Kamis, 22 September 2022

HAMBA ALLAH JANGAN MEMBAWA DOSA KE ALAM KUBUR

 

HAMBA ALLAH JANGAN MEMBAWA DOSA KE ALAM KUBUR

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Dalam menjalani hidup di dunia ini, sangat banyak manusia berbuat kesalahan dan dosa. Allah  Ta'ala mengingatkan dalam satu hadits qudsi :

يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ

Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa di malam dan siang hari. (H.R Imam Muslim).

Sungguh hamba hamba Allah SANGATLAH BESAR RASA TAKUTNYA jika membawa dosa ke alam kubur. Kenapa ?, karena setelah berada di alam kubur atau alam barzakh dan berlanjut kepada kehidupan setelah hari Kiamat, sungguh tak ada lagi cara untuk menghapus dosa. Di alam barzakh dan di hari Akhir tak ada lagi kesempatan untuk MEMOHON AMPUN. Tetapi dosa dosa orang beriman jika ada juga bisa dihapus yaitu   DENGAN CARA DIBAKAR DENGAN API NERAKA. Na'udzubillahi in dzaalik.

Oleh karena itu sebelum diwafatkan maka perbanyaklah MEMOHON AMPUN DAN BERTAUBAT sehingga dosanya dihapus ketika di dunia, tak dibawa kea lam kubur. Sungguh, Allah Ta'ala mengingatkan tentang bertaubat sebagaimana firman-Nya :

وَٱلَّذِينَ عَمِلُوا۟ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ثُمَّ تَابُوا۟ مِنۢ بَعْدِهَا وَءَامَنُوٓا۟ إِنَّ رَبَّكَ مِنۢ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

Dan orang yang telah mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat dan beriman niscaya setelah itu Rabb-mu Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Q.S al A'raf 153).

Dan juga Nabi Salallahu 'alaihi Wasallam telah mengingatkan pula tentang bertaubat dalam sabda beliau :

التائب من الذنب كمن لا ذنب له

Orang yang bertaubat dari perbuatan dosa, seperti orang yang tidak melakukan dosa. (HR. Ibnu Majah, Baihaqi, dan dishahihkan Al-Albani).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ، ثُمَّ اسْتَغفَرْتَنِيْ ، غَفَرْتُ لَكَ

Wahai anak Adam seandainya dosamu menjulang tinggi ke langit, lalu engkau banyak memohon ampun kepada-Ku maka Aku ampuni dosa-dosamu. (H.R at Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh al Albani).

Selain itu ketahuilah bahwa  Allah Ta'ala Maha Pengasih Maha Penyayang. Sungguh amal ibadah yang kita lakukan hakikatnya adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala dan untuk mendapatkan pahala dari-Nya. Tetapi banyak pula diantara amal ibadah yang juga memiliki nilai SEBAGAI PENGHAPUS DOSA. Allah Ta’ala berfirman :  

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَنُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّـَٔاتِهِمْ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَحْسَنَ ٱلَّذِى كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

Dan orang-orang yang beriman dan beramal shalih, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri  balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan. (Q.S al Ankabut 7).

Ketahuilah bahwa  ibadah yang termasuk sebagai penghapus dosa, diantaranya adalah IBADAH SHALAT, BERPUASA DAN BERDZIKIR.

Pertama : Melakukan ibadah shalat.

(1) Antara shalat fardhu yang lima waktu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

Antara shalat yang lima waktu, antara jum’at yang satu dan jum’at berikutnya, antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, di antara amalan-amalan tersebut akan diampuni dosa-dosa selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar. (H.R Imam Muslim).

(2) Melakukan qiyam Ramadhan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Kedua : Melakukan ibadah puasa. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.  (H.R Imam Bukhari  dan Imam  Muslim dari Abu Hurairah).

Dari Abu Qatadah, ia berkata bahwa Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu. (H.R Imam Muslim).

Ketiga : Berdzikir. Sungguh berdzikir adalah salah satu menjadi penyebab diampuninya dosa dosa seorang hamba, diantaranya adalah :

(1) Membaca dzikir setelah shalat fardhu. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :

مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَتْلِكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

Barangsiapa bertasbih (mengucapkan Subhanallah) di setiap akhir shalat sebanyak 33 kali, bertahmid (mengucapan Alhamdulillah) sebanyak 33 kali, bertakbir (mengucapkan Allahu Akbar) sebanyak 33 kali lalu sebagai penyempurna (bilangan) 100 ia mengucapkan : ‘Laa ilaha illallahu wahdahu la syarikalahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir (tiada yang berhak disembah dengan haq selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Bagi-Nya segala puji dan bagi-Nya kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu), maka Aku akan mengampuni dosa-dosanya sekalipun SEBANYAK BUIH DILAUTAN. (H.R Imam Muslim).

(2) Membaca dzikir ketika hendak tidur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ قَالَ حِينَ يَأْوِيْ إِلىَ فِرَاشِهِ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَحْدَه ُلَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، سُبْحَانَ اللهِ، وَالحَمْدُ للهِ ، وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ. غُفِرَتْ لَهُ ذُنُوْبُهُ – أَوْ قَالَ: خَطَايَاه، شكَّ مِسْعَرٌ – وَإِن ْكَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ البَحْر)

Apabila seorang dari kalian menuju kasurnya, dan mengucapkan : Laa ilaha ilallah wahdahu la syarikalahu lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syai-in qadir, subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaha illallah wallahu akbar, maka Allah ampuni dosa-dosanya meski SEBANYAK BUIH DILAUTAN. (H.R Ibnu Hibban dan Ibnu Sunni, dishahihkan al-Albani, dari Abu Hurairah)

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A'lam. (2.753).

 

 

 

 

 

 


 

Rabu, 21 September 2022

AMALAN WAJIB DAN SUNNAH MENDATANGKAN CINTA ALLAH

 

AMALAN WAJIB DAN SUNNAH MENDATANGKAN CINTA ALLAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, cinta Allah akan mendatangi orang orang yang senantiasa melakukan amal shalih yang diwajibkan dan juga yang disunahkan.Tentang perkara ini,  Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa Sallam memberi petunjuk kepada kita, sebagaimana sabda beliau : 

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ

Tidaklah hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dibandingkan dia melakukan hal yang aku wajibkan atasnya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya

Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya. (H.R Imam Bukhari dan al Baihaqi).

Orang yang senantiasa melakukan amalan sunnah (mustahab) di samping melakukan amalan wajib, akan mendapatkan kecintaan Allah, lalu Allah akan memberi petunjuk pada pendengaran, penglihatan, tangan dan kakinya. Allah juga akan memberikan orang seperti ini keutamaan dengan mustajabnya doa. (Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al ‘Abad).

Selain itu, ketahuilah bahwa Allah amalan amalan sunnah   bisa menutupi kekurangan amalan wajib. Oleh karena itu, hamba hamba Allah berusahalah melakukan amalan amalan sunnah yang disyariatkan. Perhatikanlah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :  

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلاَةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلاَئِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِى صَلاَةِ عَبْدِى أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِى مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِى فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ

Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab pada manusia di hari kiamat nanti adalah shalat. Allah ‘azza wa jalla berkata kepada malaikat-Nya dan Dia-lah yang lebih tahu, lihatlah pada shalat hamba-Ku. Apakah shalatnya sempurna ataukah tidak? Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna.

Namun JIKA DALAM SHALATNYA ADA SEDIKIT KEKURANGAN maka Allah berfirman  : Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah. Jika hamba-Ku memiliki amalan sunnah, Allah berfirman : Sempurnakanlah kekurangan yang  ada pada amalan wajib dengan amalan sunnahnya. Kemudian amalan lainnya akan diperlakukan seperti ini. H.R  Abu Daud no. 864, Ibnu Majah no. 1426, dishahihkan oleh Syaikh al Albani)

Zhahir hadits ini menjelaskan bahwa kekurangan amalan wajib bisa ditutupi dengan amalan amalan sunnah. Namun demikian hamba hamba Allah hendaklah terus berusaha melakukan  amalan amalan wajib dengan sempurna sesuai dengan yang disyariatkan.

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Walllahu A'lam. (2.752).   

 

MANUSIA DURHAKA SUKA MEMPERTANYAKAN HUKUM ALLAH

MANUSIA DURHAKA SUKA MEMPERTANYAKAN HUKUM ALLAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Pada zaman kita ini ternyata semakin banyak jenis manusia yang durhaka. Suka mempertanyakan tentang perintah dan larangan serta berbagai ketetapan dan hukum Allah yang diturunkan melalui Rasul-Nya. 

Lihatlah diantara perintah dan larangan berupa ketetapan, peraturan dan hukum yang Allah turunkan dan dipertanyakan oleh sebagian manusia, seperti :

(1) Kenapa banyak ayat ayat dan kisah kisah dalam al Qur an yang diulang ulang.

(2) Kenapa Allah tidak adil dalam pembagian waris seperti anak laki laki mendapat dua bagian dibanding anak perempuan.

(3) Kenapa aurat laki laki dan aurat perempuan berbeda batasannya.

(4) Kenapa Allah kejam dalam menghukum seperti hukum rajam bagi pezina dan potong tangan bagi pencuri.

(5) Kenapa Allah mewajibkan berpuasa, tidak boleh makan dan minum selama 14 jam sehari, di bulan Ramadhan.

(6) Kenapa wanita kalau bersafar harus bersama mahram. 

Sungguh apa yang mereka pertanyakan itu menunjukkan dengan sangat nyata tentang kedunguan mereka,  kelakuan buruk mereka serta kedurhakaan mereka yaitu tidak  beradab kepada Allah Ta’ala.  Na’udzubillahi min dzaalik.

Bahkan yang lebih celaka   lagi adalah mereka yang bukan sekedar bertanya tapi malah punya pikiran dan keinginan yang bathil dan rusak yaitu untuk merevisi al Qur an yang katanya untuk disesuaikan dengan kebutuhan zaman.  Seolah olah mereka dengan akalnya yang pendek  lebih tahu dengan kebutuhan zaman. Sungguh Allah Yang Maha Mengetahui.

Orang yang mempertanyakan hukum atau peraturan Allah pada hakikatnya adalah orang yang dungu bahkan durhaka kenapa :

(1) Karena dia lupa bahwa Allah yang menciptakan manusia dan tentu Allah yang Maha Mengetahui aturan aturan terbaik bagi keselamatan  manusia di dunia dan di akhirat.

(2) Seolah olah mereka tidak tahu atau lupa bahwa  dirinya makhluk (yang diciptakan) dan Allah Ta’ala adalah Khaliq, Maha Pencipta termasuk sebagai pencipta diri mereka, pemberi rizki dan berbagai nikmat buat mereka. 

(3) Orang ini mungkin seperti anak kecil yang sedang sakit. Karena tidak mengerti lalu menolak untuk minum obat pada hal obat itu baik baginya. 

Ketahuilah bahwa manusialah yang akan ditanya tentang apa yang telah mereka lakukan di bumi. Allah berfirman : 

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan tetapi merekalah yang akan ditanya. (Q.S al Anbiyaa’ 23).

Sungguh hukum Allah itu adalah berupa perintah dan larangan. Jika ada perintah maka pasti disitu ada kebaikan, dan jika ada larangan maka pasti disitu ada mudharat bagi manusia. Apa bentuk manfaat dan mudharat itu bisa ada yang sudah diketahui sebagiannya, belum diketahui atau tidak diketahui sama sekali karena keterbatasan ilmu yang ada pada manusia.  

وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

Sedangkan kamu diberi pengetahuan yang sedikit. (Q.S al Israa’ 85).

Oleh karena itu seorang mukmin jika berhadapan dengan hukum-hukum Allah maka mereka langsung mengambil posisi sami’na wa atha’na, kami dengar dan kami patuhi. Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A'lam.(2.751).

  

BANYAK JALAN UNTUK MENDAPAT RUMAH DI SURGA

 

BANYAK JALAN UNTUK MENDAPAT RUMAH DI SURGA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Setiap orang sangat membutuhkan rumah di dunia sebagai tempat tinggal dan berteduh dari hujan dan panas, tempat membina keluarga dan tempat beribadah. Oleh karena itu, sungguh sangat banyak   orang yang berusaha dan bekerja keras untuk memiliki rumah. Terkadang berhutang kesana kesini agar bisa memiliki  rumah yang nyaman bahkan mewah. Tetapi semua orang paham bahwa rumah di dunia ini hanyalah sementara bahkan sangat sementara.

Lalu bagaimana dengan rumah di akhirat. Adakah banyak orang yang berusaha sungguh sungguh untuk mendapatkannya ?. Sungguh rumah di akhirat itu jauh lebih utama, baqa atau abadi untuk selamanya dan akhirat itu jauh lebih baik dari dunia. Allah Ta'ala berfirman : 

وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ

Dan sungguh yang kemudian itu (kehidupan akhirat) lebih baik bagimu dari yang permulaan (kehidupan dunia). Q.S adh Dhuha 4. 

Ketahuilah bahwa tentang keadaan rumah di surga Abu Hurairah berkata : Kami pernah bertanya  kepada Rasulullah Salallahu ‘alahi Wasallam tentang bangunan surga. Beliau bersabda : 

لبنه من فضّة لبنة من ذهب و ملاطها المسك الأذفر وحصباؤها اللّؤلؤ والياقوت وتربتها الزّعفران

Surga itu bangunannya tersusun dari bata yang terbuat dari emas dan perak. Adukan semennya adalah campuran misk al adzfar. Batu kerikilnya adalah permata dan yaqut dan pasirnya za’faran”. (H.R Imam Ahmad dan at Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Begitu hebatnya keadaan rumah di surga tetapi ternyata rumah di surga BISA DIBANGUN ATAU DIPEROLEH OLEH SIAPA SAJA YANG MAU. Tak ada kaitan langsung dengan harta yang banyak. Orang kaya ataupun miskin, orang sehat ataupun sakit, orang sempurna fisiknya maupun orang lumpuh ataupun buta dan yang lainnya semua bisa membangun rumah di surga.

Ketahuilah bahwa Allah Ta'ala melalui Rasul-Nya telah mengajarkan banyak jalan untuk bisa membangun atau memperoleh rumah di surga, diantaranya adalah :

Pertama : Dengan memiliki akhlak yang baik.

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِى أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

Aku memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi, bagi orang yang baik akhlaknya. (H.R Abu Daud)

Kedua : Dengan membangun masjid meskipun dengan dana sedikit.

Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam bersabda : 

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ فِى الْجَنَّةِ مِثْلَهُ

Barangsiapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangun baginya semisal itu di surga. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Dan juga satu hadits dari Jabir bin Abdullah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ

Barangsiapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya sebesar tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga. (H.R Ibnu Majah).

Ketiga : Dengan mengamalkan salat sunnah rawatib.

Dari Ummu Habibab Radhiyallahu ‘Anha, berkata: Aku Mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : 

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

Siapa yang shalat 12 rakaat shalat sunnah rawatib) dalam sehari semalam niscaya dibangunkan untuknya rumah di surga. (H.R Imam Muslim)

 

Shalat 12 raka’at yang dimaksud adalah empat rakaat sebelum dzuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua raka’at sesudah maghrib, dua rakaat setelah ‘isya, dan dua rakaat sebelum shubuh sebagaimana yang terdapat dalam hadits ‘Aisyah dalam Sunan at Tirmidzi dan Ibnu Majah.

Itulah diantara jalan bagi orang orang beriman untuk mendapatkan rumah di surga. Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A'lam. (2.750)

 

 

 

Selasa, 20 September 2022

ORANG BERIMAN HARUSLAH WASPADA MENGHADAPI SIFAT KAFIR

 

ORANG BERIMAN HARUSLAH WASPADA MENGHADAPI SIFAT KAFIR

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, orang orang beriman haruslah tetap dan terus menerus waspada menghadapi sifat sifat tercela orang orang kafir. Diantaranya adalah mereka selalu menggoda dan mengajak dengan berbagai cara untuk menyesatkan orang orang beriman dari jalan yang lurus. Allah Ta'ala berfirman :

وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً ۖ

Mereka ingin agar kamu menjadi kafir sebagaimana  mereka telah menjadi kafir sehingga kamu menjadi sama (dengan mereka). Q.S an Nisa' 89.

Dan juga orang orang kafir sangat ingin memadamkan cahaya Allah. Allah Ta'ala berfirman :

 يُرِيدُونَ لِيُطْفِـُٔوا۟ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفْوَٰهِهِمْ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوْ كَرِهَ ٱلْكَٰفِرُونَ

Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) dengan mulut  (ucapan ucapan) mereka tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang orang kafir membencinya. (Q.S ash Shaf 8).

Selain itu ketahuilah bahwa diantara sifat orang orang kafir adalah TIDAK MENERIMA PERINGATAN DAN NASEHAT. Allah Ta'ala berfirman :

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ سَوَآءٌ عَلَيْهِمْ ءَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya orang orang kafir, sama saja bagi mereka, engkau beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan mereka tidak akan beriman.  (Q.S al Baqarah 6).

Allah Ta'ala berfirman :

وَسَوَآءٌ عَلَيْهِمْ ءَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

Dan sama saja bagi mereka, apakah engkau memberi peringatan kepada mereka atau engkau tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman juga. (Q.S Yasin 10).

Selain itu, ketahuilah bahwa  orang orang kafir membelanjakan hartanya untuk menghalangi orang orang Islam dari jalan Allah.  Memang demikianlah keadaan yang kita saksikan di zaman ini. Allah Ta'ala berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ 

Sesungguhnya orang orang yang kafir itu, membelanjakan harta mereka untuk menghalang halangi (orang) dari jalan Allah. Q.S al Anfal 36).

Itulah sebagian SIFAT SIFAT BURUK ORANG KAFIR. Tujuan utama mereka adalah untuk menyesatkan dan menghalangi orang orang Islam dari jalan yang lurus. Waspadalah dengan tipu daya mereka. Wallahu A'lam. (2.749)

     

 

JANGAN MEMBIASAKAN DIRI MENGAMBIL SHAF BELAKANG

 

JANGAN MEMBIASAKAN DIRI MENGAMBIL SHAF BELAKANG

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketahuilah saudaraku,  sungguh banyak dalil yang menunjukkan tentang keutamaan  shaf pertama dalam shalat berjamaah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الصُّفُوْفِ اْلأُوَلِ

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang shalat di shaf pertama. (H.R  Abu Dawud).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إلاَّ أنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا

Seandainya manusia mengetahui keutamaan yang terdapat pada adzan dan shaf pertama, kemudian mereka tidaklah akan medapatkannya kecuali dengan diundi, niscaya pasti mereka akan mengundinya. (H.R Imam Muslim).

Imam an Nawawi berkata : Adapun yang  dimaksud shaf pertama adalah shaf yang berada di belakang imam, baik orang itu datang ke masjid di awal waktu maupun datang belakangan. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa patokan shaf pertama adalah ditinjau dari awal kedatangannya ke masjid meskipun dia shalat di barisan belakang, maka ini tidak tepat. (Syarh Shahih Muslim).

Jadi, shaf laki-laki dalam shalat jamaah semakin di depan adalah semakin baik dan lebih utama. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengingatkan kepada salah seorang sahabat yang datang akhir dan shalat di shaf belakang. 

  لا يَزَالُ قَوْمٌ يَتَأَخَّرُونَ حَتَّى يُؤَخِّرَهُمْ اللَّهُ

Orang-orang yang terbiasa mengakhirkan hadir ketika shalat jamaah, niscaya Allah akan mengakhirkan urusan mereka  (H.R Imam Muslim).

Imam an Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa  yang dimaksud dalam hadits ini adalah orang-orang yang datang akhir sehingga tidak mendapat shaf pertama maka Allah pun akan mengakhirkan bagi orang tersebut rahmat-Nya, kemuliaan dan keutamaan, ketinggian kedudukan, ilmu yang bermanfaat, dan kebaikan lainnya. (Syarh Shahih Muslim)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengingatkan bahwa dalam hadits ini terdapat ancaman dari Nabi tentang bahaya mengakhirkan datang ke masjid. Apabila seseorang mengakhirkan dari shaf pertama, kedua, dan ketiga, maka Allah pun akan menghukum hatinya dengan menyukai mengakhirkan amal-amal shalih yang lainnya, wal ‘iyadzubillah. Maka berusahalah untuk berada di barisan shaf terdepan ketika shalat berjamaah. (Syarah Rhiyadush Shaalihiin).

Oleh karena itu sangat dianjurkan kepada setiap hamba hamba Allah agar jangan membiasakan diri  mengambil  shaf belakang dalam shalat berjamaah karena shaf depan paling banyak  keutamaannya. Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu Alam. (2.748)

 

 

 

TAK BAIK MENYEBUT SESEORANG DENGAN NAMA HEWAN

 

TAK BAIK MENYEBUT SESEORANG DENGAN NAMA HEWAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Pada saat marah atau saat tak suka kepada seseorang atau sekelompok orang maka terkadang kita mendengar atau dapat kabar bahwa ada orang yang lancang menyebut,  memberi gelar atau julukan kepada orang lain dengan nama nama hewan. Keadaan ini bisa kita temukan dalam pembicaraan di masyarakat bahkan lebih marak lagi di media sosial.

Ada yang mengatakan : Dia itu atau mereka itu adalah termasuk bangsa anak kodok, bangsa kecoa, bangsa kadal. Ada pula yang mengatakan : (mohon maaf, peny.) Mereka adalah anjing, babi, kambing tengik dan yang lainnya.

Sungguh dalam syariat Islam sangat dilarang untuk memberi gelar atau panggilan yang buruk kepada orang lain apalagi dengan menyebut nama nama hewan. Allah Ta'ala berfirman :

Allah Ta'ala telah mengingatkan dalam firman-Nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang diolok olok  itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.

Janganlah kamu saling mencela satu sama lain. Dan janganlah saling memanggil dengan gelar gelar yang buruk. Seburuk buruk panggilan adalah panggilan yang fasik setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertaubat maka mereka itulah orang orang yang zhalim.  (Q.S al Hujurat 11).

Syaikh Salim bin 'Ied al Hilali berkata : Allah Ta'ala melarang merendahkan orang lain yaitu menghina dan meremehkan mereka. Perbuatan ini HUKUMNYA HARAM, karena mungkin saja orang yang direndahkan itu lebih besar kedudukannya di sisi Allah Ta'ala dan lebih Dia cintai daripada orang yang merendahkannya.

Dalam ayat ini Allah Ta'ala melarang laki laki melakukan perbuatan ini, disambung dengan larangan bagi perempuan. Setelah itu Allah Ta'ala melarang mereka semua saling menghina dan memanggil dengan panggilan yang buruk yang Allah gambarkan dengan kata fusuq. (Syarah Riyadush Shalihin)

Imam an Nawawi berkata : Termasuk di antara kalimat yang tercela yang umum dipergunakan dalam perkataan seseorang kepada lawannya adalah ucapan : Wahai keledai, wahai kambing hutan, wahai anjing, dan ucapan semisalnya. Ucapan semacam ini sangat buruk ditinjau dari dua sisi. (1) Karena itu ucapan dusta. (2) Karena ucapan itu akan menyakiti saudaranya. (Al Adzkar).

Sungguh Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telah mengingatkan kita semua tentang hal ini, sebagaimana sabda beliau :

سِبَابُ المُسْلِمِ فُسُوقٌ، وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

Mencela seorang muslim adalah kefasikan (dosa besar), dan memerangi mereka adalah kekafiran. (H.R Imam Bukhari  dan Imam Muslim).

Insya Allah ada mafaatnya bagi kita semua. Wallahu A'lam. (2.747).