Kamis, 06 November 2014

NASEHAT SYAIKH AL ALBANI



NASEHAT SYAIKH AL ALBANI BAGI PENUNTUT ILMU

Oleh : Azwir B. Chaniago

Seorang Muslim tidaklah mencukupkan diri hanya dengan menyatakan ke-islamannya. Tapi haruslah diikuti dengan upaya yang sungguh sungguh untuk belajar guna memahami Islam dan mengamalkannya. Sungguh belajar ilmu adalah wajib bagi setiap muslim. Ketahuilah, menuntut ilmu adalah suatu kemuliaan yang sangat besar dan menempati kedudukan tinggi yang tidak sebanding dengan amal sunnah apapun (Imam al Qurtubi).  

Rasulullah bersabda : “Thalabul ‘ilmi fariidhatun ‘ala kulli muslim” Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. (H.R Ibnu Majah dari Anas bin Malik).
Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani memberi nasehat kepada para penuntut ilmu. Dalam Kitab Hayat al Albani dinukil nasehat beliau sebagai berikut : 

Pertama : Hendaklah kamu menuntut ilmu semata mata ikhlas karena Allah. Untuk mencapai derajad yang Allah telah khususkan bagi  orang berilmu. Tidak menginginkan dibalik itu, balasan atau terima kasih.
Allah berfirman : … Yarfa’illahul ladzina aamanuu minkum walladzina utulilma darajaatin. Wallahu bimaa ta’maluuna khabiir” Niscaya Allah akan mengangkat orang orang  yang beriman dan orang yang diberi ilmu    beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti (atas) apa yang kamu kerjakan. (Q.S al Mujaadilah 11)  
  
Kedua : Menjauhi perkara yang menggelincirkan kamu dari perasaan ujub dan berfatwa tanpa melihat pendapat para ulama terdahulu.

Ketiga : Menasehati manusia dengan cara terbaik. Menghindari  cara yang kaku dan keras dalam berdakwah. Allah berfirman : “Ud’u ilaa sabiili rabbika  bil hikmati wal mau’izhatal hasanati “ Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik. (Q.S an Nahal 125).

Insya Allah ada manfaatnya. (114)



PRASANGKA BURUK



TENTANG PRASANGKA BURUK

Oleh : Azwir B. Chaniago

Muqaddimah.
Seorang hamba tidaklah bisa terbebas sama sekali dari perasaan buruk sangka atau su’uzhan,  kecuali orang orang yang mendapat lindungan Allah dari hal ini. Jika pada suatu waktu timbul perasaan demikian maka seorang hamba perlu menjaga diri dan berusaha menjauhinya agar tidak menimbulkan mudharat bagi diri sendiri dan bagi orang lain.

Ketahuilah, berapa banyak kemudharatan, persengketaan  permusuhan bahkan peperangan  yang telah terjadi sebagai akibat prasangka buruk. Sering juga terjadi bahwa prasangka membuat seseorang merasa menyesal berkepanjangan.

Makna  prasangka
Al Imam Raghib Ashfani berkata: Azhzhan adalah sebuah nama untuk sesuatu yang bersifat terkaan karena ada indikasi dan tanda-tandanya. Bila sangkaan ini kuat maka akan membawa kepada ilmu. Jika sangat lemah maka tidaklah melebihi kecuali disebut prasangka dan dugaan saja.
Al Imam Ibnu Manzhur berkata. Azhzhan maknanya adalah ragu-ragu dan yakin. Tapi yakin dalam zhan bukan keyakinan yang pasti melainkan keyakinan yang dihasilkan dari berfikir. Keyakinan yang pasti tidak dikatakan kecuali untuk ilmu (Lisanul Arab).

Larangan berprasangka buruk.
Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang orang orang yang beriman untuk berprasangka karena termasuk sebagian dari dosa. Allah berfirman : Yaa aiyuhalladzina aamanuuj tanibuu katsiiran minazh zhan, inna ba’dhazh zhanni itsmun. Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan) karena sebagian prasangka itu adalah dosa. (Q.S al Hujurat 12)

Berkenaan dengan ayat ini  Imam Ibnu Katsir berkata : Allah melarang para hamba-hambanya yang beriman, dari perbuatan curiga, prasangka dan dugaan, apakah itu kepada keluarganya, kerabat atau manusia pada umumnya jika tidak pada tempatnya.  Sebab pada sebagian prasangka dan curiga itu terdapat dosa, maka jauhilah perbuatan banyak curiga sebagai pencegah dari dosa.

Selanjutnya, Imam Ibnu Katsir berkata : Seorang muslim adalah orang yang selalu memberi udzur kepada orang lain sehingga batinnya selamat. Sedangkan orang munafik adalah orang yang selalu mencari-cari kesalahan dan aib orang lain karena bathinnya buruk.

Rasulullah bersabda: Iyyakun wazh-zhan. Fainna zhanna ahdzabul hadits” Waspadalah kalian terhadap prasangka karena prasangka adalah sejelek-jelek perkataan (H.R Imam Bukhari  dan Imam Muslim)

Al Iman an Nawawi berkata: Maksud hadits ini adalah larangan dari berprasangka buruk” (Syarah Shahih Muslim)

Al Hafizh Ibnu Hajar Ashqalani berkata: Hadits ini memberikan isyarat bahwa prasangka yang terlarang adalah prasangka yang tidak bersandar kepada sesuatu apapun yang bisa dijadikan pijakan menghukuminya. Dengan demikian orang yang menghukumi sesuatu tanpa pijakan disebut pendusta. Penyebutan “prasangka” lebih buruk hukumnya dari dusta yaitu sebagai celaan yang sangat keras dan wajib dijauhi. (Fathul Bari, dengan diringkas).
 
Nasehat Ibnu Qadamah.
Sangatlah banyak ulama dari dahulu hingga sekarang yang memberikan nasehat agar seorang yang beriman berusaha menjauhi prasangka. Diantaranya adalah al Imam Ibnu Qudamah.

Beliau berkata : Ketahuilah bahwa buah dari prasangka buruk adalah mencari-cari kesalahan, sebab hatimu tidak akan merasa puas hanya dengan berburuk sangka, tetapi ia akan mencari pembenarannya, sehingga dia sibuk mencari-cari kesalahan. Ini dilarang karena bisa menjurus kepada perbuatan membuka aib orang lain.
Jika seorang muslim nyata-nyata membuat kesalahan, bukan sekedar prasangka, maka beri dia nasehat secara diam-diam tanpa diketahui orang lain. (Kitab Mukhtashar  Minhajul Qashidin).

Kita bermohon perlindungan kepada Allah dari  berprasangka buruk kepada saudara saudara kita sesama muslim.
Wallahu a’lam. (113)


Senin, 03 November 2014

ANAS BIN MALIK DIDOAKAN



ANAS BIN MALIK DIDOAKAN NABI

Oleh : Azwir B. Chaniago

Rasulullah Salallahu alaihi wa Sallam beliau banyak sekali mendoakan kebaikan bagi para sahabat baik karena minta didoakan ataupun belum meminta didoakan. Sungguh doa Nabi adalah sangat mustajab.

Diantara yang di doakan Nabi adalah Anas bin Malik. Kisahnya banyak disebut oleh para ulama. Diantaranya adalah sebagaimana yang ditulis oleh Syaikh Utsaimin dalam Tanbiihul Afhaam.  
Bahwa pada usia 10 tahun, Anas dibawa oleh Ummu Sulaim menghadap Nabi di Madinah. Ummu Sulaim berkata : Wahai Rasulullah ini Anas yang akan menjadi pelayan engkau. Maka doakanlah dia.

Lalu Rasulullah mendoakan kebaikan bagi Anas : “Allahumma aktsir maalahu wa waladahu wadkhilhul jannah”  Ya Allah perbanyaklah hartanya, dan anaknya serta masukkanlah ia kedalam surga.

Tentang doa Nabi ini, Anas mengatakan : Aku telah mendapatkan keduanya (harta dan anak yang banyak). Dan (aku) berharap mendapatkan yang ketiga yaitu masuk surga. Sungguh telah dikubur dari keturunanku selain cucu cucuku seratus dua puluh lima orang. Dan kebunku berbuah dua kali dalam setahun.

Anas bin Malik menjadi pelayan Nabi di Madinah selama 10 tahun sampai Nabi wafat. Dengan begitu lamanya mendampingi Rasulullah maka beliau banyak meriwayatkan hadits.  Ada 2266 hadits yang diriwayatkan beliau. Ini adalah nomor tiga setelah Abu Hurairah yang meriwayatkan 5374 hadits dan Ibnu Umar meriwayatkan 2630 hadits.

Setelah Nabi wafat di Madinah, Anas bin Malik  pindah ke Bashrah. Beliau termasuk sahabat yang paling terakhir meninggal. Beliau wafat di kota Bashrah pada tahun 90 H dalam usia lebih kurang 100 tahun. 
       
Wallahu a’lam.  (112)

KEUTAMAAN SAHUR



KEUTAMAAN MAKAN SAHUR

Oleh : Azwir B. Chaniago

Bagi seorang muslim yang akan berpuasa sangatlah dianjurkan untuk bersahur atau makan sahur. Memang sahur tidak wajib hukumnya tapi sangat sangat dianjurkan atau sunnah muakkadah.
Sungguh makan sahur bukanlah sekedar pemenuhan gizi dan pemberi tambahan kekuatan saat menjalani puasa. Ketahuilah bahwa dengan kasih sayang-Nya, Allah Ta’ala memberikan keutamaan yang banyak terhadap hamba yang bersahur.
Keutamaan bersahur adalah sebagaimana yang disabdakan Rasulullah dalam banyak hadits, diantaranya adalah :

Pertama : Sahur adalah berkah.
Sahur itu adalah berkah, sebagaimana di sabdakan oleh Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa Sallam : “Innahaa barakatun a’tahaakumullahu iyaahaa falaa tada’uuh”. Sesungguhnya dia (makan sahur) adalah berkah yang diberikan Allah kepada kalian, maka janganlah kalian meninggalkannya. (H.R an Nasa’i, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Rasulullah juga bersabda : “Tasahharuu fainna fissuhuuri barakah” Bersahurlah karena dalam sahur terdapat berkah. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim). 
Berkah maknanya adalah kebaikan yang banyak sebagaimana dijelaskan oleh Imam an Nawawi dalam  Syarah Sahih Muslim bahwa makna asal keberkahan adalah kebaikan yang banyak dan abadi (di dunia sampai ke akhirat)

Sungguh ini adalah karunia yang amat besar bagi orang muslim yang bersahur.   Oleh sebab itu perbanyaklah puasa sunat disamping puasa wajib di bulan Ramadhan supaya banyak pula dapat kesempatan bersahur. Dan sungguh  dalam sahur itu sangatlah banyak kebaikan dan berkah.

 Kedua : Pembeda puasa seorang muslim dan puasa orang sebelumnya.
Islam mensyari’atkan sahur bagi umatnya yang akan berpuasa, meskipun tidak wajib. Ini untuk membedakan dengan puasa orang orang sebelumnya. Rasulullah bersabda : “Fashlu maa baina shiyaaminaa wa shiyaami ahlil kitabi aklatatus sahar” Yang membedakan antara puasa kita dengan puasa ahlil kitab adalah makan sahur. (H.R Imam Muslim).

Jadi kita bersahur adalah agar puasa kita berbeda dengan puasanya ahli kitab yaitu Yahudi dan Nashara. 
   
Ketiga : Mendapat shalawat dari Allah dan Malaikat
Orang muslim yang bersahur akan mendapatkan shalawat dari Allah dan para Malaikat. Dari Abu Sa’id al Khudri, Rasulullah bersabda : “Assuhuuru aklatun barakatun, fala ta’uuhu walau an yajra’a ahadukumjar’atan min maa-inn, fainnallaha wa malaaikatahu yushalluuna ‘alal mutasahhiriin” Sahur adalah makanan berkah, maka janganlah kalian tinggalkan walaupun salah seorang dari kalian hanya meneguk seteguk air, karena Allah dan para MalaikatNya bershalawat atas orang orang yang bersahur. (H.R Imam Ahmad dan Ibnu Abu Syaibah).

Dari Ibnu Umar, Rasulullah bersabda : “Innallaha wa malaaikatahu yushalluuna ‘alal mutasahhiriin” Sesungguhnya Allah dan para Malaikat bershalawat atas orang orang yang bersahur. (H.R Ibnu Hibban dan ath Thabrani, dihasankan oleh Syaikh al Albani).

Keempat : Menegakkan sunnah.
Rasulullah sangat menganjurkan umatnya untuk bersahur dalam beberapa sabda beliau. Oleh sebab itu seorang hamba haruslah melazimkannya yaitu dalam rangka menegakkan sunnah, sebagai tanda kepatuhan kita kepada  Rasulullah.

Ketahuilah bahwa dengan melihat kepada keumuman hadits maka keutamaan dan keberkahan sahur ini akan diperoleh bukan hanya untuk puasa wajib di bulan Ramadhan tetapi termasuk juga untuk puasa puasa sunat.

Pada kenyataannya,  diantara kita kadang kadang  merasa berat untuk bangun sebelum subuh untuk bersahur. Tapi dengan mengetahui keutamaan  dan manfaatnya yang besar akan memberikan tambahan semangat bagi kita untuk melakukan sahur meskipun dengan seteguk air.

Allahu a’lam.   (111)