Jumat, 23 Juni 2023

BISA SELAMAT MASUK SURGA DENGAN MENYEBARKAN SALAM

 

BISA SELAMAT MASUK SURGA DENGAN MENYEBARKAN SALAM

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh sangat indah ukhuwah Islamiyah, diantaranya adalah anjuran  menyebar salam yaitu mengucapkan dan menjawab salam. Intinya adalah saling mendoakan agar mendapat keselamatan, rahmat dan berkah bagi  saudara sesama muslim.

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata : Apabila engkau mengucapkan kepada seseorang ASSALAMU 'ALAIKUM  maka ucapanmu tersebut bermakna bahwasanya engkau mendoakannya agar Allah Ta'ala : (1)  Menyelamatkannya dari segala gangguan. (2) Menyelamatkannya dari penyakit. (3) Menyelamatkannya dari kegilaan. (4) Menyelamatkannya dari keburukan manusia. (5) Menyelamatkannya dari kemaksiatan dan penyakit hati. (6) Menyelamatkannya dari api Neraka. (Syarhu Riyadhish Shalihin).

Begitu besarnya keutamaan menyebarkan salam maka Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam mengingatkan agar orang muslim memberi salam kepada orang muslim yang dikenal ataupun belum dikenal yaitu sebagaimana sabda beliau  : 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا : أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيَ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ   أَيُّ الإِسْلاَمِ خَيْرٌ ؟ قَالَ  : تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

Dari Abdullah bin Amr al ‘Ash Radhiyallahu anhuma bahwa ada seorang yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Apakah (amal dalam) Islam yang paling baik ?. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : (Yaitu) kamu memberi makan (orang yang membutuhkan) dan mengucapkan salam kepada orang (Muslim) yang KAMU KENAL MAUPUN TIDAK KAMU KENAL. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Oleh karena itu ketika hamba hamba Allah  bertemu dengan saudaranya sesama muslim maka bersegeralah memberi salam. Sangat dianjurkan menjadi yang pertama mengucapkan salam.

Sungguh menyebarkan salam termasuk amalan ringan dan mudah diamalkan namun memiliki keutamaan yang banyak dan sangat baik akibatnya. Diantaranya adalah bisa selamat masuk surga. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

اعبُدوا الرحمنَ ، و أطعِمُوا الطعامَ ، وأَفشوا السَّلامَ ، تَدخُلوا الجنَّةَ بسَلامٍ

Sembahlah ar Rahman semata, berikanlah makan (kepada yang membutuhkan), tebarkanlah salam, maka engkau akan masuk surga dengan selamat. (H.R Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad, Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Albani).

 Dan juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَطْعِمُوْا الطَّعَام، وأَفْشُوْا السَّلاَم، تُوَرِّثُوُا الجِنَان

Berilah makan dan sebarkanlah salam, niscaya kalian akan mewarisi Surga. (H.R  adh Dhiya al-Maqdisi dari Ab­dullah bin al-Harits,  dise­butkan dalam kitab Silsilatul Ahaadiits ash Shahihah, Syaikh al Albani).

Ketahuilah bahwa sungguh orang yang pertama atau yang memulai memberi salam maka ia lebih utama. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {مَنْ بَدَأَ بِالسَّلَامِ فَهُوَ أَوْلَى بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ

Nabi Salallahu ‘alaihi Wasallam   bersabda : Siapa yang memulai (memberi) salam (ketika bertemu dengan seseorang), maka ia lebih utama menurut Allah dan Rasul-Nya. (H.R Imam Ahmad dari Abu Umamah)

Selain itu, dari Abu Umamah,  dalam riwayat Abu Dawud disebutkan :

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {إنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِاللهِ مَنْ بَدَأَهُمْ بِالسَّلَامِ

Nabi Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda : Sungguh orang yang paling utama menurut Allah adalah orang yang memulai mengucapkan salam.

Oleh karena itu ketika hamba hamba Allah  bertemu dengan saudaranya sesama muslim maka bersegeralah memberi salam karena sangat dianjurkan menjadi yang pertama mengucapkan salam. Sungguh memberi salam adalah ibadah yaitu salah satu perbuatan baik. Dalam berbuat baik Allah Ta'ala  menyuruh orang beriman bukan hanya sekedar bersegera tetapi DISURUH BERLOMBA. Allah Ta'ala berfirman : 

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ

Maka berlomba lombalah kamu dalam kebaikan. (Q.S al Baqarah 148)

Wallahu A'lam. (3.029)

 

 

 

 

 

 

Kamis, 22 Juni 2023

NASEHAT UNTUK MENDAPATKAN KELUARGA SAKINAH MAWADDAH WA RAHMAH

 

NASEHAT UNTUK MENDAPATKAN KELUARGA SAKINAH MAWADDAH WA RAHMAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Setiap orang menginginkan keluarganya berada dalam keadaan sakinah, mawaddah wa rahmah. Bahkan ini menjadi doa yang masyhur yang ditujukan kepada penganten atau pasangan yang baru saja menikah.

Lalu datang pertanyaan : Apa makna sakinah, mawaddah wa rahmah ?. Sebagian orang berilmu  ada yang menjelaskan maknanya   : (1) Sakinah bermakna, saling merasa tenteram dan nyaman dengan pasangannya. (2) Mawaddah bermakna, saling memiliki perasaan bersama dan bersatu dengan pasangannya. (3) Wa rahmah bermakna, kelembutan dan kasih sayang karena ikatan pernikahan.

Kita mengetahui bahwa dalam menjalani berkeluarga memang terkadang ada riak dan gelombang. Tidaklah selalu mulus. Tetapi setiap pasangan tetap berusaha dan berharap pertolongan Allah agar rumah tangga sakinah, mawaddah dan rahmah tetap menjadi tujuan dan harapan. Diantara cara mendapatkannya adalah :

Pertama : Menerima kelebihan dan kekurangan pasangan dengan lapang hati.

Sungguh tak ada manusia yang sempurna kebaikannya dan sebaliknya tak ada pula manusia yang sempurna kekurangannya.

Seseorang bisa jadi akan melihat kekurangan dari pasangannya.  Ada kekurangan yang serius dan ada pula yang tidak terlalu berat. Tapi bagaimanapun kekurangan kekurangan itu bisa diperbaiki menjadi lebih baik. Bahkan bisa jadi kekurangan itu merupakan ladang pahala  jika  disikapi dengan sabar dan sama sama ingin memperbaiki.

Janganlah seseorang yang hanya melihat kekurangan pasangannya bahkan tak mau pula melihat kekurangan dirinya, egois,  Biasanya ini  menjadi landasan pertama terjadinya  kericuhan rumah tangga. Allah Ta’ala berfirman : 

وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ فَإِن كَرِهۡتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡ‍ٔٗا وَيَجۡعَلَ ٱللَّهُ فِيهِ خَيۡرٗا كَثِيرٗا

Dan bergaullah kalian dengan mereka (para istri) secara patut. Kemudian bila kalian tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan pada dirinya kebaikan yang banyak. (Q.S an Nisa’ 19).

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang ayat ini : Yakni mudah-mudahan kesabaran kalian dengan tetap menahan mereka (para istri dalam ikatan pernikahan), sementara kalian tidak menyukai mereka, akan menjadi kebaikan yang banyak bagi kalian di dunia dan di akhirat sebagaimana perkataan Ibnu Abbas radhiallahu anhuma tentang ayat ini, “Si suami mengasihani (menaruh iba) istri (yang tidak disukainya) hingga Allah Subhanahu wa Ta'ala  berikan rezeki padanya berupa anak dari istri tersebut dan pada anak itu ada kebaikan yang banyak. (Tafsir Ibnu Katsir).

Sungguh Rasulullah juga telah mengajarkan bagaimana sikap seseorang dalam menghadapi kekurangan pasangannya. Beliau bersabda :   

لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak suka satu tabiat atau perangainya maka (bisa jadi) ia ridha (senang) dengan tabiat yang lain. (H.R Imam Muslim)

Imam an Nawawi berkata : Hendaknya seorang laki laki jangan membenci wanita, Jika dia mendapati pada wanita ada perangai yang tidak disukai maka pasti dia akan mendapati perangai lain yang dia sukai, seperti misalnya parasnya kurang cantik tetapi dia taat dalam beragama. Atau  bagus akhlaknya, penyayang, selalu menjaga diri dan sebagainya. (Syarh Shahih Muslim).

Kedua : Saling mengingatkan dan menasehati dengan lemah lembut.

Diantara cara untuk mendapatkan keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah adalah saling berlemah lembut. Hindari perkataan kasar dan kalimat yang buruk. Berlemah lembutlah. Sungguh sikap lemah lembut itu semuanya kebaikan. Sungguh Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  bersabda : 

يَاعَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيْقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِيْ الأَمْرِ كُلِّهِ

Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Mahalembut dan mencintai kelembutan di dalam semua perkara. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Imam Muslim juga meriwayatkan,  dari Jabir bin Abdullah bahwa Nabi Salallahu ‘alaihi wasallam bersabda : 

مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ يُحْرَمِ الْخَيْرَ

Barangsiapa yang tidak memiliki sifat lembut, maka tidak akan mendapatkan kebaikan.

Ketiga : Saling mendoakan dalam kebaikan.

Salah satu jalan untuk mendapatkan keluarga sakinah, mawadah wa rahmah adalah saling mendoakan diantara pasangan suami istri. Diantara doa yang disebutkan dalam al Qur an adalah :

رَبَّنَا هَب لَنَا مِنْ أَزْوَجِنَا وَ ذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ أَعْينٍ وَ اجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً

Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. (Q.S al Furqan 74).

Lazimkanlah membaca doa ini dan doa doa lainnya guna memohon kebaikan  untuk pasangan masing masing. Insya Allah bermanfaat. Wallahu A'lam. (3.028)

 

 

 

 

 

HADITS PALSU TENTANG KURBAN YANG SERING BEREDAR

 

HADITS PALSU TENTANG KURBAN YANG SERING BEREDAR

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Setiap tahun, khususnya ketika masuk bulan Dzulhijjah,  beredar beberapa hadits dha'if bahkan lemah sekali tentang qurban. Juga ada hadits yang palsu. Hadits lemah dan palsu ini terkadang beredar dari Sebagian mimbar masjid dan yang paling sering ditemukan di media sosial.

Oleh karena itu hamba hamba Allah mestilah berhati hati terhadap hadits lemah dan palsu ini. Ketika muncul di media sosial jangan di re sharing. Ketika seseorang re sharing tulisan yang memuat hadits palsu bisa jatuh kepada keadaan BERDUSTA ATAS NAMA RASULULLLAH SALALLAHU 'ALAIHI WASALLAM. Sungguh Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telah mengingatkan dalam sabda beliau :

إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia MENEMPATI TEMPAT DUDUKNYA DI NERAKA. (H.R Imam Bukhari  dan Imam Muslim, dari Mughirah).

Ketahuilah bahwa para ulama telah menemukan banyak hadits lemah, palsu bahkan tidak ada asal usulnya, tentang kurban, diantaranya adalah :

Pertama : “Wahai manusia, hendaklah kalian menyembelih qurban, dan berharaplah pahala dengan darahnya, karena sesungguhnya walaupun darah itu jatuh di tanah, akan tetapi sesungguhnya darah itu jatuh di dalam wadah milik Allah.”

Hadits ini palsu. al-Haitsami berkata : Diriwayatkan oleh ath Thabarani di dalam al-Ausath, dan dalam sanadnya ada `Amr bin Al Hushain Al ‘Uqaili dan dia adalah orang yang haditsnya di tinggalkan.

Kedua : “Jadikanlah binatang kurban kalian itu besar, karena dia akan menjadi tunggangan kalian saat melewati shirathal mustaqim”

Hadits ini tidak ada asal usulnya, dengan lafaz sepeti ini. Kemudian ad Dailami meriwayatkan dengan lafaz : “Sembelihlah binatang kurban yang kuat dan gemuk karena dia akan menjadi tunggangan kalian saat melewati shirath. Riwayat ini pun lemah sekali. (Lihat Silsilah Hadits Dha’if dan Maudhu’ No.74, Syaikh al Albani).

Ketiga : “Senangkanlah hewan kurban kalian sembelihan karena sesungguhnya itu adalah hewan tunggangan kalian diatas shirath.”

Syaikh al Albani berkata : Menurut saya sanad hadits ini sangat lemah. Kelemahannya ada pada Yahya bin Ubaidilah bin Abdillah bin Mauhib ala Madani. Berkata Imam Ahmad : ia adalah perawi yang tidak bisa dipercaya. Sedangkan Ibnu Adi Hatim berkata : Periwayatannya sangat lemah dan mungkar. Imam Muslim dan an Nasa’i berkata : Yahya bin Ubaidilah ditinggalkan periwayatannya. (Lihat Silsilah Hadits Dhaif dan Maudhu’ No. 1255)

Keempat : “Barangsiapa yang menyembelih korban dengan jiwa yang senang terhadap (kurban itu), dan dengan mengharapkan (pahala) terhadap hewan kurbannya, maka hewan itu sebagai dinding dari neraka untuknya.”

Hadits ini palsu. Al Haitsami berkata di dalam Al-Majma  setelah dia menyebutkannya dari hadits Hasan bin `Ali: “Diriwayatkan oleh ath Thabarani di dalam al-Kabir dan di dalam sanadnya ada Sulaiman bin `Amr An-Nakha’i dan dia adalah pendusta.”

Ibnu Hibban berkata: Dia adalah laki-laki yang zhahirnya shalih, akan tetapi dia benar-benar memalsu hadits. Dan termasuk kelalaian as-Suyuthi, dia memasukkan hadits ini di dalam al-Jami’ush Shaghir dari sanad tetapi pensyarahnya yaitu Imam  al Munawi membantahnya dengan ucapan al Haitsami ini, lalu berkata : “Maka sepantasnya bagi penyusun untuk membuangnya dari kitab ini.

Kelima : “Tidaklah anak Adam pada hari ini (hari raya Adh-ha) mengerjakan (amalan) yang lebih baik dari menumpahkan darah (yakni: menyembelih qurban-pen), kecuali menyambung persaudaraan”.

Hadits ini lemah :  Al-Mundziri berkata : Diriwayatkan oleh athThabarani di dalam al-Kabiir dari Ibnu `Abbas, dan di dalam isnadnya ada Yahya bin Al Hasan Al Khasyni, aku tidak tahu keadaannya.” Al Haitsami berkata : “Dia dha’if, walaupun sekelompok (orang) ada yang mentsiqahkannya”.

Syaikh al-Albani berkata: Kemudian aku mengecek di dalam Mu’jam ath Thabrani al Kabiir dan aku dapati hadits itu di dalamnya  dari Al-Hasan bin Yahya Al Khasyni dari Isma’il bin Aiyaasi dari Laits dari Thawus, dia berkata : Rasulullah bersabda di hari raya Adh-ha : … Kemudian dia menyebutkan (hadits di atas). Aku (al-Albani) berkata : Maka jelaslah bahwa dia adalah al-Hasan bin Yahya yang disebutkan oleh as-Sam’aani bahwa al-Hafizh berkata : “Shaduuq (jujur) tetapi banyak salahnya”.

Dan bertambah ilmu (ku) tentang kelemahan hadits ini, tatkala aku melihat di dalam (sanad)nya terdapat Isma’il bin ‘Ayyaasy dan Laits, yang (Laits) ini adalah Ibnu Abi Salim, sehingga (sanad ini) dirangkai oleh para (rawi) yang dha’if.

Wallahu A'lam. (3.027)

MENDAPAT PENJAGAAN ALLAH DENGAN SHALAT DHUHA

 

MENDAPAT PENJAGAAN ALLAH DENGAN SHALAT DHUHA

 

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh sepanjang kehidupannya, seorang hamba sangatlah membutuhkan penjagaan dan perlindungan dari Allah agar dia selalu berada dalam kebaikan dan keselamatan. Ketahuilah bahwa sangatlah banyak jalan bagi orang beriman untuk mendapatkan perjagaan Allah Ta'ala.

Satu diantaranya adalah  melaksanakan shalat dhuha empat rakaat.  Dalam sebuah hadits qudsi, Rasulullah Salallahu 'alahi Wasallam  bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman :  

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا ابْنَ آدَمَ لاَ تَعْجِزْ عَنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَكْفِكَ آخِرَهُ

Allah 'Azza Wajalla berfirman : Wahai anak Adam, shalatlah untuk-Ku di pagi hari empat rakaat (shalat dhuha), niscaya Aku akan menjagamu sampai akhir hari (mu). H.R at Tirmidzi dishahihkan oleh Syaikh al Albani. 

Imam al ‘Azhim Abadi- menyebutkan : Hadits ini bisa mengandung pengertian bahwa shalat Dhuha akan menyelematkan pelakunya dari berbagai hal yang membahayakan. Bisa juga dimaksudkan bahwa shalat Dhuha dapat menjaga dirinya dari terjerumus dalam dosa atau ia pun akan dimaafkan jika terjerumus di dalamnya. Atau maknanya bisa lebih luas dari itu. (‘Aunul Ma’bud).

At Thibiy berkata : Yaitu  engkau akan diberi kecukupan dalam kesibukan dan urusanmu, serta akan dihilangkan dari hal-hal yang tidak disukai setelah engkau shalat hingga akhir siang. Yang dimaksud, selesaikanlah urusanmu dengan beribadah pada Allah di awal siang (di waktu dhuha), maka Allah akan mudahkan urusanmu di akhir siang. (Tuhfatul Ahwadzi).

Tentang jumlah rakat shalat dhuha, sebagian ulama berpendapat tidak ada batasannya, dalilnya adalah hadits dari Aisyah radhiallahu’anha : 

كان النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يُصلِّي الضُّحى أربعًا، ويَزيد ما شاءَ اللهُ

Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam SHALAT DHUHA EMPAT RAKAAT dan beliau biasa menambahkan sesuka beliau (H.R Imam Muslim)

Oleh karena itu hamba hamba Allah sangatlah dianjurkan untuk senantiasa melakukan shalat dhuha sehingga memperoleh kebaikan yang banyak di dunia dan diahiratnya. Wallahu A'lam. (3.026)  

 

 

Rabu, 21 Juni 2023

ORANG BERIMAN TAK MAU BICARA AGAMA TANPA ILMU

ORANG BERIMAN TAK MAU BICARA AGAMA TANPA ILMU

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Belajar ilmu agama dalam syariat Islam termasuk paling penting bahkan menjadi kewajiban bagi setiap orang muslim. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :


 
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Mencari ilmu adalah kewajiban setiap muslim. (H.R Ibnu Majah)

Ketahuilah bahwa belajar ilmu  terutama ilmu agama bertujuan menghilangkan kebodohan dalam diri seseorang dan memang kebanyakan manusia itu tak berilmu atau bodoh. Allah Ta'ala berfirman :

وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ يَجْهَلُونَ

Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (bodoh) Q.S al An 'Am 111.

Dan sungguh ketika seseorang berbicara tentang  agama tanpa ilmu, dengan kebodohan, adalah tercela. Di zaman ini memang ada sebagian orang berani dan lancang berbicara tanpa ilmu. Bahkan berani berdiskusi dan berdebat pun mereka sepertinya siap. Mereka berbicara dengan perasaan dan dilandasi hawa nafsu. Ada pula yang berbicara dilandasi dugaan, perkiraan dengan mengedepankan akalnya yang sempit. Sungguh Allah Ta’ala berfirman :   

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggung jawabannya. (Q.S al Isra’ 36).

Syaikh as Sa'di berkta : Maksudnya jangan kamu mengikuti apa yang tidak kamu ketahui. Namun TELITILAH SETIAP APA YANG HENDAK KAMU KATAKAN DAN KERJAKAN. Janganlah pernah sekali kali menyangka semua itu akan pergi tanpa memberi manfaat bagimu dan (bahkan bisa juga) mencelakakanmu.  

Sudah sepantasnya seorang hamba yang mengetahui bahwasanya dia akan diminta pertanggung jawaban tentang segala yang telah dia katakan dan kerjakan serta (cara) pemanfaatan anggota  badan yang telah Allah Ta’ala ciptakan untuk beribadah kepada-Nya, untuk mempersiapkan jawaban atas pertanyaan pertanyaan yang akan diajukan. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

 Imam Ibnul Qayyim berkata : Tidak ada perkara yang Allah haramkan yang lebih besar (keharamannya) di sisi Allah dan lebih besar dosanya dibandingkan berbicara tentang (agama) Allah tanpa ilmu. Hal ini merupakan pangkal kemusyrikan dan kekafiran, demikian juga bid'ah bid'ah dan kesesatan kesesatan yang dibangun di atasnya. Semua kebid'ahan di dalam agama fondasinya adalah berbicara tentang (agama) Allah tanpa ilmu. (Madarijus Saalikin).

Wallahu A'lam. (3.025)

 

 

 

 

 

 

    

Selasa, 20 Juni 2023

TIDAK SEDIH KEHILANGAN DUNIA JIKA AKHIRAT DIUTAMAKAN

 

TIDAK SEDIH KEHILANGAN DUNIA JIKA AKHIRAT DIUTAMAKAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Hamba hamba Allah terkadang merasa bersedih dengan kehilangan sebagian urusan dunianya. Diantaranya  kehilangan pekerjaan yang menjadi sumber panghasilannya, kehilangan pangkat dan jabatan, perdagangannya yang terus merugi karena kehilangan langganan dan yang lainnya.

Dalam perkara ini, sungguh Allah Ta’ala telah mengingatkan yaitu sebagaimana firman-Nya :

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula TERLALU GEMBIRA terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri. (Q.S al Hadiid 23).

Satu atsar dari Umar bin Khaththab yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya, beliau berkata : “Aku tidak peduli di atas kondisi apa keadaanku, dia atas hal yang aku sukai atau yang aku benci,  karena aku tidak tahu kebaikan itu ada pada yang aku sukai atau pada yang aku benci...”

Ketahuilah bahwa  seorang hamba yang MENGUTAMAKAN URUSAN AKHIRAT maka ketika dia kehilangan sesuatu urusan dunia maka tentu dia tidak akan bersedih karena dia paham betul  sungguh akhirat itu jauh lebih baik, yaitu sebagaimana Allah Ta'ala berfirman :

وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ

Dan sungguh yang kemudian itu (kehidupan akhirat) lebih baik bagimu dari yang permulaan (kehidupan dunia). Q.S adh Dhuha 4.

Bahkan dunia itu jika dibanding dengan akhirat adalah seperti jari yang dicelupkan ke laut. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam menjelaskan perkara ini dalam sabda beliau :  

 قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِى

الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ – وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ – فِى الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan seperti salah seorang dari kamu yang mencelupkan jari tangannya ini, perawi bernama Yahya menunjuk jari telunjuk, ke lautan, lalu hendaklah dia perhatikan apa yang didapat pada jari tangannya. (H.R Imam Muslim).

Dalam perkara ini pula  Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata : Engkau akan menjumpai orang-orang yang MENGUTAMAKAN AKHIRAT tidak akan bersedih karena dunia yang terluput dari mereka, jika sesuatu dari dunia datang kepada mereka maka menerimanya, namun jika ada sesuatu yang terluput maka mereka tidak bersedih karenanya. (Syarah Riyadhush Shalihin).

Oleh karena itu hamba hamba Allah hendaklah mengutamakan kehidupan akhirat sehingga ketika sebagian urusan dunia terluput  maka engkau tidak akan (terlalu) bersedih hati. Wallahu A'lam. (3.024)

Senin, 19 Juni 2023

PERINTAH AGAMA ADALAH SESUAI KEMAMPUAN

 

PERINTAH AGAMA ADALAH SESUAI KEMAMPUAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sebagian orang merasa bahwa syari’at Islam khususnya dalam ibadah terasa berat bahkan bisa jadi terasa sangat berat.  Kewajiban shalat  shubuh terasa berat karena harus dilakukan  pada saat sebagian besar manusia tidur pulas. Berpuasa, tidak makan minum selama kurang lebih 14 jam mungkin terasa berat, dan ibadah ibadah yang lainnya.

Ketahuilah bahwa hakikatnya agama Islam itu mudah dan ringan. Jika ada terasa berat maka ada rukhsah atau keringanan. Sungguh Allah Ta'ala MAHA MENGETAHUI kemampuan hamba hamba ciptaan-Nya dalam beribadah. Oleh karena  dalam beribadah Allah Ta'ala  menyuruh hamba-hamba-Nya melakukan perintah sesuai kemampuan. Allah Ta'ala berfirman :

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ 

Maka bertakwalah kepada Allah menurut kesanggupanmu (Q.S at Taghabun 16).

Syaikh as Sa’di berkata : Allah memerintahkan hamba hamba-Nya agar bertakwa kepada-Nya yaitu dengan menunaikan perintah sesuai kemampuan dan menjauhi larangannya. Ayat ini menunjukkan bahwa kewajiban yang tidak mampu dilakukan seorang hamba menjadi gugur.

Jika seorang hamba mampu menunaikan sebagian kewajiban dan tidak mampu menunaikan kewajiban lainnya, maka ia cukup menunaikan kewajiban yang mampu dia lakukan. (Tafsir Karimur Rahman).

Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  juga memerintahkan umatnya melakukan ibadah semampunya yaitu sebagaimana  sabda beliau :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ صَخْر رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مَنْ قَبْلَكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلاَفُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda : Apa yang aku larang hendaklah kalian menjauhinya, dan apa yang aku perintahkan maka lakukanlah SEMAMPU KALIAN. Sesungguhnya binasanya orang-orang sebelum kalian adalah karena mereka banyak bertanya dan karena penentangan mereka terhadap para nabi mereka. (H.R Imam  Bukhari dan Imam Muslim)


Oleh karena itu maka ketika seseorang merasa berat melakukan ibadah pada hal dia mampu maka hendaklah dia berusaha memaksa diri untuk melakukannya terutama sekali ibadah ibadah fardhu. Sungguh jika seseorang  merasa berat melakukan ibadah fardhu pasti akan membahayakan dirinya di dunia dan di akhirat kelak.

Jadi, syariat Islam itu mudah dilakukan dan sesuai kemampuan. Nah, ketika seseorang merasa berat melakukannya maka  sangat dianjurkan untuk :

(1) Berusaha menjaga keikhlasan dan ittiba' yaitu mengikuti petunjuk Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam dalam beribadah. Ketika seseorang ikhlas beribadah dan ittiba' maka ibadah yang tadinya terasa berat akan terasa ringan.

(2) Berusaha belajar ilmu syar'i. Ketika seseorang paham tentang manfaat dan keutamaan yang besar dalam beribadah maka datang semangat untuk melakukannya.  

(3) Bergaul dengan  orang orang yang bersemangat dalam beribadah dan mengutamakan urusan akhirat.

Wallahu A'lam. (3.023)