Rabu, 27 Juli 2016

KENAPA MEREKA ENGGAN BERJILBAB



KENAPA MEREKA MASIH ENGGAN BERJILBAB

Oleh : Azwir B. Chaniago

Wanita Muslim diperintahkan Allah Ta’ala untuk menutup auratnya. Perintah ini sangatlah jelas dan tegas disebutkan dalam al Qur-an. 

Pertama : Surat an Nuur 31. “Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya. Dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya) kecuali yang biasa terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya”.

Kedua : Surat al Ahzaab 59.   Wahai Nabi !. Katakanlah kepada istri istrimu, anak anak perempuanmu dan isteri isteri orang Mukmin hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.  

Kalau kita perhatikan masyarakat muslim di negeri kita dan kita bandingkan dengan keadaan 25 atau 30 tahun yang lalu ternyata pemakaian jilbab atau menutup aurat bagi muslimah saat ini semakin populer. Bukan hanya di acara acara kajian tapi dimana mana sangatlah banyak muslimah yang jilbaban. Di kantor, di sekolah, di Universitas, bahkan di mall atau dipasar. Ini tentu membanggakan bagi kaum muslimin umumnya. 

Namun demikian saat ini masih ada muslimah yang belum memperhatikan perintah Allah untuk menutup aurat mereka. Kalau kita mencoba menilik alasan alasan yang keluar dari mulut mereka kenapa masih enggan berjilbab ternyata banyak yang mengemukakan alasan yang lemah dan  sepele. Bahkan diantaranya terkesan menyebut alasan yang dicari cari. 

Kunci paling utama sebenarnya adalah rendahnya tingkat iman dan ilmu mereka terhadap agamanya. Jika seseorang memiliki iman yang kuat dan tahu ilmu yang benar tentang syariat tentu dia akan sami’naa wa atha’naa, kami dengar dan kami taat, karena menutup aurat adalah perintah Allah Ta’ala.

Mari kita lihat apa saja alasan mereka yang belum mau berjilbab, diantaranya adalah :

Pertama : Jilbab kan pakaian wanita Arab dan saya  bukan wanita Arab lalu kenapa harus ikut ikutan.
Ketahuilah bahwa sebelum turun perintah menutup aurat  ternyata pemakaian jilbab ataupun hijab tidaklah sesuatu yang masyhur dikalangan wanita Arab. Kalaupun ada sebagiannya yang berjilbab tapi jilbab mereka tidaklah memenuhi syarat sebagai penutup aurat sebagaimana yang diperintahkan Allah Ta’ala kepada kaum mukminah.

Imam Ibnu Katsir juga  mengatakan : Perempuan pada zaman Jahiliyah biasa melewati laki-laki dengan keadaan  dada terbuka, tanpa ada selimut sedikitpun. Bahkan kadang-kadang mereka memperlihatkan lehernya untuk memperlihatkan semua perhiasannya.

Imam Zarkasyi memberikan komentarnya mengenai keberadaan perempuan pada masa jahiliyah : Mereka mengenakan pakaian yang membuka leher dan bagian dadanya, sehingga tampak jelas seluruh leher dan urat-uratnya serta anggota sekitarnya. Mereka juga menjulurkan kerudungnya ke arah belakang, sehingga bagian muka tetap terbuka. Oleh karena itu, maka segera diperintahkan untuk mengulurkan kerudung di bagian depan agar bisa menutup dada mereka.

Ketika ayat dalam surat al Ahdzab 59   turun, para wanita muslimah bersegera menutupi kepala mereka. Mereka yang tidak memiliki penutup kepala merobek kain sarung untuk digunakan sebagai penutup kepala. Ini membuktikan bahwa sebelum ayat ini turun, menutup kepala bukanlah merupakan budaya yang umum di kalangan wanita Arab ketika itu.

Dari penjelasan ini dapat diketahui bahwa wanita Arab Jahiliyah umumnya tidak berjilbab karena bukan kebiasaan atau budaya mereka sedangkan   muslimah dari turunan bangsa manapun, dimanapun diperintahkan Allah Ta’ala untuk berjilbab termasuk menutupkan kain kerudungnya ke dadanya.

Kedua : Dalam berpakaian saya tidak mau diatur atau dikendalikan orang lain.  
Ketahuilah wahai muslimah, saat ini hampir semua model pakaian wanita langsung atau tidak langsung ternyata  diatur atau dikendalikan orang lain. Bukankah model pakaian wanita kebanyakan diatur (mengikuti) trend di televisi, artis, sinetron, majalah fashion serta para model dan iklan busana wanita.

Nah kalau semua ini telah  mengatur model dan cara berpakaian kebanyakan  wanita  maka tidak pas kalau ada yang mengatakan bahwa saya tidak mau diatur orang lain dalam urusan pakaian. Lalu bagaimana  menjelaskan dan mempertanggung jawabkannya, sekiranya mau diatur manusia dalam cara berpakaian tetapi tidak mau diatur oleh Allah yang Mahatahu segala kebaikan bagi manusia.   

Ketiga : Kalau pakai jilbab maka lapangan kerja buat semakin sempit bahkan ada perusahaan yang mensyaratkan tidak berjilbab.
Iya memang ada yang mensyaratkan demikian tapi tidak semua. Bahkan ada perusahaan  atau lembaga yang mensyaratkan karyawatinya harus berjilbab yang syar’i. Ketahuilah bahwa rizki itu bukan dari perusahaan atau lembaga tempat kerja. Sungguh rizki itu seluruhnya dari Allah Ta’ala. Rizki adalah nikmat Allah dan semuanya datang dari Allah Ta’ala. 

Bukankah Allah berfirman :  “Wamaa bikum min ni’matin fa minallahi” Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah. (Q.S an Nahl 53).
Dan Allah juga berfirman : “Wama min daabbtin fil ardhi illa ‘alallahi rizquhaa”. Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) dibumi melainkan semuanya dijamin Allah rizkinya (Q.S Hud 6).

Kalau Allah Ta’ala yang menyediakan berbagai nikmat dan menjamin rizki lalu apalagi yang perlu dicemaskan. Memang ada yang perlu dicemaskan oleh seorang hamba yaitu kalau Allah tidak ridha kepadanya karena dia tidak patuh kepada perintah-Nya.

Keempat : Saya merasa risih berjilbab, belum siap, belum berpengalaman.
Memang demikian kenyataan. Jika seseorang baru berjilbab dan merubah penampilan akan berasa risih di awalnya. Risih tersebut  terkadang perasaan sementara. Jika sudah terbiasa tidak ada masalah. Kenapa harus risih, semestinya merasa senang dan bersyukur kepada Allah  karena telah diberi hidayah untuk menutup aurat, memenuhi perintah-Nya.

Kalau dikatakan merasa belum siap mungkin ada benarnya. Ketahuilah dalam banyak hal kita sering merasa belum siap dan jelas tak punya pengalaman. Namun demikian jika seseorang bersungguh sungguh untuk melakukan kebaikan semua yang sulit akan menjadi mudah. Insya Allah. 

Kelima : Saya memang tidak selalu berjilbab, tapi untuk menghadiri acara yang Islami saya selalu jilbaban.
Ini anti (engkau) sudah melangkah kepada kebaikan. Tinggal bagaimana membiasakan menutup aurat pada setiap keadaan bukan hanya pada acara acara tertentu. Memulai memang terkadang sulit tapi kalau sudah dimulai meskipun belum terus menerus maka lebih mudah untuk istiqamah.

Lalu bagaimana caranya agar bisa istiqamah dalam menutup aurat, bukan pada event tertentu saja. Caranya mudah. Ikhlaskan niat menutup aurat itu karena mencari ridha Allah maka Allah akan menolong anti (engkau) untuk istiqamah. Sekiranya berjilbab bukan karena memenuhi perintah Allah, tapi karena tidak enak sama orang orang maka sulit untuk bisa jilbaban terus menerus.

Ketahuilah bahwa perintah menutup aurat atau berjilbab yang ada pada dua ayat diatas, tidak ada menyebutkan atau mengecualikan untuk acara acara tertentu saja tapi pada setiap keadaan.

Keenam : Saya mau jilbaban tapi bagaimana ya, bisa jadi nggak ada yang mau menikah dengan saya.
Ketahuilah bahwa ratusan juta orang berjilbab dan ternyata mereka mendapat suami sebagaimana yang tidak jilbaban. Bahkan di zaman ini banyak laki laki yang mensyaratkan berjilbab kepada calon istrinya.

Lalu datang lagi alasan, kalau saya jilbaban bisa jadi calon suami saya tidak suka. Jika calon suami tidak suka karena alasan berjilbab itu berarti dia tidak layak untuk dijadikan suami. Bagaimana mungkin dia menjadi suami yang baik kalau di awal awal saja sudah melarang berjilbab yang berarti menentang perintah Allah. Kalau perintah Allah saja ditolak lalu perintah siapa yang akan dia amalkan.

Ketujuh : Kalau pakai jilbab bisa bisa dianggap nggak gaul. Saya akan kehilangan banyak  teman.
Ini perasaan anti (engkau) saja. Kenyataan tidak demikian. Kalau kehilangan beberapa  teman yang belum jilbaban insya Allah akan ada penggantinya yaitu teman yang jilbaban, suka ibadah dan suka ngaji. Jadi akan mendapat teman yang lebih baik dan shalihah.

Kalau anti belum mau jilbaban maka agak sulit mendapat teman yang shalihah. Pada hal berteman dengan orang yang shalihah akan mendatang manfaat yang banyak. Diantaranya : (1) Pertemanan dengan orang shalihah itu karena Allah bukan karena yang lain. (2) Pertemanan dengan orang shalihah insya Allah akan langgeng dari dunia sampai akhirat (3) Pertemanan dengan orang shalihah  akan selalu saling mendoakan untuk kebaikan. (4) Pertemanan dengan orang shalihah  akan selalu saling ingat mengingatkan tentang kebaikan.

Selain itu, tidaklah pantas seorang muslimah mengutamakan teman bergaul bahkan takut kehilangan teman sementara itu dia melanggar apa yang diperintahkan Allah kepadanya.  

Kedelapan : Jilbaban belum tentu baik. Bahkan yang jilbaban ada yang mencuri dan korupsi lalu tampil di pengadilan sebagai terdakwa.

Mencuri, korupsi dan berlaku buruk sebenarnya bukan soal jilbab tapi soal orangnya secara pribadi. Terkait dengan pribadi masing masing. Orang yang tidak berjilbab juga sangat banyak yang berkelakuan buruk.

Cuma saja orang yang berjilbab dengan niat memenuhi perintah Allah Ta’ala berarti dalam dirinya ada perasaan takut kepada Allah sehingga kalau mau melakukan keburukan dia akan berfikir lebih dua kali.

Demikianlah diantara alasan kenapa sebagian manusia masih enggan untuk berjilbab. Mudah mudahan penjelasan yang diberikan bagi setiap alasan tersebut bermanfaat buat kita semua. Wallahu A’lam. (734)

Selasa, 26 Juli 2016

RAGAM MANUSIA MEMAKNAI RIZKI



RAGAM MANUSIA MEMAKNAI RIZKI

Oleh : Azwir B. Chaniago

Rizki adalah nikmat dan ketahuilah bahwa semua nikmat itu datang dari Allah Ta’ala, bukan datang dari selain-Nya.  Allah berfirman : “Wa maa bikum min ni’matin fa minallah”. Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari  Allah. (Q.S an Nahl 53)

Sungguh Allah menjamin rizki dari setiap makhluknya. Allah berfirman :  “Wa maa min daabbatin fil ardhi illaa ‘alallahi rizquhaa” Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rizkinya. (Q.S Huud 6).
Namun demikian hendaklah dimaklumi bahwa rizki adalah amanah Allah kepada hamba hamba-Nya. Oleh karena namanya amanah maka manusia tidak boleh menggunakan rizki sesukanya tapi adalah untuk segala sesuatu yang Allah ridha. Dengan kata lain harus digunakan sesuai petunjuk pemberi amanan. Pada waktunya rizki berupa harta akan ditanya. 

Rasulullah bersabda : La tazalu qadama ‘abdin yaumal qiyamati hatta  yus’ala ‘an umurihi fiima afnah, wa ‘an ‘ilmihi fima fa’ala, wa’an  maalihi min ‘aina tasabahu wa fima anfaqahu wa’an jismihi fima ablaa”. Tidak akan beranjak kaki seorang hamba pada hari Kiamat sampai menjawab tentang umurnya untuk apa digunakan, ilmunya untuk apa diamalkan, hartanya dari mana dia dapatkan dan untuk apa dibelanjakan dan badannya untuk apa digunakan. (H.R at Tirmidzi).

Lalu bagaimana manusia memahami dan memaknai rizki yang dianugerahkan Allah kepadanya. Tentu dalam hal ini berbagai keadaannya, diantaranya :

Pertama : Sebagian manusia menganggap bahwa rizki yang diperolehnya adalah semata mata karena hasil usaha, kerja keras, kepandaian dan keahliannya. Dia mungkin lupa bahwa semua adalah dari Allah. Usaha, kerja keras dan kepandaiannya adalah sekedar sebab.
Sungguh orang ini sangat pantas diberi nasehat agar tidak terus menerus salah dalam memaknai dan memahami rizki.

Kedua : Sebagian manusia ada yang mengakui dan meyakini bahwa rizkinya berasal dari Allah Ta’ala yang memberi nikmat kepadanya. Ketika diberi nikmat rizki maka dia merasa boleh menggunakan untuk apapun yang dia mau. Ini  kesalahan dalam memaknai rizki. Ketahuilah bahwa rizki yang diberikan adalah nikmat yang wajib digunakan sebagai sarana agar bisa beribadah kepada Allah Ta’ala. 

Ketiga : Sebagian manusia meyakini betul bahwa rizki yang ada padanya adalah semata mata karena kasih sayang Allah kepadanya. Dia yakin bahwa rizki itu adalah amanah atau titipan. Kalau sewaktu waktu diambil maka dia ridha karena dia yakin akan diganti dengan yang lebih baik. Penggunaannya haruslah sesuai dengan apa yang diridhai oleh pemberi titipan yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dia meyakini pula bahwa sekiranya tidak digunakan sebagaimana tujuan maka sewaktu waktu rizki atau diambil kembali oleh pemberi amanah. Bisa diambil secara fisik atau materinya bahkan yang lebih ditakutkan adalah ketika diambil berkahnya. Akhirnya orang ini akan selalu berhati hati dalam menggunakan rizki, karena dia khawatir akan mendatangkan kerugian jika salah dalam menggunakan rizkinya.

Inilah tipe manusia yang memaknai rizki secara bijak. Insya Allah akan mendatangkan keselamatan baginya  duniawi wa ukhrawi. Wallahu A’lam (733).

Senin, 25 Juli 2016

JANGAN BERSEDEKAH DENGAN YANG BURUK



JANGAN BERSEDEKAH DENGAN SESUATU YANG BURUK

Oleh : Azwir B. Chaniago

Berinfak atau bersedekah kepada orang orang yang membutuhkan adalah sangat terpuji bahkan disyariat.  Allah berfirman : “Wahai orang orang yang beriman !. Infakkanlah sebagian dari rizki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari ketika tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan dan tidak ada lagi syafaat. Orang orang kafir itulah orang yang zhalim”. (Q.S al Baqarah 254).

Sungguh sedekah memiliki keutamaan yang sangat banyak diantaranya akan dilipatgandakan pahalanya sampai 700 kali bahkan bisa lebih. Allah berfirman : “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (Q.S al Baqarah 261).

Keutamaannya yang lain  adalah   akan menghapus dosa seorang hamba sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah dalam sabda beliau : “Wash shadaqatu tuthfi-ul khathii-ata kama yuthfi-ul maa-un naar”. Dan sedekah menghapus kesalahan sebagaimana air memadamkan api. (H.R at Tirmidzi, Imam Ahmad dan selainnya).

Seorang yang berinfak atau bersedekah tentulah mengharapkan nilai yang baik disisi Allah Ta’ala berupa pahala dan sebagai jalan mendekatkan diri kepada-Nya. Untuk yang demikian itu Allah Ta’ala telah mengingatkan dalam firman-Nya : “Wahai orang orang yang beriman !. Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah  kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata (enggan) terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Mahakaya, Maha Terpuji. (Q.S al Baqarah 267).

Sayikh as Sa’di berkata : Allah menyuruh hamba hamba-Nya untukmenginfakkan sebagian apa yang mereka dapatkan dalam berniaga dan sebagian dari apa yang mereka panen dari tanaman dari biji bijian maupun buah buahan. Hal ini mencakup zakat uang maupun seluruh perdagangan yang dipersiapkan untuk dijual belikan.

Termasuk dalam keumuman ayat ini, infak yang wajib maupun yang sunnah. Allah memerintahkan untuk memilih yang baik dari itu semua dan tidak memilih yang buruk untuk mereka sedekahkan kepada (jalan) Allah. Seandainya mereka memberikan barang seperti itu kepada orang orang yang berhak mereka beri pastilah merekapun tidak akan meridhainya. Mereka tidak akan menerimanya kecuali dengan kedongkolan dan memicingkan mata.
Maka seharusnya adalah mengeluarkan yang tengah tengah dari semua itu. Dan yang lebih sempurna  adalah mengeluarkan yang paling baik. Sedang yang dilarang adalah mengeluarkan infak dan sedekah dari yang buruk karena ini tidaklah memenuhi infak yang wajib (seperti zakat) dan tidak akan memperoleh pahala yang sempurna dalam infak yang sunnah. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).
Ketahuilah bahwa bersedekah atau berinfak dengan harta yang baik adalah demikian penting. Perhatikanlah beberapa asbabul nuzul atau sebab turunnya ayat ini, diantaranya :
 Pertama : Imam at Tirmidzi, Ibnu Majah, al Hakim meriwayatkan  dari al Bara’ dia  berkata : Ayat ini (surat al Baqarah 267) turun kepada kami orang orang Anshar. Kami adalah pemilik kebun kurma. Dulu (ada) seseorang menyedekahkan sebagian hasil kebunnya sesuai dengan jumlah yang dimiliki. Dan orang orang (penghuni Suffah) tidak mengharapkan hal hal  yang baik. 

Maka seseorang memberikan (kepada penghuni Suffah) tandan kurma yang terdiri dari kurma yang buruk, tidak keras bijinya dan kurma basah (bahkan) yang sudah rusak serta tandannya yang telah patah.

Kedua : Abu Dawud, an Nasa’i dan al Hakim meriwayatkan, dari Sahl bin Hanif, dia berkata : Dulu (ada) orang orang memiliki kurma yang buruk dari kebunnya untuk disedekahkan, maka turunlah  surat al Baqarah  ayat 267 : “Janganlahkamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan”.  

Ketiga : Al Hakim meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah dia berkata : Nabi memerintahkan untuk membayar zakat fitrah dengan satu sha’ kurma. Lalu seseorang datang dengan membawa kurma yang buruk. Lalu turunlah surat al Baqarah ayat 267.
Oleh karena itu dengan ayat dimaksud serta asbabun nuzulnya, maka menjadi teranglah bagi kita semua bahwa memberikan sedekah atau infak dengan sesuatu yang buruk haruslah dihindari.

Semoga uraian singkat dalam tulisan ini bisa mendorong  kita semua untuk senantiasa bersedekah atau berinfak dengan harta yang baik sehingga mendatangkan nilai yang baik pula disisi Allah Ta’ala.

Wallahu A’lam . (732)

HASAD PENYEBAB DOSA PERTAMA DI LANGIT DAN DI BUMI



HASAD PENYEBAB DOSA PERTAMA DI LANGIT DAN DI BUMI

Oleh : Azwir B. Chaniago

Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa hasad, iri hati atau dengki adalah suatu penyakit yang berbahaya pada diri seseorang yang merasa tidak suka atau benci bila melihat orang lain diberi nikmat oleh Allah. Ketahuilah bahwa orang yang hasad atau dengki kepada saudaranya, hakikatnya adalah seorang yang protes atau tidak suka kepada ketetapan Allah Ta’ala. Orang yang hasad seolah olah memusuhi nikmat nikmat Allah

Abdullah bin Mas’ud berkata : Janganlah kalian memusuhi nikmat-nikmat Allah. Lalu ada yang bertanya : Siapakah yang memusuhi nikmat nikmat Allah. Beliau menjawab : Yaitu orang orang yang dengki atas nikmat dan karunia Allah yang diberikan kepada sebagian manusia. 

Tentang penyakit hasad ini Rasulullah telah mengingatkan kita dalam sabda beliau  bahwa tidak ada kebaikan dalam hasad. Beliau bersabda : “Laa yazalun naasu bikhairin maa lam yatahaasaduu” Senantiasa manusia dalam kebaikan selama mereka tidak saling mendengki. (H.R Imam ath Thabrani, dihasankan oleh Syaikh al Albani).  

Ketahuilah bahwa ternyata penyakit hasad adalah dosa pertama makhluk di langit dan juga dosa pertama makhluk di bumi.

Pertama : Dosa pertama makhluk di langit.
Setelah Allah menciptakan  Adam di surga lalu   Allah berfirman : “Dan sungguh Kami telah menciptakan kamu, kemudian membentuk (tubuh) mu, kemudian Kami berfirman kepada Malaikat : Bersujudlah kamu kepada Adam, maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia (iblis) tidak termasuk mereka yang bersujud.” (Q.S al A’raaf 11).
Ternyata makhluk yang bernama Iblis tidak mau bersujud kepada Adam. Lalu Allah bertanya kepada Iblis kenapa tidak mau bersujud, sebagaimana disebut dalam firman-Nya : “(Allah) berfirman : Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud (kepada Adam) ketika Aku memerintahkanmu.? (Iblis) menjawab: Aku lebih baik dari pada dia. Engkau ciptakan aku dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah. (Q.S al A’raaf 12).

Syaikh as Sa’di berkata : Maka Allah mencela iblis, dan berfirman : Mengapa engkau menolak bersujud kepada Adam yang telah Aku ciptakan dengan kedua Tangan-Ku. Aku (Allah) memuliakannya dan memberinya keutamaan dengan keutamaan yang tidak diberikan kepada selainnya. Kamu mendurhakai-Ku dan meremehkan-Ku. Iblis menantang Rabb-Nya : Dia (iblis)  berkata : Aku lebih baik daripadanya. Kemudian Iblis berdalil atas klaimnya yang bathil tersebut : Engkau menciptakan aku dari api sedangkan dia engkau ciptakan dari tanah. Konsekwensinya adalah bahwa apa yang diciptakan dari api adalah lebih baik dari apa yang diciptakan dari tanah. Ini adalah qiyas yang paling rusak. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Lihatlah bagaimana iblis memiliki penyakit hasad yang besar.  Adam diciptakan belakangan dari Iblis dan diciptakan dari tanah. Lalu disuruh untuk sujud kepada Adam dan  inilah yang membuat Iblis hasad disamping rasa ujub dan sombong. Dia tidak mau sujud kepada Adam yang berarti dia berani menantang  perintah Allah kepadanya lalu Allah melaknatnya.   
   
Kedua : Dosa pertama makhluk di bumi.
Setelah Adam diturunkan ke bumi maka hiduplah dia dengan damai bersama istrinya Hawa. Dengan karunia Allah, Adam beranak pinak, memiliki keturunan yang banyak, berkembang biak dimuka bumi.

Al Hafizh Ibnu Katsir berkata : Para ulama menyebutkan bahwasanya setiap kali hamil, Hawa melahirkan satu pasang anak kembar dua. Satu laki laki dan satu perempuan. Dan Adam memerintahkan anak laki lakinya supaya menikah dengan putrinya kembaran dari anak laki lakinya yang lain.  Demikian seterusnya, mereka menikah dengan cara saling  silang diantara saudara saudara mereka sendiri. Tidak diperbolehkan di antara mereka menikah dengan kembarannya sendiri (Kitab Qishashul Anbiyaa’).

Dalam perjalanan hidup anak anak Nabi Adam ini, Allah Ta’ala menceritakan kisah dua orang anak Adam yang satu yaitu Qabil membunuh saudaranya Habil.  Qabil membunuh saudaranya sendiri karena penyakit hasad yang mucul dalam dirinya tersebab kurban tidak diterima sedangkan kurban saudaranya Habil diterima.

Hal ini dijelaskan Allah Ta’ala dalam firman-Nya : “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Kabil) menurut yang sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia (Qabil) berkata : Aku pasti membunuhmu. Habil berkata :Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang orang yang bertakwa. Sesungguhnya kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu.

Sesungguhnya aku takut kepada Allah Rabb seru sekalian alam. Sesungguhnya aku ingin agar engkau kembali  dengan (membawa) dosa (membunuh) ku dan dosamu sendiri. Maka kamu akan akan menjadi penghuni Neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang orang yang zhalim. Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya. Sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah dia seorang diantara orang orang yang merugi.” (Q.S al Maa-idah 27-30).

Disebabkan hasad yang pada pada dirinya maka Qabil membunuh saudaranya lalu mendapat dosa besar bahkan berkelanjutan karena menjadi contoh sebagai pembunuh pertama di dunia. Rasulullah bersabda : “Laa tuqtalu nafsun zhulman, illa kaana alaabni aadamal awwali kiflun min daihaa, li annahu awwalu man sannal qatla”. Tidak ada seorang pun yang dibunuh secara zhalim melainkan tanggungan darahnya ada pada anak Adam yang pertama karena dia yang pertama kali membuat contoh pembunuhan. (H.R Imam Bukhari, Imam Muslim dan ahli hadits selainnya).

Begitulah dahsyatnya penyakit hasad sehingga menjadi dosa pertama yang dilakukan makhluk di langit maupun di bumi. Insya Allah menjadi ibrah bagi kita semua. Wallahu A’lam. (731).