Sabtu, 15 Maret 2025

PERKARA YANG BISA MENGGANGGU NILAI PUASA

 

PERKARA YANG BISA MENGGANGGU NILAI PUASA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Orang orang beriman, dimana pun berada  sangatlah gembira ketika bertemu bulan Ramadhan.  Kenapa ?, karena sungguh bulan Ramadhan banyak kesempatan beribadah. Bahkan nilainya pun dilipat ganda yaitu sebagaimana sebagaimana sabda Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam :


كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِي بِهِ ، إِنَّهُ تَرَكَ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أَجْلِيْ

Setiap amal anak cucu Nabi Adam adalah untuknya, kecuali puasa maka ia adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Sesungguhnya dia telah meninggalkan syahwatnya, makanannya dan minumannya karena Aku. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Syaikh Utsaimin berkata : Allah Ta'ala berfirman dalam puasa (وأَنَا أجْزي به  (Dan Aku  yang akan membalasnya).  Maka balasannya disandarkan kepada diri-Nya yang Mulia. Karena amalan-amalan shalih akan dilipatgandakan pahalanya dengan bilangan. Satu kebaikan dilipat gandakan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali sampai berlipat-lipat. Sementara puasa, maka Allah sandarkan pahalanya kepada diri-Nya tanpa ada kadar bilangan.

Maka Dia Subhanahu adalah Dzat yang paling dermawan dan paling mulia. Pemberian sesuai dengan apa yang diberikannya. Maka pahala orang puasa sangat besar tanpa batas. (Dari Kitab Majaalis Syahru Ramadhan).

 

Oleh karena itu hamba hamba Allah akan terus berusaha dengan sungguh agar mengisi Ramadhan dengan amal amal shalih yang disyariatkan. Selain itu juga berusaha DENGAN SUNGGUH PULA UNTUK MENJAUHI PERKARA YANG BISA MENGURANGI NILAI IBADAH dalam bulan Ramadhan terutama nilai ibadah puasa.

Ketahuilah bahwa ada beberapa perkara yang  bisa mengurangi NILAI IBADAH PUASA RAMADHAN, diantaranya :

Pertama : Tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan buruk ketika berpuasa.

Sungguh Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam telah mengingatkan kita sebagaimana sabda beliau :

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ وَالجَهْلَ، فلَيْسَ الِلهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَ شَرَابَهُ

Barangsiapa  tidak meninggalkan PERKATAAN DUSTA, PERBUATAN DUSTA, PERBUATAN BODOH maka Allah tidak akan membutuhkannya yang meninggalkan makanannya dan minuman. (H.R Imam Bukhari dan Ibnu Majah).

Salah seorang   putra Ali bin Abi Thalib yaitu Ibnul Hanafiah memberi nasehat kepada orang orang berpuasa : “Hendaklah PENDENGARANMU, PANDANGANMU, LIDAHMU DAN BADANMU JUGA PERPUASA (dari hal hal yang dilarang). Janganlah engkau jadikan hari yang engkau tidak berpuasa seperti hari yang engkau berpuasa. Dan janganlah engkau menyakiti pembantu”. (Fadhail Ramadhan, Ibnu Abid Dunya)

Kedua : Bermalas malasan dan banyak tidur ketika berpuasa.

Para salafush shalih tidaklah menggunakan saat berpuasa untuk bermalas malasan. Bahkan beberapa peperangan melawan kaum kafir terjadi bulan Ramadhan seperti :

(1) Perang Badr al Kubra.

Pada tahun ke 2 Hijriyah tepatnya tanggal 17 Ramadhan terjadi perang besar yakni perang Badar antara pasukan kaum muslimin dipimpin oleh Rasulullah melawan kaum kafir Quraisy yang dipimpin oleh Abu Jahal. Dengan pertolongan Allah Ta'ala peperangan di menangkan oleh pasukan kaum Muslimin. Pada hal padahal jumlah pasukan kaum muslimin hanya sekitar 300 orang sedangkan jumlah pasukan kafir Quraisy 1000 orang.

(2) Penaklukan kota Makkah

Pada tanggal 10 bulan Ramadhan tahun ke 8 Hijriah Rasulullah dengan 10.000 pasukan kaum muslimin  dari Madinah memasuki kota Makkah.  Jadi ini terjadi di bulan Ramadhan.

Selain itu, kita melihat sebagian saudara saudara kita  mengunakan waktu untuk tidur ketika menjalani puasa. Mungkin ada yang bersandar kepada hadits : Tidurnya orang berpuasa adalah ibadah.

Syaikh al Albani dalam Silsilah Hadits Dha’if dan Maudhu’ n, mengatakan bahwa hadits ini dha'if-lemah.

Dalam perkara ini pula, Syaikh Muhammad Shalih al Utsaimin memberi nasehat : Maka nasihat saya kepada orang ini agar tidak menghabiskan waktu puasanya dengan banyak tidur tapi hendaklah dia bersemangat dalam melakukan ibadah. (Majmu’ Fatawa Syaikh Utsaimin).

Ketiga : Semangat ibadah hanya di awal Ramadhan saja.

Sungguh, kita menyaksikan ada sebagian saudara saudarakita  yang  memiliki semanggat ibadah pada awal awal Ramadhan saja.  Mungkin sampai hari ke enam atau ke tujuh saja. Setelah itu datang rasa futur yaitu lemah semangat bahkan ada yang tak lagi mengisi hari hari Ramadhan dengan ibadah ibadah yang di syariatkan.

Perhatikanlah kenyataan yang ada. Masjid pada penuh di waktu shalat shubuh apalagi ketika shalat taraweh. Bahkan ada masjid perlu menyewa tenda tempat shalat di samping masjid untuk menampung jamaah yang berlimpah. Tetapi beberapa hari kemudian jumlah jamaah sangat berkurang.

Padahal yang dianjurkan adalah agar semangat ibadah semakin bertambah ketika menjelang akhir Ramadhan khususnya 10 hari terakhir.

Wallahu A'lam. (3.508).

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar