Kamis, 22 Agustus 2024

MENJAGA HAWA NAFSU MEMANG SESUATU YANG BERAT

 

MENJAGA HAWA NAFSU MEMANG SESUATU YANG BERAT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Manusia memiliki hawa nafsu dalam dirinya dan hawa nafsu itu cenderung kepada keburukan. Alah Ta’ala berfirman : 

وَمَآ أُبَرِّئُ نَفْسِىٓ ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِالسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ رَّحِيمٌ

(Yusuf berkata) Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Rabb-ku. Sesungguhnya Rabb-ku Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Q.S Yusuf 53).

Allah Ta’ala berfirman :

فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا۟ لَكَ فَٱعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَآءَهُمْ ۚ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ ٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظَّٰلِمِينَ

Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti keinginan hawa nafsunya tanpa mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun ?. Sungguh Allah tidak memberi petunjuk kepada orang orang yang zhalim. (Al Qashash 50).

Syaikh as Sa’di berkata : (Orang yang mengikuti hawa nafsunya) jadi, dialah orang yang paling sesat karena ketika ditawarkan kepadanya petunjuk dan jalan lurus yang dapat mengantarkan kepada Allah Ta’ala dan kepada negeri yang kemuliaan-Nya yaitu surga, dia tidak menghiraukannya dan tidak pula mendatanginya.

Ketika dibujuk oleh hawa nafsunya untuk menelusuri jalan jalan yang dapat menjerumuskan kepada kebinasaan dan kesengsaraan maka dia pun mengikutinya dan meninggalkan petunjuk. Maka apakah ada seseorang yang lebih sesat dari pada orang yang seperti itu karakternya ?. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Tetapi memang menjaga hawa nafsu agar tidak mencelakakan diri adalah sesuatu yang berat. Perhatikanlah, sungguh telah banyak manusia dari zaman ke zaman yang tergelincir kepada keburukan dan menjadi hina karena tak mampu melawan kehendak hawa nafsunya. Seorang berpangkat jatuh pangkatnya karena pengaruh hawa nafsu ingin mendapat harta yang banyak lalu mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Oleh karena itu hamba hamba Allah bersungguh sungguhlah menjaga keinginan buruk dari hawa nafsu. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telah mengingatkan perkara ini dalam sabda beliau : 

أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ يُجَاهَدَ الرَّجُلُ نَفْسَهَ وَ هَوَاهُ

Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad (berjuang, bersungguh sungguh) melawan dirinya dan hawa nafsunya. (H.R  Ibnu an Najjar dari Abu Dzarr,  Abu Nu’aim dan ad Dailami, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami’ush-Shaghir).

Imam Ibnu Hajar berkata : Yang dimaksud dengan berjihad atau berjuang menundukkan (hawa)  nafsu adalah mencegah atau melawan nafsu dari keinginannya untuk (selalu) menyibukkan diri dengan selain ibadah atau ketaatan kepada Allah Ta’ala. (Fathul Baari).

Syaikh ‘Abdur-Razaq bin Abdul-Muhsin al Badr  berkata : Jika kaum Muslimin melalaikan jihad melawan diri sendiri (hawa nafsunya), mereka tidak akan mampu jihad melawan musuh-musuh mereka, sehingga dengan sebab itu terjadi kemenangan musuh terhadap mereka. (Khuthab wa Mawa’izh min Hajjatil-Wada').

Wallahu A'lam. (3.346).

Minggu, 18 Agustus 2024

ADA HAMBA ALLAH YANG SHALATNYA BERNILAI RENDAH

 

ADA HAMBA ALLAH YANG SHALATNYA BERNILAI RENDAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telah megingatkan umatnya untuk shalat sebagaimana beliau shalat, sebagaimana sabda beliau :

وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي   

Dan shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat. (H.R Imam Bukhari).

Ketahuilah bahwa diantara cara shalat yang diajarkan Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam diantaranya adalah menjaga waktunya, bagi laki laki shalat di masjid bersama imam, kecuali ada udzur syar’i. berusaha agar khusyu’ dan MENJAGA TUMA’NINAH, menjaga bacaannya dan yang lainnya.

Sungguh, dalam beberapa hadits Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam telah menjelaskan tentang orang orang yang merugi dalam shalatnya karena shalatnya  dapat nilai rendah tak diterima sepenuhnya.  Bisa jadi setelah shalat tetapi dianggap belum shalat dan disuruh ulang oleh Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasalllam.  Bahkan ada pula yang shalat 60 tak satupun diterima. Perkara ini dijelaskan dalam hadits berikut ini :

Pertama : Ada yang mendapat nilai rendah amalan shalatnya.

Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلاَّ عُشْرُ صَلاَتِهِ تُسْعُهَا ثُمُنُهَا سُبُعُهَا سُدُسُهَا خُمُسُهَا رُبُعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا

Benar benar ketika seseorang selesai (dari shalatnya), namun tak ditulis pahala baginya melainkan hanya 1/10 shalatnya, atau 1/9 atau 1/8 atau 1/7 atau 1/6 atau 1/5 atau 1/4 atau 1/3, atau 1/2-nya. (H.R Abu Daud,  dishahihkan  Syaikh al Albani).

Kalau melihat kepada zhahir hadits ini disebutkan ketika shalat pahala yang didapat 1/10 Kalau kita coba mengkonversi  kepada skala nilai 10 – 100, berarti dia hanya dapat nilai 10. Kalau dapat 1/5 berarti dia hanya dapat nilai 20. Dan ketika ada yang dapat 1/2  sebagaimana hadits diatas berarti dia dapat nilai 50. Na’udzubilah.

Kedua : Sudah shalat tapi dianggap belum shalat dan harus diulang.

Hadits berikut ini menerangkan tentang seseorang yang shalat namun Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam   memerintahkan orang tersebut untuk mengulang shalatnya sampai tiga kali.  Itu berarti shalatnya  tidak sah.

عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَدَّ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَرَجَعَ يُصَلِّي كَمَا صَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ثَلَاثًا فَقَالَ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِي فَقَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا وَافْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا

Dari Abu Hurairah,   bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke masjid, kemudian ada seorang laki-laki masuk masjid lalu shalat. Kemudian mengucapkan salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau menjawab dan bersabda kepadanya : Kembalilah dan ulangi shalatmu karena kamu belum shalat !. Maka orang itu mengulangi shalatnya seperti yang dilakukannya pertama tadi.

Lalu datang menghadap kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan memberi salam. Namun Beliau kembali bersabda : Kembalilah dan ulangi shalatmu karena kamu belum shalat !. Beliau memerintahkan orang ini sampai tiga kali hingga akhirnya laki-laki tersebut berkata : Demi Dzat yang mengutus engkau dengan hak, aku tidak bisa melakukan yang lebih baik dari itu.

Maka ajarkanlah aku !. Beliau lantas bersabda : Jika kamu berdiri untuk shalat maka mulailah dengan takbir, lalu bacalah apa yang mudah buatmu dari Al Qur’an kemudian rukuklah sampai benar-benar rukuk dengan thuma’ninah (tenang), lalu bangkitlah (dari rukuk) hingga kamu berdiri tegak.  Lalu sujudlah sampai hingga benar-benar thuma’ninah, lalu angkat (kepalamu) untuk duduk hingga benar-benar duduk dengan thuma’ninah. Maka lakukanlah dengan cara seperti itu dalam seluruh (rakaat) shalatmu. (H.R Imam  Bukhari dan Imam Muslim).

Ketiga : Shalat 60 tahun tak ada yang diterima.

Ketahuilah bahwa Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam  mengingatkan tentang ada seseorang yang shalat selama 60 tahun tapi tak satupun shalatnya diterima.  Rasulullah bersabada : “Sesungguhnya (ada) seseorang yang shalat selama enam puluh tahun namun tak satu shalat pun diterima. Barangkali orang itu menyempurnakan ruku’ tapi tidak menyempurnakan sujud. Atau menyempurnakan sujud namun tidak menyempurnakan ruku’nya”. (H.R al Ashbahani, Lihat ash Shahihah no. 2535).

Oleh sebab itu, hamba hamba Allah berusahalah melakukan shalat dengan sebaik baiknya sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam. Sungguh, shalat adalah amalan yang pertama kali akan dihisab di akhirat kelak. Beliau bersabda :

 إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ ، فَإنْ صَلُحَتْ ، فَقَدْ أفْلَحَ وأَنْجَحَ ، وَإنْ فَسَدَتْ ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ ، قَالَ الرَّبُ – عَزَّ وَجَلَّ – : اُنْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ، فَيُكَمَّلُ مِنْهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ ؟ ثُمَّ تَكُونُ سَائِرُ أعْمَالِهِ عَلَى هَذَا.

Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi.

Jika berkurang sedikit dari shalat wajibnya, maka Allah ‘Azza wa Jalla  berfirman : Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah. Maka disempurnakanlah apa yang kurang dari shalat wajibnya. Kemudian begitu pula dengan seluruh amalnya. (H.R at Tirmidzi dan an Nasa’i,  dishahihlan oleh al Hafizh Abu Thahir).

Wallahu A'lam. (3.345).

ALLAH TELAH MEMBERI PETUNJUK AGAR NEGERI DAPAT BERKAH

 

ALLAH TELAH MEMBERI PETUNJUK AGAR NEGERI DAPAT BERKAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, semua orang sangat berharap agar negerinya diberkahi dan makmur. Untuk itu, Allah Ta'ala telah memberi petunjuk atau jalan. Diantaranya sebagaimana firman-Nya : 

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, PASTI KAMI akan melimpahkan kepada mereka BERKAH dari langit dan dari bumi. Tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat ayat Kami) maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.  (Q.S al A’raf 96).

Dalam ayat ini terdapat  kalimat  بَرَكاتٌSyaikh Abu Bakar al Jazairi berkata :  بَرَكاتٌ adalah bentuk jamak  بَرَكَةٌ  artinya kebaikan yang langgeng, kekal berupa ilmu, ilham, hujan yang turun dari langit,  tumbuhan, tanah yang subur, kesenangan, keamanan dan kesehatan termasuk berkah yang ada di bumi. (Aisarut Tafasir).

Syaikh as Sa'di berkata : Allah menjelaskan bahwa seandainya penduduk negeri itu beriman dengan hati mereka secara benar yang dibuktikan dengan amal, mereka bertakwa kepada Allah lahir dan batin dengan meninggalkan seluruh yang diharamkan oleh Allah, niscaya Allah akan membukakan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.

Dia akan menurunkan hujan dengan deras dan menumbuhkan bumi dengan apa yang mereka bisa hidup dengannya juga ternak-ternak mereka dalam kehidupan paling subur dan rizki paling melimpah tanpa kelelahan, tanpa kesusahan, tanpa kelebihan dan tanpa kesulitan.

Akan tetapi mereka tidak beriman dan bertakwa. ”maka kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka” dengan azab, musibah, dicabutnya keberkahan dan banyaknya penyakit, dimana ia adalah merupakan SEBAGIAN  dari balasan amal mereka sebab jika tidak demikian, maka seandainya Dia menghukum mereka karena semua dosa mereka. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Sangatlah jelas bahwa BERIMAN DAN BERTAKWA AKAN MENDATANGKAN KEBERKAHAN, yaitu kebaikan yang banyak dan selalu ada. Lalu, ketika kita merasa negeri kita jauh dari berkah bahkan mengalami banyak ujian dan cobaan maka kita mestilah melakukan evaluasi apakah kita sebagai penduduknya sudah beriman dan bertakwa ?.

Sungguh, dua hal inilah yang mendesak untuk kita perjuangkan agar bisa ditegakkan oleh penduduk negeri yaitu IMAN DAN TAKWA. Dan juga menjauh dari dosa besar dan dosa kecil. Terutama sekali menjauh DARI PERBUATAN SYIRIK.

Dalam perkara ini, Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah berkata : Demi Allah, sungguh maksiat-maksiat itu akan berpengaruh buruk terhadap keamanan suatu negeri, berpengaruh kepada kemakmurannya, perekonomiannya. Maksiat-maksiat juga berpengaruh buruk terhadap hati masyarakatnya. (Atsar al Ma'aashi).

Wallahu A'lam. (3.444).   

 

 

 

 

 

 

 

 

Rabu, 14 Agustus 2024

MEMANG TELAH BERAMAL TETAPI BISA JADI TIDAK BERNILAI DI SISI ALLAH

 

MEMANG TELAH BERAMAL TETAPI BISA JADI TIDAK BERNILAI DI SISI ALLAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, kewajiban hamba hamba Alah adalah beribadah atau melakukan amal shalih berlandaskan iman yaitu sebagai  modal atau bekal utama untuk menuju negeri akhirat.

Tidak ada perbedaan pendapat dikalangan ulama bahwa syarat diterimanya ibadah adalah : (1) IKHLAS KARENA ALLAH DAN (2) ITTIBA' YAITU MENGIKUTI PETUNJUK RASULULLAH SALALLAHU 'ALAIHI WASALLAM.  

Ketahuilah bahwa diantara dalil yang  mencakup dua hal ini yaitu tentang ikhlas dan ittiba’  adalah sebagaimana dijelaskan Allah Ta’ala dalam firman-Nya  : 

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ

Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedangkan dia mengerjakan kebaikan. (Q.S an Nisa’ 125)

Syaikh as Sa’di berkata : Maksudnya, tidaklah ada seorangpun yang paling baik agamanya daripada seorang yang menyatukan antara keikhlasan kepada Dzat yang disembah yaitu penyerahan diri hanya untuk Allah yang menunjukkan akan penyerahan hati, penghadapannya, kembalinya, keikhlasannya dan penghadapan wajah serta seluruh anggota tubuh kepada Allah Ta’ala. 

Sedangkan dia pun disamping keikhlasan dan penyerahan diri tersebut dia mengerjakan kebaikan yaitu mengikuti syariat Allah yang telah Allah utus rasul rasul dengannya dan telah Allah turunkan kitab kitab-Nya dan Allah jadikan hal itu sebagai jalan bagi makhluk makhluk-Nya yang terpilih dan pengikut pengikut mereka. (Kitab Tafsir Karimir Rahman).

Sungguh, amal seseorang bisa  tidak bernilai di sisi Allah Ta'ala tersebab tidak ikhlas dan tidak ittiba'. Allah Ta'ala berfirman :

Pertama : Dalam surat al Kahfi 103 dan 104. Allah Ta'ala berfirman :

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِٱلْأَخْسَرِينَ أَعْمَٰلًا

 ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

Katakanlah: Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatan (amal) nya ?.

Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.

Al Imam ath Thabari menjelaskan : Yaitu orang orang yang beramal TIDAK DIATAS PETUNJUK dan istiqamah, bahkan di atas PENYIMPANGAN  DAN KESESATAN. Tersebab mereka beramal tidak berdasarkan apa yang diperintahkan Allah Ta'ala. Sejatinya mereka ingkar terhadap perintah itu. Tetapi mereka menyangka bahwa apa yang mereka lakukan itu sebagai ketaatan. (Jami'ul Bayan).

Kedua : Dalam surat al Furqan 23. Allah Ta'ala berfirman : 

وَقَدِمْنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَٰهُ هَبَآءً مَّنثُورًا

Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. (Q.S al Furqan 23)

Dalam Kitab Tafsir al Muyassar disebutkan : Dan Kami mendatangi segala apa yang mereka perbuat dari kebaikan dan kebajikan yang tampak secara zhahir, kemudian Kami menjadikannya tidak berguna dan tidak berarti, tidak memberikan manfaat kepada mereka, bagaikan debu yang beterbangan, yaitu debu-debu ringan yang terlihat pada pancaran sinar matahari.

Yang demikian itu karena amal  tidak berguna di akhirat, kecuali apabila terpenuhi pada pemiliknya : Iman kepada Allah, berikut ikhlas untuk-Nya dan mengikuti Rasul-Nya, Muhammad Salallahu 'alaihi Wasallam. (Departemen Agama Saudi Arabia).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di berkata :  “Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan,” maksudnya, (kami bersengaja kepada) amal perbuatan mereka yang mereka harapkan menjadi kebaikan dan mereka telah bersusah payah mengerjakannya : “lalu kami jadikan amal itu bagaikan debu yang berterbangan,” maksudnya, batal lagi sirna.

Mereka telah merugi dan tidak mendapatkan pahalanya (bahkan) mereka disiksa karenanya. Hal yang demikian itu karena amal tersebut tidak ada nilai imannya dan karena bersumber dari seorang yang mendustakan Allah dan para Rasul-Nya. Sebab, amal kebaikan yang diterima Allah adalah yang bersumber dari seorang Mukmin nan tulus lagi membenarkan para rasul dan mengikuti mereka. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Oleh karena itu, hamba hamba Allah hendaklah benar benar memperhatikan amal ibadah yang dilakukannya. Apakah sudah betul betul ikhlas karena Allah dan sudah sesuai dengan petunjuk dari Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam.

Wallahu A'lam. (3.343).

 

 

Selasa, 13 Agustus 2024

DIANTARA SIFAT SIFAT BURUK MANUSIA

 

DIANTARA SIFAT SIFAT BURUK MANUSIA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, Allah Ta'ala telah menjelaskan diantara sifat sifat buruk yang ada pada diri manusia, yaitu sebagaimana firman-Nya :

إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لِرَبِّهِۦ لَكَنُودٌ وَإِنَّهُۥ عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٌ

وَإِنَّهُۥ لِحُبِّ ٱلْخَيْرِ لَشَدِيدٌ

Sungguh, manusia itu sangat ingkar (tidak bersyukur) kepada Rabb-nya. Dan sesungguhnya dia (manusia itu) menyaksikan (mengakui) keingkarannya. Dan sesungguhnya cintanya kepada harta benar benar berlebihan.  (Q.S al 'Adiyat 6-8).

Ibnu Abbas berkata : Kanud yaitu kafur yakni sangat ingkar terhadap banyak kenikmatan yang Allah berikan. Imam Hasan al Bashri berkata : Kanud yaitu suka mengingat ingat musibah dan suka melupakan nikmat nikmat yang telah Allah berikan .

Tentang kecintaan  (manusia) kepada harta itu sangat besar. Dalam hal ini ada dua pendapat . Pendapat pertama adalah bahwa sesungguhnya manusia itu sangat mencintai harta.

Pendapat kedua bahwa sesungguhnya karena kecintaannya kepada harta, dia menjadi orang yang serakah dan kikir. Keduanya benar. (Tafsir Ibnu Katsir).

Dalam kitab Tafsir al Muyassar disebutkan : Sesungguhnya manusia sangat ingkar terhadap nikmat nikmat Rabb-nya, Dan dia mengakui dirinya memang pengingkar. Dan sesungguhnya manusia sangat mencintai harta.

Syaikh as Sa'di berkata bahwa firman Allah : “Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya,” yakni amat mencegah kebaikan yang wajib ditunaikan untuk Allah atasnya.

Tabiat dan fitrah manusia tidak merelakan dirinya menunaikan kewajiban kewajibannya secara sempurna dan penuh. Bahkan tabiat manusia adalah pemalas dan mencegah kewajiban-kewajiban harta dan badan yang harus ditunaikan, KECUALI ORANG ORANG YANG DIBERI PETUNJUK OLEH ALLAH  dan keluar dari sifat (buruk) tersebut menuju sifat rela dengan menunaikan kewajiban-kewajiban. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Dalam tiga ayat diatas secara zhahir dapat kita ketahui tentang sifat buruk manusia sebagaimana diperingatkan  Allah Ta'ala secara sangat jelas dan sangat tegas. Sungguh  manusia sangat ingkar terhadap nikmat nikmat Rabb-nya, tidak mau bersyukur. Dan dia mengakui dirinya memang pengingkar. Dan sesungguhnya manusia sangat mencintai harta yaitu mencintai harta secara berlebihan.

Sungguh, hamba hamba Allah hendaklah menyadari keadaan diri manusia yang memiliki beberapa sifat buruk. Oleh karena itu tetaplah bertakwa kepada Allah Ta'ala dan selalu memohon kepada-Nya agar dijauhkan dari berbagai sifat sifat buruk dan tercela.

Wallahu A'lam. (3.342)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Senin, 12 Agustus 2024

SEBAGIAN ORANG BERMUDAH MUDAH MENINGGALKAN SHALAT

SEBAGIAN ORANG BERMUDAH MUDAH MENINGGALKAN  SHALAT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Memang ternyata ada sebagian orang di zaman ini bermudah mudah melalaikan bahkan meninggalkan shalat. Lihatlah sebagian orang : (1) Ketika menghadiri acara pesta atau perayaan. (2) Ketika menghadiri rapat yang dianggap penting. (3) Ketika dalam perjalanan. (4) Ketika sedang berkumpul dan bercanda ria dengan teman teman  dan yang lainnya.    

Sungguh ini adalah sikap yang SANGAT TERCELA DAN MEMBAHAYAKAN DIRI YANG BERSANGKUTAN di dunia dan di akhirat karena berani melanggar perintah Allah Ta'ala. Ketahuilah bahwa shalat fardhu adalah rukun Islam kedua setelah syahadat. Karena sifatnya rukun dan fardhu maka banyak keburukan akan mendatangi orang yang melalaikan shalat apa lagi meninggalkannya.

Sungguh Allah Ta'ala telah memberi ancaman bagi orang yang melalaikan shalat, apalagi meninggalkan shalat. Tentang melalaikan shalat telah disebutkan ancamannya sebagaimana firman-Nya :


الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ  فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ

Maka CELAKALAH ORANG YANG SHALAT. (yaitu) ORANG ORANG YANG LALAI terhadap shalatnya. (Q.S al Ma’un 4-5).

Syaikh as Sa’di berkata : “Maka celakalah (bagi) orang orang yang shalat” yaitu orang orang (terbiasa, konsisten) menegakkan shalat, tapi mereka adalah “orang yang lalai terhadap shalatnya”. YAITU MENYIA NYIAKANNYA. Tidak shalat hingga waktunya berlalu dan tidak memenuhi rukun rukunnya. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin mengatakan  bahwa salah satu makna MELALAIKAN SHALAT dalam ayat ini adalah : TIDAK MELAKSANAKAN SHALAT DI AWAL WAKTU. (Tafsir Juz ‘Amma).

Allah Ta'ala berfirman :

قَالُوا۟ لَمْ نَكُ مِنَ ٱلْمُصَلِّينَ  َ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ ٱلْمِسْكِينَ مَا سَلَكَكُمْ فِى سَقَر 

وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلْخَآئِضِينَ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ ٱلدِّينِ

Apa yang menyebabkan kamu masuk kedalam (neraka) Saqar ?. Mereka menjawab : Dahulu kami tidak termasuk orang orang yang melaksanakan shalat. Dan kami (juga) tidak memberi makan orang miskin. Bahkan kami biasa berbincang (untuk tujuan yang bathil) bersama orang orang yang membicarakannya. Dan kami mendustakan hari pembalasan. (Q.S al Muddassir 42-46)

Selain itu, satu perkara penting yang perlu diketahui bahwa shalat  adalah ibadah yang pertama kali akan dihisab di akhirat kelak. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda : 

 قاَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ ، فَإنْ صَلُحَتْ ، فَقَدْ أفْلَحَ وأَنْجَحَ ، وَإنْ فَسَدَتْ ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ ، قَالَ الرَّبُ – عَزَّ وَجَلَّ – : اُنْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ، فَيُكَمَّلُ مِنْهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ ؟ ثُمَّ تَكُونُ سَائِرُ أعْمَالِهِ عَلَى هَذَا.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi.

Jika berkurang sedikit dari shalat wajibnya, maka Allah ‘Azza wa Jalla  berfirman : Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah. Maka disempurnakanlah apa yang kurang dari shalat wajibnya. Kemudian begitu pula dengan seluruh amalnya. (H.R at Tirmidzi dan an Nasa’i,  dishahihlan oleh al Hafizh Abu Thahir).

Wallahu A'lam. (3.441). 

HAKIKATNYA SESUATU YANG PALING DEKAT ADALAH KEMATIAN

 

HAKIKATNYA SESUATU YANG PALING DEKAT ADALAH KEMATIAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Memang demikianlah keadaannnya. Saat untuk mati memang   SUDAH DEKAT BAHKAN SUDAH SANGAT DEKAT. Kenapa ?, karena  mati itu bisa datang sewaktu waktu bahkan dalam sekejap. Tidak ada yang tahu kapan datangnya. Bisa jadi beberapa menit lagi, beberapa jam lagi, beberapa hari lagi dan seterusnya.

Ketahuilah bahwa sebagian besar manusia takut untuk mati atau merasa belum siap atau merasa belum mau mati. Tetapi meskipun demikian semua  orang tahu persis bahwa mati itu sudah pasti akan mendatanginya yaitu pada waktu yang Allah telah  tetapkan baginya. Allah Ta'ala berfirman :

قُلْ إِنَّ ٱلْمَوْتَ ٱلَّذِى تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُۥ مُلَٰقِيكُمْ ۖ

Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu. (Q.S al Jumu’ah 8).

Allah Ta’ala berfirman :

أَيۡنَمَا تَكُونُواْ يُدۡرِككُّمُ ٱلۡمَوۡتُ وَلَوۡ كُنتُمۡ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍۗ

Di mana saja kalian berada, kematian pasti akan mendapati kalian, walaupun kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. (Q.S an Nisa’ 78).

Ketahuilah wahai saudaraku masalah besar kita bukan mati, karena semua orang cepat atau lambat pasti mati. Masalah besar adalah bagaimana  keadaan hidup kita setelah mati.

Oleh karena itu, sering seringlah merenung memikirkan apa bekal kita menghadapi hidup setelah mati. Ketahuilah bahwa Allah Ta'ala telah mengingatkan :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Wahai orang orang beriman !. hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (Q.S  al Hasyr 18).

Sungguh  SEHARUSNYA ORANG ORANG BERIMAN  BERSEDIH BAHKAN MENANGIS karena bekal  terasa masih sangat sedikit bahkan SANGAT SEDIKIT. Ada pula yang belum punya bekal sama sekali.  

Ketahuilah bahwa Abu Hurairah menjelang wafatnya  menangis. Lalu ditanya kenapa beliau menangis. Beliau menjawab bahwa : Perjalanan menuju akhirat itu sangatlah panjang dan berattetapi perbekalanku hanya sedikit. Jadi beliau takut kalau bekalnya tidak cukup. Bukankah jika seseorang akan melakukan perjalanan yang panjang dan berat memerlukan bekal yang banyak.

Ketahuilah bahwa rute perjalanan yang akan kita tempuh menuju negeri akhirat adalah persis sama seperti yang akan dilalui Abu Hurairah, dan sebagaimana manusia umumnya, yaitu dimulai dengan sakaratul maut, kematian, alam kubur dan fitnahnya, padang Mahsyar yang berat, timbangan amal, melalui shiraat dan seterusnya sebelum sampai di  surga atau neraka. (Kitab Rihlah ilad Darus Akhirah, Syaikh Mahmud al Mishri).

 

Nah kalau sahabat sekelas Abu Hurairah menangis ketika akan wafat karena merasa kekurangan bekal lalu bagaimana dengan saya dan saudara saudara yang saat ini masih hidup. Masih pantaskah kita banyak bersenda gurau, hura hura, tertawa ria dan menghabiskan umur untuk urusan dunia sehingga lalai dalam mempersiapkan bekal menuju akhirat ?.

Wallahu A'lam. (3.340)