Minggu, 19 November 2017

SURAT YUSUF DAN MARYAM DIBACA KETIKA HAMIL ??



SURAT YUSUF DAN MARYAM DIBACA KETIKA HAMIL ??

Oleh : Azwir B. Chaniago

Surat dalam al Qur an ada 114. Semuanya pastilah memiliki keutamaan, keistimewaan dan kemuliaan karena al Qur an adalah Kalamullah atau firman Allah Ta’ala. Bahkan sangat banyak surat ataupun ayat  dalam al Qur an yang dijelaskan Rasulullah keistimewaaan dan keutamaannya secara khusus.

Beberapa diantaranya adalah :

Pertama : Surat al Mulk, surat ke 67.
Surat al Mulk   yang terdiri dari 30 ayat. Beliau bersabda : Satu surat dalam al-Qur’an (yang terdiri dari) tiga puluh ayat (pada hari kiamat) akan memberi syafa’at (dengan izin Allah Ta’ala) bagi orang yang selalu membacanya (dengan merenungkan artinya) sehingga Allah mengampuni (dosa-dosa)nya, (yaitu surat al-Mulk): “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”. Dalam riwayat lain: “…sehingga dia dikeluarkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga” (H.R Abu Dawud,  at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan yang selainnya, dihasankan oleh Syaikh al Albani, dari Abu Hurairah)

Hadits ini semakna pula dengan hadits  dari Anas bin Malik radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah Shallallahualaihi wasallam bersabda : “Satu surat dalam al-Qur’an yang hanya (terdiri dari) tiga puluh ayat akan membela orang yang selalu membacanya (di hadapan Allah Ta’ala) sehingga dia dimasukkan ke dalam surga, yaitu surat : Tabaarakal ladzi biyadihil mulk, wa huwa ‘alaa kulli syai-in  qadiir”. (H.R ath-Thabrani, dihasankan oleh Syaikh al Albani). 

Kedua : Surat al Baqarah, surat ke 2.
Syaithan tidak akan mau berada dalam rumah yang dibacakan surat al Baqarah. Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Janganlah kalian jadikan rumah rumah kalian sebagai kuburan. Sesungguhnya syaithan itu akan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan surat al Baqarah. (H.R Imam Muslim).

Ketiga : Surat al Ikhlas, surat ke 112.
Termasuk juga surat al Ikhlas yang memiliki keutamaan tersendiri sebagaimana dijelaskan Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam.

Dari Mu’adz bin Anas, Rasulullah bersabda : “Man qara-a (Qul huwallahu ahad) hatta yakhtimahaa ‘asyra marraatin banallahu lahu qashran fil jannah”  Barangsiapa yang membaca qul  huwallahu ahad sampai selesai sebanyak sepuluh kali maka Allah akan membangunkan baginya istana di surga. 

Umar berkata : Kalau begitu kita memperbanyak istana wahai Rasulullah ?. Beliau menjawab : Allah lebih banyak (memberi balasan) dan lebih baik. (H.R Imam Ahmad, dihasankan oleh Syaikh al Albani).

Lalu ternyata disebagian masyarakat kita ada yang memelihara semacam kepercayaan dan dijadikan kebiasaan serta dianjurkan yaitu untuk membaca surat Yusuf dan surat Maryam ketika seseorang  sedang hamil. Bahkan ada yang mengatakan  bahwa ketika ibu ibu sedang hamil  dianjurkan membaca kedua surat ini sehingga ketika anaknya lahir adalah laki laki  nanti akan ganteng seperti Nabi Yusuf dan jika perempuan akan cantik seperti Maryam ibunda Nabi Isa.

Ketahuilah bahwa tentang hal ini tak ada dalil atau sandaran  syariat. Barangkali ini bermula dari perasaan dan kebiasaan saja sehingga tak patut untuk diamalkan. Bahkan tidak ada kabar bahwa ketika seorang punya anak yang ganteng atau cantik adalah karena waktu hamil ibunya banyak membaca surat Yusuf dan surat Maryam.

Memang sangat ditekankan kepada semua orang yang beriman untuk senantiasa membaca al Qur an pada setiap kesempatan dan keadaannya termasuk pada saat hamil. Dalam hal ini yang dibaca bukan  surat Yusuf dan surat Maryam saja. Adapun tujuan membaca al Qur an  terutama sekali agar bisa mengambil petunjuk dari al Qur an dan juga sebagai ibadah serta mendekatkan diri dan mencari ridha-Nya. 

Oleh karena itu tidaklah baik jika seseorang melakukan suatu amal yang tak ada sandarannya dari syariat.  Wallahu A’lam. (1.167)

Sabtu, 11 November 2017

ANCAMAN BAGI YANG MEMILIH PEMIMPIN KAFIR



ANCAMAN BERAT BAGI YANG MEMILIH PEMIMPIN KAFIR

Oleh : Azwir B. Chaniago

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Innal kaafiriina kaanuu lakum ‘aduwan mubiinaa”. Sesugguhnya orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu. (Q.S an Nisa’ 101).
Imam az Zarkasi berkata : Ayat ini maknanya adalah permusuhan (terhadap orang beriman) untuk selama lamanya. Permusuhan mereka bersifat langgeng.

Oleh karena itu  Allah melarang memilih kafir (musuh orang beriman) sebagai pemimpin. Bagi mereka yang nekad memilih pemimpin kafir maka Allah Ta’ala telah memberikan ancaman yang sangat  berat, diantaranya :

Pertama : Allah berlepas diri dari mereka.
Allah Ta’ala berfirman : “Janganlah orang orang beriman menjadikan orang kafir sebagai pemimpin, melainkan orang yang beriman. Barangsiapa berbuat demikian niscaya dia tidak akan memperoleh apa apa dari Allah, kecuali karena (siasat) menjaga diri dari sesuatu yang kamu takutkan dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu akan diri (siksa)-Nya dan hanya kepada Allah tempat kembali”. (Q.S Ali Imran28).

Syaikh as a’di berkata : Ini adalah larangan Allah Ta’ala dan peringatan bagi orang orang yang beriman agar TIDAK MENJADIKAN ORANG ORANG KAFIR sebagai wali (pemimin pemimpin) mereka selain kaum mukminin, karena kaum mukminin itu sebagian mereka adalah wali bagi sebagian lainnya. Dan Allah adalah wali bagi mereka. “Barang siapa berbuat demikian” yaitu menjadikan orang orang kafir sebagai pemimpin, niscaya ia terlepas dari Allah dan Allah juga berlepas diri darinya. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Kedua : Menjadi alasan bagi Allah menghukum mereka
Allah Ta’ala berfirman : “Wahai orang orang yang beriman !. Janganlah kamu menjadikan orang orang kafir sebagai pemimpin selain dari orang yang beriman. Apakah kamu ingin memberi alasan yang jelas bagi Allah (untuk menghukummu)”.Q.S an Nisa’ 144.

Ketiga : Memilih  kafir sebagai pemimpin adalah masuk golongan kafir.
Allah Ta’ala berfirman : “Wahai orang orang yang beriman !. Janganlah kamu mengambil orang orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin pemimpin (kamu), sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang orang yang zhalim”. (Q.S al Maidah 51).

Tentang ayat ini, Imam Ibnu Katsir membawakan sebuah kisah dari Ibnu Hatim, dari Iyadh : Bahwa Umar pernah menyuruh Abu Musa al Asy’ari untuk melaporkan kepadanya pemasukan dan pengeluaran (uang yang dicatat) pada selembar kulit yang telah disamak. Pada waktu itu Abu Musa al Asy’ari mempunyai sekretaris beragama Nasrani. 

Kemudian sekretarisnya itu menghadap Umar untuk memberikan laporan maka Umar sangat kagum seraya berujar : Ia adalah orang yang sangat teliti. Apakah engkau bisa membacakan untuk kami di masjid satu surat yang baru kami terima dari Syam. Maka Abu Musa mengatakan bahwa dia (sekretaris itu) tidak bisa. Maka Umar bertanya : Apakah ia junub ?. Abu Musa menjawab : Tidak, tetapi dia seorang Nasrani. Maka Umar pun menghardikku dan memukul pahaku, lalu berkata : Keluarkanlah (pecatlah) orang itu. 

Selanjutnya Umar membaca : “Ya aiyuhal ladziina aamanuu laa tattakhidzuul yahuuda wan nashaaraauliyaa-a”. Wahai orang orang yang beriman !. Janganlah kamu mengambil orang orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin pemimpin kamu (sahabat karib). Lihat Tafsir Ibnu Katsir.

Oleh karena itu seorang hamba yang beriman tidak akan pernah memilih orang kafir sebagai pemimpin karena takut dengan ancaman Allah Ta’ala.  Wallahu A’lam. (1.166)

Kamis, 02 November 2017

NASEHAT USMAN BIN AFFAN TENTANG MUDHARAT KHAMER



NASEHAT USMAN BIN AFFAN TENTANG MUDHARAT KHAMER

Oleh : Azwir B. Chaniago

Apa yang dimaksud dengan khamer ?. Menurut jumhur Ulama khamer maknanya adalah minuman yang memabukkan.  Khamer juga bisa mencakup segala sesuatu yang apabila dikonsumsi membuat orang kehilangan kesadaran menimbulkan ketagihan. Jadi dalam hal ini termasuk juga diantaranya : candu, narkotika dari berbagai jenis nama dan merek serta obat obat terlarang lainnya.

Ketahuilah bahwa minuman khamer bagi umumnya orang Arab pada masa jahiliyah sudah menjadi kebiasaan yang mendalam pada diri mereka. Mereka membuatnya, menyimpan dalam jumlah yang banyak dan sering meminumnya. Bahkan terkadang mereka mengadakan pesta pesta minuman keras pada waktu waktu tertentu.

Ketahuilah bahwa sebelum diutus Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam,  Usman bin Affan  hidup dan bergaul bersama Arab Jahiliyah. Namun demikian beliau ternyata tidak pernah minum khamer. Pada hal tak ada sesuatu atau siapapun  yang akan menghalangi beliau melakukannya. 

Dikatakan kepada Usmanbin Affan : Mengapa engkau tidak pernah minum khamer pada masa jahiliyah, pada hal itu tak mengapa jika engkau lakukan ?. Lalu beliau menjawab : Sesungguhnya aku melihat (khamer) dapat menghilangkan akal secara keseluruhan dan aku tidak melihat sesuatu yang telah hilang secara total, bisa pulih kembali secara total pula.  

Selain itu, Usman  juga memberi nasehat tentang bahaya yang besar tersebab meminum khamer. Beliau berkata : Jauhilah oleh kalian (meminum) khamer karena ia adalah sumber segala keburukan. Seorang laki laki diberi pilihan antara membakar kitab suci, atau membunuh seorang anak (yang tidak berdoa) atau berzina dengan wanita atau meminum minuman keras atau sujud kepada salib.

Maka laki laki tersebut mengira yang paling ringan adalah meminum khamer. Maka setelah meminum khamer hilanglah akal dan kesadarannya. Lalu dia bersujud kepada salib, membunuh seorang anak, berzina  dan membakar kitab suci. (Kitab al Bidaayah wan Nihaayah).

Oleh sebab itu seorang hamba akan berusaha keras untuk menjauhi khamer yang akan membahayakan dirinya. Dan sungguh   Allah Ta’ala telah mengharamkan khamer sebagaimana firman-Nya : “Wahai orang orang yang beriman !. Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan syaithan. Maka jauhilah (perbuatan perbuatan) itu agar kamu beruntung”. (Q.S al Maidah 90).

Wallahu A’lam. (1.165)   

Rabu, 01 November 2017

ISTIGHFAR MEMBUKA JALAN DARI BERBAGAI KESULITAN



ISTIGHFAR MEMBUKA JALAN DARI BERBAGAI KESULITAN

Oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan kabar gembira bagi orang orang beriman yang senantiasa beristighfar. Allah akan membuka jalan baginya dari berbagai kesulitan dan kegundahan dari arah yang tidak disangka. 

Rasulullah bersabda :  “Man aktsara minal istighfaari ja’alallahu lalu min kulli hammin farajaa, wa min kulli dhiiqin makhraja, wa yarzuquhu min haitsu la yahtasib”. Barang siapa yang memperbanyak istighfar, Allah Ta’ala akan menjadikan baginya kelapangan  dari setiap kegundahan dan jalan keluar dari setiap kesempitan. Dan Allah Ta’ala akan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka sangka. (H.R  Imam Ahmad) 

Ketahuilah bahwa ketika seseorang senantiasaa meminta ampun dan bertaubat maka tentulah mendatangkan kebaikan yang banyak, diantaranya adalah sebagaimana firman Allah Ta’ala :  “Dan hendaklah kamu memohon ampun kepada Rabb-mu dan bertaubat kepada-Nya niscaya Dia akan memberikan kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan”. (Q.S Huud 3).

Syaikh as Sa’di berkata : “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu”, dari dosa dosa yang kamu kerjakan “dan bertaubat kepada-Nya”. Pada (sisa) umurmu yang kamu hadapi dengan kembali dan mendekatkan diri kepada-Nya, meninggalkan sesuatu yang dibenci-Nya kepada sesuatu yang dicintai dan diridhai-Nya.

Kemudian Allah Ta’ala menyebut akibat dari istighfar dan taubat seraya berfirman : niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus kepadamu”.  Maksudnya, Dia memberimu rizki yang bisa kamu nikmati dan kamu manfaatkan “sampai kepada waktu yang telah ditentukan”  yakni sampai kamu mati. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Bahkan orang orang selalu beristighfar tak akan di adzab. Allah berfirman : (Q.S al Anfaal 33).
Syaikh as Sa’di berkata : Ini adalah pencegah adzab dari mereka pada hal sebab sebab turunnya adzab itu telah tercapai. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Selain itu, meminta ampun akan mendatangkan berbagai jalan keluar dari berbagai masalah dan kesulitan. Imam al Qurtubi dalam kitab tafsirnya menyebutkan dari Ibnu Subaih bahwa :

Pertama : Ada seorang yang mengadukan musim paceklik kepada Imam Hasan al Bashri, maka Imam Hasan al Bashri berkata : Istighfarlah engkau kepada Allah. 

Kedua : Ada pula yang mengadukan keadaannya yang miskin dan minta di doakan agar diberi harta. Imam Hasan al Bashri berkata : Istighfarlah engkau kepada Allah. 

Ketiga : Ada pula yang minta  didoakan agar dia memperoleh anak karena sudah lama menikah belum memperoleh anak. Imam Hasan al Bashri berkata : Istighfarlah engkau kepada Allah. 

Keempat :  Ada pula yang mengadu bahwa kebunnya kekeringan karena hujan sudah lama tidak turun. Imam Hasan al Bashri berkata : Istighfarlah engkau kepada Allah.
Melihat hal itu Rabi’ bin Subaih bertanya : Wahai Imam Hasan al Bashri, tadi orang orang datang kepada engkau untuk mengadukan berbagai permasalahan dan kebutuhannya yang berbeda beda. Tapi engkau menyuruh semuanya untuk memohon ampun kepada Allah. Mengapa begitu ?

Imam Hasan al Bashri menjawab : Sungguh aku tidak menjawab dari diriku tapi Allah yang telah menyebutkan dalam firmanNya agar semuanya senantiasa beristighfar. Lalu Imam Hasan al Bashri membacakan surat Nuh ayat 10 dan 12 : “Maka aku katakan kepada mereka : Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya dia adalah Mahapengampuni. Niscaya Dia akan menurunkan hujan kepadamu dengan lebat dan memperbanyak harta dan anak anakmu, dan mengadakan untukmu kebun kebun dan mengadakan (pula di dalamnya)  untukmu sungai sungai.” 

Oleh karena itu maka seorang hamba akan senantiasa beristighfar dan bertaubat kepada Allah Ta’ala  agar dosa dosanya diampuni dan juga akan diberi jalan keluar dari berbagai kesulitan.
Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.164)