Senin, 31 Maret 2025

MENGAMBIL IBRAH ATAU PELAJARAN DARI ABU HURAIRAH

 

MENGAMBIL IBRAH ATAU PELAJARAN DARI ABU HURAIRAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Dalam Islam kata ibrah (إِبْرَاه) berarti pelajaran atau hikmah yang bisa diambil dari suatu peristiwa atau fenomena, baik yang bersifat lahiriah maupun bathiniah, untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran spiritual. 

Ketahuilah bahwa sangat banyak ibrah atau pelajaran yang bisa kita ambil dari perjalanan hidup atau kehidupan para sahabat Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam. Dan kali ini mari kita lihat sekilas tentang kehidupan salah seorang  sahabat yaitu Abu Hurairah.

Abu Hurairah yang memiliki nama asli Abdurrahman as Sakhr ad Dausi al Yamani adalah sahabat yang selalu bersama Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam. Sebenarnya Abu Hurairah termasuk sahabat yang agak belakangan masuk Islam yaitu pada umur 40 tahun, di tahun ke 7 H.

Sungguh, ada banyak keutamaan Abu Hurairah yang bisa kita ambil sebagai ibrah atau pelajaran, diantaranya adalah :

Pertama : Abu Hurairah adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits.

Dalam Kitab Ensiklopedi Islam dsebutkan tentang lima sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits adalah :  (1) Abu Hurairah, 5.374 hadits. (2) Abdullah bin Umar, 2.630 hadits. (3) Anas bin Malik, 2.266 hadits. (4) Aisyah, 2.210 hadits. (5) Abdulllah bin Abbas, 1.660 hadits.

Ketahuiah bahwa diantara keistimewaan Abu Hurairah adalah dia menghafal hadits dan tidak mencatatnya, karena hafalannya sangat kuat. Penyebab banyaknya Abu Hurairah meriwayatkan dan kuat hafalannya  adalah karena beliau pernah didoakan Rasulullah Salallahu ‘alaihhi Wasallam agar dikuatkan daya ingatnya. Dalam satu hadits disebutkan sebagai berikut : 

 عن أبي هريرة قال قلت يا رسول الله إني أسمع منك حديثا كثيرا أنساه قال ابسط رداءك فبسطته قال فغرف بيديه ثم قال ضمه فضممته فما نسيت شيئا بعده حدثنا إبراهيم بن المنذر قال حدثنا ابن أبي فديكبهذا أو قال غرف بيده فيه

Dari Abu Hurairah, aku berkata, wahai Rasulullah, aku telah mendengar dari engkau banyak hadits namun (terkadang) aku lupa. Beliau lalu bersabda : Hamparkanlah selendangmu. Maka aku menghamparkannya, beliau lalu seolah menciduk sesuatu dengan tangannya, lalu bersabda : Ambillah (selendangmu).

Aku pun mengambilnya, maka sejak itu aku tidak pernah lupa lagi. Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Al-Mundzir berkata : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Fudaik dengan redaksi seperti ini, atau dia berkata, Menuangkan ke dalam tangannya. (H.R Imam Bukhari).

Kedua : Rumah Abu Hurairah tidak pernah kosong dari shalat lail.

Dalam hal ibadah, rumah beliau tidak pernah kosong dari shalat malam. Perhatikanlah kisah bagaimana Abu Hurairah yang menjaga shalat malam  di rumahnya.

Dari Abu Utsman an Nahdi, dia berkata : Aku pernah bertamu pada Abu Hurairah beberapa hari. Aku lihat Abu Hurairah, istrinya dan pembantunya senantiasa membagi malam menjadi tiga untuk shalat lail. Apabila yang satu telah shalat lalu membangunkan yang lain. (Kitab Hiyatul Auliyaa).

Ketiga : Abu Hurairah sangat teguh memegang nasehat Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam.

Sungguh beliau betul betul  sangat teguh memegang wasiat Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam. Disebutkan dalam satu riwayat bahwa pada suatu hari Rasulullah Salallahu Salallahu ‘alaihi Wasallam berwasiat   tentang tiga hal kepada Abu Hurairah. 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلَاثٍ لَا أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَصَلَاةِ الضُّحَى وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ

Dari Abu Hurairah, dia  berkata : Telah berwasiat kepadaku, kekasihku (Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam) untuk melakukan tiga hal yang TAK AKAN AKU TINGGALKAN  hingga meninggal dunia, yaitu : puasa tiga hari setiap bulan, shalat dhuha dan tidur dalam keadaan telah melakukan shalat witir.  (H.R Imam Bukhari).

Keempat : Abu Hurairah menangis menjelang wafat.

Ketahuilah bahwa Abu Hurairah menjelang wafatnya  menangis. Lalu ditanya kenapa beliau menangis. Lalu beliau menjawab :  Perjalanan menuju akhirat itu sangatlah panjang dan berat, tetapi perbekalanku hanya sedikit. Jadi beliau takut kalau bekalnya tidak cukup. Bukankah jika seseorang akan melakukan perjalanan yang panjang dan berat memerlukan bekal yang banyak.

Ketahuilah bahwa rute perjalanan yang akan kita tempuh menuju negeri akhirat adalah  sama seperti yang akan dilalui Abu Hurairah, dan sebagaimana manusia umumnya, yaitu dimulai dengan sakaratul maut, kematian, alam kubur dan fitnahnya, padang Mahsyar yang berat, timbangan amal, melalui shiraat dan seterusnya sebelum sampai di  surga atau neraka. (Lihat Kitab Rihlah ilad Darus Akhirah, Syaikh Mahmud al Mishri).

Wallahu A'lam. (3.528)

   

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar