Sabtu, 30 April 2016

SHALAT BERJAMAAH MENINGGIKAN DERAJAT



SHALAT BERJAMAAH MENINGGIKAN DERAJAT
DAN MENDAPAT SURGA

Oleh : Azwir B. Chaniago

Di zaman kita ini banyak diantara manusia yang mengabaikan shalat berjamaah. Pada hal sebagai hamba yang beriman, kita berkewajiban untuk patuh  kepada Allah dan RasulNya terutama  dalam melazimkan diri untuk shalat berjamaah   di masjid. Allah berfirman : “Wa aqimush shalata wa aatuz zakaata war ka’u ma’ar raaki’in. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah bersama orang yang rukuk. (Q.S al Baqarah 43).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan tentang ayat ini bahwa : Hendaklah kalian bersama orang orang beriman dalam berbagai perbuatan mereka yang terbaik. Dan yang paling utama dan sempurna dari semua itu adalah shalat. Dan banyak ulama yang menjadikan ayat ini sebagai dalil bagi diwajibkannya shalat berjamaah. 

Syaikh Abdurrahman  bin Nashir as Sa’di dalam kita Tafsirnya menjelaskan : “Dan rukuklah bersama orang  yang rukuk” maksudnya shalatlah bersama orang orang yang shalat. Dalam hal ini ada suatu perintah untuk shalat berjamaah dan kewajibannya.
Ketahuilah bahwa sungguh Rasulullah senantiasa shalat berjamaah di masjid bersama para sahabat. Dan kita sebagai pengikut beliau haruslah berusaha dengan sungguh sungguh untuk  melazimkannya pula sebagaimana yang dicontohkan beliau dan para sahabat serta orang orang shalih sesudahnya.    
        
Dalam sebuah riwayat disebutkan : “Inna Rasulullahi shalallahu ‘alaihi wasallam ‘allamnaa sunanul huda, wa inna min sunanil huda shalata fil masjidil ladzi yuadzdzanu fiih.”  (Dari Ibnu Mas’ud) Sesungguhnya Rasulullahi salallahu ‘alaihi wasallam telah mengajarkan kepada kami jalan-jalan petunjuk. Dan diantara jalan jalan petunjuk itu adalah shalat di masjid yang dikumandangkan adzan didalamnya. (H.R Muslim).

Rasulullah bersabda : “ Sungguh aku ingin memerintahkan agar segera dikumandangkan iqamah untuk shalat, lalu aku akan menyuruh salah seorang untuk mengimami sekelompok manusia. Kemudian aku pergi bersama beberapa orang yang membawa seikat kayu bakar menuju orang orang yang tidak  menghadiri shalat berjamaah lalu aku akan membakar rumah rumah mereka” (Mutafaq ‘alaih).
Ketahuilah saudaraku, bahwa Rasulullah memiliki pribadi yang sangat lembut dan sangat penyayang. Namun jika ada orang orang melalaikan shalat berjamaah ke masjid maka beliau  marah bahkan mengancam untuk membakar rumah rumah mereka. Kenapa beliau marah. Ini tentulah karena demikian penting dan banyaknya keutamaan shalat berjamaah di masjid.

Sungguh seorang hamba yang senantiasa shalat berjamaah di masjid akan memperoleh banyak kebaikan, dihilangkan keburukan dan diberi derajat yang tinggi disisi Allah. Dan juga   Allah Ta’ala menjanjikan surga tempat tinggalnya yang abadi.

Rasulullah bersabda : “Man raaha ila masjidil jamaa’ati fakhuthwatun tamhuu saiyatun wa khuthwatun taktubu lahu hasanatun dzahiban waraji’an” Siapa yang berangkat ke masjid (untuk shalat) berjamaah maka langkah (yang satu) menghapus satu keburukan dan langkah (yang lain) menuliskan baginya satu kebaikan, saat pergi dan kembali (Shahihut Targhib wat Tarhib).

Rasulullah bersabda : “Man tathahhara fii baitihi syumma masya ila baitin min buyutillah liyaqdhiya faridhatan min faraa-idillahi kaanat khuthwataahu ihdaahuma tahuththu  khathiiatan wal ukhra tarfa’u  darajah.” Siapa yang berwudhu’ di rumahnya lalu berjalan menuju rumah di antara rumah-rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban (dari) Allah maka salah satu dari kedua langkahnya menghapus dosa-dosa dan yang lain meninggikan derajatnya. (H.R Imam Muslim)  
  
Rasulullah bersabda : “Man ghadaa ilal masjidi waraaha a’adalallahu lahu nuzulan minal jannati kullama ghadaa waraah.”  Siapa yang pergi menuju masjid dan pulang (darinya) niscaya Allah menyediakan tempat tinggal baginya di surga setiap kali ia pulang pergi. (Mutafaq ‘alaih).

Oleh karena itu seorang hamba hendaklah mewajibkan dirinya  untuk senantiasa  melaksanakan shalat fardhu secara berjamaah di masjid. Dengan demikian dia akan memperoleh banyak sekali kebaikan sebagaimana yang dijanjikan Allah Ta’ala melalui Rasul-Nya.

Insya Allah bermanfaat bagi kita semua. Wallahu A’lam (648)

RASULULLAH TIDAK SUKA MEMPERSULIT MASALAH



RASULULLAH TIDAK SUKA MEMPERSULIT MASALAH

Oleh : Azwir B. Chaniago

Sangatlah  beruntung umat Islam karena mereka  mendapat hidayah mengikuti  Nabi yang diutus untuk diteladani dalam segala aspek kehidupan  dunia dan juga untuk keselamatan di akhirat. Beliau menjadi suri tauladan terutama bagi umatnya dalam hal aqidah, ibadah, akhlak dan muamalah.

Keteladanan beliau sungguh telah dijelaskan dan dipuji Allah Ta’ala dalam firman-Nya : “Laqad kaana lakum fii rasuulillahi uswatun hasanatun, liman kaana yarjullaha wal yaumil aakhira wa dzakarallaha katsiiraa”. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) ari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah. (Q.S al Ahdzaab 21).

Imam Ibnu Katsir berkata : Ayat yang mulia ini adalah pokok yang agung tentang mencontoh Rasulullah dalam berbagai perkataan, perbuatan dan prilakunya.  Untuk itulah Allah Tabaaraka wa Ta’ala memerintahkan manusia untuk mensuri tauladani Nabi pada hari Ahzab dalam kesabaran, keteguh, kepahlawanan, perjuangan dan kesabarannya dalam menanti pertolongan dari Rabb-nya. 

Ketahuilah bahwa salah satu keteladanan dari Rasulullah   bagi umat Islam  adalah dalam banyak keadaan beliau tidak suka mempersulit masalah. Beliau senantiasa mencari yang paling mudah dari yang mudah. Termasuk kemudahan yang beliau berikan dalam melaksanakan perintah syariat secara umum. Diantara kemudahan yang beliau ajarkan adalah :

Pertama : Rasulullah bersabda : “Maa nahaitukum anhu fajtanibuhu. Wamaa amartukum bihi faktu minhu matatha’tum.” Apa yang aku larang kalian atasnya maka jauhilah. Dan apa yang aku perintahkan kalian maka lakukanlah semampu kalian (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Kedua : Dari Aisyah Radhiyallahu anha berkata : “Apabila Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam disuruh memilih di antara dua perkara, niscaya beliau memilih yang lebih mudah di antara keduanya, selama itu tidak dosa. Adapun jika itu adalah dosa, maka beliau adalah orang yang paling jauh dari dosa.” (Muttafaq alaih)

Ketiga : Sebuah hadits yang diriwayatkan dari  Abdullah bin Abu Aufa, dia mengatakan bahwa  ada seorang datang (bertanya) kepada Nabi dan berkata : “Inni laa astahi’u an aakhudza minal qur-aan syai-an fa’alimnii maa yujzi-unii minhu”. Saya tidak bisa menghafal sesuatu (ayat) dari al Qur-an. Tolong ajarkan kepadaku sesuatu yang menggantikannya.

Maka beliau bersabda : katakanlah : “Subhanallahi wal hamdulillahi wa laa ilaha illallahu wallahu akbar, walaa haula walaa quwata illaa billahil ‘aliyil ‘azhiim”.
Dia (orang itu) berkata : Wahai Rasulullah, ini semua untuk Allah. Apa yang menjadi bagianku ?. Rasulullah bersabda : “Allahumma arhamnii warzuqnii wa’aafinii wahdinii”. Ya Allah berikanlah kepadaku rahmat, rizki keselamatan dan hidayah … (H.R Abu Dawud dan Ibnu Hibban, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Dari hadits ini dapat diambil faedah, sesugguhnya Nabi memberi jalan keluar yang mudah bagi orang yang tidak menghafal al Qur-an sedikitpun. Orang tersebut hanya diperintahkan membaca : Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaha ilallah, wallahu akbar. Kemudahan ini tentulah sementara waktu hingga  orang ini bisa membaca dan menghafal surat al Fatihah dan bacaan bacaan lainnya dalam shalat. 

Keempat : Diantara hadits yang juga menunjukkan kemudahan dari Rasulullah bagi umatnya adalah kemudahan bagi orang yang lupa melakukan shalat. Sebuah hadits dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda : “Man nasiya shalaatan fal yushalli idza dzakarahaa laa kaffaarata lahaa illaa dzalik”. Barangsiapa lupa shalat hendaknya mengerjakannya pada saat mengingatnya, tidak ada tebusan kecuali itu (Mutafaq ‘alaihi). 

Dalam hadits tersebut, Nabi memberi kemudahan bagi orang yang lupa terhadap shalatnya, yaitu dengan dua cara. (1) Memerintahkannya untuk shalat saat mengingatnya. (2) Tidak ada kafarat atau denda baginya karena lupa terhadap shalat.
Imam al Khaththabi berkata : Ini mengandung dua kemungkinan : (1) Ia tidak bisa menggantinya kecuali dengan melaksanakannya. (2) Ia tidak dituntut membayar denda atau sedekah juga tidak menggandakan shalatnya. Ia hanya disuruh mengerjakan shalat yang ditinggalkannya. (Dari ‘Umdatul Qari).

Begitulah pelajaran yang amat berharga bagi kita untuk senantiasa memberi kemudahan dan tidak membuat kesulitan dalam suatu masalah. Lalu bagaimana dengan sebagian manusia di zaman ini yang suka mempersulit sesuatu yang sebenarnya mudah dan memberatkan sesuatu yang sebenarnya ringan. ?.

 Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua.  Wallahu A’lam. (653)       



IBARAT SESEORANG MEMEGANG BARA API



IBARAT SESEORANG MEMEGANG BARA API

Oleh : Azwir B. Chaniago

Zaman sekarang disebut sebagai akhir zaman karena sudah semakin dekat berakhirnya dunia ini beserta segala isinya. Dan dizaman ini pula akan semakin banyak fitnah atau ujian. Oleh karena itu, jika seorang hamba tidak mau jatuh kepada kerugian dan kebinasaan maka dia harus semakin kokoh berdiri di atas agamanya yang lurus meskipun sangatlah berat. 

Rasulullah telah mengingatkan umatnya tentang hal ini dalam sabda beliau :  “Ya’tii ‘alannaasi zamaanul qaabidhu ‘alaa diinihi kalqaabidhi ‘alal jamr”. Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api. (H.R at Tirmidzi, dishaihkan oleh Syaikh al Albani).

Itulah perumpamaan yang diberikan oleh Rasulullah tentang betapa beratnya memegang agama yang benar di akhir zaman ini yaitu bagaikan memegang bara api. Memegang bara api tentulah sangat berat karena panasnya dan jika dilepaskan berarti seseorang melepaskan agamanya. 

Imam al Munawi rahimahullah dalam menjelaskan hadits ini beliau berkata : Nabi Shallallahualaihi wasallam mengibaratkan dengan perumpamaan yang bisa dicerna secara inderawi. Maksudnya orang yang bersabar dalam berpegang pada hukum Al Qur’an dan As Sunnah, akan mendapatkan perlakuan keras dan kesulitan-kesulitan dari ahlul bid’ah dan orang-orang menyimpang. (Mereka) dianalogikan bagai memegang bara api dengan genggaman tangannya, bahkan lebih dahsyat dari itu.(Faidhul Qadir).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di berkata : “Pada akhir zaman akan sedikit kebaikan dan sebab-sebabnya, merajalela keburukan dan sebab-sebabnya dan pada saat itu orang yang berpegang teguh dengan agama sangat sedikit jumlahnya. Yang sedikit ini berada dalam keadaan kesusahan (karena banyaknya fitnah) sebagaimana orang yang mengenggam bara api karena banyak yang menentang dan banyak fitnah yang menyesatkan, fitnah syubhat, keraguan, berpaling dari kebenaran, fitnah syahwat dan condongnya makhluk kepada dunia dan tenggelam dengan kemilau dunia baik zhahir dan batin.”(Bahjah Qulubil Abrar)

Sungguh tentulah tidak nyaman  menggenggam bara api yang memang panas dan bisa membahayakan diri dan agama seseorang. Lalu bagaimana seseorang bisa menjaga dan menyelamatkan agama  dizaman ini meskipun menghadapi finah atau ujian yaitu ibarat  memegang bara api yang membakar. Diantaranya adalah :

Pertama : Ikhlas dalam memegang dan menjalankan agama ini.
Makna   ikhlas adalah  niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain. Memurnikan niat dari segala sesuatu  yang bisa merusaknya. Ketahuilah bahwa  fitnah atau ujian dalam agama itu di akhir zaman memang berat tetapi keikhlasan dalam memegangnya untuk mencari ridha Allah maka insya Allah akan menjadi lebih ringan.

Allah Subhanahu Ta’ala berfirman : “Wamaa umiruu illaa liya’budullaha mukhlishiina lahuddiin. Padahal mereka hanya diperintah untuk menyembah Allah dengan ikhlas mantaatiNya semata mata karena (menjalankan) agama. (Q.S al Baiyinah 5).
   
Kedua : Memegang agama ini dengan kaffah.
Diantara yang bisa membuat ringannya ujian dan cobaan dalam beragama adalah dengan memegang dan menjaga agama ini  secara kaffah. Pegang keseluruhan, tidak setengah setengah. Fitnah dalam agama ini diibaratkan dengan bara api maka ketahuilah kalau bara api itu kita pegang dengan kuat maka dia akan lumat dan apinya bisa mati. Wallahu A’lam.
    
Allah Ta’ala berfirman : “Yaa aiyuhal ladziina aamanuudkhulu fiis silmi kaaffah” Wahai orang orang yang beriman !. Masuklah kedalam Islam secara keseluruhan.  (Q.S al Baqarah 208).

Syaikh as Sa’di berkata : Ini adalah perintah Allah Ta’ala kepada orang orang yang beriman untuk masuk “ke dalam Islam kaffah, keseluruhan” maksudnya dalam seluruh syariat syariat agama. Mereka tidak meninggalkan sesuatu pun dari agama. Bahkan menjadi satu hal yang wajib yang mana nafsunya tunduk pada agama. Ia melakukan segala perbuatan baik dengan segala kemampuannya. Dan apa yang tidak mampu dia lakukan maka dia berusaha dan berniat melakukannya. (Tafsir Taisir Karimir Rahman). 

Ketiga : Sabar dalam menanggung kesusahan.
Fitnah atau ujian di zaman ini terasa sangatlah berat bahkan diibaratkan oleh Rasulullah seperti memegang bara api. Jika dipegang sangatlah panas dan jika dilepaskan berarti melepaskan agama. Sungguh keadaan ini membutuhkan kesabaran yang luar biasa. 

Syaikh al Mubarakfuri menukil perkataan al Qari : Tidak mungkin menggenggam bara api kecuali dengan kesabaran yang amat sangat dalam menanggung kesusahan. Ini bisa terjadi pada zaman yang tidak bisa terbayangkan lagi bagaimana bisa menjaga agama kecuali dengan kesabararan yang besar. (Tuhfatul Ahwadzi).

Imam Hasan al Bashri berkata : Mereka diperintahkan agar bersabar di atas agama yang telah Allah Ta’ala ridhai untuk mereka yaitu agama Islam. Jangan sampai mereka meninggalkannya dengan sebab senang atau susah, sengsara atau sejahtera, sehingga mereka mati dalam keadaan sebagai orang Islam. Dan agar mereka menambah kesabaran menghadapi musuh musuh yang menyembunyikan agama mereka (Tafsir Ibnu Katsir).

Keempat : Memiliki ilmu tentang agama ini.
Seorang hamba yang hidup di zaman fitnah ini haruslah tegar di atas kebenaran. Untuk itu haruslah berusaha memiliki ilmu yang cukup sehingga bisa mengetahui mana yang benar mana yang salah, mana yang halal dan mana yang haram.  Ini adalah salah satu pagar menghadapi fitnah sehingga bara api nya tidak menjadi jadi.

Rasulullah bersabda : “Innamal ‘ilm bit ta’allum, wa innamal huluma bit tahallum. Waman yatahararal kahira yu’tihi waman yatawaqqay syarra yuuqah” Sesungguhnya ilmu didapat dengan belajar dan sesungguhnya hilm (ketenangan, kesabaran) didapat dengan melatihnya. Barangsiapa yang berusaha untuk mendapatkan kebaikan maka Allah akan memberikannya. Barang siapa yang berusaha untuk menghindari keburukan niscaya akan terhindar darinya. (H.R ath Thabrani, dihasankan oleh Syaikh al Albani).

Insya Allah ada manfaatnya untuk kita semua. Wallahu A’lam. (652)








Kamis, 28 April 2016

ORANG BERIMAN ITU BERSAUDARA



ORANG BERIMAN ITU BERSAUDARA

Oleh : Azwir B. Chaniago

Sesungguhnya orang beriman itu bersaudara. Iya ini shahih karena Allah Ta’ala yang menjelaskan,  demikian dalam firman-Nya : “Innamal mu’minuuna ikhwah”. Sesungguhnya orang orang mukmin itu bersaudara. (Q.S al Hujuraat 10). Ketahuilah bawa persaudaraan yang dimaksud adalah   dengan ikatan iman.  Inilah tali persaudaraan yang amat kuat. Tidak dihambat oleh batas negara, suku, bahasa dan yang lainnya,  tetapi diikat oleh tali iman dan akidah yang sama.  Persaudaraan ini  bukan saja di  dunia namun  insya Allah akan terus ada sampai ke akhirat.

Lalu yang paling penting adalah apa  kelanjutan   konsekwensi dan bagaimana aplikasi  dari persaudaraan itu. Sangatlah banyak ayat al Qur an dan hadits Rasulullah yang menjelaskan tentang sikap yang harus dimiliki oleh seorang yang beriman terhadap saudaranya.

Pertama : Menutup aib saudaranya. Rasulullah Salallahu ‘alahi Wasallam  dalam hadits yang diriwayatkan dari  Abu Hurairah :“Barangsiapa yang menutupi aib saudaranya se-iman maka Allah Ta’ala  akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat dan Allah Ta’ala senantiasa akan menolong hambanya selama ia menolong saudaranya. (H.R Imam Muslim).

Kedua : Menginginkan kebaikan baginya. Rasulullah bersabda : “Laa yu’minu ahadukum hatta yuhibba li akhiihi maa yuhibbu li nafsihi”. Tidak beriman salah seorang diantara kalian hingga ia mencintai (untuk) saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim). 

Syaikh Abdul Muhsin al ‘Abbad al Badr berkata : Hadits ini menafikan kesempurnaan iman yang bersifat wajib dari seorang muslim hingga dia mencintai (untuk) saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri, yaitu dalam hal duniawi dan ukhrawi. (Syarah Hadits Arba’in an Nawawiyah) 

Ketiga : Senantiasa mendoakan saudaranya. Mendoakan saudara sesama muslim adalah  bukti perhatian terhadap sesama saudara. Berdoa adalah satu amal ringan namun sangat bermanfaat. Apalagi doa zahril gaib, yaitu doa dibaca ketika sedang tidak bersama orang yang kita doakan. Lantara membaca doa zahril gaib, maka malaikat akan mendoakan orang yang  berdoa untuk saudaranya. 

Dari Abu Ad-Darda’ dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam bersabda : “Maa min ‘abdin muslimin yad’u li akhiihi bi zhahril ghaibi illaa qaala malaku wa laka bimitslih” Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata : Dan bagimu juga kebaikan yang sama (seperti yang kamu minta dalam doamu itu). (H.R Imam Muslim). 

Rasulullah bersabda : “Doa seorang Muslim untuk saudaranya dalam keadaan zahril gaib (tidak bersama saudara yang didoakan) mustajab, (dan) di atas kepalanya (orang yang mendoakan) ada Malaikat yang diutus, setiap kali orang itu berdoa untuk kebaikan saudaranya, maka Malaikat itu akan berkata amin, dan bagimu seperti itu juga”. (H.R Imam Muslim).

Tentang mendoakan sesama muslim, telah difirman Allah Ta’ala, diantaranya adalah :
(1) Allah Ta’ala berfirman tentang doa Nabi Ibrahim : “Rabbanagh firlii waliwaadaiya walil mu’minina yauma yaquumul hisaab”.  Wahai Rabb kami, beri ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang-orang mukmin pada hari diadakan perhitungan. (hari Kiamat). QS. Ibrahim: 41.

(2) Allah Ta’ala juga berfirman tentang Nabi Nuh, bahwa beliau berdoa : “Rabbighfir lii waliwaalidaiya wa liman dakhala baitiya mu’minan wal mu’miniina wal mu’minaat”  Wahai Rabbku.  Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke dalam rumahku dalam keadaan beriman, dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan.(Q.S. Nuh 28)

(3) Rasulullah diperintahkan Allah Ta’ala untuk mendoakan orang orang yang  beriman. Allah berfirman : “Wastaghfuu lidzambika wal mu’miniina wa mu’minaat” Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. (Q.S Muhammad 19).

Keempat : Saling tolong menolong dalam kebaikan. Ini juga sikap yang harus dipelihara oleh yang beriman terhadap sesama saudaranya.

Allah berfirman : “Wa ta’aawanuu ‘alal birri wat taqwaa, wa laa ta’aawanuu ‘alal itsmi wal ‘udwaan. Wattaqullaha, innallaha syadiidul ‘iqaab”. Dan tolong menolonglah  kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah sangat berat siksa-Nya. (Q.S al Maidah 2).  

Allah berfirman : “Wal mu’minuuna wal mu’minaatu ba’dhuhum auliyaa-u ba’din”. Dan orang orang yang beriman, laki laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. (Q.S at Taubah 71).

Ketahuilah bahwa Rasulullah telah mengingatkan kita semua bahwa barangsiapa yang menolong saudaranya sesama muslim maka Allah Ta’ala akan menolongnya.

Rasulullah bersabda : “Barang siapa yang membebaskan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan kesusahan dunia, maka Allah Ta’ala akan melepaskannya dari satu kesusahan kesusahan akhirat. Barangsiapa memberikan kemudahan kepada orang yang kesulitan maka Allah Ta’ala akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barangsiapa yang menutup aib seorang muslim maka Allah Ta’ala akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat. Dan Allah akan selalu menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya. (H.R Imam Muslim at Tirmidzi))

Rasulullah bersabda : “Man kaana fii hajati akhiihi kaanallahu fii hajaatihi”. Barangsiapa menolong saudaranya maka Allah akan menolongnya (Mutafaq ‘alaihi).

Insya Allah ada manfaatnya untuk kita semua. Wallahu A’lam. (651)