Minggu, 09 Juli 2023

ADA MANUSIA YANG MERUGIKAN DIRI MEREKA SENDIRI

 

ADA MANUSIA YANG MERUGIKAN DIRI MEREKA SENDIRI

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Orang yang berakal (sehat ?) senantiasa memikirkan dan berusaha bagaimana mendapatkan keuntungan bahkan kalau bisa mendapat keuntungan yang besar dan berlimpah. Tetapi ketahuilah wahai saudaraku !.  Ternyata ada pula manusia yang menjadikan dirinya rugi. Perkara ini dijelaskan Allah Ta'ala dalam firman-Nya :

قُلْ إِنَّ ٱلْخَٰسِرِينَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۗ أَلَا ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْخُسْرَانُ ٱلْمُبِينُ

Katakanlah : Sesungguhnya orang orang yang rugi ialah orang yang merugikan dirinya diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari Kiamat. Ingatlah !. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (Q.S az Zumar 15).

Syaikh as Sa'di berkata : "Katakanlah, sesungguhnya orang-orang yang rugi” yang sesungguhnya ialah “orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri” di mana mereka mencegahnya mendapat pahala dan karena itu mereka berhak mendapat siksa yang sangat buruk dan keluarganya pada Hari Kiamat. Yakni, dicerai-beraikan di antara mereka, dan mereka sangat bersedih dan (mendapat) kerugian yang besar.

Ingatlah !. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata, yang tidak ada kerugian yang semisal dengannya, YAITU KERUGIAN  YANG TERUS MENERUS, tidak ada keuntungannya sesudahnya dan  bahkan TIDAK ADA KESELAMATAN PADANYA. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Tentang surat az Zumar ayat 15 ini, Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata : Dia merugikan dirinya sendiri, karena dia tidak bisa mengambil faedah sedikitpun dari umurnya, dan rugi pula keluarganya walaupun mereka orang yang beriman, mereka di surga, tetapi tidak bisa bersenang-senang dengan mereka di akhirat apabila mereka masuk di neraka. (Majmu’ Fatawa wa Rasail)

Oleh karena itu hamba hamba Allah hendaklah mengambil manfaat sebesar besarnya dari nikmat umur yang diberikan Allah Ta'ala yaitu dengan melakukan ketaatan dan menjauhkan diri dari segala sesuatu yang tidak diridhai Allah Ta'ala.

Sungguh Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telah mengingatkan kita semua, beliau bersabda :

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu luang. (H.R Imam Bukhari).

 Wallahu A'lam. (3.045)

Sabtu, 08 Juli 2023

MANUSIA TERTIPU YAITU LUPA TENTANG DATANGNYA MATI

 

MANUSIA TERTIPU YAITU LUPA TENTANG DATANGNYA MATI

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago


Orang orang yang berakal jangan tertipu yaitu lupa tentang datangnya mati. Allah Ta’ala berfirman :

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ ۗ

Di manapun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kokoh. (Q.S an Nisa’ 78).

Dalam hadits  dari Abu Hurairah disebutkan  nasehat Rasulullah Salallahu alaihi Wasallam untuk banyak banyak mengingat mati   

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ ». يَعْنِى الْمَوْتَ.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian. (H.R at Tirmidzi)

Ad-Daqqaq berkata : Siapa yang banyak mengingat mati, ia akan dimuliakan dengan tiga perkara : (1) Bersegera untuk bertaubat. (2)  Hatinya merasa cukup.  (3) Giat dan semangat dalam beribadah. Sebaliknya, siapa yang melupakan mati ia akan dihukum dengan tiga perkara : (1) Menunda nunda taubat. (2) tidak ridha dengan perasaan cukup. (3) Malas atau lalai dalam beribadah.

Maka berpikirlah, wahai orang yang tertipu, yang merasa tidak akan dijemput kematian, tidak akan merasa sekaratnya, kepayahan, dan kepahitannya. Cukuplah kematian sebagai pengetuk hati, membuat mata menangis, memupus kelezatan dan menuntaskan angan-angan. Apakah engkau, wahai anak Adam, mau memikirkan dan membayangkan datangnya hari kematianmu dan perpindahanmu dari tempat hidupmu yang sekarang ?. (Kitab at Tadzkirah, Imam al Qurthubi).

Lalu bagaimana orang yang LALAI DAN INGKAR dengan perintah  Allah Ta’ala di dunia. Mereka akan BETUL BETUL MENYESAL dan berangan angan agar bisa kembali ke dunia setelah mati.  

Ketahuilah bahwa angan-angan atau keinginan terbesar orang yang sudah meninggal dunia adalah BISA HIDUP KEMBALI DAN MELAKSANAKAN AMAL SHALIH. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala berikut ini : 

حَتَّى إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتَ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ . لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ

(Demikianlah keadaan orang orang kafir itu) Hingga apabila datang kmatian kepada seseorang dari mereka, dia berkata : Ya Rabb-ku kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan. (Q.S al Mukminun 99-100)

 Allah Ta’ala berfirman :

رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ

(Mereka berkata), Ya Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar maka kembalikanlah kami (ke dunia) niscaya kami akan mengerjakan kebajikan. Sungguh kami adalah orang orang yang yakin. (Q.S as Sajdah 12

Oleh karena itu, hamba hamba jangan lupa dan tertipu sesaatpun bahwa kematian akan menjemput kapan saja Allah Ta'ala berkehendak. Siapkan bekal berupa amal shalih yang dilandasi iman. Wallahu A'lam. (3.044).

Jumat, 07 Juli 2023

PERTOLONGAN ALLAH MENDATANGI ORANG YANG MENOLONG AGAMA-NYA

 

PERTOLONGAN ALLAH MENDATANGI ORANG YANG MENOLONG AGAMA-NYA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sesungguhnya, orang orang beriman diperintahkan Allah Ta'ala untuk menjadi penolong (agama) Allah yaitu sebagaimana firman-Nya :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوٓا۟ أَنصَارَ ٱللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ٱبْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّۦنَ مَنْ أَنصَارِىٓ إِلَى ٱللَّهِ ۖ قَالَ ٱلْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ ٱللَّهِ ۖ فَـَٔامَنَت طَّآئِفَةٌ مِّنۢ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ وَكَفَرَت طَّآئِفَةٌ ۖ فَأَيَّدْنَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ عَلَىٰ عَدُوِّهِمْ فَأَصْبَحُوا۟ ظَٰهِرِينَ

Wahai orang orang yang beriman !. Jadilah kamu penolong penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut pengikutnya yang setia  : Siapakah yang akan menjadi penolong penolongku  (untuk menegakkan agama) Allah ?.

Pengikut pengikutnya yang setia itu berkata : Kamilah penolong penolong (agama) Allah. Lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir. Lalu Kami berikan kekuatan kepada orang orang yang beriman, terhadap musuh musuh mereka sehingga mereka menjadi orang orang yang menang. (Q.S ash Shaf 14).

Syaikh as Sa'di berkata : Menjadi penolong (agama) Allah, yaitu dengan PERKATAAN DAN PERBUATAN. (1) Menegakkan agama Allah serta gigih dalam menyebarkannya pada orang lain. Dan memerangi mereka yang menentang dan menolaknya dengan raga dan harta. (2) Memerangi orang orang yang menolong kebathilan  yang dikira sebagai ilmu dan menolak kebenaran dengan cara meruntuhkan hujjahnya dan waspada terhadapnya. (3) Termasuk menolong agama Allah adalah dengan mempelajari kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya serta mengajarkannya dan dan mendorong orang lain untuk mempelajari kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya  serta mengajarkannya. dan (4) Memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. (Tafsir Taisir Karimir Rahman)

Sungguh manusia makhluk yang lemah maka sangatlah membutuhkan pertolongan Allah Ta'ala di setiap saat dan setiap keadaan. Nah, ketika hamba hamba Allah menolong (agama) Allah sebagaimana yang diperintahkan maka para hamba itu akan didatangi oleh berbagai pertolongan-Nya. Allah Ta’ala berfirman : 

  وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa. (Q.S  al Hajj  40).

Syaikh as Sa’di berkata : (Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) Nya), yaitu orang yang melakukan pembelaan terhadap agamanya dengan ikhlas kepada-Nya dalam melaksanakannya. Berjuang di jalan-Nya agar kalimatullah-lah yang paling tinggi. Kemudian mintalah kemenangan dari-Nya. Sudah mesti Dia akan menolong kalian. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Bahkan  Allah berjanji akan meneguhkan kedudukan orang yang beriman yang senantiasa berusaha menolong (agama) Allah. Allah berfirman : 

  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Wahai orang orang yang beriman !. Jika kamu menolong (agama) Allah niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.   (Q.S Muhammad 7). 

Syaikh as Sa’di berkata : Ini merupakan janji dari Allah Ta’ala Yang Mahamulia dan Mahabenar janjinya. (Caranya atau syaratnya yaitu), siapapun yang menolong-Nya dengan perkataan dan perbuatan maka akan diberi  pertolongan  serta diberi kemudahan untuk mendapatkan kemenangan seperti keteguhan hati dan (kebaikan) yang lainnya. (Tafsir Taisir Karimir Rahman)

Wallahu A'lam. (3.043).

RUKUKLAH BERSAMA ORANG ORANG YANG RUKUK

 

RUKUKLAH BERSAMA ORANG ORANG YANG RUKUK

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Kita mengetahui bahwa rukuk adalah bagian atau salah satu gerakan dalam shalat. Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan  untuk rukuk bersama orang orang yang rukuk yaitu sebagaimana firman-Nya :

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah bersama orang orang yang rukuk, (Q.S al Baqarah 43).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan tentang ayat ini bahwa : Hendaklah kalian bersama orang orang beriman dalam berbagai perbuatan mereka yang terbaik. Dan yang paling utama dan sempurna dari semua itu adalah shalat. Dan banyak ulama yang menjadikan ayat ini sebagai dalil bagi diwajibkannya shalat berjamaah. (Lihat Kitab Tafsir al Qur’an al ‘Azhim).

Ibnul Qayyim al Jauziyah berkata : Makna firman Allah rukuklah beserta orang-orang yang rukuk, faedahnya yaitu tidaklah dilakukan (shalat fardhu) kecuali bersama jamaah yang shalat dan bersama-sama. (Ashalatu wa Hukmu Tarikiha)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di  menjelaskan : “Dan rukuklah bersama orang yang rukuk” maksudnya shalatlah bersama orang orang yang shalat. Dalam hal ini ada suatu perintah untuk shalat berjamaah dan kewajibannya.

Syaikh as Sa’di melanjutkan : Bahwasanya rukuk itu merupakan rukun diantara rukun rukun shalat, karena Allah menyebutkan shalat dengan kata rukuk sedangkan mengungkapkan suatu ibadah dengan kata yang merupakan bagian darinya adalah menunjukkan kepada wajibnya hal itu padanya. (Lihat Kitab Tafsir Karimir Rahman).

Ketahuilah bahwa sungguh Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  senantiasa shalat berjamaah di masjid bersama para sahabat. Dan kita sebagai pengikut beliau haruslah berusaha dengan sungguh sungguh untuk  melazimkannya pula sebagaimana yang dicontohkan beliau. Beliau bersabda :          

وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي   

Dan shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat. (H.R Imam Bukhari).

Ketahuilah saudaraku, salah satu sifat shalat orang munafik  disebutkan dalam perkataan para ulama adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata : 

وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلاَّ مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِى الصَّفِّ

Aku telah melihat bahwa orang yang meninggalkan shalat jamaah hanyalah orang munafik, di mana ia adalah munafik tulen. Karena bahayanya meninggalkan shalat jamaah sedemikian adanya, ada seseorang sampai didatangkan dengan berpegangan pada dua orang hingga ia bisa masuk dalam shaf.

Syaikh Abdullah al Fauzan hafizhahullah mengatakan bahwa : Seseorang yang meninggalkan shalat jama’ah menunjukkan akan beratnya dia menjalankan shalat. Ini pertanda bahwa hatinya terdapat sifat kemunafikan. Untuk lepas dari sifat tersebut, marilah menjaga shalat jama’ah. (Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Maram).

Semoga Allah Ta’ala memberi kita kekuatan  untuk senantiasa mendirikan shalat dan rukuk bersama orang orang yang rukuk, yaitu melaksanakan shalat berjamaah di masjid. Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A'lam. (3.042)

Kamis, 06 Juli 2023

IBLIS SELALU MENGHALANGI MANUSIA DARI JALAN YANG LURUS

 

IBLIS SELALU MENGHALANGI MANUSIA DARI JALAN YANG LURUS

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh  syaithan, bala tentara iblis adalah musuh yang nyata bagi hamba hamba  Allah.  Allah Ta’ala menjelaskan dalam  firman-nya :

ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Sungguh dia (syaithan itu) musuh yang nyata bagimu. (Q. S al Baqarah 208).

Ketahuilah bahwa sebagai musuh iblis dan bala tentaranya yaitu syaithan  akan benar benar akan terus menggoda anak cucu Adam agar terhalang dan tersesat dari jalan  yang lurus. Hal ini disebutkan dalam firman Allah :

قَالَ فَبِمَآ أَغْوَيْتَنِى لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَٰطَكَ ٱلْمُسْتَقِيمَ

ثُمَّ لَءَاتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَٰنِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَٰكِرِينَ

Iblis menjawab : karena Engkau (ya Allah) telah menghukum aku tersesat, aku  benar benar akan (menghalang halangi) mereka (manusia) dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari  muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur. (Q.S al A’raf 16-17). 

Imam Ibnul Qayyim al Jauziah   berkata : Didalam ayat tersebut sangatlah jelas memberikan pengertian kepada kita betapa semangatnya Iblis untuk menghalangi manusia dari shirat al mustaqiim.

Selanjutnya Imam Ibnul Qayyim berkata : Dalam ayat ini disebutkan bahwa Iblis akan menempuh empat cara untuk memutus jalan (manusia menuju) yang haq ini. 

Langkah pertama : Iblis akan mendatangi manusia dari arah depan.

Berkata Imam Hasan al Bashri : Maksudnya adalah dari sisi akhiratnya yakni Iblis akan akan mengilhamkan kepada bani Adam agar bani Adam ragu dengan hari berbangkit, ragu dengan surga, ragu dengan neraka dan ragu dengan perkara perkara akhirat lainnya. Dan sulit kita gambarkan kerusakan yang akan terjadi kalau sampai misi (iblis) ini berhasil. 

Langkah kedua : Iblis akan mendatangi manusia dari arah belakang.

Berkata Ibnu Abbas : Maksudnya adalah bahwa Iblis akan jadikan bani Adam itu agar sangat mencintai dunia mereka.

Langkah ketiga : Iblis akan mendatangi manusia dari arah kanan.

Berkata Abdullah bin Mas’ud : Maksudnya adalah bahwa Iblis akan samarkan urusan agama mereka. Bani Adam dibuat ragu terhadap kebenaran, ragu terhadap al Qur-an, ragu terhadap kerasulan Nabi Muhammad dan lainnya. 

Langkah keempat : Iblis akan mendatangi manusia dari arah kiri.

Berkata Imam Hasan al Bashri : Maksudnya adalah Iblis akan dari sisi keburukan keburukannya. Iblis akan memerintah manusia untuk melakukan keburukan. Iblis akan menghias hiasi keburukan ini agar tampak indah dimata manusia sehingga manusia mencintai keburukan yang mereka lakukan. Bahkan Iblis membuat mereka bangga dengan keburukan tersebut. (Lihat Ighatsatul Lahfan)

Didalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa Ibnu Abbas berkata : Mengapa syaithan tidak menyatakan bahwa Aku akan mendatangi bani Adam dari atas mereka. Sebabnya adalah karena syaithan mengetahui bahwa Allah Ta'ala ada diatas mereka

Oleh karena itu hamba hamba Allah hendaklah selalu berlindung kepada Allah Ta'ala dari godaan iblis dan  syaithan bala tentaranya. Wallahu A'lam. (3.041)

 

 

 

 

Rabu, 05 Juli 2023

ADAKAH PETUNJUK SYARIAT MERAYAKAN TAHUN BARU HIJRIYAH ?

 

ADAKAH PETUNJUK SYARIAT MERAYAKAN TAHUN BARU HIJRIYAH ?

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketika berbicara tentang merayakan tahun baru hijriyah maka sebenarnya yang paling berkompeten merayakan tahun baru hijriyah adalah Khalifah Umar bin Khaththab. Kenapa karena beliaulah INISIATOR ADANYA TAHUN BARU HIJRIYAH. Tetapi tak ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau pernah merayakan datangnya tahun baru hijriah selama 10 tahun beliau menjadi khalifah. Kenapa ?, karena memang tidak disyariatkan

Kalau itu baik tentu beliau telah mengamalkannya dan juga bisa diikuti oleh  khalifah ataupun imam imam dan orang orang shalih setelah beliau.   

Dalam kitab Bida’ wa Akhtha’ disebutkan : Tidak ragu lagi perkara ini termasuk yang baru dan diada adakan. Tidak ada keterangan dalam as-Sunnah anjuran mengadakan peringatan tahun baru hijriyah. Perkara ini termasuk bid’ah yang buruk.

Ketika orang orang merayakan tahun baru Hijriyah, jangan jangan mereka terjatuh kepada sikap meniru niru atau ikut ikutan  kepada orang orang diluar Islam yang merayakan tahun baru masehi. Ketahuilah bahwa tasyabbuh atau menyerupai suatu kaum adalah sesuatu yang dilarang dalam syariat Islam, yaitu sebagaimana sabda Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam : 

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka. (H.R Imam Ahmad dan Abu Daud, dishahihkan oleh Syaikh al Albani)

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda : 

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا

Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami. (H.R at Tirmidzi dhasankan oleh Syaikh al Albani).

Tetapi di beberapa tempat di negeri kita ternyata sebagian orang Islam ada yang memperingati dan merayakan tahun baru Hijriah. Diantaranya ditandai dengan doa akhir tahun yaitu menjelang maghrib  dan doa awal tahun setelah shalat maghrib dengan dipimpin oleh seorang diantara yang hadir dan diaamiinkan beramai ramai oleh para jamaah.

Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid berkata : Tidak ada dalam syariat ini sedikitpun doa atau dzikir (khusus) untuk awal tahun. Manusia zaman sekarang banyak membuat sesuatu yang baru  berupa doa, dzikir atau tukar menukar ucapan selamat, demikian pula puasa awal tahun baru, menghidupkan malam pertama bulan Muharram dengan shalat, dzikir atau do’a, puasa akhir tahun dan sebagainya yang semua ini tidak ada dalilnya sama sekali. (Tashih ad Duu’a).

 Wallahu A'lam. (3.039)

Sabtu, 01 Juli 2023

NIKMAT YANG TAK DISYUKURI MUDAH PERGI

 

NIKMAT YANG TAK DISYUKURI MUDAH PERGI

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Orang beriman wajib yakin seyakin yakinnya bahwa sungguh   semua nikmat dari Allah Ta'ala datangnya. Allah Ta'ala  berfirman : 

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ ٱللَّهِ ۖ

Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah. (Q.S an Nahl 53) 

Ketahuilah, banyak sekali dalil-dalil yang memerintahkan kita untuk senantiasa bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan melarang kita untuk kufur terhadap nikmat-Nya. Allah Ta’ala berfirman : 

فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِى وَلَا تَكْفُرُونِ

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu kufur terhadap (nikmat)-Ku.” (Q.S al Baqarah 152).

Syaikh Abdurrahman Naashir as-Sa’di rahimahullah berkata : Yakni bersyukurlah kalian terhadap nikmat yang telah Allah berikan kepada kalian dan juga terhadap tercegahnya adzab dari kalian.

Di dalam syukur harus terkandung pengakuan dan kesadaran bahwa nikmat itu semata-mata dari Allah semata, dzikir dan pujian yang diucapkan melalaui lisannya serta ketaatan anggota badannya untuk semakin tunduk dan patuh dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Syaikh as Sa’di menambahkan : Dan karena lawan dari syukur adalah kufur, maka Allah Ta’ala telah melarang darinya: Dan janganlah kamu kufur terhadap (nikmat)-Ku. Yang dimaksud dengan kufur di sini adalah sesuatu yang menjadi lawan dari syukur, yakni kufur terhadap nikmat-Nya. Namun terkandung juga di dalamnya, makna kufur yang sifatnya umum, yang paling besar adalah kufur kepada Allah, kemudian berbagai macam dan jenis maksiat. (Kitab Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Al Imam Ibnu Rajab al Hambali berkata : Barangsiapa yang mendapat banyak nikmat hendaknya DIA IKAT NIKMAT ITU DENGAN SYUKUR. Kalau tidak, nikmat itu akan pergi. (Majmu' Rasail)

Sungguh, bersyukur atas nikmat akan mendatangkan minimal dua manfaat : 

(1) Untuk mempertahankan nikmat yang telah ada pada hamba hamba Allah.

(2) Untuk mengundang datangnya nikmat nikmat yang baru  sebagai tambahan. Tambahan yang dimaksud bisa berupa jumlahnya, jenisnya dan bisa juga berkahnya. Terkadang memang secara fisik nikmat itu tidak terlihat bertambah tetapi ketahuilah bahwa berkahnya bisa bertambah.  Allah Ta’ala  berfirman :

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ

Dan (ingatlah juga), tatkala Rabb-mu memaklumkan : Sesungguhnya, jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat-Ku) kepadamu. (Q.S Ibrahim ayat 7).

Wallahu A'lam. (3.040)