Minggu, 28 Agustus 2016

RAMALAN DUKUN WAJIB DITOLAK



RAMALAN DUKUN WAJIB DITOLAK

Oleh : Azwir B. Chaniago.

Pengertian kahanah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin pernah ditanya seseorang tentang mendatangi dukun. Lalu beliau memberikan jawaban : “Kahanah (perdukunan) wazan fa’alah diambil dari kata takahhun yaitu menerka nerka dan mencari hakikat dengan perkara perkara yang tidak ada dasarnya.”

Nah, kalau sifatnya menerka nerka dan mencari hakikat dengan perkara perkara yang tidak ada landasannya maka patutkah ramalan dukun dipercaya ?. Jawabannya adalah tidak, tidak layak dipercaya. Wajib ditolak.

Bagaimana mau dipercaya ramalan mereka. Kapan mereka  akan bersin atau kapan mereka akan  batuk pastilah si dukun yang mengaku tahu hal yang ghaib ini tidak tahu. Apalagi mau meramal nasib, rizki, jodoh orang lain. Bahkan sudah pasti mereka juga tidak tahu bagaimana  akhir perjalanan dirinya dengan jodohnya. Cuma sebagian orang dinegeri kita ini masih ada saja yang percaya pada kebohongan dukun.

Debat paling singkat dengan dukun.

Perhatikanlah saudaraku bagaimana kecerdikan Syaikh al Albani sebagai orang yang berilmu dalam menghadapi dukun. Pada suatu kali seorang dukun datang kepada Syaikh Muhammad Nasiruddin al Albani rahimahullah. Dia mengatakan  bahwa dirinya mengetahui hal hal ghaib. Si dukun tersebut meminta untuk berdebat dengan Syaikh al-Albani. Lalu Syaikh  berkata kepada dukun : Engkau boleh berdebat denganku akan tetapi dengan satu syarat.

Maka dukun tadi bertanya : Apa syaratmu itu ? Syaikh Al-Albani berkata: Bagaimana kamu mengatakan  tahu tentang hal ghaib akan tetapi tidak mengetahui syaratku ?. Sang dukun terbungkam dan selesailah debat. (sumber: kulalsalafiyeen.com).
Kunci kunci ilmu ghaib hanya Allah yang mengetahui.
Sungguh kunci-kunci ilmu ghaib hanya Allah saja yang mengetahui. Allah Ta’ala berfirman : yang artinya, “Dan hanya di sisi-Nya lah kunci-kunci ilmu gaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia” (QS Al An’aam: 59).
Apakah yang dimaksud kunci-kunci ilmu gaib tersebut? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa kunci-kunci ilmu gaib tersebut ada lima macam. Beliau bersabda : ”Kunci-kunci ilmu gaib ada lima, hanya Allah yang mengetahuinya : tidak ada yang tahu apa yang terjadi esok hari kecuali Allah, tidak ada yang tahu apa yang dikandung oleh rahim kecuali Allah, tidak ada yang tahu kapan turun hujan kecuali Allah, tidak ada seorang pun yang tahu di bumi mana dia akan meninggal, dan tidak ada yang tahu kapan terjadi hari kiamat kecuali Allah.” (H.R Imam Bukhari).

Allah Taala  berfirman : “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok . Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Luqman: 34).

Para ulama menyebutkan bahwa kelima hal ini disebut dengan kunci ilmu gaib karena kelima hal ini merupakan awal dan pintu gerbang dari hal-hal lain yang mengikutinya.
Adapun nabi, rasul, dan para malaikat, maka terkadang Allah memberitahukan kepada mereka beberapa perkara yang gaib seperti tanda-tanda kiamat yang banyak disampaikan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan lain sebagainya. 

Namun demikian, ilmu ghaib yang Allah sampaikan pada utusan-Nya tersebut hanyalah sebatas yang Allah beri tahukan sehingga tidak mencakup seluruh ilmu ghaib yang ada. Allah berfirman yang artinya, “(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (Q.S Jin 26-27)

Nasehat Syaikh Utsaimin tentang mendatangi dukun.
Syaikh Utsaimin berkata   : Dukun adalah orang yang menceritakan tentang perkara perkara ghaib dimasa yang akan datang. Sedangkan orang yang mendatangi dukun itu terbagi menjadi tiga macam :

Pertama : Orang yang mendatangi dukun lalu bertanya kepadanya dengan tanpa mempercayainya. Ini diharamkan. Hukuman bagi pelakunya adalah tidak diterima shalatnya selama 40 malam. Rasulullah bersabda : “Man aataa ‘arraafan fasa-alahu ‘an syai-in lam tuqbal lahu shalaatun arba’iina yauman” Barangsiapa mendatangi peramal lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu maka tidak diterima shalatnya selama 40 hari. (H.R Imam Muslim).

Kedua : Orang yang mendatangi dukun lalu bertanya kepadanya dan mempercayai apa yang diberitakannya maka ini merupakan kekafiran kepada Allah Ta’ala. Karena ia mempercayai dukun tentang pangakuaannya mengetahui perkara ghaib adalah mendustakan firman Allah : “Qul laa ya’lamu man fis samaawaati wal ardhil ghaiba illallahu, wamaa yasy’uruuna aiyaana yub’atsuun”. Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghaib, kecuali Allah. (Q.S an Naml 65).

Dan disebutkan dalam suatu hadits shahih : “Man aataa kaahinan fa shaddaqahu bimaa yaquulu fa qad kafara bimaa unzila ‘alaa muhammadin”. Barangsiapa mendatangi dukun lalu mempercayai apa yang dikatakannya maka ia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad. (H.R Imam Ahmad, Imam at Tirmidzi).

Ketiga : Orang yang mendatangi dukun lalu bertanya kepadanya untuk menjelaskan ihwalnya (perdukunan) kepada manusia, dan bahwasanya itu adalah perdukunan, pengelabuan dan penyesatan. Ini tidak mengapa.

Dalilnya adalah bahwa Nabi Salallahu ‘alaihi wasallam kedatangan Ibnu Shayad, lalu Nabi menyembunyikan sesuatu untuknya dalam dirinya. Kemudian beliau  bertanya  kepadanya, apa yang beliau sembunyikan untuknya ?. Ia menjawab : asap. Nabi bersabda : “Pergilah dengan hina, kamu tidak akan melampaui kemampuanmu” (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Jadi, inilah keadaan (kesimpulan) orang yang datang kepada dukun.

Pertama : Dia datang kepada dukun lalu bertanya kepadanya dengan tanpa mempercayainya dan bukan dengan  tujuan menjelaskan keadaannya (kepada manusia). Ini diharamkan dan hukuman bagi pelakunya adalah tidak diterima shalatnya selama 40 hari atau 40 malam.

Kedua : Dia datang kepada dukun lalu bertanya kepadanya dan mempercayainya. Ini kekafiran kepada Allah Ta’ala yang wajib atasnya bertaubat darinya dan kembali kepada Allah. Jika tidak bertaubat maka ia mati di atas kekafiran.

Ketiga : Dia datang kepada dukun dan bertanya kepadanya untuk mengujinya dan menjelaskan keadaannya kepada manusia. Ini tidak mengapa.

(Dari al Majmu’ ats Tsamin min Fatawa asy Syaikh Utsaimin)

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (772).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar