Minggu, 21 Desember 2014

MENYAMBUNG SHALAT DENGAN PEMISAH



MENYAMBUNG SHALAT DENGAN PEMISAH

Oleh : Azwir B. Chaniago

Sering kita lihat di masjid, apabila seseorang selesai melakukan shalat fardhu lalu ingin menyambung dengan shalat sunat maka dia berpindah tempat. Terkadang bertukar tempat dengan jamaah disebelah kiri atau kanannya yang juga akan melaksanakan shalat sunat. 
Juga pernah kita lihat seseorang yang selesai shalat  sunat ingin menyambung dengan shalat sunat yang lainnya lalu berpindah tempat pula. Bagi sebagian orang mungkin hal ini bisa mendatangkan pertanyaan kenapa mesti pindah pindah tempat shalat. Tentang hal ini insya Allah dapat dijelaskan :

Pertama : Menyambung shalat wajib dengan shalat sunat.
Ketahuilah bahwa menyambung shalat wajib dengan shalat sunat adalah sangat dianjurkan untuk memisahkannya. Memisahkan maksudnya adalah dengan berpindah tempat atau dengan berbicara. 

Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa : Dari  Ibnu Abil bahwasanya Nafi’ bin Jubair diutus kepada Saib bin Yazid untuk bertanya kepadanya tentang hal yang dia lihat dari Mu’awiyah dalam shalatnya. Lalu dia berkata : Aku pernah shalat Jum’at bersamanya di al Maqshurah. Tatkala imam salam aku segera bangkit di tempatku (tidak berpindah) untuk shalat (sunnah). Maka tatkala itu dia masuk, dia mengutus seseorang kepadaku, lalu (orang itu) berkata : Janganlah engkau mengulangi apa yang engkau lakukan. Apabila engkau shalat Jum’at, maka jangan disambung dengan shalat lain sampai engkau berbicara atau keluar (dari tempatmu), karena Rasulullah memerintahkan itu yaitu tidak boleh disambung satu shalat (wajib) dengan shalat lain (sunnah) sampai ia berbicara atau keluar. (H.R Imam Muslim).

Imam an Nawawi berkata : Dalam hadits ini terdapat dalil bagi pendapat mazhab kami bahwa disunahkan apabila hendak shalat sunnah Rawatib atau yang bukan Rawatib hendaknya dia berpindah tempat dari yang dia pakai untuk shalat wajib. Dan yang lebih afdhal lagi berpindah ke rumahnya atau paling tidak berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain (hikmahnya) supaya menjadi lebih banyak tempat yang dia gunakan untuk sujud dan (hikmah yang lain) supaya terbedakan antara shalat wajib dengan shalat sunnah.

Selanjutnya Imam an Nawawi berkata : Sedangkan perintah supaya tidak menyambung antara keduanya sampai dia berbicara, menunjukkan bahwa memisah antara shalat wajib dengan shalat sunnah bisa juga dilakukan dengan berbicara. Akan tetapi dengan berpindah tempat lebih  afdhal sebagaimana yang telah kami jelaskan. (Syarh Shahih Muslim).

Kedua : Menyambung shalat sunnah dengan shalat sunnah.
DR. Abdurrahman ad Dahsy berkata : Jika menyambung shalat sunnah dengan shalat sunnah  maka tidak dilarang  untuk melakukannya (ditempat yang sama, tidak berpindah), sebagaimana Rasulullah melakukan shalat malam dua rakaat dua rakaat disambung tanpa ada pemisah antara keduaya baik dengan berpindah tempat atau berbicara.

Semoga ada manfaatnya, insya Allah.

Wallahu a’lam. (168)     
    

WAFATNYA ABU THALIB



KISAH WAFATNYA  ABU THALIB

Oleh : Azwir B. Chaniago

Paman Nabi, Abu Thalib meninggal pada tahun kesepuluh kenabian. Sayangnya Abu Thalib meninggal dalam keadaan musyrik pada hal dia adalah pembela yang sangat banyak jasanya terhadap  Rasulullah Salallahu 'alaihi wasallam.

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan,  bahwa Ibnul Musayyib berkata : Sesungguhnya Rasulullah menemui Abu Thalib ketika akan meninggal. Di situ beliau mendapati Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah. Rasulullah berkata kepada Abu Thalib : “Wahai pamanku katakan Laa ilaha illallah sebuah kalimat yang aku akan menjadi saksimu di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari Kiamat.” Maka Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah berkata : Wahai Abu Thalib apakah engkau membenci agama Abdul Muthalib ?.

Rasulullah terus terus mentalqinnya dengan mengulangi kalimatnya diatas, hingga akhir ucapan Abu Thalib dia tetap berada diatas agama Abdul Muthalib dan tidak mengucapkan syahadat. Raslullah berkata : “Demi Allah, sungguh aku akan memohonkan ampun untukmu selama aku tidak dilarang”hingga kemudian Allah menurunkan ayat : “Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang orang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang musyrik, walaupun orang orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka bahwasanya orang orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam. (Q.S at Taubah 113).

Dan juga ayat : “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada  orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang orang yang mau menerima petunjuk” (Q.S al Qashash 56)

Disebabkan pembelaan yang begitu besar dari Abu Thalib kepada Rasulullah baik sebelum maupun setelah menjadi Rasul, maka dia bisa memperoleh syafaat dari Rasulullah yaitu dengan diringankan siksaannya di hari Kiamat kelak.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Rasulullah berkata : “Ahwanu ahlin naari ‘adzaaban abuu thaalibin wa huwa munta’ilun bina’laini yaghlii minhumaa dimaaghuh” . Penghuni neraka yang paling ringan siksaannya adalah Abu Thalib. Ia memakai sepasang sandal yang bisa membuat otaknya mendidih (H.R Imam Muslim)

Dari Abbas bin Abdul Muththalib, dia bertanya kepada Rasulullah SAW., 'Ya Rasulullah! Apakah engkau dapat menolong Abu Thalib, sebab ia pernah melindungimu dan mengasuhmu?" Rasulullah SAW menjawab, 'Ya, dia berada di pelataran neraka yang tidak dangkal, seandainya kalau bukan karena aku tentu dia berada di neraka yang paling dalam" (H.R Imam Muslim)

Dalam kisah wafatnya Abu Thalib ini, maka ada beberapa faedah yang bisa diambil :

Pertama : Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah  menunjukkan  bahwa hidayah itu semata mata milik-Nya dan Dia memberikan hidayah kepada yang dikehendaki-Nya. Abu Thalib adalah paman Nabi yang telah banyak membela beliau tetapi  tidak mendapat hidayah untuk mengucapkan kalimat tauhid.  

Kedua : Adanya pengaruh yang besar dalam keikhlasan suatu amal kebaikan. Abu Thalib telah memberikan pertolongan yang banyak dan pembelaan kepada Rasulullah, tetapi itu dilakukan hanya karena hubungan kekerabatan yaitu hubungan paman dan keponakan saja bukan karena Allah Ta’ala, maka Allah tidak memberikan taufik kepada Abu Thalib.

Ketiga : Sebaik apapun perbuatan yang dilakukan seseorang hanya akan bernilai disisi Allah jika dilandasi dengan iman dan Islam. 

Keempat  :  Sungguh Rasulullah telah mengingatkan  agar seseorang selalu memperhatikan dengan siapa dia harus berteman dekat. Beliau  bersabda : “Arrajulu ‘alaa diini khaliilih, falyanzhur ahadukum man yukhaalil”  Seseorang itu bergantung kepada agama teman dekatnya. Oleh karena itu hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan siapa yang akan dijadikan teman dekatnya.(H.R at Tirmidzi dan Abu Dawud) 
 
Lihatlah betapa besar pengaruh teman bagi seseorang. Abu Thalib yang berteman akrab dengan Abu Lahab dan Abdullah bin Abu Umaiyah, yang kedua teman ini mampu menghalangi Abu Thalib untuk mengikuti dakwah Rasulullah membaca kalimat tauhid.  Akhirnya dia meninggal dalam keadaan musyrik, yaitu masih tetap teguh berpegang kepada agama Abdul Muthalib.
Allahu a’lam. (167) 


Kamis, 18 Desember 2014

MEMPERSIAPKAN BEKAL



MEMPERSIAPKAN BEKAL UNTUK HARI AKHIR

Oleh : Azwir B. Chaniago

Kehidupan di dunia adalah sementara. Semua manusia  akan kembali kenegeri akhirat yang abadi. Ini sesuatu yang pasti. Sebelum kembali ke negeri akhirat manusia haruslah mempersiapkan bekal.

Allah telah mengingatkan dalam firman-Nya : “Yaa aiyuhal ladzina aamanut taqullaha wal tandzur nafsun maa qaddamat lighad, wattaqullaha, innalallaha khabiirun bimaa ta’maluun” Wahai orang orang yang beriman. Bertakwalah kepada Allah dan hendaknya setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (Q.S  al Hasyr 18)

Sebaik baik bekal adalah takwa. Allah berfirman : “Wa tazauwaduu fa inna khairaz zaadit taqwaa”. Berbekalah, maka sebaik baik bekal adalah takwa. (Q.S al Baqarah 197).

Didalam Kitab Badai’ul Fawa’id disebutkan bahwa : “Semut selalu mempersiapkan bekal pada musim panas untuk musim hujan yang akan datang. Seekor burung, jika telah mengetahui bahwa istrinya hamil maka dia segera  mencari dan mengumpulkan jerami untuk membangun sarang sebelum istrinya bertelur. 
Lalu apa pendapatmu jika engkau sudah mengetahui tentang kedekatan perpindahanmu dari dunia ke alam kubur. Apakah engkau akan membawa tempat tidurmu tanpa persiapan amal. Na’udzubillah.”
 
Allah berfirman : “Waman ‘amila shaalihan fa lianfusihim yamhaduun.” Dan barangsiapa yang beramal shalih, maka mereka menyiapkan untuk diri mereka sendiri (yaitu surga tempat yang menyenangkan). Q.S ar Ruum 44.

Fastabiqul khairat, mari berlomba  mempersiapkan bekal untuk hari akhirat yang lebih baik.

Wallahu a’lam.  (166)



KHAWARIJ MEMBUNUH ALI



KHAWARIJ MEMBUNUH ALI BIN ABI THALIB

Oleh : Azwir B. Chaniago

Khawarij adalah sekte pertama yang menyimpang dari ajaran Islam yang benar. Sekte ini mulai ada pada zaman pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan. Kemudian berlanjut pada zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib dan seterusnya. Penyimpangan yang mendasar pada sekte ini adalah meyakini bahwa pelaku dosa besar adalah kafir, kekal di neraka jika tidak bertaubat sampai akhir hayatnya. Sekte ini pula yang mengkafirkan orang orang muslim karena perbuatan maksiat bahkan dianggap kafir karena suatu hal yang mereka anggap maksiat.

Diantara pemimpin Kaum Muslimin yang mereka kafirkan adalah Ali bin Abi Thalib dan juga semua pengikutnya. Bahkan bukan hanya mengkafirkan tapi menghalalkan darahnya dan menurut mereka, pantas untuk dibunuh. Lalu terjadilah pembunuhan yang mereka rencanakan.

Kisahnya adalah bahwa pada tahun 40 H, dua tahun setelah perang Nahrawan, yaitu  tahun 38 H, pasukan Ali bin Abi Thalib memporak porandakan kekuatan  orang orang Khawarij yang berpusat di Nahrawan, maka tiga orang militan Khawarij berangkat ke Mekah. Mereka adalah Abdurrahman bin Muljam al Muradi, al Bark al Tamimi dan Amr bin Bakr at Tamimi. Setelah sampai di Mekah, ketiganya bersepakat untuk membunuh tiga orang pemimpin dan pemuka kaum Muslimin saat itu yakni Khalifah Ali bin Abi Thalib, Gubernur Mesir Amr bin al ‘Ash dan Muawiyah bin Abi Sufyan Gubernur Syam. Mereka berkata : Kita mendekatkan diri kepada Allah dengan cara membunuh ketiga orang ini.

Setelah itu Abdurrahman bin Muljam berkata : Aku yang akan membunuh Ali bin Abi Thalib.  Al Bark at Tamimi berkata : Aku yang akan membunuh Muawiyah sedangkan Amr bin Bakr at Tamimi berkata : Aku yang akan menghabisi Amr bin al ‘Ash. Waktu untuk melaksanakan pembunuhan itu mereka sepakati setelah malam ke 17 Ramadhan.
Mereka segera berangkat dari Mekah menuju sasaran masing masing untuk melakukan pembunuhan.

Pertama : Ali bin Abi Thalib.
Beliau ditikam oleh Abdurrahman bin Muljam pada waktu baru keluar dari rumah untuk melaksanakan shalat shubuh di Masjid. Ali bin Abi Thalib menderita luka parah kena tikaman pisau.  Ibnu Muljam mengatakan bahwa pisau itu sudah diberinya  racun selama tujuh hari  sehingga tidak ada kemungkinan Ali akan sembuh dari lukanya itu.

Satu pelajaran berharga bagi kita bahwa dalam keadaan kritis tersebab tikaman pisau beracun itu Ali bin Abi Thalib masih memperlihatkan ketinggian dan kemuliaan akhlaknya. Beliau bertanya kepada orang orang : Apa tindakan yang kalian lakukan terhadap orang yang telah menikamku. Lalu ada yang menjawab : Kami sudah menangkapnya. 

Lalu Ali berkata : Beri dia makan dengan makananku dan beri dia minum dengan minumanku. Jika aku masih hidup serahkan urusan orang itu kepadaku. Kalau aku mati bunuhlah dia dengan sekali tebasan pedang, jangan lebih.
Selanjutnya Ali berpesan kepada Hasan bin Ali bin Abi Thalib : Kalau aku meninggal engkau yang memandikan aku. Jangan engkau kafani jasadku dengan kain yang mahal. Berjalanlah dua kali lebih cepat dari jalan biasa saat engkau membawa jenazahku ke pemakaman. Jangan berlari dan jangan pula terlalu pelan.

Kedua : Muawiyah bin Abi Sufyan.
Pada saat Muawiyah mengimami shalat shubuh, Al Bark menyerangnya dengan pisau. Muawiyah terluka tetapi tidak sampai membuatnya meninggal. Muawiyah diobati dan akhirnya sembuh. Orang orang berhasil menangkap al Bark dan akhirnya dijatuhi hukuman mati.

Ketiga : Amr bin al ‘Ash.
Amr bin al Bakr at Tamimi  keluar menuju masjid untuk membunuh Amr bin ‘Ash yang biasa mengimami shalat. Amr bin ‘Ash pada subuh itu tidak bisa ke masjid untuk mengimami shalat  karena kena diare. Pada waktu orang orang  shalat shubuh berjamaah Amr bin al Bakr membunuh imam yang disangka Amr bin ‘Ash. Tapi dia ternyata telah  membunuh Kharijah bin Abu Habib yang pada shubuh itu menjadi imam pengganti.

Orang orang langsung menangkap Amr bin al Bakr at Tamimi itu dan membentaknya : Apa yang kamu lakukan ini. Pembunuh ini menjawab : Aku telah melepaskan orang orang dari cengkraman Amr bin al ‘Ash karena aku telah membunuhnya. Mereka berkata : Kamu tidak membunuh Amr bin al Ash, tapi kamu telah membunuh Kharijah bin Abu Habib. Dasar pembunuh, dengan tenang dia berkata : Aku sebenarnya ingin membunuh Amr bin al ‘Ash tapi Allah menginginkan Kharijah yang aku bunuh. Akhirnya pembunuh Kharijah ini juga dijatuhi hukuman mati.

Diantara pelajaran yang bisa kita ambil adalah bagaimana kekejaman dan kejahilan orang orang Khawarij dimana mereka bersepakat untuk membunuh pemimpin kaum muslimin yang katanya dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.  Semoga Allah memberikan adzab yang sepadan dengan kesalahannya.

Alhamdulillah untuk tulisan ini kami banyak mengambil manfaat dari Kitab Minhajul Qashidin, Ibnu Qudamah dan Kitab Hiqbah minat Taariikh, DR. ‘Utsman bin Muhammad al Khamis.  
  
Wallahu a’lam. (165)