Rabu, 12 Agustus 2015

KEJAR AKHIRAT DUNIA DAPAT



KEJAR  AKHIRAT DUNIA  DAPAT

Oleh : Azwir B. Chaniago

Muqaddimah
.Seorang hamba yang cerdas akan selalu berusaha mencari bahkan mengejar kehidupan akhirat yang abadi. Mereka tidak akan mengejar kehidupan dunia yang rendah, semu, sangat sementara, fana dan pasti akan punah. Allah berfirman :   “Walal aakhiratu khairul laka mina uula”  Dan sungguh yang kemudian itu lebih baik bagimu dari pada yang permulaan (Q.S ad Duhaa 4). 

Tapi sungguh ada yang menarik bahwa seorang hamba yang bersungguh sungguh mengejar akhirat maka pastilah Allah juga akan memberikan  dunia baginya. Bahkan jika Allah berkehendak Dia akan memberi hamba-Nya harta yang berlimpah.

Abdurrahman bin ‘Auf adalah salah satu sahabat yang sangat kaya. Ketahuilah bahwa beliau sangat dermawan.  Tidak ada satupun riwayat yang menjelaskan bahwa beliau berjuang keras untuk mendapatkan harta dunia. Dia tidak habis habisan dalam berbisnis. Ia berbisnis dengan santai tapi dengan pertolongan Allah Ta’ala hasilnya selalu berlimpah. Hartanya tidak untuk dinikmati sendiri melainkan untuk dinikmati oleh keluarga, kerabat bahkan masyarakat Madinah serta untuk  membela perjuangan menegakkan Islam. Ketahuilah bahwa dalam kehidupan sehari hari   beliau tidaklah berjuang dengan keras untuk mendapatkan dunia tapi berjuang untuk mengejar  negeri akhirat yang kekal. 

Jangan salah paham.
Namun ada pula diantara manusia yang salah paham. Mungkin karena ketidak tahuan maka sebagian manusia ada yang berkata : Jangan bicara akhirat melulu. Jangan urusan akhirat dan ibadah terus. Dunia juga harus dikejar. Paling tidak fifty-fifty lah. Bukankah Allah telah berfirman : “Wabtaghi fiimaa ataakallahud darul aakhirah. Walaa tansa nashiibaka minad dun-yaa. Wa ahsin kamaa ahsanallahu ilaika. Walaa tabghil fasaada fil ardhi. Innallaha laa yuhibbul mufsidiin”.  Dan carilah pada sesuatu yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada hamba hamba Allah) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu  dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang orang yang berbuat kerusakan.  (Q.S al Qashash 77). 

Bukankah Rasulullah juga telah bersabda :“I’mal lidun-yaaka ka–annaka ta’isyuabadan, wa’malli aakhiratika ka-annaka tamuutu ghadan”.Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin al ‘Ash bahwa Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Beramallah (bekerjalah) untuk duniamu seakan akan kamu akan hidup selamanya. Dan beramallah untuk akhiratmu seakan akan kamu akan mati besok.
Inilah ayat dan (hadits ?) yang sering dijadikan sandaran oleh orang orang yang mengejar dunia dan sangat sedikit mereka yang berusaha dan mencari bekal untuk hari akhirat.

Penjelasan ulama tentang makna ayat dan kedudukan hadits diatas.
Point Pertama : Tentang makna surat al Qashash ayat 77.
Ayat 77 dari surat al Qashash ini bukanlah bermakna  bahwa manusia berkewajiban mencari dunia dan akhirat secara seimbang atau dengan istilah yang sering dipakai fifty-fifty. Tidak, tidak demikian maknanya.  

Ketahuilah bahwa ayat 77 ini bukanlah ayat yang berdiri sendiri  tapi adalah satu kesatuan dengan ayat sebelum dan sesudahnya yaitu ayat 76 sampai 82. Ayat 76, 78 sampai  82 adalah berkisah tentang Qaarun. Qaarun, sebagaimana kita ketahui adalah makhluk Allah yang hidup di zaman nabi Musa, bahkan dia adalah anak paman nabi Musa. Setelah dia kaya raya, datang kesombongan dan kekikirannya.Dia tidak mau menginfakkan sebagian hartanya maka  akhirnya dia ditenggelamkan Allah kedalam bumi bersama hartanya. 

Nah, ayat 77 al Qashash ini adalah nasehat yang penting dan terutama ditujukan kepada Qarun yang melalaikan akhirat dengan hartanya yaitu sangat pelit atau kikir untuk membelanjakan hartanya di jalan Allah. Lalu ditegur melalui ayat ini. Lihatlah kalimat pembuka ayat ini :“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu” Yaitu bersedekahlah dan berinfaklah dengan harta yang telah diberikan Allah kepada engkau wahai Qaarun (dan juga orang orang yang semisalnya).

Sebagai tambahan penjelasan, mari kita lihat apa yang dikatakan Syaikh as Sa’di tentang tafsir ayat ini : 

Pertama : “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagian) negeri akhirat. Maksud ayat ini adalah jika sudah tercapai bagimu berbagai sarana akhirat yang (mungkin) tidak dimiliki (sebagian) orang lain, yaitu berupa harta kekayaan, maka gunakanlah ia untuk memperoleh sesuatu yang ada disisi Allah dan bersedekahlah. Jangan sekali kali kamu merasa cukup dengan hanya sekedar memperoleh kepuasan nafsu dan meraih berbagai kelezatan.

Kedua : “Dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari duniawi” Maksudnya, Kami tidak memerintahkan supaya kamu menyedekahkan seluruh harta kekayaanmu sehingga engkau menjadi terlantar. Akan tetapi berinfaklah untuk akhiratmu dan bersenang senanglah dengan harta duniamu dengan tidak merusak agamamu dan tidak pula membahayakan akhiratmu.

Ketiga : “Dan berbuat baiklah” kepada hamba hamba Allah, “sebagaimana Allah telah berbuat kepadamu”yaitu dengan menganugerahkan kamu harta kekayaan ini.
Keempat : “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi” dengan  bersikap sombong dan berbuat berbagai maksiat terhadap Allah serta tenggelam di dalam berbagai kenikmatan dengan melupakan Pemberi nikmat itu.
Kelima : “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang orang yang berbuat kerusakan” Bahkan Allah akan menyiksa mereka atas perbuatan itu dengan siksa yang paling berat.

Point kedua tentang kedudukan hadits “bekerjalah untuk duniamu …”
Para ulama  telah memberikan penilaian terhadap kedudukan hadits ini, diantaranya adalah :

Pertama : Hadits ini disebutkan oleh Abdullah bin Mubarak dalam Kitab az Zuhd, dari Muhammad bin Ajlan dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash yaitu ucapan yang semakna dengan hadits diatas. Sanad riwayat ini lemah karena terputus. Muhammad bin ‘Ajlan tidak bertemu dengan Abdullah bin Amr bin ‘Ash. (Lihat Silsilah Ahaaditsidh Dha’ifah wal Maudhu’ah).

Kedua :  Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani, seorang ahli hadits abad ini berkata : Hadits ini   tidak ada asal usulnya secara marfu’ dari Rasulullah, meskipun riwayat ini sangat populer diucapkan dikalangan kaum muslimin zaman sekarang. (Kitab Silsilah hadits Dha’if dan Maudhu’)

Ketiga : Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin, seorang ulama besar dari Saudi, berkata : Ucapan ini diriwayatkan sebagai hadits dari Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi Wasallam, pada hal bukan hadits. Yang benar adalah bahwa pernyataan di atas diriwayatkan dari ucapan sahabat Abdullah bin Amr bin ‘Ash, itupun dengan periwayatan yang lemah. (Majmu’ Fatawa Syaikh Utsaimin).

Jangan keliru dalam memahami hakikat dunia dan keberuntungan.
Memang banyak manusia yang keliru dalam memahami dan memberi nilai kepada dunia. Mereka telah tertipu dengan kehidupan dunia. Dikira akan ada terus. Pada hal dunia itu semu, fatamorgana dan fana. 

Namun demikian, kita lihat, sebagian manusia saat ini  berlomba mengejar harta dunia dengan segala kenikmatan dan kelezatannya. Mereka merasa bahwa dunia ini adalah segalanya sehingga harus diburu dengan segala cara. Jika tidak bisa meraih dunia berarti mereka telah memperoleh kerugian bukan keberuntungan. Benar,  kita harus mengejar keberuntungan dan tidak ada yang mau rugi.

Hanya saja, seorang muslim tidaklah boleh  salah dalam memahami makna keberuntungan.  Allah telah menjelaskan makna keberuntungan yang hakiki yaitu sebagaimana firman-Nya :  “Kullu nafsin dzaa-iqatul maut, wa innama tuwaffauna ujuurakum yaumal qiyaamah, faman zuhziha ‘anin naari wa udkhilal jannata faqad faaz. Wamal hayaatad dun-yaa illaa mataa’ul ghuruur” Tiap tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan kedalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan yang memperdayakan (Q.S Ali Imran 185).

Syaikh as Sa’di berkata : Bahwa ayat yang mulia ini mengandung penjelasan tentang zuhud dari dunia karena bersifat sementara dan tidak kekal. Dan bahwa dunia itu adalah perhiasan yang menipu, membuat fitnah dengan keindahannya, menipu dengan kecantikan dan kemolekannya. Kemudian dunia itu akan berpindah dan ditinggalkan menuju negeri yang abadi. Jiwa jiwa manusia akan dipenuhi dengan dengan apa yang telah diperbuatnya di dunia ini berupa kebaikan maupun keburukan. 

Selanjutnya dijelaskan pula oleh beliau bahwa : Maka barang siapa dijauhkan, artinya dikeluarkan, dari neraka dan dimasukkan kedalam surga, maka sungguh dia telah beruntung,  maksudnya dia telah memperoleh kemenangan yang besar dan selamat dari  siksa yang pedih dan sampai kepada surga yang penuh nikmat. (Kitab Tafsir Kariimir Rahman).

Jadi berlombalah mengejar akhirat dan dunia pasti  akan diperoleh sebagaimana yang telah Allah Ta’ala tetapkan bagi setiap hamba.

Wallahu A’lam. (362)



DUNIA PENJARA BAGI ORANG MUKMIN



DUNIA PENJARA BAGI ORANG MUKMIN

Oleh : Azwir B. Chaniago

Abu Hurairah meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam : “Ad dun-ya sijnul mu’min, wa jannatul kaafir”  Dunia adalah penjara bagi orang yang beriman dan surga bagi orang kafir (H.R Imam Muslim).

Lalu kenapa Rasulullah menyebut dunia sebagai penjara bagi orang yang beriman. Bukankah  orang orang yang beriman, secara umum, boleh dan bebas berjalan kemana mana  dia mau. Bahkan kita melihat orang orang beriman banyak pula yang memiliki harta dan pangkat atau jabatan yang tinggi dengan karunia Allah Ta’ala. Kita mengetahui bahwa  Nabi Sulaiman seorang yang beriman, dikenal sebagai raja dan memiliki kekayaan yang banyak. 

Yang dimaksud dalam hadits ini tentulah bukan berarti orang mukmin itu berada dalam penjara yang bermakna dikurung secara fisik dalam rumah rumah tahanan. Tidak boleh keluar dan dibatasi berbagai hak haknya.

Imam an Nawawi memberikan penjelasan kepada kita tentang makna hadits ini dalam Kitab Syarah Shahih Muslim. Beliau menjelaskan : Maksudnya, setiap orang yang beriman  itu terpenjara di dunia karena dia dilarang mengikuti hawa nafsunya dan dilarang mengerjakan yang haram dan yang dibenci Allah Ta’ala. Bahkan diwajibkan mentaati perintah Allah yang (terkadang) merupakan perkara berat baginya. Tetapi apabila dia telah meninggal dunia maka hatinya tenang karena akan memperoleh imbalan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang senantiasa mengalir dan istirahat yang panjang dari segala bentuk kekurangan.

Jadi orang yang beriman akan senantiasa menjadikan hidupnya sebagai pengabdian terhadap perintah dan larangan yang telah ditetapkan Allah Ta’ala. Diri mereka betul betul terikat dengan perintah dan larangan yang pastilah semua itu untuk kemaslahatan kehidupannya. 

Sungguh Allah telah berfirman : “Wamaa khalaqtul jinna wal insa illaa liya’buduun” Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.
Dan dengan mentaati batasan batasan yang telah ditetapkan Allah Ta’ala maka mereka, orang orang yang beriman dan beramal shalih  akan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan kenikmatan yang sangat besar di akhirat yaitu surga yang telah dijanjikan baginya.  
  
Allah berfirman : “Wa basysyiril ladziina aamanuu wa ‘amilush shalihaati annalahum jannatin tajrii min tahtihal anhaar” Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang orang yang beriman dan beramal shalih, bahwa untuk mereka (disediakan) surga  surga yang mengalir di bawahnya sungai sungai. (Q.S al Baqarah 25)  

Wallahu A’lam. (361)


Selasa, 11 Agustus 2015

NASEHAT SYAIKH ABDUL MUHSIN AL BADR



NASEHAT SYAIKH ABDUL MUHSIN  AL BADR BAGI PENUNTUT
ILMU

Oleh : Azwir B. Chaniago 

Syaikh Abdul Muhsin bin Hamid al ‘Abbad al Badr adalah seorang Ulama Saudi Arabia yang sangat dalam ilmunya. Beliau adalah bekas Rektor Universitas Islam Madinah dan juga pengajar tetap di Masjid Nabawi. Beliau memberi nasehat  untuk para penuntut ilmu dimanapun berada. 

Diantara nasehat beliau adalah :
Pertama : Para penuntut ilmu hendaklah selalu bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla atas taufiq yang dianugerahkan-Nya kepada mereka karena Allah telah menjadikan mereka menjadi penuntut ilmu.

Kedua : Para penuntut ilmu hendaklah selalu menjaga keikhlasan mereka di dalam menuntut ilmu dan mengerahkan jiwanya untuk mendapatkan ilmu.

Ketiga : Para penuntut ilmu hendaklah selalu memelihara waktu mereka dan menyibukkan diri dengan menuntut ilmu karena ilmu itu tidak bisa diraih hanya dengan angan angan dan membiarkan diri dalam kemalasan dan kelesuan.

Keempat : Para penuntut ilmu hendaklah selalu menyibukkan diri dengan perkara perkara yang bermanfaat dari perkara perkara yang tidak bermanfaat bagi mereka.

Insya Allah bermanfaat. Wallahu A’lam.  (360)


KEBURUKAN DAN KEBAIKAM ADALAH UJIAN



KEBURUKAN DAN KEBAIKAN ADALAH UJIAN

Oleh : Azwir B. Chaniago.

Semua manusia pasti akan diuji, diberi cobaan.  Allah berfirman : “Ahasiban naasu an yutrakuu an yaquuluu aamannaa wa hum laa yuftanuun”  Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan dengan hanya mengatakan : “Kami telah beriman”, dan mereka tidak diuji ?  (Q.S al Ankabuut 2).

Allah berfirman : “Kullu nafsin dzaa-iqatul mauti, wanabluukum bisy syarri wal khairi fitnah, wa ilainaa turja’uun”. Tiap tiap yang berjiwa akan merasakan mati, Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikam sebagai cobaan dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan (Q.S al Anbiya’ 35)

Ayat ini menjelaskan bahwa ujian dari Allah ada dua ragam bentuk yaitu ujian berupa asy syarr atau keburukan dan al khair atau kebaikan. DR. Hikmat Ibnu Basyir dalam karyanya ensiklopedi tafsir bil ma’tsur menukil perkataan sahabat Ibnu Abbas yaitu seorang sahabat yang sangat dekat dengan Rasulullah dan pernah di doakan agar menjadi orang faham tentang tafsir al Qur an.
Menurut Ibnu Abbas, kedua bentuk ujian di atas memiliki makna bahwa manusia ini akan diuji dengan beragam bentuknya, yakni kesulitan dan kemudahan, sehat dan sakit, kekayaan dan kemiskinan, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan serta petunjuk dan kesesatan.

Demikian luasnya makna asy syarr dan al khair dalam penjelasan Ibnu Abbas tersebut, berarti bahwa ujian bisa menimpa manusia dalam berbagai bentuk. Ujian tidaklah identik dengan kesulitan hidup, kemiskinan, menderita sakit, kehilangan sesuatu yang dicintai dan yang lainnya yakni secara kasat mata merupakan kesengsaraan dan kesusahan dalam kehidupan. Ternyata bahwa ujian juga bisa datang dalam bentuknya yang lain yaitu kesenangan hidup dan nikmat dunia serta segala perhiasannya yang menyilaukan mata hati manusia.

Suatu hal yang menarik dalam ayat ayat ini adalah mengapa Allah Ta’ala mendahulukan kata al syarr sebelum kata al khair. Jika kita perhatikan keadaan kehidupan kita sehari hari sering kita temukan dimana seseorang lebih mampu menjaga imannya, lebih tangguh menghadapi risiko mana kala ujian itu datang dalam bentuk kefakiran, kekurangan, sakit yang diderita dan jauh dari kenikmatan.
Namun sebaliknya, manusia teramat sering jatuh kepada kelalaian, lupa akan dirinya sebagai hamba Allah yang wajib mengabdi kepada-Nya mana kala kenikmatan selalu mendatanginya. 

Itulah sebabnya mengapa Allah mendahulukan kata keburukan atau asy syarr. Sesuatu berupa keburukan seringkali lebih kita sadari sebagai suatu ujian dibanding dengan kenikmatan yang kita rasakan. Oleh karenanya jika datang keburukan sebagai ujian maka kita lebih waspada untuk menghadapinya.

Sebaliknya, kebaikan atau kenikmatan hidup yang mendatangi seseorang cenderung tidak disadari sebagai suatu ujian. Ketika mendapat karunia berupa kenikmatan yang banyak seperti naik jabatan, lulus dalam belajar, kehidupan yang serba cukup dengan segala perlengkapannya, diri dan keluarga berada dalam keadaan sehat, semuanya ini tidaklah mudah  bagi kita untuk memaknainya sebagai ujian dari Allah Ta’ala.
Terkadang ada yang memaknai bahwa kenikmatan yang dia peroleh adalah suatu kepantasan karena selama ini telah melaksanakan perintah perintah yang wajib dan menjauhi larangan larangan Allah. Padahal semuanya itu adalah termasuk ujian yang telah Allah tetapkan baginya.

Oleh sebab itu marilah kita berusaha untuk memahami hidup ini secara keseluruhan, sebagai ujian baik itu berupa kebaikan maupun keburukan. Sungguh Allah telah berfirman : “Alladzii khalaqal mauta wal hayaata liyabluakum aiyukum ahsanu ‘amala”. Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu siapa yang lebih baik amalnya. (Q.S al Mulk 2).

Wallahu A’lam. (359)