan aku dulu seorang yang miskin dan termasuk ahli Shuffah. Aku mendampingi Rasulullah sepenuh perutku sehingga aku hadir ketika mereka absen dan aku hafal ketika mereka lupa.    

Dan juga  yang menyadi penyebab banyaknya Abu Hurairah meriwayatkan hadits adalah karena beliau pernah didoakan Rasulullah Salallahu ‘alaihhi Wasallam agar dikuatkan daya ingatnya. Dalam satu hadits disebutkan sebagai berikut : 


 عن أبي هريرة قال قلت يا رسول الله إني أسمع منك حديثا كثيرا أنساه قال ابسط رداءك فبسطته قال فغرف بيديه ثم قال ضمه فضممته فما نسيت شيئا بعده حدثنا إبراهيم بن المنذر قال حدثنا ابن أبي فديكبهذا أو قال غرف بيده فيه

Dari Abu Hurairah, aku berkata, wahai Rasulullah, aku telah mendengar dari engkau banyak hadits namun aku lupa. Beliau lalu bersabda : Hamparkanlah selendangmu. Maka aku menghamparkannya, beliau lalu seolah menciduk sesuatu dengan tangannya, lalu bersabda : Ambillah (selendangmu).

Aku pun mengambilnya, maka sejak itu aku tidak pernah lupa lagi. Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Al-Mundzir berkata : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Fudaik dengan redaksi seperti ini, atau dia berkata : Menuangkan ke dalam tangannya. (H.R Imam Bukhari).

 

Wallahu A'lam. (3.660).

 

Minggu, 01 Februari 2026

BERLAKU ZHALIM PADA DIRI SENDIRI

 

BERLAKU ZHALIM PADA DIRI SENDIRI

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh Allah Taa’ala tidak menzhalimi hamba-Nya. Tapi ternyata manusia itu adayang  berbuat zhalim kepada dirinya. Diantaranya adalah  melanggar batas batas Allah dan melakukan kemaksiatan yang pasti mendatangkan keburukan bagi dirinya. Sungguh Allah telah berfirman : 

ثُمَّ أَوْرَثْنَا ٱلْكِتَٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِۦ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌۢ بِٱلْخَيْرَٰتِ بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَضْلُ ٱلْكَبِيرُ

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri  mereka sendiri (berbuat zhalim kepada diri) dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (Q.S Fathir 32). 

Imam Ibnul Qayyim berkata bahwa kezhaliman manusia terhadap dirinya sendiri merupakan kezhaliman yang diringankan oleh Allah dan mudah dihapus yaitu dengan taubat, istighfar, amal shaleh, sabar terhadap ujian dan yang lainnya.

Tetapi perlu menjadi perhatian yang serius, apakah kita masih sempat untuk bertaubat, istighfar, dan beramal shaleh sementara kezhaliman yang kita lakukan terus saja berjalan. Allahu Akbar.

Sungguh,  bahwa manusia diciptakan dalam keadaan lemah, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman :  

وَخُلِقَ ٱلْإِنسَٰنُ ضَعِيفًا

Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah. (Q.S an Nisa’ 28.)

Syaikh as Sa'di berkata : Jadi sungguh manusia itu diciptakan dalam keadaan lemah. Syaikh as Sa’di berkata : Manusia itu adalah lemah dalam hal fisik, lemah dalam berkehendak, lemah dalam bertekad dan lemah dalam iman dan kesabaran (Lihat Tafsir Kariimir Rahman).

Dengan keadaannya yang lemah termasuk lemah iman dan kesabaran maka mudah terjatuh kepada perbuatan zhalim bahkan zhalim kepada.  

Ketahuilah bahwa Abu Bakar ash Shiddiq pun bisa jatuh kepada perbuatan zhalim diri sehingga pernah diajarkan oleh Rasulullah Sallallahu 'alaihi Wasallam doa untuk dijauhkan dari sifat zhalim kepada diri.

Dalam satu riwayat disebutkan bahwa beliau berkata kepada Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam : Ajarkanlah doa yang AKU BACA DALAM SHALATKU. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda, ucapkanlah :

اَللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا وَلَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ اَلْغَفُورُ اَلرَّحِيمُ

Ya Allah sesungguhnya aku telah menzhalimi diriku sendiri dan tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu dan kasihanilah diriku sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Wallahu A'lam. (3.659).

Sabtu, 31 Januari 2026

SEMAKIN BANYAK MEMBACA AL QUR AN WAKTUMU SEMAKIN BERKAH

 

SEMAKIN BANYAK MEMBACA AL QUR AN WAKTUMU SEMAKIN BERKAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, setiap orang dalam semua strata, baik berpangkat atau bukan,  kaya atau miskin miskin,  berpendidikan tinggi atau rendah.  Orang sibuk atau santai bahkan ketika sehat atau sakit mendapat jatah waktu sehari semalam hanya 24 jam. Tidak lebih tidak kurang.

Cara menghabiskan waktu ini tergantung keadaan dan kemauan masing masing orang. Digunakan untuk kebaikan atau keburukan dan maksiat waktu pasti akan tetap habis. Bahkan yang lebih unik lagi, TIDAK MENGGUNAKAN UNTUK APA APA TETAP SAJA HABIS.  Tetapi orang orang beriman akan menggunakan waktu yang ada untuk segala sesuatu yang bermanfaat di dunia terutama lagi untuk yang bermanfaat di akhirat 

Ketahuilah bahwa waktu 24 jam sehari  semalam yang diberikan Allah Ta'ala tidak akan bisa ditambah meskipun ada diantara kita yang membutuhkan waktu lebih  karena banyak kegiatan. Tetapi Allah Ta'ala dengan kasih sayang-Nya bisa MENAMBAH BERKAH DARI WAKTU YANG 24 JAM ITU.

Lalu apa makna berkah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berkah adalah karunia atau pemberian Alllah yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia.

Dan juga secara bahasa berkah bermakna berkembang, bertumbuh dan juga bermakna kebahagiaan. Dan juga makna berkah adalah kebaikan yang banyak dan terus menerus berada dalam kebaikan. 

Jadi orang mendapat berkah bermakna dia berada dalam kebaikan yang banyak dan terus menerus mendapatkan kebaikan itu sehingga mengantarkannya kepada kebahagiaan.

Imam an Nawawi dalam  Syarah Sahih Muslim berkata : Makna asal keberkahan adalah kebaikan yang banyak dan abadi (di dunia sampai ke akhirat, peny.). 

Di zaman kita ini banyak orang yang merasa kekurangan waktu untuk melakukan kegiatannya sehari hari dalam mencari harta dunia dan juga untuk berkumpul serta mengobrol dengan teman temannya. Dan lebih lebih lagi menggunakan waktu berjam jam berselancar di media sosial dengan handphonenya.

Lalu mereka hampir tidak pernah membaca al Qur an barang 10 atau 15 menit saja.      Mungkin mereka belum mengetahui bahwa waktu yang  digunakan untuk membaca al Quran itu  hakikatnya tidak hilang begitu saja. Ia akan diganti oleh Allah Ta'ala dengan keberkahan waktu yang berlipat ganda.

Sungguh, menggunakan SEBAGIAN WAKTU untuk membaca al Qur an mendatangkan KEBERKAHAN KEPADA SELURUH WAKTU yang dimiliki seseorang.

 

Secara hitungan matematika dunia, membaca Al Quran tampak seakan-akan mengurangi waktu. Dari total 24 jam dalam sehari, seolah-olah berkurang sekian detik, sekian menit atau sekian jam  untuk membaca Al Quran. Padahal tidaklah demikian.

Perhatikanlah kisah berikut ini : Ibrahim bin Abdul Wahid al Maqdisi memberi nasehat kepada Al Dhiya al Maqdisi sebelum yang terakhir dia pergi menuntut ilmu : Perbanyaklah membaca Al Quran. Jangan kamu tinggalkan. Karena kemudahan yang akan kamu peroleh dalam pencarianmu akan berbanding lurus dengan kadar yang kamu baca.

Al Dhiya mengatakan : Lalu aku renungi hal itu dan aku praktekkan berkali-kali. Setiap kali aku  banyak membaca (al Qur an), semakin mudah aku menghafal hadits dan menulisnya. Jika aku tidak membaca, tidak mudah aku melakukannya. (Dzail Thabaqat al-Hanabilah,  Ibnu Rajab al Hambali).

 

Sungguh,  membaca Al Quran membawa keberkahan sehingga waktu yang kita miliki bisa lebih bermanfaat. Oleh karena itu perbanyak membaca al Qur an. Janganlah  membaca al Quran di waktu luang, tetapi LUANGKAN waktu secara khusus untuk membaca Al Quran. Insya Allah berkah dan mendatang kebaikan yang banyak.

 

Wallahu A'lam (3.658).

 

Kamis, 29 Januari 2026

KETIKA SEORANG HAMBA DAPAT RIZKI SECUKUPNYA SAJA

 

KETIKA SEORANG HAMBA DAPAT RIZKI SECUKUPNYA SAJA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh banyak hamba hamba Allah yang mendapat rizki untuk kebutuhan hidup SECUKUPNYA SAJA ATAU PAS PAS-AN. Ketahuilah bahwa Allah Ta’ala memberi dan membagi rizki sesuai ukuran, kehendak, hikmah dan ilmu-Nya. Allah Ta'ala berfirman : 

أَوَلَمْ يَعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ يَبْسُطُ ٱلرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقْدِرُ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Dan tidaklah mereka mengetahu bahwa Allah melapangkan rizki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasinya (bagi siapa yang Dia kehendaki) ?. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beiman. (Q.S az Zumar 52).

Jadi, janganlah pernah mengeluh ketika merasa dapat rizki secukupnya saja. Sungguh itu adalah KETETAPAN ALLAH  Yang Maha Mengetahui. Nah, ketika seseorang  mengeluh dengan rizki yang pas pas-an, maka itu maknanya TIDAK SUKA dengan apa yang telah Allah tetapkan. Sikap ini tentu sangat tidak baik untuk dipelihara

Ketika seseorang mendapat rizki yang pas pas-an itu adalah ketetapan Allah Ta'ala, Dan ketahuilah bahwa apa pun ketetapan Allah Ta'ala PASTI ITU YANG TERBAIK BAGINYA. Terbaik untuk dunianya dan terbaik untuk akhiratnya.

(1) Terbaik untuk dunianya.

Diberi rizki sedikit atau pas pas-an bisa jadi itu adalah bagian kasih sayang Allah Ta'ala. Bukankan kita pernah menyaksikan ketika seseorang diberi rizki atau harta berlebih lalu lupa kewajiban  terhadap sebagian rizki yaitu zakat, infak dan sedekah.

Bahkan yang lebih menyedihkan lagi adalah ketika mendapat rizki lebih lalu digunakan untuk bangga diri, hura hura dan bisa jadi pula jatuh kepada maksiat.

(2) Terbaik untuk akhiratnya.

Sungguh, dia akhirat kelak semua nikmat harta pasti akan dihisab dan harus dipertanggung jawabkan. Dari mana didapat dan kemana dibelanjakan. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :  

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ

Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari Kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya, dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya. (H.R at Timidzi, ad Daarimi dan Abu Ya’la, dishahihkan oleh Syaikh al Albani)

Jadi, sungguh sangat berat mempertanggung jawabkan harta  di akhirat kelak. Begitu berat mempertanggung jawabkannya di akhirat kelak maka Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam mengabarkan kepada kita melalui sabda beliau bahwa orang miskin akan masuk surga lebih dahulu dari orang orang kaya karena urusan pertanggungan jawab atau hisab harta mereka.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُؤْمِنِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ الأَغْنِيَاءِ بِنِصْفِ يَوْمٍ خَمْسِمِائَةِ عَامٍ

Orang beriman yang miskin akan masuk surga sebelum orang-orang kaya yaitu lebih dulu setengah hari yang sama dengan 500 tahun.” (H.R Ibnu Majah dan at Tirmidzi, hadits dengan sanad Hasan).

Sebagai penutup tulisan ini dinukil satu peringatan tentang pertangung jawaban atau hisab terhadap harta di akhirat kelak. Abu Dzar Jundub al Ghifari berkata : Pemilik harta dua dirham pada hari Kiamat nanti akan LEBIH BERAT HISABNYA dibandingkan pemilik harta satu dirham. (Ibnu Mubarak dalam az Zuhud).

Wallahu A'lam. (3.657).

 

  

Rabu, 28 Januari 2026

ADA SEBAGIAN MANUSIA YANG TIDAK BAIK KELAKUANNYA

 

ADA SEBAGIAN  MANUSIA YANG TIDAK BAIK KELAKUANNYA

 Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, Allah Ta’ala telah menjelaskan kepada kita bagaimana keadaan  kebanyakan manusia dalam menjalani hidup di dunia ini, diantaranya adalah yang tercela atau tidak baik  kelakuan atau sifatnya :

Pertama : Kebanyakan manusia fasik. Allah Ta’ala berfirman : 

وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ ٱلنَّاسِ لَفَٰسِقُونَ

Dan sungguh kebanyakan manusia adalah orang yang fasik. (Q.S al Maidah 49).

Allah Ta’ala befirman :  

وَلَٰكِنَّ كَثِيرًا مِّنْهُمْ فَٰسِقُونَ

Tetapi banyak di antara mereka orang orang yang fasik. (Q.S al Maidah 81)

Kedua : Kebanyakan manusia menyesatkan dan melampaui batas. Allah Ta’ala berfirman :  

وَإِنَّ كَثِيرًا لَيُضِلُّونَ بِأَهْوَائِهِمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِالْمُعْتَدِينَ

Dan sungguh, banyak yang menyesatkan orang dengan keinginannya tanpa dasar ilmu. Rabb-mu lebih mengetahui orang yang melampaui batas. (Q.S al An’am 119). 

Ketiga : Kebanyakan manusia mengingkari pertemuan dengan Rabb-nya. Allah Ta’ala berfirman :  

وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ ٱلنَّاسِ بِلِقَآئِ رَبِّهِمْ لَكَٰفِرُونَ

Dan sesungguhnya banyak  di antara manusia benar benar mengingkari perteman dengan Rabb-nya. (Q.S ar Ruum 8)

Keempat : Kebanyakan manusia tak bersyukur. Allah Ta’ala berfirman :  

إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ

Sesungguhnya Allah memberikan karunia kepada manusia tetapi kebanyakan mereka tidak bersyukur. (Q.S al Baqarah 243).

Allah Ta’ala berfirman :  

وَلَقَدْ مَكَّنَّٰكُمْ فِى ٱلْأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَٰيِشَ ۗ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ

Dan sungguh, Kami telah menempatkan kamu di bumi dan di sana Kami sediakan (sumber) penghidupan untukmu. (Tetapi) sedikir sekali kamu bersyukur.  (Q.S al A’raf 10).

Dan juga Allah Ta'ala berfirman :  

وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

Dan Dialah yang telah menciptakan bagimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, tetapi sedikit sekali kamu bersyukur.   (Q.S al Mu’minun 78). 

Az Zamakhsyari menyebutkan  dalam kitab tafsirnya tentang Umar bin Khaththab yang mendengar doa seseorang.  Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar seseorang memanjatkan doa : Ya Allah jadikanlah aku bagian dari orang-orang yang sedikit.

Umar terheran heran dan berkata, “Doa apa ini ?” Orang tersebut menjawab : "Aku pernah mendengar firman Allah (yang artinya) : Sedikit di antara hamba hamba-Ku yang mau bersyukur. Aku pun berdoa pada Allah agar aku termasuk yang sedikit.” Umar pun berkata : Ternyata setiap orang lebih tahu dari Umar.

Oleh sebab itu hamba hamba Allah hendaklah melakukan muhasabah atau evaluasi diri. Jika terdapat kelakuan buruk atau sikap tercela  pada dirinya maka segera memohon ampun dan bertaubat dan bersegera pula berhenti dari perbuatan tercela dan  kelakuan buruk itu.

Wallahu A'lam. (3.656).