Minggu, 03 Mei 2026

HAMBA HAMBA ALLAH HARAP CEMAS SETELAH MELAKUKAN IBADAH

 

HAMBA HAMBA ALLAH HARAP CEMAS SETELAH MELAKUKAN IBADAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Para ulama terdahulu dan orang-orang shaleh, jika selesai beribadah, senantiasa merasa harap dan cemas. Harap ibadahnya diterima dan cemas dan khawatir  kalau  ditolak. Ketahuilah, bahwa bisa jadi tidak semua ibadah kita diterima Allah karena keikhlasan kita tidak penuh atau ittiba’ kita yang belum sempurna.

Sungguh, sikap harap dan cemas ini akan menumbuhkan dorongan bagi setiap mukmin untuk terus  berusaha memperbaiki amalnya agar bernilai disisi Allah. Allah Ta’ala berfirman :  

وَٱلَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآ ءَاتَوا۟ وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَٰجِعُونَ

Dan mereka yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka. (Q.S. Al Mu’minun 60).

Syaikh as Sa’di dalam kitab Tafsirnya antara  lain menjelaskan makna “dengan hati yang takut” adalah mereka merasa takut saat amalan-amalannya ditampilkan kepada Allah dan berdiri dihadapanNya, sekiranya amalan mereka tidak bisa menyelamatkan mereka dari siksa Allah.

 

Ketahuilah bahwa Rasulullah salallahi wasallam selesai shalat  subuh selalu berdzikir pagi, antara lain dengan  membaca doa : 

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً نَافِعاً، وَرِزْقاً طَيِّباً، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

Ya Allah aku bermohon ilmu yang bermanfaat, rizki  yang  baik dan amalan yang diterima. (H.R. Imam Ahmad).

Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam selalu berdoa antara lain meminta agar amalan diterima. Ini suatu indikasi bahwa ada kemungkinan amal seseorang ditolak.

Nabi Ibrahim alaihissalam, setelah melakukan amal yang besar, yang diperintahkan Allah,  meninggikan fondasi bangunan Ka’bah  atau ada yang menyebut   membangun Ka’bah bersama anaknya  Ismail, beliau berdoa : 

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

 Ya Rabb kami terimalah amal kami sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. (Q.S al Baqarah 127).

Beliau berdoa seperti itu karena berharap amalnya diterima dan cemas kalau ditolak.

Oleh karena itu, amal shalih yang telah kita lakukan haruslah dijaga dan dipelihara agar bermanfaat untuk akhirat kita karena ini bekal kita pada saat kembali ke kampung akhirat. Sungguh yang akan ditimbang dan dihisab nanti adalah amal shalih, tidak yang lain.

Wallahu A'lam. (3.699). 

 

 

 

 

BERSEDEKAH TIDAKLAH TERLALU BERAT BAGI ORANG YANG IMANNYA KOKOH

 

BERSEDEKAH TIDAKLAH TERLALU BERAT BAGI ORANG YANG IMANNYA KOKOH

Disusun oleh : Azwur B. Chaniago

Bersedekah berupa harta adalah dianjurkan dan sangat terpuji dalam syariat Islam. Allah Ta'ala telah mengingatkan perkara ini dalam firman-Nya :


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ ۗ

Wahai orang orang yang beriman !. Infakkanlah sebagian dari rizki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari ketika tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan dan tidak ada lagi syafaat. (Q.S al Baqarah 254).

Dan juga Allah Ta'ala berfirman :

 

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ

 

Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang diantara kamu.  (Q.S al Munaafiquun 10).

Sungguh, bersedekah dengan harta  TIDAKLAH TERASA TERLALU BERAT BAGI ORANG ORANG YANG IMANNYA KOKOH, karena banyak keutamaannya :

Pertama : Sebagai tanda orang bertakwa. Allah Ta'ala berfirman :

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(Orang yang bertakwa adalah) orang yang menafkahkan hartanya dalam  KEADAAN LAPANG ATAU DALAM KEADAAN SEMPIT, menahan amarahnya dan suka memaafkan kesalahan manusia. Dan Allah menyukai orang orang yang berbuat baik. (Q.S Ali Imran 134).

Kedua : Akan mendapat ganti berlipat ganda sampai 700 kali lipat. Allah Ta'ala berfirman : 

مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنۢبُلَةٍ مِّا۟ئَةُ حَبَّةٍ ۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S al Baqarah 261).

Ketiga : Sedekah sebagai penghapus dosa.  Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :

الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ وَالْحَسَدُ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

Sedekah itu akan menghapuskan dosa sebagaimana air dapat memadamkan api. Hasad akan memakan kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar. (H.R al Baihaqi dalam Syu’abul Iman).

Wallahu A'lam. (3.698).