Minggu, 25 Desember 2022

SEMUA AMALAN AKAN DITIMBANG DI AKHIRAT

 

SEMUA AMALAN AKAN DITIMBANG DI AKHIRAT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Mati disebut juga sebagai kiamat kecil yaitu tanda berakhirnya tahap kehidupan seseorang di dunia. Tetapi ketahuilah bahwa hakikatnya mati itu bukan masalah besar bagi seorang hamba. Masalah besar adalah BAGAIMANA KEHIDUPAN YANG AKAN DIJALANI SETELAH MATI.

Oleh karena itu Rasululllah Salallahu 'alaihi Wasallam mengingatkan tentang TANDA ORANG YANG CERDAS, sebagaimana sabda beliau : 

أَفْضَلُ المُؤْمِنِينَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَ أَكْيَسُهُمْ أَكْثَرُهُم لِلمَوتِ ذِكْرًا وَ أَحْسَنُهُم لَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ

Orang mukmin yang paling utama adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang mukmin yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan PALING BAGUS PERSIAPANNYA UNTUK MENGHADAPI KEMATIAN. Mereka semua adalah orang-orang cerdas. (H.R at Tirmidzi).

Allah Ta'ala telah mengingatkan tentang persiapan menghadapi kehidupan setelah mati, sebagaimana firman-Nya : 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Wahai orang orang yang beriman. Bertakwalah kepada Allah dan hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (Q.S  al Hasyr 18).

Ketahuilah bahwa sungguh di akhirat kelak SEMUA AMAL PERBUATAN KITA AKAN DIPERLIHATKAN, DITIMBANG DAN HARUS DIPERTANGGUNG JAWABKAN. Dan barangsiapa yang berat timbangan amal kebaikannya maka dialah ORANG YANG BERUNTUNG. Allah Ta’ala berfirman : 

وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ ۚ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ

Timbangan pada hari itu (menjadi ukuran) kebenaran. Maka barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan) nya , mereka itulah orang yang beruntung. Dan barangsiapa ringan timbangan (kebaikan) nya maka mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri, karena mereka mengingkari ayat ayat kami. (Q.S al A’raf 8-9).

Allah Ta’ala berfirman : 

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا ۖ وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَاسِبِينَ

Dan Kami akan tegakkan timbangan yang adil pada hari Kiamat, sehingga tidak seorang pun yang dirugikan walaupun sedikit. Jika amalan itu hanya seberat biji sawi pun, pasti Kami akan mendatangkan (pahala) nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan. (Q.S  al Anbiya’ 47).

Jadi, amal shalih sekecil apapun akan memberatkan timbangan kebaikan dan begitupun sebaliknya. Oleh karena itu janganlah seseorang mengabaikan amal baik sekecil apapun dan tetap menghindar dari amal buruk sekecil apapun. Dalam perkara ini Imam Hasan al Bashri memberi nasehat berharga, beliau berkata : 

= Wahai anak Adam, engkau kelak akan melihat seluruh amalmu akan ditimbang, yang baiknya maupun yang buruknya. Maka, janganlah engkau meremehkan sebuah amalan kebaikan.

= Walau amalanmu itu kecil, kelak engkau akan berbahagia kala melihatnya. Dan janganlah engkau meremehkan sebuah amal buruk. Walaupun kecil, kelak engkau akan bersedih jika melihatnya. (Abu Nu'aim, Hilyatul Auliya').

 

Wallahu A'lam. (2.852).

  

SUNGGUH KITA DICIPTAKAN HANYA UNTUK BERIBADAH

 

SUNGGUH KITA DICIPTAKAN HANYA UNTUK BERIBADAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketahuilah bahwa  tidak ada kegunaan kita manusia ini diciptakan Allah Ta'ala kecuali untuk beribadah, mengabdi dan menyembah kepada Allah Ta'ala. Perkara ini dijelaskan Allah Ta'ala dalam firman-Nya :

Pertama : Dalam surat al Baqarah ayat 20. Allah Ta'ala berfirman :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعْبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمْ وَٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai manusia !. Sembahlah Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dan orang orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Kedua : Dalam surat adz Dzariyat ayat 56. Allah Ta'ala berfirman :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Aku tidak menjadikan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. 

Ketahuilah bahwa para ulama  telah menjelaskan tentang makna ibadah :

(1) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : Ibadah adalah satu istilah yang menghimpun seluruh apa yang DICINTAI DAN DIRIDHAI oleh Allah Ta'ala berupa perkataan dan perbuatan yang lahir dan yang bathin. (Al 'Ubudiyah).

(2) Imam Ibnu Katsir berkata : Di dalam (istilah) syariat (ibadah) adalah suatu   dari apa yang menggabungkan kesempurnaan atau puncak kecintaan, ketundukan dan rasa takut. (Tafsir Ibnu Katsir)

Tentang surat adz Dzariyat ayat 56 ini, Syaikh  as Sa'di berkata :  Inilah tujuan Allah Ta'ala menciptakan jin dan manusia. Dan Allah Ta'ala mengutus semua Rasul untuk tujuan tersebut. Tujuan tersebut MENYEMBAH ALLAH TA'ALA, yang mencakup : (1) Berilmu tentang Allah Ta'ala. (2) Mencintai-Nya. (3) Kembali kepada-Nya. (4) Menghadap kepada-Nya dan (5) Berpaling dari selain-Nya.

Semua tujuan itu tergantung kepada ilmu dan ma'rifatullah (mengenal Allah Ta'ala). Semakin bertambah pengetahuan seorang hamba terhadap Rabb-nya maka ibadahnya semakin sempurna. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Tentang ayat ini pula, Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata : Seandainya, umat manusia sering merenungi ayat ini, tentu mereka banyak mengingat atau banyak mendapatkan pelajaran. Kita hanya diciptakan untuk beribadah kepada Allah Ta'ala. Orang yang menyadari bahwa dia diciptakan HANYA UNTUK BERIBADAH maka seyogyanya DIA MENJADIKAN SEMUA AMALAN DAN AKTIVITASNYA SEBAGAI IBADAH (bernilai ibadah, peny.).

Semoga Allah Ta'ala menjadikan kita orang yang mendapat taufiq dari Allah Ta'ala. Orang yang mendapatkan taufiq, jika dia makan maka dia makan dalam rangka taat kepada Allah Ta'ala karena Allah Ta'ala memerintahkan para hamba-Nya untuk makan. Allah Ta'ala berfirman :

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا 

Makan dan minumlah kalian (Q.S al Baqarah 187).

Ketka dia makan bertujuan untuk menjaga badannya karena kita diperintah untuk menjaga badan. Jika dia makan DENGAN NIAT untuk mendapatkan kekuatan agar bisa melaksanakan KETAATAN KEPADA ALLAH TA'ALA maka makan  minum yang dia nikmati menjadi makan dan minum  bernilai ibadah.

Sejatinya, jika seorang anak manusia menyadari kadar diri dan kadar kehidupannya maka dengan pertolongan Allah Ta'ala dia bisa merubah sesuatu kebiasaannya menjadi (sesuatu yang bernilai) ibadah (yang mendatangkan pahala baginya). Dia juga bisa menyempurnakan ibadah ibadahnya dengan menghadirkan  niatnya. Dengan demikian dia telah merealisasikan firman-Nya :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Aku tidak menjadikan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (Q.S adz Dzariyat 56). Dari Fatawaa Nuur 'ala ad Darbi, dengan diringkas.

Wallahu A'lam. (2.851)

 

 

 

Sabtu, 24 Desember 2022

NASEHAT BERMANFAAT DARI IMAM IBNUL MUBARAK

 

NASEHAT BERMANFAAT DARI IMAM IBNUL MUBARAK

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Al Imam Ibnul Mubarak, nama lengkapnya adalah Abdullah bin al Mubarak bin Wadhih wafat tahun 181 Hijriah. Beliau ulama besar di zamannya. Beliau sangat sering melakukan rihlah atau perjalanan dalam rangka menuntut ilmu. Beliau seorang yang zuhud, pemberani dalam berjihad melawan musuh, pedagang dan sangat dermawan.

Satu perkara yang sangat baik untuk kita teladani dari  Ibnul Mubarak yaitu  SANGAT SUKA MENYEMBUNYIKAN AMALNYA. Ibnu Asakir berkata : Salah satu akhlak beliau yang menonjol adalah selalu berusaha menyembunyikan amal kebaikannya dari penglihatan manusia.

Al Marwazi mengatakan bahwa aku pernah mendengar Imam Ahmad bin Hambal berkata : IBNUL MUBARAK TIDAK DIANGKAT DERAJATNYA OLEH ALLAH TA'ALA KECUALI KARENA DIA TELAH BANYAK MELAKUKAN KEBAIKAN YANG TIDAK DIKETAHUI ORANG BANYAK. (Taarikh Dimasyqi).

Salah satu kebaikan atau amal ibadah yang disembunyikan oleh Ibnul Mubarak adalah sebagaimana diceritakan oleh  Muhammad bin A’yun  bahwa dia bersama Ibnul Mubarak dalam suatu peperangan di negeri Rum. Ketika kami selesai shalat Isya Ibnul Mubarak pun merebahkan kepalanya untuk menampakkan kepadaku  bahwa dia sudah tertidur. Maka akupun, dengan tombak di tanganku meletakkan kepalaku diatas tombak itu, seakan akan aku juga sudah tertidur. 

Ibnul Mubarak menyangka aku sudah tertidur. Lalu dia bangun diam diam agar tidak ada seorang pun dari pasukan yang mendengarnya dan dia shalat malam hingga datang fajar. Pada  saat fajar telah terbit maka dia pun datang untuk membangunkan aku karena dia menyangka aku telah tidur, seraya berkata : Wahai Muhammad, bangunlah !. Aku pun berkata : Sesungguhnya aku tidak tidur. Ketika Ibnul Mubarak mendengar hal ini dan mengetahui bahwa aku telah melihat shalat malamnya.

Sejak itu aku tidak pernah melihatnya lagi berbicara denganku dalam setiap peperangan, seakan akan dia tidak suka aku mengetahui shalat malamnya. Aku tidak pernah melihat orang yang lebih menyembunyikan kebaikan kebaikannya daripada Ibnul Mubarak. (Ibnu Abi Hatim, al Jarh wa at Ta’dil).

Sungguh, Ibnul Mubarak telah banyak mengajarkan ilmu dan memberi nasehat kepada orang banyak di zamannya dan alhamdulillah sebagian nasehat itu sampai kepada kita. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa  pada suatu kali ada seseorang datang kepada al Imam Ibnul Mubarak lalu berkata : Berikanlah nasehat kepadaku. Maka beliau pun mengatakan :

= Jauhilah olehmu dari banyak melihat sesuatu yang tidak bermanfaat, niscaya engkau akan dimudahkan untuk lebih khusyu’ (dalam beribadah).

= Jauhilah olehmu dari banyak berbicara yang tidak bermanfaat, niscaya engkau akan dimudahkan untuk  memiliki hikmah (dalam segala keadaan).

= Jauhilah olehmu dari banyak makan secara berlebih-lebihan, niscaya engkau akan dimudahkan untuk beribadah.

= Jauhilah olehmu dari keinginan untuk mengetahui dan mencari-cari aib orang lain, niscaya engkau akan dimudahkan untuk melihat dan mengetahui aib dirimu sendiri.

= Dan tinggalkan untuk berdebat (berbalas komentar) dalam berbicara tentang Dzat Allah (dalam masalah agama), niscaya engkau akan dilindungi dari penyakit kebimbangan dan kemunafikan. (Tanbihul Mughtaribin).

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A'lam. (2.850)

Jumat, 23 Desember 2022

INFAK DALAM KEADAAN SEMPIT BALASANNYA LEBIH BESAR

 

INFAK DALAM KEADAAN SEMPIT BALASANNYA LEBIH BESAR

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh berinfak dan bersedekah dalam bentuk harta untuk orang orang yang membutuhkan  adalah sangat dianjurkan dan terpuji dalam syariat. Berinfak bukan hanya untuk orang memiliki kelapangan bahkan dalam keadaan sempit juga dianjurkan. Bahkan itu adalah salah tanda orang bertakwa. Allah Ta'ala berfirman :

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(Orang yang bertakwa adalah) orang yang menafkahkan hartanya dalam  KEADAAN LAPANG ATAU DALAM KEADAAN SEMPIT, menahan amarahnya dan suka memaafkan kesalahan manusia. Dan Allah menyukai orang orang yang berbuat baik. (Q.S Ali Imran 134).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan dalam sabda beliau bahwa sedekah paling utama adalah sedekah orang yang tidak memiliki banyak harta  :

أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ جُهْدُ الْمُقِلِّ وَ ابْدَأْ بِمَنْ تَعُوْلُ

Sedekah yang paling utama adalah sedekahnya orang yang kekurangan, dan mulailah dari orang yang kamu tanggung. (HR. Abu Dawud, Imam Ahmad, Hakim dan yang selainnya, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Jadi ketika seseorang dalam keadaan sempit atau kekurangan  juga sangat dianjurkan untuk berinfak dan bersedekah sesuai kemampuannya. Ketahuilah bahwa sedekah dalam keadaan sempit dengan jumlah yang sedikit BISA MEMILIKI NILAI SERTA BALASAN YANG LEBIH BESAR.

Seseorang memiliki harta misalnya 1 milyar rupiah lalu dia  berinfak 1 juta rupiah (satu permil dari hartanya), nilainya di sisi Allah akan berbeda dengan seseorang yang memiliki harta 10 juta rupiah lalu dia berinfak  100 ribu rupiah (satu persen dari hartanya).

Ingatlah satu kaidah bahwa : Al jaza’-u min jinsil amal. Sesungguhnya balasan itu berbanding dengan (beratnya) amal perbuatan.

Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

سَبَقَ دِرْهَمٌ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ قَالُوا وَكَيْفَ قَالَ كَانَ لِرَجُلٍ دِرْهَمَانِ تَصَدَّقَ بِأَحَدِهِمَا وَانْطَلَقَ رَجُلٌ إِلَى عُرْضِ مَالِهِ فَأَخَذَ مِنْهُ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ فَتَصَدَّقَ بِهَا


Satu dirham mengungguli seratus ribu dirham. Seorang bertanya : Bagaimana itu (terjadi) wahai Rasulullah ?. Beliau menjawab : Seseorang mempunyai harta yang melimpah lalu dia mengambil dari kantongnya seratus ribu dirham lalu menyedekahkannya, dan seseorang yang lain hanya memilik dua dirham, dia mengambil satu dirham lalu  mensedekahkannya. (H.R Imam an Nasa-i, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam shahihnya).

Sebagai penutup tulisan ini dinukil satu hadits tentang keutamaan berinfak dan bersedekah.

Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إن الصدقة لتطفئ عن أهلها حر القبور وإنما يستظل المؤمن يوم القيامة في ظل صدقته

Sesungguhnya sedekah akan memadamkan panas kubur bagi pelakunya. Sungguh pada hari Kiamat, seorang mukmin akan berlindung di bawah naungan sedekahnya. (Lihat Silsilah as Shahihah, 3484).

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A'lam. (2.849)

   

Kamis, 22 Desember 2022

UANG TIDAK BISA MEMBELI SEMUA YANG DIINGINKAN MANUSIA

 

UANG TIDAK BISA MEMBELI SEMUA YANG DIINGINKAN MANUSIA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Di zaman ini sebagan manusia berusaha keras bahkan seperti berlomba untuk mendapatkan rizki berupa uang yang banyak. Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata : Mencintai harta itu merupakan tabiat manusia. Ini sebagaimana djelaskan Allah Ta’ala dalam firman-Nya :

وَإِنَّهُۥ لِحُبِّ ٱلْخَيْرِ لَشَدِيدٌ

Dan sesungguhnya dia  sangat bakhil karena cintanya kepada harta.  (Q.S al ‘Adiyaat 8).

Juga berdasarkan firman Allah : 

وَتُحِبُّونَ ٱلْمَالَ حُبًّا جَمًّا

Dan kalian mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.   (Q.S al Fajr 20).

Bahkan kita mengetahui bahwa dalam usaha mendapatkan harta yang banyak ada diantaranya yang salah jalan, seperti :

(1) Tidak terlalu memperhatikan sumbernya apakah halal atau bukan. Sungguh kita sering mendapat kabar bahwa ada banyak manusia mengambil uang yang bukan haknya lalu mendapat malu bahkan kehinaan karena diketahui orang banyak di seantero negeri.

(2) Menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk memburu rizki berupa uang sehingga ada yang lalai dalam kewajiban beribadah.

Lalu apa yang mendorong sebagian orang berlaku demikian ?. Diantara penyebabnya adalah salah memahami kebutuhan terhadap uang serta cinta dunia secara berlebihan. Mereka menganggap bahwa JIKA MEMILIKI BANYAK UANG AKAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAAN. 

Sungguh, ketahuilah bahwa harta berupa uang yang dikumpulkan bukanlah segalanya. PEMILIK UANG YANG BANYAK BAHKAN BERLIMPAH TIDAK BISA MEMBELI SEMUA  YANG DIINGINKANNYA. Orang bijak berkata : APA SIH  YANG BISA DIBELI DENGAN UANG ?.  

(1) Uang memang bisa membeli makanan yang paling enak dan mahal, tetapi uang tak bisa membeli selera makan.

(2) Uang memang bisa membeli tempat tidur yang mahal dan paling empuk,  tetapi uang tak bisa membeli tidur.

(3) Uang memang bisa membeli obat yang paling mahal dan paten membayar dokter yang paling ahli, tetapi uang tak bisa membeli sehat.

(4) Uang memang bisa membeli rumah yang mewah, tetapi uang tak bisa membeli home sweet home, baiti jannati, rumahku surgaku.

Tulisan ini tentu tidak bermaksud untuk melemahkan semangat orang orang beriman untuk berusaha mencari rizki berupa harta atau uang untuk memenuhi kebutuhan dirinya, keluarganya dan orang orang yang dalam tanggungannya. Dengan demikian bisa terjaga kehormatan diri yaitu tidak meminta minta kepada orang lain.

 

Wallahu A'lam. (2.848)

 

Rabu, 21 Desember 2022

MENJAUHKAN DIRI DARI ADZAB DENGAN ISTIGHFAR DAN BERSYUKUR

 

MENJAUHKAN DIRI DARI ADZAB DENGAN ISTIGHFAR DAN BERSYUKUR

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh orang orang yang beriman SANGATLAH BESAR RASA TAKUTNYA DARI ADZAB ALLAH. Ketahuilah bahwa  adzab Allah bisa jadi diturunkan di dunia dan adzab di akhirat sangatlah  dahsyat. Oleh karena itu orang orang selalu berusaha menjauhkan diri dari dosa dan maksiat sekecil apapun.

Selain itu, orang orang beriman sangatlah dianjurkan untuk banyak memohon ampun atau BERISTIGHFAR  banyak BERSYUKUR YAITU SEBAGAI  UPAYA MENJAUHKAN DIRI DARI ADZAB ALLAH TA'ALA.

Pertama : Banyak beristighfar. Allah Ta’ala berfirman : 

وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Dan tidaklah (pula) akan mengadzab mereka, sedang mereka memohon ampun. (Q.S al Anfal 33).

Syaikh as Sa’di berkata tentang ayat ini : Ini adalah pencegah adzab dari mereka padahal sebab sebab turunnya adzab telah terpenuhi. (Taisir Karimir Rahman)

Kedua : Banyak bersyukur. Diantara cara yang dianjurkan untuk bersyukur kepada Allah Ta’ala adalah : 

(1) Membenarkan dengan hati dengan keyakinan yang kuat bahwa semua nikmat adalah dari Allah Ta’ala. Sungguh Allah Ta’ala berfirman : 

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan. (Q.S an Nahal  53).

(2) Memuji Allah Ta’ala dengan lisan melalui ucapan ALHAMDULILLAH. Dan juga dengan menyebut nyebut  nikmat yang diberikan Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya : 

 وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Dan terhadap nikmat Rabb-mu hendaklah engkau menyebutnya (dengan bersyukur) Q.S adh Dhuha 11.

(3) Menggunakan nikmat nikmat yang dianugerahkan Allah Ta’ala sebagai sarana untuk MELAKSANAKAN PERINTAH-NYA dan MENJAUHI LARANGAN-NYA. Itulah yang dimaksud bersyukur dengan perbuatan.

Ketahuilah bahwa seorang hamba yang bersyukur, sebenarnya dia bersyukur untuk dirinya. Allah Ta’ala berfirman : 

فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

Barangsiapa bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barangsiapa ingkar maka sesungguhnya Rabb-ku Mahakaya dan Mahamulia. (Q.S an Naml 40).

Sungguh Allah Ta’ala tak mengadzab orang orang bersyukur kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya :  

مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا

Allah tidak akan mengadzabmu jika kamu bersyukur dan beriman. Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui. (Q.S an Nisa’ 147).

Oleh karena itu orang orang beriman setiap saat haruslah memohon ampun dan bersyukur kepada Allah Ta’ala dan BERDOA  agar diberi HIDAYAH MENJADI ORANG YANG BANYAK MEMOHON AMPUN DAN SELALU  BERSYUKUR. Wallahu A'lam. (2.847) 

 

 

 

 

 

Selasa, 20 Desember 2022

INGIN SHALAT LAIL TETAPI TERKADANG MERASA BERAT BANGUN

 

INGIN SHALAT LAIL TETAPI TERKADANG  MERASA BERAT BANGUN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh shalat lail atau shalat tahajjud memiliki keutamaan yang banyak. Oleh karena itu umumnya orang orang beriman ingin mengamalkannya. Diantara keutamaannya adalah :

Pertama : Shalat lail adalah shalat yang paling utama setelah shalat fardhu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

أَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ صَلاَةِ الْمَفْرُوْضَةِ، صَلاَةُ اللَّيْلِ.

Shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat yang dilakukan di malam hari. (H.R Imam Muslim)

Kedua : Akan diberi dan dipenuhi permintaan seorang hamba untuk kebaikan dunia dan akhiratnya. Ini dijelaskan Rasulullah dalam hadits berikut :       

عَنْ جَابِرٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ فِي اللَّيْلِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

Dari Jabir, ia barkata, Aku mendengar Rasulullah Salllahu ‘alaihi Wasallam bersabda : Sesungguhnya pada malam hari itu benar-benar ada saat yang seorang muslim dapat menepatinya untuk memohon kepada Allah suatu kebaikan dunia dan akhirat, pasti Allah akan memberikannya (mengabulkannya) dan itu setiap malam. (H.R Muslim dan Ahmad)

Ibnu Rajab al Hambali mengatakan :  Waktu tahajud di malam hari adalah sebaik-baik waktu pelaksanaan shalat sunnah. Ketika itu hamba semakin dekat dengan Rabb-nya. Waktu tersebut adalah saat dibukakannya pintu langit dan diijabahnya  doa. Saat itu adalah waktu untuk mengemukakan berbagai macam kebutuhan  dan permohonan kepada Allah Ta’ala. (Lathaif al Ma'arif).

Sungguh sangat banyak saudara saudara yang ingin melakukan shalat tahajud atau shalat lail ini, tetapi terkadang terhalang untuk bisa bangun beberapa waktu sebelum shubuh. Ketika keadaan sulit bangun ini sering mendatangi seseorang meskipun telah berniat untuk bangun, maka HARUSLAH BERSEGERA MELAKUKAN MUHASABAH ATAU INTROSPEKSI DIRI. Ketahuilah bahwa ketika seorang hamba  terhalang untuk beribadah dan berbuat baik itu adalah  TERMASUK SALAH SATU MUSIBAH YANG MENDATANGKAN KERUGIAN DAN PENYESALAN.

Sungguh suatu musibah mendatangi seseorang adalah karena dosa yang dilakukannya. Allah Ta’ala  berfirman :

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ    

Dan musibah apa saja yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan kesalahanmu). Q.S asy Syuura 30.

Para ulama menjelaskan bahwa kasabat aidiikum, perbuatan tanganmu dalam ayat ini maknanya adalah dosa dosa kalian.

Ibnu Qayyim al Jauziyah rahimahullah mengatakan : Di antara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat dan akibat dosa adalah mendatangkan bencana (musibah). Oleh karena itu, hilangnya suatu nikmat dari seorang hamba adalah karena dosa. Begitu pula datangnya berbagai musibah juga disebabkan oleh dosa. (Al Jawabul Kaafi)

Ibnu Rajab al Hambali rahimahullah mengatakan : Tidaklah disandarkan suatu kejelekan (kerusakan) melainkan pada dosa karena semua musibah, itu semua disebabkan karena dosa. (Latha’if Ma’arif)

Oleh karena ketika seseorang sering gagal untuk melksanakan shalat lail atau shalat tahajud karena TERASA SANGAT BERAT UNTUK BANGUN maka segeralah MEMPERBANYAK MEMOHON AMPUN. Selain itu juga sangat penting berusaha sungguh sungguh menghindari dosa SEKECIL APAPUN.

Ali bin Abi Thalib berkata :Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat. (Al Jawabul Kaafi).

Wallahu A'lam. (2.846).