Sabtu, 26 Agustus 2023

SUNGGUH KEADAAN SENANG DAN SUSAH SILIH BERGANTI

 

SUNGGUH KEADAAN SENANG DAN SUSAH SILIH BERGANTI

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Setiap orang yang menjalani hidup di dunia akan mengalami dua keadaan yaitu KEADAAN SENANG DAN KEADAAN SUSAH. Hampir tidak ada orang yang selalu dalam keadaan yang menyenangkan dan juga tidak selalu dalam keadaan yang menyusahkan.

Dengan keadaan yang silih berganti ini maka orang bijak berkata kepada dirinya :  SEMUA KEADAAN SENANG ATAU SUSAH PASTI AKAN BERAKHIR. Dengan begitu mereka tidak terlalu gembira jika didatangi kesenangan dan tidak terlalu sedih jika didatangi kesusahan.

Selanjutnya, perhatikanlah firman Allah Ta’ala berikut ini : 

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui. (Q.S al Baqarah 216).

Imam Ibnul Qayim al Jauziyah berkata : Didalam ayat ini terkandung banyak hikmah, diantaranya : (1) Apabila seorang hamba mengetahui bahwa sesuatu yang dibencinya terkadang justru mendatangkan sesuatu yang dicintaInya. (2) Sesuatu yang dicintainya terkadang mendatangkan sesuatu yang dibencinya. (Fawaidul Fawaid).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di berkata : Ayat dalam surat al Baqarah 216 ini adalah umum lagi luas. Bahwa perbuatan perbuatan baik yang dibenci oleh jiwa manusia karena ada kesulitan padanya, itu adalah baik tanpa diragukan lagi. Dan perbuatan perbuatan buruk yang disenangi oleh jiwa manusia karena apa yang diperkirakan olehnya bahwa padanya ada keenakan dan kenikmatan ternyata (berakibat) buruk tanpa diragukan lagi. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Sungguh Allah Ta’ala mengetahui dan menetapkan segala sesuatu yang terbaik bagi hamba hamba-Nya yang beriman. Semua yang menyenangkan ataupun tidak menyenangkan didatangkan Allah Ta’ala hanyalah sebagai ujian, sebagaimana firman-Nya : 

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

 

Tiap tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengui kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan. (Q.S al Anbiya’ 35).                                                                                                                                             

Ibnu Jarir menukil perkataan Ibnu Abbas : Kami (Allah Ta’ala) akan menguji kalian dengan kesempitan dan kelapangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kemiskinan. Dengan sesuatu yang halal dan yang haram, ketaatan dan kemaksiatan petunjuk dan kesesatan.

Ibnu Zaid berkata : Kami akan menguji mereka dengan sesuatu yang mereka sukai dan mereka benci. Kami akan menguji mereka dengan semua itu untuk mengetahui TINGKAT KESYUKURAN mereka terhadap hal hal yang mereka cintai dan TINGKAT KESABARAN mereka terhadap hal hal yang mereka benci. (Tafsir Ibnu Jarir at Thabari).

Oleh karena itu hamba hamba Allah senantiasa menerima semua keadaan yang ditetapkan Allah Ta'ala dengan hati lapang. Allah Ta'ala telah mengingatkan  firman-Nya : 

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

 Agar kamu tidak bersedih terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu bergembira terhadap yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri. (Q.S al Hadiid 23).

Wallahu A'lam. (3.072)

 

Jumat, 25 Agustus 2023

SIAPAKAH HAMBA ALLAH YANG DIRINDUKAN OLEH SURGA ??

 

 

SIAPAKAH HAMBA ALLAH YANG DIRINDUKAN OLEH SURGA ??

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Puncak atau cita cita tertinggi dan keinginan yang AMAT SANGAT dari setiap hamba adalah menjadi orang yang beruntung yaitu masuk surga dengan selamat.

Oleh karena itu hamba hamba Allah selalu menjaga ketaatan kepada Allah Ta'ala mengamalkan perintah-Nya dan menjauh dari larangannya. Senantiasa melakukan AMAL SHALIH YANG DILANDASI IMAN. Allah Ta'ala berfirman : 

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ

Sungguh orang orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih mereka akan mendapat surga yang mengalir di bawahnya sungai sungai. Itulah kemenangan yang agung. (Q.S al Buruj 11).

Selain itu ketahuilah bahwa ternyata ada hamba hamba Allah yang dirindukan oleh surga. Lalu apa makna rindu ?. Dalam KBBI disebutkan salah satu makna rindu adalah : MEMILIKI KEINGINAN YANG KUAT UNTUK BERTEMU.

Sungguh Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam menjelaskan tentang amalan  orang orang yang dirindukan oleh surga yaitu  dalam sabda beliau :

الْجَنَّةُ مُشْتَاقَةٌ اِلَى أَرْبَعَةِ نَفَرٍ : تَالِى الْقُرْانِ, وَحَافِظِ اللِّسَانِ, وَمُطْعِمِ الْجِيْعَانِ, وَصَا ئِمٍ فِى شَهْرِ رَمَضَا

Surga merindukan empat golongan yaitu orang yang membaca Al Quran, menjaga lisan (ucapan), memberi makan orang lapar, dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Dari zhahir hadits ini kita mengetahui empat golongan yang dirindukan surga yaitu :

Pertama : Orang yang senantiasa membaca al Qur an.

Sungguh sangatlah besar pahala yang disediakan Allah Ta’ala bagi orang orang yang mau membaca al Qur an. Yang masih terbata batapun ketika  membaca al Qur an dijanjikan dengan dua pahala, bukan satu, yaitu pahala karena mau membacanya dan pahala karena berat dan susahnya dalam membaca. Sedangkan yang mahir akan bersama malaikat yang mulia. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda : 

الْمَاهِرُ بِالْقُرآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيْهُ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

Orang yang membaca al Qur an dengan mahir, akan bersama Malaikat yang mulia lagi taat dan yang membaca al Qur an dengan terbata bata dan merasa berat, maka ia mendapat dua pahala. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Bukankah ini seharusnya menjadi pendorong yang kuat bagi kita untuk senantiasa dan terus menerus membaca dan mempelajari al Qur’an dan menjadi hamba yang dirindukan surga.

Kedua : Orang yang senantiasa menjaga lisan.

Salah satu golongan yang dirindukan oleh surga adalah yang senantiasa menjaga lisannya.

Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telah memberi wasiat atau bimbingan kepada orang orang beriman tentang memelihara dan menjaga lisan, diantaranya adalah sabda beliau :

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam. (Mutafaq ‘alaihi).

Ketahuilah  bahwa BERKATA YANG BAIK ATAU DIAM bukanlah sekedar masalah etika berbicara tapi terkait dengan iman. Lihatlah lafazh hadits ini : “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir”, bukankah ini tentang iman ?.

Umar bin Khaththab yang memberi nasehat tentang memelihara dan menjaga lisan. Beliau berkata : Semoga Allah merakhmati orang yang menahan diri dari banyak berbicara dan lebih mengutamakan banyak beramal. (Uyun al Akhbar, Ibnu Taimiyah)

Ketiga : Suka memberi makan orang yang lapar.

Memberi makan orang yang lapar atau dengan kata lain memberikan sebagian harta kepada orang yang kekurangan adalah suatu perbuatan sangat dianjurkan. Bukankah dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim disebutkan  tentang seseorang yang memberi minum kepada anjing yang kehausan lalu Allah Ta'ala berterima kasih kepadanya dan mengampuni dosanya. Apalagi memberi makan orang yang lapar tentulah Allah lebih ridha dan surga merindukannya.    

Keempat : Orang yang senantiasa berpuasa di bulan Ramadhan.

Allah Ta'ala mewajibkan orang orang beriman untuk berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Ibadah ini hakikatnya tidaklah ringan karena tidak makan dan minum serta menjaga hal hal yang membatalkannya selama lebih kurang 14 jam.

Tetapi Allah Ta'ala memberikan balasan dengan keutamaan yang banyak diantaranya  diampuni dosanya yang telah lalu.  Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.  (H.R Imam Bukhari  dan Imam  Muslim dari Abu Hurairah).

Nah, ternyata puasa fardhu ini juga mendatangkan rasa rindu surga kepada orang yang mengamalkannya. Bahkan di surga ada satu pintu khusus untuk orang yang berpuasa yaitu pintu ar rayyan yaitu sebagaimana disebutkan dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Wallahu A'lam. (3.071)

 

 

 

 

 

 

Rabu, 23 Agustus 2023

JANGAN PERNAH LUPA MELIHAT KEKURANGAN DIRI SENDIRI

 

JANGAN PERNAH  LUPA MELIHAT KEKURANGAN DIRI SENDIRI

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Setiap orang, termasuk diri kita sendiri memiliki banyak cela dan kekurangan. Cuma saja seseorang terkadang memang lupa dengan aib dan kekurangan dirinya. Dan yang lebih buruk lagi adalah jika dia tidak pernah lupa dengan aib orang lain. Sungguh ini adalah musibah besar. Diantara cara agar terhindar dari musibah ini adalah dengan senantiasa melakukan introspeksi, evaluasi diri atau muhasabah.Oleh karena itu hamba hamba Allah jangan lupa melihat kekurangan diri dengan melakukan introspeksi diri, evaluasi diri atau muhasabah.

Diriwayatkan oleh at Tirmidzi yaitu  dari Umar bin Khaththab, beliau berkata : 

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ

Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab dan berhiaslah (dengan amal shalih) untuk pagelaran agung (yaitu hari kiamat kelak).

Ketika seseorang senantiasa melakukan muhasabah terhadap dirinya maka akan memperoleh keutamaan yang banyak, diantaranya adalah :

Pertama : Hisab di akhirat menjadi ringan.

Seorang hamba yang senantiasa melakukan muhasabah terhadap apa yang telah diucapkan dan apa yang telah diperbuatnya akan memiliki potensi yang kuat untuk selalu menjaga diri dari berbagai keburukan. Ini akan meringankan bebannya menghadapi hisab di akhirat kelak.

Umar bin Khaththab berkata : Hisablah (evaluasilah, introspeksilah, periksalah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk hari aradh akbar (yaumul hisab). Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab dirinya di dunia.

Kedua : Menumbuhkan sifat malu.

Seorang yang selalu melakukan muhasabah maka akan muncul sifat malu kepada Allah atas keburukan yang pernah diucapkan dan pernah diperbuatnya. Diantara manfaat lain adalah bahwa jika seseorang membiasakan diri menjaga rasa malu kepada Allah Ta’ala maka rasa malu itu akan menghalanginya untuk melakukan perbuatan buruk. Pada gilirannya rasa malu itu akan menjadi kebiasaan, tabiat dan perangainya sehingga menjadikannya juga malu kepada manusia dan akhirnya mencegah dirinya  melakukan perbuatan buruk terhadap sesama.

Ketahuilah bahwa rasa malu itu semuanya baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

اَلْـحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إِلاَّ بِخَيْـرٍ

Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata-mata. (H.R Imam Bukhari dan Imam  Muslim).

Dalam riwayat yang lain yaitu dari sahabat Imran bin Husain disebutkan :

اَلْـحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ

Malu itu seluruhnya kebaikan. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Ketiga : Membuat seseorang sibuk dengan urusan akhirat.

Seorang hamba haruslah menyibukkan diri di dunia ini untuk persiapan akhiratnya. Ini adalah buah dari muasabah yang senantiasa dilakukannya. Berkata Ibnu Mas’ud : Barangsiapa yang ingin akhirat maka ia akan disusahkan oleh dunia. Dan siapa yang ingin dunia maka dia akan disusahkan oleh akhirat. Maka susahlah untuk sesuatu yang fana (dunia) untuk mendapatkan yang baqa (akhirat).

Sungguh Allah Ta'ala telah mengingatkan dalam firman-Nya :

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (Q.S. al Hasyr 18).

Wallahu A'lam. (3.070).

 

 

Selasa, 22 Agustus 2023

SALAH SATU PERANGAI YANG BURUK ADALAH SUKA MENCELA

 

SALAH SATU PERANGAI YANG BURUK ADALAH SUKA MENCELA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketahuilah bahwa  Imam adz Dzahabi, dalam Kitab al Kaba’ir mengelompokkan sifat suka mencela ini sebagai SALAH SATU DOSA BESAR.  Dan sungguh dosa besar hanya bisa dihapus dengan taubat nasuha atau taubat yang sebenar benarnya. (Lihat Kitab al Kaba’ir).

Sungguh Allah Ta'ala dengan sangat tegas melarang hamba hamba-Nya untuk mencela orang lain. Allah Ta'ala berfirman : 

وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Janganlah kamu SALING MENCELA SATU SAMA LAIN dan janganlah saling memanggil dengan gelar gelar yang buruk. Seburuk buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka itulah orang-orang yang zhalim. (Q.S. al Hujraat  11)

Syaikh Abdurrahman as Sa’di rahimahullah berkata : Dalam ayat ini terdapat penjelasan tentang sebagian hak seorang mukmin dengan mukmin yang lain. Yaitu janganlah sekelompok orang mencela sekelompok yang lain baik dengan kata kata ataupun perbuatan yang mengandung makna merendahkan saudara sesama muslim. Perbuatan ini terlarang dan hukumnya haram. Perbuatan ini menunjukkan bahwa orang yang mencela itu merasa kagum dengan dirinya sendiri (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam juga telah mengingatkan tentang keburukan dan bahaya sifat mencela sebagaimana sabda beliau : 

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ ، وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

Mencela seorang muslim adalah kefasikan dan membunuhnya (adalah) kekufuran.  (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Syaikh  Abdurrahman bin Nashir as Sa'di rahimahullah berkata : Sesungguhnya celaan itu tidak akan muncul kecuali dari orang yang hatinya penuh dengan akhlak yang buruk dan perangai yang tercela.

Oleh karenanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : Cukuplah seseorang itu dikatakan buruk akhlaknya manakala dia merendahkan saudaranya sesama muslim. (Tafsir Taisir Karimir Rahman)

Ketahuilah saudaraku, ketika engkau mencela orang lain, bisa jadi engkau lebih patut dicela daripada orang yang engkau cela. Renungkanlah !. Wallahu A'lam (3.069)

JIKA MENDAPATKAN RIZKI MULAI TERASA SULIT

 

JIKA MENDAPATKAN RIZKI MULAI TERASA SULIT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh Allah Ta'ala memberi atau membagi rizki bagi semua makhluknya terutama manusia sesuai kehendak-Nya semata. Allah Ta'ala berfirman :  

وَٱللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ فِى ٱلرِّزْقِ ۚ

Dan Allah melebihkan sebagian kamu atas sebagian yang lain dalam hal rizki. (Q.S an Nahal 71).

Nah, ketika seorang hamba merasa kurang dalam hal rizki hendaklah mengedepankan sikap qana'ah yaitu merasa cukup dengan yang sedikit sebagai tanda syukurnya kepada Allah Ta'ala. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda : 

و كن قنِعًا تكن أشْكَرَ الناسِ

Jadilah engkau orang yang qana’ah, maka engkau akan menjadi hamba yang PALING BERSYUKUR. (H.R Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Ketahuilah bahwa sungguh Allah Ta'ala Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ketika seorang hamba merasa butuh tambahan rizki, maka Allah Ta'ala telah memberi beberapa jalan atau petunjuk, diantaranya adalah :

Pertama : Menjauhkan diri dari dosa dan maksiat.

Ketika seseorang ingin mendapatkan tambahan rizki dan kebaikan maka wajib baginya untuk menjauh dari dosa dan maksiat.

Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :

إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيْبُهُ

Sesungguhnya seorang laki laki itu benar benar akan  terhalang dari rizki disebabkan dosa yang dilakukannya. (H.R Ibnu Majah).

Setelah menyebut hadits ini, Imam Ibnul Qayyim berkata : Tak ada yang dapat menarik rizki kecuali dengan meninggalkan maksiat. (Ad Daa’ wa Dawaa’).

Kedua : Banyak memohon ampun. Allah Ta'ala menjelaskan perkara ini dalam firman-Nya :

فَقُلْتُ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارًا  يُرْسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا

وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَٰلٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّٰتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَٰرًا

Maka aku katakan kepada mereka : MOHONLAH AMPUN kepada Rabb-mu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepadamu hujan yang lebat dari langit. Dan Dia memberikan kepadamu anak-anak dan harta yang banyak, diadakan-Nya bagimu kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu. (Q.S Nuh 10-12).

Ketiga : Menjaga hubungan silaturrahim. Rasulullah Sallallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

عَن ابْن شهاب أَخْبَرَنٍيْ أَنَس بْن مَالِك أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ  

Diriwayatkan dari Ibnu Sihab  (dimana) telah mengabarkan kepadaku Anas bin Malik, bahwa Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  bersabda : Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan dipanjangkan (sisa) umurnya, maka sambunglah (tali) kerabatnya. (H.R Imam Bukhari).

Dengan bersandar pada zhahir hadits ini maka hamba hamba Allah hendaklah memperbanyak mengunjungi, berkomunikasi via handphone ataupun media sosial kepada karib kerabat terutama orang tua  dan kerabat yang memiliki tali persaudaraan. Ini adalah salah satu jalan untuk membuka pintu rizki.

Keempat : Berserah diri atau bertawakal kepada Allah Ta'ala.

Selain itu, ketahuilah bahwa Allah Ta’ala   akan mencukupkan keperluan hamba hamba yang bertawakal kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman : 

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ

Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. (Q.S ath Thalaq 3).

Kelima : Banyak berdoa.

Diantara doa memohon rizki yang diajarkan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya adalah : 

وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

(1) Berilah kami rizki dan Engkau sebaik baik pemberi rizki. (Q.S al Ma-idah 114).

(2) Doa yang biasa  dibaca oleh Rasulullah sebagai bagian dari   dzikir pagi beliau setelah shalat shubuh yaitu : 

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً نَافِعاً، وَرِزْقاً طَيِّباً، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amal yang diterima. (H.R Imam  Ahmad, Ibnu Majah dan Ibnu Sunni).

Wallahu A'lam. (3.068).

 

 

 

Kamis, 17 Agustus 2023

TETAP MENGAMALKAN SHALAT MALAM SETELAH RAMADHAN BERLALU

 

TETAP MENGAMALKAN SHALAT MALAM SETELAH RAMADHAN BERLALU

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Pada malam bulan Ramadhan kita gembira menyaksikan bagitu banyak saudara saudara kita yang mengamalkan shalat lail atau shalat malam yang di bulan Ramadhan disebut shalat taraweh. Masjid masjid penuh bahkan jamaah sampai melimpah  keluar  ruangan utama masjid.

Lalu bagaimana dengan shalat lail di luar bulan lainnya atau setelah bulan Ramadhan berlalu ?. Ketahuilah bahwa shalat lail atau shalat malam di luar bulan Ramadhan MEMANG DISYARIATKAN dengan nama yang masyhur yaitu SHALAT TAHAJUD. Sungguh shalat tahajud ini adalah shalat terbaik setelah shalat fardhu. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :


وَأفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الفَرِيضَةِ : صَلاَةُ اللَّيْلِ

Dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.  (H.R Imam Muslim).

Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam juga bersabda :

Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam menjelaskan dalam sabda beliau bahwa shalat malam adalah KEBIASAAN ORANG ORANG SHALIH :  

  عَلَيٌكُمٌ بِقِيَامِ اللَّيٌلِ فَإِنَهُ  دَأَبُ الصَّالِحِيٌنَ قَبٌلِكُمٌ ، وَهُوَ قُرٌبَةٌ اِلَى رَبِّكُم ٌ ، ومُكَفِّرَةٌ لِلسَّيِّءَاتِ، مَنٌهَةٌ عَنٌ الإِثٌمِ

Hendaklah kalian melakukan shalat malam karena ia adalah kebiasaan orang orang shalih sebelum kalian, ia sebagai amal mendekatkan diri bagi kalian kepada Allah, penghapus kesalahan kesalahan dan menjauhkan dosa. (H.R  at Tirmidzi,  al Baihaqi dan al Hakim).

Selain itu ketahuilah bahwa Allah Ta'ala turun ke langit dunia di sepertiga malam terakhir, sebagaimana sabda Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam :

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Allah berfirman : Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku penuhi. Dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni. (H.R Imam  Bukhari dan Imam Muslim).

Tentang hadits ini, Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin menjelaskan : Demikianlah Allah 'Azza Wajalla turun ke langit dunia dengan cara yang layak bagi-Nya tanpa bisa dimisalkan juga digambarkan tentang turun-Nya itu. Karena Allah 'Azza Wajalla lebih tahu tentang diri-Nya dan Allah tidak pernah memberi tahukan hakikat sifat-Nya dan melarang kita untuk membuat permisalan tentangnya. (Al amal ash Shalihat La Tanqathi' Binqitha'i Ramadhan).

Oleh karena itu, hamba hamba Allah hendaklah tetap berusaha melaksanakan shalat malam setelah bulan Ramadhan berlalu.

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A'lam. (3.067).

 

 

Selasa, 15 Agustus 2023

INGAT KEWAJIBAN JIKA DILAPANGKAN RIZKI

 


INGAT KEWAJIBAN JIKA DILAPANGKAN RIZKI

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh tentang rizki, Allah Ta'ala telah membagi sesuai kehendak-Nya semata. Allah Ta'ala berfirman :

ٱللَّهُ يَبْسُطُ ٱلرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦ وَيَقْدِرُ لَهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

Allah melapangkan rizki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S al Ankabut 62)

Nah, ketika seorang hamba dilapangkan rizkinya maka ada beberapa kewajiban utama yang tidak boleh dilalaikan, diantaranya adalah :

Pertama : Jangan melalaikan kewajiban mengeluarkan zakat.  Ketika mendapat rizki lebih maka jangan lalai menunaikan kewajiban zakat harta. Allah Ta'ala berfirman :

خُذْ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Ambillah zakat dari harta mereka guna membersihkan dan mensucikan mereka  dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Q.S at Taubah 103).

Selain itu, juga sangat dianjurkan memberikan infak dan sedekah kepada yang membutuhkan meskipun tidak wajib. Allah Ta'ala berfirman :


وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

Dan pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta, dan orang miskin yang tidak mendapat bagian. (az Zaariyat 19).

Kedua : Jangan boros dan mubadzir. Al Imam Ibnu Abidin menjelaskan : Boros adalah menggunakan harta untuk sesuatu yang benar, namun melebihi batas yang dibenarkan. sedangkan mubadzir adalah menggunakan harta untuk sesuatu yang tidak benar. (Hasyiyah Ibnu Abidin).

Ketika seseorang diberi harta yang lebih maka sangatlah dianjurkan untuk tetap menjauh dari sifat israf atau boros dan tabdzir atau mubadzir. Sungguh Allah Ta'ala telah mengingatkan dalam firman-Nya berikut ini :


وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا.إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

Jangan melakukan perbuatan tabdzir. Sesungguhnya para mubadzir itu temannya syaithan. Dan syaithan itu sangat ingkar kepada Rabb-nya. (Q.S al Isra: 26-27).

Dan juga Allah Ta'ala berfirman :

وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Dan jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih lebihan. (Q.S al A'raf 31).

Ketiga : Kewajiban bersyukur dengan rizki yang diberikan Allah Ta'ala yaitu dengan menggunakan nikmat rizki itu sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah serta mencari ridha-Nya. Allah Ta'ala berfirman :  

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah)  ketika Rabbmu memaklumkan sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti  Kami menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmatKu) maka sesungguhnya adzab-Ku amat pedih. (Q.S Ibrahim 7) 

Wallahu A'lam. (3.066)