Senin, 06 April 2015

SABAR DAN KEUTAMAANNYA



SABAR DAN KEUTAMAANNYA

Oleh : Azwir B. Chaniago

Muqaddimah
Sesungguhnya keimanan itu ada dua bagian. Sebagiannya adalah sabar dan sebagian lainnya adalah syukur, yang demikian itu adalah karena apa yang diperoleh seorang hamba didunia tidak lepas dari dua perkara, yaitu:

Pertama: Kenikmatan yang Allah ta’ala berikan kepadanya. Ini membutuhkan rasa syukur yaitu diantaranya mengakui bahwa nikmat tersebut datang dari Allah dan diwujudkan dalam bentuk ketaatan kepada Allah

Kedua: Musibah yang  menimpa seorang hamba perkara ini membutuhkan sikap ridha dan sabar dalam menerimanya. Ini diwujudkan dalam sikap tidak melakukan tindakan yang diharamkan Allah.

Makna dan hakikat sabar
Iman Ibnul Qayyim dalam Madarijus Saalikin  menjelaskan makna dan hakikat sabar yaitu :

Pertama: Secara bahasa sabar bermakna mencegah dan menahan.

Kedua: Hakikat sabar adalah menahan diri dari berputus asa, meredam amarah jiwa, mencegah lisan untuk mengeluh serta menahan anggota badan untuk berbuat kemungkaran.

Sabar adalah akhlak mulia yang muncul dari dalam jiwa. Dapat mencegah perbuatan yang tidak baik. Sabar adalah kekuatan jiwa yang dengannya akan tegak dan baik segala perkara.

Tiga bagian pokok dalam sabar 

 Pertama : Sabar dalam menjalani ketaatan
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : Dalam mengerjakan ketaatan kepada Allah lebih utama dan sempurna daripada menjauhi maksiat.  Lagi pula kerusakan karena tidak ada ketaatan  lebih dibenci Allah dari pada kerusakan adanya maksiat.
Allah berfirman : “Wa’mur ahlaka bish shalaati washthabir ‘alaiha” Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya” (Q.S Thaahaa 132).

Seorang yang ingin bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah perlu memperhatikan tiga hal, sebagaimana dikatakan Imam Ibnu Qudamah dalam Kitab Minhajul Qashidin, yakni:

(1) Sebelum beribadah. Hendaklah dia meluruskan niatnya, ikhlas dan sabar agar terjaga dari penyakit riya’ dan sum’ah

(2) Saat beribadah. Hendaklah dia tidak lalai dari merasa diawasi Allah, jangan malas mengerjakan sunnah-sunnahnya dan adab-adabnya, sabar melawan rasa malas hingga selesai ibadahnya

(3) Setelah beribadah. Hendaklah dia sabar dari menyebarkan ibadah yang telah dia kerjakan. Tidak pamer dihadapan manusia dengan maksud riya atau sum’ah. Barangsiapa yang tidak sabar setelah bersedekah sia-sia belaka amalnya.

Kedua : Sabar dalam menjauhi larangan
Semua orang butuh kesabaran dalam setiap waktu dan kondisi. Sebab ia selalu berada dalam perintah yang wajib dilaksanakan dan larangan yang wajib ditinggalkan. Manusia berada diatas takdir Allah termasuk kenikmatan yang wajib dia syukuri. Apabila semua perkara ini tidak bisa lepas dari diri seorang hamba maka kesabaran harus senantiasa ada pada dirinya sampai akhir hayat. (Tazkiyatun Nufus, Syaikh Ahmad Farid).

Syaikh Muhammad Shalih al Utsaimin berkata : Sabar dalam menjauhi yang diharamkan Allah, yaitu hendaklah manusia menahan diri dari yang Allah haramkan, karena jiwa ini senantiasa memerintah kepada keburukan. Hendaklah seorang hamba sabar untuk menjauhi yang diharamkan Allah.

Ketiga : Sabar menerima takdir atau ketetapan Allah
Bahwa ketetapan yang Allah takdirkan bagi seorang hamba didunia dibagi dua :

(1) Ketetapan Allah yang sesuai dengan keinginan seorang hamba berupa keselamatan, harta, kedudukan dan kelezatan dunia. Maka disamping bersyukur terhadap nikmat, seorang hamba haruslah jangan tertipu dengan kelezatan dunia hingga lalai terhadap akhirat.

Besabar dengan kenikmatan, tidaklah mudah seperti apa yang dikatakan Abdurahman bin ‘Auf : Kami diuji dengan kesengsaraan, kami mampu bersabar. Akan tetapi  tatkala kami diuji dengan kenikmatan tidaklah kami mampu bersabar. Oleh karena itu, hamba yang beriman  hendaklah berusaha untuk sabar dari semua kenikmatan, yaitu bersabar yang diikuti rasa syukur.

(2) Ketetapan Allah berupa musibah dan sesuatu yang tidak dikehendaki jiwa. Ketahuilah bahwa musibah, ujian dan cobaan merupakan sunnatullah yaitu sesuatu yang telah Allah tetapkan dalam kehidupan dalam seorang hamba. Bahkan itu termasuk tujuan yang agung dari penciptaan manusia.

Allah berfirman:  “Alladzii khalaqal mauta wal hayaata liyabluwakum ahsanu ‘amalaa, wa huwal ‘aziizul ghafuur” (Dia)  Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Mahapengampun.  (Q.S al Mulk 2)

Allah Ta’ala juga berfirman: “Ahasibannaasu an yutrakuu an yaquluu aamannaahum la yuftanuun”  Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan  mengatakan, kami telah beriman sedangkan mereka tidak diuji lagi” (Q.S al Ankabut 2).

Rasulullah bersabda :  “Matsalul mu’mini kamatsaliz zar’i, laatazaalur riihu tamiiluhu, walaa yazaalul mu’minu yushiibuhul bala’. Perumpamaan seorang mu’min tak ubahnya seperti tanaman, angin akan selalu meniupnya, ia akan selalu mendapat cobaan (H.R Imam Muslim dan at Tirmidzi).

Imam Ibnul Jauzi berkata : Dunia ini dijadikan sebagai cobaan bagi manusia, hendaknya bagi orang yang berakal untuk melatih dirinya agar bersabar. Apapun yang diperoleh manusia berupa keinginannya adalah kemurahan dari Allah. Dan apa yang tidak dia dapat merupakan asal dari tujuan dunia ini. 

Keutamaan sabar
Ketahuilah bahwa  sabar adalah merupakan akhlak terpuji. Merupakan watak yang disukai. Merupakan perangai yang indah. Sangatlah baik pengaruh dan akibatnya. Memiliki faedah dan manfaat yang berlimpah. Dengan kesabaran ada kesempatan berfikir jernih sehingga akan memudahkan berbagai urusan.

Oleh karenanya para sahabat dan orang-orang shalih selalu memelihara dan melazimkan sifat sabar ini dalam dirinya. Terutama dalam menjaga ketaatan, menjauhi larangan dan sabar dalam menerima ketetapan Allah.

Sungguh sangat banyak keutamaan sabar yang dijelaskan dalam al-Qur-an dan as Sunnah. Diantaranya adalah:

Pertama : Allah bersama orang-orang yang sabar
Allah berfirman: “Washbiru, innallaha ma’ash shaabirin”  Dan             bersabarlah. Sesungguhnya Allah bersama orang-       orang yang sabar. (Q.S al Anfaal 46).
Ketahuilah bahwa  kebersamaan Allah Ta’ala kepada orang        yang sabar adalah kebersamaan yang khusus. Allah akan menjaganya, menolongnya dan selalu memberi kekuatan baginya.

Kedua : Ganjaran pahala yang tidak terbatas
Sulaiman bin Qashim berkata : Setiap amalan dapat diketahui ganjarannya kecuali kesabaran yang ganjarannya seperti air mengalir. Kemudian beliau membacakan firman Allah Ta’ala : “Innama yuwaffash shaabiruuna ajrahum bighairi hisaab”   Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah  yang disempurnakan pahala mereka tanpa batas (Q.S az  Zumar 10)

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata : Adapun kesabaran, pahalanya berlipat ganda tidak terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa ganjarannya sangat besar sekali hingga tak mungkin bagi seorang insan untuk membayangkan pahalanya karena tidak bisa dihitung dengan bilangan. Bahkan juga, pahala sabar termasuk pahala yang maklum diisi Allah tanpa bisa dibatasi. Tidak pula dapat disamakan dengan mengatakan satu kebaikan dilipat gandakan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat. Kesabaran itu pahalanya tanpa batas. (Syarah Riyadush Shalihin)

Ketiga : Allah mencintai orang yang sabar
Kecintaan Allah Ta’ala adalah pemberian yang agung bagi seorang hamba. Ketahuilah bahwa jika Allah telah mencintai seorang hamba maka  semua kebaikan akan datang kepadanya dari segala arah. Keburukan dan gangguan akan hilang  dan akan terwujud baginya kebahagiaan dunia dan akhirat.

Allah Ta’ala berfirman : Wallahu yuhibbush shaabiriin”  Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar. (Q.S Ali Imran 146)  
    
Keempat : Aman dari tipu daya musuh
Allah Ta’ala berfirman : “Wain tashbiruu wa tattaquu laa yadhurrukum kaiduhum syai-a.” Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu.  (Q.S  Ali Imran 120)

Imam Ibnu Katsir berkata : Allah mengajarkan orang-orang mukmin kiat agar selamat dari keburukan orang yang jahat dan tipu daya musuh dengan mengamalkan kesabaran dan ketakwaan serta tawakkal kepadanya. Dia adalah Mahamengetahui para musuh. Tidak ada daya dan kekuatan bagi mereka kecuali dengan pertolongan Allah.

Kelima : Mendapat pemberian yang paling baik
Rasulullah bersabda: “Tidaklah seorang insan diberikan pemberian yang lebih baik lagi luas dibanding kesabaran  (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim)
Imam Hasan al Bashri berkata : Sabar adalah perbendaharaan dari perbendaharaan kebaikan. Tidaklah Allah memberikannya kecuali kepada hamba-hamba yang mulia disisi-Nya (Minhajul Qashidin, Imam Ibnu Qudamah)

Keenam : Meraih derajat yang tinggi
Rasulullah bersabda : “Ada seseorang yang meraih kedudukan mulia disisi Allah bukan karena amalnya. Allah memberikan cobaan kepada dirinya atau hartanya atau anaknya kemudian Allah menjadikannya bersabar, hingga ia dapat meraih derajat yang mulia”  (H.R Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Itulah sebagian dari keutamaan yang akan diperoleh seorang hamba jika melazimkan sifat sabar dalam dirinya. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Wallahu A’lam. (262)




          

 




 































LAMBAN MENGAMALKAN ILMU




LAMBAN DALAM MENGAMALKAN ILMU

Oleh : Azwir B. Chaniago

Islam mewajibkan umatnya untuk terus menerus belajar ilmu terutama ilmu syar’i dan ilmu ilmu lainnya yang bermanfaat bagi umat Islam. Rasulullah bersabda : “Thalibul ‘ilmi faridhatun ‘ala kulli muslim”. Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim (H.R Imam Ahmad). Ini adalah salah satu dalil yang tegas tentang wajibnya belajar bagi seorang muslim baik laki laki maupun perempuan.

Ketahuilah bahwa ilmu dalam Islam terutama ilmu syar’i, bukan sebatas untuk diketahui tapi wajib untuk diamalkan.  Bukan sekedar penambah wawasan tapi haruslah tercermin dalam kehidupan sehari hari yaitu berupa kelurusan akidah, keistiqamahan dalam ibadah, kemuliaan akhlak dan kebaikan dalam bermuamalah. 

Sungguh  ilmu bisa menjadi bumerang  yang akan memberatkan seorang hamba di hari Kiamat jika tidak diamalkan. Rasulullah bersabda : “Tidak akan beranjak kedua kaki seorang hamba pada hari Kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya, apa yang telah diamalkan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan ke mana ia habiskan dan tentang tubuhnya untuk apa ia gunakan”  (H.R  Imam at Tirmidzi).

Namun demikian sangatlah banyak kita menyaksikan orang orang yang telah belajar dan tahu ilmu tapi lamban dalam pengamalannya. Diantara contohnya adalah berapa banyak saudara saudara kita yang telah belajar  ilmu tentang adab di masjid atau ilmu tentang adab jika  mendengar adzan tapi pengamalannya masih sangatlah kurang. Berapa banyak pula saudara saudara kita yang telah belajar misalnya tentang shalat shalat sunat dan keutamaannya, puasa sunat dan keutamaannya tapi pengamalannya juga sering masih tanda tanya.

Jika kita mencoba menelusuri kenapa  terjadi keadaan demikian maka akan ditemukan beberapa hal yang menjadi penyebab, antara lain adalah :
 
Pertama : Ini bisa terjadi bila seorang penuntut ilmu belum betul betul ikhlas dalam belajar ilmu. Oleh karena itu periksalah keikhlasan diri kita pada setiap akan hadir di majlis ilmu, pada saat hadir di majlis ilmu dan pada saat setelah hadir di majlis ilmu
Khatib al Bagdadi berkata : Kemudian aku wasiatkan kepadamu wahai para penuntut ilmu. Luruskan niatmu dalam menuntut ilmu dan bersungguh sungguhlah dalam mengamalkannya.

Kedua : Mungkin ketakwaan yang belum mantap sehingga tidak mendapat furqan, yaitu pembeda mana yang baik dan mana yang buruk. Allah berfirman :  “Yaa aiyuhal ladzina aamanuu in tattaquullaha  yaj’al lakum furqanan wa yukaffir ‘ankum saiyi-atikum wa yaghfirlakum, wallahu dzul fadhlil ‘azhiim” Wahai orang orang yang beriman. Jika kamu bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan furqan kepadamu dan menghapus segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa dosa) mu, Allah memiliki karunia yang besar. (Q.S al Anfaal 29)

Ketiga : Lingkungan yang tidak kondusif dan tidak mendorong seseorang untuk banyak melakukan amal shalih meskipun dia sudah tahu ilmunya. Ibnu Khaldun berkata : “Manusia adalah anak lingkungannya.” Maknanya adalah bahwa orang orang disekitarnyalah yang akan membentuk karakter atau kepribadian seseorang. 

Rasulullah sallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Al mar-u ‘ala diini khalilihi fal yanzhur ahadukum man yukhaalil” Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karibnya (H.R Imam at Tirmidzi, Abu Dawud dan Imam Ahmad)

Keempat : Dikalahkan oleh bujukan syaithan yang selalu mengajak manusia untuk menemaninya nanti di neraka. Mendorong manusia untuk berangan angan kosong yang akhirnya malas beribadah.  Syaithan akan berkata :” Ah tidak apa apa engkau malas beribadah sekarang. Amalmu yang lalu kan sudah banyak. Apakah engkau tidak melihat banyak orang yang juga kurang ibadahnya. Bukankah engkau masih muda dan masih ada kesempatan beribadah  yang banyak di lain waktu.  Bukankah Allah Mahapengampun.”

Sungguh Alllah telah mengingatkan  melalui firmanNya : “Ya’iduhum wa yumannihi, wamaa ya’iduhumusy syaithaanu illa ghuruuraa” (Syaithan itu) memberikan janji janji kepada mereka dan membangkitkan angan angan kosong pada mereka, pada hal syaithan itu hanya menjanjikan tipuan belaka kepada mereka. (Q.S an Nisaa’ 120).

Wallahu A’lam.  (261)

Minggu, 05 April 2015

DOA MINTA KESELAMATAN LEBIH UTAMA



DOA MINTA KESELAMATAN LEBIH UTAMA

Oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh manusia ini fakir, tidak memiliki apa apa. Semua adalah milik Allah. Hanya Allah tempat manusia berharap segala yang mereka butuhkan. Sungguh Allah Mahapengasih dan Mahapenyayang. Dia menyuruh kita meminta apa apa yang kita butuhkan dan Allah berjanji akan memenuhinya. Allah berjanji akan mengabulkan doa hamba hambaNya. Allah berfirman : “Wa qaala rabbukum ud’unii astajiblakum.” Dan Rabbmu berfirman : Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Aku perkenankan bagimu. (Q.S al Mu’min 60). 

Sungguh sangatlah banyak kebutuhan dan keinginan yang kita minta kepada Allah Ta’ala melalui doa doa kita. Tapi ketahuilah sebenarnya doa yang paling utama yang seharusnya kita mohon kepada Allah Ta’ala adalah doa minta keselamatan di dunia dan di akhirat. Bahkan doa minta keselamatan adalah puncak dari segala doa doa kita. 
Dari Anas, bahwa seseorang datang kepada Nabi lalu berkata : Ya Rasulullah, doa apa yang paling utama. Beliau menjawab : Mintalah keselamatan dan kebaikan di dunia dan di akhirat kepada Rabbmu. Lalu orang itu datang lagi pada hari kedua dan berkata : Ya Rasulullah, doa apa yang paling utama. Maka Rasulullah memberi jawaban yang sama dengan yang sebelumnya. Lalu orang itu datang kembali pada hari ketiga dengan pertanyaan yang sama. Kemudian beliau menjawab seperti sebelumnya. Beliau bersabda : Apabila diberi keselamatan di dunia dan di akhirat, sungguh beruntunglah kamu. (H.R Imam at Tirmidzi). 
Perhatikanlah saudaraku, bagaimana Rasulullah, dalam hadits ini, menyuruh seorang sahabat untuk berdoa dengan  permohonan  yang paling utama yaitu minta keselamatan dan kebaikan di dunia dan di akhirat. Demikian utamanya doa ini, sampai sampai Rasulullah memberi jawaban kepada sahabat yang bertanya dengan mengulanginya tiga kali.  
Ibnu Umar meriwayatkan Rasulullah bersabda : “Maa su-ilallahu syai-an ahabbu ilaihi min an-yus-alal ‘aaqiyah” Tak ada yang membuat Allah senang untuk dimintai, melebihi saat Dia dimintai keselamatan. (H.R Imam at Tirmidzi).
Diantara doa yang sangat sering dibaca oleh Rasulullah,  untuk memohon keselamatan dan kebaikan adalah sebagaimana kalimat doa yang disebut dalam surat al Baqarah ayat 201 yakni : Rabbanaa aatinaa fid dun-yaa hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar”. Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari adzab neraka.
Jadi teruslah bermohon kepada Allah agar diberikan keselamatan dan kebaikan di dunia dan di akhirat karena inilah puncak keberuntungan hidup bagi seorang hamba.
Wallahu A’lam.  (260)

  

TIGA MACAM NIKMAT



TIGA MACAM NIKMAT

Oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh tidak ada kenikmatan yang kita dapatkan kecuali dari Allah saja. Bukan dari selain-Nya. Allah berfirman : “Wamaa bikum min ni’matin fa minallahi” Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah. (Q.S an Nahl 53) 

Nikmat nikmat itu tidak terhitung jenis dan jumlahnya. Allah berfirman  : “Wain ta’uddu ni’matallahi laa tuhsuuhaa, innal insaana lazhaluumun kaffar” Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya, sungguh manusia itu sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).   Q.S Ibrahim 34.

Ketahuilah saudaraku bahwa nikmat Allah kepada kita tidak ada yang bisa disebut dengan nikmat yang kecil. Semuanya nikmat yang besar bahkan ada yang lebih besar dan sangat besar seperti nikmat Iman dan Islam.

Bahwa nikmat Allah Ta’ala kepada kita ada tiga bentuk  yaitu nikmat yang telah ada pada diri kita dan kita menyadarinya. Ada nikmat yang kita harapkan agar Allah memberikannya  dan  nikmat yang sudah ada pada kita tapi kita tidak menyadarinya.
Imam Ibnul Qayyim dalam Kitab Fawaidul Fawaid menceritakan tentang seorang Arab Badui berkunjung kepada Khalifah Harun al Rasyid, lalu dia mendoakan kebaikan bagi Khalifah. 

Pertama : Semoga Allah meneguhkan  nikmat nikmatnya yang telah ada pada anda dengan senanantiasa mensyukurinya.

Kedua : Semoga Allah mengabulkan tambahan nikmat yang anda harapkan dengan  berprasangka baik kepadanya

Ketiga : Semoga Allah juga meridhai nikmatnya yang ada pada anda namun anda tidak menyadarinya,  agar anda bersyukur.

Arab Badui ini membuat Khalifah kagum dengan doanya, dan berkata : Alangkah indahnya pembagian ini.

Wallahu A’lam.  (259)





Sabtu, 04 April 2015

ALLAH DEKAT DENGAN HAMBANYA



ALLAH DEKAT KEPADA HAMBANYA

Oleh : Azwir B. Chaniago

Tentang kewajiban shaum atau puasa dan yang berkaitan dengan shaum, difirmankan Allah dalam  al Qur an pada surat al Baqarah ayat 183, 184, 185 dan 187. Lalu dalam ayat 186 difirmankan Allah tentang berdoa. 

Allah berfirman :  “Wa idza sa-alaka ‘ibaadii ‘annii fa innii qariib. Iujibu da’watad daa’i idzaa da’aan. Fal yastijibuulii wal yu’minuubii la’allahum yarsyudun. Dan apabila hamba-Ku bertanya kepada engkau (Muhammad) tentang Aku maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku supaya memperoleh kebenaran.  (Q.S al Baqarah 186)
  
Barangkali ada yang bertanya kenapa surat al Baqarah ayat 186 yaitu tentang doa ditempatkan diantara ayat tentang shaum atau puasa, bukan sebelum atau sesudahnya. Bahkan musuh musuh Islam menganggap ini sebagai suatu bukti tidak teraturnya susunan ayat dalam al Qur an.

Bagi hamba hamba yang beriman tidaklah menganggap itu sebagai ketidak teraturan.   Sebagaimana dijelaskan oleh para ulama bahwa ayat 186 yaitu tentang doa adalah sangat kuat kaitannya dengan ayat ayat tentang shaum.
Imam Ibnu Katsir memberikan penjelasan tentang hal ini, bahwa sengaja Allah meletakkan ayat (186) ini ditengah tengah (diantara) ayat ayat tentang shaum yaitu sebagai tuntunan atau petunjuk supaya (hamba hamba Allah) rajin rajin berdoa ketika menyelesaikan bilangan puasa. Terutama pada tiap tiap berbuka puasa.
Abdullah bin Amr mengatakan bahwa dia mendengar Rasulullah bersabda : “Inna lish sha-imin ‘inda fitrihi da’watan maa turadduu” Sesungguhnya  bagi orang yang berpuasa ketika berbuka tersedia doa yang tidak akan ditolak (H.R Ibnu Majah dan Abu Dawud).
Dalam beberapa  Kitab Tafsir dijelaskan asbabun nuzul dari ayat ini, antara lain sebagimana disebut dalam Kitab Tafsir al Mulyassar yaitu : Seorang Arab Badui datang kepada Nabi seraya berkata, Apakah Rabb kami dekat sehingga kami  tidak memanggil-Nya dengan keras ?. Nabi diam maka Allah menurunkan ayat 186 surat al Baqarah ini.   
Prof. DR. Hamka dalam Kitab Tafsir al Azhar menjelaskan bahwa : Terang sekali ayat ini, tidak berbelit belit :
Pertama : Ayat ini menjelaskan bahwa Allah itu dekat. Dari hal dekatnya Rabb kepada kita maka tidaklah perlu kita menggunakan berbagai penafsiran. Sebab Dzat Yang Mahakuasa itu meliputi seluruh alam. Dan bagaimana keadaan yang sebenarnya tidaklah kuat diri kita membicarakannya.
Beliau menambahkan : (1) Dia tidaklah jauh dan lantaran tidak jauh dari sisimu maka tidak usah kamu bersorak keras keras memanggil namaNya. Ya Allah ! Ya Allah !. Tolonglah aku, bantulah aku. Mengapa (berdoa) dengan keras keras padahal Dia bukanlah tidak mendengar. (2) Lantaran Dia dekat maka tidaklah perlu memakai orang lain sebagai perantara atau wasilah. Allah menyuruh kita langsung (memohon) kepada-Nya. Tidaklah sedikitpun terbayang bahwa permohonan baru dikabulkan dengan perantaraan Syaikh Anu atau Syaiyid Fulan. 
Kedua : Segala permohonan dari hamba-Nya yang memohon akan mendapat perhatian yang penuh dari-Nya. Tidak ada satu permohonanpun yang bagai air jatuh ke pasir. Hilang sia sia karena tidak didengar atau tidak dipedulikan.
Ketiga : Supaya permohonan itu mendapat perhatian Illahi, hendaklah si hamba yang memohon itu menyambut pula terlebih dahulu bimbingan dan petunjuk yang diberikan Allah kepadanya.
Keempat : Dan amat penting, yaitu hendaklah percaya benar benar. Beriman benar benar kepada Allah.
Kelima : Dengan sebab menyambut seruan Allah dan percaya penuh kepada Allah maka si hamba akan diberikan kecerdikan. Si hamba akan diberi petunjuk jalan mana yang akan ditempuh hingga tidak tersesat dan tidak berputus asa.
DR. Hamka menambahkan dalam Kitab Tafsir al Azhar bahwa : Kalau seandainya kata dekat kita perluas lagi dapatlah kita pahamkan bahwa Allah dekat dan kitapun wajib mendekatkan diri kepada-Nya. Kalau seruan-Nya tidak disambut dan kepercayaan kepada-Nya tidak penuh, betapapun kita mencari-Nya dia akan tetap jauh. Bukan Dia yang jauh tetapi kita sendiri telah amat jauh.
Oleh karena itu maka orang yang tidak menyambut seruan Allah dan yang tidak membina imannya kepada Allah, orang yang bermaksiat atau mempersekutukan Nya dengan yang lain, kian lama kian jauhlah dia dari Allah walaupun Allah tetap berada di dekatnya. Lantaran itu susahlah permohonannya akan terkabul.
Menyambut seruan Allah dan iman kepada-Nya adalah jalan satu satunya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Apabila seorang hamba sudah dekat (kepada-Nya) maka Allah berjanji akan memberikan petunjuk sehingga mereka menjadi orang yang cerdik dan arif bijaksana.
Wallahu A’lam. (258)