Rabu, 12 Oktober 2022

DOA DOA YANG BERKENAAN DENGAN HUJAN

 

DOA DOA YANG BERKENAAN DENGAN HUJAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh hujan adalah rahmat dan  merupakan  salah satu tanda kebesaran-Nya. Allah Ta'ala berfirman : 

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى الْأَرْضَ خَاشِعَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ ۚ إِنَّ الَّذِي أَحْيَاهَا لَمُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۚ إِنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dan sebagian dari tanda tanda (kebesaran) Nya. Engkau melihat bumi itu kering dan tandus, tetapi apabila Kami turunkan hujan diatasnya, niscaya dia bergerak dan subur. Sesungguhnya (Allah) yang menghidupkannya pasti dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. (Q.S Fussilat 39). 

Berkenaan dengan hujan maka orang orang beriman mengambil manfaat untuk mendapatkan pahala dan kebaikan yang banyak yaitu dengan berdoa kepada Allah Ta’ala. Ada tiga kesempatan berdoa yang diajarkan Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam ketika ada hujan :  

Pertama : Pada SAAT HUJAN MULAI TURUN orang orang beriman  sangat dianjurkan untuk berdoa  agar hujan yang diturunkan Allah bermanfaat. Adapun doa yang diajarkan  Rasulullah adalah :

اللَّهُمَّ صَيِّباً ناَفِعاً

Allahumma shaiyiban naafi’a.  Ya Allah jadikanlah hujan ini hujan yang bermanfaat. (H.R Imam Bukhari)

Ibnu Baththal berkata :  Hadits ini berisi anjuran untuk berdoa ketika turun hujan agar kebaikan dan keberkahan semakin bertambah, begitu pula semakin banyak kemanfaatan. 

Kedua : Pada SAAT HUJAN TURUN maka orang orang beriman dianjurkan pula  berdoa meminta apa saja yang mereka inginkan, karena pada saat hujan turun adalah salah satu waktu atau keadaan doa diijabah.Ibnu Qudamah dalam al Mughni mengatakan : Dianjurkan untuk berdoa ketika turunnya hujan, sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi Salallahu alaihi Wasallam  : 

اُطْلُبُوا اسْتِجَابَةَ الدُّعَاءِ عِنْدَ ثَلَاثٍ : عِنْدَ الْتِقَاءِ الْجُيُوشِ ، وَإِقَامَةِ الصَّلَاةِ ، وَنُزُولِ الْغَيْثِ 

Carilah doa yang mustajab pada tiga keadaan : (1) Bertemunya dua pasukan, (2 Menjelang shalat dilaksanakan, dan (3) Saat hujan turun. (Dikeluarkan oleh Imam asy Syafii dalam al Umm dan al Baihaqi dalam al Ma’rifah).

 Begitu juga dengan  hadits dari Sahl bin Sa’d, beliau berkata bahwa Rasulullah Salallahu ‘alaihi  Wasallam bersabda : 


ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِوَ تَحْتَ المَطَرِ

Dua doa yang tidak akan ditolak : Doa ketika adzan dan doa ketika turunnya hujan. (H.R al Hakim dan al Baihaqi). 

Ketiga : Pada SAAT HUJAN TELAH BERHENTI maka orang orang yang beriman  dianjurkan pula berdoa dan memuji Allah Ta’ala : “Muthirna bifadhlihi wa rakhmatihi” Kami telah (diberi hujan) dengan karunia dan rahmat-Nya. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Hamba hamba Allah dianjurkan membaca doa doa ini, dan ketahuilah bahwa doa adalah ibadah, sebagaimana sabda Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam :

الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ

Doa adalah ibadah(H.R at Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Tentang makna ibadah dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau berkata : Ibadah adalah satu istilah yang menghimpun seluruh apa yang DICINTAI DAN DIRIDHAI oleh Allah Ta'ala berupa perkataan dan perbuatan yang lahir dan yang bathin. (Al 'Ubudiyah).

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A'lam. (2.775).

 

 

 

 

Selasa, 11 Oktober 2022

BUKTI CINTA RASUL DENGAN MERAYAKAN HARI KELAHIRAN BELIAU ??

 

BUKTI CINTA RASUL DENGAN MERAYAKAN HARI KELAHIRAN BELIAU ??

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Orang orang beriman wajib mencintai Rasulullah Salallahu Salallahu 'alaihi Wasallam. Ini adalah salah satu konsekwensi dan menjadi  bukti  ucapan syahadat kepada beliau. Selain itu ketahuilah bahwa kecintaan kita kepada Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam haruslah melebihi kecintaan kita kepada diri sendiri. Dari Sahabat ‘Abdullah bin Hisyam Radhiyallahu anhu, ia berkata:

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ آخِدٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، َلأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِي. فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ وَالَّذِي نَفْسِيْ بِيَدِهِ، حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ. فَقَالَ لَهُ عَمَرُ: فَإِنَّهُ اْلآنَ، وَاللهِ، َلأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اْلآنَ يَا عُمَرُ.

Kami mengiringi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau menggandeng tangan Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu. Kemudian Umar berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Wahai Rasulullah, sungguh engkau sangat aku cintai melebihi apa pun selain diriku.

Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tidak, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, hingga aku sangat engkau cintai melebihi dirimu. Lalu Umar berkata kepada beliau : Sungguh sekaranglah saatnya, demi Allah, engkau sangat aku cintai melebihi diriku. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Sekarang (engkau benar), wahai Umar. (H.R Imam Bukhari).

Selain itu, ketahuilah bahwa mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah terkait dengan (kesempurnaan) imam seorang hamba, sebagaimana sabda beliau :

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Seseorang tidaklah beriman (dengan sempurna) hingga aku lebih dicintainya dari anak dan orang tuanya serta manusia seluruhnya. (H.R Imam Muslim).

Lalu bagaimana cara yang sangat dianjurkan ketika orang orang beriman mencintai Rasulullah Salallahu 'alai Wasallam. Syaikh Muhammad bin Abdulwahab at Tamimi, mengajarkan beberapa cara mencintai Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam, yaitu :

(1) Tha’atuhu fima ‘amar-Mentaati apa yang diperintahkan beliau. (2) Wa tashdiqu fima akhbar-Membenarkan berita yang dibawa beliau. (3) Wajtinaabu maa anhu naha wa zajar-Menjauhi segala apa yang dilarang beliau. (4) Wa an laa yu’badalahu illa bimaa syara’a-Beribadah dengan cara yang diajarkan beliau. (Kitab Ushul Tsalatsah).

Lalu datang pertanyaan : Apakah merayakan hari kelahiran Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam adalah termasuk salah satu CARA MENCINTAI BELIAU ?. Wallahu a'lam, tetapi ketahuilah tidak riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah sendiri, istri istri dan anak anak beliau serta sahabat sahabat beliau tidak ada yang merayakan hari kelahiran beliau.

Ketahuilah bahwa tidak ada keraguan sedikitpun, sungguh istri istri, anak anak dan sahabat sahabat adalah orang orang yang AMAT SANGAT MENCINTAI Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam.

Dan juga hari kelahiran beliau tak pernah dirayakan oleh generasi tabi'in, tabiut tabi'in dan juga imam yang empat.

Syaikh bin Baz seorang ulama besar dan bekas Mufti Kerajaan Saudi Arabia berkata : Kecintaan terhadap Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam BUKAN DENGAN CARA MERAYAKAN HARI KELAHIRAN BELIAU.  Tetapi kecintaan terhadap beliau mengharuskan seseorang untuk : Mengikutinya, berpegang teguh dengan syariatnya, membelanya, berdakwah kepadanya dan istiqamah diatasnya. Inilah kecintaan yang benar. (Nur Ala ad Darb).

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A'lam. (2.774)

 

 

 

 

 

LARANGAN MENYEMBUNYIKAN CACAT BARANG YANG DIJUAL

LARANGAN MENYEMBUNYIKAN CACAT BARANG YANG DIJUAL

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Salah satu untuk mendapatkan rizki yang halal adalah berdagang dengan jujur. Ketahuilah bahwa Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam memberi kabar gembira kepada pedagang yang jujur, sebagaimana sabda beliau :

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: «التاجر الأمين الصدوق المسلم مع الشهداء - وفي رواية: مع النبيين و الصديقين و الشهداء - يوم القيامة

Dari Abdullah bin Umar  radhiallahu 'anhu itu  Rasulullah  Shallallahu' alaihi wa Sallam  bersabda :  Seorang pedagang muslim yang jujur ​​dan amanah (percaya) akan (dikumpulkan) bersama para Nabi, orang-orang shiddiq dan orang-orang yang mati syahid pada hari kiamat. (H.R Ibnu Majah, al Hakim dan ad Daraquthni. Dinyatakan baik sanadnya oleh Imam adz Dzahabi dan Syaikh al Albani).

Namun demikian, ada juga sebagian saudara kita yang berdagang tetapi suka menyembunyikan cacat barang yang dijual. Tujuan adalah agar bisa menjual barang cacat dengan harga barang tidak cacat. Bisa menjual arang kw 2 dengan harga kw 1. Ini adalah salah satu penipuan  yang diharamkan dalam syariat Islam.  

Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telah mengingatkan perkara ini dalam satu hadits yang diriwayatkan dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu : 

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ بَاعَ مِنْ أَخِيهِ بَيْعًا فِيهِ عَيْبٌ إِلَّا بَيَّنَهُ لَهُ

Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak halal bagi seorang muslim untuk menjual barang yang ada cacatnya kepada temannya, kecuali jika dia jelaskan. (H.R Ibnu Majah dan al Hakim dalam Mustadrak).

Ada sebuah kisah yaitu pada suatu hari Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam  lewat di samping sebuah gundukan makanan (sejenis gandum). Lalu beliau memasukkan tangannya ke dalam gundukan makanan tersebut sehingga jari-jarinya basah. Beliau bertanya : Apa ini wahai pemilik makanan ?. Ia menjawab : Kehujanan, wahai Rasulullah !. Rasulullah bersabda : “Kenapa tidak engkau letakkan di (bagian) atas makanan sehingga orang-orang dapat melihatnya ?. Barangsiapa menipu maka dia tidak termasuk golongan kami." ( HR. Imam Muslim).

Oleh karena itu hamba hamba Allah ketika berdagang hendaklah memperhatikan dengan sungguh peringatan suri tauladan kita yaitu Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam. Jadilah pedagang jujur.  Jangan merusak diri dan harta dengan berlaku curang dalam berdagang. Wallahu A'lam. (2.773) 

 

 


Senin, 10 Oktober 2022

ZAKAT UNTUK MENSUCIKAN JIWA DAN MENUMBUHKAN HARTA

 

ZAKAT UNTUK MENSUCIKAN JIWA DAN MENUMBUHKAN HARTA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Syaikh Utsaimin Muhammad bin Shalih al Utsaimin menjelaskan tentang makna zakat yaitu : Harta yang  diberikan diantara jenis jenis harta yang wajib di zakatkan. Seseorang memberikannya kepada orang yang berhak menerimanya dengan MENGHARAP PAHALA DARI ALLAH TA'ALA. (Syarah Arba'in an Nawawiyah).

Sungguh mengeluarkan zakat harta adalah kewajiban yang tidak boleh diabaikan karena termasuk dalam  rukun Islam. Dalam potongan satu hadits yang panjang disebutkan tentang jawaban Rasulullah Salllallahu 'alaihi Wasalla ketika  Jibril bertanya :

يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ   وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً

 Wahai Muhammad, kabarkanlah kepadaku tentang Islam. Maka Rasulullah menjawab : Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada ilah (yang behak diibadahi dengan benar) kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, MENUNAIKAN ZAKAT, berpuasa Ramadhan dan menunaikan haji ke Baitullah jika engkau mampu mengadakan perjalanan kepadanya.     

Dan juga Allah Ta'ala berfirman :

خُذْ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Ambillah zakat dari harta mereka guna membersihkan dan mensucikan mereka  dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Q.S at Taubah 103).

Syaikh Sa'di berkata : (membersihkan dan mensucikan mereka), YAKNI MENUMBUHKAN DAN MENAMBAHKAN AKHLAK AKHLAK MEREKA YANG BAIK DAN AMAL MEREKA YANG SHALIH, MENAMBAH PAHALA MEREKA DI DUNIA DAN DI AKHIRAT DAN MENYUBURKAN HARTA HARTA MEREKA. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Zakat haruslah diberikan kepada yang berhak yaitu dalam bahasa syariat disebut mustahik. Mustahik itu delapan kelompok yaitu sebagaimana  ditetapkan Allah Ta'ala dalam firman-Nya :

إِنَّمَا ٱلصَّدَقَٰتُ لِلْفُقَرَآءِ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱلْعَٰمِلِينَ عَلَيْهَا وَٱلْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِى ٱلرِّقَابِ وَٱلْغَٰرِمِينَ وَفِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِّنَ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Sesungguhnya zakat itu hanya untuk : (1) Orang orang fakir. (2) Orang miskin. (3) Amil zakat. (4) Orang yang dilunakkan hatinya yaitu mualaf. (5) Untuk memerdekakan hamba sahaya (6) Untuk (membebaskan) orang yang berhutang. (7) Untuk jalan Allah dan (8) Untuk orang yang sedang dalam perjalanan.  (Q.S at Taubah 60).

Dengan adanya pembatasan orang yang berhak menerima zakat maka hakikatnya selain itu tidak boleh diberi zakat. Misalnya, harta zakat diberikan untuk pembangunan jalan umum, membangun masjid, madrasah dan yang lainnya.

Ketahuilah bahwa selain sebagai penyucian jiwa dan keberkahan serta menumbuhkan harta, sungguh sangatlah banyak keutamaan yang akan mendatangi orang orang yang menunaikan zakat, diantaranya   adalah turunnya RAHMAT ATAU KASIH SAYANG ALLAH TA'ALA kepada mereka, sebagaimana firman-Nya :

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dan orang beriman laki laki dan perempuan, Sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) makruf dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan shalat, MENUNAIKAN ZAKAT dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. MEREKA AKAN DIBERI RAHMAT OLEH ALLAH. Sungguh Allah Mahaperkasa dan Mahabijaksana. (Q.S at Taubah 71).

Oleh karena itu maka hamba hamba Allah hendaklah bersungguh sungguh dalam menunaikan zakat harta ketika telah terpenuhi syarat syaratnya. ٍSungguh zakat mensucikan jiwa dan menumbuhkan atau mengembangkan harta baik jumlahnya maupun berkahnya. Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A'lam. (2.772).

Minggu, 09 Oktober 2022

KEWAJIBAN BERIBADAH KEPADA ALLAH TA'ALA SAJA

 

KEWAJIBAN BERIBADAH KEPADA ALLAH TA'ALA SAJA

Disusun oleh : Azwir B Chaniago

Sangatlah banyak perintah Allah Ta'ala dalam al Qur an supaya manusia beribadah kepada Allah Ta'ala. Diantaranya adalah firman-Nya :

Pertama : Dalam surat al Baqarah 21. Ketahuilah bahwa perintah pertama dalam al Qur an kepada manusia adalah agar mereka beribadah kepada Allah Ta'ala saja. Allah Ta'ala berfirman :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعْبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمْ وَٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai manusia !. Sembahlah Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dan orang orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Kedua : Dalam surat an Nahal 36. Allah Ta'ala berfirman :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ 

Dan sungguh Kami telah mengutus seorang Rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan) : Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.

Ketiga : Dalam surat adz Dzariyat 56. Allah Ta'ala berfirman :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Aku tidak menjadikan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. 

Ketahuilah bahwa para ulama yang mumpuni ilmunya telah menjelaskan tentang makna ibadah :

(1) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : Ibadah adalah satu istilah yang menghimpun seluruh apa yang DICINTAI DAN DIRIDHAI oleh Allah Ta'ala berupa perkataan dan perbuatan yang lahir dan yang bathin. (Al 'Ubudiyah).

(2) Imam Ibnu Katsir berkata : Di dalam (istilah) syariat (ibadah) adalah suatu ungkapan dari apa yang menggabungkan kesempurnaan atau puncak kecintaan, ketundukan dan rasa takut. (Tafsir Ibnu Katsir).

Hakikatnya  beribadah kepada Allah Ta'ala adalah dengan menjalankan perintah perintah-Nya dan menjauhi larangan larangan-Nya. Dan sungguh kita tidak mengetahui  perintah Allah Ta'ala untuk dilakukan dan larangan-Nya yang mesti ditinggalkan kecuali dengan belajar ilmu syar'i. 

Imam Bukhari dalam Kitab Shahihnya memberi nasehat agar berilmu  sebelum beramal. Beliau menulis : BAB ILMU SEBELUM BERKATA DAN BERAMAL.

Mu’adz bin Jabal radhiyallaahu ‘anhu berkata: Ilmu adalah pemimpin amal, dan amal adalah pengikut ilmu. (Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu anil Munkar, Ibnu Taimiyyah).

Oleh karena itu sebelum beribadah maka seseorang harus mempelajari  ilmu agama yaitu berdasarkan keterangan dari al Qur an dan as Sunnah dengan pemahaman salafush shalih.

Selain itu ketahuilah saudaraku, bahwa ibadah kepada Allah BUKAN HANYA masalah masjid, urusan dzikir, membaca al Qur an, shalat dan puasa  saja tetapi MENCAKUP SELURUH KEHIDUPAN SEORANG HAMBA. Allah Ta'ala telah menjelaskan hal ini dalam firman-Nya :

  قُلۡ اِنَّ صَلَاتِىۡ وَنُسُكِىۡ وَ مَحۡيَاىَ وَمَمَاتِىۡ لِلّٰهِ رَبِّ الۡعٰلَمِيۡنَۙ

  لَا شَرِيْكَ لَهٗ ۚوَبِذٰلِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا۠ اَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ

Katakanlah (Muhammad) : Sesungguhnya shalatku, ibadahku, HIDUPKU DAN MATIKU HANYA UNTUK ALLAH, RABB SELURUH ALAM. Tidak ada sekutu bagi-Nya, dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku. Dan aku adalah orang yang pertama tama berserah diri (kepada Allah). Q.S al An'am 162-163).

Semoga Allah Ta'ala selalu memberi kita kekuatan untuk terus menerus beribadah HANYA KEPADA-NYA.  Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A'lam. (2.771). 

 

 

 

 

MALAIKAT MENGHIBUR ORANG YANG ISTIQAMAH DALAM KETAATAN

 

 

 MALAIKAT MENGHIBUR ORANG YANG ISTIQAMAH DALAM KETAATAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Secara bahasa, istiqamah berarti i’tidal atau lurus. Menurut syari’at istiqamah adalah meniti jalan yang lurus yaitu agama yang lurus yakni Islam tanpa menyimpang darinya ke kanan atau ke kiri. Istiqamah adalah mencakup seluruh ketaatan yang terlihat maupun yang tersembunyi serta meninggalkan seluruh yang dilarang (Imam Ibnu Rajab al Hambali).

Ibnu Abbas dan beberapa sahabat berkata : Istiqamah maksudnya berlaku luruslah dalam melaksanakan hal yang diwajibkan (Lihat Tafsir Ibnu Katsir).

Imam an Nawawi berkata : Para ulama menafsirkan istiqamah dengan luuzumu tha’atillah yaitu tetap konsekwen dan konsisten dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Salah satu keutamaan yang akan diperoleh seorang hamba yang selalu istiqamah dalam ketaatan kepada Allah adalah akan turun malaikat yang akan menghiburnya. Allah Ta'ala berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang orang yang berkata : Rabb kami adalah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqamah) maka Malaikat malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata) : Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) Surga yang telah dijanjikan kepadamu (Q.S Fushilat 30).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Malaikat turun menuju orang orang yang istiqamah, ketika kematian menjemput, ketika di dalam kubur dan ketika dibangkitkan. Malaikat itu memberi rasa aman dari ketakutan ketika kematian menjemput, menghilangkan kesedihannya disebabkan berpisah dengan keluarganya karena Allah akan mengganti hal itu. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir).

Sebagai penutup tulisan ini dinukil satu hadits dari  'Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwa Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  bersabda : 

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

 Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang kontinyu (terus menerus, istiqamah) dikerjakan walaupun sedikit. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A'lam. (2.770).

Sabtu, 08 Oktober 2022

NIKMAT HARTA JANGAN DIJADIKAN JALAN BERBUAT ZHALIM

 

NIKMAT HARTA JANGAN DIJADIKAN JALAN BERBUAT ZHALIM

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Setiap orang mendapat rizki berupa harta yang jumlahnya sudah ditakar dan ditetapkan Allah Ta'ala. Ada yang dapat banyak dan ada pula yang dapat tidak banyak. Sunguh Allah Ta'ala berfirman :

أَوَلَمْ يَعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ يَبْسُطُ ٱلرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقْدِرُ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Dan tidaklah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rizki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasinya (bagi siapa yang Dia kehendaki) ?. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman. (Q.S az Zumar 52).

Sungguh, rizki berupa harta  termasuk salah satu nikmat dari Allah Ta'ala yang yang selalu dicari bahkan diburu oleh kebanyakan manusia. Begitu hebatnya upaya sebagian manusia memburu rizki sampai sampai ada yang melalaikan waktu untuk beribadah.  

Dan hukum asal suatu nikmat adalah harus dipergunakan untuk SARANA  MENCARI RIDHA DAN MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH TA'ALA. Diantaranya adalah untuk membiayai kebutuhan diri dan keluarga, modal mencari ilmu, modal untuk beribadah yang membutuhkan biaya, membantu orang orang dhu'afa dan anak anak yatim, membangun tempat ibadah dan tempat pendidikan serta banyak yang lainnya.

Tetapi kita melihat di zaman ini banyak orang menggunakan hartanya untuk berbuat zhalimi. Apa itu zhalim ?. Secara bahasa maknanya adalah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Lawan kata zhalilm adalah adil yaitu berbuat sesuatu sesuai dengan ketentuan seharusnya. Jadi ketika seseorang melakukan apa yang dilarang oleh syariat adalah termasuk perbuatan zhalim.

Sungguh dalam satu hadits qudsi disebutkan bahwa Allah Ta'ala berfirman :

عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَى عَنْ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَّهُ قَالَ يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا

Dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, dari Nabi  Salallahu ‘alaihi Wasallam, beliau bersabda tentang apa yang beliau riwayatkan dari Allah Ta’ala  bahwa Dia berfirman : Wahai hamba-Ku, Aku haramkan  kedzaliman atas diri-Ku. Dan kujadikan ia larangan bagimu, maka janganlah saling mendzalimi. (H.R Imam Muslim    dan Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad).

Di zaman ini kita sering melihat sebagian orang yang memiliki banyak harta tetapi mereka menggunakan hartanya untuk berbuat zhalim, diantaranya adalah :

Pertama : Mengeluarkan harta untuk membenarkan yang salah.

Ada manusia yang diberi nikmat berupa  harta banyak tapi sebagiannya digunakan sebagai jalan menyalahkan yang benar dan membenarkan yang salah dengan memberi risywah yaitu suap atau sogokan. Ini adalah salah satu bentuk  kezhaliman dengan menggunakan nikmat harta. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda : 

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الرَّاشِىَ وَالْمُرْتَشِىَ.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melaknat orang yang MEMBERI SUAP  dan yang MENERIMA SUAP.  (H.R Abu Dawud at Tirmidzi, Ibnu Majah, dishahihkan oleh  Syaikh al Albani).

Kedua : Tidak mengeluarkan zakat harta.

Ketahuilah bahwa ketika seseorang diberi nikmat harta maka menjadi kewajiban baginya untuk mengeluarkan zakat harta. Allah Ta'ala berfirman :

خُذْ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Ambillah zakat dari harta mereka guna membersihkan dan mensucikan mereka  dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Q.S at Taubah 103).

Ketahuilah, ketika seseorang yang diberi nikmat berupa harta yang banyak, sungguh di dalam hartanya ada hak orang lain yang harus dikeluarkan berupa zakat jika telah memenuhi syaratnya. Oleh karena itu jika tidak  diberikan sebagiannya dalam bentuk zakat maka jatuhlah dia kepada perbuatan zhalim karena menahan hak orang lain. Bahkan ketahuilah bahwa didalam    harta yang dia tahan itu diantaranya ada hak orang fakir dan miskin.

Sungguh berbuat zhalim adalah salah satu perbuatan sangat tercela dalam syariat Islam. Sungguh Allah Ta’ala telah mengingatkan  tentang bahaya  berbuat zhalim, sebagaimana  firman-Nya : 

وَ لَا تَرۡکَنُوۡۤا اِلَی الَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا فَتَمَسَّکُمُ النَّارُ ۙ وَ مَا لَکُمۡ مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ مِنۡ اَوۡلِیَآءَ ثُمَّ لَا تُنۡصَرُوۡنَ

Dan janganlah kamu cenderung kepada orang orang yang zhalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka. Sedangkan kamu tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, sehingga kamu tidak akn diberi pertolongan. (Q.S Hud 113).

Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam juga telah  menjelaskan tentang keburukan yang akan menimpa orang zhalim, yaitu sebagaimana sabda beliau : 

وَإِيَّاكُمْ وَالظُّلْمَ فَإِنَّهُ عِنْدَ اللَّهِ ظُلْمَةٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Kezhaliman adalah kegelapan pada hari kiamat. (HR. Al-Bukari dan Muslim)

Ulama kita menerangkan bahwa dengan berpatokan pada hadits di atas bahwa kezaliman merupakan sebab kegelapan bagi pelakunya hingga ia tidak mendapatkan arah atau jalan yang akan dituju pada hari kiamat atau menjadi sebab kesempitan dan kesulitan bagi pelakunya. (Syarh Shahih Muslim). 

Oleh karena itu hamba hamba Allah, bersyukurlah atas nikmat rizki berupa harta sedikit atau pun banyak. Gunakanlah sebagai sarana untuk melakukan sesuatu yang Allah Ta'ala ridha. Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A'lam. (2.769).