Kamis, 26 Oktober 2017

BERDUSTA ATAS NAMA NABI PASTI LEBIH BESAR DOSANYA



BERDUSTA ATAS NAMA NABI PASTI LEBIH BESAR DOSANYA

Oleh : Azwir B. Chaniago

Seorang beriman bukanlah orang yang suka  berbicara dusta. Rasululah bersabda : “Yuthba’ul mu’minu ‘ala kulli syai-in illa khiyaanata wal kadziba”. Watak seorang beriman bisa bermacam macam, kecuali (tidak) untuk berwatak pengkhianat dan pendusta. (H.R Imam Ahmad).

Orang beriman itu terhalang untuk berdusta karena mereka mengimani ayat ayat Allah dan beriman kepada Rasul-Nya. Mereka takut akan adzab Allah jika mereka berdusta bahkan akan ditulis disisi Allah sebagai pendusta.

Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya dusta itu akan menyeret kepada al fujur (perbuatan buruk, kejahatan). Dan sesungguhnya tindakan kejahatan itu akan menyeret menuju neraka. Dan tidaklah seseorang itu sering berdusta dan sengaja untuk berdusta hingga akan ditulis di sisi Allah sebagai pendusta”.  

Imam adz Dzahabi menyebutkan bahwa berdusta adalah salah satu dosa besar. (Lihat al Kaba-ir). Apalagi berdusta mengatas namakan Nabi dosanya, pastilah dosanya lebih besar.

Rasulullah telah mengingatkan kita dalam beberapa sabda beliau, diantaranya :

Pertama : Dari al Mughirah, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Inna kadziban ‘alaiya laisa ka-kadzibin ‘ala ahadin, man kadzaba ‘alaiya muta’midan fal yatabauwa maq’adahu minan naar”. Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka. (H.R. Imam Bukhari  dan Imam Muslim).

Kedua : Dari ‘Ali bin Abi Thalib, Nabi shallallahualaihi wa sallam bersabda : “Siapa yang meriwayatkan dariku suatu hadits yang ia menduga bahwa itu dusta, maka dia adalah salah seorang dari dua pendusta (karena meriwayatkannya).” (H.R. Muslim dalam muqaddimah kitab shahihnya pada Bab  : Wajibnya meriwayatkan dari orang yang tsiqah  yaitu terpercaya. Hadits ini  juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah).

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata tentang orang berdusta atas nama Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam, misalnya :

(1) Dengan mengatakan bahwa Rasulullah telah bersabda begini. Padahal beliau tidak pernah mengatakannya. Orang tersebut hanya ingin berdusta mengatas namakan Rasulullah. 

(2) Demikian juga hal nya jika menjelaskan makna hadits Rasulullah menggunakan sesuatu penjelasan  yang tidak sesuai dengan maknanya. Maka berarti dia telah berdusta atas nama Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam. (Syarah al Kaba-ir).

Dizaman ini agak sering kita mendengarkan seseorang menceritakan suatu hadits yang palsu bahkan tidak ada asal usulnya. Lalu ada pula yang menjelaskan sesuatu hadits tidaklah sesuai maknanya tapi sesuai dengan akal pikirannya saja tanpa merujuk kepada penjelasan para ulama pensyarah hadits. Ini tentu termasuk perbuatan yang sangat dilarang dalam syari’at Islam.

Oleh karena itu seorang beriman mestilah sangat berhati hati untuk berbicara dan menjelaskan tentang suatu hadits agar terhindar dari sifat dusta kepada Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam. Sungguh berdusta atas nama Rasulullah pastilah dosanya lebih besar.
Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.159)



Rabu, 25 Oktober 2017

CELAAN BAGI YANG LALAI KARENA BERMEGAH MEGAHAN



CELAAN BAGI  YANG LALAI KARENA BERMEGAH MEGAHAN

Oleh : Azwir B. Chaniago

Dalam Kitab Tafsir al Azhar, Prof. Dr. Hamka berkata :  Bahwa tidak ada kegunaan manusia ini diciptakan Allah kecuali hanya untuk beribadah kepada-Nya. Allah berfirman : Wa maa khalaqtul jinna wal insa illaa li ya’buduun” Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku. (Q.S adz Dzaariat 56). 

Namun demikian ternyata ada sebagian manusia yang senang bermegah megahan di dunia sehingga dia lalai dari tujuan penciptaannya yaitu untuk beribadah kepada Allah.
Dalam surat at Takatsur surat ke 102 ayat pertama Allah Ta’ala mencela manusia yang  bermegah megahan di dunia sampai (akhirnya) masuk ke dalam kubur. Allah Ta’ala berfirman : “Alhakumut takatsur. Hattaa zur tumul maqaabir”. Bermegah megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk kedalam kubur.

Pada catatan kaki terjemahan al Qur an Departemen Agama disebutkan bahwa bermegah megahan itu adalah dalam perkara anak yang banyak, harta, pengikut, kemuliaan dan sebagainya telah melalaikan kamu dari ketaatan kepada Allah Ta’ala.
Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam telah menjelaskan maksud ayat 1 surat at Takatsur ini kepada para  sahabat. Dan tentu juga untuk seluruh umat beliau sampai akhir zaman.

Dari Mutharrif, dari bapaknya, dia berkata : Ketika Rasulullah sedang membaca ayat : “Alhakumut takatsur”. Beliau bersabda : “Anak Adam mengatakan, hartaku, hartaku !. Beliau bersabda lagi : “Bukankah engkau tidak memiliki harta kecuali harta yang telah engkau makan, sehingga engkau habiskan, atau apa yang telah engkau pakai sehingga engkau menjadikannya usang, atau apa yang telah engkau sedekahkan sehingga engkau meneruskan. (yaitu terus memiliki harta yang disedekahkan itu sampai hari Kiamat, pen.) H.R Imam Muslim.

Rasulullah juga bersabda : “Wa maa siwaa dzalika fa huwa dzaahibun wa taarikuhu linnas”. Dan selain itu, maka dia akan mati dan akan meninggalkan hartanya untuk manusia (ahli warisnya, pen.) H.R Imam Muslim dari Abu Hurairah).

Selanjutnya para ulama ahli tafsir telah menjelaskan makna ayat 1 surat at Takatsur ini sehingga bisa diambil pelajaran darinya, yaitu :

Pertama : Imam Ibnu Katsir berkata :
Kecintaan terhadap dunia, kenikmatannya dan keindahannya telah melalaikan kamu dari mencari akhirat. Dan itu terus terjadi pada kamu sehingga kematian mendatangimu. Dan kamu mendatangi kuburan serta menjadi penghuninya. (Tafsir Ibn Katsir).

Kedua : Syaikh as Sa’di berkata :
Dalam firman-Nya Allah Ta’ala mencela hamba hamba-Nya karena lalai dari tujuan penciptaannya yaitu beribadah hanya kepada-Nya yang tidak ada sekutu bagi-Nya, mengenal-Nya, kembali pada-Nya dan mengedepankan kecintaan kepada-Nya diatas kecintaan terhadap apapun.

“Telah melalaikan kamu”. dari semua itu, “bermegah megahan”. Allah Ta’ala tidak menyebutkan apa yang diperbayak dan dimegah megahkan, agar hal itu mencakup semua yang diperbanyak dan dipermegah oleh oleh orang orang yang bermegah megah dan di bangga banggakan oleh mereka yang (suka) membanggakannya. Mereka bermegah megah dalam harta, anak, pembela, tentara, pembantu, wibawa dan yang lainnya yang ditujukan untuk perlombaan satu sama lain tetapi tidak dimaksudkan untuk mencari ridha Allah. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Ketiga : Syaikh Utsaimin berkata :
Jadi dapatlah kita memahami bahwa sifat manusia itu umumnya rakus, tamak dan sekali gus bakhil terhadap harta dunia, kecuali orang orang beriman yang mendapat petunjuk serta rahmat-Nya.

Beliau juga berkata : Makna “telah melalaikan kamu” yaitu telah menyibukkan kamu sehingga kamu lalai dari yang lebih penting yaitu dzikrullah dan melaksanakan ketaatan kepada-Nya. Perkataan ini ditujukan kepada seluruh umat, namun dikecualikan orang orang disibukkan oleh perkara perkara akhirat dari perkara perkara dunia. Dan mereka ini jumlahnya sedikit. (Tafsir Juz ‘Amma)

Oleh karena itu maka orang orang beriman hendaklah bersungguh sungguh mengambil pelajaran dari ayat ini sehingga terhindar dari celaan Allah Ta’ala. Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.158).

Selasa, 24 Oktober 2017

APA YANG DIMAKSUD DENGAN MAJLIS DZIKIR ?



APA YANG DIMAKSUD DENGAN MAJLIS DZIKIR ?

Oleh : Azwir B. Chaniago

Banyak saudara saudara kita memahami majlis dzikir yaitu dengan berkumpulnya orang melafazkan kalimat kalimat dzikir secara serentak satu suara dan dipandu oleh satu orang diantara mereka. Misalnya dengan melafazhkan   Subhanallah, Walhamdulillah, La ilahailallah dan Allahu Akbar dan lafazh lafazh lainnya dalam jumlah tertentu.

Apakah memang demikian  yang dimaksud dengan makna majlis dzikir. Sekarang mari kita lihat makna majlis dzikir  secara bahasa. Kata  majelis dzikir  berasal dari bahasa Arab.  Terdiri atas dua kata, yaitu majelis dan dzikir. Majelis artinya tempat duduk, tempat sidang, dewan sedangkan dzikir artinya mengingat Allah di antaranya dengan menyebut dan memuji Allah  .

Lalu menurut istilah, majlis dzikir bermakna sebagaimana dijelaskan oleh beberapa ulama, diantaranya :

Pertama : Abu Hazzan Atha’ berkata : (Majlis dzikir) Yaitu majelis tentang halal dan haram. Majelis yang mengajari bagaimana kamu shalat, puasa, menikah, talak, dan bagaimana kamu berjual-beli.” (Al Hilyah).

Kedua : Imam Al Qurthubi mengatakan: “Majelis dzikir adalah majelis ilmu dan nasehat (peringatan). Yaitu majelis yang diuraikan padanya firman-firman Allah, Sunnah Rasul-Nya dan keterangan para salafus shalih serta imam-imam ahli zuhud yang terdahulu, jauh dari kepalsuan dan kebid’ahan yang penuh dengan tujuan-tujuan yang rendah dan ketamakan.” (Fiqih Sunnah).

Ketiga : Al Manawi mengatakan: “Hujjatul Islam (Imam al Ghazali, pen.) berkata: Yang dimaksud dengan majelis dzikir adalah, tadabbur Al Quran, mempelajari agama, dan menghitung-hitung ni’mat yang telah Allah berikan kepada kita.” (Lihat Faidlul Qadir).

Jadi majlis dzikir bukan berarti sekedar beramai ramai membaca lafazh lafazh dzikir tetapi jauh lebih luas dari itu yakni majlis ilmu yaitu majlis yang dihadiri orang banyak untuk memperlajari ilmu syar’i. 

Sungguh hadir di majlis dzikir adalah suatu yang sangat dianjurkan. Ketahuilah bahwa majlis dzikir atau majlis ilmu memiliki keutamaan yang sangat banyak, diantaranya : 

Pertama : Dimudahkan jalan menuju surga.
Diantara keutamaan belajar ilmu adalah dimudahkan jalan menuju surga. Rasulullah bersabda : “Waman salaka thariiqan yaltamisu fiihi ‘ilman, sahhalallahu lahu bihi thariiqan ilal jannah.” Dan barang siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu maka Allah mudahkan jalan baginya menuju Surga. (H.R Imam Muslim, dari Abu Hurairah)

Kedua : Diampuni dosa dosanya.
Orang orang beriman yang hadir di majlis ilmu akan diampuni dosanya dan diberi surga serta dilindungi pula dari neraka. Demikian dijelaskan dalam satu hadits qudsi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah.

Allah Ta’ala berfirman : “Sungguh Aku telah mengampuni mereka (yang hadir di majlis ilmu) maka Aku berikan kepada mereka apa yang mereka minta (surga) dan Aku lindungi mereka dari neraka” (H.R Imam Muslim).

Ketiga : Turun sakinah dan rahmat-Nya.
Dan juga merupakan salah satu keutamaan hadir di majlis dzikir atau majlis ilmu adalah sebagaimana dijelaskan Rasulullah dalam sabda beliau : “Dan tidaklah sekelompok orang berkumpul di dalam satu rumah di antara rumah rumah Allah, mereka membaca Kitab Allah dan saling belajar diantara mereka kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka. Malaikat mengelilingi mereka dan Allah menyebut nyebut mereka dikalangan (para Malaikat) dihadapan-Nya”. (H.R Imam Muslim, at Tirmidzi dan yang lainnya). 

Oleh karena itu maka seorang hamba akan berusaha menyediakan waktu untuk bisa hadir di majlis majlis dzikir atau majlis ilmu agar mendapatkan keutamaannya. Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.157)


ORANG BERIMAN TAK BOLEH MEMBIARKAN KEMUNGKARAN



ORANG BERIMAN TAK BOLEH MEMBIARKAN KEMUNGKARAN

Oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam telah mengingat orang orang beriman untuk tidak membiarkan kemungkaran. Mereka harus mencegahnya. Beliau bersabda :   “Man ra-a minkum munkaran fal yughaiyirhu biyadihi faillam yastathi’ fabilisaaanihi, faillam yastathi’ fabiqalbihi, wa dzalika adh’aful iimaan.” Barang siapa diantara kalian melihat kemungkaran maka hendaklah dia mencegah dengan tangannya. Jika dia tidak mampu maka dengan  lisannya dan jika dia tidak mampu maka dengan hatinya, (mengingkari dengan hati) itu adalah iman yang paling lemah. (H.R Imam Muslim).

Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya manusia itu bila melihat kemungkaran tapi tidak mengingkarinya, maka dikhawatirkan Allah akan menimpakan siksa-Nya yang juga menimpa mereka (yang membiarkan kemungkaran)”.  H.R Abu Dawud, at Tirmidzi dan Ibnu Majah.

Ketahuilah bahwa Allah Ta’ala melaknat bani Israil karena satu sama lain tak melarang perbuatan mungkar. Allah berfirman : “Telah dilaknat orang orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain tidak melarang perbuatan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya     amatlah buruk apa yang selalu mereka perbuat itu”. (Q.S al Maidah 78-79). 
             
Syaikh as Sa’di berkata : Termasuk kedurhakaan mereka yang menyebabkan turunnya adzab kepada mereka adalah “mereka satu sama lain tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat” Artinya mereka mereka melakukan kemungkaran tetapi sebagian dari mereka tidak melarang sebagian yang lain, maka pelaku dan yang lainnya yang mendiamkan kemungkaran walaupun dia mampu                         mengingkari maka mereka dapat adzab yang sama.  
                
Itu menunjukkan bahwa mereka meremehkan perintah Allah dan maksiat kepada-Nya. Jika mereka memiliki penghormatan kepada Rabb mereka niscaya mereka akan memiliki ghirah atau semangat terhadap apa apa yang diharamkan-Nya dan tentunya mereka akan marah karena marah-Nya. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).  
                 
Sungguh Allah Ta’ala berfirman bahwa ciri umat terbaik adalah tidak hanya menyuruh kepada yang ma’ruf tetapi harus juga mencegah yang mungkar yaitu sebagaimana firman-Nya : “Kuntum khaira ummatin ukhrijat linnaasi ta’muruuna bil ma’ruufi wa tanhauna ‘anil munkari wa tu’minuuna billah”. Kamu (ummat Islam) adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (karena kamu) menyuruh kepada yang baik dan mencegah dari yang mungkar dan (kamu) beriman kepada Allah. (Q.S Ali Imran 110).  
Semoga Allah Ta’ala memberi kekuatan kepada kita untuk selalu berbuat makruf dan mampu pula mencegah kemungkan. Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.156)