Selasa, 17 April 2018

BERKATA YANG BAIK ATAU DIAM ADALAH SIKAP ORANG BERIMAN


BERKATA YANG BAIK ATAU DIAM ADALAH SIKAP 
ORANG BERIMAN

Oleh : Azwir B. Chaniago

Satu hadits yang sangat masyhur dan  menjadi sikap orang beriman adalah sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam : 

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam. (Mutafaq ‘alaihi).

Dari hadits ini, pertama sekali ada faedah yang bisa diambil, diantaranya bahwa BERKATA YANG BAIK ATAU DIAM bukanlah sekedar masalah etika berbicara tapi terkait dengan iman. Lihatlah lafazh hadits ini : “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir”, bukankah ini tentang iman ?. Jadi amatlah penting untuk berbicara dengan baik atau diam sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam.

Bahkan dalam satu hadits  Rasulullah mengingatkan bahwa  jika seseorang BERBICARA YANG BURUK (BISA JADI JUGA TERMASUK  MENULIS ATAU MENYEBARKAN SUATU TULISAN YANG BURUK, Wallahu A’lam, pen.) akan mendatangkan murka dan adzab Allah.

Lihatlah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ketika berbicara dengan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu :

أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمَلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ. قُلْتُ بَلَى يَا نَبِىَّ اللَّهِ قَالَ فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ قَالَ  كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا. فَقُلْتُ يَا نَبِىَّ اللَّهِ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ فَقَالَ  ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِى النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ.

Maukah aku beritahukan kepadamu tentang kunci semua perkara itu?” Jawabku: “Iya, wahai Rasulullah.” Maka beliau memegang lidahnya dan bersabda, “Jagalah ini”. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami dituntut (disiksa) karena apa yang kami katakan?” Maka beliau bersabda, “Celaka engkau. Adakah yang menjadikan orang menyungkurkan mukanya (atau ada yang meriwayatkan batang hidungnya) di dalam neraka selain ucapan lisan mereka?” (HR. Tirmidzi no. 2616. Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan shahih)

Bisa jadi juga seseorang, karena lisannya, dia akan dilemparkan ke neraka. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لاَ يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِى بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِى النَّارِ

Sesungguhnya seseorang berbicara dengan suatu kalimat yang dia anggap itu tidaklah mengapa, padahal dia akan dilemparkan di neraka sejauh 70 tahun perjalanan karenanya. (H.R at Tirmidzi, beliau berkata, hadits ini hasan gharib)

Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti berkata  : Orang yang berakal selayaknya lebih banyak diam daripada bicara, karena betapa banyak orang yang menyesal karena bicara dan sedikit yang menyesal karena diam. Orang yang paling celaka dan paling besar mendapat bagian musibah adalah orang yang lisannya senantiasa berbicara, sedangkan pikirannya tidak mau jalan”.(Raudhah al ‘Uqala)

Selain itu ketahuilah bahwa seseorang berkata sesuatu yang tidak baik ternyata bisa  mendatangkan adzab Allah di dunia sebelum adzab yang berat di akhirat. Perhatikanlah bagaimana perkataan yang buruk pernah mencelakakan manusia di dunia, diantaranya adalah adzab kepada Qarun. Perkara ini dijelaskan Allah Ta'ala dalam firman-Nya :

Qarun yang diberi Allah Ta’ala karunia dengan harta yang banyak ternyata tetapi dia menyombongkan diri di hadapan manusia bahkan Qarun  berkata  bahwa  harta yang dimilikinya adalah diperoleh karena ilmu yang ada padanya. “Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku… (Q.S al Qashash 78).

Allah memberi adzab yang berat kepada Qarun karena perkataannya yang buruk dan menyombongkan diri. Qarun   dibenamkan kedalam bumi bersama hartanya. Ini sebagaimana dijelaskan Allah Ta’ala dalam firman-Nya : 

  فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ

Maka Kami benamkan Qarun beserta rumahnya kedalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap adzab Allah dan tiadalah dia termasuk orang (yang dapat) membela (dirinya). Q.S al Qashash 81.

Selanjutnya, kalau kita memperhatikan sebagian manusia di zaman ini dapatlah kita mengetahui bahwa perkataan ataupun tulisan yang buruk telah membuat sebagian mereka  mengalami berbagai masalah. Mulai dari hinaan dan cercaan dari banyak orang sampai kepada berurusan dengan aparat penegak hukum.

Sungguh lisan yang kita miliki ini adalah karunia atau nikmat dari Allah Ta’ala. Oleh sebab itu mari kita gunakan lisan ini untuk sesuatu yang mendatangkan ridha-Nya.  Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.270).  



Tidak ada komentar:

Posting Komentar