Kamis, 02 Juli 2015

MENAMBAH TIMBANGAN AMAL



MENAMBAH TIMBANGAN AMAL

Oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh dunia ini bagi orang yang beriman  adalah ladang tempat menanam berbagai kebaikan untuk bekal yang akan dibawa ke negeri akhirat yang abadi. Ketahuilah bahwa yang paling utama dalam menentukan nasib manusia diakhirat kelak apakah beruntung atau rugi adalah dengan melihat timbangan amalnya.

Allah berfirman : “Walwaznu yaumaizinil haqqu, faman tsakulat mawaazinuhuu fa ulaaika humul muflihuun. Waman khaffat mawaazinuhuu fa ulaaikal ladziina khasiruu anfusahum bimaa kaanuu bi aayaatinaa yazhlimuun”.  Timbangan pada hari itu (menjadi ukuran) kebenaran. Maka barangsiapa berat timbangan (kebaikan) nya, mereka itulah orang yang beruntung. Dan barangsiapa ringan timbangan (kebaikan nya maka mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri, karena mereka mengingkari ayat ayat Kami. (Q.S al A’raaf 8-9).

Ketahuilah bahwa yang akan memberatkan timbangan amal bukan hanya amalan amalan besar yang fardhu dan utama.  Amalan amalan yang sunnah dan terkadang kelihatan ringan juga pasti akan menjadi tambahan untuk memberatkan timbangan amal seorang hamba kelak di akhirat. Oleh karena itu seorang hamba yang cerdas tidaklah akan mengabaikan amalan amalan sunnah yang terkadang kelihatan sederhana dimata manusia tapi bisa jadi besar disisi Allah Ta’ala. 

Pada suatu kali Rasulullah bertanya kepada sahabat dengan sabda beliau : “Apakah seseorang diantara kalian merasa tidak mampu mengerjakan seribu kebaikan (pahala) dalam satu hari”.
Lalu ada yang bertanya : Bagaimana ya Rasulullah, seorang diantara kami bisa melakukan seribu kebaikan. Beliau bersabda : “Yusabbihu miata tasbihatin tuktabu lahu alfu hasanatin au yuhaththu ‘anhu alfu khathiiatin.” Bertasbihlah (dengan membaca Subhanallah wa bihamdih, pen.) seratus kali maka akan ditulis baginya seribu kebaikan atau dihapus darinya seribu kesalahan. (Lihat Silsilah Hadits Shahih, Syaikh al Albani).

Oleh karena itu sangatlah dianjurkan untuk melakukan amalan amalan sunnah yang terkadang kelihatannya sederhana tapi bisa bernilai besar disisi Allah Ta’ala.
Mungkin ada yang berkata bahwa amalan amalan sunnah kalau tidak dikerjakan tidaklah kita akan berdosa. Ya benar, begitulah keterangan dalam kitab fiqih. Tetapi ketahuilah bahwa amalan sunnah yang tidak dikerjakan pastilah akan mendatangkan penyesalan dan kerugian di akhirat kelak.

Wallahu A’lam. (354)
  

Rabu, 01 Juli 2015

JANGAN MERASA BERJASA DENGAN SEDEKAHMU



JANGAN MERASA BERJASA DENGAN SEDEKAHMU

Oleh : Azwir B. Chaniago

Berinfak atau membelanjakan sebagian harta dijalan yang diridhai Allah seperti bersedekah dan yang semisalnya, adalah sangat dianjurkan dalam syariat Islam. Bahkan demikian pentingnya, Allah menjelaskan bahwa berinfak adalah salah satu tanda orang yang bertakwa sebagaimana firman-Nya : “Alladziina yunfiquuna fis sarra-i wadhdharraa-i wal kaazhimiinal ghaizha wal ‘aafiina ‘aninnasi, wallahu yuhibbul muhsiniin”  (Orang yang bertakwa yaitu) orang yang berinfak diwaktu lapang maupun sempit, dan orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. Ali Imran 134).

Sedekah yang  kita berikan tentulah sangat bermanfaat bagi yang menerimanya apalagi jika diberikan pada saat yang tepat bagi orang orang yang sangat butuh. Tapi janganlah pernah lupa bahwa sebenarnya manfaat terbesar dari sedekah adalah untuk diri pemberi sedekah. Manfaat yang diperoleh oleh pemberi sedekah jauh melebihi manfaat yang didapat oleh sipenerima sedekah . Salah satu diantaranya adalah akan menghapus dosa dan kesalahan. 

Rasulullah bersabda : “ Ashshadaqatu tuthfi-u khathiiata kamaa yuthfi-u maa-un naara”. Sedekah itu menghapus kesalahan sebagaimana air memadamkan api.” (H.R Imam at Tirmidzi).

Syaikh Abdul Aziz as Sayyid Nada, dalam Kitab Ensiklopedi Adab Islam, memberikan nasehat tentang hal ini :

Pertama : Wajib atas orang yang bersedekah untuk tidak memandang dirinya berjasa atas orang fakir dan orang yang membutuhkan. Namun demikian hendaklah ia memandang semua itu sebagai karunia Allah karena Dialah yang telah memberikan dan melimpahkan harta tersebut kepadanya. Allahpun memberinya taufik kepada Islam dan (Allah yang) melepaskan dirinya dari kebakhilan atau sifat kikir sehingga ia bisa bersegera untuk bersedekah.

Kedua : Seorang muslim yang bijak akan melihat bahwasanya (melalui) orang fakir itulah yang telah mencurahkan karunia atasnya. Sebab orang fakir menerima sedekahnya sehingga memberikan kesempatan baginya untuk menerima pahala dari Allah. Bahkan orang orang shalih dari kalangan Salaf berkata : Demi Allah, aku memandang  justru (melalui) orang fakir adalah orang yang melimpahkan karunia atasku. Kalaulah Allah Ta’ala tidak menjadikan mereka menerima sedekahku niscaya aku akan terhalang dari pahala dan balasan dari Allah Ta’ala.

Imam Fudhail bin Iyadh berkata : Mereka (orang orang miskin yang kita beri sedekah) membawa perbekalan perbekalan kita menuju akhirat tanpa upah sedikitpun hingga mereka meletakkan (pahala sedekah kita) diatas timbangan (amal kita) di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Mudah mudahan bermanfaat bagi kita semua. Wallahu A’lam.  (353)

Senin, 29 Juni 2015

LAMA BERDIRI PADA SHALAT MALAM



LAMA BERDIRI PADA SHALAT MALAM

Oleh : Azwir B. Chaniago

Salah satu kebiasaan Rasulullah, para sahabat dan orang orang orang shalih adalah melakukan qiyaamul lail atau shalat malam. Allah berfirman : “Wa minal laili fa tahajiad bihii naafilatal laka, ‘asaa an yab’atsaka rabbuka maqaaman mahmuudaa”. Dan pada sebagian malam lakukanlah shalat tahajjud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah mudahan Rabbmu mengangkatmu ketempat yang terpuji. (Q.S al Israa’ 79).

Sungguh qiyaamul lail ini memiliki keutamaan yang sangat banyak diantaranya adalah :
Pertama : Merupakan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu.
 Rasulullah bersabda : “Afdhalush shalaati ba’da shalaatil maktuubati ash shalatu fii jaufil laili”. Shalat yang paling utama setelah shalat yang fardhu adalah shalat ditengah malam. (H.R Imam Muslim dari Abu Hurairah).

Kedua : Merupakan kebiasaan orang orang shalih.
Rasulullah bersabda : ‘Alaikum biqiyamil laili fainnahu dakbush shalihiina qablakum, wahuwa qurbatun lakum ilaa rabbikum, wa maghfaratun lissaiyati wa manhaatunanil itsmi. Hendaklah kalian melakukan shalat malam karena ia adalah kebiasaan orang orang shaleh sebelum kalian, ia sebagai amal taqarrub bagi kalian kepada Allah, penghapus kesalahan kesalahan dan menjauhkan dosa. (H.R Imam at Tirmidzi, Imam al Baihaqi dan al Hakim). 

Oleh karena itu bergembiralah orang orang mukmin yang senantiasa melazimkan shalat malam bagi dirinya.

Ada satu yang penting dan  sangat dianjurkan dalam shalat malam ini bagi yang mampu yaitu lama berdirinya. Rasulullah bersabda :  “Afdhalush shalaati thuulul qunuut” Sebaik baik shalat adalah yang lama berdirinya. (H.R Imam Muslim). 

Imam an Nawawi berkata : Makna quunut adalah berdiri.

Ketahuilah bahwa Rasulullah melaksanakan shalat malam dengan sangat lama terutama pada saat berdiri karena beliau biasa membaca  surah yang panjang seperti al Baqarah, Ali Imran, an Nisa’ dan yang lainnya. Bahkan diriwayatkan dari A’isyah bahwa Nabi shalat malam hingga kedua kaki beliau bengkak karena lamanya berdiri dalam shalat. 

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in disebutkan tentang perbuatan yang paling agung yaitu lama berdiri di hadapan Allah Ta’ala pada (shalat) malam hari. Sungguh riwayat ini mendorong kita untuk melakukannya (lama berdiri) ketika shalat malam. Berdiri semacam ini menunjukkan kekhusyu’an hati kepada Allah dan memohon tempat yang dekat disisi-Nya. Barang siapa yang lama berdiri untuk Allah Ta’ala, niscaya Allah akan meringankan berdirinya pada hari berdirinya seluruh manusia di hadapan Rabb semesta alam, yakni pada hari Kiamat kelak. Demikian pula sebaliknya. (Syaikh Abdul Aziz as Sayyid Nada, Kitab Ensiklopedi Adab Islam).

Mudah mudahan bermanfaat bagi kita semua. Wallahu A’lam. (352)          

 

Minggu, 21 Juni 2015

BERSIN ADALAH NIKMAT ALLAH



BERSIN ADALAH NIKMAT ALLAH

Oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh Allah Ta’ala memberikan nikmat yang sangat banyak kepada manusia. Begitu banyaknya nikmat itu maka kita tidak mampu menghitungnya. Allah berfirman : “Wa in ta’udduu ni’matallahi laa tuhshuuhaa”  Dan jika kamu menghitung nikmat Allah niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. (Q.S Ibrahim 34).

Satu hal yang wajib kita ketahui adalah bahwa tidak ada nikmat yang kecil yang dianugerahkan Allah kepada kita. Semua nikmat dari Allah adalah besar bahkan ada yang sangat besar. Diantara yang sangat besar adalah nikmat iman dan islam.

Bersin, mungkin bagi sebagian orang dianggap suatu hal yang kecil bahkan sesuatu yang biasa, tidak memiliki makna apapun. Ini anggapan yang tidak tepat. Ketahuilah bahwa bersin sebenarnya adalah nikmat yang besar dari Allah Ta’ala. Cobalah pikirkan sejenak bagaimana jika pada satu saat kita kepingin bersin, hidung rasanya mampet tapi bersinnya tidak jadi jadi juga. Rasanya sangatlah tidak nyaman, apalagi kalau keadaan yang demikian berjalan beberapa jam.

Jadi bersin adalah salah satu nikmat Allah yang wajib disyukuri. Itulah sebabnya maka Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk memuji Allah Ta’ala jika bersin yakni dengan mengucapkan Alhamdulillah.

Satu hal yang merupakan nikmat Allah pula dengan adanya bersin adalah kesempatan untuk saling mendoakan. Jika seseorang muslim yang bersin memuji Allah dengan mengucapkan Alhamdulillah maka hendaklah saudaranya yang mendengar ucapan pujian itu, mendoakan saudaranya yang bersin  dengan mengucapkan yarhamukallah (semoga Allah merahmati engkau). Selanjutnya yang bersin tadi mendoakan pula orang yang mendoakannya itu dengan mengucapkan yahdikumullahu wa yushlihu baalakum (semoga Allah memberi engkau petunjuk dan memperbaiki keadaanmu).

Ini adalah sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam dalam sabda beliau : “Idza ‘athasa ahadukum falyaqul : alhamdulillahi walqul lahu akhuuhu – au shahibuhu - : yarhamukallah, fa idza qaala lahu yarhamukallahu falyaqul : yahdikumullahu wa yushlihu baalakum” . Jika salah seorang diantara kalian bersin, hendaklah ia mengucapkan : Alhamdulillah. Jika ia telah mengucapkan (Alhamdulillah) hendaklah saudaranya atau temannya mengucapkan : Yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu). Apabila temannya telah mengucapkan : Yarhamukallah maka ucapkanlah yahdikumullah wa yushlihu baalakum (semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki keadaanmu). H.R Imam Bukhari dari Abu Hurairah.             
Ketahuilah bahwa ini adalah salah satu adab Islam yang diajarkan oleh Rasulullah. Semoga kita semua selalu berusaha untuk melazimkannya sehingga memberi manfaat yang banyak bagi kita. Insya Allah.

Wallahu A’lam. (351) 

Rabu, 17 Juni 2015

BERTAWAKAL HANYA KEPADA ALLAH



BERTAWAKAL HANYA KEPADA ALLAH SAJA

Oleh : Azwir B. Chaniago

Muqaddimah.
Secara bahasa tawakal adalah dari kata tawakala yang bermakna menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan. Jadi seorang yang bertawakal kepada Allah adalah orang yang menyerahkan dan mempercayakan segala urusannya kepada Allah. 

Imam al Gazali berkata : Tawakal adalah menyandarkan kepada Allah tatkala menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepada-Nya pada waktu kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai dengan jiwa yang tenang dan hati yang tenteram.
Ketahuilah bahwa tawakal tidak sepenuhnya identik dengan kepasrahan yang tidak beralasan. Tawakal harus didahului oleh usaha yang maksimal. Hilangnya usaha maka hilang pulalah hakikat dari tawakal itu. Dari Anas bin Malik, seorang  berkata kepada Rasulullah : Ya Rasulullah, aku ikat kendaraanku lalu aku bertawakal atau aku lepas dia dan aku bertawakal. Rasulullah bersabda : Ikatlah kendaraanmu lalu bertawakallah (H.R Imam at Tirmidzi).

Hakikat tawakal.
Dalam Kitab Fathul Majid antara lain disebutkan bahwa : Bertawakal kepada Allah maksudnya adalah (1) Bersandar kepadaNya dengan sepenuh hati mereka dan (2) Menyerahkan segala urusan mereka kepadaNya (3) Tidak berharap dari selainNya (4) Tidak condong dan berharap kecuali kepadaNya.
Mereka mengetahui  bahwa apa yang dikehendakiNya pasti terjadi. Dialah yang menjalankan kerajaanNya dengan sendiriNya dan patut disembah dan tidak ada sekutu bagiNya.  

Tawakal sangat berkaitan dengan iman.
Bertawakal adalah salah satu kewajiban seorang mukmin dan termasuk syarat syarat iman. Bahkan tawakal adalah tingkatan paling agung dari penerapan :  ‘Iiyaaka na’budu wa iiyaaka nasta’iin”.  Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan.  (Q.S al Fatihah 3).
Allah berfirman : “Wa ‘alallahi fa tawakkaluu inkuntum inkuntum mu’miniin” Dan bertakwalah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang orang yang beriman.(Q.S al Ma-idah 23).

Ibnul Qayyim berkata dalam memberikan makna ayat ini : Allah menjadikan tawakal kepada-Nya sebagai syarat dalam keimanan maka tidak adanya tawakal menunjukkan tidak adanya iman. 

Allah berfirman : “Wa qaala muusaa yaa qaumi inkunttum aamantum billahi fa’alaihi tawakkaluu inkuntum muslimiin”  Dan Musa berkata : Wahai kaumku. Apabila kamu beriman kepada Allah maka bertawakallah kepada-Nya, jika kamu benar benar orang muslim (berserah diri).  Q.S Yunus 84. 

Nabi Musa menjadikan tawakal sebagai  bukti kebenaran sikap berserah diri. Jika imannya kuat maka tawakalnya akan lebih kuat. Jika imannya lemah maka lemah pula tawakalnya kepada Allah. Jika sikap tawakal menjadi lemah maka itu menunjukkan lemahnya iman. Allah Ta’ala menggabungkan antara tawakal dan ibadah, antara tawakal dan iman antara tawakal dan Islam dan antara tawakal dan hidayah. (Lihat Fathul Majid).  
 
Perintah bertawakal.
Orang orang yang beriman akan senantiasa berada dalam kebaikan dan dalam pemeliharaan  Allah Ta’ala jika mereka bertawakal kepadaNya. Sangatlah banyak ayat ayat al Qur an yang menyuruh manusia untuk bertawakal kepadaNya, diantaranya adalah :

Pertama : “Fa’buduhu wa tawakkal ‘alaihi, wa maa rabbuka bi ghaafilin ‘amma ta’maluun”  Maka sembahlah Dia dan bertawakallah kepadaNya. Dan Rabbmu tidak akan lalai terhadap apa yang kamu kerjakan.  (Q.S Huud 123)

Kedua :  “Wa tawakkal ‘alallahi wa kafa billahi wakiilaa”.Dan bertawakallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pemelihara.  (Q.S al Ahzaab 3)

Ketiga : “Wattaqullahal ladzii ilaihi tuhsyaruun”  Dan bertawakallah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikumpulkan.  (Q.S al Mujaadilah 9) 

Keutamaan bertawakal.  
Diantara keutamaan yang akan diperoleh seorang hamba yang bertawakal adalah sebagaimana disebutkan dalam surat ath Thalaq ayat 3 yaitu Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Allah berfirman : Waman yatawakkal ‘alallahi fahuwa hasbuh. Innallaha baalighu amrihii, qad ja’alallahu likulli syai-in qadraa”. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah pasti mewujudkan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap tiap sesuatu.   

Syaikh as Sa’di berkata : “Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah” maknanya adalah (bertawakal) dalam urusan agama dan dunianya dengan bergantung sepenuhnya kepada Allah Ta’ala dengan maksud untuk mendapatkan apa apa yang bermanfaat dan menghindari apa apa yang mudharat serta percaya sepenuhnya bahwa mereka akan diberi kemudahan.

Selanjutnya Syaikh berkata : “Niscaya  Allah akan mencukupkan (keperluan) nya” . Maksudnya adalah bahwa Allah akan mencukupi keperluan yang disandarkannya kepada Allah. Dan ketika suatu urusan berada dalam tanggungan Yang Mahakaya, Mahakuat, Mahaperkasa lagi Mahapenyayang, maka Dia paling dekat dengan hambaNya melebihi segala sesuatu.

Hanya saja mungkin hikmah ilahi mengharuskan pemberian itu ditunda sampai waktu yang tepat bagi hamba yang bersangkutan. Karena itu Allah berfirman : Sesungguhnya Allah pasti mewujudkan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Maksudnya, keputusan dan ketetapanNya pasti berlaku. (Kita Tafsir Kariimir Rahman).

Insya Allah  bermanfaat bagi kita semua. Wallahu A’lam.  (350).