Kamis, 31 Agustus 2023

PUASA AWAL DAN AKHIR TAHUN HIJRIYAH TIDAK DISYARIATKAN

 

PUASA AWAL DAN AKHIR TAHUN HIJRIYAH TIDAK DISYARIATKAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, melakukan ibadah puasa sunnah yang disyariatan adalah  sangat baik dan sangat dianjurkan. Dan sangatlah banyak keutamaan melakukan puasa termasuk puasa sunnah. Diantaranya sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah dalam sabda beliau : 

إِنَّمَا الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ

Puasa adalah perisai yang dapat melindungi seorang hamba dari api neraka. (H.R Imam Ahmad dan al Baihaqi)

Syaikh Shalih Fauzan hafidzahullah menjelaskan : Maksudnya puasa adalah penghalang antara dirinya dengan api neraka. Hal ini mencakup puasa yang wajib seperti puasa Ramadhan dan juga puasa sunnah seperti puasa enam hari di bulan Syawal, puasa Senin-Kamis, puasa tiga hari setiap bulan, puasa Dzulhijjah, puasa ‘Arafah, dan puasa ‘Asyura (Lihat al Minhatu ar Rabaniyyah fii Syarhi Al-Arba’in An-Nawawiyyah).

Rasulullah Salallahu alaihi Wasallam juga bersabda :  

ما من عبد يصوم يوما في سبيل الله إلا باعد الله بذالك وجهه عن النار سبعين خريفا

Tidaklah seorang hamba berpuasa satu hari di jalan Allah melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka sejauh tujuh puluh musim karena puasanya itu. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim, dari Abu Sa’id al Khudri)

Maksud sabda Nabi tentang 70 musim adalah perjalanan 70 tahun, sebagaimana disebutkan Ibnu Hajr Ashqalani dalam Fathul Bari.

Tetapi ketahuilah bahwa berpuasa di awal bulan Muharram karena masuknya tahun baru hijriyah termasuk sesuatu yang diada adakan. Demikian pula puasa akhir tahun tahun hijriyah, tidak disyariatkan. Sesuatu yang dibuat-buat yang tidak berpijak pada dalil yang shahih. Barangkali sebagian mereka berdalil dengan sebuah hadits yang berbunyi : 

مَنْ صَامَ آخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ, وَأَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ الْمُحَرَّمِ, فَقَدْ خَتَمَ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ بِصَوْمٍ وَافْتَتَحَ السَّنَةَ الْمُسْتَقْبَلَةَ بِصَوْمٍ, جَعَلَ اللهُ لَهُ كَفَّارَةً خَمْسِيْنَ سَنَةً

Barangsiapa yang puasa pada akhir hari Dzulhijjah dan puasa awal tahun pada bulan Muharram, maka dia telah menutup akhir tahun dengan puasa dan membuka awal tahunnya dengan puasa. Semoga Allah manghapuskan dosanya selama lima puluh tahun.

Hadits ini adalah hadits yang palsu menurut timbangan para ahli hadits. (Lihat al A’lai al Mashnu’ah, Imam as Suyuti, al Fawaid Majmu’ah, Imam asy Syaukani. Lihat juga Kitab Kritik Hadits hadits Dha’if, ustadz Abu Ubaidah as Sidawi)

Wallahu Alam. (3.077)

Selasa, 29 Agustus 2023

MUNAFIK MEMILIKI BANYAK SIFAT YANG SANGAT TERCELA

 

MUNAFIK MEMILIKI BANYAK SIFAT YANG SANGAT TERCELA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Munafik adalah orang yang memiliki sifat nifak. Nifak artinya menampakkan yang baik dan menyembunyikan yang buruk. Mereka menampakkan ke-islaman tetapi menyembunyikan kekufuran.

Ibnu Juraij mengatakan : Orang munafik ialah orang yang omongannya menyelisihi tindak-tanduknya, batinnya menyelisihi lahiriahnya, tempat masuknya menyelisihi tempat keluarnya, dan kehadirannya menyelisihi ketidak-adaannya. (‘Umdah at-Tafsir I/78).

Demikian buruknya sifat tercela yang disandang dan diamalkan oleh orang orang munafik maka Allah Ta'ala sangat murka kepada mereka dan berjanji akan menempatkan mereka, orang orang munafik, pada neraka paling bawah.  Allah Ta'ala berfirman :

إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ فِى ٱلدَّرْكِ ٱلْأَسْفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

Sungguh orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka. (Q.S an Nisa' 145).

Diantara sifat tercela yang paling tercela dari orang orang munafik adalah mereka menyuruh berbuat yang mungkar dan melarang berbuat yang makruf.

ٱلْمُنَٰفِقُونَ وَٱلْمُنَٰفِقَٰتُ بَعْضُهُم مِّنۢ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِٱلْمُنكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ ۚ نَسُوا۟ ٱللَّهَ فَنَسِيَهُمْ ۗ إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

Orang orang munafik laki laki dan perempuan satu dengan yang lain adalah (sama). Mereka menyuruh (berbuat) yang mungkar  dan mencegah (perbuatan) yang makruf. Dan mereka menggenggamkan tangannya (kikir).

Mereka telah melupakan kepada Allah maka Allah melupakan mereka (pula). Sesungguhnya orang orang munafik itulah orang orang yang fasik. (Q.S at Taubah 67).

Syaikh as Sa'di berkata :  “orang-orang yang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain”, karena mereka bersekutu dalam kemunafikan, maka merekapun saling mendukung. Ini adalah pemutus bagi orang yang beriman dari pengangkatan mereka menjadi teman.

Kemudian Allah menyebutkan sifat umum orang munafik yang tidak keluar darinya orang besar dan orang kecil dari kalangan mereka. Dia berfirman, “mereka menyuruh berbuat yang munkar.” Yaitu kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan. “Dan melarang berbuat yang ma’ruf”, yaitu iman, akhlak yang mulia, amal yang shalih dan adab-adab yang luhur.

Kefasikan dibatasi dari mereka lebih besar dari kefasikan selain mereka, buktinya adalah adzab mereka lebih berat dari adzab yang lainnya. Dan bahwa orang orang beriman sangat di sulitkan oleh mereka jika mereka hidup dikalangan orang-orang beriman dan untuk menghindari mereka yang sulit. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Wallahu A'lam. (3.076).

 

 

 

Senin, 28 Agustus 2023

PENGHUNI NERAKA DIBERI MAKANAN DAN PAKAIAN SEBAGAI TAMBAHAN ADZAB

 

PENGHUNI NERAKA DIBERI MAKANAN DAN PAKAIAN SEBAGAI TAMBAHAN ADZAB

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, neraka adalah tempat yang paling buruk dan sangat menyengsarakan penghuninya. Mereka berada dalam api yang SANGAT PANAS yaitu tujuh puluh kali panasnya api dunia. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam menjelaskan perkara ini dalam sabda beliau :

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِي تُوقِدُونَ جُزْءٌ وَاحِدٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ قَالُوا وَاللَّهِ إِنْ كَانَتْ لَكَافِيَةً يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِنَّهَا فُضِّلَتْ بِتِسْعَةٍ وَسِتِّينَ جُزْءًا كُلُّهُنَّ مِثْلُ حَرِّهَا. رواه الترميذى

Dari Abu Hurairah dari Nabi Salallahu 'alaihi Wasallam, beliau bersabda : Api kalian ini yang kalian gunakan untuk membakar adalah salah satu bagian dari tujuh puluh bagian panasnya api neraka. (H.R at Tirmidzi).

Selain itu ketahuilah bahwa ketika di dunia orang orang beriman mendapat makanan dan pakaian sebagai salah satu nikmat yang diberikan Allah Ta'ala kepada mereka. Lalu bagaimana dengan penduduk neraka ?. Ketahuilah bahwa mereka juga mendapat makanan dan pakaian tetapi BUKAN SEBAGAI NIKMAT TETAPI SEBAGAI TAMBAHAN ADZAB buat mereka. Na'udzubillah.

Pertama : Tentang makanan penduduk neraka.

Diantara penjelasan tentang makanan penghuni neraka adalah makanan yang paling buruk, sangat pahit rasanya  yaitu sejenis duri yang kering dan tidak bisa menghilangkan rasa lapar. Sementara itu minumannya adalah air yang sangat panas hingga membuat usus mereka terpotong potong. Sungguh, Allah Ta'ala menjelaskan dalam firman-Nya : 

تُسْقَىٰ مِنْ عَيْنٍ ءَانِيَةٍ  لَّيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إِلَّا مِن ضَرِيعٍ  لَّا يُسْمِنُ وَلَا يُغْنِى مِن جُوعٍ

 

(Mereka) diberi minum dari sumber mata air yang sangat panas. Tidak ada makanan bagi mereka selain pohon yang berduri. Yang tidak menggemukkan dan tidak (pula) menghilangkan lapar. (Q.S al Ghaasyiyah 5-7).

Kedua : Tentang pakaian penduduk neraka.

Sungguh salah satu (tambahan) adzab yang akan diterima oleh penduduk neraka adalah mereka diberi pakaian dari api neraka. Allah Ta'ala berfirman : 

فَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِّن نَّارٍ يُصَبُّ مِن فَوْقِ رُءُوسِهِمُ ٱلْحَمِيمُ  يُصْهَرُ بِهِۦ مَا فِى بُطُونِهِمْ وَٱلْجُلُودُ

Maka bagi orang orang kafir akan dibuatkan pakaian pakaian dari api (neraka) untuk mereka.  Keatas kepala mereka akan disiramkan air yang mendidih. Dengan (air mendidih) itu akan dihancur luluhkan apa yang ada dalam perut dan kulit mereka. (Q.S al Hajj 19-20)

Sungguh, dengan keadaan yang demikian buruk dan menyengsarakan maka orang orang beriman AMAT SANGAT TAKUTNYA KEPADA NERAKA. Oleh karena itu mereka selalu berusaha keras menjaga iman dan amal shalih agar bisa selamat masuk surga.

Selain itu, setiap saat orang beriman sangatlah dianjurkan untuk selalu berdoa dengan doa yang diajarkan Allah Ta'ala dalam surat al Baqarah 201. Ketahuilah bahwa Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam sering sekali membaca doa ini, yakni yang disebut dalam surat al Baqarah 201 tersebut : 

عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :  اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Dari Anas radhiyallahu anhu , ia berkata bahwa doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling sering diucapkan beliau  adalah : Ya Allah, Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka. (H.R Imam Bukhari  dan Imam Muslim).

Insya Allah ada manfaatnya untuk kita semua. Wallahu A'lam. (3.075)

 

 

 

 

MANUSIA DUNGU TETAP GEMBIRA DAPAT HARTA HARAM

 

MANUSIA DUNGU TETAP GEMBIRA DAPAT HARTA HARAM

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Di zaman ini kita bisa menyaksikan sebagian orang merasa gembira bahkan sangat gembira jika dapat harta dari jalan yang haram. Misalnya dengan jalan menipu dan membohongi orang lain, memalsukan dokumen dan kwitansi  bodong, memeras, mengambil uang suap dan sogok, merampas dan mengkorup harta milik orang banyak dan yang lainnya.

Kenapa mereka tetap gembira ?. Diantaranya karena : (1) Memiliki pangkat, jabatan dan kesempatan mendapatkan harta dari perbuatan tercela. (2) Mencintai harta dunia dengan berlebihan. (3) Merasa bahwa harta dunia adalah segala galanya yang bisa membuat mereka bahagia.

Lalu kenapa mereka bisa disebut dungu bahkan sangat dungu ?. Ya karena merasa hidup ini hanya di dunia saja. Tidak tahu ada kehidupan akhirat yaitu tempat manusia harus mempertanggung jawabkan hartanya dapat dari mana dan dibelanjakan kemana. Sungguh, Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telah mengingatkan : 

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ

Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya. (H.R at Timidzi, ad Daarimi dan Abu Ya’la, dishahihkan oleh Syaikh al Albani)

Selain itu, karena kedunguan, mereka tidak mengetahui bahwa jika mengambil harta dari sumber yang haram maka tidak ada secuilpun kebaikan yang akan diperoleh dari harta itu. Bahkan mendatangkan dosa dan kesengsaraan atau adzab. Mau dimanfaatkan untuk apa harta haram itu :

(1) Mau diinfakkan atau disedekahkan ?. Allah tak akan menerimanya  karena Allah Ta’ala hanya menerima yang baik. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :

إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً،

Allah Subhanahu wa Ta’ala Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik-baik saja. (H.R Imam Muslim).

(2) Mau dinikmati, dimakan bersama keluarga ?. Ketahuilah bahwa  badan yang tumbuh dari harta yang haram akan berhak disentuh api neraka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasehat kepada  Ka’ab :

يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ إِنَّهُ لاَ يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ

Wahai Ka’ab bin ‘Ujroh, sesungguhnya daging badan yang tumbuh berkembang dari sesuatu yang haram akan berhak dibakar dalam api neraka. (H.R Tirmidzi, dihasankan oleh al Hafizh Abu Thahir

Oleh karena itu hamba hamba Allah haruslah cerdas dalam mencari rizki yaitu dari yang halal meskipun sedikit tetapi mendatangkan kebaikan di dunia dan di akhirat. Yakinlah !.

Wallahu A'lam. (3.074)

 

 

Minggu, 27 Agustus 2023

SYARIAT ISLAM MENGAJARKAN JALAN MUDAH MENUJU SURGA

 

SYARIAT ISLAM MENGAJARKAN JALAN MUDAH MENUJU SURGA

Disusun oleh : Azwir B.Chaniago

Ketahuilah bahwa kampung halaman kita yang asli adalah surga karena memang nenek moyang kita, Adam dan Hawa diciptakan di surga. Mereka hidup beberapa lama di surga sebelum diturunkan ke bumi.

Bahwa pada waktunya kita akan kembali ke surga, negeri asal kita. Bahkan Allah Ta'ala menyeru manusia ke surga. Allah Ta'ala berfirman :

وَ اللّٰہُ یَدۡعُوۡۤا اِلٰی دَارِ السَّلٰمِ ؕ وَ یَہۡدِیۡ مَنۡ یَّشَآءُ اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ

Dan Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga) dan memberikan petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus (Islam). Q.S Yunus 25.

Sungguh, untuk kembali ke surga, Allah Ta'ala telah memberikan petunjuk yaitu jalan yang lurus dan jalan ini wajib untuk dikuti sehingga bisa selamat kembali ke surga. Bahkan  ada jalan yang mudah, diantaranya adalah :

Pertama : Hadits dari Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  

اعبُدوا الرحمنَ ، و أطعِمُوا الطعامَ ، وأَفشوا السَّلامَ ، تَدخُلوا الجنَّةَ بسَلامٍ

Sembahlah ar-Rahman semata, berikanlah makan (kepada yang membutuhkan), tebarkanlah salam, maka engkau akan masuk surga dengan selamat. (H.R Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin menjelaskan : Perkataan (engkau akan masuk surga dengan selamat) menunjukkan orang yang melakukan amalan-amalan di atas akan masuk surga (dengan mudah karena, peny.)  tanpa hukuman dan tanpa azab.

Karena orang yang diazab maka ia tidak dikatakan selamat. Maka tiga amalan dalam hadis ini adalah di antara sebab yang memasukan orang ke surga dengan selamat. (Syarah Riyadhus Shalihin).

Kedua : Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.  Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda : 

 وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Dan barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga. (H.R Imam Muslim).

Imam Ibnu Rajab al Hambali menjelaskan bahwa menempuh jalan untuk menuntut ilmu memiliki dua makna yaitu :

Pertama : Menempuh jalan dalam arti sebenarnya yaitu melangkahkan kaki menuju majelis-majelis ilmu. 

Kedua : Menempuh  jalan (cara-cara) yang mengantarkan seseorang untuk mendapatkan ilmu seperti menghafal dan mengulangi pelajaran, membaca dan menelaah kitab-kitab. Juga termasuk cara-cara lain yang dapat menghantarkan seorang hamba memperoleh ilmu syar’i.

Kemudian  Allah akan memudahkan jalannya menuju surga. Ini juga   memiliki dua makna  yaitu :

Pertama : Allah akan memudahkan memasuki surga bagi orang yang menuntut ilmu dengan tujuan mencari wajah Allah yaitu dengan mengambil manfaat dari ilmunya dan mengamalkan sebagai buah dari ilmunya. 

Kedua : Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga pada hari Kiamat ketika melewati sirath dan dimudahkan dari berbagai  ketakutan yang ada sebelum dan sesudahnya.Wallahu a’lam. (Jami’ul ulum wal Hikam).

Wallahu A'lam. (3.073)

 

 

 

Sabtu, 26 Agustus 2023

SUNGGUH KEADAAN SENANG DAN SUSAH SILIH BERGANTI

 

SUNGGUH KEADAAN SENANG DAN SUSAH SILIH BERGANTI

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Setiap orang yang menjalani hidup di dunia akan mengalami dua keadaan yaitu KEADAAN SENANG DAN KEADAAN SUSAH. Hampir tidak ada orang yang selalu dalam keadaan yang menyenangkan dan juga tidak selalu dalam keadaan yang menyusahkan.

Dengan keadaan yang silih berganti ini maka orang bijak berkata kepada dirinya :  SEMUA KEADAAN SENANG ATAU SUSAH PASTI AKAN BERAKHIR. Dengan begitu mereka tidak terlalu gembira jika didatangi kesenangan dan tidak terlalu sedih jika didatangi kesusahan.

Selanjutnya, perhatikanlah firman Allah Ta’ala berikut ini : 

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui. (Q.S al Baqarah 216).

Imam Ibnul Qayim al Jauziyah berkata : Didalam ayat ini terkandung banyak hikmah, diantaranya : (1) Apabila seorang hamba mengetahui bahwa sesuatu yang dibencinya terkadang justru mendatangkan sesuatu yang dicintaInya. (2) Sesuatu yang dicintainya terkadang mendatangkan sesuatu yang dibencinya. (Fawaidul Fawaid).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di berkata : Ayat dalam surat al Baqarah 216 ini adalah umum lagi luas. Bahwa perbuatan perbuatan baik yang dibenci oleh jiwa manusia karena ada kesulitan padanya, itu adalah baik tanpa diragukan lagi. Dan perbuatan perbuatan buruk yang disenangi oleh jiwa manusia karena apa yang diperkirakan olehnya bahwa padanya ada keenakan dan kenikmatan ternyata (berakibat) buruk tanpa diragukan lagi. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Sungguh Allah Ta’ala mengetahui dan menetapkan segala sesuatu yang terbaik bagi hamba hamba-Nya yang beriman. Semua yang menyenangkan ataupun tidak menyenangkan didatangkan Allah Ta’ala hanyalah sebagai ujian, sebagaimana firman-Nya : 

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

 

Tiap tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengui kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan. (Q.S al Anbiya’ 35).                                                                                                                                             

Ibnu Jarir menukil perkataan Ibnu Abbas : Kami (Allah Ta’ala) akan menguji kalian dengan kesempitan dan kelapangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kemiskinan. Dengan sesuatu yang halal dan yang haram, ketaatan dan kemaksiatan petunjuk dan kesesatan.

Ibnu Zaid berkata : Kami akan menguji mereka dengan sesuatu yang mereka sukai dan mereka benci. Kami akan menguji mereka dengan semua itu untuk mengetahui TINGKAT KESYUKURAN mereka terhadap hal hal yang mereka cintai dan TINGKAT KESABARAN mereka terhadap hal hal yang mereka benci. (Tafsir Ibnu Jarir at Thabari).

Oleh karena itu hamba hamba Allah senantiasa menerima semua keadaan yang ditetapkan Allah Ta'ala dengan hati lapang. Allah Ta'ala telah mengingatkan  firman-Nya : 

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

 Agar kamu tidak bersedih terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu bergembira terhadap yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri. (Q.S al Hadiid 23).

Wallahu A'lam. (3.072)

 

Jumat, 25 Agustus 2023

SIAPAKAH HAMBA ALLAH YANG DIRINDUKAN OLEH SURGA ??

 

 

SIAPAKAH HAMBA ALLAH YANG DIRINDUKAN OLEH SURGA ??

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Puncak atau cita cita tertinggi dan keinginan yang AMAT SANGAT dari setiap hamba adalah menjadi orang yang beruntung yaitu masuk surga dengan selamat.

Oleh karena itu hamba hamba Allah selalu menjaga ketaatan kepada Allah Ta'ala mengamalkan perintah-Nya dan menjauh dari larangannya. Senantiasa melakukan AMAL SHALIH YANG DILANDASI IMAN. Allah Ta'ala berfirman : 

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ

Sungguh orang orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih mereka akan mendapat surga yang mengalir di bawahnya sungai sungai. Itulah kemenangan yang agung. (Q.S al Buruj 11).

Selain itu ketahuilah bahwa ternyata ada hamba hamba Allah yang dirindukan oleh surga. Lalu apa makna rindu ?. Dalam KBBI disebutkan salah satu makna rindu adalah : MEMILIKI KEINGINAN YANG KUAT UNTUK BERTEMU.

Sungguh Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam menjelaskan tentang amalan  orang orang yang dirindukan oleh surga yaitu  dalam sabda beliau :

الْجَنَّةُ مُشْتَاقَةٌ اِلَى أَرْبَعَةِ نَفَرٍ : تَالِى الْقُرْانِ, وَحَافِظِ اللِّسَانِ, وَمُطْعِمِ الْجِيْعَانِ, وَصَا ئِمٍ فِى شَهْرِ رَمَضَا

Surga merindukan empat golongan yaitu orang yang membaca Al Quran, menjaga lisan (ucapan), memberi makan orang lapar, dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Dari zhahir hadits ini kita mengetahui empat golongan yang dirindukan surga yaitu :

Pertama : Orang yang senantiasa membaca al Qur an.

Sungguh sangatlah besar pahala yang disediakan Allah Ta’ala bagi orang orang yang mau membaca al Qur an. Yang masih terbata batapun ketika  membaca al Qur an dijanjikan dengan dua pahala, bukan satu, yaitu pahala karena mau membacanya dan pahala karena berat dan susahnya dalam membaca. Sedangkan yang mahir akan bersama malaikat yang mulia. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda : 

الْمَاهِرُ بِالْقُرآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيْهُ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

Orang yang membaca al Qur an dengan mahir, akan bersama Malaikat yang mulia lagi taat dan yang membaca al Qur an dengan terbata bata dan merasa berat, maka ia mendapat dua pahala. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Bukankah ini seharusnya menjadi pendorong yang kuat bagi kita untuk senantiasa dan terus menerus membaca dan mempelajari al Qur’an dan menjadi hamba yang dirindukan surga.

Kedua : Orang yang senantiasa menjaga lisan.

Salah satu golongan yang dirindukan oleh surga adalah yang senantiasa menjaga lisannya.

Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telah memberi wasiat atau bimbingan kepada orang orang beriman tentang memelihara dan menjaga lisan, diantaranya adalah sabda beliau :

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam. (Mutafaq ‘alaihi).

Ketahuilah  bahwa BERKATA YANG BAIK ATAU DIAM bukanlah sekedar masalah etika berbicara tapi terkait dengan iman. Lihatlah lafazh hadits ini : “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir”, bukankah ini tentang iman ?.

Umar bin Khaththab yang memberi nasehat tentang memelihara dan menjaga lisan. Beliau berkata : Semoga Allah merakhmati orang yang menahan diri dari banyak berbicara dan lebih mengutamakan banyak beramal. (Uyun al Akhbar, Ibnu Taimiyah)

Ketiga : Suka memberi makan orang yang lapar.

Memberi makan orang yang lapar atau dengan kata lain memberikan sebagian harta kepada orang yang kekurangan adalah suatu perbuatan sangat dianjurkan. Bukankah dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim disebutkan  tentang seseorang yang memberi minum kepada anjing yang kehausan lalu Allah Ta'ala berterima kasih kepadanya dan mengampuni dosanya. Apalagi memberi makan orang yang lapar tentulah Allah lebih ridha dan surga merindukannya.    

Keempat : Orang yang senantiasa berpuasa di bulan Ramadhan.

Allah Ta'ala mewajibkan orang orang beriman untuk berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Ibadah ini hakikatnya tidaklah ringan karena tidak makan dan minum serta menjaga hal hal yang membatalkannya selama lebih kurang 14 jam.

Tetapi Allah Ta'ala memberikan balasan dengan keutamaan yang banyak diantaranya  diampuni dosanya yang telah lalu.  Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.  (H.R Imam Bukhari  dan Imam  Muslim dari Abu Hurairah).

Nah, ternyata puasa fardhu ini juga mendatangkan rasa rindu surga kepada orang yang mengamalkannya. Bahkan di surga ada satu pintu khusus untuk orang yang berpuasa yaitu pintu ar rayyan yaitu sebagaimana disebutkan dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Wallahu A'lam. (3.071)

 

 

 

 

 

 

Rabu, 23 Agustus 2023

JANGAN PERNAH LUPA MELIHAT KEKURANGAN DIRI SENDIRI

 

JANGAN PERNAH  LUPA MELIHAT KEKURANGAN DIRI SENDIRI

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Setiap orang, termasuk diri kita sendiri memiliki banyak cela dan kekurangan. Cuma saja seseorang terkadang memang lupa dengan aib dan kekurangan dirinya. Dan yang lebih buruk lagi adalah jika dia tidak pernah lupa dengan aib orang lain. Sungguh ini adalah musibah besar. Diantara cara agar terhindar dari musibah ini adalah dengan senantiasa melakukan introspeksi, evaluasi diri atau muhasabah.Oleh karena itu hamba hamba Allah jangan lupa melihat kekurangan diri dengan melakukan introspeksi diri, evaluasi diri atau muhasabah.

Diriwayatkan oleh at Tirmidzi yaitu  dari Umar bin Khaththab, beliau berkata : 

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ

Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab dan berhiaslah (dengan amal shalih) untuk pagelaran agung (yaitu hari kiamat kelak).

Ketika seseorang senantiasa melakukan muhasabah terhadap dirinya maka akan memperoleh keutamaan yang banyak, diantaranya adalah :

Pertama : Hisab di akhirat menjadi ringan.

Seorang hamba yang senantiasa melakukan muhasabah terhadap apa yang telah diucapkan dan apa yang telah diperbuatnya akan memiliki potensi yang kuat untuk selalu menjaga diri dari berbagai keburukan. Ini akan meringankan bebannya menghadapi hisab di akhirat kelak.

Umar bin Khaththab berkata : Hisablah (evaluasilah, introspeksilah, periksalah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk hari aradh akbar (yaumul hisab). Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab dirinya di dunia.

Kedua : Menumbuhkan sifat malu.

Seorang yang selalu melakukan muhasabah maka akan muncul sifat malu kepada Allah atas keburukan yang pernah diucapkan dan pernah diperbuatnya. Diantara manfaat lain adalah bahwa jika seseorang membiasakan diri menjaga rasa malu kepada Allah Ta’ala maka rasa malu itu akan menghalanginya untuk melakukan perbuatan buruk. Pada gilirannya rasa malu itu akan menjadi kebiasaan, tabiat dan perangainya sehingga menjadikannya juga malu kepada manusia dan akhirnya mencegah dirinya  melakukan perbuatan buruk terhadap sesama.

Ketahuilah bahwa rasa malu itu semuanya baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

اَلْـحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إِلاَّ بِخَيْـرٍ

Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata-mata. (H.R Imam Bukhari dan Imam  Muslim).

Dalam riwayat yang lain yaitu dari sahabat Imran bin Husain disebutkan :

اَلْـحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ

Malu itu seluruhnya kebaikan. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Ketiga : Membuat seseorang sibuk dengan urusan akhirat.

Seorang hamba haruslah menyibukkan diri di dunia ini untuk persiapan akhiratnya. Ini adalah buah dari muasabah yang senantiasa dilakukannya. Berkata Ibnu Mas’ud : Barangsiapa yang ingin akhirat maka ia akan disusahkan oleh dunia. Dan siapa yang ingin dunia maka dia akan disusahkan oleh akhirat. Maka susahlah untuk sesuatu yang fana (dunia) untuk mendapatkan yang baqa (akhirat).

Sungguh Allah Ta'ala telah mengingatkan dalam firman-Nya :

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (Q.S. al Hasyr 18).

Wallahu A'lam. (3.070).