Minggu, 14 Juli 2024

APAKAH MENGAMALKAN PUASA SUNNAH TERASA BERAT ?.

 

APAKAH MENGAMALKAN PUASA SUNNAH TERASA BERAT ?.

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Beberapa puasa sunnah  disyariatkan Allah Ta'ala,   disamping puasa fardhu di bulan Ramadhan. Bahkan puasa sunnah ini waktu dan kesempatannya lebih banyak dari puasa fardhu.

Ketika seorang hamba melazimkan puasa sunnah Senin-Kamis  plus puasa ayyamul bidh saja setiap bulan maka rata rata bisa berpuasa sunnah lebih dari seratus hari dalam setahun. Apalagi ditambah pula dengan puasa yang lainnya seperti puasa Syawal, puasa di bulan Dzulhijjah, puasa Muharram dan yang lainnya.

Oleh karena hamba hamba Allah hendaklah berusaha mengamalkan puasa sunnah yang disyariatkan sesuai kemampuannya. Mungkin diantara kita ada yang pernah mendengar bahwa orang bijak berkata : KALAU TIDAK DAPAT SEMUA JANGAN TINGGALKAN SEMUA.

Sungguh, puasa sunnah memiliki banyak sekali keutamaannya, satu diantaranya adalah mendapat perisai sebagai benteng terhadap api neraka. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam  bersabda :

إِنَّمَا الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ

Puasa adalah perisai yang dapat melindungi seorang hamba dari siksa neraka.  (H.R Imam Ahmad).

Syaikh Shalih Fauzan hafidzahullah menjelaskan : Maksudnya puasa adalah penghalang antara dirinya dengan api neraka. Hal ini mencakup puasa yang wajib seperti puasa Ramadhan dan juga puasa sunnah seperti puasa enam hari di bulan Syawal, puasa Senin-Kamis, puasa tiga hari setiap bulan, puasa Dzulhijjah, puasa ‘Arafah, dan puasa ‘Asyura (Lihat al Minhatu ar Rabaniyyah fii Syarhi Al-Arba’in An-Nawawiyyah).

Tetapi sebagian saudara saudara merasa sangat berat melakukan puasa sunnah meskipun pada bulan Ramadhan telah terbiasa berpuasa SEBULAN PENUH. Ketahuilah bahwa ada beberapa cara yang bisa dilakukan agar SENANTIASA BISA MELAKUKAN PUASA SUNNAH, Diantaranya adalah :

Pertama : Ber-azzam atau berniat  sungguh sungguh UNTUK MENTAATI PERINTAH Allah dan Rasul-Nya yaitu melaksanakan puasa sunnah. Jika seorang hamba bersungguh sungguh taat kepada Allah Ta’ala maka mereka akan bersama sama dengan orang orang yang diberi nikmat. yaitu sebagaimana firman-Nya : 

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) maka mereka itu akan bersama sama dengan orang yang diberi nikmat oleh Allah (yaitu) para Nabi, para pencinta kebenaran, orang orang yang mati syahid dan orang orang yang shalih. Mereka itulah teman yang sebaik baiknya. (Q.S an Nisa’ 69).

Sungguh Allah Ta’ala telah mengabarkan bahwa orang yang taat akan mendapat kemenangan sebagaimana firman-Nya : 

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya mereka itulah ORANG ORANG YANG MENDAPAT KEMENANGAN. (Q.S an Nuur 52).

Ketahuilah bahwa melaksanakan puasa sunnah disamping puasa wajib adalah bagian dari KETAATAN KEPADA ALLAH DAN RASUL-NYA sehingga orang orang beriman MERASA RUGI jika tak mengamalkan sesuai kemampuannya.

Kedua : Diantara cara agar orang orang beriman senantiasa melaksanakan puasa sunnah adalah DENGAN BELAJAR ILMU. Ketika ilmu telah ada pada dirinya termasuk ilmu tentang keutamaan dan kebaikan kebaikan dalam melaksanakan puasa sunnah maka akan menjadi ringan baginya untuk mengamalkan ibadah yang di sunahkan ini. Ilmu tentang keutamaan puasa sunnah yang sudah diketahui tentulah AKAN MEMBERI MOTIVASI untuk mengamalkannya.

Ketiga : Bagi sebagian orang, mengamalkan puasa sunnah terasa berat karena tak terbiasa. Oleh karena itu pada tahap tahap awal haruslah berusaha  memaksa diri untuk melakukan berbagai ketaatan. Ketika suatu ketaatan dalam melakukan amalan shalih termasuk puasa sunnah telah TERBIASA  maka  menjadi TAK TERASA BERAT. Insya Allah.

Wallahu A'lam. (3.324).

 

Sabtu, 13 Juli 2024

GUNAKAN WAKTUMU UNTUK YANG BERMANFAAT

 

GUNAKAN WAKTUMU UNTUK YANG BERMANFAAT

Disusun oleh : Azwir B.Chaniago

Seorang hamba yang baik keislamannya tentu akan selalu berusaha menggunakan waktunya untuk yang bermanfaat bagi dunia dan akhiratnya. Sunguh Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam   bersabda :

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ   :(( مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Di antara (tanda) kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya. (Hadits Hasan diriwayatkan oleh  at Tirmidzi dan yang selainnya).

Imam an-Nawawi  berkata : Ketahuilah bahwa seorang mukallaf (yang telah dibebani hukum syari’at/sudah baligh) seharusnya dapat menjaga lisannya untuk tidak berbicara, kecuali untuk hal-hal yang benar-benar bermanfaat.

Apabila menurut pertimbangannya kemaslahatan antara diam dan berbicara adalah sama, maka menurut as-Sunnah, ia lebih baik mengambil sikap diam. Sebab, pembicaraan yang mubah (boleh jadi) terkadang bisa membawa kepada perbuatan haram atau makruh. Yang demikian banyak sekali terjadi (menjadi kebiasaan). Ingat, mencari selamat adalah sesuatu keberuntungan yang tiada taranya. (Riyadush Shalihin)

Ketahuilah bahwa ada beberapa cara yang dianjurkan dalam menggunakan waktu atau umur  tidak sia sia  dan lebih bermanfaat, diantaranya adalah :

Pertama : Menyibukkan diri dengan belajar ilmu

Salah satu tanda bahwa seorang hamba menggunakan tidak sia sia menggunakan  waktunya adalah  dia akan senantiasa menyibukkan dirinya untuk belajar ilmu.

Bahkan belajar ilmu adalah suatu yang wajib. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  bersabda :

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Belajar ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim. (H.R Imam Muslim).

Satu ungkapan yang cukup masyhur menyebutkan bahwa : “Untuk mendapatkan dunia kita butuh ilmu, untuk mendapatkan akhirat kita butuh ilmu. Dan untuk mendapatkan keduanya kita butuh ilmu. Ya memang demikianlah adanya.

Sungguh kita butuh ilmu untuk memahami aqidah yang benar. Kita butuh ilmu untuk beribadah yang benar. Kita butuh ilmu untuk berakhlak yang terpuji. Kita butuh ilmu agar bisa bermuamalah dengan baik. Bahkan beberapa saat sebelum matipun kita masih butuh ilmu yaitu ilmu tentang kalimat apa yang harus kita ucapkan pada saat yang kritis itu.

Kedua : Menyibukkan diri dengan ibadah.

Sungguh seorang hamba haruslah  senantiasa menyibukkan diri untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas dan ittiba’. Bukankah manusia diciptakan hanya untuk mengabdi atau beribadah kepada Allah Ta’ala. Oleh karena itu sibukkanlah diri dengan beribadah kepada-Nya.  Utamakan ibadah yang wajib lalu lengkapi dengan ibadah ibadah sunnah. Allah Ta'ala berfirman :

َمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (Q.S adz Dzaariat 56).

Ketiga : Tidak membiarkan waktu kosong.

Orang yang membiarkan waktunya kosong dan tidak digunakan untuk mengingat Allah dengan beribadah kepadaNya maka intinya dia termasuk orang yang tertipu dengan  waktu.  Jika sudah selesai satu ibadah hendaklah segera lanjutkan dengan ibadah yang lain atau kegiatan lain yang bermanfaat. Allah Ta'ala berfirman : 

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Apabila shalat telah dilakukan maka bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak banyak agar kamu beruntung. (Q.S al Jumu’ah 10).

Allah Ta'ala juga berfirman :

فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ   وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرْغَب

Maka jika kamu selesai (dari suatu urusan) maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap (Q.S. al Insyiraah 7-8).

Wallahu Alam. (3.323)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DATANG BAHAYA BESAR JIKA MANUSIA MENGACUHKAN AL QUR AN

 

DATANG BAHAYA BESAR JIKA MANUSIA MENGACUHKAN AL QUR AN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, Allah Ta'ala telah menurunkan al Qur an yaitu PALING UTAMA SEBAGAI PETUNJUK BAGI MANUSIA, Allah Ta'ala  berfirman :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (Q.S al Baqarah 185).

Sebagai kitab petunjuk paling utama maka sungguh sangat keliru orang orang yang tidak mau belajar al Qur an, tidak berusaha merenungi makna maknanya, tidak mengamalkannya dan tidak mendakwahkannya sesuai kemampuan. Bahkan sikap ini bisa mendatangkan bahaya besar di dunia dan di akhirat.

Sungguh, di zaman ini ternyata sangat banyak orang Islam yang sangat sedikit kepeduliannya terhadap al Qur an. Akibatnya mereka tidak mendapat petunjuk dan tak memperoleh manfaat apa pun dari al Qur an. Ketahuilah bahwa Allah Ta'ala berfirman tentang kaum yang mengacuhkan al Qur an :

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَـٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

Berkatalah Rasul : Ya Rabb-ku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan. (Q.S al Furqan 30).

Syaikh as Sa’di berkata bahwa mengacuhkan al Qur an maksudnya adalah : Mereka telah berpaling darinya, mengabaikan dan meninggalkannya. Pada hal yang menjadi kewajiban mereka (terhadap al Qur an) adalah patuh kepada hukumnya, menerima aturan aturannya serta mengikutinya.  (Kitab Tafsir Karimir Rahman).

Imam Ibnul Qayyim al Jauziah menyebutkan beberapa macam bentuk mengacuhkan al Qur an :

Pertama : Mengacuhkan dalam arti tidak mau mendengarkannya dan tidak mau mengimaninya.

Kedua : Mengacuhkan dalam arti tidak mau mengamalkannya. Tidak mau tahu halal-haram yang dijelaskan al Qur an walaupun dia membacanya.

Ketiga : Mengacuhkan dalam arti tidak mau menjadikannya sebagai pedoman hukum dalam pokok pokok agama maupun cabang cabangnya.

Keempat : Mengacuhkan dalam arti tidak mau memikirkannya dan memahaminya serta tidak mencari tahu apa yang dimaksud oleh Dzat yang mengucapkannya.

Kelima : Mengacuhkan dalam arti tidak mau menjadikannya sebagai obat dan enggan berobat dengan menggunakan al Qur an dalam setiap penyakit hati. (Kitab al Fawa'id).

Wallahu A'lam. (3.322)

 

 

SEMAKIN KOKOH IMAN UJIAN SEMAKIN BERAT

 

SEMAKIN KOKOH IMAN UJIAN  SEMAKIN BERAT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Kapan saja Allah Ta'ala berkehendak maka setiap hamba pasti akan didatangi ujian atau cobaan.  Ujian itu bisa terjadi atas dirinya, keluarganya, kaumnya, hartanya dan yang lainnnya. Allah Ta’ala telah mengingatkan perkara ini  dalam firman-Nya :  

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan : Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji ?. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang orang yang benar  dan pasti mengetahui orang orang yang dusta. (Q.S al Ankabut 2-3).

Sungguh, ujian atau cobaan bentuknya berbeda beda bahkan bertingkat tingkat  antara seseorang dengan yang lainnya. Ketika seorang hamba semakin kokoh imannya maka biasanya dia akan mendapat ujian atau cobaan yang lebih berat. Kenapa ?, karena dengan iman yang semakin kokoh maka seseorang akan semakin mampu menerima ujian  yang lebih berat dibanding orang orang kebanyakan.

Bahkan para Nabi telah diberi ujian yang lebih berat. Perkara ini dijelaskan Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam dalam sabda beliau :

عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ: «الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ البَلَاءُ بِالعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

 Dari Mus’ab dari Sa’ad dari bapaknya, aku berkata : Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya ?. Kata beliau: Para Nabi, kemudian yang semisal mereka dan yang semisal mereka. Dan seseorang diuji sesuai dengan kadar dien (keimanannya). Apabila diennya kokoh, maka berat pula ujian yang dirasakannya; kalau diennya lemah, dia diuji sesuai dengan kadar diennya.

Dan seseorang akan senantiasa ditimpa ujian demi ujian hingga dia dilepaskan berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak mempunyai dosa. (H.R at Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Tentang berat ringannya suatu ujian juga dijelaskan oleh para ulama, diantaranya :

(1) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : Cobaan yang semakin berat akan senantiasa menimpa seorang mukmin yang shalih untuk meninggikan derajatnya dan agar ia semakin mendapatkan ganjaran yang besar. (Al Istiqamah).

(2) Imam Ibnu Katsir berkata : Seorang mukmin itu harus diuji harta dan jiwanya atau anak keturunan dan keluarganya. Seorang mukmin juga harus diuji tingkat keagamaannya. Jika agamanya kuat maka akan bertambah pula cobaan yang akan diterimanya. (Tafsir Ibnu Katsir).

(3) Imam al Munawi berkata :  Jika seorang mukmin diberi cobaan maka itu sesuai dengan ketaatan, keikhlasan, dan keimanan dalam hatinya. (Faidhul Qadir).

Oleh karena itu, ketika seorang hamba didatangi ujian yang terasa semakin berat hendaklah menerima dengan lapang dada. Bisa jadi karena imannya telah semakin kuat dan kokoh.

Wallahu A'lam. (3.321).

Jumat, 12 Juli 2024

ORANG BERIMAN SANGAT DIANJURKAN BERPUASA PADA 9 DAN 10 MUHARRAM

 

ORANG BERIMAN SANGAT DIANJURKAN  BERPUASA PADA 9 DAN 10 MUHARRAM

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketika datang bulan Muharram, Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam mengingatkan kita orang orang beriman untuk memperbanyak  puasa sunnah di bulan Muharram karena itulah waktu berpuasa yang sangat baik setelah puasa wajib bulan Ramadhan. Beliau bersabda :

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ اْلمُحَرَّمِ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

Sebaik baik puasa setelah bulan Ramadan adalah PUASA DI BULAN MUHARRAM. Dan sebaik-baiknya shalat setelah salat fardhu adalah shalat malam. H.R Imam Muslim).

Puasa sunnah yang khusus ada di bulan Muharram adalah puasa hari 'Asyura yaitu hari kesepuluh pada bulan Muharram sebagaimana sabda beliau :

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

Puasa hari 'Asyura, sungguh aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa yang telah lalu. (H.R Imam Muslim).

Selain itu juga dianjurkan untuk melengkapinya dengan puasa pada tanggal 9 Muharram yaitu puasa Tasu’a.  Puasa pada tanggal 9 Muharram ini disyariatkan untuk menyelisihi syariat puasa Yahudi dan Nasrani.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, ketika Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam berpuasa pada hari 'Asyura dan memerintahkan para shahabat untuk berpuasa pada hari itu, mereka (para sahabat) berkata, Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari 'Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nasrani.

Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam pun menjawab : Kalau begitu, pada tahun depan insya Allah kita berpuasa pada hari kesembilan. Dan belum tiba tahun yang akan datang, namun Nabi Salallahu ‘alaihi Wasallam sudah wafat. (H.R Imam Muslim)

Meskipun Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam belum sempat melaksanakan puasa Tasu’a yaitu di hari ke 9 bulan Muharram tetapi puasa ini telah disyariatkan dan sangatlah baik untuk kita amalkan.

Kalau dilihat urutan atau jalan  pensyariatan kedua puasa sunnah ini maka dapatlah kita mengetahui bahwa utamakan melaksanakan puasa ‘Asyura dan tambah dengan puasa Tasu’a. Jadi jangan sampai melaksanakan puasa Tasu’a tetapi meninggalkan puasa ‘Asyura. Jadi paling tidak adalah puasa satu hari yaitu tanggal 10 Muharram.

Selanjutnya, untuk memperbanyak puasa di bulan Muharram, sebagaimana anjuran Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim tersebut di awal tulisan ini  maka ada kesempatan melakukan puasa sunnah selain puasa ‘Asyura dan Tasu’a bahkan sangat baik diamalkan setiap bulan selain Ramadhan, yaitu puasa Senin-Kamis, puasa ayyamulbidh dan lainnya sesuai syariat.

Wallahu A'lam. (3.320)

 

Kamis, 11 Juli 2024

ORANG BERIMAN MESTILAH SENANTIASA MENGINGAT MATI

 

ORANG BERIMAN MESTILAH SENANTIASA MENGINGAT MATI

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, kita semua paham betul bahwa pada waktunya Allah Ta'ala berkehendak, kematian pasti akan mendatangi semua orang. Allah Ta'ala dengan sangat tegas dan jelas menyebutkan perkara ini dalam al Qur an :

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ ۗ

Di manapun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kokoh. (Q.S an Nisa’ 78).

Bahkan  pastilah bahwa tidaklah seorang bisa menghindar dari kematian, sebagaimana firman Allah :

قُلْ إِنَّ ٱلْمَوْتَ ٱلَّذِى تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُۥ مُلَٰقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Katakanlah : Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Q.S al Jumuah 8).

Ketahuilah bahwa hakikatnya MASALAH BESAR kita bukan soal mati dan kapan serta dimana matinya tapi bagaimana hidup  setelah mati. Apa persiapan kita sebelum mati. Mati adalah awal perjalanan ke negeri akhirat. Kita akan menghadapi  tahapan selanjutnya yaitu alam barzah, hari berbangkit, padang Mahsyar, hisab dan sirath.

Semua tahapan itu  sangatlah sulit dan berat kecuali sebelum mati telah mempersiapkan bekal yaitu iman dan amal shalih. Sungguh Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam  memuji orang yang selalu mengingat mati dan melakukan persiapan menghadapi mati. Beliau bersabda : 

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما أَنَّهُ قَالَ: كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ: «أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا» قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ: «أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ»

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia bercerita : Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu datang seorang lelaki dari kaum Anshar mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bertanya :  Wahai Rasulullah, orang beriman manakah yang paling baik ?.  Beliau menjawab : Yang paling baik akhlaknya.

Orang ini bertanya lagi :  Lalu orang beriman manakah yang paling berakal (cerdas) ?. Beliau menjawab : Yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya (untuk hidup)  setelah kematian, merekalah yang berakal. (H.R Ibnu Majah).

Pada kenyataannya, di zaman ini ada manusia yang tidak peduli mau mati kapan dan sungguh parah keadaan mereka karena TAK MAU MEMPERSIAPKAN BEKAL MENGHADAPI MATI. Sungguh Allah Ta’ala telah mengingatkan dalam firman-Nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Wahai orang orang yang beriman. Bertakwalah kepada Allah dan hendaknya setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (Q.S  al Hasyr 18).

Perkara mati, Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas menyebutkan bahwa kematian adalah NASEHAT PALING BESAR.  Banyak tetangga kita, teman kita, orang lain yang telah mati itu mestilah menjadi nasehat buat kita yang masih hidup agar bertaubat kepada Allah Ta'ala, agar kembali kepada Allah Ta'ala.

Agar kita melaksanakan tauhid, menjauhkan diri dari kesyirikan. Melaksanakan sunnah, menjauhi bid'ah. Dan juga senantiasa shalat berjamaah serta amal yang lainnya seperti infak dan sedekah. (@berbagi ilmu).

Wallahu A'lam. (3.319)

 

 

Rabu, 10 Juli 2024

RIDHA DENGAN KETETAPAN ALLAH MENDATANGKAN RIDHA-NYA

 

RIDHA DENGAN KETETAPAN ALLAH MENDATANGKAN RIDHA-NYA

Disusun oleh : Azwir B.Chaniago

Pada waktunya, orang orang beriman akan diuji dengan musibah yang mendatangi dirinya, keluarganya, hartanya dan yang lainnya. Ujian berupa musibah itu antara lain adalah untuk diketahui seberapa kokoh imannya.  Allah Ta’ala berfirman :

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, KAMI TELAH BERIMAN DAN MEREKA TIDAK DIUJI ?. Dan sungguh Kami telah menguji orang orang sebelum mereka maka Allah pasti mengetahui orang orang yang benar dan pasti mengetahui orang orang yang berdusta. (Q.S al Ankabut 2-3).

Tentang ayat ini, Syaikh as Sa’di berkata : Allah Ta’ala mengabarkan tentang kesempurnaan hikmah-Nya. Dan  hikmah-Nya adalah  tidak memastikan bahwa SETIAP ORANG YANG MENGATAKAN DIRINYA SEORANG MUKMIN DAN MENGKLAIM IMAN BAGI DIRINYA UNTUK TETAP DALAM KONDISI SELAMAT DARI UJIAN DAN COBAAN. Tidak akan menghadapi hal hal yang mengganggu iman mereka atau cabang cabangnya.

Sebab, kalau perkaranya seperti itu, tentu tidak dapat dibedakan mana orang yang jujur (sejati) dan orang yang dusta (dalam keimanannya, peny.). Tidak (pula) dapat dibedakan antara orang yang berpegang kepada kebenaran dan orang yang berpegang kepada kebathilan. (Tafsir Taisir Karimir Rahman). 

Ketahuilah bahwa Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam telah memberi kabar gembira bahwa Allah Ta’ala ridha kepada hamba-Nya yang yang ridha menerima ujian berupa musibah.    Satu hadits dari  Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang ridho, maka ia yang akan meraih ridho Allah. Barangsiapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka. (H.R Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh al Albani).

Oleh karena itu ketika didatangi musibah JANGAN MENGELUH agar keutamaan dan kebaikan yang dijanjikan Allah Ta’ala yaitu ridha-Nya bisa kita peroleh. Jika mengeluh maka tentu kerugian besar yang akan didapat.

Selain itu ketahilah bahwa  ketika hamba hamba Allah didatangi musibah sangatlah dianjurkan membaca kalimat istirjaa’ dan berdoa memohon diberi pahala dan diberi ganti yang lebih baik. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam menjelaskan  dalam sabda beliau :

مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللَّهُمَّ أَجِرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

Tidaklah seorang hamba mengalami musibah, lalu dia mengucapkan kalimat seperti yang Allah perintahkan :   

 إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللَّهُمَّ أَجِرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا

Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami akan kembali. Ya Allah berikanlah pahala untuk musibahku, dan gantikan untukku dengan sesuatu yang lebih baik darinya.

Maka Allah akan memberikan ganti untuknya dengan sesuatu yang lebih baik daripadanya. (H.R Imam  Muslim, dari Ummu Salamah).

Wallahu A'lam. (3.318)