Senin, 12 Agustus 2024

KETAJAMAN LIDAH BISA JADI MELEBIHI KETAJAMAN PEDANG

KETAJAMAN LIDAH BISA JADI MELEBIHI KETAJAMAN PEDANG

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, lidah yang tidak dipelihara akan bisa membuat hati orang lain luka parah karena ketajamannya. Ibaratnya, ketajaman lidah bisa melebihi ketajaman pedang yang baru diasah. Bahkan kita pernah mendengar pepatah bijak orang dahulu mengenai bahaya lidah : Kalau pedang melukai tubuh ada harapan akan sembuh. Tetapi kalau lidah melukai hati kemana obat hendak dicari.

Ketahuilah bahwa  Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telah mengingatkan kita semua untuk senantiasa dan terus menerus  menjaga diri dalam menggunakan  lidah atau lisan. Beliau bersabda :

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam. (Mutafaq ‘alaihi).

Jika melihat kepada zhahir hadits ini maka kita bisa mengambil pelajaran bahwa berbicara yang baik adalah terkait dengan iman. Atau dengan kata lain, jika lidah tidak dijaga maka imannya bisa dipertanyakan.  

Selain itu ingatlah, bahwa suatu ucapan ternyata bisa mengantarkan seorang hamba ke surga dan BISA PULA MELEMPARKANNYA KE NERAKA. Oleh karena itu BERSUNGGUH SUNGGUHLAH menjaga lisan dari perkataan perkataan yang buruk dan tercela.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan  dalam sabda beliau yang diriwayatkan dari Abu Hurairah :

إن العبد ليتكلم بالكلمة من رضوان الله , لا يلقي لها بالا , يرفعه الله بها درجات , و إن العبد ليتكلم بالكلمة من سخط الله , لا يلقي لها بالا يهوي بها في جهنم

Sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan keridhaan Allah, namun dia menganggapnya ringan, karena sebab perkataan tersebut Allah meninggikan derajatnya. 

Dan sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan kemurkaan Allah, namun dia menganggapnya ringan, dan TERSEBAB PERKATAAN TERSEBUT DIA DILEMPARKAN KE DALAM API NERAKA.  (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Selain itu, ketahuilah bahwa  begitu besarnya bahaya tersebab ketajaman lisan maka para sahabat  dan ulama terdahulu juga   memberi nasehat dalam perkara ini, diantaranya :

(1) Umar bin Khaththab yang memberi nasehat tentang memelihara dan menjaga lisan. Beliau berkata : Semoga Allah merakhmati orang yang menahan diri dari banyak berbicara dan lebih mengutamakan banyak beramal. (Uyun al Akhbar, Ibnu Taimiyah)

(2) Ibnu Mas’ud berkata : “Jauhilah oleh kalian sikap berlebihan dalam berbicara. Cukuplah bagi seseorang untuk berbicara seperlunya” (Jami’ul Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab al Hambali).

(3) Imam an Nawawi berkata : Apabila salah seorang dari kalian hendak berbicara dan pembicaraan tersebut benar-benar baik dan berpahala, baik dalam membicarakan yang wajib maupun sunnah, silahkan ia mengatakannya.

Jika belum jelas baginya, apakah perkataan itu baik dan berpahala atau perkataan itu tampak samar baginya antara haram, makruh dan mubah, hendaknya dia tidak mengucapkannya.

Berdasarkan hal ini, maka perkataan yang mubah tetap dianjurkan untuk ditingggalkan dan disunnahkan menahan diri untuk tidak mengatakannya, karena khawatir akan terjerumus kepada perkataan yang haram dan makruh. Inilah yang sering terjadi (Syarah Shahih Muslim).

Tetapi sangatlah disayangkan di zaman kita ini banyak orang bermudah mudah atau lancang berbicara dan berkomentar  suka sukanya, tanpa ilmu bahkan tanpa memperhatikan perasaan orang lain tersebab perkataannya yang buruk dan tak terjaga.

Wallahu A'lam. (3.339)

  

Minggu, 11 Agustus 2024

SANGAT DIANJURKAN TOLONG MENOLONG SESAMA ORANG BERIMAN

 

SANGAT DIANJURKAN TOLONG MENOLONG SESAMA ORANG BERIMAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sebagai salah satu konsekwensi dari PERSAUDARAAN ORANG BERIMAN adalah kewajiban untuk saling tolong menolong. Sungguh, kita sulit membayangkan bagaimana sulitnya kehidupan kita bermasyarakat terutama sesama orang beriman jika tidak memiliki sikap tolong menolong. Apalagi di zaman modern ini tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri tanpa pertolongan dari orang lain.

Sungguh  Allah Ta'ala memerintahkan orang orang beriman untuk SALING TOLONG MENOLONG DALAM KEBAIKAN yaitu sebagaimana firman-Nya :

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa. Dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah sangat berat siksa-Nya. (Q.S al Maidah 2).

Imam Ibnu Katsir berkata : Maknanya adalah bahwa Allah Ta'ala memerintahkan hamba hamba-Nya yang beriman untuk senantiasa tolong menolong DALAM BERBUAT KEBAIKAN. Itulah yang disebut dengan al birru atau kebaikan. (Tafsir Ibnu Katsir).

Imam al Qurthubi  menjelaskan tentang  TA’AWUN yaitu tolong menolong yang dimaksud dalam surat al Maidah ayat 2 menyebutkan beberapa aplikasinya :

(1) Seorang berilmu menolong manusia dengan ilmunya.

(2) Seorang yang berharta menolong manusia dengan hartanya.

(3) Seorang pemberani menolong manusia dengan keberaniannya berjuang di jalan Allah dan yang lainnya. Masing masing orang membantu orang lain sesuai kapasitas dan kemampuannya. (Tafsir al Qurthubi)

Imam al Mawardi  berkata : Allah Azza wa Jalla mengajak untuk tolong-menolong dalam kebaikan dengan beriringan dengan ketakwaan kepada-Nya. Sebab dalam ketakwaan, terkandung ridha Allah Azza wa Jalla . Sementara saat berbuat baik, orang-orang akan menyukai (meridhai). Barang siapa memadukan antara ridha Allah Azza wa Jalla dan ridha manusia, sungguh kebahagiaannya telah sempurna dan kenikmatan baginya sudah melimpah. (Tafsir al Qurthubi).

Tentang ayat 2 surat al Maidah yang berkaitan dengan tolong menolong dalam kebaikan, Syaikh as Sa'di berkata : Hendaknya Sebagian kalian membantu Sebagian yang lain dalam kebajikan. Kebajikan adalah nama yang mengumpulkan segala perbuatan,  baik lahir maupun bathin, baik hak Allah maupun hak manusia YANG DICINTAI DAN DIRIDHAI ALLAH TA'ALA.

Dan takwa di sini, adalah nama yang mengumpulkan sikap meninggalkan segala perbuatan  lahir dan bathin yang dibenci oleh Allah Ta'ala dan Rasul-Nya.

Setiap perbuatan baik yang diperintahkan untuk dikerjakan atau perbuatan buruk yang diperintahkan untuk dijauhi, maka seorang hamba DIPERINTAHKAN UNTUK MELAKSANAKANNYA sendiri dan dengan bantuan dari orang lain dari kalangan saudara saudaranya yang beriman. Baik dengan ucapan atau perbuatanyang memacu atau mendorong kepadanya. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Wallahu A'lam. (3.338).

  

 

BERSYUKUR MENDATANGKAN BANYAK KEBAIKAN

 

BERSYUKUR MENDATANGKAN BANYAK KEBAIKAN

 Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, Allah Ta'ala telah memberi nikmat yang SANGAT BANYAK KEPADA MANUSIA. Dan sungguh nikmat yang paling besar adalah NIKMAT IMAN dan taufik untuk selalu beramal shalih. Ketahuilah bahwa dalam banyak ayat al Qur’an, Allah Ta'ala  memerintahkan manusia untuk bersyukur kepada-Nya. Maka syukur adalah ibadah dan bentuk ketaatan atas perintah Allah Ta'ala. Allah Ta’ala berfirman : 

فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِࣖ 

Ingatlah kepada-Ku, maka Aku akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian ingkar. (Q.S al Baqarah 152).

Dan juga firman Allah Ta'ala :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا رَزَقْنٰكُمْ وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ

Wahai  orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah (Q.S al Baqarah 172).

Jadi, bersyukur adalah ibadah yaitu menjalankan perintah Allah Ta'ala. Enggan bersyukur serta mengingkari nikmat Allah adalah bentuk pembangkangan terhadap perintah-Nya.

Selain itu ketahuilah bahwa sungguh sangatlah banyak keutamaan yang akan mendatangi hamba hamba Allah yang selalu bersyukur, diantaranya adalah :

Pertama : Hamba yang bersyukur tidak akan diadzab. Allah Ta'ala menjelaskan dalam firman-Nya :

مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا

Allah tidak akan mengadzabmu jika kamu bersyukur dan beriman. Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui. (Q.S an Nisa’ 147). 

Kedua : Syukur adalah sifat orang beriman. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :

 

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ؛ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Seorang mukmin itu sungguh menakjubkan, karena setiap perkaranya itu baik. Namun tidak akan terjadi demikian kecuali pada seorang mu’min sejati. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya(H.R Imam Muslim). 

Ketiga : Menjadi  sebab datangnya ridha Allah. Allah Ta’ala berfirman :

إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ ۖ وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ ۖ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ ۗ 

Jika kalian ingkar, sesungguhnya Allah Maha Kaya atas kalian. Dan Allah tidak ridha kepada hamba-Nya yang ingkar dan jika kalian bersyukur Allah ridha kepada kalian. (Q.S az Zumar 7).

Syaikh as Sa'di berkata : Dan jika kamu bersyukur kepada Allah dengan cara mengesakan-Nya dan memurnikan agama (ketaatan) kepada-Nya, "niscaya Dia meridhainya bagimu,” karena sifat rahmat-Nya kepada kalian serta karena kalian mengerjakan tujuan kalian diciptakan. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Keempat : Penyebab datangnya tambahan nikmat. Allah Ta’ala berfirman : 

وإذ تأذن ربكم لئن شكرتم لأزيدنكم

Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. (Q.S Ibrahim 7).

Kelima : Mendatangkan ganjaran kebaikan.

Ketahuilah bahwa bersyukur itu mendatangkan ganjaran kebaikan berupa pahala, bahkan juga membuka pintu rizki. Allah Ta’ala menjelaskan dalam firman-Nya :

وَسَنَجْزِى ٱلشَّٰكِرِينَ

Dan sungguh orang-orang yang bersyukur akan kami beri ganjaran. (Q.S Ali Imran 145).

Imam ath Thabari menafsirkan ayat ini dengan membawakan riwayat dari Ibnu Ishaq bahwa maksudnya adalah karena bersyukur, Allah Ta'ala memberikan kebaikan yang Allah janjikan di akhirat dan Allah juga melimpahkan rizki baginya di dunia (Tafsir ath Thabari).

 Wallahu A'lam. (3.337)

 

Sabtu, 10 Agustus 2024

HAMBA YANG BANYAK BERSYUKUR TIDAK AKAN DIADZAB

 

HAMBA YANG BANYAK BERSYUKUR TIDAK AKAN DIADZAB

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, Allah Ta'ala telah menjelaskan bahwa semua nikmat dari Allah Ta'ala datangnya yaitu sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya :

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ ٱللَّهِ ۖ

Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah. (Q.S an Nahal 53).

Kewajiban utama dan paling penting  seorang hamba terhadap semua nikmat adalah bersyukur atau berterima kasih dengan sungguh sungguh kepada Allah Ta'ala.

Ibnu Taimiyah berkata : Syukur harus dijalani dengan hati, dengan lisan dan dengan anggota badan. Adapun membaca "alhamdu" hanyalah (syukur) di lisan. (Majmu'ah al Fatawa).

Menurut syariat yang dimaksud dengan bersyukur adalah : Menunjukkan adanya nikmat Allah pada dirinya dengan melalui lisan, yaitu berupa pujian dan mengucapkan kesadaran diri bahwa ia telah diberi nikmat. Dengan melalui hati, berupa persaksian dan kecintaan kepada Allah. Melalui anggota badan, berupa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah.  (Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin).

Muhammad bin Shalih al Munajjid menjelaskan bahwa  bersyukur dibagi menjadi tiga bentuk, yaitu :

(1)  Syukur Hati. Syukur hati adalah rasa bersyukur yang dilakukan dengan meyakini bahwa Allah sudah memberikan segala nikmat hidup ini dan memberikan apa yang hambanya butuhkan.

(2) Syukur Semua Anggota Tubuh. Syukur semua anggota tubuh adalah rasa bersyukur yang diungkapkan dengan cara menjalankan setiap amalan kebaikan dan menjauhi setiap larangan-Nya.

(3) Syukur Lisan. Syukur lisan adalah rasa syukur yang berupa mengucapkan puji dan syukur atas nikmat yang telah Allah berikan. Ucapan puji dan syukur bisa dilakukan saat seseorang melakukan dzikir yang bisa dilakukan setelah melakukan shalat wajib. (Kitab Pelajaran Tentang Bersyukur).

Cuma saja, ternyata sangatlah SEDIKIT MANUSIA YANG BERSYUKUR meskipun mendapat nikmat yang  sangat banyak dari Allah Ta'ala. Ini sebagaimana dijelaskan Allah Ta’ala dalam banyak ayat al Qur-an, diantaranya.

Pertama : Q.S al A’raf ayat 10. Allah Ta'ala berfirman : 

وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الْأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ ۗ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

Dan sungguh, Kami telah menempatkan kamu di bumi dan disana Kami sediakan (sumber) penghidupan untukmu. (Tetapi) sedikir sekali kamu bersyukur. 

Kedua : Q.S al Mu’minun ayat 78. Allah Ta'ala berfirman : 

وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

Dan Dia-lah yang telah menciptakan bagimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, tetapi sedikit sekali kamu bersyukur. 

Ketiga : Q.S al Baqarah 243. Allah Ta'ala berfirman : 

 اِنَّ اللّٰهَ لَذُوْ فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُوْنَ

Sesungguhnya Allah memberikan karunia kepada manusia tetapi kebanyakan mereka tidak bersyukur.

Padahal sungguh, benar benar sangatlah banyak keutamaan yang akan mendatangi hamba hamba Allah yang senantiasa bersyukur kepada-Nya. Salah satunya adalah tidak akan di adzab yaitu  sebagaimana firman Allah Ta’ala :

مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا

Allah tidak akan menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman. Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui. (Q.S an Nisa’ 147).

Wallahu A'lam. (3.336).

 

 

Jumat, 09 Agustus 2024

PENGHALANG MANUSIA UNTUK BERSYUKUR

 

PENGHALANG MANUSIA UNTUK BERSYUKUR

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Meskipun telah diberi nikmat yang banyak bahkan sangat banyak tetapi ternyata sedikit sekali manusia yang bersyukur atau berterima kasih kepada Allah Ta'ala.   Allah Ta'ala  menjelaskan perkara ini dalam banyak firman-Nya, diantaranya adalah :

Pertama : Q.S al A’raf ayat 10 

وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الْأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ ۗ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

Dan sungguh, Kami telah menempatkan kamu di bumi dan disana Kami sediakan (sumber) penghidupan untukmu. (Tetapi) sedikir sekali kamu bersyukur. 

Kedua : Q.S al Mu’minun ayat 78. 

وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

Dan Dia-lah yang telah menciptakan bagimu pendengaran,penglihatan dan hati nurani, tetapi sedikit sekali kamu bersyukur. 

Lalu kenapa sedikit sekali manusia yang bersyukur. Ada beberapa penyebab atau penghalang, diantaranya adalah :

Pertama :   Tidak mengetahui atau tidak mau  tahu nikmat itu datang dari mana.

Sungguh Allah Ta’ala telah menjelaskan bahwa tidak ada pemberi nikmat  kecuali  Dia saja. Allah Ta'ala berfirman :  

وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ

Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah. (Q.S an Nahl 53) 

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata : Syukur itu menurut asalnya adalah adanya pengakuan akan nikmat yang telah Allah berikan dengan cara tunduk kepada-Nya, merasa hina di hadapan-Nya dan mencintai-Nya. Maka barangsiapa yang tidak merasakan bahwa itu adalah suatu kenikmatan maka dia tidak akan mensyukurinya.

Barangsiapa yang mengetahui itu adalah nikmat namun dia tidak mengetahui dari mana nikmat itu berasal, dia juga tidak akan mensyukurinya. Barangsiapa yang mengetahui itu adalah suatu nikmat dan mengetahui pula dari mana nikmat itu berasal, namun dia mengingkarinya sebagaimana orang yang mengingkari Allah yang memberi nikmat, maka dia telah kafir.

Barangsiapa yang mengetahui itu adalah suatu nikmat dan dari mana nikmat itu berasal, mengakuinya dan tidak mengingkarinya, akan tetapi ia tidak tunduk kepada-Nya dan tidak mencintai-Nya atau ridha kepada-Nya, maka ia tidak mensyukurinya.

Barangsiapa yang mengetahui itu adalah nikmat dan dari mana nikmat itu berasal, mengakuinya, tunduk kepada yang memberi nikmat, mencintai-Nya dan meridhai-Nya, dan menggunakan dalam kecintaan dan ketaatan kepada-Nya, maka inilah baru disebut sebagai orang yang bersyukur.

Kedua : Tidak pernah puas dengan nikmat yang telah ada.

Allah Ta’ala telah memberi nikmat yang sangat banyak. Allah Ta'ala berfirman :  

وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. DAN JIKA KAMU MENGHITUNG NIKMAT ALLAH, NISCAYA KAMU TIDAK AKAN MAMPU MENGHITUNGNYA. Sungguh manusia itu sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). Q.S Ibrahim 34.

Jadi memang ada manusia yang mengingkari nikmat Allah karena selalu merasa nikmat Allah masih kurang baginya, tidak pernah puas dan tidak merasa cukup, tidak qana’ah. Padahal Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  telah mengingatkan dalam sabda beliau  

وَكُنْ قَنِعًا، تَكُنْ أَشْكَرَ النَّاسِ

Dan jadilah kalian orang yang qana’ah (merasa cukup dengan yang sedikit) niscaya engkau menjadi manusia yang bersyukur.  (H.R Ibnu Majah, dari Abu Hurairah, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Ketiga : Selalu melihat orang yang diatas dalam urusan dunia.

Ini juga merupakan salah satu penyebab orang orang sedikit yang bersyukur. Dia selalu membandingkan dirinya dengan orang lain dalam hal harta dunia. Sungguh Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  telah mengingatkan, dalam sabda beliau : 

انظروا إلى من هو أسفل منكم ولا تنظروا إلى من هو فوقكم ، فهو أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم

Lihatlah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau lihat orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu. (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Memang kita boleh melihat yang di atas tapi bukan dalam urusan dunia tapi urusan akhirat. Untuk urusan dunia kita disuruh qanaah, merasa cukup untuk akhirat selalu merasa kurang. Kita sering melihat saudara kita sangat taat dan rajin beribadah maka ini harus kita perhatikan, kita inginkan dan kita contoh. Ini namanya fastabiqul khairat.

Keempat : Merasa nikmat itu sebagai hasil kepandaian dan usahanya sendiri. 

Allah telah menerangkan tentang kisah Qarun yaitu seorang hamba yang tidak mau bersyukur atas nikmat yang diterimanya. Sungguh dia telah mengingkari bahwa nikmat itu datang dari Allah Ta’ala.  

Dia merasa bahwa nikmat itu adalah karena kepandaiannya mengumpulkan harta. Perhatikanlah firman Allah dalam surat al Qashash 78.  

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي ۚ 

Dia (Qarun) berkata : Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku. 

Wallahu A'lam. (3.335)

Kamis, 08 Agustus 2024

HAMBA ALLAH SELALU MEMOHON ILMU YANG BERMANFAAT

 

HAMBA ALLAH SELALU MEMOHON ILMU YANG BERMANFAAT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Dalam menjalani hidup di dunia hamba hamba Allah membutuhkan ilmu, terutama ilmu syariat dan juga ilmu ilmu lainnya yang bermanfaat bagi kaum muslimin. Bahkan belajar ilmu dalam syariat Islam adalah suatu yang wajib. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  bersabda :

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Belajar ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim. (H.R Imam Muslim).

Satu ungkapan yang cukup masyhur menyebutkan bahwa : Untuk mendapatkan dunia kita butuh ilmu, untuk mendapatkan akhirat kita butuh ilmu. Dan untuk mendapatkan keduanya kita butuh ilmu. Ya memang demikianlah adanya.

Sungguh, kita butuh ilmu untuk memahami aqidah yang benar. Kita butuh ilmu untuk beribadah yang benar. Kita butuh ilmu untuk   berakhlak yang terpuji. Kita butuh ilmu agar bisa bermuamalah dengan baik. Bahkan BEBERAPA SAAT SEBELUM MATI PUN KITA BUTUH ILMU   yaitu ilmu tentang kalimat apa yang harus kita ucapkan pada saat yang kritis itu.

Jalan untuk mendapatkan ilmu HARUSLAH DENGAN BELAJAR. Belajar di lembaga formal dan juga secara tidak formal. Diantaranya dan termasuk yang utama adalah hadir di majelis ilmu, duduk di depan guru. Dan juga belajar dari media sosial, kitab kitab yang ditulis para ulama seperti kitab tafsir al Qur an, kitab hadits dan syarahnya dan banyak lagi sarana lainnya.

Selain itu, juga sangat dianjurkan untuk berdoa  memohon ilmu yang bermanfaat diantaranya  dari hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Hadis ini dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Sahih Ibnu Majah.

اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً نَافِعاً، وَرِزْقاً طَيِّباً، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

Allahumma inni as-aluka ‘ilman nafi'an wa rizqan thayyiban, wa ‘amalan mutaqabbalan.

Ya Allah !. Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik dan amalan yang diterima.

Selain dari hadis di atas, ada juga doa memohon ilmu yang bermanfaat dalam Al-Quran Surat Thaha ayat 114 :

 رَبِّىْ زِدْنِيْ عِلْمًـا ناَفِعًاوَرْزُقْنِـيْ فَهْمًـا

Rabbi zidni 'ilman naafi'an warzuqni fahma.

Ya Allah !.  Tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan yang bermanfaat dan berikanlah aku pemahaman yang baik.

Selain itu, juga  terdapat hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdoa seperti berikut :

اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي وَزِدْنِي عِلْمًا الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ حَالِ أَهْلِ النَّارِ

Allahummanfa'nii bimaa 'allamtanii wa 'allimnii maa yanfa'una wa zidnii 'ilman, alhamdulillahilladzi 'alaa kulli haalin wa a'uzu billahi min haali ahlin naar.

Ya Allah !. Jadikanlah ilmu yang Engkau ajarkan kepadaku bermanfaat bagiku. Ajarkanlah kepadaku ilmu yang berguna untukku dan tambahkanlah kepadaku ilmu. Segala puji bagi Allah atas segala hal, aku berlindung kepada Allah dari keadaan dan segala hal yang dilakukan penghuni neraka. (H.R at Tirmidzi, Ibnu Majah dan al-Bazzar).

Wallahu A'lam. (3.334).

 

 

 

 

 

 

Jumat, 02 Agustus 2024

SIFAT SIFAT ORANG YANG DICINTAI ALLAH

 

SIFAT SIFAT ORANG YANG DICINTAI ALLAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, cita cita tertinggi dan paling utama orang orang beriman adalah BETUL BETUL SANGAT INGIN MENDAPAT CINTA ALLAH TA'ALA. Oleh karena itu disetiap saat orang orang beriman berusaha keras mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala sehingga mendapat kecintaannya. Ketahuilah bahwa ada beberapa sifat atau kelakuan hamba hamba Allah yang akan mendapat kecintaannya, diantaranya :

Pertama : Orang yang selalu berbuat baik.

Sungguh Allah Ta’ala memerintahkan untuk berbuat baik kepada manusia. Diantaranya disebutkan dalam firman-Nya :

وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ

Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana ALLAH TELAH BERBUAT BAIK KEPADAMU. (Q.S al Qashash 77).

Sungguh Allah Ta’ala mencintai orang orang yang berbuat baik. Allah Ta’ala berfirman :

فَـَٔاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ ثَوَابَ ٱلدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ ٱلْءَاخِرَةِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

Maka Allah memberi mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan ALLAH MENCINTAI ORANG ORANG YANG BERBUAT BAIK.  (Q.S Ali Imran 148).

Dan juga Allah Ta'ala berfirman :

وَأَحْسِنُوٓا۟ ۛ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Q.S al Baqarah 195).

Kedua : Orang orang yang sabar.

Ada banyak ayat yang menjelaskan tentang cinta Allah mendatangi hamba hamba-Nya yang bersabar, diantaranya, Allah Ta'ala berfirman :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Q.S al Baqarah 153) 

Selain itu  ketahuilah bahwa orang yang menjaga sifat sabar dalam dirinya akan memperoleh pahala tanpa batas. Allah Ta'ala menjelaskan perkara ini dalam firman-Nya :

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah  yang disempurnakan pahala mereka tanpa batas (Q.S az  Zumar 10).

Ketiga : Orang yang bertakwa.

Perkara ini dijelaskan  Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau berikut ini:

عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ، الْغَنِيَّ، الْخَفِيَّ

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang bertaqwa, kaya (hatinya), dan tersembunyi (yakni: orang yang fokus beribadah dan mengurusi dirinya sendiri-peny.). H.R Imam Muslim.

Jika Allah Azza wa Jalla mencintai hamba-Nya, maka sesungguhnya banyak sekali keutamaan dan kebaikannya. Antara lain yang dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam haditsnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ: إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّ فُلاَنًا فَأَحِبَّهُ، فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، ثُمَّ يُنَادِي جِبْرِيلُ فِي السَّمَاءِ: إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، وَيُوضَعُ لَهُ القَبُولُ فِي أَهْلِ الأَرْضِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Apabila Allah Tabaraka wa Ta’ala mencintai seorang hamba, Allah menyeru kepada Jibril, “Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah dia!” Maka Jibril mencintainya. Kemudian Jibril menyeru di langit, Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah dia (wahai para malaikat) !. Maka penduduk langit mencintainya. Dan Allah menjadikan dia diterima di bumi (yakni dicintai orang-orang shalih di bumi, peny.) H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim dan ini lafazh Imam Bukhari.

Selain itu perlu  diketahui  bahwa meraih kecintaan Allah Azza wa Jalla adalah juga dengan beribadah kepada-Nya dengan ibadah yang wajib, kemudian ibadah sunnah, sehingga menjadi hamba yang dekat dan dicintai oleh-Nya

Tentang perkara ini, sungguh Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa Sallam memberi petunjuk kepada umat beliau, sebagaimana sabda beliau : 

إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ

Allah Ta’ala berfirman : Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Aku cintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya

Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya. (H.R Imam Bukhari).

Wallahu A'lam. (3.333).