Senin, 04 Juli 2016

MENJAGA KETAKWAAN SETELAH RAMADHAN



MENJAGA KETAKWAAN SETELAH RAMADHAN

Oleh : Azwir B. Chaniago

Muqaddimah.
Sungguh puncak  dari tujuan shaum Ramadhan adalah agar menjadi orang yang bertakwa. Takwa adalah target paling utama seorang beriman dan dan diantara cara mencapainya adalah dengan puasa Ramadhan. 

Allah Ta’ala berfirman : “Yaa aiyuhal ladziina aamanuu kutiba ‘alaikumush shiyaamu kamaa kutiba ‘alal ladziina min qablikum la’allakum tattaquun”. Wahai orang orang yang beriman !. Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Q.S al Baqarah 183).

Kenapa takwa harus menjadi target paling utama karena hari esok atau hari akhirat itu memiliki tempat yang paling diidamkan oleh setiap muslim yaitu surga. Dan ketahuilah bahwa surga itu hanya disediakan untuk orang yang bertakwa tidak untuk yang selainnya. Seorang hamba haruslah berbekal di dunia ini untuk mendapatkan surga itu dan sebaik baik bekal adalah takwa.

Allah berfirman : “Wa tazauwaduu, fainna khairaz zaadit taqwa, wattaquuni yaa uulil albaab.” Dan bawalah bekal, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang orang yang berakal sehat. (Q.S al Baqarah 197).

Makna  takwa dan bertakwa.
Lalu apa makna takwa. ? Adapun makna takwa dalam pengertian bahasa berarti batasan atau penghalang yang mencegah seseorang dari hal yang ditakutinya. Jadi takwa kepada Allah bermakna membuat penghalang antara diri pribadi dengan siksa-Nya. Untuk memperoleh takwa itu maka seorang hamba haruslah mentaati perintah dan larangan Rabb-nya. (Tahdzibul Atsar, Imam ath Thabari).

Kata ittaqi atau bertakwalah bermakna kasyyatullah wan-titsaalu awaamirihi wajtinaabu nawaa hiihi. Yaitu takut kepada Allah dengan melaksanakan perintah perintah-Nya dan menghindari larangan larangan-Nya. 

Thalq bin habib, seorang tabi’in berkata : Apabila terjadi fitnah, padamkanlah fitnah itu dengan takwa. Orang-orang bertanya :  Apa makna  takwa itu. Dia menjawab : Takwa adalah engkau melakukan ketaatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah karena mengharap pahala dari-Nya. Dan engkau meninggalkan segala bentuk kemaksiatan kepada-Nya berdasarkan cahaya dari-Nya karena takut terhadap siksa-Nya. (Dikeluarkan oleh Ibnul Mubarak, dalam az Zuhd).

Para ulama mengatakan : Ini adalah sebaik-baik makna atau definisi tentang takwa. Cahaya Allah adalah Iman dan Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan as Sunnah yang shahih, berdasarkan pemahaman salafush shalih.

Siapa yang mendapat predikat takwa dengan shaum Ramadhan.
Sangatlah banyak manusia yang bisa  mendapatkan predikat takwa dengan puasa Ramadhannya. Diantaranya adalah orang orang yang berkeinginan kuat untuk mendapatkannya dan dibuktikan dengan usaha yang sungguh melaksanakan puasa Ramadhan yaitu dengan ikhlas kepada Allah Ta’ala dan ittiba’ yaitu mengikuti cara yang diajarkan Rasulullah, insya Allah.

Setelah itu wajiblah bagi seorang hamba untuk berprasangka baik kepada Allah Ta’ala kiranya Allah telah memberikan predikat  takwa kepadanya.

Menjaga dan memelihara ketakwaan.
Jika predikat takwa telah ada dalam diri seorang hamba maka kewajiban berikutnya, yang juga tidak ringan adalah berusaha menjaga dan memeliharanya bahkan harus meningkatkannya setiap saat. Jika sikap takwa yang sudah ada lalu terlepas sungguh merupakan kerugian yang amat besar dan membahayakan kehidupan akhiratnya. 

Andaikata ketakwaan seorang hamba menurun apalagi hilang  dan pada saat yang sama Allah mewafatkannya maka itulah yang dimaksud dengan kerugian yang tiada tara.

Diantaranya cara yang bisa dilakukan untuk menjaga, memelihara bahkan meningkatkan ketakwaan  adalah :

Pertama : Selalu merasa dibawah pengawasan Allah Ta’ala.
Sungguh kita sakksikan banyak orang yang melalaikan kewajibannya terhadap hak hak Allah atas dirinya utama sekali karena merasa Allah tidak mengetahui apa yang mereka lakukan. Pada hal sungguh Allah Ta’ala dengan ilmu-Nya yang Mahaluas mengetahui segala sesuatu yang mereka lakukan.

Allah berfirman : “… Wa huwa ma’akum aina maa kuntum. Wallahu bi maa ta’maluuna bashiir”. ... Dan dia bersama kamu dimana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Q.S. al Hadid 4).

Al Hafizh Ibnu Katsir berkata : Maksudnya adalah Allah senantiasa menyaksikan kalian dan menyaksikan amal kalian. Bagaimanapun keadaan kalian dan dimana saja kalian berada didaratan atau dilautan, siang ataupun malam dirumah ataupun dipadang pasir. Semua itu berada dalam pengetahuan, pengawasan dan pendengaranNya.

Seorang yang merasa yakin dilihat dan diawasi Rabbnya, tentu akan  selalu mendorongnya untuk terus bertakwa baik dalam keramaian dan juga dalam kesendirian.

Kedua : Belajar ilmu syar’i dan mengamalkannya.
Bahwa salah satu makna takwa secara istilah adalah sebagaimana dikatakan Ibnu Mas’ud  : Hendaklah Allah ditaati tidak dimaksiati, diingat tidak dilupakan, disyukuri tidak diingkari.

Ketahuilah bahwa tidaklah seorang hamba : (1) Bisa mentaati Allah secara benar kecuali dengan ilmu. (2) Bisa mengingat Allah secara benar kecuali dengan ilmu. (3) Bisa mensyukuri nikmat Allah secara benar kecuali dengan ilmu.

Sufyan ats Tsauri  berkata : Bahwa sungguh ilmu dipelajari untuk dijadikan sarana bertakwa kepada Allah.

Ketahuilah bahwa ilmu yang benar di dapat dengan belajar. Dan belajar adalah kewajiban setiap muslim. Rasulullah bersabda :  “Thalabul ilmi faridhatun ‘ala kulli muslim.”   Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim. (H.R Imam Ahmad dan Ibnu Majah).
Ketiga : Terus menerus melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah
Ini adalah aplikasi dari takwa. Tidaklah dikatakan bertakwa jika menyelisi perintah Allah dan mengabaikan larangannya.

Allah berfirman: “Wa man yuthi’iilaha wa rasuulahuu wa yakhsyallaha wa yattaqhi fa ulaa-ika humul faa-izuun”. Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasulnya, serta takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan”. (Q.S. an Nur 52).

Keempat : Bergaul dengan orang orang yang selalu menjaga ketakwaan.
Termasuk cara yang sangat dianjurkan dalam menjaga ketakwaan adalah berteman dengan orang orang yang selalu menjaga ketakwaan.

Rasulullah bersabda : “Seorang dilihat dari agama temannya, maka hendaklah seseorang melihat dengan siapa dia    berteman” (HR Ahmad, Abu Dawud, at Tirmidzi dan al Hakim).

Ketahuilah bahwa : (1) Pertemanan dengan orang bertakwa adalah suatu nikmat yang besar karena pertemanan dengan orang bertakwa itu karena Allah bukan karena yang lain. (2) Pertemanan dengan orang bertakwa insya Allah akan langgeng dari dunia sampai akhirat. (3) Pertemanan dengan orang bertakwa akan selalu saling mendoakan untuk kebaikan. (4) Pertemanan dengan orang bertakwa akan selalu saling ingat mengingatkan tentang kebaikan. (5) Pertemanan dengan orang bertakwa akan saling memberi udzur dan memaafkan jika ada kesalahan.

Kelima : Selalu berdoa agar diberi sifat takwa.
Salah satu jalan untuk meraih ketakwaan adalah dengan banyak berdoa kepada Allah. Diantara doa yang diajarkan Rasulullah Salallahu ‘alahi Wasallam adalah : “Allahumma inni as’alukal huda, wattuqa wal’afaf wal ghina”. Ya Allah sesungguhnya aku memohon engkau agar diberi petunjuk, ketakwaan, kesucian diri dan kecukupan (H.R Imam Muslim).
 
Demikianlah sebagian cara yang sangat dianjurkan untuk dilakukan sehingga ketakwaan yang ada pada diri seorang hamba tetap terpelihara, terjaga bahkan bisa meningkat. 

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua.Wallahu A’lam. (710)

ADAB YANG DISUNAHKAN PADA HARI 'IDUL FITRI



ADAB YANG DISUNAHKAN PADA HARI ‘IDUL FITRI

Oleh : Azwir B. Chaniago

Rasulullah Salalllahu ‘alaihi Wasallam telah menetapkan bahwa Islam  memiliki dua hari yang disyariatkan yaitu hari Raya ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adh-ha. Sungguh pensyariatan dua hari raya ini adalah rahmat Allah Ta’ala bagi kaum muslimin. 

Dalam sebuah hadits Anas bin Malik, dia berkata : (Ketika) Rasulullah datang dan penduduk Madinah kala itu memiliki dua hari (raya) yang mereka gunakan untuk bermain main di masa jahiliyah. Lalu beliau bersabda : “Aku telah mendatangi kalian dan kalian memiliki dua hari yang kalian gunakan untuk bermain main dimasa jahiliyah. Sungguh Allah Ta’ala telah mengganti untuk kalian dua hari yang lebih baik dari itu, yakni hari Nahr (‘Idul Adh-ha) dan hari Fithr (‘Idul Fithri). H.R Imam Ahmad, Abu Dawud dan an Nasa’i.

Karateristik hari raya dalam Islam.
Hari raya dalam Islam memiliki karakteristik tersendiri dan penuh dengan pahala
dan kebaikan, yaitu :

Pertama : Didahului dengan shaum. (1) Untuk ‘Idul Fithri, didahului oleh shaum
Ramadhan selama sebulan penuh. (2) Untuk ‘Idul Adh-ha paling sedikit didahului
oleh shaum pada tanggal 9 Dzulhijjah bahkan juga disunahkan shaum tanggal 1-9
Dzulhijjah.

Kedua : Hari H-nya diharamkan ber-shaum karena merupakan hari yang berisi
kebahagiaan, kesenangan dan semangat baru.

Ketiga : Hari H-nya disyariatkan untuk melaksanakan shalat yaitu shalat ‘Id serta
diikuti dengan khutbah hari raya.

Keempat : Dianjurkan berkumpul kumpul bersama keluarga dan juga saling
mengunjungi saudara beserta.

Beberapa adab yang sunahkan pada hari raya ‘Id

Tentang hukum shalat ‘Id  memang ada perbedaan pendapat dikalangan ulama. Ada yang mengatakan wajib ‘ain dan ada pula yang mengatakan sunnah muakadah yaitu sangat dianjurkan. Tetapi yang pasti shalat ‘Id adalah disyariatkan, diajarkan oleh Rasulullah dan dilakukan di seluruh negeri kaum muslimin. Oleh karena itu maka seorang muslim mestilah melaksanakan dengan sebaik baiknya untuk mendapat keutamaan yang banyak dari ibadah ini.

Kemudian tentang adab yang disunahkan  berkaitan dengan shalat ‘Id, diantaranya adalah :

Pertama : Disunahkan mandi pada hari raya yaitu sebelum berangkat ke tempat shalat karena kaum muslimin berkumpul untuk shalat.  Mandi pada hari  raya ‘Id adalah seperti mandi pada hari Jum’at. Namun jika tidak bisa mandi maka dengan berwudhu’ saja itu pun sah (Lihat al Mughni). Dan mandi pada hari ‘Id tidak wajib. 

Imam Nafi’ meriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar mandi di hari ‘Idul Fithri sebelum berangkat ke tempat shalat (Lihat al Muwatha’).

Imam Ibnul Qayiim berkata : Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam dulu mandi untuk dua hari raya. Hadits tentang itu shahih dan juga juga telah ada riwayat dari Ibnu Umar yang  sangat bersemangat untuk mencontoh sunnah Rasulullah. Dan Ibnu Umar dahulu mandi pada hari raya sebelum keluar (menuju tempat shalat). Lihat Zaadul Ma’aad. 

Kedua : Disunahkan makan di hari raya ‘Idul Fithri dan tidak makan di hari raya ‘Idul Adh-ha sampai selesai shalat. 

Anas bin Malik berkata : “Kaana Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam, Laa yaghduu yaiumal fithri hatta ya’kula tamaratin”. Rasulullah dulu tidak berangkat pada hari ‘Idul Fithri sampai makan beberapa butir kurma. (H.R Imam Bukhari).

Juga berdasarkan hadits dari Buraidah, beliau berkata : “Rasulullah dahulu tidak keluar pada hari raya fithri sampai beliau makan (terlebih dahulu, pen.) dan pada hari raya adh-ha (kurban) tidak makan sampai kembali lalu memakan dari sembelihan kurbannya. (H.R at Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Imam Ibnul Qayyim berkata : Rasulullah dahulu sebelum keluar (untuk melaksanakan shalat) pada hari raya Fitri, beliau makan beberapa kurma dan memakannya dengan ganjil. Sedangkan pada hari raya kurban beliau tidak makan sampai kembali dari tempat shalat lalu makan dari sebagian daging kurbannya. (Lihat Zaadul Ma’aad).

Ketiga :  Disunnahkan berhias di hari raya.
Pada hari ‘Id kaum muslimin berkumpul dengan orang banyak terutama untuk melakukan shalat yang sudah sepatutnya bagi mereka untuk berhias diri dan tampil dengan lebih baik yaitu juga untuk menampakkan nikmat nikmat Allah dan mensyukurinya. Oleh karena itu disunnahkan berhias dan memakai pakaian terbaik yang dia miliki serta memakai mintak wangi dan juga bersiwak.

Imam Malik bin Anas berkata : Saya mendengar para Ulama mengatakan bahwa memakai minyak wangi dan berhias pada setiap hari raya disunnahkan.

Imam Ibnul Qayyim, dalam Zaadul Ma’aad,  berkata : Rasulullah dahulu untuk keluar pada dua hari raya memakai pakaian terbaiknya yaitu hullah (pakaian khusus) yang beliau pakai pada dua hari raya dan juga pada hari Jum’at.  

Keempat : Disunnahkan berangkat shalat ‘Id dengan berjalan kaki.
Diantara yang disunnahkan adalah berjalan kaki dengan tenang menuju tempat shalat. Imam Ibnu Qudamah dalam al Mughni berkata : Diantara para Ulama yang menganjurkan berjalan kaki adalah Umar bin Abdul Aziz dan juga Imam asy Syafi’i.
Diriwayatkan oleh at Tirmidzi  bahwa Ali bin Abi Thalib berkata : Termasuk sunnah adalah berangkat shalat ‘Id dengan berjalan kaki. 

Dari Ibnu Umar, dia berkata : “Anna Nabiyaa salallahu ‘alaihi wasallam, kaana yakhruju ilaal ‘iidi maa syiyan wa yarji’u maa syiyan”. Sesungguhnya Nabi Salallahu ‘alaihi Wasallam dulu keluar untuk menunaikan shalat ‘Id dengan berjalan kaki dan kembali dengan berjalan kaki. (H.R Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh al Albani).

Cuma saja di zaman sekarang, jika tempat shalatnya sulit dijangkau dengan berjalan kaki karena jauh, maka tidaklah ada larangan untuk menggunakan kendaraan yang sesuai. 

Kelima : Disunnahkan melaksanakan shalat ‘Id di tanah lapang.
Rasulullah senantiasa shalat ‘Id di tanah lapang dan tidak shalat di masjid Nabawi. Dari Abu Sa’id al Khudri, beliau berkata :

Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam dahulu berangkat  pada hari ‘Idul Fithri dan Adh-ha ke mushallla  (tanah lapang tempat shalat). Beliau memulai dengan shalat kemudian selesai (shalat) lalu beliau bangun  menghadap para sahabat yang masih dalam keadaan duduk di shaf shaf mereka. Lalu beliau memberikan nasehat, wasiat dan perintah perintah. (Mutafaq ‘alaihi).

Tentang hadits ini dijelaskan oleh Imam an Nawawi. Beliau berkata : Ini adalah dalil bagi Ulama yang berpendapat bahwa ke luar ke mushalla (tempat shalat) untuk menunaikan shalat ‘Id itu disunnahkan dan itu lebih utama daripada melaksanakannya di masjid. Inilah amal orang orang di mayoritas negeri. Adapun penduduk Makkah tidak melaksanakan (shalat ‘Id) kecuali di masjid sejak zaman dahulu. (Lihat Fathul Baari).

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz menjelaskan bahwa : Apabila tanah basah terkena hujan maka shalatlah di masjid. Adapun Makkah maka shalat ‘Id di masjid secara mutlak. Dan barangsiapa yang menunaikan shalat di masjid maka ia harus menunaikan shalat tahyatul masjid. (Muntaqal Akbar).  
  
Keenam : Disunahkan bersegera berangkat ke tempat shalat.
Dalam syariat Islam sangatlah dianjurkan untuk bersegera menuju kebaikan termasuk berangkat ke tempat shalat ‘Id. Imam Malik berkata : telah berlalu sunnah bahwa Imam keluar dari rumahnya seukuran waktu sampai di tempat shalat dalam keadaan pas waktu shalat. Adapun selain Imam disunahkan untuk bersegera dan mendekat kepada Imam untuk mendapatkan pahala, menunggu shalat, mendekati Imam tanpa melangkahi bahu bahu orang dan mengganggu orang lain. 

Dari Abu Sa’id al Khudri, dia berkata : “Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam dahulu berangkat pada hari ‘Idul Fithri dan ‘Idhul Adh-ha ke tempat shalat. Beliau memulai dengan shalat. (Mutafaq ‘alaihi).
Jadi Rasulullah begitu sampai di tempat shalat ‘Id beliau langsung melaksanakan shalat bersama makmum.

Ketujuh : Disunnahkan bertakbir di jalan menuju tempat shalat.
Sangat dianjurkan untuk bertakbir di jalan menuju tempat shalat ‘Id dengan mengeraskan suara. Allah berfirman : “Wa li tukabbiruullaha ‘alaaa maa hadaakum wa la’allakum tasykuruun”. Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu supaya kamu bersyukur. (Q.S al Baqarah 185).

Dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah disebutkan : “Sesungguhnya Rasulullah Salallahu ‘alahi Wasallam dahulu keluar pada hari ‘Idul Fithri lalu bertakbir hingga sampai ke mushalla (tempat shalat di tanah lapang, pen.) dan hingga ditunaikan shalat. Apabila shalat ditunaikan maka beliau memutus takbirnya (Dishahihkan Syaikh al Albani, lihat Silsilah Hadits Shahih).  

Imam Ibnul Qayyim berkata : Ibnu Umar yang memiliki semangat sangat tinggi mengikuti sunnah, tidak keluar sampai  matahari terbit dan bertakbir dari rumahnya sampai ke tanah lapang tempat shalat ‘Id. (Zaadul Ma’aad).

Kedelapan : Disunnahkan mengambil jalan yang berbeda ketika pulang shalat ‘Id.
Termasuk yang disunnahkan adalah berangkat dan pergi ke tempat shalat ‘Id melalui jalan yang berbeda dan itulah yang dilakukan oleh Rasulullah. 

Ibnul Qayyim menjelaskan tentang amalan Rasulullah ketika  keluar menuju tempat shalat ‘Id mengatakan : Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam dahulu keluar dengan berjalan kaki dan mengambil jalan yang berbeda pada hari raya. Kalau beliau berangkat melalui satu jalan dan kembali melalui jalan lainnya.

Diantara hikmahnya, Imam Ibnul Qayyim memberikan penjelasan :

(1) Ada yang menyatakan hal ini agar dapat memberi salam kepada orang orang yang melewati dua jalan tersebut. 

(2) Ada yang menyatakan untuk mendapatkan berkah dua kelompok tersebut yaitu dua kelompok orang yang berjalan di dua jalan tersebut. 

(3) Juga ada yang menyatakan bahwa hal itu agar dapat memenuhi hajat orang yang membutuhkannya dengan melalui dua jalan tersebut. 

(4) Ada yang menyatakan untuk menampakkan syi’ar Islam di segenap jalan jalan. 

(5) Ada yang menyatakan untuk membuat marah kaum munafik dengan melihat kemuliaan Idan kaum Muslimin.

(6) Juga ada menyatakan bahwa hal itu bertujuan memperbanyak melihat tempat dan langkah orang yang berangkat ke tempat shalat yang satu mengangkat derajat dan yang satu menghapus dosa sampai ia kembali ke rumahnya.

(7) Ada pula yang menyatakan hal itu karena hal hal tersebut (diatas) seluruhnya dan untuk yang lainnya dari hikmah yang tidak lepas dari perbuatan Rasulullah. Imam Ibnul Qayiim selanjutnya menambahkan bahwa : Pendapat yang terakhir inilah yang lebih benar. (Zaadul Ma’aad).

Demikian sedikit penjelasan tentang  beberapa adab yang disunnahkan dalam melaksanakan shalat ‘Id. Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua.

Wallahu A’lam (709)

Sabtu, 02 Juli 2016

AYAT AL QUR-AN YANG BERULANG 31 KALI



AYAT AL QUR AN YANG BERULANG 31 KALI

Oleh : Azwir B. Chaniago

Dalam al Qur an ada banyak ayat yang difirmankan Allah Ta’ala dengan berulang. Diantara ayat yang paling banyak diulang ulang dengan kalimat  yang sama adalah firman-Nya : Fa biaiyi aalaa-i rabbikumaa tukadzdzibaan”. Maka nikmat nikmat Rabb kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan ?. 

Ayat ini terdapat dalam surat ar Rahman yang berulang sebanyak 31 kali. 

Syaikh Jabir al Jazairi berkata : Didalam bahasa Arab sangat sulit membuat  pengulangan dengan berbagai bentuk pengulangan. Pengulangan dalam surat ar Rahman memiliki makna yang tinggi dan berisi (bermakna) positif. Pada hal kebanyak pengulangan (kalimat) yang dilakukan oleh orang orang tidak memiliki makna berbeda dan justru membuat orang   bosan untuk membacanya.

Berbeda dengan  surat ar Rahman, pengulangan tersebut disusun sedemikian rupa oleh Allah Ta’ala sehingga surat ar Rahman memiliki keseimbangan, keselarasan dan keindahan baik dari segi huruf huruf, kata kata, intonasi, kalimat dan lain lain.

Pengulangan ayat dalam al Qur an sebagaimana dalam surat ar Rahman yang berulang sampai 31 kali  tentulah memiliki makna dan hikmah yang sangat banyak. Diantaranya  adalah sebagaimana disebutkan dalam Kitab tafsir Ibnu Katsir dengan menukil perkataan Ibnu ‘Asyuur mengatakan : Maksud sebenarnya adalah :

(1) Ejekan dan celaan terhadap kaum musyrik karena mereka telah berbuat kesyirikan (mereka telah menyekutukan Allah Ta’ala Pemberi segala kenikmatan) dalam ibadah dengan sesuatu yang bukan pemberi kenikmatan.

(2) Persaksian kepada mereka akan kaum mukminin yang mentauhidkan Allah Ta’ala.  
Lalu apakah  setiap pengulangan ayat itu memiliki makna tersendiri dan tidak hanya sekedar penekanan. ? Ketahuilah bahwa makna setiap ayat yang diulang tersebut tergantung ayat yang disebutkan sebelum dan sesudahnya, sehingga setiap orang yang mendengarnya tidak bisa mendustakan segala kenikmatan yang telah Allah Ta’ala berikan kepadanya.

Imam ath Thabari dalam kitab tafsirnya dan juga Syaikh Abu Bakar al Jazairi di dalam kitab tafsirnya menyebutkan : Makna makna setiap ayat yang berulang ulang tersebut sesuai dengan ayat ayat sebelum dan sesudahnya. (Tafsir ath Thabari).

Ketahuilah bahwa ayat yang diulang 31 kali ini mengandung pertanyaan yang sangat dianjurkan untuk dijawab sebagaimana jawaban jin ketika Rasulullah membacakannya kepada mereka. 

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah, dia berkata bahwa : “Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam keluar menemui para sahabat. Kemudian beliau membacakan surat ar Rahman kepada mereka dari awal hingga akhir surat, kemudian mereka (para sahabat)  pun diam. 

Kemudian beliau berkata : Saya telah membacakan  surat ini dimalam pertemuan dengan jin, kemudian mereka lebi baik tanggapannya daripada kalian. Ketika saya membacakan  ayat (yang artinya, Maka nikmat nikmat Rabb kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan ?. Mereka (para jin menjawab) : “Tidak ada sesuatu apapun dari nikmat-Mu wahai Rabb kami yang kami dustakan, untuk-Mu segala pujian” (H.R at Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh al Albani).

Ibnu Abbas ketika dibacakan ayat ini beliau berkata : “Laa bi aiyihaa yaa rabb”. (Saya tidak mendustakan sedikit pun) dari kenikmatan kenikmatan tersebut wahai Rabb-ku. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir).

Sungguh surat ar Rahman ini memilki beberapa kekhususan didalamnya, diantaranya adalah :

(1) Ketika Rasulullah membacakan surat ini kepada para jin secara khusus dan mereka tidak mendustakan kenikmatan kenikmatan yang telah Allah berikan kepada mereka. Bahkan mereka para jin menjawab : “Tidak ada sesuatu apa pun dari nikmat-Mu wahai Rabb kami yang kami dustakan. Untuk Engkau segala pujian”.   yaitu sebagai mana hadits dari Jabir bin Abdillah diatas.

(2) Surat ini diawali dengan salah satu nama Allah yaitu ar Rahman. Tidak ada surat lain di dalam al Qur-an yang diawali dengan nama Allah kecuali surat ini. 

(3) Tidak ada surat yang ayatnya diulang  sampai 31 kali kecuali surat ini.

(4) Pada surat ini disebutkan berbagai macam kenikmatan yang Allah berikan kepada para hamba-Nya. Allah juga menyebutkan sebagian sifat neraka dan beberapa sifat surga.

(5) Allah Ta’ala menggunakan metode penyampaian targhib yaitu memberi motivasi serta kabar gembira  dan tarhib yaitu memberitahukan ancaman dan menakut nakuti dalam surat ini. Dan juga menggunakan metode penyampaian dengan pertanyaan pertanyaan yaitu ditujukan kepada dua jenis makhluk yang dibebankan kepada mereka syariat yakni manusia dan jin. (Shifatul Jannah fi Suratur Rahman).

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam (708).