Senin, 10 Juni 2024

RUGI BESAR JIKA PEMIMPIN BOHONG DIKATAKAN BENAR DAN DIIKUTI

 

RUGI BESAR JIKA PEMIMPIN BOHONG DIKATAKAN BENAR DAN DIIKUTI

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Di berbagai negeri  ada pemimpin pemimpin yang suka bohong bahkan disebut sebagai si raja bohong. Meskipun kebohongannya banyak dan terbukti tetapi ada saja manusia yang membela dan membenarkan kebohongannya.

Kita bisa mengira ngira kenapa orang orang ada yang membela dan membenarkan kebohongan pemimpin. Penyebab paling utama adalah  karena ADA KEPENTINGAN DUNIA yang mereka harapkan dari pemimpin si raja bohong itu. Mereka itulah manusia yang suka cari muka bahkan munafik.

Sungguh Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam telah mengingatkan tentang akan adanya pemimpin  yang suka BERBOHONG DAN ZHALIM. Dan ada pula kerugian dan bahaya besar bagi yang membenarkan pemimpin zhalim dan suka bohong. Beliau bersabda :

عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ دَخَلَ وَنَحْنُ تِسْعَةٌ وَبَيْنَنَا وِسَادَةٌ مِنْ أَدَمٍ فَقَالَ إِنَّهَا سَتَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ يَكْذِبُونَ وَيَظْلِمُونَ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكِذْبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الْحَوْضَ وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَيُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَهُوَ وَارِدٌ عَلَيَّ الْحَوْضَ

Dari Ka’ab bin Ujrah ia berkata, Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam  pernah keluar atau masuk menemui kami, ketika itu kami berjumlah sembilan orang. Dan di antara kami ada bantal dari kulit. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  lalu bersabda : Sesungguhnya akan ada setelahku PARA PEMIMPIN YANG BERBOHONG DAN ZHALIM.

Barangsiapa mendatangi mereka kemudian MEMBENARKAN KEBOHONGAN MEREKA  atau MEMBANTU MEREKA DALAM KEZHALIMANNYA, maka ia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya. Ia tidak akan minum dari telagaku.

Dan barangsiapa tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu mereka dalam berbuat kezhaliman, maka ia adalah dari golonganku dan aku adalah dari golongannya. Dan kelak ia akan minum dari telagaku. (H.R Imam Ahmad).

Dari zhahir hadits ini kita menjadi tahu bahwa paling tidak ada dua kerugian besar bagi orang orang yang membenarkan kebohongan dan kezhaliman  para pemimpin, yaitu :

(1) Tidak diakui Rasulullah Salalallahu 'alaihi Wasalam sebagai umat beliau. Sungguh, inilah sebesar besar kerugian di akhirat kelak.

(2) Kerugian berikutnya adalah tidak boleh minum dari air telaga Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam. Ketahuilah, salah satu nikmat yang akan diperoleh umat beliau di akhirat kelak adalah minum air dari telaga beliau. Dalam satu hadits disebutkan :

حَوْضِي مَسِيرَةُ شَهْرٍ، وَزَوَايَاهُ سَوَاءٌ، وَمَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ الْوَرِقِ، وَرِيحُهُ أَطْيَبُ مِنَ الْمِسْكِ، وَكِيزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ، فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلاَ يَظْمَأُ بَعْدَهُ أَبَدًا

Telagaku (sejauh) perjalanan sebulan. Ujung-ujungnya sama. Airnya lebih putih daripada perak. Aromanya lebih wangi daripada kasturi. Dan gelas gelasnya seperti (jumlah) bintang-bintang di langit. Barangsiapa yang minum darinya maka TIDAK AKAN KEHAUSAN SELAMANYA. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim, Ini lafadz dari riwayat Imam Muslim diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin 'Ash).

Sebagai penutup tulisan ini, dinukilkan satu hadits tentang bahaya besar yang akan mendatangi orang yang suka berbohong. Rasulullah Sallallahu 'alaihi Wasallam mengingatkan dalam sabda beliau :  

وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

Dan hindarilah olehmu berlaku bohong karena kebohongan menuntunmu pada kejahatan, dan kejahatan menuntunmu ke neraka. Dan seseorang senantiasa berlaku bohong dan selalu berbohong sehingga dia tercatat di sisi Allah Ta’ala sebagai pembohong (H.R Imam Muslim).

Wallahu A'lam. (3.296) 

 

   

 

 

Minggu, 09 Juni 2024

DIANJURKAN BERDOA KETIKA HUJAN DAN KETIKA ANGIN KENCANG

 

DIANJURKAN BERDOA KETIKA HUJAN DAN KETIKA ANGIN KENCANG

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

 Keadaan cuaca berupa hujan dan berupa angin kencang adalah sesuatu yang sering kita dapati. Dalam dua keadaan ini orang orang beriman dianjurkan untuk berdoa.

Pertama : Doa ketika hujan mulai turun.

Sungguh, hujan adalah rahmat atau kasih sayang Allah Ta'ala kepada makhluk-Nya. Allah  Ta'ala berfirman :  

وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ ۚ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا

Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan). Dan kami turunkan dari langit air yang mensucikan (Q.S al Furqan 48).

Ketahuilah bahwa Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam mengajarkan kita untuk berdoa ketika hujan mulai turun, yaitu : 

اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ صَيِّبًا نَافِعًا

Ya Allah jadikanlah hujan ini hujan yang bermanfaat. (H.R Imam Bukhari).

 Ibnu Baththal mengatakan : Hadits ini berisi anjuran untuk berdoa ketika turun hujan agar kebaikan dan keberkahan semakin bertambah, begitu pula semakin banyak kemanfaatan. (Syarh Al Bukhari, Ibnu Bathal).

Kedua : Doa ketika angin bertiup kencang.

Adapun doa yang diajarkan Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam yaitu memohon kebaikan dari angin yang bertiup kencang dan berlindung dari keburukannya : 

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ

Ya Allah !. Sesungguhnya aku bermohon kepada-Mu kebaikan angin (ribut) ini, kebaikan yang ada didalamnya dan kebaikan  apa  yang dibawanya. Dan, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, dan keburukan apa yang di dalamnya dan  keburukan apa yang dibawanya. (H.R Imam Muslim).

Syaikh Utsaimin berkata : Ada dua jenis angin yang bertiup yaitu : 

(1) Yang bertiup biasa dan tak menakutkan maka tidak di sunahkan mengucapkan dzikir tertentu.

(2) Angin yang bertiup (sangat) kencang dan menakutkan maka kita tidak boleh mencelanya dan (disunahkan) mengucapkan dzikir  sebagaimana dzikir (atau doa) dari Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam. (Dari Syarah Riyadush Shalihin, dengan diringkas).

Wallahu A'lam. (3.295)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sabtu, 08 Juni 2024

JANGAN MELAKUKAN AMAL SHALIH YANG TIDAK DISYARIATKAN

 

JANGAN MELAKUKAN AMAL SHALIH YANG TIDAK DISYARIATKAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, kita menyaksikan di zaman ini ada banyak saudara saudara kita yang sangat bersemangat melakukan berbagai amal shalih. Tujuannya tentu sangat baik yaitu untuk mencari ridha Allah Ta'ala dan mengharapkan pahala yang banyak.

Ketika seorang hamba banyak melakukan amal shalih maka dia akan menjadi orang yang beruntung di akhirat kelak. Sungguh amal shalih yang dilakukan oleh seorang hamba pasti akan memberatkan timbangan amalnya. Allah Ta'ala berfirman :

وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ ۚ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ

Timbangan pada hari itu (menjadi ukuran) kebenaran. Maka barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan) nya, MEREKA ITULAH ORANG YANG BERUNTUNG. Dan barangsiapa ringan timbangan (kebaikan) nya maka mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri, karena mereka mengingkari ayat ayat kami. (Q.S al A’raf 8-9).

Selain itu, amalan amalan yang kecil juga pasti akan dibalas dan tentu akan memberatkan timbangan amal kebaikan seorang hamba di akhirat kelak. Allah Ta’ala berfirman :

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ *

Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah niscaya dia akan melihat (balasan) nya. (Q.S al Zalzalah 7).

Namun demikian, satu perkara yang perlu diperhatikan dengan sungguh sungguh dalam melakukan amal shalih adalah sesuai yang disyariatkan. Seorang hamba jangan melakukan suatu amal yang tidak ada tuntunannya dalam syariat. Sungguh satu amalan hanya diterima jika dilakukan DENGAN IKHLAS DAN SESUAI PETUNJUK RASULULLAH SALALLAHU 'ALAIHI WASALLAM.

Ketahuilah bahwa ketika suatu amal tidak ada petunjuk dari Allah Ta'ala melalui Rasul-Nya, maka amalan itu tertolak. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْه ِأَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barang siapa  beramal yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalannya tertolak. (H.R Imam Muslim)

Seseorang yang berani membuat perkara perkara baru yang diada adakan yaitu penambahan atau pengurangan dalam syariat  maka  Allah Ta’ala  mengancam dengan fitnah dan adzab yang pedih. Allah Ta’ala berfirman :  

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Hendaklah takut orang orang yang menyalahi (menyelisihi) perintahnya (yakni perintah Rasul) akan menimpa mereka fitnah atau menimpa mereka adzab yang sangat pedih. (Q.S an Nuur 63).

Oleh sebab itu mungkin ada baiknya kita periksa lagi amalan amalan yang kita lakukan selama ini apakah jelas ada tuntunannya atau tidak. Jika tidak ada tuntunannya lebih baik segera ditinggalkan.

Wallahu A'lam. (3.294).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rabu, 05 Juni 2024

SUATU KAUM BANYAK BERMAKSIAT AKAN MENDAPAT PEMIMPIN ZHALIM

 

SUATU KAUM BANYAK BERMAKSIAT AKAN MENDAPAT PEMIMPIN ZHALIM

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Suatu kaum  senantiasa memiliki pemimpin bagi kaumnya. Dan setiap kaum menginginkan pemimpin yang baik bagi mereka. Tetapi ketahuilah terkadang mereka mendapat atau memiliki pemimpin yang sedikitpun tidak mau memperhatikan urusan kemashalahat  anggota kaumnya.

Pemimpinnya  zhalim bahkan sangat zhalim  tersebab kezhaliman mereka yang dipimpin. Allah Ta'ala berfirman :


وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ 

Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan. (Q.S al An`am 129).

Syaikh as Sa'di berkata : Maka termasuk sunnah Kami adalah MENJADIKAN ORANG ZHALIM SEBAGAI WALI BAGI ORANG ZHALIM YANG LAIN yang mendorong dan menghasutnya kepada keburukan. Menjauhkan dan menghindarkannya dari kebaikan.

Hal ini termasuk hukuman Allah yang keras, yang buruk pengaaruhnya yang mendalam bahayanya, dosanya adalah dosa yang zhalim. Dialah yang mengundang dan memetiK mudharat bagi dirinya sendiri dan Rabb-mu tidaklah menzhalimi hamba hamba-Nya.

Syaikh menambahkan : Termasuk dalam hal ini adalah jika kezhaliman manusia, kerusakan dan penolakan manusia untuk menunaikan hak hak yang wajib telah memuncak  maka ALLAH TA'ALA AKAN MEMUNCULKAN ORANG ZHALIM YANG MENGUSASAI MEREKA.

Orang zhalim ini akan memerintah mereka dengan KEZHALIMAM DAN KESEWENANGAN WENANGAN yang jauh lebih besar daripada hak hak Allah dan hamba hamba-Nya yang tidak mereka tunaikan.

Jika manusia baik dan lurus maka Allah Ta'ala memperaiki pemimpin mereka, menjadikan mereka sebagai pemimpin pemimpin yang adil. Bukan pemimpin yang zhalim lagi lalim. (Tafsir Taisir Karimir Rahman, dengan diringkas tanpa mengurangi makna).

Ketahuilah bahwa keberadaan pemimpin yang zhalim adalah hukuman dunia bagi rakyatnya yang juga melakukan kezaliman dengan berbagai maksiat. Maka dari itu Ka’ab al-Akhbar mengatakan : Sesungguhnya di setiap zaman ada pemimpin yang Allah tunjuk sesuai dengan keadaan hati masyarakatnya. Jika Allah hendak memperbaiki masyarakat ini maka Allah tunjuk pemimpin yang baik. Dan jika Allah hendak membinasakan mereka, Allah tunjuk pemimpin yang zhalim.  (Syuabul Iman).

Imam Ibnul Qayyim al Jauziyah berkata : Sesungguhnya di antara hikmah Allah Ta’ala dalam keputusan-Nya memilih para raja, pemimpin dan pelindung umat manusia adalah sama dengan amalan rakyatnya bahkan perbuatan rakyat seakan-akan adalah cerminan dari pemimpin dan penguasa mereka.

Jika rakyat lurus, maka akan lurus juga penguasa mereka. Jika rakyat adil, maka akan adil pula penguasa mereka. Namun, jika rakyat berbuat zhalim, maka penguasa mereka akan ikut berbuat zhalim. Jika tampak tindak penipuan di tengah-tengah rakyat, maka demikian pula hal ini akan terjadi pada pemimpin mereka. Jika rakyat menolak hak-hak Allah dan enggan memenuhinya, maka para pemimpin juga enggan melaksanakan hak-hak rakyat dan enggan menerapkannya.

Jika dalam muamalah rakyat mengambil sesuatu dari orang-orang lemah, maka pemimpin mereka akan mengambil hak yang bukan haknya dari rakyatnya serta akan membebani mereka dengan tugas yang berat. (Lihat Miftah Daaris Sa'adah).

 

Oleh karena itu maka hamba hamba Allah hendaklah terus menerus menjaga ketaatannya kepada perintah perintah Allah Ta'ala. Tidak berlaku zhalim yaitu menjauhi dosa dan maksiat yang dilarang Allah Ta'ala. Dengan demikian akan memperoleh pemimpin yang adil. Bukan pemimpin zhalim.

 

Wallahu A'lam. (3.293)   



 

  

Senin, 03 Juni 2024

ORANG MUNAFIK MENYURUH YANG MUNGKAR MELARANG YANG MAKRUF

 

ORANG MUNAFIK MENYURUH YANG MUNGKAR MELARANG YANG MAKRUF

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Siapa yang disebut orang munafik adalah sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Juraij yang mengatakan bahwa : Orang munafik ialah orang yang omongannya menyelisihi tindak-tanduknya, bathinnya menyelisihi lahiriahnya, tempat masuknya menyelisihi tempat keluarnya, dan kehadirannya menyelisihi ketidak-adaannya. (‘Umdah at-Tafsir I/78).

Sungguh, di zaman ini sangatlah banyak berkeliaran orang orang munafik di masyarakat kita bahkan sebagiannya ada yang memiliki pangkat, jabatan dan kedudukan tinggi serta harta yang banyak. Padahal hakikatnya mereka memiliki sifat dan kelakuan yang sangat buruk.

Salah satu sifat sangat buruk orang munafik adalah menyuruh kepada yang mungkar dan melarang berbuat yang makruf. Perkara ini dijelaskan Allah Ta'ala dalam firman-Nya :

ٱلْمُنَٰفِقُونَ وَٱلْمُنَٰفِقَٰتُ بَعْضُهُم مِّنۢ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِٱلْمُنكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ ۚ نَسُوا۟ ٱللَّهَ فَنَسِيَهُمْ ۗ إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

Orang munafik laki laki dan perempuan, satu dengan yang lain adalah (sama). Mereka menyuruh (berbuat) mungkar dan mencegah (perbuatan) yang makruf dan mereka mengenggam tangannya (karena kikir).

Mereka telah melupakan kepada Allah maka Allah melupakan mereka  (pula). Sesungguhnya orang orang munafik itulah orang yang fasik. (Q.S at Taubah 67).

Dalam Kitab tafsir al Muyassar disebutkan bahwa : Orang-orang munafik laki-laki dan orang-orang munafik perempuan adalah sama dalam hal memperlihatkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran. Mereka memerintahkan kekafiran kepada Allah dan mendurhakai Rasul-Nya. Melarang dari keimanan dan ketaatan, menahan tangan mereka untuk berinfak di jalan Allah.

Mereka lupa kepada Allah, tidak mengingat ingat-Nya, maka Dia pun melupakan mereka dari rahmat-Nya, Dia tidak memberikan taufik kepada mereka menuju kebaikan. Sesungguhnya orang-orang munafik adalah orang-orang yang telah keluar dari keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya. (Kementerian Agama Saudi Arabia).

Selain itu, ketahuilah bahwa tersebab kelakuan buruk mereka maka orang orang munafik akan ditempatkan di neraka pada lapisan paling bawah, dan tentulah  paling dahsyat panasnya. Allah Ta'ala berfirman :  

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

Sungguh, orang orang munafik  itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka. (Q.S an Nisaa’ 145) 

Syaikh as Sa'di berkata : Allah Ta’ala melalui ayat ini memberitakan tentang kondisi akhir dari orang orang munafik yaitu bahwa mereka berada pada derajat yang paling rendah dari siksaan dan paling buruk keadaan hukumannya. Orang munafik berada dibawah seluruh kaum kafir. 

Karena mereka ini bersekutu dengan kaum kafir dalam kekufuran kepada Allah dan memerangi Rasul-Nya. Orang orang munafik itu melebihi kaum kafir dalam konspirasi yaitu membuat makar, tipu muslihat dan kemampuan untuk mempergunakan berbagai macam cara dalam memerangi kaum muslimin dalam bentuk yang tidak disadari dan tidak terlihat jelas. (Tafsir Taisir Kariimir Rahman). 

Wallahu A'lam. (3.292)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 : Allah berfirman : "Kabarkanlah  kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih. (yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah". (Q.S an Nisa: 138-139).

 

Syaikh as Sa’di berkata : “Kabarkanlah kepada orang orang munafik” yaitu orang orang yang menampakkan Islam dan menyembunyikan kekufuran dengan kabar yang paling buruk yaitu adzab yang pedih. YANG DEMIKIAN ITU KARENA MEREKA MENCINTAI ORANG ORANG KAFIR DAN MENOLONG ORANG ORANG KAFIR, MEMBELA MEREKA SERTA MENINGGALKAN CINTA DAN KASIH SAYANG KEPADA ORANG ORANG BERIMAN. Apakah yang mendorong mereka melakukan hal itu ?. Seperti inilah kenyataan dari orang orang munafik : (1) Prasangka mereka buruk terhadap Allah. (2) Keyakinan mereka lemah terhadap (adanya) pertolongan Allah kepada orang orang beriman. (Tafsir Taisir Karimir Rahman

   

ORANG BERIMAN BERJUANG KERAS UNTUK MENDAPAT TAKWA

 

ORANG BERIMAN BERJUANG KERAS UNTUK MENDAPAT TAKWA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Adapun makna takwa dalam pengertian bahasa berarti batasan atau penghalang yang mencegah seseorang dari hal yang ditakutinya. Jadi takwa kepada Allah bermakna membuat penghalang antara diri pribadi dengan siksa-Nya. Untuk memperoleh takwa itu maka seorang hamba haruslah mentaati perintah dan larangan Rabb-nya. (Tahdzibul Atsar, Imam ath Thabari).

Sungguh, dalam kehidupan di dunia ini orang beriman mempunyai puncak cita cita atau cita cita tertinggi untuk menjadi orang bertakwa. Kenapa ?. Iya karena itulah jalan keselamatan di dunia dan di akhirat kelak. Ketahuilah bahwa Allah Ta'ala menyediakan SURGA HANYA UNTUK ORANG ORANG BERTAKWA TIDAK UNTUK SELAINNYA. Perkara ini dijelaskan Allah Ta'ala dalam firman-Nya, diantaranya :

Pertama : Dalam surat Ali Imran 133. Allah Ta’ala berfirman :

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Rabb-mu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang orang yang bertakwa.

Kedua : Dalam surat Ali Imran 198. Allah Ta'ala berfirman :

لَٰكِنِ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ رَبَّهُمْ لَهُمْ جَنَّٰتٌ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا نُزُلًا مِّنْ عِندِ ٱللَّهِ ۗ وَمَا عِندَ ٱللَّهِ خَيْرٌ لِّلْأَبْرَارِ

Tetapi orang orang yang bertakwa kepada Rabb-nya mereka akan mendapat surga surga yang mengalir di bawahnya sungai sungai. Mereka kekal di dalamnya sebagai karunia dari Allah. Dan apa yang di sisi Allah lebih baik bagi orang orang yang berbakti.

Selain itu ketahuilah bahwa sungguh sangat banyak kebaikan dan keutamaan yang akan mendatangi  orang orang bertakwa, diantaranya adalah :

(1) Allah Ta'ala mencintai orang bertakwa, sebagaimana firman-Nya :

بَلَىٰ مَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِۦ وَٱتَّقَىٰ فَإِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَّقِينَ

Sebenarnya, barangsiapa yang menepati janji dan bertakwa maka sungguh Allah mencintai orang orang yang bertakwa. (Q.S Ali Imran 76).

(2) Allah Ta'ala memberi rahmat orang bertakwa, sebagaimana firman-Nya :

وَهَٰذَا كِتَٰبٌ أَنزَلْنَٰهُ مُبَارَكٌ فَٱتَّبِعُوهُ وَٱتَّقُوا۟ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan ini adalah Kitab (al Qur an) yang Kami turunkan dengan penuh berkah. Ikutilah dan bertakwalah agar kamu mendapat rahmat. (Q.S al An'am 155).

(3) Allah Ta'ala bersama orang bertakwa, sebagaimana firman-Nya :

إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوا۟ وَّٱلَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ

Sungguh, Allah bersama orang orang yang bertakwa dan orang orang yang berbuat kebaikan. (Q.S an Nahal 128).

Tentang ayat ini, dalam kitab tafsir al Muyassar disebutkan : Sesungguhnya Allah dengan taufik, pertolongan, dan pembelaan-Nya , bersama orang-orang yang takut kepada-Nya dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi apa-apa yang Dia larang, dan juga bersama orang-orang yang berbuat baik dalam menunaikan apa-apa yang Dia fardhukan dan melaksanakan hak hak-NYa, dan senantiasa taat kepada-Nya.

(4) Allah Ta'ala memberi kemenangan orang bertakwa, firman-Nya :

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan (Q.S an Nur 52).

(5) Allah Ta'ala memberi rizki dan jalan keluar yang mudah orang bertakwa, sebagaimana firman-Nya :

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (Q.S ath Thalaq 2-3).

Sungguh sangat banyak kebaikan dan keUtamaan yang akan diperoleh orang orang bertakwa.  Oleh karena itu maka orang orang beriman tetap berfokus kepada cita citanya yang tertinggi yaitu senantiasa dalam keadaan bertakwa sampai akhir hayatnya.

Wallahu A'lam. (3.291).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sabtu, 01 Juni 2024

KALIMAT DZIKIR SEBAGAI PENGHAPUS DOSA

KALIMAT DZIKIR SEBAGAI PENGHAPUS DOSA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Selalu berdzikir atau mengingat Allah adalah salah satu ibadah atau perbuatan baik YANG DIPERINTAHKAN dalam syariat Islam. Allah Ta'ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا   

Wahai orang orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. (Q.S al Ahzaab 41-42).

Syakh as Sa’di berkata : Allah Ta’ala memerintahkan orang orang beriman agar berdzikir, mengingat-Nya sebanyak banyaknya dalam bentuk tahlil, tahmid, tasbih takbir dan yang lain lainnya dari setiap bacaan yang mengandung pendekatan diri kepada Allah Ta’ala.

Ketahuilah bahwa Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasalam berdzikir dalam setiap waktu. Diriwayatkan dari Mukminin, Aisyah  beliau berkata :

كَانَ النَبِيُّ صَلَى الله عليه وسلم يَذْكُرُ الله عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ    

Bahwa Nabi Salallahu ‘alaihi Wasallam selalu berdzikir mengingat Allah Ta’ala dalam setiap waktunya. (H.R Imam Muslim).

Syaikh Muhammad Shalih al Utsaimin berkata : Pada hadits ini terdapat dalil bahwa seyogyanya engkau banyak banyak berdzikir menyebut nama Allah Ta’ala dalam setiap keadaan. (Syarh Riyaadhish Shaalihin).

Ketahuilah bahwa berdzikir hakikatnya adalah termasuk bagian dari ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala dan mencari ridha-Nya. Ketika seorang hamba beribadah dalam berbagai bentuk yang disyariatkan termasuk berdzikir maka akan mendatangkan pahala baginya.

Tetapi, selain itu ketahuilah bahwa berdzikir JUGA SEBAGAI PENGHAPUS DOSA, diantaranya adalah dengan dzikir yang diajarkan  Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabda beliau :

مَا عَلَى الأَرْضِ رَجُلٌ يَقُولُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ إِلاَّ كُفِّرَتْ عَنْهُ ذُنُوبُهُ وَلَوْ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ زَبَدِ الْبَحْرِ

Tidaklah seorang di muka bumi ini mengucapkan: Laa ilaha illallah, wallahu akbar, wasubhanallah, wal hamdulillah, wa laa hawla wa laa quwwata illa billah, melainkan dosa-dosanya akan dihapus, walaupun sebanyak buih di lautan. (H.R Imam Ahmad dengan sanad Hasan).

Akan tetapi perlu diketahui, janganlah dengan adanya hadits ini kita jadi meremehkan dosa. Lalu berpikir bahwa nanti mudah menghapusnya dengan membaca dzikir ini.

Imam al Munawi rahimahullah berkata : Seseorang yang mengandalkan terus dzikir ini, akan tetapi ia terus bermaksiat sekehendak syahwatnya, melanggar agama Allah dan kehormatannya, janganlah ia menyangka akan disamakan dengan orang yang dibersihkan dan disucikan.

Jangan menyangka ucapannya akan mendapat pahala melalui lisannya, padahal tidak ada ketakwaan (rasa takut) dan amal saleh pada dirinya. (Faidhul Qadir).

Selain itu, paling tidak ada dua perkara yang perlu diperhatikan tentang dihapusnya dosa dengan dzikir ini :

Pertama : Yang dihapus adalah dosa ketika melanggar hak Allah Ta'ala. Jika dosa berkaitan dengan hak  sesama manusia mestilah   diselesaikan dengan yang bersangkutan  meminta   dimaafkan. Jika berkaitan dengan harta maka mestilah mengembalikan haknya berupa harta pula.

Kedua : Yang dihapus adalah dosa-dosa kecil. Adapun dosa besar yang dilakukan seseorang maka dia harus bertaubat dengan sungguh sungguh yaitu dengan taubat nasuha dan tentunya harus dengan memenuhi syarat taubat nasuha.

Tentang perintah melakukan taubat nasuha dijelaskan Allah Ta'ala dalam firman-Nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

Wahai orang-orang yang beriman !. Bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (yaitu taubat yang semurni-murninya atau sebenar benar taubat). (Q.S at Tahrim 8).

Wallahu A'lam. (3.290).