Selasa, 09 Agustus 2016

WAKTU UTAMA YANG DISYARIATKAN UNTUK BERSHALAWAT



WAKTU UTAMA YANG DISYARIATKAN UNTUK BERSHALAWAT

Oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh Allah Ta’ala memerintahkan orang orang yang beriman untuk bershalawat kepada Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam. Bahkan Allah dan para malaikat-Nya juga bershalawat kepada Rasulullah. 

Allah berfirman : “Innallah wal malaaikatahuu yushalluuna ‘alannabiyi. Ya aiyuhalladzina aamanuu shallu ‘alaihi wa sallimuu  tasliimaa”  Sesungguh Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkan salam penghormatan kepadanya. (Q.S al Ahzaab 56).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam Kitab Tafsirnya tentang maksud ayat ini adalah bahwa : Allah Ta’ala memberitahu para hamba-Nya akan kedudukan Rasulullah di sisinya dan dihadapan para malaikat. Dimana Allah memuji beliau dihadapan malaikat. Begitu pula para malaikat bershalawat kepada beliau. Lalu Allah Ta’ala memerintahkan kepada para penghuni bumi untuk bershalawat dan mengucapkan salam kepada beliau agar berpadu pujian penghuni langit dan para penghuni bumi semuanya untuk beliau.

Syaikh as Sa’di berkata : Ayat ini mengandung pemberitahuan akan kesempurnaan Rasulullah dan ketinggian derajatnya serta kemuliaan kedudukannya di sisi Allah dan di sisi makhluk-Nya dan juga ketinggian kemasyhurannya. Allah dan malaikat malaikatnya bershalawat untuk Nabi, maksudnya adalah Allah memujinya dihadapan para malaikat-Nya dan malaikat muqarrabun (dekat dengan Allah) yang paling tinggi kedudukannya karena kecintaan Allah Ta’ala kepada Rasulullah dan para malaikat yang muqarrabun pun memuji dan mendoakannya.

“Wahai orang orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. Yaitu : (1) Dengan meneladani Allah dan para malaikat-Nya dan sebagai balasan baginya atas sebagian haknya pada diri kalian. (2) Sebagai pelengkap iman kalian untuk menghormati, mencintai  dan memuliakannya. (3) Dan untuk menambah amal kebajikan kalian serta penghapus bagi dosa dosa kalian. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Imam Bukhari berkata : Abu ‘Aliyah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan shalawat Allah atas Nabi Muhammad adalah pujian-Nya terhadap beliau di hadapan para malaikat-malaikat-Nya. Sedang shalawat malaikat adalah doa. Ibnu ‘Abbas menambahkan makna kata “yushalluuna” adalah memberkahi. Diriwayatkan juga dari Sufyan ats-Tsauri dan ulama semasa beliau :  Shalawat Rabb adalah rahmat sedang shalawat malaikat adalah istighfar.

Diantara keutamaan Shalawat adalah menjadi orang yang dekat dengan Nabi shallallahualaihi wa sallam. Beliau bersabda : “Orang yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku.” (H.R. at Tirmidzi, dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani).

Sangatlah banyak tempat dan keadaan yang utama  disyariatkan  untuk bershalawat kepada Rasulullah, diantaranya :

Pertama : Ketika tasyahud awal dan tasyahud  akhir dan lafadznya telah diajarkan oleh Rasulullah Salallahu ‘alahi Wasallam.

Dari Ka’ab bin Ujrah, bahwa para sahabat pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tata cara shalawat ketika shalat. Beliau menjawab, “Ucapkanlah: Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa shallaita ‘alaa Ibrahim, wa ‘alaa aali Ibrahim, innaka hamiidum-majiid, Allahumma baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa baarakta ‘alaa Ibrahim, wa ‘alaa aali Ibrahim innaka hamiidum-majiid.

Ya Allah, bershalawatlah kepada Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada Ibrahim dan keluarganya, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Luas. Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrahim dan keluarganya, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lahi Mahaluas.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Kedua : Ketika selesai mendengar adzan. Diantaranya adalah sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits dari Abdullah bin Amr bahwa ia mendengar Nabi bersabda : “Apabila kamu mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti yang diucapkannya. Kemudian bershalawatlah kepadaku, karena barang siapa yang bershalawat sekali kepadaku maka Allah membalasnya sepuluh kali kepadanya.  Kemudian mintalah kepada Allah  untukku wasilah karena sungguh ia adalah kedudukan yang tinggi di surga yang tidak patut (diraih) kecuali oleh seorang hamba dari kalangan hamba hamba Allah. Dan aku berharap akulah orangnya. Maka barangsiapa yang memohon wasilah kepada Allah untukku, niscaya dia berhak mendapatkan syafaat.  (H.R Imam Muslim, at Tirmidzi dan Nasa’i).

Ketiga : Ketika hari Jumat yaitu sejak malam hari Jumat, kita dianjurkan memperbanyak membaca shalawat. Dari ‘Aus bin ‘Aus, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya hari yang paling mulia adalah hari Jum’at. Pada hari ini, Adam diciptakan.... karena itu, perbanyaklah membaca shalawat untukku. Karena shalawat kalian ditujukan kepadaku.” (HR. An-Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh al-Albani).

Keempat :  Setiap pagi dan sore, kita dianjurkan membaca shalawat minimal 10 kali. Dari Abu Darda’ radiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahualaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku ketika shubuh 10 kali dan ketika sore 10 kali, maka dia akan mendapat syafa’atku pada hari kiamat.” (H.R ath Thabrani dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami’).

Kelima : Pada saat  berkumpul bersama banyak orang untuk memperbincangkan sesuatu, jangan lupa disertai dengan shalawat, Dari Abu Hurairah radiyallahuanhu, Nabi shallallahualaihi wa sallam bersabda : “Jika ada sekelompok kaum yang duduk bersama dan tidak mengingat Allah serta tidak bershalawat kepada Nabi mereka, maka itu akan menjadi bahan penyesalan baginya. Jika Allah berkehendak, Allah akan menghukum mereka, dan jika Allah berkehendak, Dia akan mengampuni mereka.” (H.R Imam Ahmad, at Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Syuaib al-Arnauth).

Keenam : Ketika menyebut nama Nabi shallallahualaihi wa sallam, atau mendengar nama  beliau disebut, kita disyariatkan untuk membaca shalawat. Dari Abu Hurairah radiyallahuanhu, Nabi shallallahualaihi wa sallam bersabda, “Celakalah orang yang ketika namaku disebut, dia tidak bershalawat untukku.” (H.R at Tirmidzi).
Dari Husain bin Ali bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahualaihi wa sallam bersabda, “Orang yang bakhil, adalah orang yang ketika namaku disebut, dia tidak bershalawat untukku.” (HR. Ahmad dan sanadnya dinilai shahih oleh Syuaib al-Arnauth).

Ketujuh : Ketika kita berdoa, maka mulailah  dengan memuji Allah dan bershalawat untuk Nabi Salallahu ‘alaihi Wasallam. Rasulullah pernah mendengar seorang laki laki berdoa dalam shalatnya, namun tidak mengagungkan Allah dan tidak bershalawat kepada Nabi. Rasulullah bersabda : “Orang ini terburu buru”.
Kemudian Rasulullah memanggilnya dan bersabda :  “Idza shalla ahadukum falyabda’ bitahmiidi rabbihi’azza wajalla, watstsanaa-i ‘alaihi, tsummal yushalli ‘alan nabiyi shalallahu ‘alaihi wasallama, tsummal yad’u ba’du bimaa syaa-a.” Jika salah seorang dari kalian berdoa, hendaklah ia memulainya dengan mengucapkan hamdalah serta puja dan puji kepada Allah, lalu bershalawat kepada Nabi, barulah setelah itu ia berdoa meminta apa yang ia inginkan  (H.R Abu Dawud, at Tirmidzi dan an Nasa’i, dari Fudhalah bin ‘Ubaid).
Seorang hamba janganlah menghalangi terkabul doanya dengan tidak membaca shalawat sebelum berdoa. Rasulullah bersabda : “Kullu du’aa-in mahjuubun hatta yushalli ‘alan nabiyi shalallahu ‘alaihi wasallam.” Semua doa terhalang hingga diucapkan shalawat kepada Nabi Salallahu ‘alaihi wasallam. (H.R ad Dailami, ath Thabrani dan al Baihaqi

Kedelapan : Pada  shalat jenazah. Shalawat disyariatkan untuk dibaca ketika takbir kedua  shalat jenazah. Bershalawat untuk Nabi Salallahu ‘alaihi wasallam (pada takbir kedua shalat jenazah) sebagaimana lafadz shalawat dalam tasyahhud.  (Lihat asy-Syarhul Mumti’, Syaikh Utsaimin)

Ketahuilah bahwa shalawat  kepada Nabi Salallahu ‘alaihi Wasallam adalah sesuatu yang disyariat sehingga memiliki  nilai ibadah dan berpahala disisi Allah Ta’ala bagi yang mengamalkannya. Oleh karena itu shalawat harus dilakukan dengan dua syarat agar bernilai disisi Allah  yaitu ikhlas dan ittiba’. Jadi, setiap shalawat yang kita baca haruslah :
Pertama : Tidak mengharapkan dari amalan tersebut kecuali ridha Allah Ta’ala dan berharap pahala dari-Nya. 

Kedua : Ittiba’ dalam shalawat yaitu : (1) Mencontoh atau mengikuti redaksi shalawat yang diajarkan oleh Rasulullah sehingga tidak sampai berlebih lebihan atau ghuluw. (2)  Tidak membuat redaksi shalawat sendiri karena Rasulullah telah mengajarkan bagaimana cara bershalawat kepada beliau. (3) Bershalawat pada moment atau waktu waktu yang diajarkan dan dicontohkan beliau.

Kita memang terkadang menyaksikan pada zaman ini ada sebagian saudara saudara kita yang bershalawat kepada Nabi dengan shalawat yang memuat unsur ghuluw. Shalawat tersebut (barangkali dikarang sendiri atau dikarang oleh gurunya?) tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah. Mereka terkadang ghuluw dalam melafazkan shalawat baik redaksinya maupun jumlahnya. 

Oleh karena itu, ada baiknya,  sama sama kita periksa kembali  shalawat yang kita amalkan selama ini apakah (1)  Sudahkah betul betul ikhlas karena Allah Ta’ala dan (2) Dengan redaksi shalawat serta waktu waktu bershalawat yang telah diajarkan oleh Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam. 

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (746)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar