Rabu, 04 Maret 2026

TERASA BERATKAH MENGKHATAMKAN AL QUR AN DI BULAN RAMADHAN ?

 

TERASA BERATKAH MENGKHATAMKAN AL QUR AN DI BULAN RAMADHAN ?

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ramadhan adalah bulan al Qur an karena Ramadhan adalah bulan diturunkannya al Qur an yaitu sebagaimana firman Allah Ta'ala :


شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (Q.S al Baqarah 185).

Sungguh, bahwa pada setiap malam Ramadhan, Rasulullah dan Malaikat Jibril ber-mudarasah al Qur an. Rasulullah membaca al Qur an dan disimak oleh Jiibril kemudian bergantian Jibril membaca dan Rasulullah yang menyimak. Rasulullah  Salallahu ‘alaihi Wasallam menjelaskan hal ini dalam sabda beliau : 

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

Dari Ibnu Abbas, dia  berkata, Rasulullah  adalah manusia yang paling lembut terutama pada bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril  menemuinya, dan adalah Jibril mendatanginya setiap malam di bulan Ramadhan, dimana Jibril mengajarkannya Al-Quran. Sungguh Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam adalah orang yang paling lembut daripada angin yang berhembus. (H.R Imam Bukhari)

Jadi dengan memahami  ayat dan hadits diatas maka  diantara keutamaan bulan Ramadhan adalah disebut sebagai bulan al Qur an.

Oleh karena itu ketika datang bulan Ramadhan maka hamba hamba Allah memperbanyak bacaan al Qur an-nya. Bahkan ada diantara saudara saudara  ada  yang mampu mengkhatamkan al Qur an lebih dari satu kali di bulan Ramadhan.

Tetapi sebagian saudara saudara  kita ada yang merasa berat atau merasa tidak mampu mengkhatamkan al Qur an di bulan Ramadhan. Ketahuilah bahwa ketika  memiliki niat ikhlas untuk mengkhatamkan tidaklah akan terasa berat. Berdoa dan minta tolonglah kepada Allah Ta'ala untuk bisa khatam di bulan Ramadhan.

Bahwa al Qur an itu terdiri dari 30 juz dan ketika ingin mengkhatamkan di bulan Ramadhan maka bersemangatlah untuk khatam satu juz satu hari. Ketahuilah bahwa rata rata kita bisa khatam satu juz dalam waktu rata rata 50 - 60 menit.

Ingatlah bahwa Allah Ta'ala memberi nikmat waktu kepada kita waktu 24 jam sehari semalam.      Sangatlah terpuji jika kita  bisa mengatur waktu dengan baik dan disisihkan satu jam sehari untuk membaca  al Qur an sehingga satu bulan bisa khatam 30 juz.

Sebagai penutup tulisan ini, dinukil satu hadits tentang keutamaan membaca al Qur an :


مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan setiap kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf, akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf. (H.R Imam at Tirmidzi).

Wallahu A'lam. (3.674).

Selasa, 03 Maret 2026

JANGAN BERMUDAH MUDAH MENINGGALKAN AMALAN PUASA RAMADHAN

 

JANGAN BERMUDAH MUDAH MENINGGALKAN AMALAN PUASA RAMADHAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, puasa di bulan Ramadhan adalah salah satu rukun Islam, sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini : 


عن أبي عبد الرحمن عبد الله بن عمر بن الخطاب رضي الله عنهما قال : سمعت النبي صلَّى الله عليه وسلَّم يقول : بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ ، وَ إِقَامِ الصَّلَاةِ ، وَ إِيْتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَ حَجِّ الْبَيْتِ ، وَ صَوْمِ رَمَضَانَ .رواه البخاري و مسلم .

 

Dari Abu Abdirrahman Abdullah bin Umar bin al Khattab radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, aku mendengar Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, ‘Islam dibangun di atas lima: persaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, naik haji, dan puasa Ramadan’”. (H.R Imam Bukhari dan ImamMuslim).

 

Dan juga puasa Ramadhan adalah wajib hukumnya sebagaimana perintah Allah Ta'ala dalam firman-Nya :

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai orang-orang yang beriman.  Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Q.S al Baqarah 183).

Oleh karena itu hamba hamba Allah jangan sampai bermudah mudah atau lancang meninggalkan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Takutlah kepada Allah dengan sebenar benar takut. 

Sungguh hukuman atau adzab untuk orang yang meninggalkan puasa Ramadhan atau sengaja berbuka sebelum waktunya JIKA TIDAK ADA UDZUR SYAR'i adalah sangat berat.

Mereka akan digantung tubuhnya dalam keadaan terbalik. Kakinya keatas kepalanya kebawah. Mulutnya robek dan mengeluarkan darah. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam menjelaskan perkara ini dalam satu hadits, yaitu :  

   عَنْ أَبي أُمَامَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ يَقُولُ: بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ إِذْ أَتَانِى رَجُلاَنِ فَأَخَذَا بِضَبْعَىَّ، ثُمَّ انْطُلِقَ بِى فَإِذَا أَنَا بِقَوْمٍ مُعَلَّقِينَ بِعَرَاقِيبِهِمْ مُشَقَّقَةٌ أَشْدَاقُهُمْ تَسِيلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا. قُلْتُ: مَنْ هَؤُلاَءِ؟ قَالَ: هَؤُلاَءِ الَّذِينَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ   

Dari Abu Umamah berkata, aku mendengar Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  bersabda : Pada saat aku tidur, aku bermimpi didatangi dua orang laki laki memegang lenganku.

Kemudian mereka membawaku, saat itu aku mendapati suatu kaum yang bergantungan tubuhnya, dari mulutnya yang pecah (robek) keluar darah. Aku bertanya : Siapa mereka ?. Ia menjawab : Mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa sebelum diperbolehkan waktunya berbuka. (H.R an Nasa’i).

Oleh karena itu hamba hamba Allah tetap menjaga amalan puasa Ramadhan. Bukankah kewajiban berpuasa itu hanya beberapa hari saja. Allah Ta'ala berfirman :

أَيَّامًا مَّعْدُودَٰتٍ ۚ

(Puasa itu hanya) dalam beberapa hari yang tertentu. (Q.S al Baqarah 184).

Syaik as Sa'di berkata : Ketika Allah menyebutkan kewajiban puasa bagi mereka, Dia mengabarkan bahwa puasa itu hanya pada hari-hari yang tertentu atau SEDIKIT SEKALI DAN SANGAT MUDAH. Kemudian Allah memudahkan puasa itu dengan (banyak) kemudahan lainnya. (Tafsir Taisir Karimir Rahman)

Wallahu A'lam. (3.673).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

CEPAT BOSAN MEMBACA AL QUR AN SATU TANDA HATI YANG BERPENYAKIT

 

CEPAT BOSAN MEMBACA AL QUR AN SATU TANDA HATI YANG BERPENYAKIT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Salah satu kewajiban hamba  Allah terhadap al Qur an adalah mempelajari  cara membacanya, selalu membacanya, mempelajari  maknanya dan mengamalkannya dan juga mengajarkannya sesuai kemampuan.

Dalam satu hadits disebutkan bahwa manusia paling baik adalah yang belajar al Qur an dan mengajarkannya :


خيركم من تعلم القرآن وعلمه 

Sebaik baik kalian adalah yang belajar al Qur an dan mengajarkannya (H.R Imam Bukhari, dari Utsman bin Affan).

Imam Ibnu Hajar Ashqalani berkata : Tidak diragukan lagi bahwa orang yang bisa menggabungkan antara belajar dan mengajarkan al Qur an adalah orang yang sempurna bagi dirinya dan bagi orang lain, yaitu yang mampu mengumpulkan kebaikan yang sedikit dan yang banyak (Fathul Bari).

Selain itu, ketahuilah bahwa membaca al Qur an adalah menjadi satu kemestian bagi hamba hamba Allah. Ketahuilah sangat banyak saudara saudara kita yang melakukan amal yang baik ini yaitu membaca al Qur an dari awal.

Ketika sudah khatam mengulangi lagi dari awal dan khatam lagi. Sungguh, Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telah mengingatkan dalam sabda beliau tentang al hal wal murtahal :

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ قَالَ : الْحَالُّ الْمُرْتَحِلُ - قَالَ : وَمَا الْحَالُّ الْمُرْتَحِلُ؟ قَالَ الَّذِي يَضْرِبُ مِنْ أَوَّلِ الْقُرْآنِ إِلَى آخِرِهِ كُلَّمَا حَلَّ ارْتَحَلَ

Dari Ibnu Abbas, beliau mengatakan ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam : Wahai Rasulullah, AMALAN APAKAH YANG PALING DICINTAI ALLAH ?. Beliau menjawab :  Al hal wal murtahal.

Orang ini bertanya lagi : Apa itu al hal wal murtahal, wahai Rasulullah ?. Beliau menjawab : Yaitu yang membaca al Qur’an dari awal hingga akhir. Setiap kali khatam ia mengulanginya lagi dari awal. (H.R at  Tirmidzi).

Ketahuilah bahwa ada juga sebagian orang yang  CEPAT BOSAN MEMBACA AL QUR AN. Kenapa ?, Salah satu penyebabnya adalah jika hati seseorang berpenyakit. Dalam perkara ini Usman bin Affan menyebutkan bahwa : Sekiranya hati kita bersih (tidak ada penyakitnya, peny.) tidaklah dia akan bosan membaca Kalamullah yaitu al Qur an. (Ighatsul Lahfan, Imam   Ibnul Qayyim).

Selain itu, ketahuilah bahwa ketika seseorang  sering  merasa bosan membaca al Qur an adalah termasuk musibah. Sungguh Allah Ta’ala  berfirman :  

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan musibah apapun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan kesalahanmu) Q.S asy Syuura 30.

Oleh karena itu maka ketika sering didatangi rasa bosan dalam membaca al Qur an maka bersegeralah bertaubat dan memohon ampun. Dengan demikian penyakit hati akan hilang.

Selanjutnya paksa diri agar selalu membaca al Qur an. Ingatlah kebaikan kebaikan yang sangat banyak akan mendatangi   seseorang yang selalu membaca al Qur an.

Wallahu A'lam. (3.672).    

 

 

 

 

 

 

 

 

Sabtu, 28 Februari 2026

LIMA PERKARA YANG BISA MENGHAPUS PAHALA PUASA

 

LIMA PERKARA YANG BISA MENGHAPUS PAHALA PUASA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Hamba hamba Allah selalu berusaha menjaga ibadahnya agar bernilai di sisi Allah mendapatkan pahala dan kebaikan yang banyak dan bisa dipetik manfaatnya di dunia dan di akhirat kelak.

Sungguh Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telah mengingatkan bahwa ada orang berpuasa hanya mendapat lapar dan haus saja yaitu sebagaimana sabda beliau :


رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga. (H.R Ath Thabrani).

Ketahuilah bahwa ada banyak jalan atau penyebab nilai atau pahala puasa kita tidak berbekas meskipun zhahirnya kita  berpuasa, tidak makan dan minum. Sungguh dalam perkara ini Rasululah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda.     

عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ عُمَرَ الْجُرَشِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسٌ يُفْطِرْنَ الصَّائِمَ الْكَذِبُ وَالْغِيبَةُ وَالنَّمِيمَةُ وَالْيَمِينُ الْكَاذِبَةُ وَالنَّظْرُ بِشَهْوَةٍ

Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  bersabda : Lima hal yang menghapus (pahala) puasa orang yang berpuasa, (1) Berbohong, (2) Ghibah (bergunjing), (3) Namimah (mengadu domba), (4) Sumpah palsu, dan (5) Memandang dengan syahwat. (H.R at  Tirmidzi).

Sungguh, di zaman ini ada orang orang  terjatuh atau tergelincir kepada  5 perbuatan buruk ini kecuali orang orang yang mendapat petunjuk yang lurus dari Allah Ta'ala. Apalagi manusia memiliki hawa nafsu dalam dirinya dan hawa nafsu ini cenderung kepada keburukan jika tidak dijaga dan dikendalikan.

Dan juga ada musuh manusia  yang bernama  syaithan yang ingin menggelincirkan kepada perbuatan maksiat. Memang di bulan Ramadhan syaithan yang JENIS  JIN sudah dibelenggu tetapi SYAITHAN JENIS MANUSIA MASIH ADA BERKELIARAN DI BERBAGAI TEMPAT. 

Sungguh, lima perkara yang bisa menghapus atau paling tidak bisa mengurangi pahala puasa seseorang tersebut diatas tetapi tidaklah membatalkan ibadah puasa. Yang hilang atau  berkurang hanyalah nilai pahala dari puasanya.

Imam Nawawi menjelaskan bahwa perilaku buruk, jika dilakukan saat berpuasa, dapat membatalkan PAHALA PUASA meskipun secara hukum fiqih puasanya tetap sah. (Lihat al Majmu').

Oleh karena itu hamba hamba Allah berusahalah dengan sungguh sungguh menjaga perkara perkara yang bisa menghapus atau mengurangi nilai pahala puasa. Sungguh kita sangat butuh untuk membawa pahala yang banyak ke akhirat kelak sehingga memberatkan timbangan amal. Dan ketahuilah bahwa Allah Ta’ala berfirman :

وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ ۚ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ

Timbangan pada hari itu (menjadi ukuran) kebenaran. Maka barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan) nya, MEREKA ITULAH ORANG YANG BERUNTUNG. Dan barangsiapa ringan timbangan (kebaikan) nya maka mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri, karena mereka mengingkari ayat ayat kami. (Q.S al A’raf 8-9).

Wallahu A'lam. (3.671).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kamis, 26 Februari 2026

HAMBA ALLAH MESTI BERSEGERA MELAKUKAN AMAL SHALIH

 

HAMBA ALLAH MESTI BERSEGERA MELAKUKAN AMAL SHALIH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketika seseorang telah sungguh sungguh memohon ampun dan bertaubat maka wajib pula baginya untuk bersegera  melakukan amal shalih dan melakukan kebaikan yang mungkin selama ini ada yang belum sempurna ataupun tertinggal.

Ketahuilah bahwa yang akan menyelamatkan manusia di akhirat kelak adalah RAHMAT ALLAH dan amalan shalih yang dilakukan di dunia dengan LANDASAN IMAN. Allah Ta’ala berfirman :  

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ

Sungguh orang orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih mereka akan mendapat surga yang mengalir di bawahnya sungai sungai. Itulah kemenangan yang agung. (Q.S al Buruj 11).

Sungguh,  Allah Ta’ala memuji hamba-Nya yang selalu bersegera dalam melakukan kebaikan, terutama beramal shalih. Diantaranya dalam surat al Anbiya’ 90 Allah memuji Nabi Zakaria dan istrinya yang selalu bersegera dalam melakukan kebaikan. Allah berfirman : 

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

Sungguh mereka SELALU BERSEGERA dalam (mengerjakan) kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang orang yang khusyuk kepada Kami.

Ketahuilah bahwa ketika seorang hamba selalu bersegera dalam mengerjakan kebaikan dan  melakukan amal shalih maka TERBUKA PELUANG  DAN HARAPAN BESAR  baginya agar Allah Ta'ala  menyegerakan pula datangnya  rahmat, ampunan bahkan rizki bagi dirinya.

Sungguh Allah Ta'ala  telah menjelaskan bahwa balasan kebaikan adalah kebaikan pula yaitu sebagaimana  firman-Nya :


هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula. (Q. S ar Rahman 60).

Tentang ayat ini, Syaikh as Sa'di berkata : Tidak ada balasan bagi seseorang yang telah beribadah kepada sang Pencipta dengan baik dan memberikan manfaat bagi hamba-Nya yang lain, melainkan dia akan dibalas dengan kebaikan (pula) dengan pahala yang melimpah, kemenangan besar, kenikmatan abadi, dan kehidupan sejahtera. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Oleh karena itu hamba hamba Allah mestilah selalu bersegera melakukan amal shalih yaitu beribadah kepada-Nya  dan juga melakukan berbagai kebaikan yang bermanfaat bagi orang lain. Dan ingatlah bahwa dalam  melakukan kebaikan bukan saja bersegera tertapi berlomba. Allah Ta'ala befirman :

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ

Maka berlomba lombalah kamu dalam kebaikan. (Q.S al Baqarah 148).

Wallahu A'lam. (3.670).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Senin, 23 Februari 2026

BERPUASA RAMADHAN HANYA DI AWAL AWAL RAMADHAN SAJA ?

 

BERPUASA RAMADHAN HANYA DI AWAL AWAL RAMADHAN SAJA ?

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, Allah Ta'ala hanya mewajibkan berpuasa kepada orang orang beriman yaitu sebagaimana firman-Nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai orang-orang yang beriman !.  Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Q.S al Baqarah 183). 

Pengamalan puasa adalah WAJIB sebulan Ramadhan penuh yaitu 29 atau 30 hari. Tetapi kita mengetahui bahwa ada diantara saudara saudara yang hanya melakukan ibadah puasa  di awal awal Ramadhan saja yaitu sekitar 3 atau 5 hari meskipun sebenarnya dia mengetahui bahwa puasa wajib Ramadhan itu sebulan penuh.

Mereka lalai berpuasa dengan sengaja tanpa udzur. Diantara penyebab yang membuat mereka melalaikan puasa diantaranya :

Pertama : Imannya masih sangat lemah atau sangat tipis. Sehingga tidak bersemangat beribadah secara sempurna sebagaimana yang disyariatkan. Sungguh yang dipanggil untuk berpuasa adalah  orang yang benar imannya.

Kedua : llmu syariat yang dimilikinya sangat sedikit sehingga tidak ada rasa takut kepada Allah. Sungguh Allah telah menjelaskan dalam firman-Nya :


إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Diantara hamba hamba Allah yang takut kepada-Nya HANYALAH PARA ORANG BERILMU. Sungguh Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun. (Q.S Fathir 28).

Ketiga : Memiliki teman bergaul yang tidak baik. Bisa jadi ikut ikutan kepada teman yang tidak patuh kepada perintah dan larangan Allah Ta'ala. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telang mengingatkan :


الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

 Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman akrab. (H.R Abu Dawud dan at Tirmidzi).

Ketahuilah bahwa hukuman atau adzab untuk orang yang meninggalkan puasa Ramadhan atau sengaja berbuka sebelum waktunya JIKA TIDAK ADA UDZUR SYAR'i adalah sangat berat.

Mereka akan digantung tubuhnya dalam keadaan terbalik,atas dan kepala kebawah. Mulutnya dirobek dan mengeluarkan darah. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam menjelaskan perkara ini dalam satu hadits, yaitu :  

   عَنْ أَبي أُمَامَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ يَقُولُ: بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ إِذْ أَتَانِى رَجُلاَنِ فَأَخَذَا بِضَبْعَىَّ، ثُمَّ انْطُلِقَ بِى فَإِذَا أَنَا بِقَوْمٍ مُعَلَّقِينَ بِعَرَاقِيبِهِمْ مُشَقَّقَةٌ أَشْدَاقُهُمْ تَسِيلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا. قُلْتُ: مَنْ هَؤُلاَءِ؟ قَالَ: هَؤُلاَءِ الَّذِينَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ   

Dari Abu Umamah berkata, aku mendengar Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  bersabda : Pada saat aku tidur, aku bermimpi didatangi dua orang laki laki memegang lenganku.

Kemudian mereka membawaku, saat itu aku mendapati suatu kaum yang bergantungan tubuhnya, dari mulutnya yang pecah keluar darah. Aku bertanya : Siapa mereka ?. Ia menjawab : Mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa sebelum diperbolehkan waktunya berbuka. (H.R an Nasa’i).

Wallahu A'lam. (3.669)

Rabu, 18 Februari 2026

JUMLAH IBADAH SUNNAH LEBIH BANYAK DIBANDING IBADAH WAJIB

JUMLAH  IBADAH SUNNAH LEBIH BANYAK DIBANDING IBADAH WAJIB

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, Allah Ta'ala telah menetapkan ada beberapa ibadah fardhu atau wajib yang dibebankan kepada hamba hamba-Nya. Diantaranya adalah shalat fardhu, puasa Ramadhan, mengeluarkan zakat harta dan berkunjung ke Baitullah untuk ibadah haji.

Selain itu sangat banyak ibadah sunnah yang disyariatkan diantaranya adalah shalat sunnah yang banak jenisnya, puasa  sunnah, memberi infak dan sedekah, berkunjung ke Batullah untuk ibadah Umrah dan juga banyak yang lainnya.

Lalu kenapa ada ibadah yang wajib dan ada pula ibadah yang tidak wajib. Itu adalah karena :

Pertama : Tanda kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Kita diperintahkan melakukan yang wajib tapi diberi pula kesempatan untuk mendapatkan tambahan pahala melalui amalan amalan sunnah sehingga kita bisa mendapat kedudukan yang semakin tinggi disisi Allah dengan ibadah ibadah sunnah.

Kedua : Sangatlah besar kemungkinan amalan wajib yang kita lakukan banyak kekurangannya. Lalu Allah beri kesempatan untuk menutup kekurangan itu dengan amalan yang tidak wajib atau amalan amalan sunnah.  

Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  bersabda :“Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab pada manusia di hari kiamat nanti adalah shalat. Allah ‘azza wa jalla berkata kepada malaikat-Nya dan Dia-lah yang lebih tahu, “Lihatlah pada shalat hamba-Ku. Apakah shalatnya sempurna ataukah tidak?

Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna. Namun jika dalam shalatnya ada sedikit kekurangan, maka Allah berfirman: Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah. Jika hamba-Ku memiliki amalan sunnah, Allah berfirman: sempurnakanlah kekurangan yang  ada pada amalan wajib dengan amalan sunnahnya.” Kemudian amalan lainnya akan diperlakukan seperti ini.” (H.R Imam Ahmad, Abu Daud dan at Tirmidzi)

Selain itu ketahuilah bahwa setiap amalan yang dilakukan seorang hamba akan diberikan ganjaran berupa pahala yang banyak. Selain itu amalan yang kita lakukan juga bermanfaat untuk menghapus dosa.

Ada satu riwayat dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu menyebutkan bahwa  pada suatu kali : “Ada seorang laki-laki yang pernah mencium seorang wanita (yang tidak halal baginya), lalu ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan hal tersebut. 

Lalu Allah azza wa jalla menurunkan firman-Nya: “Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan perbuatan yang buruk. (Q.S Hud 114).

Kemudian orang itu bertanya : Ya Rasulullah, apakah ini khusus untukku? Beliau menjawab: Untuk umatku seluruhnya. (H.R Imam Bukhari)

Dan juga, diantara keutamaan melakukan amalan amalan sunnah yang tidak diwajibkan adalah sebagai pendekatan diri kepada Allah Ta’ala sehingga mendatangkan kecintaan-Nya.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Kucintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya.

Nah, ketika seorang hamba mendapat  kecintaan Allah Ta’ala maka Allah Ta’ala  akan memberi jika dia meminta dan Allah Ta’ala akan membimbing pendengaran, penglihatan dan semua gerak dan langkahnya. Dalam satu hadits qudsi disebutkan :

فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ

Jika Aku mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, menjadi penglihatannya, yang dengannya dia melihat, menjadi tangannya yang dengannya dia memukul dan menjadi kakinya yang dengannya dia melangkah.

Jika dia meminta kepada-Ku maka Aku memberinya. Dan jika dia memohon perlindungan kepada-Ku maka Aku akan melindunginya”. (H.R Imam Bukhari).

Wallahu A'lam. (3.638).