Sabtu, 30 Januari 2016

TEPUK TANGAN DALAM PESTA DAN ACARA



TEPUK TANGAN DALAM PESTA DAN ACARA PERTEMUAN

Oleh : Azwir B. Chaniago

Kelihatannya, dalam banyak acara pesta atau acara pertemuan sangat sering ada tepuk tangan yang ramah bahkan sangat ramai dari para hadirin. Semakin banyak tepuk tangannya maka dianggap bahwa pesta atau acara pertemuan itu semakin meriah sehingga sebagian besar yang hadir merasa  puas apalagi tuan rumah atau panitianya. 
   
Bahkan dalam beberapa  acara kajian atau ceramah agama juga ada yang menyempatkan diri bertepuk tangan.  Terkadang juga dalam pelaksanaan pernikahan yaitu setelah  selesai  ijab qabul yang  diucapkan dengan sangat lancar oleh penganten laki laki lalu hadirin  merasa gembira maka   ada pula sebagian mereka yang bertepuk tangan.

Lalu bagaimana tepuk tangan yang demikian itu dalam timbangan syariat. Mari kita perhatikan apa yang dikatakan oleh dua ulama besar Saudi Arabia, antara lain sebagaimana disebutkan dalam Kitab Fatwa Fatwa Ulama,  berikut ini  :

Pertama : Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz.
Beliau berkata : Bertepuk tangan dalam suatu pesta merupakan perbuatan jahiliyah. Setidaknya perbuatan itu  adalah perbuatan yang makruh. Tetapi secara jelas dalil dalil yang terdapat dalam al Qur an menunjukkan bahwa hal itu adalah perbuatan yang diharamkan dalam agama Islam, karena kaum muslimin dilarang mengikuti atau menyerupai perbuatan orang orang kafir. 

Allah Ta’ala telah berfirman tentang sifat orang orang kafir penduduk Makkah. “Wa maa kaana shalaatuhum ‘indal baiti illaa mukaa-an wa tashdiyatan”.    Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan. (Q.S al Anfal 35).

Para ulama berkata : Al muka’ mengandung pengertian bersiul sedangkan al tashdiyah mengandung pengertian bertepuk tangan. 

Adapun perbuatan yang disunnahkan bagi kaum muslimin adalah jika mereka melihat  atau mendengar sesuatu yang membuat mereka takjub hendaklah mengucapkan SUBHANALLAH  atau ALLAHU AKBAR sebagaimana yang disebutkan dalam hadits hadits shahih dari Nabi.

Bertepuk tangan hanya disyariatkan khusus bagi wanita ketika mendapatkan seorang imam melakukan kesalahan di dalam shalat saat mereka melaksanakan shalat berjamaah bersama kaum pria, maka kaum wanita disyariatkan untuk mengingatkan kesalahan imam dengan cara bertepuk tangan. Sedangkan kaum pria memperingatkannya dengan cara bertasbih (mengucapkan kalimat subhanallah) sebagaimana disebut dalam hadits riwayat  Imam Bukhari dalam bab al ‘Amal fi sha Shalah dan Imam Muslim dalam bab ash Shalaah.

Maka jelaslah bahwa bertepuk tangan bagi kaum pria merupakan penyerupaan terhadap perbuatan orang orang orang kafir dan perbuatan wanita, sehingga bertepuk tangan dalam suatu pesta, baik kaum pria maupun kaum wanita, adalah dilarang menurut syariat. Semoga Allah memberi petunjuk.    

Kedua : Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin.
Beliau berkata : Bertepuk tangan dan bersiul adalah perbuatan yang biasa dilakukan oleh golongan selain muslim. Maka dari itu sudah menjadi keharusan bagi seorang muslim untuk tidak mengikuti perbuatan mereka. 

Bila seorang muslim kagum akan sesuatu maka hendaklah di BERTAKBIR atau BERTASBIH dengan menyebut nama Allah. Takbir itu tidak pula dilakukan secara bersama sama (seperti dikomandokan, pen.)  sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang, melainkan cukup dengan bertakbir atau bertasbih di dalam diri. Adapun tasbih ataupun takbir yang diucapkan secara bersama sama, saya belum pernah mendapatkan sumbernya yang menyebutkan tentang hal  itu.

Demikian penjelasan dua Kibar Ulama Saudi Arabia tentang bertepuk tangan dalam pesta dan acara pertemuan.

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam (557).

Kamis, 28 Januari 2016

HAKIKAT KAYA ADALAH KAYA HATI



HAKIKAT KAYA ADALAH KAYA HATI

Oleh : Azwir B. Chaniago

Di zaman ini kebanyakan manusia bekerja keras untuk mendapatkan kekayaan berupa harta yang berlimpah. Mereka terlihat seperti tidak ada puasnya. Mereka disibukkan mencari harta, memelihara dan mengembangkan harta. Padahal yang mereka buru yaitu berupa harta dunia tidaklah menjamin seseorang akan bisa hidup layak dan nyaman. 

Terkadang kita menyaksikan seorang hamba yang beriman tidak memiliki harta tetapi bisa menjalani hidup dengan baik.  Allah berfirman : “Man ‘amila shaalihan, min dzakarin au untsaa wahuwa mu’minun fala nuhyiyannahu hayaatan thaiyibah. Wala najziyannahum ajrahum bi ahsani maa kaanuu ya’maluun”. Barangsiapa  yang melakukan amal shalih, baik laki laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S an Nahal 97).

Sungguh Rasulullah telah mengingatkan bahwa kaya bukanlah kaya harta dunia tetapi kaya hati yaitu hati yang selalu merasa cukup.  Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Laisal ghina ‘an katsratil ‘aradhi, wa lakinil ghina ghinan nafsi”.  Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya  adalah hati yang selalu merasa cukup. (H.R. Imam Bukhari  dan Imam Muslim)

Dalam riwayat Ibnu Hibban, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasehat berharga kepada sahabat Abu Dzar. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku : “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya (ghani) ? “Betul,” jawab Abu Dzar. Beliau bertanya lagi : “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir ? “Betul, Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa. Lantas beliau pun bersabda : “Sesungguhnya yang namanya kaya  adalah kayanya hati (hati yang selalu merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas).” (H.R Ibnu Hibban).

An Nawawi rahimahullah mengatakan : Kaya yang terpuji adalah kaya hati. Hati yang selalu merasa puas dan tidak tamak dalam mencari harta dunia dan segala perhiasannya. Kaya yang terpuji bukanlah dengan banyaknya harta dan terus menerus ingin menambah dan terus menambah. Karena barangsiapa yang terus mencari dalam rangka untuk menambah, ia tentu tidak pernah merasa puas. Sebenarnya ia bukanlah orang yang kaya hati. (Syarah Shahih Muslim)

Ibnu Baththal rahimahullah mengatakan : (1) Hakikat kekayaan sebenarnya bukanlah dengan banyaknya harta. Karena ada banyak orang yang diluaskan rizki berupa harta oleh Allah, namun ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang diberi. (2) Orang seperti ini selalu berusaha keras untuk menambah dan terus menambah harta. Ia pun tidak peduli dari manakah harta tersebut ia peroleh. (3) Orang semacam inilah yang seakan-akan begitu fakir karena usaha kerasnya untuk terus menerus memuaskan dirinya dengan harta. 

Namun demikian tidaklah berarti orang yang beriman dilarang memiliki harta yang banyak. Yang dilarang adalah janganlah harta menjadikan seseorang lalai dalam mempersiapkan bekal untuk menuju negeri akhirat. Bukankah beberapa sahabat seperti Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin ‘Auf adalah sahabat yang terkenal kaya raya. Tapi kekayaannya tidaklah melalaikannya untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. 
  
Rasulullah bersabda : “Tidak apa-apa dengan kaya bagi orang yang bertakwa. Dan sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan bahagia itu bagian dari kenikmatan.” (H.R Ibnu Majah dan Imam Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam (556).


Rabu, 27 Januari 2016

JANGAN MENINGGALKAN AMAR MA'RUF NAHI MUNGKAR



JANGAN MENINGGALKAN AMAR MA’RUF NAHI MUNGKAR

Oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh Allah Ta’ala berfirman bahwa diantara ciri umat terbaik adalah menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar. “Kuntum khaira ummatin ukhrijat linnaasi ta’muruuna bil ma;ruufi wa tanhauna ‘anil munkari wa tu’minuuna billah”. Kamu (ummat Islam) adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (karena kamu) menyuruh kepada yang baik dan mencegah dari yang mungkar dan (kamu) beriman kepada Allah. (Q.S Ali Imran 110)  

Syaikh as Sa’di berkata : Hal ini adalah keutamaan yang diberikan kepada umat ini dengan sebab sebab tersebut yang menjadikan mereka istimewa karenanya dan mereka unggul diatas seluruh umat. Mereka adalah sebaik baik manusia untuk manusia dalam nasehat dan cinta kepada kebaikan, dakwah, pengajaran, bimbingan, menyuruh kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran. Menyatukan kesempurnaan akhlak dan usaha memberikan manfaat kepada mereka sesuai dengan kemampuan. Dan juga antara penyempurnaan jiwa dengan beriman kepada Allah Ta’ala dan menunaikan segala hak keimanan. (Tafsir Karimir Rahman).

Lalu ada yang bertanya bagaimana hukumnya orang yang  meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar, padahal dia mampu untuk melakukannya ?

Syaikh Abdul Aziz bin Baz memberikan penjelasan : (1) Hukumnya, berarti dia durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya. (2) Imannya lemah dan (3) Dia terancam bahaya besar berupa penyakit hati dan (segala) efeknya, cepat maupun lambat.

Ini adalah sebagaimana firman Allah : “Telah dilaknat orang orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain tidak melarang perbuatan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amatlah buruk apa yang selalu mereka perbuat itu. (Q.S al Maidah 78-79).

Dan juga sabda Rasulullah : “Man ra-a minkum munkaran fal yughaiyirhu biyadihi faillam yastathi’ fabilisaaanihi, faillam yastathi’ fabiqalbihi, wa dzalika adh’aful iimaan.” Barang siapa diantara kalian melihat kemungkaran maka hendaklah dia mencegah dengan tangannya. Jika dia tidak mampu maka dengan  lisannya dan jika dia tidak mampu maka dengan hatinya, (mengingkari dengan hati) itu adalah iman yang paling lemah. (H.R Imam Muslim).

Dalam sabda lainnya Rasulullah menyebutkan : “Innan naasa idzaa ra-awul munkara fa lam yunkiruuhu au syaka an ya’ummahumullahu bi’iqaabih”. Sesungguhnya manusia itu bila melihat kemungkaran tapi tidak mengingkarinya, maka dikhawatirkan Allah akan menimpakan siksa-Nya yang juga menimpa mereka (H.R Abu Dawud, at Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Masih banyak lagi hadits yang semakna dengan ini. Semoga Allah Ta’ala menunjuki kaum muslimin untuk senantiasa melaksanakan kewajiban yang agung ini dengan cara yang diridhai-Nya. (Dari Kitab  Fatwa Fatwa Terkini) 

Insya Allah bermanfaat bagi kita semua. Wallahu A’lam (555)

Selasa, 26 Januari 2016

MALAIKAT MENGHIBUR HAMBA ALLAH YANG ISTIQAMAH



MALAIKAT MENGHIBUR HAMBA ALLAH YANG ISTIQAMAH

Oleh : Azwir B. Chaniago

Kata istiqamah secara bahasa  bermakna i’tidal atau lurus. Menurut syari’at, istiqamah adalah meniti jalan yang lurus yaitu agama yang lurus yakni Islam tanpa menyimpang darinya ke ki kiri atau ke kanan. Istiqamah mencakup seluruh ketaatan yang terlihat maupun yang tersembunyi serta meninggalkan seluruh yang dilarang. (Imam Ibnu Rajab al Hambali). 

Sementara itu Imam an Nawawi menjelaskan bahwa makna istiqamah adalah luuzumu tha’atillah yaitu tetap konsekwen dan konsisten dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala.
  
Seorang muslim hendaklah senantiasa menjaga istiqamah  menjalani hidup ini terutama dalam melakukan amal shalih. Sungguh sangatlah banyak dalil dari al Qur an dan as Sunnah yang memerintahkan kita agar senantiasa menjaga istiqamah dalam beramal. Diantaranya adalah sebagaimana firman Allah : “Wa a’bud rabbaka hattata’tiyakal yaqiin” Dan  sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (kematian) Q.S al Hijr 99.

Syaikh as Sa’di dalam Kitab Tafsir Karimur Rahman menjelaskan maksud ayat ini bahwa kontinyulah engkau mendekatkan diri kepada Allah dengan segala macam ketaatan.

Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Fastaqiim kamaa umirta waman taaba ma’aka walaa tathghau, innahu bima ta’maluuna bashiir” Maka istiqamahlah (tetaplah) engkau (Muhammad di jalan yang benar) sebagaimana telah diperintahkan  kepadamu dan (juga) orang yang bertaubat bersamamu. Dan janganlah kamu  melampaui batas. Sungguh Dia Mahamelihat apa yang kamu kerjakan (Q.S Hud 112).

Imam Ibnu Katsir berkata : Dalam ayat ini Allah memerintahkan Rasul dan hamba hambaNya agar teguh dan selalu (tetap) istiqamah karena yang demikian itu merupakan sebab mendapat pertolongan yang besar dari Allah. Sungguh istiqamah itu memang berat. Ibnu Abbas berkata : Tidaklah diturunkan kepada Rasulullah di dalam al Qur an sebuah ayat yang lebih memberatkan dan menyulitkan daripada ayat ini.  

Rasulullah salalahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Qul amantu billahi tsummas taqiim” Katakanlah aku beriman kepada Allah kemudian beristiqamahlah. (H.R Imam Muslim). 

Syaikh Muhammad bin Shaih al Utsaimin berkata : Beristiqamahlah, artinya berjalanlah di atas shirathul mustaqim yaitu jalan yang lurus dan janganlah engkau melanggar ketentuan syariat, tidak melenceng ke kanan dan tidak juga ke kiri. Istiqamah mencakup (selalu berusaha) berjalan di atas syariat-Nya. Sehingga pada akhirnya mencakup dua syarat ibadah yaitu ikhlas dan mutaba’ah yakni beramal sesuai dengan syariat-Nya yang dicontohkan oleh Rasul-Nya. (Syarah Hadits Arba’in an Nawawiyah).   

Ketahuilah bahwa orang orang yang senantiasa istiqamah dalam menjalani agama yang lurus ini akan mendapat kabar sangat menggembirakan dari malaikat. Malaikat akan menghiburnya pada saat saat menjelang kematian, ketika berada di alam kubur bahkan ketika dibangkitkan.

Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Rabb kami adalah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqamah), maka Malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata) : Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) Surga yang telah dijanjikan kepadamu (Q.S Fusilat 30).

Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa para Malaikat akan turun menuju orang orang yang istiqamah ketika kematian menjemput, ketika berada di alam kubur dan ketika dibangkitkan. 

Para Malaikat itu memberi rasa aman dari ketakutan ketika kematian menjemput. Menghilangkan  kesedihannya disebabkan berpisah dengan keluarganya karena Allah pengganti dari hal itu. Memberikan kabar gembira berupa dihilangkan keburukan dan mendapatkan kebaikan dengan surga yang belum pernah dilihat mata, didengar telinga dan belum pernah terlintas dalam hati manusia.

Tentang ayat ini pula, Syaikh as Sa’di berkata : Kedatangan (turunnya) para malaikat itu kepada mereka (yang istiqamah) adalah silih berganti seraya menyampaikan berita gembira kepada mereka saat menjelang kematian. Janganlah kamu merasa takutterhadap perkara yang akan kamu hadapi. dan janganlah kamu merasa sedih atas apa apa yang telah berlalu. Segala yang tidak dikehendaki yang telah berlalu  dan yang akan datang disingkirkan dari mereka. Dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”  karena itu sudah pasti untuk kamu, dan janji Allah itu pasti ditepati.

Semoga Allah  memberikan kekuatan kepada kita untuk selalu istiqamah pada jalan yang lurus  terutama dalam  melakukan amal amal shalih. 

Wallahu A’lam.    (554).