Sabtu, 19 Oktober 2024

TETAP DALAM KETAATAN SETELAH HIJRAH DARI KEMUNGKARAN

 

TETAP DALAM KETAATAN SETELAH HIJRAH DARI KEMUNGKARAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Diantara para ulama yang mumpuni ilmunya menjelaskan makna hijrah, diantaranya adalah :

Pertama : Hijrah tempat.

Hijrah tempat adalah hijrah dari negeri musyrik ke negeri Islam, Hijrah berdasarkan tempat dibagi menjadi dua :

(1) Hijrah yang umum, yaitu setiap hijrah yang dilakukan dari negeri kafir ke negeri Islam. Kewajiban hijrah ini berlaku sampai hari kiamat.

(2) Hijrah yang khusus, yaitu hijrah dari Mekah ke Madinah di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada saat Nabi meninggalkan negeri Mekah, status Mekah saat itu adalah negeri syirik. Kemudian Nabi hijrah ke Madinah dan di negeri tersebut tersebarlah agama Islam ke setiap rumah sehingga Madinah menjadi negeri Islam.

Ini adalah hijrah yang khusus dan hanya berlaku pada saat itu. Hal ini sesuai sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : 

لا هِجْرَةَ بَعْدَ الفَتْحِ ، وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ ، وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ فانْفِرُوا
مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata : Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tidak ada hijrah setelah terbukanya kota Mekah. Akan tetapi (yang ada) adalah jihad dan niat. Dan jika kamu diminta berangkat jihad maka berangkatlah. (Muttafaq ‘alaih). Lihat penjelasan dalam Syarh Kitabi Tsalatsatil Ushul li Syaikh Shalih Alu Syaikh.

Kedua : Hijrah secara maknawi

Hijrah secara maknawi adalah HIJRAH ATAU BERPINDAH dari kemaksiatan menuju kepada ketaatan. Dalilnya adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : 

والمهاجر من هجر ما نهى الله عنه

Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang Allah larang” (HR. Bukhari dan Imam Muslim))

Diantara contoh hijrah maknawi   adalah berhenti  dari memakan harta riba, mendengrakan musik, meminum khamr, dan perbuatan maksiat lainnya (Lihat Syarh Al Ushul Ats Tsalatsah,  Ustadz Dr. Firanda Andirja MA).

Kalau dilihat kebutuhan orang orang di zaman ini maka yang PALING MENDESAK ADALAH HIJRAH SECARA MAKNAWI, yaitu berpindah atau meninggalkan berbagai keburukan, kemaksiatan dan dosa.

Dan memang sangat banyak saudara saudara kita saat ini YANG BERSEMANGAT UNTUK MELAKUKAN HIJRAH SECARA MAKNAWI yaitu berhenti dari berbagai maksiat dan dosa yang dilakukan selama ini lalu bertaubat memohon  ampun dan  BERSEGERA MENUJU KEPADA KETAATAN.  

Namun demikian di awal hijrahnya sering terasa agak berat bahkan ada yang hijrahnya kepada kebaikan bertahan tidak lama tetapi kemudian gagal. Tidak istiqamah dalam ketaatan setelah berhijrah.

Tetapi ketahulah bahwa ada beberapa jalan yang bisa ditempuh sehingga tetap istiqamah dalam berhijrah. Diantaranya adalah :

Pertama : Pasang niat ikhlas ketika hijrah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺍْﻷَﻋْﻤَﺎﻝُ ﺑِﺎﻟﻨِّﻴَّﺎﺕِ ﻭَﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻟِﻜُﻞِّ ﺍﻣْﺮِﺉٍ ﻣَﺎ ﻧَﻮَﻯ . ﻓَﻤَﻦْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻫِﺠْﺮَﺗُﻪُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟِﻪِ ﻓَﻬِﺠْﺮَﺗُﻪُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟِﻪِ، ﻭَﻣَﻦْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻫِﺠْﺮَﺗُﻪُ ﻟِﺪُﻧْﻴَﺎ ﻳُﺼِﻴْﺒُﻬَﺎ ﺃَﻭْ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓٍ ﻳَﻨْﻜِﺤُﻬَﺎ ﻓَﻬِﺠْﺮَﺗُﻪُ ﺇِﻟَﻰ ﻣَﺎ ﻫَﺎﺟَﺮَ ﺇِﻟَﻴْﻪِ

Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya.

Dan barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ingin ia dapatkan atau mendapatkan wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia inginkan itu. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Nah ketika berhijrah dengan niat yang lurus karena Allah Ta'ala maka hijrahnya menjadi semakin kokoh dengan pertolongan Allah Ta'ala. Bahkan kita tetap harus meluruskan niat ketika telah hijrah agar tetap istiqamah.

Ketahuilah bahwa hati sering berubah-ubah dan mudah berubah niatnya. Niat dan ikhlas adalah perkara yang berat untuk dijaga agar istiqamah dan sangat membutuhkan pertolongan Allah. Oleh karena itu dianjurkan untuk banyak membaca doa yang diajarkan Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasalam dalam perkara ini sebagaimana satu hadits dari Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash, dia  berkata bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda : 

إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

Sesungguhnya hati semua manusia itu berada di antara dua jari dari sekian jari Allah Yang Maha Pemurah. Allah Subhanahhu wa Ta’ala akan membolak balik  hati manusia menurut kehendak-Nya. Setelah itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam berdoa : “Allahumma musharrifal quluub sharrif  quluubanaa ‘ala tha’atik” . Ya Allah, yang membolak balikan hati, arahkan hati kami hanya untuk taat  kepada-Mu. (H.R Imam Muslim).

Kedua : Membaca, mempelajari  al Qur an dan mengamalkannya.

Sungguh, al Qur an adalah petunjuk bagi kehidupan manusia agar selamat dunia dan akhirat. Sebagaimana seseorang yang hendak pergi ke suatu tempat, tentu perlu petunjuk dan arahan berupa peta dan penunjuk jalan dan yang lainnya sehingga sampai sehingga mudah sampai di tempat tujuan.

Dan juga Allah menurunkan Al-Quran untuk meneguhkan hati orang yang beriman dan sebagai petunjuk. Membacanya juga dapat memberikan kekuatan serta kemudahan dalam beramal shalih dan berakhlak mulia dengan izin Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman :

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

Katakanlah : Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan al Qur an itu dari Rabbmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (kepada Allah Ta'ala). Q.S an Nahl 102.

Allah Ta’ala  juga berfirman :

هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ

Al Qur an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman (Q.S Fushilat 44).

Ketiga : Berusaha untuk terus menerus beramal walaupun sedikit.

Ketika seseorang berusaha terus menerus melakukan amal shalih itulah salah satu bukti dan cara paling utama  bisa tetap atau istiqamah dalam ketaatan setelah hijrah.

Sungguh, Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telah mengingatkan bahwa amal yang sedikit tetapi kontinyu atau terus menerus akan mendatangkan kecintaan Allah Ta'ala. Beliau bersabda : 

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinyu (terus  menerus dilakukan) walaupun itu sedikit(H.R Imam Muslim).

Imam Hasan al Basri berkata : Jika syaithan melihatmu kontinyu dalam melakukan amalan ketaatan, dia pun akan menjauhimu. Namun jika syaithan melihatmu beramal kemudian engkau meninggalkannya setelah itu, malah melakukannya sesekali saja, maka syaithan pun akan semakin tamak untuk menggodamu. (Al Mahjah fii Sayrid Duljah, Ibnu Rajab).

Keempat : Berteman dengan orang orang shalih.

Sungguh Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam telah mengingatkan agar seseorang memilih teman akrab dalam bergaul sebagaimana sabda beliau :

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian. (H.R Abu Dawud, at Tirmidzi dan Imam Ahmad, dari Abu Hurairah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).  

Imam Ibnu Qudamah al Maqdisi memberikan nasehat tentang memilih teman (sahabat dekat  atau teman akrab). Beliau berkata :   Secara umum, hendaknya orang yang engkau pilih menjadi sahabat memiliki lima sifat berikut : (1) Orang yang berakal. (2)  Memiliki akhlak yang baik, (3) Bukan orang fasik (yang banyak berbuat dosa). (4) Bukan ahli bid’ah (yang suka mengada ada dalam agama) dan  (5)  Bukan orang yang rakus dengan dunia. (Mukhtasar Minhajul Qashidin)

Syaikh as Sa’di berkata : Teman yang shalih senantiasa MENDORONG KITA UNTUK MELAKUKAN KETAATAN kepada Allah, berbakti kepada orang tua, menyambung tali silaturrahim, dan mengajak kita untuk senantiasa berakhlak mulia, baik dengan perkataannya, perbuatannya, ataupun dengan sikapnya.

Sesungguhnya seseorang akan mengikuti sahabat atau teman duduknya, dalam hal tabiat dan perilaku. Keduanya saling terikat satu sama lain dalam kebaikan ataupun yang sebaliknya. (Bahjah Quluubil Abrar).

Selain itu, sangatlah dianjurkan berdoa memohon pertolongan Allah Ta;ala yaitu diantaranya dengan doa sebagaimana disebutkan dalam al Qur an surat Ali Imran ayat 8 : 

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa wa hab lanaa min-Ladunka Rahmah. Innaka antal Wahhaab.

Wahai Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami. Dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau. Sesungguhnya Engkau-lah Dzat yang Maha Pemberi (karunia).

Wallahu A'lam. (3.380)

Jumat, 18 Oktober 2024

MENDAPAT PEROLONGAN DI MAHSYAR KARENA AMAL SHALIHNYA

 

MENDAPAT PEROLONGAN DI MAHSYAR KARENA AMAL SHALIHNYA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketahuilah bahwa  pada hari Kiamat kelak semua manusia akan dikumpulkan Allah Ta’ala di suatu lapangan atau padang yang luas dan datar yang disebut padang Mahsyar. 

Sungguh keadaan pada saat itu SANGATLAH BERAT. Ketika itu hari sangatlah panas sehingga keringat mereka bercucuran dengan derasnya. Bagaimana beratnya keadaan di Mahsyar, dijelaskan oleh Rasulullah dalam sabda beliau : 

تُدْنَى الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ حَتَّى تَكُوْنَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيْلٍ، قَالَ سُلَيْمُ بْنُ عَامِرٍ : فَوَاللهِ، مَا أَدْرِي مَا يَعْنِي بِالْمِيْلِ أَمَسَافَةَ اْلأَرْضِ أَمْ الْمِيْلَ الَّذِي تُكْتَحَلُ بِهِ الْعَيْنُ، قَالَ : فَيَكُوْنُ النَّاسُ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِي الْعَرَقِ فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُوْنُ إِلَى كَعْبَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُوْنُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُوْنُ إِلَى حَقْوَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا، وَأَشَارَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ إِلَى فِيْهِ

Pada hari kiamat, matahari didekatkan jaraknya terhadap makhluk hingga tinggal sejauh satu mil.” Sulaim bin Amir (perawi hadits ini) berkata: Demi Allah, aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan mil. Apakah ukuran jarak perjalanan, atau alat yang dipakai untuk bercelak mata ?. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Sehingga manusia tersiksa dalam keringatnya sesuai dengan perbuatannya (yakni dosa-dosanya di dunia).

Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kakinya. Ada yang sampai kedua lututnya, dan ada yang sampai pinggangnya, serta ada yang tenggelam dalam keringatnya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan isyarat dengan meletakkan tangan ke mulut beliau.” (H.R Imam Muslim).

Dengan keadaan yang demikian berat maka  setiap orang saat ini SANGAT MEMBUTUHKAN NAUNGAN, pertolongan atau syafaat. Pertolongan paling utama saat itu adalah naungan dari Allah Ta'ala karena AMAL SHALIH YANG DILAKUKANNYA DI DUNIA. Diantaranya adalah sebagaimana dijelaskan Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam dalam sabda beliau :

Pertama : Ada tujuh golongan yang  mendapat pertolongan berupa naungan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : 

" سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ، الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ، فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ "

Ada tujuh golongan yang kelak akan Allah naungi di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya :

(1) Imam atau pemimpin yang adil.

 (2) Pemuda yang menyibukkan diri beribadah kepada Rabb-Nya.

 (3) Laki-laki yang hatinya selalu terpaut dengan masjid.

(4) Dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah dimana mereka berkumpul ataupun berpisah semata-mata karena-Nya.

(5) Seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang kaya lagi cantik, lalu laki-laki itu menolak dan berkata : ‘sesungguhnya aku takut kepada Allah.

(6) Laki-laki yang bershadaqah secara sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya; dan

(7) Laki-laki yang ingat kepada Allah di saat sunyi hingga mengalir kedua air matanya” [HR. Bukhari].

Kedua : Memberi tangguh pembayaran hutang   atau membebaskannya.

Orang  yang memberi hutang dan memberi tenggang waktu kepada yang sedang sulit untuk  melunasi hutang maka si pemberi hutang ini akan mendapat naungan Allah Ta’ala di hari Kiamat kelak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ عَنْهُ أَظَلَّهُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ

Barangsiapa memberi tenggang waktu bagi orang yang berada dalam kesulitan untuk melunasi hutang atau bahkan membebaskan hutangnya, maka dia akan mendapat naungan Allah. (H.R Imam Muslim).

Dan juga satu hadits dari Abu Yasar, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُظِلَّهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِى ظِلِّهِ فَلْيُنْظِرِ الْمُعْسِرَ أَوْ لِيَضَعْ عَنْهُ

Barangsiapa ingin mendapatkan naungan Allah ‘azza wa Jalla, hendaklah dia memberi tenggang waktu bagi orang yang mendapat kesulitan untuk melunasi hutang atau bahkan dia membebaskan utangnya itu. (H.R Imam Ahmad, dishahihkan oleh  Syaikh Syu’aib al Arnauth).

Ketiga : Orang yang suka bersedekah.

Selain itu, secara khusus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan tentang orang orang yang suka bersedekah akan mendapat naungan di akhirat kelak. Beliau bersabda : 

"إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِيءُ عَنْ أَهْلِهَا حَرَّ الْقُبُورِ وَإِنَّمَا يَسْتَظِلُّ الْمُؤْمِنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ.

Sesungguhnya shadaqah akan memadamkan panas kubur untuk pemiliknya (yang biasa shadaqah) dan sesungguhnya orang yang beriman akan berteduh pada hari kiamat di bayangan shadaqahnya.(HR. Thabrani dari ‘Uqbah bin’Amir radhiyallahu ‘anhu. Berkata Syaikh Al Albani :Hadits Hasani).

 Dan juga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

كُلُّ امْرِئٍ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ

Setiap manusia akan berada di bawah naungan sedekahnya sampai perkara-perkara manusia diputuskan -pada hari kiamat kelak. (H.R Imam Ahmad)

Kemudian dalam hadits yang lain, juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan yang lainnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

ظِلُّ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَدَقَتُهُ

Naungan orang yang beriman pada hari kiamat adalah sedekahnya. (H.R Imam Ahmad).

Wallahu A'lam. (3.379).

 

JANGAN DICELA JIKA SESEORANG LALAI DALAM BERIBADAH

 

JANGAN DICELA JIKA SESEORANG LALAI DALAM BERIBADAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketahuilah bahwa Allah Ta’ala telah menyuruh orang orang beriman  untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa serta melarang saling tolong menolong dalam berbuat dosa. Allah Ta’ala berfirman : 

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa. Dan jangan tolong menolog dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah sangat berat siksa-Nya. (Q.S al Maidah 2).

Imam al Qurthubi  dalam kitab Tasirnya tentang TA’AWUN yaitu tolong menolong yang dimaksud dalam surat al Maidah ayat 2 menyebutkan beberapa aplikasinya : (1) Seorang berilmu menolong manusia dengan ilmunya. (2) Seorang yang berharta menolong manusia dengan hartanya. (3) Seorang pemberani menolong manusia dengan keberaniannya berjuang di jalan Allah dan yang lainnya. Masing masing orang membantu orang lain sesuai kapasitas dan kemampuannya.

Syaikh as Sa’di berkata : “Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan takwa”, maksudnya hendaknya sebagian dari kamu membantu sebagian yang lain dalam kebaikan. Dan kebaikan adalah nama yang mengumpulkan segala perbuatan, baik lahir ataupun bathin, baik hak Allah maupun hak manusia, YANG DICINTAI DAN DIRIDHAI OLEH ALLAH. Dan takwa di sini adalah nama yang  mengumpulkan sikap meninggalkan segala perbuatan (buruk)  lahir dan bathin YANG DIBENCI OLEH ALLAH DAN RASUL-NYA.

“Dan janganlah kamu saling tolong menolong dalam perbuatan dosa”, yaitu saling mendorong melakukan kemaksiatan dimana pelakunya memikul beban dosa yang berat. “Dan pelanggaran”, yaitu pelanggaran terhadap manusia pada darah, harta dan kehormatan mereka. Seorang hamba wajib menghentikan diri dari segala kemaksiatan dan kezhaliman dan juga menolong orang lain untuk meninggalkannya. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Tentang keutamaan menolong saudara sesama muslim, disebutkan Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam dalam sabda beliau yang diriwayatkan dari Abu Hurairah : 

وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ

Allah senantiasa menolong hamba selama ia menolong saudaranya. (H.R Imam Muslim).

 

Ketahuilah bahwa tolong menolong itu semakin terasa penting karena persaudaraan sebagai orang beriman.  Allah Ta’ala berfirman : 

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ 

Sesungguhnya orang beriman itu bersaudara. (Q.S al Hujurat 10).

 

Oleh karena itu ketika melihat ada saudara saudara kita yang lalai  atau kurang bersemangat dalam melakukan ibadah atau amal shalih maka :

Pertama : Jangan sekali kali mencelanya.

Sungguh Allah Ta’ala  telah melarang sifat yang buruk ini, sebagaimana firman-Nya :

وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Janganlah kamu SALING MENCELA SATU SAMA LAIN dan janganlah saling memanggil dengan gelar gelar yang buruk. Seburuk buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, Maka mereka itulah orang-orang yang zhalim. (Q.S. al Hujraat  11)

Syaikh Abdurrahman as Sa’di rahimahullah berkata : Dalam ayat ini terdapat penjelasan tentang sebagian hak seorang mukmin dengan mukmin yang lain. Yaitu janganlah sekelompok orang mencela sekelompok yang lain baik dengan kata kata ataupun perbuatan yang mengandung makna merendahkan saudara sesama muslim.

Perbuatan ini TERLARANG DAN HARAM HUKUMNYA. Perbuatan ini menunjukkan bahwa orang yang mencela itu merasa kagum dengan dirinya sendiri (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Kedua : Jika memungkinkan beri nasehat secara langsung.

Allah Ta'ala mengingatkan bahwa saling menasehati adalah merupakan salah satu jalan bagi manusia untuk menjauhkan diri  dari kerugian. Allah Ta'ala berfirman :

وَٱلْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ   

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian kecuali orang orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran (Q.S al ‘Ashr 1-3)

Diantara adab memberi nasehat adalah secara langsung.  Ini adalah cara paling efektif dan paling bermanfaat bahkan paling beradab  dalam memberi nasehat kepada seseorang. Ketika seseorang diberi nasehat terhadap kekurangannya dalam melakukan ibadah atau yang lainnya lakukanlah secara  sembunyi sembunyi atau empat mata.

Ketika dilakukan dihadapan orang banyak bisa jadi yang diberi nasehat merasa direndahkan atau dilecehkan. Akibatnya nasehat bisa jadi tak bermanfaat.

Ibnu Hibban berkata :  (Memberi) nasehat itu merupakan kewajiban manusia semuanya tetapi haruslah disampaikan secara rahasia, tidak boleh tidak. Sebab barangsiapa yang menasehati saudaranya di hadapan orang lain maka (bisa) berarti dia telah mencelaya.

Dan barangsiapa yang menasehati saudaranya secara rahasia maka dia telah memperbaikinya. Sesungguhnya penyampaian dengan penuh perhatian kepada saudara sesama muslim adalah kritik yang membangun. Lebih besar kemungkinannya diterima. (Al Farqu Baina an Nashihah, sebagaimana dinukil dalam Kitab Tepat Memberi Nasehat).

Selain itu memberi nasehat hendaklah dengan lemah lembut dan memilih kalimat kalimat terbaik. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :

يَاعَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيْقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِيْ الأَمْرِ كُلِّهِ

Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Mahalembut dan mencintai kelembutan di dalam semua urusan. (H.R Imam Bukhari, dari Aisyah)

Sungguh sikap lemah lembut akan menghiasi segala sesuatu yaitu sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam :

مَا كَانَ الرِّفْقُ فِيْ شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ, وَمَا كَانَ الْعُنْفُ فِيْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

Tidaklah lemah lembut dalam sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah sikap keras dalam segala sesuatu kecuali dia akan merusaknya. (H.R Imam Muslim)

Ketiga : Mendoakan kebaikan baginya.

Mendoakan saudara sesama muslim adalah sangat dianjurkan dalam syariat Islam dan ini sebagai bukti persaudaraan yang kuat. Nah, ketika seorang muslim mendoakan saudaranya yang tidak sedang bersamanya maka doanya diijabah dan juga mendapat doa dari malaikat. Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

 

 إن دعوة المرء المسلم مستجابة لأخيه بظهر الغيب، عند رأسه ملك موكل، كلما دعا لأخيه بخير، قال: آمين، ولك بمثل”. قال: فلقيت أبا الدرداء في السوق، فقال مثل ذلك.

Doa seorang Muslim untuk saudaranya dalam keadaan zhahril gaib (tidak bersama saudara yang didoakan) mustajab, (dan) di atas kepalanya (orang yang mendoakan) ada Malaikat yang diutus, setiap kali orang itu berdoa untuk kebaikan saudaranya, maka Malaikat itu akan berkata : Aamiin, dan bagimu seperti yang engkau minta juga. (H.R Imam Muslim).

Selain itu, ketahuilah bahwa mendoakan saudara sesama muslim adalah PERBUATAN BAIK dan setiap perbuatan baik akan akan dibalas dengan kebaikan pula. Allah Ta’ala berfirman :

   هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula). Q.S ar Rahman 60.

Wallahu A'lam. (3.378).

Kamis, 17 Oktober 2024

NIKMAT PALING BESAR ADALAH HIDAYAH BERAGAMA ISLAM

 

NIKMAT PALING  BESAR ADALAH HIDAYAH BERAGAMA ISLAM

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Tidak ada sesuatu pun yang bisa memberi nikmat kepada makhluk termasuk manusia.  Sungguh, SETIAP HAMBA ALLAH WAJIB MEYAKINI DENGAN SEYAKIN YAKINNYA bahwa semua nikmat adalah dari Allah Ta'ala datangnya, bukan dari selain-Nya. Allah Ta'ala berfirman :

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ ٱللَّهِ ۖ

Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah. (Q.S an Nahl 53).

Dan sangatlah banyak nikmat itu baik jumlahnya maupun jenisnya sehingga kita tidak akan pernah mampu menghitungnya. Allah Ta'ala  berfirman  : 

وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ  

Dan jika kalian menghitung nikmat Allah maka engkau tidak akan mampu menghitungnya. (Q.S Ibrahim 34)

Ketahuilah bahwa sesungguhnya nikmat dari Allah tidak ada yang kecil karena datang dari Allah Yang Mahabesar. Tetapi ada nikmat yang PALING BESAR YANG DIANUGERAHKAN KEPADA HAMBA HAMBA-NYA yaitu nikmat hidayah memegang agama Islam  yang telah Dia pilihkan untuk hamba-Nya :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا 

Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Q.S  al Maidah 3.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata : Inilah  nikmat Allah yang paling besar terhadap umat ini. Yaitu dengan Dia menyempurnakan untuk mereka agama mereka, sehingga mereka tidak lagi membutuhkan agama selain itu dan juga tidak membutuhkan nabi selain nabi mereka. (Tafsir Ibnu Katsir).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah rahimahullah berkata : Nikmat Allah yang paling besar terhadap hamba hamba-Nya  adalah perintah-Nya kepada mereka untuk beriman dan hidayah yang dia berikan kepada mereka. Merekalah orang yang paling besar nikmatnya secara mutlak yang disebutkan dalam firman-Nya :

 اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ * صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

Tunjukilah kami ke jalan yang lurus, yaitu jalan orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka. (Q.S Al-Fatihah: 6-7). Lihat Jami'ul Masa'il,

Kesimpulannya, bahwa nikmat yang paling besar terhadap hamba-Nya adalah diberinya mereka taufiq untuk mengenal dan bertauhid kepada-Nya dan mengikuti Rasul rasul-Nya serta berkomitmen terhadap syariat-Nya. DAN  SUNGGUH MENJADI KEWAJIBAN PALING UTAMA HAMBA HAMBA ALLAH  UNTUK  BERSYUKUR TERHADAP SEMUA NIKMAT.

Syaikh Abdurrahman Naashir as-Sa’di rahimahullah berkata : Yakni bersyukurlah kalian terhadap nikmat yang telah Allah berikan kepada kalian dan juga terhadap tercegahnya adzab dari kalian.

Di dalam syukur harus terkandung pengakuan dan kesadaran bahwa nikmat itu semata-mata dari Allah semata, dzikir dan pujian yang diucapkan melalaui lisannya serta ketaatan anggota badannya untuk semakin tunduk dan patuh dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

 

Al Imam Ibnu Rajab al Hambali mengingatkan : Barangsiapa yang mendapat banyak nikmat hendaknya DIA IKAT NIKMAT ITU DENGAN SYUKUR. Kalau tidak, nikmat itu akan pergi. (Majmu' Rasail)

Kemudian, sebagai penutup tulisan ini dinukil perkataan Syaikh Hamd al Kaus tentang nikmat besar dalam kehidupan. Beliau berkata : Diantara nikmat  besar dalam kehidupan  orang beriman adalah :

(1) Allah Ta'ala beri taufik pada seorang insan untuk MENDAPATKAN ILMU YANG BERMANFAAT, sehingga dia terhindar dari syubhat, kesesatan dan fitnah.

(2) Allah Ta'ala beri juga TAUFIK PADANYA UNTUK BERAMAL SHALIH sehingga ia terhindar dari syahwat, menyia nyiakan waktu dan umur.

 

(3) Allah Ta'ala CUKUPKAN DIA DENGAN YANG HALAL sehingga ia tak mengambil yang haram. Allah Ta'ala beri dia karunia-Nya sehingga tak perlu yang lain. (Dari @twitulama).

Wallahu A'lam. (3.377)

 

 

Selasa, 15 Oktober 2024

DUA DIANTARA PERKARA YANG PENTING UNTUK DISEGERAKAN

DUA DIANTARA PERKARA YANG PENTING UNTUK DISEGERAKAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Saudaraku, ketika sudah muncul keadaan atau kesempatan bahkan perintah untuk melakukan kebaikan atau amal shalih maka bersegeralah melakukannya. Ketahuilah bahwa dalam syariat Islam memang ADA BANYAK SAAT UNTUK BERSEGERA BAHKAN BERLOMBA yaitu BERLOMBA DALAM MELAKUKAN KEBAIKAN. Sungguh Allah Ta’ala  telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya :

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ

Maka berlomba lombalah kamu dalam kebaikan. (Q.S al Baqarah 148).

Syaikh as Sa’di berkata : Barangsiapa yang berlomba dalam (melakukan) kebaikan ketika berada di dunia MAKA DIA AKAN MENJADI PEMENANG DI AKHIRAT DENGAN (MENDAPAT HADIAH) SURGA. Dan orang yang paling depan dalam perlombaan ini ADALAH YANG PALING TINGGI DERAJATNYA.

Syaikh juga menjelaskan : Kebaikan itu meliputi segala hal yang diwajibkan dan yang disunnahkan, seperti shalat, puasa, zakat, haji, umrah dan jihad serta manfaat yang luas maupun yang sempit. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Ketahuilah bahwa diantara perkara kebaikan yang mesti dan penting untuk  disegerakan oleh hamba hamba Allah adalah :

Pertama : Bersegera minta ampun dan bertaubat. Allah Ta'ala berfirman :

وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ 

Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Rabbmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang orang yang bertakwa. (Q.S Ali Imran 133).

Imam Ibnu Katsir berkata : (Dalam ayat ini) Allah Ta'ala mengajak mereka (orag orang beriman) untuk melakukan kebaikan dan mendekatkan diri. Lalu Allah berfirman (Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,  yaitu sebagaimana neraka itu dipersiapkan untuk orang-orang kafir. (Tafsir Ibnu Katsir).

Kedua : Bersegera melakukan amal shalih.

Amal shalih yang dilandasi iman  adalah bekal yang akan dibawa ke  negeri akhirat kelak. Ketahuilah bahwa di akhirat yang akan dihisab dan ditimbang adalah amal shalih bukan yang lainnya. Sungguh merugilah orang yang lalai dalam beramal. Oleh karena itu bersegeralah mempersiapkannya.

Sungguh Allah Ta'ala telah mengingatkan dalam firman-Nya : 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Wahai orang orang yang beriman !. Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (Q.S al Hasyr 18)

Dalam surat al Anbiya’ 90 Allah Ta'ala memuji Nabi Zakaria dan istrinya yang selalu bersegera dalam melakukan kebaikan. Allah Ta'ala berfirman :

اِنَّهُمْ كَانُوْا يُسٰرِعُوْنَ فِى الْخَيْرٰتِ وَيَدْعُوْنَنَا رَغَبًا وَّرَهَبًاۗ وَكَانُوْا لَنَا خٰشِعِيْنَ

Sungguh mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang orang yang khusyuk kepada Kami.

Sungguh, Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam, telah mengingatkan lita semua untuk bersegera melakukan amal shalih, yaitu sebagaimana sabda beliau, dari Abu Hurairah :

بَادِرُوْا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحْ كَافِرًا، يَبِيْعُ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

BERSEGERALAH kalian beramal saleh sebelum kedatangan fitnah (ujian) yang seperti potongan malam. Seseorang di pagi hari dalam keadaan beriman (mukmin) namun di sore harinya menjadi kafir; dan ada orang yang di sore hari dalam keadaan beriman namun di pagi hari menjadi kafir. Dia menjual agamanya dengan perhiasan dunia.” (H.R Imam Muslim)

Al Imam an Nawawi  menjelaskan bahwa hadits ini berisi anjuran untuk bersegera mengerjakan amal saleh sebelum datang waktu yang menyebabkan seseorang tidak bisa mengerjakannya. (Ada) waktu yang seseorang tidak bisa mengerjakannya karena fitnah yang besar dan bertumpuk tumpuk, seperti tumpukan gelapnya malam yang gulita tanpa cahaya sedikitpun. (Al Minhaj)

Wallahu A’lam.  (3.376)

 

 

 

 

 


Jumat, 11 Oktober 2024

PERINTAH BERBUAT BAIK KEPADA TETANGGA

 

PERINTAH BERBUAT BAIK KEPADA TETANGGA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Pada  umumnya kita beranggapan tetangga adalah orang orang yang disebelah rumah kita, ya ini tidak salah. Baik di sebelah kiri atau kanan, di depan atau di belakang. Tetapi  para ulama berbeda pendapat mengenai siapa yang dimaksud tetangga.

Ada yang mengatakan : (1) Tatangga adalah orang yang shalat shubuh bersamamu di masjid. (2) Tetangga adalah 40 rumah dari setiap sisi. (3) Tetangga adalah 40 rumah disekitarmu. (4) Tetangga adalah 10 rumah dari setiap sisi, dan ada pendapat lainnya (Fathul Bari).

Sungguh Allah Ta’ala memerintahkan orang orang beriman untuk berbuat baik kepada tetangga, sebagaimana firman-Nya :

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan BERBUAT BAIKLAH kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak anak yatim, orang orang yang miskin, TETANGGA DEKAT DAN TETANGGA JAUH, teman sejawat, ibnu sabil  dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri. (Q.S an Nisa’ 36).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِالله وَ اليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إلى جَارِهِ

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya. H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim, ini lafazh hadits Muslim).

Dari zhahir hadits ini kita mengetahui bahwa memuliakan tetangga bukan sekedar sebagai suatu adab bergaul saja tetapi TERKAIT DENGAN IMAN SESEORANG.

Selanjutya, dalam satu sabda beliau, Rasulullah mengingatkan kita salah satu penyebab seseorang MASUK SURGA  ADALAH BERBUAT BAIK KEPADA TETANGGA. 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ كَثْرَةِ صَلَاتِهَا وَصِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا غَيْرَ أَنَّهَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا قَالَ هِيَ فِي النَّارِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَإِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ قِلَّةِ صِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا وَصَلَاتِهَا وَإِنَّهَا تَصَدَّقُ بِالْأَثْوَارِ مِنَ الْأَقِطِ وَلَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا قَالَ هِيَ فِي الْجَنَّةِ

Dari Abu Hurairah, seseorang telah bertanya kepada Rasulullah: Fulanah diceritakan memiliki shalat, puasa dan shadaqah yang banyak, tetapi dia mengganggu tetangganya dengan lisannya. Beliau menjawab : Dia di neraka.

Lalu dia bertanya lagi : Wahai Rasulullah si Fulanah diceritakan memiliki puasa dan shadaqah serta shalat sedikit. Dia bershadaqah sedikit dari tepung gandum dan tidak mengganggu tetangganya dengan lisannya. Beliau menjawab : DIA DI SURGA. (H.R Imam Ahmad).

Selain itu,  dalam satu hadits dari Abu Hurairah menyebutkan ancaman bagi seseorang yang mengganggu tetangganya. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda : 

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

Tidak akan masuk surga  seseorang yang MENGGANGGU TETANGGANYA. (Lihat As Silsilah Ash Shahihah).

 Wallahu A'lam. (3.375)