Sabtu, 15 Juli 2023

ORANG BERIMAN BERUSAHA MENJAUH DARI KEMUNAFIKAN

 

ORANG BERIMAN BERUSAHA MENJAUH DARI KEMUNAFIKAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Salah satu sifat manusia yang sangat tercela yaitu munafik. Sebagaimana yang dikatakan Imam Ibnu Katsir, nifak adalah menampakkan kebaikan dan menyembunyikan keburukan. Sementara itu, Ibnu Juraij mengatakan : Orang munafik ialah orang yang omongannya menyelisihi tindak-tanduknya, batinnya menyelisihi lahiriahnya, tempat masuknya menyelisihi tempat keluarnya, dan kehadirannya menyelisihi ketidakadaannya. (‘Umdah at-Tafsir I/78).

Oleh karena itu orang orang beriman terus berusaha menjauh dari kemunafikan. Diataranya adalah dengan cara MENYELISIHI SIKAP BURUK MUNAFIK terutama dalam melakukan ibadah, diantaranya adalah :

Pertama : Munafik malas menegakkan shalat dan enggan berinfak

وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ

 

Mereka (orang orang munafik) tidak melaksanakan shalat melainkan DENGAN MALAS dan tidak (pula) menginfakkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan (terpaksa).  Q.S at Taubah 54. 

Kedua : Munafik sangat berat melaksanakan shalat shubuh dan isya.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَيْسَ صَلاَةٌ أثْقَلَ عَلَى المُنَافِقِينَ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ وَالعِشَاءِ ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْواً

Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik selain dari shalat Shubuh dan shalat Isya. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak. (H.R Imam Bukhari).

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah berkata : Orang munafik itu shalat dalam keadaan riya dan sum’ah (ingin dilihat dan didengar orang lain). Di masa silam shalat Shubuh dan shalat Isya tersebut dilakukan dalam keadaan gelap sehingga mereka, orang munafik, tidak menghadirinya. Mereka enggan menghadiri kedua shalat tersebut.

Namun untuk shalat lainnya, yaitu shalat Zhuhur, Ashar dan Maghrib, mereka tetap hadir karena jama’ah yang lain melihat mereka. Dan mereka kala itu cari muka dengan amalan shalat mereka tersebut. Mereka hanyalah sedikit berdzikir kepada Allah.

Di masa silam belum ada lampu listrik seperti saat ini. Sehingga menghadiri dua shalat itu terasa berat karena mereka tidak bisa memamerkan amalan mereka. Alasan lainnya karena shalat Isya itu waktu istirahat, sedangkan shalat Shubuh waktu lelapnya tidur. (Syarh Riyadhus Shalihin)

Ketiga : Munafik sedikit sekali berdzikir.

Imam Ibnul Qayyim berkata : Banyak berzikir mengingat Allah adalah pengaman (diri)  dari kemunafikan. Orang munafik itu sedikit berzikir. Allah Ta'ala berfirman :

وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali. (Q.S an Nisa’ 142). Lihat al Wabilus Shayib.

Oleh karena itu hamba hamba Allah jangan terbawa arus menjadi munafik dengan melalaikan ibadah terutama ibadah shalat dan berdzikir kepada Allah Ta'ala. Ketahuilah bahwa bahwa orang munafik akan ditempatkan di neraka paling bawah. Allah  Ta’ala berfirman :  

إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ فِى ٱلدَّرْكِ ٱلْأَسْفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

Sungguh, orang orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapatkan seorang penolong pun bagi mereka. (Q.S an Nisa’ 145).

Wallahu A'lam. (3.049)

Jumat, 14 Juli 2023

HANYA ORANG BERIMAN YANG MEMAKMURKAN MASJID

 

HANYA ORANG BERIMAN YANG MEMAKMURKAN MASJID

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh masjid adalah tempat yang paling dicintai Allah dipermukaan bumi sebagaimana sabda Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam : 

أَحَبُّ الْبِلاَدِ إِلَى اللهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلاَدِ إِلَى اللهِ أَسْوَاقُهَا

Tempat yang PALING DICINTAI ALLAH adalah masjid masjidnya dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar pasarnya. (H.R Imam Muslim, dari Abu Hurairah).

Imam an Nawawi berkata : Masjid adalah tempat yang lebih dicintai Allah Ta’ala karena masjid adalah tempat orang orang melakukan ketaatan dan landasan orang orang yang bertakwa kepada Allah. Sedangkan pasar adalah tempat (kebanyakan) orang menipu, riba, sumpah palsu, menyelisihi janji. Berpaling dari mengingat Allah dan masih banyak lagi yang semakna. Masjid adalah tempat turunnya rahmat sedangkan pasar adalah sebaliknya. (Syarh Shahih Muslim).

Sungguh, wahai saudaraku !, bahwa yang memakmurkan masjid hanyalah orang orang yang beriman.  Allah Ta'ala berfirman :  

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا ٱللَّهَ ۖ فَعَسَىٰٓ أُو۟لَٰٓئِكَ أَن يَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang orang  yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan (tetap) melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada apapun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang orang yang mendapat petunjuk. (Q.S at Taubah 19) 

Ketahuilah bahwa tentang memakmurkan masjid paling tidak memiliki dua sisi, yaitu :  

Pertama :  Memakmurkan secara fisik diantaranya adalah dengan membangun masjid, merenovasi, memperluas, menyiapkan peralatan yang diperlukan,  memelihara kebersihan, kerapihan dan keamanannya. Alhamdulilah ini sudah dilakukan sehingga, sebagaimana yang kita lihat, sunguh sangat banyak masjid kita yang indah, megah, rapih bersih dan nyaman.

Dari Jabir bin Abdullah, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ

Barang siapa membangun masjid karena Allah (meskipun hanya) sebesar sarang burung atau yang lebih kecil darinya, niscaya Allah akan membangun untuknya rumah di Surga. (H.R Ibnu Majah dan al Baihaqi, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata : “Siapa yang membangun masjid” maknanya bersifat nakirah untuk menyeluruh pada jenisnya, sehingga masuk yang besar dan yang kecil. Bahkan pahala tersebut berlaku pada orang yang bersedekah walaupun hanya satu bata saja atau yang senilainya. Wallahu a’lam. (Fathul Bari)

Hadits ini menjadi sandaran dan berita gembira  bagi orang orang yang senantiasa mengeluarkan tenaga dan  hartanya untuk memakmurkan rumah Allah secara fisik.

Kedua : Memakmurkan masjid “secara maknawi” yaitu memakmurkan dan menghidupkan masjid dengan berbagai kegiatan agama terutama dengan  shalat berjamaah. Melakukan kegiatan pendidikan dalam arti luas, membaca al Qur’an, dzikir dan doa, kegiatan sosial kemasyarakatan, kesehatan dan masih banyak yang lain. Dan pada kenyataannya hal ini masih perlu menjadi perhatian kita semua terutama untuk memakmurkan masjid dengan shalat berjamaah bagi laki laki.

Tentang surat at Taubah ayat 18 tersebut diatas, Syaikh as Sa'di antara lain berkata : Adapun orang orang yang tidak beriman kepada Allah Ta'ala dan kepada Hari Akhir dan tidak memiliki RASA TAKUT KEPADA ALLAH maka mereka ini bukan termasuk orang orang yang memakmurkan masjid dan bukan pula ahlinya yang sebenarnya meskipun mereka mengaku dan mengklaim (sebagai orang orang  yang memakmurkan masjid). Tafsir Taisir Karimir Rahman.

Wallahu A'lam. (3.048)

 

 

 

 

Senin, 10 Juli 2023

SHALAT SHUBUH MEMILIKI BANYAK KEUTAMAAN

 

SHALAT SHUBUH MEMILIKI BANYAK KEUTAMAAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh orang orang beriman mempunyai kewajiban untuk melaksanakan shalat fardhu lima kali sehari semalam. Kewajiban ini  dimulai sejak usia baligh sampai dirinya diwafatkan Allah Ta'ala.

Salah satu shalat yang difardhukan itu adalah shalat shubuh yaitu pada waktu fajar sehingga disebut juga dengan shalat fajar. Shalat fajar ini bagi sebagian orang terasa akan berat dilakukan karena waktunya  orang adalah saat saat tidur terasa nikmat. 

Tetapi bagi sebagian saudara saudara yang ingin mencari ridha Allah dan sungguh sungguh ini mendekatkan diri kepada-Nya, ternyata tidak terasa berat. Bahkan banyak pula diantara saudara kita yang bangun satu atau dua jam sebelum fajar. Sungguh mereka menikmati shalat lailnya sebelum masuk waktu shubuh.

Ketahuilah ada beberapa keutamaan dan kekhususan sendiri adalah pada shalat shubuh, diantaranya adalah :

Hadits  Umaroh bin Ruaibah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : 

لَنْ يَلِجَ النَّارَ أَحَدٌ صَلَّى قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا

Tidaklah akan masuk neraka orang yang melaksanakan shalat sebelum terbitnya matahari (yaitu shalat shubuh) dan shalat sebelum tenggelamnya matahari (yaitu shalat ashar). (H.R Imam Muslim). 

‘Azhim Abadi rahimahullah, menjelaskan hadits tersebut : Yaitu maksudnya adalah melaksanakan shalat shubuh dan ashar secara terus menerus. Dikhususkan dua shalat ini karena waktu shubuh adalah waktu tidur dan waktu ‘Ashar adalah waktu sibuk beraktifitas dengan berdagang.

Barangsiapa yang menjaga dua shalat tersebut di saat-saat kesibukannya, tentu ia akan lebih menjaga shalat fardhu lainnya karena shalat mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Kedua waktu tersebut juga adalah waktu yang dipersaksikan para malaikat malam dan siang. Pada waktu tersebut amalan hamba diangkat dan sangat mungkin saat-saat itu dosa diampuni karena dua shalat yang dilakukan. Sehingga akhirnya, ia pun bisa masuk jannah. (‘Aunul Ma’bud).

Selanjutnya, shalat shubuh memiliki banyak pula keutamaan lainnya, diantaranya  :

Pertama : Shalat shubuh disaksikan malaikat secara khusus. Sungguh, Allah Ta'ala berfirman : 

أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِدُلُوكِ ٱلشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ ٱلَّيْلِ وَقُرْءَانَ ٱلْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْءَانَ ٱلْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

Dirikanlah shalat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (dirikan pula shalat) shubuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat). (Q.S al Isra’ 78).

Syaikh as Sa'di berkata : Dan shalat shubuh dalam ayat ini disebut dengan kata QUR AN karena shalat shubuh disyariatkan memperpanjang bacaan al Qur an di dalamnya melebihi bacaan al Qur an pada shalat shalat yang lain. Dan juga karena keutamaan bacaan al Qur an di dalamnya lantaran disaksikan Allah Ta'ala para malaikat (yang bertugas) siang dan malaikat malam. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).   

Kedua : Mendapat jaminan Allah. Dari Jundab bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

مَنْ صَلَّى صَلَاةَ الصُّبْحِ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللَّهِ فَلَا يَطْلُبَنَّكُمْ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ فَإِنَّهُ مَنْ يَطْلُبْهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ يُدْرِكْهُ ثُمَّ يَكُبَّهُ عَلَى وَجْهِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ

Barangsiapa yang shalat subuh maka dia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu jangan sampai Allah menuntut sesuatu kepada kalian dari jaminan-Nya. Karena siapa yang Allah menuntutnya dengan sesuatu dari jaminan-Nya, maka Allah pasti akan menemukannya, dan akan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam. (H.R Imam Muslim).


Ketiga : Dihitung seperti shalat semalam penuh. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ

Barangsiapa yang shalat isya berjama’ah maka seolah-olah dia telah shalat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang shalat shubuh berjamaah maka seolah-olah dia telah shalat seluruh malamnya. (H.R. Imam Muslim)

Keempat : Disaksikan para malaikat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

وَتَجْتَمِعُ مَلَائِكَةُ اللَّيْلِ وَمَلَائِكَةُ النَّهَارِ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ

Dan para malaikat (yang bertugas) malam dan malaikat siang berkumpul pada shalat fajar (subuh). (H.R Imam  Bukhari  dan Imam Muslim).

Mudah mudahan keutamaan shalat shubuh yang diuraikan sesuai dalilnya diatas,  menjadi dorongan yang sangat kuat bagi hamba hamba Allah untuk menjaga ibadah shalat shubuh. Wallahu A'lam. (3.047)

 

 

 



 

 

 

  

Minggu, 09 Juli 2023

IBADAH SHALAT MENGGUGURKAN DOSA

 

IBADAH SHALAT MENGGUGURKAN DOSA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Orang orang beriman sangat takut melalaikan shalat fardhu. Kenapa ?, karena shalat merupakan salah satu rukun Islam kedua setelah syahadat. Dan juga shalat adalah amal yang pertama kali dihisab di akhirat kelak. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda : 

 قاَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ ، فَإنْ صَلُحَتْ ، فَقَدْ أفْلَحَ وأَنْجَحَ ، وَإنْ فَسَدَتْ ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ ، قَالَ الرَّبُ – عَزَّ وَجَلَّ – : اُنْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ، فَيُكَمَّلُ مِنْهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ ؟ ثُمَّ تَكُونُ سَائِرُ أعْمَالِهِ عَلَى هَذَا.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi.

Jika berkurang sedikit dari shalat wajibnya, maka Allah ‘Azza wa Jalla  berfirman : Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah. Maka disempurnakanlah apa yang kurang dari shalat wajibnya. Kemudian begitu pula dengan seluruh amalnya. (H.R at Tirmidzi dan an Nasa’i,  dishahihlan oleh al Hafizh Abu Thahir).

Menurut fiqih, ketika seorang hamba melakukan sesuatu ibadah apalagi ibadah wajib maka dia akan memperoleh kebaikan dan pahala di sisi Allah Ta'ala. Jadi shalat yang kita lakukan  MENDATANGKAN PAHALA.

Tetapi selain itu ketahuilah bahwa sungguh Allah Ta'ala Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada hamba hamba-Nya. Sungguh shalat yang kita lakukan terutama shalat wajib bukan hanya mendatangkan kebaikan dan pahala TETAPI JUGA MENGGUGURKAN DOSA. Diantara dalilnya adalah :

 

Pertama : Hadits tentang seumpama seseorang  mandi di sungai lima kali sehari :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ، هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ؟” قَالُوا: لَا يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ، قَالَ: “فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، يَمْحُو اللهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Bagaimana pendapat kalian, jika ada sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, ia mandi dari sungai itu lima kali dalam sehari, apakah kotorannya (dakinya)  masih tersisa ?. Para sahabat menjawab : Kotorannya tidak akan tersisa. Beliau bersabda : Itulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahan. (H.R Imam Bukhari dan Imam  Muslim).

Kedua : Hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang shalat penghapus dosa :

الصَّلَاةُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ

Shalat lima waktu dan shalat Jumat ke Jumat berikutnya adalah penghapus untuk dosa di antaranya selama tidak melakukan dosa besar. (H.R Imam Muslim).

Ketiga : Ketika seorang hamba shalat lalu Allah Ta'ala menempatkan dosa  dosanya di kepala dan di pundaknya. Dosa dosa itu berguguran  saat  dia rukuk dan sujud. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا قَامَ يُصَلِّي أُتِيَ بِذُنُوبِهِ فَوَضَعَتْ عَلَى رَأْسِهِ أَوْ عَاتِقِهِ فَكُلَّمَا رَكَعَ أَوْ سَجَدَ تساقطت عنه

Sesungguhnya, tatkala seorang hamba berdiri shalat, didatangkanlah seluruh dosanya, kemudian diletakkan di atas kepala dan kedua pundaknya, maka ketika ia rukuk dan sujud, dosa-dosa tersebut berguguran. (H.R Ibnu Hibban, ath Thabrani, dan yang selainnya. Dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam ash Shahihah).

Jadi, ketika rukuk dan sujud dalam shalat jangan terburu buru bangkit, biarlah dosa dosa berguguran lebih dahulu.

 

Oleh karena itu maka hamba hamba Allah jangan pernah lalai sedikitpun untuk shalat terutama sekali shalat fardhu dan sangat baik pula ditambah dengan shalat shalat sunnah yang disyariatkan. Wallahu A'lam. (3.046)  

ADA MANUSIA YANG MERUGIKAN DIRI MEREKA SENDIRI

 

ADA MANUSIA YANG MERUGIKAN DIRI MEREKA SENDIRI

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Orang yang berakal (sehat ?) senantiasa memikirkan dan berusaha bagaimana mendapatkan keuntungan bahkan kalau bisa mendapat keuntungan yang besar dan berlimpah. Tetapi ketahuilah wahai saudaraku !.  Ternyata ada pula manusia yang menjadikan dirinya rugi. Perkara ini dijelaskan Allah Ta'ala dalam firman-Nya :

قُلْ إِنَّ ٱلْخَٰسِرِينَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۗ أَلَا ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْخُسْرَانُ ٱلْمُبِينُ

Katakanlah : Sesungguhnya orang orang yang rugi ialah orang yang merugikan dirinya diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari Kiamat. Ingatlah !. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (Q.S az Zumar 15).

Syaikh as Sa'di berkata : "Katakanlah, sesungguhnya orang-orang yang rugi” yang sesungguhnya ialah “orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri” di mana mereka mencegahnya mendapat pahala dan karena itu mereka berhak mendapat siksa yang sangat buruk dan keluarganya pada Hari Kiamat. Yakni, dicerai-beraikan di antara mereka, dan mereka sangat bersedih dan (mendapat) kerugian yang besar.

Ingatlah !. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata, yang tidak ada kerugian yang semisal dengannya, YAITU KERUGIAN  YANG TERUS MENERUS, tidak ada keuntungannya sesudahnya dan  bahkan TIDAK ADA KESELAMATAN PADANYA. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Tentang surat az Zumar ayat 15 ini, Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata : Dia merugikan dirinya sendiri, karena dia tidak bisa mengambil faedah sedikitpun dari umurnya, dan rugi pula keluarganya walaupun mereka orang yang beriman, mereka di surga, tetapi tidak bisa bersenang-senang dengan mereka di akhirat apabila mereka masuk di neraka. (Majmu’ Fatawa wa Rasail)

Oleh karena itu hamba hamba Allah hendaklah mengambil manfaat sebesar besarnya dari nikmat umur yang diberikan Allah Ta'ala yaitu dengan melakukan ketaatan dan menjauhkan diri dari segala sesuatu yang tidak diridhai Allah Ta'ala.

Sungguh Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telah mengingatkan kita semua, beliau bersabda :

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu luang. (H.R Imam Bukhari).

 Wallahu A'lam. (3.045)

Sabtu, 08 Juli 2023

MANUSIA TERTIPU YAITU LUPA TENTANG DATANGNYA MATI

 

MANUSIA TERTIPU YAITU LUPA TENTANG DATANGNYA MATI

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago


Orang orang yang berakal jangan tertipu yaitu lupa tentang datangnya mati. Allah Ta’ala berfirman :

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ ۗ

Di manapun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kokoh. (Q.S an Nisa’ 78).

Dalam hadits  dari Abu Hurairah disebutkan  nasehat Rasulullah Salallahu alaihi Wasallam untuk banyak banyak mengingat mati   

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ ». يَعْنِى الْمَوْتَ.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian. (H.R at Tirmidzi)

Ad-Daqqaq berkata : Siapa yang banyak mengingat mati, ia akan dimuliakan dengan tiga perkara : (1) Bersegera untuk bertaubat. (2)  Hatinya merasa cukup.  (3) Giat dan semangat dalam beribadah. Sebaliknya, siapa yang melupakan mati ia akan dihukum dengan tiga perkara : (1) Menunda nunda taubat. (2) tidak ridha dengan perasaan cukup. (3) Malas atau lalai dalam beribadah.

Maka berpikirlah, wahai orang yang tertipu, yang merasa tidak akan dijemput kematian, tidak akan merasa sekaratnya, kepayahan, dan kepahitannya. Cukuplah kematian sebagai pengetuk hati, membuat mata menangis, memupus kelezatan dan menuntaskan angan-angan. Apakah engkau, wahai anak Adam, mau memikirkan dan membayangkan datangnya hari kematianmu dan perpindahanmu dari tempat hidupmu yang sekarang ?. (Kitab at Tadzkirah, Imam al Qurthubi).

Lalu bagaimana orang yang LALAI DAN INGKAR dengan perintah  Allah Ta’ala di dunia. Mereka akan BETUL BETUL MENYESAL dan berangan angan agar bisa kembali ke dunia setelah mati.  

Ketahuilah bahwa angan-angan atau keinginan terbesar orang yang sudah meninggal dunia adalah BISA HIDUP KEMBALI DAN MELAKSANAKAN AMAL SHALIH. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala berikut ini : 

حَتَّى إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتَ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ . لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ

(Demikianlah keadaan orang orang kafir itu) Hingga apabila datang kmatian kepada seseorang dari mereka, dia berkata : Ya Rabb-ku kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan. (Q.S al Mukminun 99-100)

 Allah Ta’ala berfirman :

رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ

(Mereka berkata), Ya Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar maka kembalikanlah kami (ke dunia) niscaya kami akan mengerjakan kebajikan. Sungguh kami adalah orang orang yang yakin. (Q.S as Sajdah 12

Oleh karena itu, hamba hamba jangan lupa dan tertipu sesaatpun bahwa kematian akan menjemput kapan saja Allah Ta'ala berkehendak. Siapkan bekal berupa amal shalih yang dilandasi iman. Wallahu A'lam. (3.044).

Jumat, 07 Juli 2023

PERTOLONGAN ALLAH MENDATANGI ORANG YANG MENOLONG AGAMA-NYA

 

PERTOLONGAN ALLAH MENDATANGI ORANG YANG MENOLONG AGAMA-NYA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sesungguhnya, orang orang beriman diperintahkan Allah Ta'ala untuk menjadi penolong (agama) Allah yaitu sebagaimana firman-Nya :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوٓا۟ أَنصَارَ ٱللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ٱبْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّۦنَ مَنْ أَنصَارِىٓ إِلَى ٱللَّهِ ۖ قَالَ ٱلْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ ٱللَّهِ ۖ فَـَٔامَنَت طَّآئِفَةٌ مِّنۢ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ وَكَفَرَت طَّآئِفَةٌ ۖ فَأَيَّدْنَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ عَلَىٰ عَدُوِّهِمْ فَأَصْبَحُوا۟ ظَٰهِرِينَ

Wahai orang orang yang beriman !. Jadilah kamu penolong penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut pengikutnya yang setia  : Siapakah yang akan menjadi penolong penolongku  (untuk menegakkan agama) Allah ?.

Pengikut pengikutnya yang setia itu berkata : Kamilah penolong penolong (agama) Allah. Lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir. Lalu Kami berikan kekuatan kepada orang orang yang beriman, terhadap musuh musuh mereka sehingga mereka menjadi orang orang yang menang. (Q.S ash Shaf 14).

Syaikh as Sa'di berkata : Menjadi penolong (agama) Allah, yaitu dengan PERKATAAN DAN PERBUATAN. (1) Menegakkan agama Allah serta gigih dalam menyebarkannya pada orang lain. Dan memerangi mereka yang menentang dan menolaknya dengan raga dan harta. (2) Memerangi orang orang yang menolong kebathilan  yang dikira sebagai ilmu dan menolak kebenaran dengan cara meruntuhkan hujjahnya dan waspada terhadapnya. (3) Termasuk menolong agama Allah adalah dengan mempelajari kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya serta mengajarkannya dan dan mendorong orang lain untuk mempelajari kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya  serta mengajarkannya. dan (4) Memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. (Tafsir Taisir Karimir Rahman)

Sungguh manusia makhluk yang lemah maka sangatlah membutuhkan pertolongan Allah Ta'ala di setiap saat dan setiap keadaan. Nah, ketika hamba hamba Allah menolong (agama) Allah sebagaimana yang diperintahkan maka para hamba itu akan didatangi oleh berbagai pertolongan-Nya. Allah Ta’ala berfirman : 

  وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa. (Q.S  al Hajj  40).

Syaikh as Sa’di berkata : (Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) Nya), yaitu orang yang melakukan pembelaan terhadap agamanya dengan ikhlas kepada-Nya dalam melaksanakannya. Berjuang di jalan-Nya agar kalimatullah-lah yang paling tinggi. Kemudian mintalah kemenangan dari-Nya. Sudah mesti Dia akan menolong kalian. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Bahkan  Allah berjanji akan meneguhkan kedudukan orang yang beriman yang senantiasa berusaha menolong (agama) Allah. Allah berfirman : 

  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Wahai orang orang yang beriman !. Jika kamu menolong (agama) Allah niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.   (Q.S Muhammad 7). 

Syaikh as Sa’di berkata : Ini merupakan janji dari Allah Ta’ala Yang Mahamulia dan Mahabenar janjinya. (Caranya atau syaratnya yaitu), siapapun yang menolong-Nya dengan perkataan dan perbuatan maka akan diberi  pertolongan  serta diberi kemudahan untuk mendapatkan kemenangan seperti keteguhan hati dan (kebaikan) yang lainnya. (Tafsir Taisir Karimir Rahman)

Wallahu A'lam. (3.043).