Sabtu, 06 Agustus 2016

BIJI TASBIH UNTUK MENGHITUNG BILANGAN DZIKIR ?



BIJI TASBIH UNTUK MENGHITUNG BILANGAN DZIKIR ?

Oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh Allah Ta’ala telah menyuruh orang yang beriman untuk senantiasa banyak berdzikir sebagaimana disebut dalam firman-Nya : “Yaa aiyuhal ladziina aamanuu udzukurullaha dzikran kasyiiraa”. Wahai orang orang yang beriman berdzikirlah (dengan menyebut Nama) Allah, dzikir yang sebanyak banyaknya. (Q.S al Ahzaab 41).

Syaikh as Sa’di berkata : Allah memerintahkan orang orang beriman agar berdzikir, mengingat-Nya sebanyak banyaknya dalam bentuk tahlil, tahmid, tasbih, takbir dan lain lainnya dari setiap bacaan yang mengandung pendekatan diri kepada Allah. Minimalnya hendaklah seorang manusia menekuni wirid (dzikir) pagi dan sore, dzikir seusai shalat lima waktu dan disaat kondisi tertentu dan sebab sebab khusus (seperti dzikir mau keluar rumah, masuk masjid, keluar masjid dan yang lainnya, pen). Dan hendaknya hal ini ditekuni secara terus menerus sepanjang waktu dalam segala kondisi. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Sungguh sangatlah banyak keutamaan berdzikir bagi seorang hamba, diantaranya adalah :
Pertama : Allah berfirman : Fadzkuruunii adzkurkum wasykuruulii wa laa takfuruun”. Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (dengan memberikan rahmat dan pengampunan). Dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.  (Q.S al Baqarah 152).

Kedua : Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam menjelaskan keutamaan berdzikir, diantaranya sebagaimana disabdakan beliau : “Maukah kamu aku tunjukkan perbuatanmu yang terbaik, paling suci disisi Rajamu (Rabbmu), dan paling mengangkat derajatmu. Lebih baik bagimu daripada menginfakkan emas dan perak. Dan lebih baik bagimu daripada bertemu dengan musuhmu, lantas kamu memenggal lehernya atau mereka memenggal lehermu ?. Para sahabat yang hadir berkata : Mau (wahai Rasulullah). Beliau bersabda : Dzikir kepada Allah Yang Mahatinggi”.    (H.R  at Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Ketiga : Rasulullah juga mengabarkan kepada kita bagaimana bedanya antara orang berdzikir dan yang tidak berdzikir. Beliau bersabda : “Matsalul ladzii yadzkuru rabbahu walladzii laa yadzkuru rabbahu matsalul hayyi wal maiyit”. Perumpamaan orang  yang berdzikir (ingat) kepada Rabb-nya dengan orang yang tidak bersdzikir kepada Rabb-nya laksana orang yang hidup dengan orang yang mati. (H.R Imam Bukhari)

Diantara tata cara pelaksanaan dzikir dalam syariat Islam ada dua macam yaitu :

     Pertama :  Dzikir muqayyad. Dzikir muqayyad adalah dzikir yang terikat dengan waktu, tempat dan bilangan tertentu, seperti dzikir setelah shalat, dzikir pagi dan petang, dzikir setelah adzan dan lain-lain. Dzikir ini harus diterapkan sebagaimana tuntunannya tanpa ada sedikitpun penambahan atau pengurangan atau menggantikannya dengan kata yang lain.

    Kedua : Dzikir mutlaq. Dzikir mutlaq adalah dzikir yang tidak terikat dengan    waktu, tempat dan bilangan tertentu, akan tetapi ia dapat dilakukan pada setiap saat bahkan tidak perlu dihitung jumlahnya.

Lalu bagaimana menghitung bilangan dzikir ?. Sebagian saudara saudara kita  ada yang menggunakan subhah atau biji tasbih untuk menghitung bilangan  dzikir. Ini tidak dicontohkan oleh Rasulullah dan tidak juga oleh sahabat. 

Memang ada lafazh yang dinisbatkan kepada Nabi dan dikatakan oleh sebagian orang  sebagai hadits yaitu : “Sebaik baik alat untuk berdzikir adalah biji biji tasbih”. Para ahli hadits seperti Imam Ibnu Asakir dan Khatib al Baghdadi serta Syaikh al Albani menyebutkan bahwa hadits ini maudhu’ atau palsu.

    Pada lafazh  lain  disebutkan bahwa Rasulullah berdzikir dengan menggunakan   batu batu kerikil.  Lafazh ini dijadikan dalil oleh sebagian orang  yang  menggunakan biji tasbih untuk menghitung bilangan dzikir. Tapi hadits ini juga dihukumi palsu.  (Lihat Silsilah hadits Dha’if dan Maudhu’ Syaikh al Albani).

    Ketahuilah bahwa Rasulullah telah mengajarkan kepada kita cara   menghitung bilangan kalimat dzikir yaitu dengan ruas jari tangan kanan.

Beliau bersabda : “Hendaklah kalian selalu bertasbih, bertahlil dan mensucikannya (mengagungkan)-Nya. Dan hitunglah (dzikir dzikir tersebut) dengan ruas ruas jari tangan, karena jari jari tangan tersebut akan ditanya dan dijadikan berbicara (bersaksi dihadapan Allah pada hari Kiamat). Dan janganlah kalian lalai dan melupakan rahmat Allah. (H.R Imam at Tirmidzi dan Abu Dawud, dihasankan oleh Syaikh al Albani). 

Hadits ini menunjukkan keutamaan menghitung bilangan dzikir dengan dengan jari jari tangan. Sesungguhnya jari jari tangan dan anggota badan yang lainnya akan menjadi saksi atas amal yang dilakukan oleh seorang hamba. Allah berfirman : “Yauma tasyhadu ‘alaihim alsinatuhum wa aidiihim wa arjuluhum bimaa kaanuu ya’maluun”. Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. (Q.S an Nuur 24). 

Jari jari tangan yang dimaksud adalah jari jari tangan kanan dan inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah. Dari Abdullah bin Amr bin al ‘Ash, sesungguhnya dia berkata : “Aku melihat Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam menghitung tasbih (dzikir) dengan tangan kanan beliau”. (H.R at Tirmidzi, Abu Dawud dan yang lainnya, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Ini juga semakna dengan keumuman hadits dari Aisyah : “Bahwa beliau Rasulullah menyukai menggunakan tangan kanan dalam perkara yang baik baik”. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).  
       
Memang ada diantara ulama yang membolehkan menghitung bilangan dzikir dengan subhah atau yang semisalnya, karena subhah  ini hanya sarana atau alat untuk menghitung saja. Namun demikian ketahuilah  bahwa menghitung dengan menggunakan jari jari tangan kanan tentu lebih utama karena dicontohkan Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam.  

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam (741)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar