Rabu, 31 Januari 2024

TIGA PERKARA YANG DIANJURKAN JIKA JATUH KEPADA MAKSIAT

 

TIGA PERKARA YANG DIANJURKAN JIKA JATUH KEPADA MAKSIAT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Terkadang ada saudara saudara kita yang jatuh  kepada perbuatan maksiat dan dosa. Diantara penyebabnya adalah : (1) Mengikuti hawa nafsu yang cenderung kepada keburukan. (2) Digelincirkan syaithan yang selalu mengajak kepada keburukan dan yang lainnya.

Ketahuilah bahwa perbuatan maksiat atau dosa akan sangat membahayakan diri seseorang di dunia dan di akhirat kelak. Imam Ibnul Qayyim, dalam Kitab ad Daa' wa ad Dawaa'  menyebutkan lebih dari lima puluh akibat buruk yang akan mendatangi orang yang berbuat maksiat dan dosa.

Oleh karena itu bersegera dan sekarang juga berhentilah dari semua keburukan. Sungguh kita tidak tahu kapan Allah Ta'ala akan mendatangkan malaikat untuk mewafatkan kita. Jangan sampai menjadi penyesalan yang tidak bisa ditebus lagi.

Tetapi ketahuilah bahwa SUNGGUH ALLAH TA'ALA MAHA PENGASIH, MAHA PENYAYANG DAN MAHA PENGAMPUN. Ada banyak perkara yang bisa  menyelamatkan seseorang yang jatuh kepada perbuatan SEBURUK DAN SEBANYAK APAPUN.    

Tiga diantara perkara yang bisa menyelamatkan seseorang yang jatuh kepada perbuatan buruk, maksiat dan dosa adalah :

Pertama : Segera bertaubat. Allah Ta’ala berfirman :  

وَتُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang orang yang beriman, agar kamu beruntung.  (Q.S an Nuur 31).

Syaikh as Sa’di berkata : Allah mengkaitkan kebahagiaan dengan bertaubat. Allah berfirman : “supaya kamu beruntung”. Sehingga tidak ada jalan menuju keberuntungan kecuali dengan taubat. (Bertaubat) yaitu kembali dari hal hal hal yang dibenci oleh Allah menuju perkara perkara yang Dia cintai baik secara  zhahir maupun bathin.

Keterangan ini menandakan bahwa setiap orang beriman membutuhkan taubat karena Allah telah mengarahkan pembicaraan kepada seluruh orang beriman. (Kitab Tafsir Karimir Rahman).

Kedua : Memohon ampun. Dalam satu hadits qudsi disebutkan : 

يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ

Wahai hamba hamba-Ku sesungguhnya KALIAN SEMUA BERBUAT SALAH  di waktu malam dan siang, sedangkan Aku mengampuni segala dosa semuanya, maka MINTALAH AMPUN KALIAN SEMUA   kepada-Ku niscaya Aku ampuni kalian. (H.R Imam Muslim).

Oleh karena itu bersegeralah memohon ampun dan Allah Ta’ala Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Allah Ta’ala berfirman :  

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا

Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S an Nisa’ 110).

Ketahuilah bahwa  orang orang yang SELALU BERISTIGHFAR atau memhon ampun tak akan di adzab. Allah Ta’ala berfirman :  

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Dan tidaklah (pula) Allah akan mengadzab mereka sedang mereka (masih) memohon ampunan. (Q.S al Anfaal 33). 

Ayat ini sejalan pula dengan sabda Rasulullah Salallahu 'alaihi wasallam yaitu :  

العبْدُ آمنٌ منْ عذابِ الله عَزّ وجلَّ ما استغفر

Hamba akan aman dari ADZAB ALLAH TA'ALA selama dia memohon ampun kepada Allah Ta'ala. (H.R Imam Ahmad)

 Ketiga : Melakukan perbuatan baik.

Setelah bertaubat dan memohon ampun maka selanjutnya satu perkara penting yang semestinya dilakukan adalah selalu dan bersegera melakukan PERBUATAN BAIK. Ketahuilah bahwa perbuatan baik yang dilakukan seorang hamba bukan hanya untuk mendapatkan PAHALA DAN KEBAIKAN tetapi juga UNTUK MENGHAPUS KESALAHAN yang telah dilakukan.  Allah Ta’ala berfirman :

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ ۚ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ

Dan laksanakanlah shalat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. PERBUATAN PERBUATAN BAIK ITU MENGHAPUS KESALAHAN KESALAHAN. Itulah peringatan bagi orang orang yang selalu mengingat (Allah). Q.S Hud 114.

Dan juga Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

عَنْ أَبِي ذَرّ جُنْدُبْ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذ بْن جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Dari Abu Dzar, Jundub bin Junadah dan Abu Abdurrahman, Mu’az bin Jabal radhiallahuanhuma dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam beliau bersabda : Bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, IRINGILAH KEBURUKAN DENGAN KEBAIKAN NISCAYA MENGHAPUSNYA dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik. (H.R at Tirmidzi)

Wallahu A'lam. (3.215)

MAKNA DAN HAKIKAT HASAD ATAU DENGKI

 

MAKNA DAN HAKIKAT HASAD ATAU DENGKI

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, sifat hasad, dengki atau suka iri adalah salah satu sifat yang sangat tercela dalam syariat Islam. Allah Ta'ala memerintahkan umat manusia untuk menjauhkan diri dari sifat hasad atau dengki terhadap kelebihan yang Allah berikan kepada sebagian makhluk-Nya. Allah Ta'ala berfirman :

. وَلَا تَتَمَنَّوْا۟ مَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بِهِۦ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا ٱكْتَسَبُوا۟ ۖ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبٌ مِّمَّا ٱكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْـَٔلُوا۟ ٱللَّهَ مِن فَضْلِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًا

Dan janganlah kalian iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kalian lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Fan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S an Nisa' 32).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :  

 لا تَبَاغَضُوا وَلا تَحَاسَدُوا وَلا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوانًا

Janganlah kalian saling membenci, saling hasad, saling membelakangi dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam juga   mengingatkan bahwa tidak ada kebaikan dalam hasad. Beliau bersabda : “Laa yazalun naasu bikhairin maa lam yatahaasaduu” Senantiasa manusia dalam kebaikan selama mereka tidak saling mendengki. (H.R Imam ath Thabrani, dihasankan oleh Syaikh al Albani) 

Ketahuilah bahwa hasad adalah merasa tidak suka atau benci bila melihat seseorang diberi kelebihan nikmat oleh Allah. Ini termasuk salah satu penyakit hati yang berbahaya.

Sungguh, penyakit ini bisa datang kapan saja dan mampu  menyerang siapa saja, orang kaya atau miskin, berpangkat atau bukan, berpendidikan tinggi atau tidak. Pengemis juga bisa dihinggapi penyakit ini. Dan sungguh ustadz atau kiyai pun bisa terkena virus hasad ini. Tinggal menghitung stadiumnya saja. Ada yang parah ada yang tidak parah.

Al Imam Ibnu Taimiyah  berkata : Sesungguhnya hasad adalah di antara penyakit hati. Inilah penyakit kebanyakan manusia. Tidak ada yang bisa lepas darinya kecuali sedikit sekali. Oleh karena itu ada yang mengatakan, tidak ada jasad yang terlepas dari sifat hasad. Namun, orang yang berpenyakit (hati) akan menampakkannya. Sedangkan orang yang mulia akan menyembunyikannya. (Majmu' Fatawa).

Ketahuilah bahwa orang yang hasad atau dengki kepada saudaranya, hakikatnya adalah seorang yang protes atau tidak suka kepada ketetapan Allah Ta’ala. Seolah olah lisannya mengatakan : Wahai Rabbku mengapa Engkau berikan nikmat itu kepada si Fulan dengan kedudukan dan harta sedangkan Engkau tidak memberikannya kepadaku.

Abdullah bin Mas’ud berkata : Janganlah kalian memusuhi nikmat-nikmat Allah. Lalu ada yang bertanya : Siapakah yang memusuhi nikmat nikmat Allah. Beliau menjawab : Yaitu orang orang yang dengki atas nikmat dan karunia Allah yang diberikan kepada sebagian manusia. (Tafsir al Qurtubi)

Jadi hakikat hasad adalah tidak suka dengan ketetapan Allah dan seolah olah memusuhi nikmat nikmat Allah yang diberikan kepada seseorang. Inilah puncak keburukan dari sifat hasad.

Wallahu A'lam. (3.214)

 

 

Senin, 29 Januari 2024

PALING UTAMA RASA MALU KEPADA ALLAH TA'ALA

 

PALING UTAMA RASA MALU KEPADA ALLAH TA'ALA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telah mengingatkan tentang kewajiban orang orang beriman untuk senantiasa  memelihara rasa malu dalam dirinya, karena rasa malu TERKAIT DENGAN IMAN. Beliau bersabda :


الإِيمانُ بضْعٌ وسَبْعُونَ، أوْ بضْعٌ وسِتُّونَ، شُعْبَةً، فأفْضَلُها قَوْلُ لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، وأَدْناها إماطَةُ الأذَى عَنِ الطَّرِيقِ، والْحَياءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإيمانِ

Iman itu terdiri dari tujuh puluh tiga atau enam puluh tiga cabang. Paling utamanya adalah ucapan Lailaha illallah, sedangkan yang paling rendahnya membuang duri dari jalan, sedangkan malu termasuk bagian dari iman. (H.R Imam Muslim).

 

Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam juga bersabda :

 

 اَلْـحَيَاءُ وَ اْلإِيْمَانُ قُرِنَا جَمِـيْعًا ، فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ اْلاَ خَرُ

Iman dan malu merupakan pasangan dalam segala situasi dan  kondisi. Apabila rasa malu sudah tidak ada, maka iman pun hilang. (H.R al Hakim).

Hakikatnya, rasa malu itu ada pada tiga keadaan yaitu malu kepada diri sendiri, malu kepada orang lain dan YANG PALING UTAMA ATAU PALING PUNCAKNYA ADALAH  MALU KEPADA ALLAH.

 

Ketahuilah bahwa rasa malu kepada Allah adalah paling puncak karena sungguh Allah Ta'ala  terus menerus melihat kita di mana pun kita berada dan tidak ada yang tersembunyi dari-Nya segala yang kita ucapkan dan kita lakukan. Allah Ta’ala berfirman :

 

أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَى

Bukankah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya ?. (Q.S al Alaq  14)

إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Sesungguhnya Allah mengawasi kalian. (QS an Nisa 1).

وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dan Allah Maha Melihat terhadap apa yang kalian kerjakan. (Q.S al Baqarah 265)

Malulah kepada Allah Yang Maha  Mengetahui tentang diri hamba hamba-Nya  baik ketika  bersama dengan banyak orang ataupun sendirian. Malulah kepada-Nya, baik ketika dilihat orang ataupun tersembunyi, karena tidak ada satu pun yang tersembunyi dari-Nya.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata : Barangsiapa yang merasa malu kepada Allah ketika bermaksiat kepada-Nya, maka Allah pun malu untuk mengadzabnya saat ia bertemu dengan-Nya dan barangsiapa yang tidak merasa malu untuk bermaksiat kepada-Nya, maka Allah pun tidak malu untuk mengadzabnya". (Al Jawabul Kafi).

Selanjutnya, renungkanlah sebuah hadis yang mulia yang menjelaskan kepada kita hakikat dan maksud dari rasa malu kepada Allah. Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :

 

اسْتَحْيُوا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ ، قَالَ قُلْنَا : يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَسْتَحْيِي وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ، قَالَ لَيْسَ ذَاكَ وَلَكِنَّ الِاسْتِحْيَاءَ مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى ، وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى ، وَلْتَذْكُرْ الْمَوْتَ وَالْبِلَى ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ

 

Hendaklah kalian malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sifat malu yang sebenarnya. Perawi mengatakan, kami menjawab :  Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami malu, walhamdulillah. Rasulullah bersabda : Bukan seperti itu. Tetapi malu kepada Allah dengan sebenarnya adalah hendaklah dia menjaga kepala dan apa yang ada di dalamnya, hendaklah dia menjaga perut dan apa yang dikandungnya, dan hendaklah dia selalu ingat kematian dan busuknya jasad.

Barangsiapa yang menginginkan kehidupan akhirat, hendaklah dia meninggalkan perhiasan dunia. Dan barangsiapa yang mengerjakan yang demikian, maka sungguh dia telah malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sifat malu yang sebenarnya. (H.R at Tirmidzi, hadits hasan).

Wallahu A'lam. (3.213).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

Jumat, 26 Januari 2024

TEMAN AKRAB DI DUNIA BISA MENJADI MUSUH DI AKHIRAT

 

TEMAN AKRAB DI DUNIA BISA MENJADI MUSUH DI AKHIRAT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketika di dunia banyak orang memiliki teman akrab. Mereka sering kelihatan bersama sama dalam berbagai situasi. Suka makan bersama, nonton bola bersama, ke mal bersama, nongkrong bersama termasuk hura hura juga bersama atau selalu bareng.

Tetapi ternyata di akhirat kelak mereka itu saling memusuhi, saling menghujat dengan penuh penyesalan karena pertemanan akrab mereka ketika berada di dunia. Allah Ta'ala berfirman :  

يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا

لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا

Wahai, celaka aku !. Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si Fulan itu teman karib (ku). Sungguh dia telah menyesatkan aku dari peringatan (al Qur an) ketika (al Qur an) itu telah datang kepadaku. Dan syaithan memang pengkhianat manusia. (Q.S al Furqan 28-29).

Ini adalah bentuk penyesalan yang tiada habis habisnya. Allah Ta'ala telah mengingatkan dalam firman-Nya :

الأخلاء يومئذ بعضهم لبعض عدو إلا المتقين 

Teman-teman akrab pada hari itu (hari Kiamat) sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali (persahabatan) orang-orang yang bertakwa. (Q.S az Zukhruf 67).

Dalam kitab Tafsir al Muyassar, Departemen Agama Saudi Arabia  disebutkan : Orang-orang yang berteman akrab dalam kemaksiatan kepada Allah di dunia, sebagian dari mereka akan berlepas diri dari sebagian yang lain di hari Kiamat, akan tetapi orang-orang yang berteman di atas landasan takwa kepada Allah, maka pertemanan mereka tetap berlangsung di dunia dan sampai ke akhirat.

Sewaktu di dunia berkawan akrab dan saling setia tetapi pada hari kemudian di akhirat saling bermusuhan. Kenapa bisa begitu ?. Syaikh  Abdurrahman bin Nashir as Sa'di berkata : Karena persahabatan mereka dan kecintaan mereka sewaktu di dunia dibangun bukan karena Allah sehingga berbalik menjadi permusuhan pada hari kiamat. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Oleh karena itu sebelum bersahabat karib dengan seseorang maka perhatikanlah nasehat Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam dalam perkara ini :

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu,  seseorang di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman akrab. (H.R Abu Dawud dan at Tirmidzi).

Imam Ibnu Qudamah al Maqdisi memberikan nasehat tentang memilih teman (sahabat atau teman akrab). Beliau berkata :   Secara umum, hendaknya orang yang engkau pilih menjadi sahabat memiliki lima sifat berikut : (1) Orang yang berakal. (2)  Memiliki akhlak yang baik, (3) Bukan orang fasik (yang banyak berbuat dosa). (4) Bukan ahli bid’ah (yang mengada ada dalam agama) dan  (5)  Bukan orang yang rakus dengan dunia. (Mukhtashar Minhajul Qashidin).

Oleh karena itu hamba hamba Allah sangatlah dianjurkan untuk memperhatikan kembali tentang siapa saja temannya di dunia agar tidak menyesal di akhirat kelak.  Wallahu A'lam. (3.212)

 

 

 

 

 

 

 

     

Kamis, 25 Januari 2024

BISA BERIBADAH HANYA DENGAN PERTOLONGAN ALLAH

 

BISA BERIBADAH HANYA DENGAN PERTOLONGAN ALLAH

Disusun oleh : Azwir B.Chaniago

Sungguh, manusia diciptakan dalam keadaan lemah, yaitu sebagaimana firman-Nya : 

وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

Manusia diciptakan (bersifat) lemah. (Q.S an Nisa’ 28).

Syaikh as Sa'di berkata : Karena rahmat Allah yang sempurna, kebaikan-Nya yang menyeluruh dan ilmu serta hikmah-Nya atas kelemahan manusia dari berbagai segi. Lemah dari postur tubuhnya, lemah dalam kehendak, lemah dalam bertekad, lemah dalam keimanan, lemah dalam kesabaran. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Dengan berbagai kelemahan dan kekurangan, ternyata memang ada banyak manusia   mampu melakukan berbagai ketaatan, beribadah sebagaimana YANG DIPERINTAHKANNYA. Tetapi ketahuilah bahwa semua itu hanya bisa dilakukan adalah SEMATA MATA KARENA PETUNJUK DAN PERTOLONGAN DARI ALLAH TA'ALA.

Dari al Barra' bin Azib radhiyallahu 'anhu bahwa Rasullullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda : 

والله لولا الله ما اهتدينا ولا تصدقنا ولا صلينا

Demi Allah !. Sekiranya bukan karena Allah tidaklah kami mendapatkan hidayah (petunjuk), tidak pula kami mampu bersedekah dan tidak pula kami (mampu) mendirikan shalat. (H.R Imam Bukhari  dan Imam Muslim).

Ketahuilah bahwa sesungguhnya semua kebaikan dari ilmu dan amalan ketaatan yang dikerjakan seorang hamba hakikatnya adalah kemudahan serta hidayah  atau petunjuk dari Allah Ta'ala.

Oleh karena itu, ketika datang perasaan merasa lebih dari orang lain terutama dalam ibadah dan ketaatan maka datang PERASAAN UJUB dan akhirnya bisa jatuh kepada kesombongan.

Lalu adakah upaya yang bisa dilakukan untuk menghindar dari sifat ujub. ?. Prof. DR. Syaikh Abdurrazzaq, seorang ulama besar Saudi, Guru Besar pasca sarjana di Universitas Islam Madinah,  memberikan nasehat bagaimana menghindari sifat ujub.

Pertama : Dengan menyadari bahwa kita beribadah (melakukan suatu kebaikan) bukanlah karena kemampuan kita  semata, tapi (hakikatnya) adalah  disebabkan karunia Allah, sehingga sangatlah tidak pantas kalau kita membangga banggakannya terhadap manusia.

Kedua : Dengan senantiasa menyadari bahwa sebenarnya amal (perbuatan baik) kita belum seberapa dibanding orang lain, sehingga tidak pantas kita membanggakannya.

Ketiga : Dengan senantiasa menyadari bahwa kita manusia, mempunyai kesalahan dan dosa yang banyak sehingga tidaklah pantas bagi seseorang yang banyak kesalahan dan dosa untuk  berbangga diri atau ujub. (Dari ceramah beliau di salah satu radio Da'wah).

Kesimpulannya, ingatlah  bahwa kalau bukan karena pertolongan Allah Ta'ala tidak ada kebaikan atau ibadah sekecil apapun yang sanggup kita lakukan. Laa hawla wa laa quwwata illaa billah.

Wallahu A'lam. (3.211).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

   

 

 

 

Rabu, 24 Januari 2024

PAHALA TIGA AMALAN INI DICURAHKAN ALLAH SEKEHENDAK-NYA

 

PAHALA TIGA AMALAN INI DICURAHKAN ALLAH SEKEHENDAK-NYA  

Disusun oleh : Azwir B.Chaniago

Allah Ta'ala berjanji akan memberikan balasan kepada hamba hamba-Nya yang selalu berbuat baik. Allah Ta'ala berfirman :

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula. (Q. S ar Rahman 60).

Dan sungguh Allah Ta'ala akan membalas perbuatan baik sekecil apapun yang dilakukan hamba hamba-Nya yatu sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya :

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah niscaya dia akan melihat (balasan) nya. (Q.S al Zalzalah 7).

Syaikh as Sa'di berkata : (Balasan ini) bersifat umum untuk seluruh kebaikan dan keburukan, karena bila manusia bisa melihat amalan seberat biji zarrah yang merupakan sesuatu yang terkecil dan diberi balasannya maka yang lebih besar tentu lebih bisa dilihat, sebagaimana disebutkan dalam firmaan-Nya :

وَوَجَدُوا۟ مَا عَمِلُوا۟ حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

Dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabb-mu tidak menzhalimi seorang jua pun. (Q.S al Kahfi 49).

Dalam ayat ini terdapat anjuran untuk mengerjakan kebaikan meski suatu yang kecil. (Tafsir Taisir Karimir Rahman)

Selain itu, ketahuilah bahwa sungguh ada amalan amalan yang secara khusus dibalas tanpa hitung hitungan, tetapi balasannya sesuai kehendak Allah Ta'ala sepeti tidak ada batas. Oahalanya sangatlah besar dan hanya Allah Yang Maha Mengetahui. Diantara amalan dimaksud adalah :

Pertama : Bagi yang memaafkan kesalahan orang lain. Allah Ta'ala berfirman :

 فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Maka barangsiapa yang MEMAAFKAN dan berbuat baik maka pahalanya ATAS TABGGUNGAN ALLAH. (Q.S asy Syura 40)

Syaikh as Sa'di berkata : Tingkatan keutamaan adalah memberikan maaf dan berdamai dengan orang yang berbuat kesalahan.Allah akan memberinya balasan upah YANG SANGAT BESAR DAN PAHALA YANG SANGAT BANYAK.

Kedua : Bagi yang menjaga sikap sabar.

Ketika seseorang didatangi ujian berupa musibah   terasa sangat berat. Tetapi Allah Ta’ala mengingatkan agar bisa bersabar dan sungguh Allah Ta’ala menjanjikan PAHALA TANPA BATAS. Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas. (Q.S az Zumar 10).

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata : Adapun kesabaran, pahalanya berlipat ganda tidak terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa ganjarannya sangat besar sekali hingga tak mungkin bagi seorang insan untuk membayangkan pahalanya karena tidak bisa dihitung dengan bilangan. 

Bahkan juga, pahala sabar termasuk pahala yang maklum diisi Allah tanpa bisa dibatasi. Tidak pula dapat disamakan dengan mengatakan satu kebaikan dilipat gandakan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat. Kesabaran itu pahalanya tanpa batas. (Syarah Riyadush Shalihin)

Ketiga : Bagi yang melakukan ibadah puasa.

Sungguh amalan puasa seorang hamba, Allah khususkan untuk diri-Nya. Sehingga pahala amalan puasa bisa tak terbatas jumlahnya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ

Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (dalam satu hadits Qudsi) : Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya, disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena Aku. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Wallahu A'lam (3.210)

 

 

 

 

Selasa, 23 Januari 2024

TETAP BERDOA MESKIPUN TERASA BELUM DIKABULKAN

 

TETAP BERDOA MESKIPUN TERASA BELUM DIKABULKAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

 

Imam Ibnul Qayyim menyebutkan : Salah satu kesalahan yang dapat menghalangi terkabulnya doa adalah ketergesa gesaan seorang hamba. Ia menganggap doanya lambat dikabulkan, lantas dia merasa jenuh dan letih.  Ibarat seorang petani yang menanam tanaman, kemudian ia menjaga dan menyiraminya. Namun karena terlalu lama menunggu hasilnya, orang itu pun membiarkan dan mengabaikan tanaman tersebut. (Kitab Ad Daa’ wa ad Dawaa’)

Ada sebagian saudara saudara kita yang mengatakan : Aku sudah lama berdoa tetapi terasa belum juga dikabulkan. Sungguh saudaraku, kita terkadang tidak tahu apakah doa kita sudah dikabulkan atau dikabulkan seperti apa. Rasulullah Salallahu 'alahi Wasallam bersabda : 

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ ، وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ ، إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ : إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الآخِرَةِ ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا قَالُوا : إِذًا نُكْثِرُ ، قَالَ : اللَّهُ أَكْثَرُ.

Tidak ada seorang muslim pun yang berdoa dengan sebuah doa yang tidak terkandung di dalamnya dosa dan pemutusan silaturahmi, kecuali Allah akan memberikannya salah satu dari ketiga hal berikut : Allah akan mengabulkannya dengan segera, mengakhirkan untuknya di akhirat atau memalingkannya dari keburukan yang semisalnya.

Para sahabat berkata : Kalau begitu kami akan memperbanyak doa kami.  Beliau berkata : Allah lebih banyak lagi (kebaikannya). H.R Imam Ahmad, dari Abu Said al Khudri.

Sebagai penutup tausiyah ini dinukil perkataan Syaikh Salim bin 'Ied al Hilali tentang pengabulan doa yaitu :

= Doa seorang muslim mustajab, tidak ditolak tetapi harus dengan adab dan syaratnya.

= Doa seorang muslim dikabulkan dengan tiga kemungkinan (1) Dikabulkan sesuai dengan permintaan. (2) Mengakhirkan untuknya di akhirat atau (3) Memalingkannya dari keburukan yang semisalnya.

= Disunnahkan untuk mengulang ulang doa karena hal itu menampakkan kerendahan hati, kebutuhan dan kelemahan seorang hamba kepada Allah Ta'ala.

= Kekayaan Allah Ta'ala sangatlah luas dan kedua tangannya terbuka. Kekayaan Allah tidak akan berkurang karena permintaan hamba hamba-Nya. Segala yang ada di sisinya tidak akan habis walaupun permohonan melimpah dan yang meminta berulang ulang.

= Disunnahkan banyak  meminta kepada Allah Ta'ala. Sesungguhnya Allah Ta'ala tidak merasa keberatan sedikit pun. Kalau engkau menduga telah banyak meminta sesungguhnya kebaikan Allah Ta'ala lebih banyak dari semua itu. Hal ini menunjukkan  pengagungan kepada Allah Ta'ala. (Syarah Riyadhus Shalihin).

Wallahu A'lam. (3.209).