Sabtu, 08 Oktober 2022

AMAL SHALIH MEMPUNYAI NILAI JIKA DILANDASI IMAN

 

AMAL SHALIH MEMPUNYAI NILAI JIKA DILANDASI IMAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, nikmat terbesar dan paling utama yang dianugerahkan Allah Ta'ala kepada sebagian hamba hamba-Nya adalah NIKMAT IMAN. Tentang iman meliputi enam perkara yang disebut sebagai rukun iman.  Dalam potongan hadits yang panjang yaitu dari pertanyaan Jibril kepada Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam, diriwayatkan dari Umar bin Khatththab, disebutkan :

قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

Dia (Jibril berkata) : Fa akhbirnii ‘anil iimaan. Kabarkanlah kepada ku tentang iman. Nabi Salallahu 'alaihi Wasallam  menjawab : (1) Engkau beriman kepada Allah. (2) Malaikat malaikat-Nya (3) Kitab kitab-Nya. (4) Rasul rasul-Nya. (5) Hari Akhir. (6) Dan beriman kepada takdir baik dan buruk-Nya. (H.R Imam Muslim).

Nah, ketika iman telah ada di dalam diri seorang hamba maka selanjutnya menjadi wajiblah baginya untuk melakukan amal amal shalih yang disyaratkan. Sungguh amal shalih baru baru bernilai di sisi Allah jika dilandasi iman karena iman itu adalah ibarat fondasi dan amal shalih ibarat atap.

Sungguh, amal shalih yang dilandasi iman  menyelamatkan hamba hamba Allah di akhirat kelak yaitu menjadi orang yang beruntung mendapat surga. Allah Ta'ala  berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ

Sungguh orang orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih mereka akan mendapat surga yang mengalir di bawahnya sungai sungai. Itulah kemenangan yang agung. (Q.S al Buruj 10).

Bahkan orang beriman dan beramal shalih akan mendapat KEHIDUPAN YANG BAIK   di dunia dan di akhirat kelak. Allah Ta’ala berfirman :

مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang beramal saleh, laki laki atau perempuan sedangkan dia beriman, akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S an Nahal 97).

Imam Ibnu Katsir berkata : Inilah janji dari Allah Ta’ala bagi orang yang mengerjakan amal shalih, yaitu amal yang mengikuti al Qur an dan as Sunnah, baik laki laki maupun wanita yang hatinya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Amal yang diperintahkan itu telah disyariatkan dari sisi Allah, yaitu Dia akan memberinya KEHIDUPAN YANG BAIK DI DUNIA DAN MEMBERIKAN BALASAN DI AKHIRAT KELAK  dengan balasan yang lebih baik dari pada apa yang telah dikerjakannya. (Tafsir Ibnu Katsir).

Dengan demikian maka amalan yang dilakukan oleh ORANG ORANG YANG TIDAK MEMILIKI IMAN tidak ada nilai. Allah Ta’ala telah mengingatkan dalam firman-Nya : 

وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

Dan Kami akan perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan (dahulu di dunia) lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.  (Q.S al Furqan 23)

Syaikh as Sa’di berkata : “Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan” Maksudnya : (Amal itu) BATAL LAGI SIRNA. Mereka telah merugi dan tidak mendapatkan pahalanya (bahkan) mereka   disiksa karenanya. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Oleh karena itu hamba hamba Allah harus berusaha sekuatnya untuk melakukan amal amal shalih yang disyariatkan dengan landasan iman yang kokoh. Sungguh yang demikian itu akan menjadikan amalnya menjadi bernilai dan mendatangkan keselamatan dan kebaikan di dunia dan di akhirat kelak. Insya Allah ada manfaatnya bag kita semua. Wallahu A'lam. (2.768).

 

 

 

 

    

 

 

Jumat, 07 Oktober 2022

KETAATAN ISTRI KEPADA SUAMI BERSIFAT TERBATAS

 

KETAATAN ISTRI KEPADA SUAMI BERSIFAT TERBATAS

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Allah Ta'ala mentakdirkan manusia hidup berkeluarga, berpasang pasangan yaitu istri dan suami. Dalam hal ini suami memiliki kedudukan lebih tinggi dari istri yaitu sebagai pemimpin bagi wanita dalam rumah tangga. Allah Ta'ala berfirman :

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

Laki laki (suami) itu pemimpin bagi wanita (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki laki) atas sebagian yang lain (wanita). Dan karena mereka (laki laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. (Q.S an Nisa' 34).

Kedudukan lebih tinggi yaitu sebagai pemimpin  haruslah dibarengi dengan memperlakukan istrinya secara baik. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُول اللَّه صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ : أَكْمَل الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهمْ خُلُقًا، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda : Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-sebaik kamu adalah orang yang paling baik kepada istrinya. (H.R at Tirmidzi).

Dengan kedudukan suami sebagai pemimpin sekali gus sebagai pelindung maka istri mestilah taat kepada suami. Ketika seorang istri taat kepada suami maka dia dapat fasilitas masuk surga melalui pintu mana  yang dia suka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), menjaga kemaluannya (kehormatannya) dan TAAT PADA SUAMINYA, maka dikatakan pada wanita tersebut : Masuklah ke surga MELALUI PINTU MANAPUN YANG ENGKAU SUKA. (H.R Imam Ahmad).

Namun demikian, ketahuilah bahwa TAAT KEPADA SUAMI HANYA UNTUK HAL YANG MUBAH DAN YANG DISYARIATKAN. Diantara contoh perintah yang mubah adalah ketika seorang suami menyuruh istrinya supaya senang memasak makanan, menyuruh untuk bangun lebih awal, agar lebih pandai mengatur keuangan rumah tangga dan yang lainnya.

Untuk perkara yang disyariatkan diantaranya adalah suami menyuruh istri untuk tetap menutup aurat secara   syar'i, shalat di awal waktu, mendidik anak anak dengan lembut dan kasih sayang dan yang lainnya yang disyariatkan.

Sungguh,  ketaatan seorang istri kepada suami adalah TERBATAS, TIDAK MUTLAK. Tidak boleh taat kepada suami untuk perkara yang dilarang dalam syariat. Diantaranya contohnya adalah :

Pertama : Yang berkaitan dengan kesyirikan. (1) Suami menyuruh berbuat kesyirikan seperti pergi ke dukun mencari barang hilang. (2) Menyuruh memakaikan jimat untuk anak anak. (3) Berdoa dan meminta kepada ahli kubur. (4) Memberikan sesajen pada hari dan tempat tertentu  dan yang lainnya.  

Kedua : Yang berkaitan dengan perkara perkara baru atau bid'ah. (1) Disuruh membaca surat Yusuf dan surat Maryam ketika istri  sedang hamil. Bahkan ada yang mengatakan  bahwa ketika ibu ibu sedang hamil  dianjurkan membaca kedua surat ini agar anaknya lahir adalah laki laki  nanti akan ganteng seperti Nabi Yusuf dan jika perempuan akan cantik seperti Maryam ibunda Nabi Isa.

 

Ketahuilah bahwa tentang hal ini tak ada dalil atau sandarannya dari  syariat. Barangkali ini bermula dari perasaan dan kebiasaan saja sehingga tak patut untuk diamalkan. Memang istri yang hamil atau tidak sedang hamil dianjurkan banyak membaca al Qur an tapi tidak mengkhususkan surat surat tertentu tanpa dalil. (2) Disuruh mengadakan acara nujuh bulan ketika hamil. Ini juga tak ada dalil dan kalau dilakukan berarti termasuk mengada ada.

 

Tetapi, hakikatnya istri mestilah taat kepada suaminya tetapi sifatnya terbatas, tidak mutlak. Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A'lam. (2.767). 

 

  

 

 

 

BERBAGI ILMU SANGAT TERPUJI DALAM SYARIAT ISLAM

 

BERBAGI ILMU SANGAT TERPUJI DALAM SYARIAT ISLAM

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Setiap muslim berkewajiban belajar ilmu, sebagaimana sabda Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam :  

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim (H.R Imam Ahmad dan Imam Ibnu Majah).

Sungguh yang menggembirakan adalah kita menyaksikan sangat banyak saudara saudara kita yang bersemangat  belajar ilmu syar'i. Ada yang belajar di sekolah atau perguruan tinggi secara formal bahkan sampai ke luar negeri. Ada pula yang belajar di lembaga pendidikan non formal dan sangat banyak pula yang suka hadir di majlis majlis ilmu. Dengan demikian mereka telah memiliki ilmu  sesuai keadaan masing masing.

Nah, setelah belajar dan  memiliki ilmu sedikit atau banyak maka kewajiban paling utama dan pertama adalah MENGAMALKANNYA. Selanjutnya juga terbuka kesempatan untuk BERBAGI ILMU dengan yang lain. Dan saat ini ada banyak jalan untuk berbagi ilmu baik lisan maupun tertulis dan yang masyhur adalah melalui media sosial.

Para salafush shalih memberi nasehat tentang berbagi atau mengajarkan ilmu, diantaranya adalah :

Pertama : Salman al Farisi.

Beliau berkata : Ilmu yang tidak diucapkan (didakwahkan) seperti harta yang tidak dikeluarkan zakatnya. (Dari as Sunan ad Darimi).

Kedua : Ikrimah ibn Ammar.

Beliau bekata : Aku pernah mendapati tulisan Umar Abdul Aziz yang menyebutkan supaya perintahkanlah kepada para ahli ilmu untuk menebarkan ilmunya di masjid masjid mereka karena sunnah telah (banyak) dimatikan. (Dari al Muhadditsul Fasil).

Ketiga : Imam az Zuhri.

Beliau berkata : Hati hati kalian dari ghulul kitab. Aku menanyakan : Apakah itu ?. Beliau menjawab : Yaitu menahan ilmu (tidak menyampaikannya). Dari Siyar A'lam an Nubala'.

Keempat : Imam Ibnul Qayyim al Jauziah.

Beliau berkata : Sesungguhnya orang yang menyimpan ilmunya, tidak ditebarkan dan tidak diajarkan maka dia akan dihukum dengan terlupakannya ilmu itu dan hilang darinya, karena balasan adalah setimpal dengan perbuatannya. Dan hal ini adalah fakta yang nyata adanya. (Dari Miftah Dar as Sa'adah).

Oleh karena hamba hamba Allah hendaklah mengamalkan ilmunya dan berusaha mengajarkan dan juga berbagi dengan orang lain.  Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amir Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. (H.R Imam Muslim).

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A'lam. (2.766)

 

 

 

Rabu, 05 Oktober 2022

JAGA AGAR IBU BAPAK BISA NYAMAN MENJALANI HARI TUANYA

 

JAGA AGAR IBU BAPAK BISA NYAMAN MENJALANI HARI TUANYA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, menjaga dan memelihara orang tua terutama dengan merawat, memelihara dan memenuhi kebutuhannya adalah SALAH SATU perbuatan terpuji dan mulia dari anak anaknya.  Selain itu, ketahuilah bahwa membahagiakan orang tua ternyata perlu juga berusaha membuat perasaannya nyaman dan senang. Ketika perasaannya nyaman dan senang maka semangat beribadahnya menjadi bertambah.

Untuk itu anak anak perlu mengingat atau belajar dari orang tua ketika memelihara mereka sewaktu kecil. Ketika saat memelihara anak anaknya orang tua terkadang menghadapi beban dan kesulitan baik dari segi keuangan dan yang lainnya.

Tetapi  tak pernah orang tua mengeluh dihadapan anak anaknya. Semua beban dan kesulitan yang dihadapinya disembunyikan dari anak anaknya.   Maksudnya adalah agar anak anak tetap merasa nyaman dan senang dengan tidak mengetahui kesulitan orang tua.

Nah, ketika datang giliran anak anak yang misalkan menghadapi banyak kesulitan dan beban dalam hidupnya sementara itu dia harus memelihara orang tuanya maka ada baiknya untuk tidak  diceritakan keadaan ini kepada orang tua SECARA DETAIL.

Syaikh Dr. Muhammad Majdu' asy Syahri memberi nasehat : Ketika dulu engkau kecil ibumu menyembunyikan darimu realita yang pahit agar anak anaknya merasa bahagia. Kini giliranmu untuk menyembunyikan darinya segala kepahitan sehingga dia (merasa senang) anaknya baik baik saja. (Dari Twitulama)

Namun demikian jika dalam keadaan demikian maka anak anak jangan pernah berhenti MEMINTA DOA ORANG TUA. Sungguh doa orang tua adalah mudah diijabah, sebagaimana sabda Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam :

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang dizhalimi. (H.R Abu Dawud, dari Abu Hurairah, dihasankan oleh Syaikh al Albani).

Sebagai penutup tulisan ini, dinukil satu hadits. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :

الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ

Orang tua adalah PINTU SURGA PALING TENGAH. Kalian bisa sia-siakan pintu itu, atau kalian bisa menjaganya. (H.R Imam Ahmad, at Tirmidzi dan Ibn Majah.   Dihasankan oleh Syuaib al Arnauth).

 Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A'lam. (2.765)

SEORANG SAHABAT MASUK SURGA KARENA TIDAK MEMILIKI RASA DENGKI

 

SEORANG SAHABAT MASUK SURGA KARENA TIDAK MEMILIKI  RASA DENGKI

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sifat dengki atau hasad adalah salah satu sifat tercela yaitu   MERASA TIDAK SUKA ATAU BENCI bila melihat orang lain  diberi nikmat oleh Allah Ta'ala. Al Imam Ibnu Taimiyah  berkata : Sesungguhnya hasad adalah di antara penyakit hati. Inilah penyakit kebanyakan manusia. Tidak ada yang bisa lepas darinya kecuali sedikit sekali. Oleh karena itu ada yang mengatakan, tidak ada jasad yang terlepas dari sifat hasad. Namun, orang yang berpenyakit (hati) akan menampakkannya. Sedangkan orang yang mulia akan menyembunyikannya. (Majmu' Fatawa).

Allah Ta'ala berfirman : 

أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۖ

Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) karena karunia yang telah diberikan Allah kepadanya. (Q.S an Nisa’ 54).

Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telah mengingatkan kita semua. Beliau bersabda : 

لاَ تَحَاسَدُوا

Janganlah kalian saling hasad …. (H.R Imam Muslim).

Ada satu riwayat yang menyebutkan tentang seorang sahabat dari kaum Anshar yang tidak memiliki rasa dengki dalam dirinya.  Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda : 

يَدْ خُلُ عَلَيْكُمْ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنِّةِ

Akan masuk kepada kalian seorang laki laki dari penduduk surga. 

Lalu masuklah seorang laki laki yang jenggotnya meneteskan air dari (bekas) wudhunya. Ditangan kirinya menenteng kedua sandalnya kemudian dia duduk ditengah orang orang. Pada hari kedua dan ketiga Nabi Salallahu 'alaihi Wasallam Kembali mengulangi perkataan yang sama dan yang masuk adalah orang itu juga. Ini adalah untuk mempertegas, karena jika tidak, maka satu persaksian itu sebenarnya sudah cukup.

Abdullah bin Amr kemudian mengikuti laki laki tersebut agar dia tahu amalnya yang telah menebabkan dia mendapat kabar gembira dengan surga. Akan tetapi Abdullah tidak mendapatkan ada banyak ibadah pada diri laki laki itu. Dia hanya mendapatkan laki laki itu sebagai seorang yang disiplin menunaikan kewajiban kewajiban, shalat di malam hari dan apabila bangun di malam hari dia berdzikir, bertasbih dan bertahlil.

Maka ketika Abdullah hendak pergi dia berkata kepada laki laki itu : Aku pernah mendengar Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda begini begitu. Aku ingin mengetahui sejauh mana amalmu. Maka laki laki itu berkata : Tidak ada, kecuali yang engkau saksikan. Dan ketika Abdullah hendak berlalu, laki laki tersebut memanggilnya dan berkata : HANYA SAJA AKU TIDAK MEMILIKI RASA DENGKI TERHADAP SEORANG MUSLIM. Lalu Abdullah berkata : Ini dia, INILAH YANG TIDAK SANGGUP KAMI LAKUKAN. (H.R Imam Ahmad, Abdurrazzaq, al Baghawi, an Nasa'i dan al Baihaqi).

Saudaraku, meskipun kita semua paham betul tentang larangan berbuat dengki serta akibat buruknya namun MASIH SANGATLAH SULIT DAN UNTUK BISA TERBEBAS DARI SIFAT BURUK DAN TERCELA INI.       


Oleh karena itu, hamba hamba Allah hendaklah terus menerus berusaha menghindarkan diri dari rasa dengki ini dan juga sangat penting kita untuk berdoa kepada Allah Ta'ala agar benar benar dijauhkan  dari rasa dengki. 

وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang orang yang beriman. Ya Rabb kami, sungguh Engkau Maha Penyantun Maha Penyayang. (Q.S al Hasyr 10).

 Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A'lam. (2.764).

 




 

Selasa, 04 Oktober 2022

PERBUATAN SYIRIK PASTI MENGHAPUS AMAL

 

PERBUATAN SYIRIK PASTI MENGHAPUS AMAL

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, melakukan kesyirikan merupakan dosa besar paling besar. Allah Ta'ala berfirman :

 إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَادُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh DIA TELAH BERBUAT DOSA BESAR. (Q.S an Nisa' 48).

Kalau kita perhatikan ternyata sejak dahulu sampai sekarang perbuatan syirik MASIH TERUS SAJA TERJADI DI BANYAK TEMPAT DI NEGERI KITA.  Diantara contoh perbuatan syirik yang dilakukan oleh sebagian manusia adalah  :

(1) Mempercayai adanya penguasa bumi yang terkait dengan tanaman padi yang disebut dewi Sri yang dianggap berjasa menyuburkan tanah sehingga panen berlimpah. Lalu pada  waktu tertentu dibuatlah sesajen untuk si dewi.

(2) Mepercayai adanya penguasa laut selatan yang mereka sebut dengan  Nyi Roro Kidul. Pada waktu waktu tertentu diberi tumbal (biasanya) berupa kepala kerbau yang dilarungkan ke laut. Katanya agar di penguasa laut ini tidak marah. 

(3) Tathayur, yaitu menganggap sial sesuatu seperti adanya hari sial, tanggal sial, angka sial bahkan nama yang sial.

(4) Mempercayai adanya dukun atau orang pintar yang bisa memuluskan usaha untuk mendapatkan jabatan BAHKAN DIPERCAYA BAHWA DUKUN BISA PULA MELANGGENGKAN JABATAN YANG SEDANG DIPEGANG.

Selain itu, ketahuilah bahwa penyebab paling utama  dan BAHKAN PASTI  membuat amal seseorang terhapus adalah menjadikan sesuatu sebagai tandingan bagi Allah Ta'ala  yakni perbuatan syirik. Allah Ta’ala  mengingatkan manusia untuk tidak membuat tandingan  terhadap-Nya yaitu sebagaimana firman-Nya : 

ۖ فَلَا تَجْعَلُوا۟ لِلَّهِ أَندَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Maka janganlah kamu mengadakan tandingan tandingan bagi Allah, pada hal kamu mengetahui. (Q.S al Baqarah 22).

Syaikh as Sa’di berkata : Bahwasanya Allah Ta'ala tidak memiliki sekutu. Tidak pula kesamaan, tidak pada penciptaan, rizki dan pengaturan, tidak pula pada pengaturan, tidak pula pada peribadahan dan kesempurnaan. Lalu bagaimanakah kamu menyembah tuhan tuhan lain bersama-Nya padahal kalian mengetahuinya. Hal  ini adalah merupakan perkara yang paling mengherankan dan yang paling bodoh. (Tafsir Taisir Karimir Rahman). 

Sungguh Allah Ta’ala telah mengingatkan bahwa  amalan  Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  dan para Nabi sebelum beliau pun  akan  terhapus jika melakukan kesyirikan, apalagi amal amal kita. Allah Ta’ala berfirman :  

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi nabi) yang sebelummu : Sungguh jika engkau mempersekutukan (Allah). niscaya akan hapuslah amalmu dan tentu engkau masuk orang yang rugi. (Q.S az Zumar 65)

Oleh karena itu hamba hamba Allah WAJIB MENJAUHKAN DIRI DARI SEMUA PERBUATAN SYIRIK. Dan selain itu teruslah bermohon kepada Allah Ta'ala antara lain dengan  doa  yang diajarkan Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ

Yaa Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari berbuat kesyirikan ketika aku mengetahuinya dan aku memohon ampunan-Mu ketika aku tidak mengetahuinya. (H.R Imam Bukhari, dalam Adabul Mufrad).

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A'lam. (2.763)

 

 

SIFAT TOLERANSI BERAGAMA DALAM ISLAM

 

SIFAT TOLERANSI BERAGAMA DALAM ISLAM

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Salah satu makna toleransi dalam KBBI  disebutkan bahwa toleransi adalah ajektif atau kata sifat yaitu  bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.

Jadi hakikat toleransi adalah terutama sekali merujuk pada sikap saling menghargai satu sama lain. Dan memang sikap toleransi sangat dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya di negeri kita dengan ragam budaya dan perbedaan agama serta kepercayaan.

Sungguh Islam yang mulia ini memiliki sifat toleransi dalam beragama. Ketahuilah dalam Islam sifat toleransi  tampak dengan jelas ketika Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam berhijrah ke Madinah.  Tatkala Rasulullah berhijrah dari Makkah ke Yatsrib (Madinah) maka penduduk Madinah banyak sekali yang masuk Islam dengan sukarela.

Sementara itu orang orang Yahudi Madinah hampir tidak ada yang  mau memeluk Islam terutama karena kedengkian mereka meskipun mereka mengetahui kebenaran Islam dan kebenaran Nabi yang diutus. Namun demikian Nabi Salallahu 'alaihi Wasallam tidak memaksa mereka untuk masuk Islam. Nabi dan orang Islam hidup berdampingan dengan orang orang Yahudi Madinah secara luwes dan tenggang rasa. 

Bahkan Nabi membuat perjanjian (damai) dengan mereka yang disebut dengan Piagam Madinah,  diantara isi perjanjian itu  adalah :

(1) Orang orang Yahudi Bani Auf adalah satu umat dengan orang mukmin. Bagi orang orang Yahudi agama mereka dan bagi kaum Muslimin agama mereka, termasuk pengikut pengikut mereka dan diri mereka sendiri. Hal ini juga berlaku bagi orang orang yahudi selain Bani Auf.

(2) Mereka harus saling nasehat menasehati, saling berbuat baik dan tidak boleh berbuat keburukan.

(3) Siapapun tidak boleh berbuat jahat terhadap orang yang sudah terikat dengan perjanjian ini.

(4) Mereka harus tolong menolong dalam menghadapi orang orang yang hendak menyerang Yatsrib. (Lihat Kitab ar Rahiq al  Makhtum, Syaikh Shafiyurrahman al Mubarakfuri).

Diantara prinsip utama TOLERANSI DALAM ISLAM  adalah tidak ada paksaan dalam memeluk agama Islam.  Memaksa  kelompok atau orang orang  yang berada dibawah kekuasaan  ataupun tawanan Islam tidaklah diperkenankan apalagi orang atau kelompok selainnya. Allah Ta’ala berfirman :

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ 

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. (Q.S al Baqarah 256).

Imam Ibnu Katsir   menukil perkataan Ibnu Abbas meriwayatkan tentang seorang sahabat Anshar dari Bani Salim bin ‘Auf yang memiliki dua orang anak laki laki. Kedua anaknya ini beragama Nasrani. Lalu sahabat Anshar ini datang kepada Rasulullah bertanya : Ya Rasulullah, bolehkah aku memaksa kedua anakku (untuk masuk Islam) karena mereka beragama Nasrani.

Lalu turun ayat 256 dari surat al Baqarah. Allah berfirman “Tidak ada paksaan untuk (masuk) agama (Islam).  Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang  sesat.”. (Tafsir Ibnu Katsir).

Tentang ayat yang mulia ini  pula, Syaikh Abdurrahman as Sa’di, dalam Kitab Tafsir Karimur Rahman menjelaskan : Ayat ini menerangkan tentang kesempurnaan ajaran Islam. Dan bahwasanya karena kesempurnaan bukti buktinya, kejelasan ayat ayat dan keadaannya merupakan ajaran akal dan ilmu, ajaran fitrah dan hikmah, ajaran kebaikan dan perbaikan, ajaran kebenaran dan jalan yang lurus, maka karena kesempurnaannya dan penerimaan fitrah terhadapnya, maka (untuk masuk) Islam tidak perlu pemaksaan

Syaikh as Sa’di lebih lanjut menjelaskan bahwa : Pemaksaan itu hanya terjadi pada suatu perkara yang dijauhi oleh hati, tidak memiliki hakikat dan kebenaran atau bukti bukti dan ayat ayatnya tidak ada. Jadi barang siapa yang telah mengetahui ajaran (Islam) ini dan dia menolaknya maka hal itu didasari oleh kedurhakaannya, karena (Allah Ta’ala telah berfirman) :  “sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat”. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Ketahuilah bahwa dakwah untuk memeluk agama Islam hanya  sekedar anjuran atau ajakan. Itupun harus dilakukan secara bijak. Allah Ta’ala berfirman :  

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ 

Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pengajaran yang baik. Dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. (Q.S an Nahl 125).

Ada banyak riwayat yang menunjukkan bahwa Islam tidak pernah memaksa orang lain untuk masuk Islam, diantaranya :

Pertama : 70 orang tawanan  dari perang Badr.

Dalam satu Riwayat disebutkan bahwa setelah perang usai, ada 70 orang pasukan kafir Quraisy dari Makkah ditawan oleh pasukan Islam dalam perang Badr (Riwayat Imam Bukhari). Semua tawanan itu digiring ke Madinah.

Namun demikian Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  tidak memaksa mereka masuk Islam meskipun mereka tawanan dibawah kekuasaan kaum Muslimin. Nabi Salallahu 'alaihi Wasallam hanya memberikan pilihan kepada mereka apakah mereka akan masuk Islam atau membayar tebusan untuk kebebasannya. (Lihat Sunan Abu Dawud).

Kedua : Peristiwa Fathul Makkah.

Pada Ramadhan tahun ke 8 Hijriah Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  dengan 10.000 pasukan kaum muslimin  memasuki kota Makkah tanpa perlawanan dari kafir Quraisy. Beliau masuk kota Makkah dengan  tetap menundukkan kepala sambil membaca firman Allah : 

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا

Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. (Q.S al Fath 1)

Lalu beliau mengumumkan kepada penduduk Makkah :“Siapa yang masuk masjid maka dia aman, siapa yang masuk rumah Abu Sufyan maka dia aman, siapa yang masuk rumahnya dan menutup pintunya maka dia aman.”

Beliau terus berjalan hingga sampai di Masjidil Haram. Dalam Riwayat al Baihaqi disebutkan bahwa  beliau bersabda :“Wahai orang Quraisy, apa yang kalian bayangankan tentang apa yang akan aku lakukan terhadap kalian ?” Merekapun menjawab : Yang baik-baik, sebagai saudara yang mulia, anak dari saudara yang mulia.

Beliau juga bersabda :“Aku sampaikan kepada kalian sebagaimana perkataan Yusuf kepada saudaranya: ‘Pada hari ini tidak ada cercaan atas kalian. Allah mengampuni kalian. Dia Maha Penyayang.’ Pergilah kalian !. Sesungguhnya kalian telah bebas.”

Meskipun telah menguasai kota Makkah dan penduduknya menyerah tapi Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  dan pasukan Islam TIDAK MEMAKSA penduduk Makkah masuk Islam. Meskipun demikian sangatlah banyak orang yang  masuk Islam pada saat itu atas  kemauan sendiri dan  juga ada yang masih tetap dengan kemusyrikannya dengan agama nenek moyang mereka.

Ketiga : Kemenangan besar pasukan Islam dalam perang Yarmuk.

Dr. Utsman bin Muhammad al Khamis   antara lain menceritakan bahwa salah satu perang besar terjadi pada tahun 13 H yakni pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar ash Shiddiq yaitu perang Yarmuk. Perang ini adalah antara pasukan Islam melawan pasukan Romawi yang saat itu dikenal sebagai  pasukan terkuat dan terbesar di dunia. 

Dibawah komando Panglima perang yang terkenal yaitu Khalid bin Walid, dalam perang ini umat Islam mengalami kemenangan besar sehingga bisa menguasai kota Damsyiq atau Damaskus Syiria.   Di kota ini pasukan Islam mendapati sebuah gereja yang cukup besar yaitu gereja Yohanna.

Pada saat kaum muslimin membutuhkan masjid maka pasukan Islam minta kepada pengurus  gereja ini untuk membagi bangunan gereja menjadi dua bagian. Sebagian akan digunakan untuk masjid dan sebagian digunakan masih boleh digunakan untuk gereja. (Lihat Kitab Hibqah minat Taarrikh).

Jadi, meskipun pasukan Islam mendapat kemenangan dan berkuasa  namun tidak memaksa orang orang Nasrani masuk Islam dan tidak mengambil paksa  seluruh bangunan gereja untuk dijadikan masjid sebagai  tempat shalat kaum muslimin.

Dari riwayat ini diketahui  SECARA NYATA DAN JELAS bahwa Islam adalah agama yang SANGAT TOLERANSI TERHADAP PEMELUK AGAMA LAIN.   

Namun demikian PERLU DIPAHAMI TENTANG TOLERANSI YANG BENAR. JANGAN SAMPAI KEBABLASAN. Ketahuilah bahwa toleransi terhadap penganut agama lain hanyalah sebatas muamalah dalam arti sempit saja. Diantaranya dalam bergaul secara umum. Tetapi yang berkaitan dengan aqidah dan ibadah TAK ADA SEDIKITPUN RUANG UNTUK TOLERANSI.

Sungguh keliru berat apa yang dilakukan sebagian saudara kita yang atas nama toleransi lalu ikut ikut merayakan atau memberikan ucapan selamat pada hari perayaan perayaan agama lain. Ada pula yang  memenuhi undangan ketempat ibadah mereka dan ikut pula berdoa bersama. Dan ini kenyataan di negeri kita bahkan  ada beberapa  orang berilmu  bergelar doktor, profesor yang membolehkan mengucapkan selamat atas perayaan agama lain.

Padahal dalam Islam, konsep toleransi sungguh sangat jelas bahwa dalam perkara aqidah dan ibadah tidak ada toleransi, karena aqidah dan ibadah adalah sesuatu yang mutlak dan tidak ada celah untuk dikompromi.

Insya Alla ada manfaat bagi kita semua. Wallahu A'lam. (2.762).