Senin, 22 Agustus 2016

ALLAH MENGATUR RIZKI MENURUT UKURANNYA



ALLAH MENGATUR RIZKI MENURUT UKURANNYA

Oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh tidak ada nikmat yang diperoleh manusia kecuali dari Allah Ta’ala datangnya. Allah berfirman : “Wamaa bikum min ni’matin fa minallahi” Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah. (Q.S an Nahl 53)

Dan sangatlah banyak nikmat itu baik jumlahnya maupun jenisnya sehingga kita tidak akan pernah mampu menghitungnya. Allah berfirman  : “Wain ta’uddu ni’matalahi laa tuhshuhaa” Dan jika kalian menghitung nikmat Allah maka engkau tidak akan mampu menghitungnya. (Q.S Ibrahim 34).

Termasuk nikmat rizki berupa harta semuanya datang dari Allah Ta’ala bahkan Allah menjamin rizki semua makhluk-Nya Allah berfirman : “Wa maa min daabbatin fil ardhi illaa ‘alallahi rizquhaa” Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rizkinya. (Q.S Huud 6). 

Bahkan ada makhluk yang tidak mampu mengurus rizki baginya namun tetap memperoleh rizki dengan berbagai cara dan pengaturan dari Allah Ta’ala yaitu sebagaimana firman-Nya : “Dan berapa banyak makhluk bergerak yang bernyawa yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rizkinya sendiri. Allahlah yang memberi rizki kepadanya dan kepadamu. Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Q.S al Ankabuut 60).

Syaikh as Sa’di berkata : Allah Ta’ala Sang Pencipta telah menjamin rizki seluruh makhluk, yang kuat maupun yang lemah. Betapa banyak “binatang melata”, di muka bumi ini yang lemah kekuatannya, rendah akalnya, “yang tidak dapat membawa (mengurus) rizkinya sendiri”. Dan tidak pula dapat menyimpannya, bahkan ia senantiasa tidak dapat dapat membawa rizkinya sedikitpun, namun Allah terus menyediakan rizki untuknya pada setiap saat sesuai dengan waktunya. (Lihat Tafsir Taisir Karimir Rahman). 

Sungguh Allah Ta’ala memberi dan membagi rizki sesuai ukuran, kehendak, hikmah dan ilmu-Nya. Ada yang secara materi berlimpah ada pula yang memperoleh secukupnya. Diantara hikmahnya adalah sebagaimana dimaksud dalam firman-Nya dalam surat al Zukhruf 32 : “Apakah mereka yang membagi bagi rahmat Rabb-nya ?. Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Rabb-mu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.
    
Para ulama yang mumpuni ilmunya, telah memberikan penjelasan   tentang makna  ayat ini, diantaranya adalah : 

Pertama : Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di berkata : Dalam ayat ini terdapat peringatan atas hikmah Allah Ta’ala dalam melebihkan sebagian orang atas yang lain di dunia, agar mereka dapat mempergunakan sebagian yang lainnya, yaitu agar sebagian dari yang lain menguasai atas sebagian yang lain dalam tugas, pekerjaan dan perindustrian.

Andai semua orang sama dari segi kekayaan, pasti tidak ada yang saling memerlukan satu sama lain dan pasti banyak kepentingan dan manfaat mereka yang terbengkalai. Didalam ayat ini juga terdapat dalil bahwa nikmat agama lebih baik daripada nikmat duniawi. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).  

Kedua : Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin memberikan penjelasan tentang hikmah dari perbedaan tingkatan rizki seorang manusia dengan manusia yang lainnya adalah : Agar orang kaya menghargai nikmat Allah (yang diberikan) padanya yang berupa keluasan rizki. Lalu ia pun mensyukuri-Nya atas  nikmat tersebut sehingga ia tergolong kedalam syaakirin yaitu orang orang yang bersyukur. Sementara orang yang fakir, Allah menguji mereka dengan kekurangan supaya ia dapat bersabar dan menggapai derajat shaabiriin yaitu orang yang bersabar. 

Syaikh Utsaimin menambahkan : Bahwa kemashlahatan kemashlahatan ini dan kemashlahatan lainnya tidak terwujud bila manusia setara dalam tingkatan rizkinya. Oleh karena itu Allah menentukan  rizki bagi mereka dan memerintahkan  orang berkecukupan untuk bersyukur dan berinfak dan memerintahkan orang fakir untuk bersabar dan menunggu kelapangan dari Allah Ta’ala.

Kewajiban kita, kata Syaikh Utsaimin,  adalah ridha kepada Allah sebagai Rabb, ridha terhadap pembagian dan takdir-Nya dan ridha kepada-Nya sebagai dzat Penentu untuk kita imani hikmah hikmah dan rahasia dari ketentuan ketentuan-Nya.

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (764)











Tidak ada komentar:

Posting Komentar