Rabu, 03 Agustus 2016

BERUSAHA SUPAYA TIDAK BERGANTUNG KEPADA MANUSIA



BERUSAHA SUPAYA TIDAK BERGANTUNG KEPADA MANUSIA

Oleh : Azwir B. Chaniago

Salah satu sikap terpuji seorang hamba yang beriman adalah senantiasa menyibukkan diri dengan sesuatu yang bermanfaat. Rasulullah bersabda : “Min husni islamil mar’i tarkuhu ma laya’niih” Paling baiknya Islam seseorang (ialah) meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat. (H.R Ibnu Majah, dalam Shahihul Jami’).

Jadi seorang hamba tidak akan melakukan sesuatu yang  sia sia. Dengan memohon pertolongan Allah Ta’ala dia akan selalu bersemangat melakukan yang bermanfaat bagi dunianya terlebih lagi bagi akhiratnya. Ini adalah sebagaimana disabdakan Rasulullah : “Ahrish ‘ala maa yanfa’uka, wasta’in billahi, walaa ta’jaz, wain ashabaka syai-un falaa taqul : Lau anni fa’altu kaana kadzaa wa kadzaa. Walakin Qul : qadarullahi wa maa syaa-a fa’ala, fainna lau taftahu ‘amalasy syaithaan”. Bersemangatlah untuk melakukan  apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan bersikap lemah. Jika engkau ditimpa sesuatu janganlah berkata : Seandainya aku lakukan begini dan begitu, akan tetapi katakanlah : Semuanya adalah ketentuan Allah yang melakukan segala keinginan-Nya, karena kata seandainya akan membuka tipu daya syaithan. (H.R Imam Muslim).  

Ketahuilah bahwa salah satu yang sangat bermanfaat bahkan menjadi kewajiban bagi seorang hamba adalah berusaha atau bekerja mencari rizki yang halal terutama bagi laki laki sebagai pemimpin dalam keluarganya. Sungguh ini adalah satu kemuliaan bagi seorang hamba sehingga terhindar dari sesuatu yang hina yaitu menggantungkan diri kepada kemurahan hati orang lain, meskipun  kepada orang tua ataupun saudara sendiri.

Rasulullah telah mengingatkan umatnya untuk berusaha atau bekerja mencari rizki walaupun dengan usaha yang mungkin dianggap rendah oleh sebagian manusia.  Beliau bersabda : “Sungguh seorang dari kalian yang mengambil talinya lalu dia mencari seikat kayu bakar dan dibawa dengan punggungnya kemudian dia menjualnya lalu Allah mencukupkannya dengan kayu itu lebih baik baginya daripada dia meminta-minta kepada manusia, baik manusia itu memberinya atau menolaknya”. (H.R Imam Bukhari).

Rasulullah juga telah mengingatkan tentang keutamaan memakan makanan dari hasil usaha sendiri.  Dari al-Miqdam radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tidaklah seorang (hamba) memakan makanan yang lebih baik dari hasil usaha tangannya (sendiri), dan sungguh Nabi Dawud ‘alaihissalam makan dari hasil usaha tangannya (sendiri) H.R Imam Bukhari.

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan bekerja mencari nafkah yang halal dan berusaha memenuhi kebutuhan diri dan keluarga dengan usaha sendiri. Bahkan ini termasuk sifat-sifat yang dimiliki oleh para Nabi alaihimussalam dan orang-orang yang shalih. Dalam sebuah hadits disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Nabi Zakariya ‘alaihissalam adalah seorang tukang kayu” (H.R Imam Muslim)

Dalam biografi imam besar Ahlussunnah dari generasi Tabi’ut tabi’in disebutkan bahwa  Abdullah bin al-Mubarak pernah ditanya : Engkau mengekspor barang-barang dagangan dari negeri Khurasan ke Tanah Haram/Makkah (untuk dijual), bagaimana ini?”. Maka Abdullah bin al-Mubarak menjawab : “Sesungguhnya aku melakukan (semua) itu hanya untuk menjaga mukaku (dari kehinaan meminta-minta), memuliakan kehormatanku (agar tidak menjadi beban bagi orang lain), dan menggunakannya untuk membantuku dalam ketaatan kepada Allah”. Lalu Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata: Wahai Abdullah, alangkah mulianya tujuanmu itu jika semuanya benar-benar terbukti” (Siyaru A’laamin Nubala).

Syaikh Abdurrahman as Sa’di berkata bahwa keinginan untuk bisa memenuhi kebutuhan keuangan sendiri merupakan salah satu cita cita yang mulia yang ingin dicapai oleh seorang Muslim saat dia bekerja dan berusaha. Beliau menyebutkan tentang perkara yang  bermanfaat di dunia (diantaranya) adalah seseorang harus mencari rizki.  Oleh sebab itu sepatutnya ia menempuh cara terbaik yang sesuai dengan keadaannya.

Dengan adanya sumber penghasilan meskipun belum mencukupi akan menghindarkan seorang hamba menggantungkan diri kepada manusia.  Rasulullah bersabda : “Dan sesungguhnya barangsiapa tidak mengharapkan dari orang lain, maka Allah memberinya kecukupan. Dan barang siapa menjaga dirinya niscaya Allah akan menjaga kehormatannya. Dan barangsiapa yang berusaha untuk bersabar maka Allah akan menjadikannya penyabar” (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim, dari Abi Sa’id al Khudri).

Hadits yang mulia ini ternyata telah menggugah hati Abu Sa’id al Khudri untuk menjaga diri dari meminta minta dan berharap kemurahan orang lain meskipun dia dalam keadaan sangat kekurangan. Setelah mendengar hadits ini dari Rasulullah, Abu Sa’id   berkata dalam hatinya : Demi Dzat yang mengutusmu dengan al haq, aku tidak akan meminta kepadamu apapun. Akupun kembali. Lalu Allah Ta’ala memberikan kecukupan  kecukupan dan mendatangkan kebaikan (bagiku).

Disebutkan pula dalam hadits dari Sahl bin Sa’id bahwa ‘izzah (kewibawan, harga diri) seorang yang beriman tampak kokoh jika dia tidak membutuhkan orang lain. Pada suatu kali Jibril datang kepada Rasulullah dan berkata kepada beliau : “Yaa Muhammad … wa’lam anna syarafal mu’mini qiyaamuhu bil laili wa ‘izzuhu istighna-uhu ‘aninnaas”. Wahai Muhammad  … dan ketahuilah, sesungguhnya kemuliaan seorang mukmin itu karena ia mengerjakan shalat malam dan izzah (kewibawaannya) ialah dengan tidak butuh kepada orang lain.  (H.R ath Thabrani, Abu Na’im, al Hakim dan al Baihaqi, dishahihkan oleh Syaik al Albani).

Salafush shalih mengambil pelajaran yang berharga dari pesan Rasulullah dalam hadits ini sehingga mereka bekerja dan berusaha dalam berbagai kegiatan untuk mendapatkan nafkah demi menjaga wibawa dan kehormatan diri. Mereka terus berusaha dan hanya mau meminta kepada Allah Dzat Yang Mahamulia, Maha Pemberi rizki lagi Mahakuasa atas segala sesuatu. Sungguh meminta kepada manusia akan menyebabkan kehinaan dihadapan orang lain. Membuat kehinaan terhadap diri berarti berlaku zhalim kepada diri sendiri.

Diriwayatkan bahwa Abu Qilabah (wafat 104 H) yang berpesan kepada Ayyub as Sakhtiyani : Tetaplah kamu bekerja di pasar karena sesungguhnya pekerjaanmu itu akan membuat kamu tidak bergantung kepada orang lain dan akan mendatangkan kebaikan bagi agamamu. (Abu Nu’aim dalam al Hilyah).  

Demikianlah salah satu pelajaran berharga  dari syariat Islam yang mulia  ini untuk menjaga wibawa dan harga diri umatnya yaitu berusaha dan bekerja dan tidak menggantungkan kebutuhan dirinya kepada orang lain.
Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam (740)
    






Tidak ada komentar:

Posting Komentar