Sabtu, 29 September 2018

BERINFAKLAH DENGAN HARTA YANG BAIK


BERINFAKLAH DENGAN HARTA YANG BAIK

Oleh : Azwir B. Chaniago

Dalam syariat Islam, berinfak ataupun bersedekah adalah satu perbuatan yang sangat dianjurkan. Bahkan jika seseorang memiliki harta mencapai nisab atau jumlah tertentu dan telah dimiliki dalam waktu satu tahun maka mengeluarkan harta berbentuk zakat menjadi wajib baginya dalam jumlah yang ditetapkan syariat.

Sungguh berinfak dan bersedekah memiliki keutamaan yang banyak. Diantaranya adalah :

Pertama : Allah Ta’ala akan melipat gandakan harta yang diinfakkan di jalan –Nya, yakni sebagaimana firman-Nya

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki dan Allah Mahaluas dan Maha Mengetahui. (Q.S al Baqarah 261)

Kedua : Manfaat yang diperoleh oleh pemberi sedekah jauh melebihi manfaat yang didapat oleh sipenerima sedekah . Salah satu diantaranya adalah akan menghapus dosa dan kesalahan. 

Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ وَالْحَسَدُ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

Sedekah itu akan memadamkan dosa sebagaimana air dapat memadamkan api. Hasad akan memakan kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar. (H.R al Baihaqi dalam Syu’abul Iman)

Satu hal yang SANGAT PENTING diketahui adalah bahwa bersedekah atau berinfak HARUSLAH DENGAN HARTA YANG  BAIK. Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam bersabda : 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا

Dari Abu Hurairah, dia mengatakan, Rasulullah bersabda : Sesungguhnya Allah Ta’ala itu Mahabaik, tidak menerima kecuali yang baik…..(H.R Imam Muslim).

Syaikh Utsaimin berkata : (Tidak menerima kecuali yang baik), Dia tidak akan menerima perkataan yang buruk, perbuatan yang buruk dan selainnya. Setiap yang buruk tertolak di sisi Allah Ta’ala. Dia hanya akan menerima yang baik, yang bersih saja.
Diantaranya ADALAH SEDEKAH DENGAN HARTA YANG HALAL, ALLAH TIDAK AKAN MENERIMANYA karena Dia tidak menerima sesuatu kecuali hanya  yang baik baik saja. 

Oleh karenanya terdapat keterangan dalam sabda Rasulullah :

مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ وَلاَ يَقْبَلُ اللهُ إِلاَّ الطَّيِّبَ فَإِنَّ اللهَ يَقْبَلُهَا بِيَمِيْنِهِ ثُمَّ يُرَبِّيْهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا يُرَبِّيْ أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ، حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ الْجَبَلِ.

Barangsiapa yang bersedekah dengan sesuatu yang senilai dengan sebutir kurma dari USAHA YANG HALAL, sedangkan Allah tidaklah menerima kecuali yang thayyib (yang baik), maka Allah akan menerima sedekahnya dengan tangan kanan-Nya kemudian mengembangkannya untuk pemiliknya seperti seorang di antara kalian membesarkan kuda kecilnya hingga sedekah tersebut menjadi besar seperti gunung. (H.R Imam  Bukhari dan Imam Muslim). Lihat Syarah Arba’in an Nawawiyah.

Terkadang ada diantara manusia yang berkata : Infak, sedekah ataupun zakat adalah untuk membersihkankan harta. Jadi kalau hartaku kotor karena didapat dari yang tidak halal maka sebagian aku sedekahkan maka jadilah bersih. Ini adalah pendapat YANG BATHIL. Barangkali mengambil keterangan dari surat al Anfal 103 TETAPI DENGAN PEMAHAMAN YANG KELIRU BERAT. 
Allah Ta’ala berfirman :

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Ambillah zakat dari harta mereka guna membersihkan dan menyucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.(Q.S at Taubah 103).

Ketahuilah bahwa tafsir ayat ini adalah : “Dengan zakat itu kamu membersihkan mensucikan mereka” yakni membersihkan mereka dari dosa dosa dan akhlak akhlak tercela. “Dan menyucikan mereka” yakni menumbuhkan dan menambahkan akhlak akhlak mereka yang baik dan amal mereka yang shalih, menambah pahala mereka di dunia dan di akhirat, menyuburkan harta mereka. (Tafsir Taisir Karimir Rahman, Syaikh as Sa’di).

Sungguh tak mungkin harta haram yang diinfakkan, disedekahkan dan dizakatkan akan bernilai di sisi Allah dan juga tak mungkin  bisa menjadikan harta haram jadi harta yang bersih. 

Oleh karena itu maka orang orang beriman senantiasa mencari harta yang halal dan baik lalu sebagian di infakkan atau disedekahkan maka akan bernilai di sisi Allah Ta’ala. Insya Allah ada manfaatnya untuk kita semua. Wallahu A’lam. (1.400)
      

DOSA MENDATANGKAN KEGALAUAN DI HATI


DOSA MENDATANGKAN KEGALAUAN DI HATI

Oleh : Azwir B. Chaniago

Satu hadits dari an Nawwas bin Sam’an bahwa Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
عَنْ النَّوَّاسِ بنِ سَمْعَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عليه وسلم قَالَ : الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَاْلإِثْمُ مَا حَاكَ فِي نَفْسِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ .

Kebaikan adalah akhlak yang baik, dan DOSA ADALAH APA YANG MEMBUAT BIMBANG  (RAGU) DALAM JIWAMU DAN ENGKAU TIDAK SUKA JIKA DIKETAHUI MANUSIA. (H.R Imam Muslim).

Syaikh Utsaimin berkata (jadi) yang dimaksud dengan dosa adalah sesuatu yang meragukanmu dan engkau menjadi resah atau galau dibuatnya. Dan engkau tidak suka jika diketahui manusia. Kenapa, karena itu menjadi objek celaan dan aib maka engkau pun akan mendapatkan dirimu menjadi ragu ragu karenanya dan tidak suka jika diketahui manusia. 

Ungkapan seperti ini cocok bagi orang orang yang hatinya (masih) bersih dan sehat. Baginya, yang menyesakkan dirinya adalah perbuatan dosa yang dia tidak suka diketahui orang lain.

Adapun orang tidak taat kepada Allah Ta’ala, dimana MEREKA TIDAK AKAN PEDULI ATAU MALAH BERBANGGA DIRI KETIKA MELAKUKAN KEMUNGKARAN DAN DOSA. (Syarah Arbain an Nawawiyah).

Jadi disinilah perbedaan yang nyata diantara orang yang beriman dengan orang orang yang jauh dari Allah Ta’ala, yaitu : 

(1) Ketika orang orang  beriman berbuat dosa maka hatinya  menjadi galau dan gelisah. Mereka sangat takut bukan saja karena aibnya akan terbuka tetapi SANGAT TAKUT dengan adzab Allah yang akan mendatanginya di dunia dan juga di akhirat kelak. 

(2) Ketika orang yang jauh dari Allah melakukan perbuatan dosa maka mereka tidak merasa ada beban apapun. Sangat sering kita lihat mereka senang senang saja. Bahkan ketika aibnya terbuka lalu diketahui orang banyak melalui media mereka masih ketawa ketawa saja. Tak ada rasa takut malu sedikitpun apalagi rasa malu sudah sangat jauh dari mereka.

Sejalan dengan makna hadits diatas, Rasulullah memberi nasehat kepada Wabishah tentang AL BIRRU DAN AL ITSMU :

يَا وَابِصَةُ اسْتَفْتِ قَلْبَكَ وَاسْتَفْتِ نَفْسَكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ

Wahai Wabishah, mintalah fatwa pada hatimu, (tiga kali), karena kebaikan adalah yang membuat tenang jiwa dan hatimu. Dan dosa adalah yang membuat bimbang hatimu dan goncang dadamu. Walaupun engkau meminta fatwa pada orang-orang dan mereka memberimu fatwa” (H.R Imam Ahmad, Syaikh al Albani mengatakan hadits ini hasan lighairihi).

Di dalam satu hadis disebutkan bahwa seorang fajir (orang yang selalu berbuat dosa), ketika ia memandang remeh dosa-dosanya adalah seperti ia melihat seekor lalat yang hinggap di batang hidungnya, kemudian ia mengusirnya seperti ini lalu terbang.

عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا (رواه البخاري)

Dari Abdullah bin Mas’ud, dia berkata, bahwa Nabi shallallahualaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya seorang mukmin (ketika) ia melihat dosa-dosanya, adalah seperti (ketika) ia duduk di lereng sebuah gunung, dan ia sangat khawatir gunung itu akan menimpanya. Sedangkan seorang fajir (orang yang selalu berbuat dosa), ketika ia melihat dosa-dosanya adalah seperti ia melihat seekor lalat yang hinggap di batang hidungnya, kemudian ia mengusirnya seperti ini lalu terbang (ia menganggap remeh dosa). (H.R Imam Bukhari).

Oleh karena itu seorang beriman akan selalu menjaga dirinya dari perbuatan dosa sehingga hatinya menjadi tenang, jauh dari kegelisahan dan kegalauan. Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.399)

PINDAH AGAMA UNTUK MENDAPATKAN WANITA IDAMAN


PINDAH AGAMA UNTUK MENDAPATKAN  WANITA IDAMAN

Oleh : Azwir B. Chaniago
 
Manusia memiliki pandangan kecintaan kepada kesenangan dunia. Sungguh Allah telah menjelaskan hal :ini dalam firman-Nya :
  
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآب

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Q.S Ali Imran 14).

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala  menyebut pada urutan yang pertama kecintaan yaitu terhadap wanita wanita sebelum menyebut anak-anak, harta, dan yang lainnya.  Imam Ibnu Hajar mengatakan : Allah menyebut wanita pada urutan yang pertama sebelum menyebut yang lainnya. Ini memberikan petunjuk kepada kita bahwa fitnah wanita adalah induk dari segala fitnah.

Ungkapan Imam Ibnu Hajar ini selaras dengan hadis Nabi shallallahualaihi wasallam yang diriwayatkan dari Usamah bin Zaid. Beliau bersabda : 

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Begitu hebatnya fitnah wanita maka ada manusia yang mempetaruhkan agamanya. Pindah agama demi mendapat wanita yang diinginkan. Perhatikanlah bagaimana menyedihkannya dua kisah dibawah ini :

Pertama : Imam Ibnu Katsir menceritakan sebuah kisah tentang Abda’ bin Abdurrahim, seorang yang sangat ‘alim, hafal al Qur an, kuat ibadahnya dan juga sering ikut berjihad. Pada satu kali dia ikut berjihad bersama pasukan kaum muslimin melawan pasukan Romawi. Allah memberi kemenangan kepada kaum muslimin sehingga pasukan kaum muslimin bisa menduduki sebagian wilayah Romawi.

Ketika berada di wilayah Romawi yang dikuasai kaum muslimin, Abda’ bin Abdurrahim melihat seorang wanita Romawi dan dia tertarik dan ingin menikah dengan wanita tersebut. Syaithan dan hawa nafsu buruk telah menguasai Abda’. Lalu disampaikannya keinginannya itu kepada wanita Romawi itu. Wanita itu setuju untuk dinikahi dengan syarat Abda’ mau mengikuti agama wanita itu.

Teman temannya mengingatkan agar tetap menjaga imannya. Mereka berkata kepada Abda : Wahai saudaraku, apa yang dilakukan oleh hafalan Qur’anmu ?. Apa yang dilakukan oleh amalanmu selama ini ?. Apa yang dilakukan puasamu ?. Apa yang dilakukan oleh jihadmu ?. Apa yang dilakukan oleh shalatmu ?. Maka diapun menjawab : Ketahuilah, aku telah dilupakan hafalan al Qur’an seluruhnya kecuali firman Allah :

ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong).  maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka). (Q.S al Hijr 3).

Ternyata akhirnya Abda’ telah mendapat yang dia   inginkan yaitu untuk menikah dengan wanita Romawi itu. Akhirnya Abda’ menukar agamanya, murtad lah dia.  (Bidayah wa Nihayah, dengan diringkas).

Kedua : Berkata Imam Ibnul Qayyim al Jauziyah : Diriwayatkan bahwasanya dahulu di kota Mesir ada seorang laki laki yang selalu ke mesjid untuk mengumandangkan adzan dan iqamah serta untuk menegakkan shalat. Nampak pada dirinya cerminan ketaatan dan cahaya ibadah. 

Pada suatu hari laki laki tersebut naik di atas menara seperti biasanya untuk mengumandangkan adzan dan di bawah menara tersebut ada sebuah rumah milik seseorang yang beragama Nasrani. Laki laki  tersebut mengamati rumah itu dari atas menara. Lalu dia melihat seorang wanita yaitu anak pemilik rumah itu. Diapun terfitnah (tergoda) dengan wanita tersebut lalu ia tidak jadi adzan dan turun dari menara menuju wanita tersebut dan memasuki rumahnya dan menjumpainya.

Wanita itupun berkata : Ada apa denganmu, apakah yang kau kehendaki ?.  Laki laki  tersebut berkata : Aku menghendaki dirimu. Sang wanita berkata : Kenapa engkau menghendaki diriku ?. Laki laki itu berkata : Engkau telah menawan hatiku dan telah mengambil seluruh isi hatiku. Sang wanita berkata : Aku tidak akan memnuhi permintaanmu untuk melakukan hal yang terlarang.  Laki laki  itu berkata : Aku akan menikahimu. Sang wanita berkata : Engkau beragam Islam adapun aku beragama Nasrani, ayahku tidak mungkin menikahkan aku denganmu.

Laki laki muadzin itu berkata : Saya akan masuk dalam agama Nasrani.  Sang wanita berkata : Jika kamu benar-benar masuk ke dalam agama Nasrani maka aku akan melakukan apa yang kau kehendaki. Maka masuklah laki laki itu ke dalam agama Nasrani agar bisa menikahi sang wanita.

Diapun tinggal bersama sang wanita di rumah tersebut beberapa saat. Tatkala ditengah hari tersebut (hari dimana dia baru pertama kali tinggal bersama sang wanita dirumah tersebut, peny.) dia naik ke atas atap rumah (karena ada suatu keperluan, peny.). Lalu dia terjatuh dan meninggal. Maka dengan demikian dia tidak sempat menikmati wanita  tersebut dan telah meninggalkan agamanya. (Ad Daa’ wad Dawaa’)

Sungguh benar apa yang disabdakan Rasulullah Salallahu ‘alai wasallam tentang wanita yang merupakan fitnah umat beliau di akhir zaman. Banyak fakta yang bisa kita saksikan di masyarakat kita dewasa ini.

(1) Meskipun wanita diciptakan dengan kondisi akal yang lemah, namun betapa banyak kita saksikan lelaki yang cerdas, kuat gagah perkasa, berpangkat dan kaya raya bisa dibuat lemah dan tunduk di bawah kekuasaannya. 

(2) Meskipun para wanita diciptakan dengan keterbatasannya, namun betapa banyak kita saksikan para penguasa jatuh tersungkur dalam jeratannya.

(3) Meskipun wanita dicipta dengan keterbatasan agama, namun betapa banyak kita saksikan ahli ibadah yang dibuat lalai kepada Rabb-Nya. 

Oleh karena itu seorang hamba harus selalu menjaga dirinya dari fitnah wanita yang ternyata memang tidak ringan. Diantaranya caranya adalah dengan banyak berdoa, selalu menundukkan pandangannya dan selalu menjaga iman dan ibadahnya. Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua, Wallahu A’lam. (1.398).