Kamis, 10 Oktober 2024

KETIKA HAMBA ALLAH TERPICU UNTUK MARAH

 

KETIKA HAMBA ALLAH TERPICU UNTUK MARAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sifat marah memang ada dalam diri hamba hamba Allah. Ketika ada pemicunya maka emosi atau marah itu bisa muncul. Tetapi hamba hamba Allah mestilah berusaha untuk mengendalikan diri jika terpicu   untuk marah.

Ketahuilah berapa banyak kerusakan terjadi akibat marah yang  ditumpahkan dan tidak terkendali. Sungguh Allah Ta’ala telah mengingatkan bahwa menahan marah dan memaafkan orang lain adalah merupakan salah satu sifat orang bertakwa yaitu sebagaimana firman-Nya : 

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

(Orang yang bertakwa yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang orang yang berbuat kebaikan. (Q.S Ali Imran 134)

Ketika seseorang minta nasehat kepada Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam lalu beliau memberi nasehat JANGAN ENGKAU MARAH, yaitu sebagaimana sabda beliau : 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, seorang lelaki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : Berilah aku wasiat. Beliau menjawab : Janganlah engkau marah. Lelaki itu mengulang-ulang permintaannya, (namun) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (selalu) menjawab : Janganlah engkau marah. (H.R Imam Bukhari).

Al Imam Ibnu Hajar al Asqalani mengabarkan bahwa Imam al Khaththabi berkata : Arti perkataan beliau YAKNI JANGAN MARAH adalah jauhi sebab sebab marah dan jangan melakukan sesuatu yang mengarah kepadanya. Sementara marah itu sendiri TIDAKLAH TERLARANG karena marah adalah tabiat yang tidak akan hilang dari diri manusia. (Fathul Bari).

Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam juga bersabda tentang keutamaan menahan marah :

لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ

Jangan kamu marah, maka bagimu surga. (H.R Ath Thabrani).

Saudaraku, jika engkau terpicu marah, ada beberapa sikap yang sangat dianjurkan untuk dilakukan, diantaranya :

Pertama : Hendaklah membaca ta'awudz.

Diriwayatkan bahwa dua orang laki-laki saling mencaci di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang dari keduanya mencaci temannya sambil marah, wajahnya memerah, dan urat lehernya menegang, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Sungguh, aku mengetahui satu kalimat, jika ia mengucapkannya niscaya hilanglah darinya apa yang ada padanya (amarah). Seandainya ia mengucapkan :

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.

(Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk). Para sahabat berkata : Tidakkah engkau mendengar apa yang dikatakan Rasulullah ?. Laki-laki itu menjawab : Aku bukan orang sinting. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Kedua : Hendaklah merubah posisi diri.

Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan agar orang yang marah ketika seorang marah ketika berdiri maka hendaklah  dia duduk atau berbaring. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ ، وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ.

Apabila seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk; apabila amarah telah pergi darinya, (maka itu baik baginya) dan jika belum, hendaklah ia berbaring. (H.R Imam Ahmad, Abu Dawud  dan Ibnu Hibban dari sahabat Abu Dzarr).

Ketiga : Hendaklah tidak berbicara.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan apabila seseorang marah hendaklah ia diam, sebagai mana sabda beliau :

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ.

Apabila seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam. (H.R Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad dan juga ahli hadits yang selainnya, dishahihkan oleh Syaikh al Al

Ini juga merupakan cara  yang bisa diamalkan  jika terpicu marah, karena jika orang sedang marah maka keluarlah darinya ucapan-ucapan yang kasar, keji, melaknat, mencaci-maki dan lain-lain yang dampaknya sangat buruk.

Wallahu A'lam. (3.373).

 

 

Rabu, 09 Oktober 2024

BERBOHONG ADALAH DOSA BESAR MENDATANGKAN BANYAK KEBURUKAN

BERBOHONG ADALAH DOSA BESAR MENDATANGKAN BANYAK KEBURUKAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago


Kenyataan di zaman ini sungguh sangatlah banyak manusia yang dengan enteng, bermudah mudah melakukan perbuatan atau mengucapkan perkataan yang berat untuk dipertanggung jawabkan diantaranya ADALAH BERBOHONG KEPADA MANUSIA.

Galibnya, ketika seseorang berbohong maka mereka akan melakukan kebohongan berikutnya  yang lebih besar lagi untuk   menutup kebohongan yang sebelumnya. Lalu apa yang mendorong seseorang untuk sering berbohong ?. Pada umumnya  mereka berbohong untuk mendapatkan DUNIA DAN SEGALA PERHIASANNYA seperti pangkat, harta, jabatan, popularitas dan juga yang lainnya.

Syaikh Muhammad Shalih al Utsaimin berkata : Berbohong terhadap orang lain ada dua bentuk. Satu diantaranya adalah berbohong ketika  berbicara. Misalnya seseorang berkata : (1) Aku pernah mengatakan hal ini kepada si Fulan. Padahal dia tak pernah mengatakannya. (2) Atau dia mengatakan : Si Fulan telah berkata begini. Padahal si Fulan itu tidak pernah mengatakannya. (3) Atau dia berkata : Si Fulan telah datang. Padahal si Fulan belum datang, dan banyak lagi contoh yang lainnya. (Syarah al Kaba’ir).  

Ketahuilah bahwa orang yang biasa berbohong atau sering  berbohong maka bisa jadi menganggap enteng perbuatan bohong. Padahal sungguh berbohong adalah SALAH SATU DOSA BESAR. (Lihat al Kaba’ir, Imam adz Dzahabi).

Sifat suatu dosa besar tidak terhapus dengan banyak beribadah ataupun dengan sekedar memohon ampun tetapi untuk menghapusnya adalah dengan TAUBAT NASHUHA ATAU BERTAUBAT DENGAN SEBENAR BENAR TAUBAT.

Sungguh sangat banyak keburukan yang akan mendatangi orang yang suka berbohong, diantaranya adalah :

(1)  Terhalang untuk mendapat hidayah. Allah Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ

Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi PEMBOHONG. (Q.S  al Ghafir 28).

Syaikh as Sa'di berkata : Maka orang yang seperti ini (yaitu suka berbohong, peny.) tidak akan diberi petunjuk oleh Allah Ta'ala menuju jalan kebenaran, baik pada maknanya ataupun pada dalilnya. Dan Allh tidak akan membimbingnya kepada jalan yang lurus. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).  

(2) Pasti akan mendapatkan celaka dan terbenam dalam kebodohan. Allah Ta'ala berfirman :

قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ  الَّذِينَ هُمْ فِي غَمْرَةٍ سَاهُونَ

Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta, (yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan dan kelalaian. (Q.S adz Dazriyat 10 – 11).

(3) Perbuatan bohong  mengantarkan seseorang ke neraka. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda : 

وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

Dan hindarilah olehmu berlaku bohong karena kebohongan menuntunmu pada kejahatan, dan kejahatan menuntunmu ke neraka. Dan seseorang senantiasa berlaku bohong dan selalu berbohong sehingga dia tercatat di sisi Allah Ta’ala sebagai pembohong (H.R Imam Muslim).

 

Selain itu, ketahuilah bahwa diantara   dampak buruk dari berbohong  adalah  menjadikan seseorang tidak dipercaya orang lain dan merugikan orang lain. Menjadikan bohong sebagai karakternya karena terus menerus dilakukan dan tertekan jiwanya karena yang dilakukannya yaitu berbohong yang hakikatnya bertentangan dengan hati nuraninya yang paling dalam.

Wallahu A'lam. (3.373)

 

 


Selasa, 08 Oktober 2024

HAMBA ALLAH MEMOHON PERLINDUNGAN DARI PERBUATAN BURUK

 

HAMBA ALLAH MEMOHON PERLINDUNGAN DARI PERBUATAN BURUK

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh manusia diciptakan dalam keadaan lemah, yaitu sebagaimana dijelaskan Allah Ta'ala dalam firman-Nya :

وَخُلِقَ ٱلْإِنسَٰنُ ضَعِيفًا

Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah. (Q.S an Nisaa’ 28.)

Jadi sungguh manusia itu diciptakan dalam keadaan lemah. Syaikh as Sa’di berkata : Manusia itu adalah lemah dalam hal fisik, lemah dalam berkehendak, lemah dalam bertekad dan lemah dalam iman dan kesabaran (Lihat Tafsir Kariimir Rahman).

Dengan sifatnya yang lemah  itu maka manusia mudah jatuh atau tergelincir kepada PERBUATAN BURUK yang mendatangkan dosa. Kecuali yang dilindungi oleh Allah Ta'ala.

Selain itu ada perkara yang bisa mengelincirkan manusia kepada keburukan, diantaranya :

(1) Manusia itu memiliki hawa nafsu dan nafsu  yang terkadang sulit untuk untuk  dikendalikan.  Dan hawa nafsu itu cenderung kepada keburukan dan melalaikan. Allah Ta'ala berfirman : 

وَمَآ أُبَرِّئُ نَفْسِىٓ ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِالسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ رَّحِيمٌ

(Yusuf berkata) Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Rabb-ku. Sesungguhnya Rabb-ku Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Q.S Yusuf 53).

(2) Manusia mempunyai musuh yang nyata yaitu syaithan yang selalu berusaha menggoda dan mendorong untuk melakukan keburukan dan dosa. Allah Ta'ala  berfirman : 

إِنَّمَا يَأْمُرُكُم بِٱلسُّوٓءِ وَٱلْفَحْشَآءِ وَأَن تَقُولُوا۟ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Sesungguhnya (syaithan) itu hanya menyuruh kamu agar berbuat jahat dan keji dan mengatakan apa yang tidak kamu ketahui tentang Allah (Q.S al Baqarah 169).

Oleh karena itu setiap saat hamba hamba Allah hendaklah sungguh sungguh bermohon kepada Allah Ta'ala AGAR DIRINYA SELALU DILINDUNGI DARI PERBUATAN BURUK.. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam mengajarkan satu doa tentang hal ini, sebagaimana satu hadits   dari Farwah bin Naifal al Asja'i yang bertanya kepada Aisyah tentang doa apa yang sering dipanjatkan Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam kepada Allah Ta'ala. Aisyah menjawab : Adapun yang biasa dimohon beliau adalah

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَمِلْتُ، وَمِنْ شَرِّ مَا لَمْ أَعْمَلْ

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang aku perbuat, dan dari keburukan apa yang belum aku perbuat. (H.R Imam Muslim, an Nasa'i dan Abu Dawud).

Tentang doa ini, Imam an Nawawi berkata : Artinya adalah Nabi Salallahu 'alaihi Wasallam meminta perlindungan kepada Allah Ta'ala dari keburukan apa yang beliau perbuat. Yang mana perbuatan buruk bisa saja menyebabkan siksa di  dunia ataupun di akhirat meskipun tanpa beliau sengaja.

Namun demikian ada pula kemungkinan makna yang lain bahwa itu adalah PENGAJARAN NABI SALALLAHU 'ALAIHI WASALLAM UNTUK UMAT BELIAU agar mereka berdoa dengan doa ini. (Syarh Sahih Muslim).

Wallahu A'lam. (3.372)    

 

 

 

NIAT YANG LURUS MENDATANGKAN BANYAK KEBAIKAN

 

NIAT YANG LURUS MENDATANGKAN BANYAK KEBAIKAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, seorang hamba akan memperoleh manfaat atau balasan pahala dari apa yang dilakukannya tersebab niatnya yang lurus. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telah menjelaskan perkara ini dalam sabda beliau :

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Sesungguhnya segala perbuatan itu bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkannya. (H.R Imam  Bukhari dan Imam Muslim).

Oleh karena itu setiap hamba hendaklah meluruskan niatnya dalam melakukan suatu kebaikan atau amal shalih sehingga bermanfaat terutama untuk akhiratnya.  Diantara beberapa  contoh yang mungkin oleh sebagian orang dinilai sederhana adalah :

(1) Ketika seseorang berjalan kaki ke masjid untuk shalat fardhu maka tujuan atau niatnya bukan untuk sehat karena berjalan kaki bolak balik ke masjid lima kali sehari.

Ketahuilah bahwa niatnya yang paling utama dan paling penting dengan berjalan kaki ke masjid untuk shalat HARUSLAH dengan tujuan atau niat yang mulia yaitu mengamalkan hadits dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

مَنْ تَطَهَّرَ فِى بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِىَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

Barangsiapa yang berwudhu di rumahnya lalu berjalan menuju rumah di antara rumah-rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban (dari) Allah maka salah satu dari kedua langkahnya MENGHAPUS DOSA DOSA  dan yang lain MENINGGIKAN DERAJATNYA. (H.R Imam Muslim).

(2) Ketika seseorang memakai pakaian bagus ke masjid niatnya agar terlihat lebih rapih dan merasa nyaman dengan pakaian bagus mungkin juga merasa lebih keren (?) dalam penampilan dari kebanyakan jamaah masjid.

Ketahuilah bahwa niatnya yang paling utama dan paling penting dengan memakai pakaian bagus ke masjid HARUSLAH dengan tujuan atau niat mulia yaitu  mengamalkan perintah Allah Ta'ala sebagaimana firman-Nya :

 

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

 

Wahai anak Adam !. Pakailah pakaianmu yang indah di setiap kali (memasuki) masjid. Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Q.S al A'raf 31).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika ditanya tentang seseorang yang senang berpakaian dan memakai sandal yang bagus : 

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia. (H.R Imam Muslim).

Tentang hadits ini, Imam asy Syaukani rahimahullah berkata : Hadits ini menunjukkan disukainya memakai pakaian dan sandal yang bagus (indah). Memilih untuk memakai pakaian yang bagus bukanlah termasuk dalam kesombongan sedikit pun. Ini termasuk perkara yang saya ketahui tidak ada khilaf di dalamnya … “ (Nailul Authar).  

(3) Ketika seseorang menghemat pemakaian air yang berbayar misalnya dari perusahaan air minum umumnya dengan tujuan agar rekening atau tagihan biaya airnya  bisa lebih rendah.

Ketahuilah bahwa niat yang paling utama dan paling penting dengan menghemat pemakaian air HARUSLAH dengan tujuan mulia yaitu mengamalkan sunnah Rasulullah Salallahu 'alaii Wasallam, sebagaimana sabda beliau :  

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ، وَيَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ، إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu dengan satu mud (air) dan mandi dengan satu sha’ sampai lima mud (air). (H.R Imam Bukhari  dan Imam Muslim).

Dan juga Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam juga mengingatkan kita semua untuk tidak berlebih lebihan termasuk dalam bersuci (berwudhu'), sebagaimana sabda beliau : 

إِنَّهُ سَيَكُوْنُ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ قَوْمٌ يَعْتَدُوْنَ فِي الطَّهُوْرِ وَالدُّعَاءِ.

Sesungguhnya akan ada di umat ini yang berlebih-lebihan dalam bersuci dan berdoa. (H.R Abu Dawud).

Oleh karena itu hamba hamba Allah selalu meluruskan niat dalam melakukan perbuatan baik atau amal shalih sehingga mendatangkan kebaikan dan pahala yang banyak. Insya Allah.

Wallahu A'lam. (3.371)

 

Senin, 07 Oktober 2024

HAMBA ALLAH DIRINDUKAN SURGA KARENA MENJAGA LISAN

 

HAMBA ALLAH DIRINDUKAN  SURGA KARENA MENJAGA LISAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Termasuk golongan orang orang  yang dirindukan oleh surga adalah yang senantiasa menjaga lisannya. Sungguh Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam menjelaskan tentang perkara ini dalam sabda beliau :

الْجَنَّةُ مُشْتَاقَةٌ اِلَى أَرْبَعَةِ نَفَرٍ : تَالِى الْقُرْانِ, وَحَافِظِ اللِّسَانِ, وَمُطْعِمِ الْجِيْعَانِ, وَصَا ئِمٍ فِى شَهْرِ رَمَضَا

Surga merindukan empat golongan yaitu orang yang membaca Al Quran, MENJAGA LISAN, memberi makan orang lapar, dan puasa di bulan Ramadhan. (H.R Abu Daud dan at Tirmidzi).

Dan juga Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telah memberi wasiat atau bimbingan kepada orang orang beriman tentang kewajiban memelihara dan menjaga lisan, diantaranya adalah sabda beliau :

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam. (Mutafaq ‘alaihi).

Ketahuilah  bahwa BERKATA YANG BAIK ATAU DIAM bukanlah sekedar masalah etika berbicara tapi terkait dengan iman. Lihatlah lafazh hadits ini : “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir”, bukankah ini tentang iman ?.

Selain itu ketahuilah bahwa para sahabat telah mengingatkan tentang pentingnya menjaga lisan yaitu berkata yang baik atau diam.

(1) Umar bin Khaththab yang memberi nasehat tentang memelihara dan menjaga lisan. Beliau berkata : Semoga Allah merakhmati orang yang menahan diri dari banyak berbicara dan lebih mengutamakan banyak beramal. (Uyun al Akhbar, Ibnu Taimiyah).

(2) Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata : Demi Allah yang tiada sesembahan yang benar selain-Nya. Tidak ada di muka bumi ini sesuatu yang lebih butuh dipenjara dalam waktu yang lama selain daripada lisan. (Az Zuhd li Ibni Abi ‘Ashim).

(3) Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma berkata : Sesuatu yang paling layak untuk terus dibersihkan oleh seorang hamba adalah lisannya. (Zuhd li Ibni Abi ‘Ashim).

(4) Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berpesan : Jauhilah oleh kalian kebiasaan terlalu banyak berbicara. (Az Zuhd li Ibni Abi ‘Ashim).

(5) Salman al-Farisi radhiyallahu’anhu berkata : Orang yang paling banyak dosanya pada hari kiamat nanti adalah orang yang paling banyak berbicara dalam kemaksiatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. (At Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’).

Selain itu ketahuilah bahwa ada seseorang yang dilemparkan ke neraka karena lisannya yang mendatangkan murka Allah Ta'ala. Dalam satu  hadits dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah Sallallahu 'alaihi Wasallam bersabda :  

إن العبد ليتكلم بالكلمة من رضوان الله , لا يلقي لها بالا , يرفعه الله بها درجات , و إن العبد ليتكلم بالكلمة من سخط الله , لا يلقي لها بالا يهوي بها في جهنم

Sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan keridhaan Allah, namun dia menganggapnya ringan, karena sebab perkataan tersebut Allah meninggikan derajatnya. 

Dan sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan kemurkaan Allah, namun dia menganggapnya ringan, dan TERSEBAB PERKATAAN TERSEBUT DIA DILEMPARKAN KE DALAM API NERAKA.  (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Wallahu A'lam. (3.370)

 

 

Minggu, 06 Oktober 2024

ITTIBA' KEPADA RASULULLAH MENDATANGKAN CINTA ALLAH

 

ITTIBA' KEPADA RASULULLAH MENDATANGKAN CINTA ALLAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Hamba hamba Allah BETUL BETUL MENGINGINKAN CINTA ALLAH TA'ALA BAGI DIRINYA. Sungguh  cinta Allah Ta'ala kepada seorang hamba pasti mendatangkan kebahagiaan selama hidupnya di dunia dan kelak di akhirat.

Ketahuilah bahwa kecintaan Allah akan mendatangi seseorang jika dia sungguh sungguh MENCINTAI ALLAH DAN RASUL-NYA, melebihi cintanya kepada segala sesuatu selain Allah Ta'ala. Allah Ta'ala berfirman :


قُلۡ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُڪُمۡ وَإِخۡوَٲنُكُمۡ وَأَزۡوَٲجُكُمۡ وَعَشِيرَتُكُمۡ وَأَمۡوَٲلٌ ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا وَتِجَـٰرَةٌ۬ تَخۡشَوۡنَ كَسَادَهَا وَمَسَـٰكِنُ تَرۡضَوۡنَهَآ أَحَبَّ إِلَيۡڪُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍ۬ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّىٰ يَأۡتِىَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦ‌ۗ وَٱللَّهُ لَا يَہۡدِى ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَـٰسِقِينَ

 

Katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (Q.S at Taubah 24).

Selain itu ketahuilah bahwa sungguh, Allah Ta'ala telah memberi banyak jalan atau petunjuk untuk mendapatkan KECINTAAN ALLAH BAGI HAMBA HAMBA-NYA. Satu diantaranya yaitu  mengikuti dan mengamalkan atau ITTIBA' terhadap apa yang diajarkan Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam.  Sungguh Allah Ta’ala berfirman :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah (Muhammad), jika kamu (benar benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya ALLAH AKAN MENCINTAIMU dan mengampuni dosa dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.  (Q.S Ali Imran 31).

Syaikh as Sa’di berkata : Ayat ini merupakan patokan dimana dengannya kita dapat membedakan orang yang mencintai Allah dengan sebenar benarnya dan orang yang hanya sekedar mengaku ngaku semata. Tanda tanda kecintaan kepada Allah adalah mengikuti Rasulullah, Muhammad Salallahu ‘alaihi wasallam dimana Allah menjadikan tindakan mencontoh Rasulullah dan segala yang diserukannya sebagai jalan kepada kecintaan-Nya dan keridhaan-Nya. 

Oleh karena itu tidaklah akan DIPEROLEH KECINTAAN ALLAH  dan keridhaan-Nya serta pahala-Nya kecuali dengan membenarkan apa  yang dibawa oleh Muhammad Salallahu ‘alaihi wasallam berupa al Qur an dan as Sunnah. Mentaati perintah keduanya dan menjauhi larangan keduanya. 

Maka barangsiapa yang melakukan demikian  itu niscaya Allah akan membalasnya. Lalu membalasnya dengan balasan orang orang yang dicintai, mengampuni dosa dosanya dan menutup aib aibnya. (Tafsir Taisir Karimir Rahman). 

Wallahu A'lam. (3.369)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sabtu, 05 Oktober 2024

TERUS MENERUS BERAMAL MENDATANGKAN KECINTAAN ALLAH

 

TERUS MENERUS BERAMAL MENDATANGKAN KECINTAAN ALLAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketika seorang hamba banyak melakukan amal shalih tentulah ini termasuk perbuatan terpuji dalam syariat dan sangat bermanfaat bagi akhirat dan dunianya. Tetapi ketahuilah seorang hamba juga dituntut untuk melakukan amal terus menerus atau kontinyu meskipun amal itu tidak banyak.

Satu hadits  diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata bahwa  Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang terus-menerus dilakukan meskipun sedikit. (Muttafaqun 'alaihi).

Kemudian dalam Riwayat yang lain disebutkan bahwa Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دُووِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّ

Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. (Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinyu, walaupun sedikit. (H.R Imam Muslim).

Ketahuilah bahwa syaithan akan semakin rajin menggoda jika seseorang  tidak kontinyu dalam ibadah. Imam Hasan al Basri berkata : Jika syaithan melihatmu kontinyu dalam melakukan amalan ketaatan, dia pun akan menjauhimu.

Namun jika syaithan melihatmu beramal kemudian engkau meninggalkannya setelah itu, malah melakukannya sesekali saja, maka syaithan pun akan semakin tamak untuk menggodamu. (Al Mahjah fii Sayrid Duljah, Ibnu Rajab al Hambali

Tentang hadits ini, Ibnu Rajab Al Hambali dalam menjelaskan, maksud hadits tersebut adalah agar kita bisa pertengahan dalam mengerjakan amalan dan berusaha melakukan suatu amalan sesuai kemampuan. Sebab, kata Ibnu Rajab, amalan yang paling dicintai Allah SWT adalah amalan yang rutin dilakukan walaupun itu sedikit. (Fathul Bari li Ibnu Rajab).

Dan dalam perkara ini, Imam an Nawawi mengatakan : Bahwa amalan yang sedikit namun rutin dilakukan itu lebih baik dari amalan yang banyak namun cuma dilakukan sesekali saja.

Ingatlah, kata beliau : Bahwa amalan sedikit yang rutin dilakukan akan melanggengkan amalan ketaatan, dzikir, pendekatan diri pada Allah Ta'ala, niat dan keikhlasan dalam beramal, juga akan membuat amalan tersebut diterima oleh Sang Khaliq Subhanahu wa Ta'ala.

Amalan sedikit yang rutin dilakukan akan memberikan ganjaran yang besar dan berlipat dibandingkan dengan amalan yang banyak namun sesekali saja dilakukan.  (Syarh Shahih Muslim).

Wallahu A'lam. (3.368)