Minggu, 14 Juni 2026

NIKMAT AIR SEGAR JUGA HARUS DIPERTANGGUNG JAWABKAN

 

NIKMAT AIR SEGAR JUGA HARUS DIPERTANGGUNG JAWABKAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketika mendengar seseorang wafat maka kita dianjurkan mengucapkan kalimat istirja' yaitu  innallihai wa inna ilaihi raji'un. Tetapi ketahuilah bahwa dibalik kalimat istrija' ada pertanggung jawaban yang harus dihadapi yaitu kita akan ditanya di akhirat kelak tentang semua nikmat yang telah kita terima di dunia. Allah Ta’ala berfirman :

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

Kemudian kamu pasti akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)  (QS. At Takatsur: 8).

Mungkin kita melihat nikmat berupa air segar yang kita gunakan terutama untuk minum dan membersih badan  adalah suatu yang terasa  biasa biasa saja karena hakikatnya relatif mudah untuk mendapatkannya di zaman ini.

Tetapi ketahuilah bahwa  nikmat air itu termasuk perkara YANG AKAN DITANYAKAN PERTAMA KALI di akhirat kelak. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُسْأَلُ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِى الْعَبْدَ مِنَ النَّعِيمِ أَنْ يُقَالَ لَهُ أَلَمْ نُصِحَّ لَكَ جِسْمَكَ وَنُرْوِيكَ مِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ

Sungguh nikmat yang akan ditanyakan pada hamba PERTAMA KALI pada hari kiamat kelak adalah dengan pertanyaan : Bukankah Kami telah memberikan kesehatan pada badanmu dan telah memberikan padamu AIR YANG MENYEGARKAN ?.  (H.R at  Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani).

 

Kalau begitu, bagaimana nikmat nikmat lainnya yang lebih besar seperti rumah mewah, mobil mewah, sawah ladang, kebun yang luas dan banyak lagi yang lainnya. Semuanya pasti diminta pertanggung jawabannya

 

Ketahuilah bahwa dalam perkara rizki ada dua masalah yang perlu ditakutkan seorang hamba yaitu : (1) Apakah rizkiku didapat dengan cara yang halal atau syubhat atau haram. (2) Apakah aku mampu membelajakan rizkiku untuk yang halal di jalan yang Allah ridha. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : 

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ

Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba ketika hari Kiamat kelak hingga ia ditanya : (1) Tentang umurnya untuk apa ia habiskan. (2) Tentang ilmunya untuk apa dia amalkan. (3) TENTANG HARTANYA DARI MANA DIA DAPATKAN DAN UNTUK APA DIA BELANJAKAN. (4) Tentang badannya untuk apa dia letihkan(H.R Imam at Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Silsilah Hadits Shahih).

 

Oleh karena itu hamba hamba Allah tetaplah berusaha mencari atau mendapatkan rizki yang halal dan membelanjakan di jalan  yang halal pula. Dengan demikian insya Allah tidak terlalu berat mempertanggung jawabkannya nati di akhhirat.

Wallahu A'lam. (3.731). 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar