Sabtu, 09 September 2023

PERBANYAK BERBUAT BAIK KEPADA SESAMA

 

PERBANYAK BERBUAT BAIK KEPADA SESAMA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sunguh, Allah telah menyuruh manusia untuk berbuat kebaikan dan  juga melarang manusia untuk berbuat keji dan mungkar. Allah Ta'ala berfirman :

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (Q.S an Nahal 90).

Sungguh Allah Ta'ala SANGAT BANYAK  berbuat baik kepada hamba hamba-Nya dan Allah memerintahkannya untuk berbuat baik pula. Allah Ta'ala berfirman : 

وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ

Berbuat  baiklah (kepada manusia) sebagai mana Allah telah berbuat baik kepadamu. (Q.S al Qashash 77).

Setiap kebaikan yang dilakukan seseorang pastilah kebaikan itu akan  kembali kepadanya. Jika seseorang suka menolong pasti akan ditolong, jika seseorang suka memaafkan pasti akan dimaafkan. Jika seseorang suka memudahkan urusan orang lain maka pada suatu waktu dia mendapat kesulitan pasti akan ada saja yang menolongnya, insya Allah.  Begitupun sebaliknya.  Allah Ta'ala berfirman : 

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ

Jika kamu berbuat baik (berarti kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat buruk , maka (keburukan) itu bagi dirimu sendiri. (Q.S al Isra' 7).

Dan juga AllahTa'ala  berfirman : 

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula) Q.S ar Rahmaan 60.

Selain itu, ketahuilah bahwa sangatlah banyak keutamaan yang akan didapat oleh orang orang yang berbuat baik, diantaranya adalah :

Pertama : Mendapat kecintaan Allah Ta'ala.

Sungguh Allah Ta’ala mencintai orang orang yang berbuat baik yaitu sebagaimana firman-Nya :

فَـَٔاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ ثَوَابَ ٱلدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ ٱلْءَاخِرَةِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

Maka Allah memberi mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan ALLAH MENCINTAI ORANG ORANG YANG BERBUAT BAIK.  (Q.S Ali Imran 148).

Kedua : Allah Ta’ala tidak menyia nyiakan pahala berbuat baik :

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا

Sungguh, mereka yang beriman dan beramal shalih, Kami benar benar TIDAK AKAN MENYIA NYIAKAN pahala orang yang mengerjakan perbuatan yang baik itu. (Q.S al Kahfi 30).

Ketiga : Kebaikan sekecil apapun pasti bernilai.

Sungguh, Allah Ta’ala berjanji akan memberi balasan perbuatan sebesar dzarrah, sebagaimana firman-Nya :

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ     

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun niscaya dia akan  melihat (balasan) nya.

Oleh karena itu hamba hamba hendaklah bersegera melakukan perbuatan baik diantaranya adalah membantu orang orang yang kekurangan dan orang orang yang lemah. Ketahuilah bahwa ketika seseorang bertemu orang orang yang dalam kesusahan dan membutuhkan bantuan bersegeralah dan jangan  ragu untuk memberikan bantuan berupa harta dan yang lainnya sesuai kemampuan.

Sungguh, kita tidak mengetahui kebaikan mana yang akan memberatkan timbangan amal kita di akhirat kelak. Allah Ta'ala berfirman :

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا ۖ وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَاسِبِينَ

Dan Kami akan tegakkan timbangan yang adil pada hari Kiamat, sehingga tidak seorang pun yang dirugikan walaupun sedikit. Jika amalan itu hanya seberat biji sawi pun, pasti Kami akan mendatangkan (pahala) nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan. (Q.S  al Anbiya’ 47).

Wallahu A'lam. (3.084)

 

 

Jumat, 08 September 2023

MEMBINA AKHLAK DAN KARAKTER DENGAN AL QUR AN

 

MEMBINA AKHLAK DAN  KARAKTER DENGAN AL QUR AN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh Allah Ta'ala telah menurunkan al Qur an sebagai PETUNJUK DAN RAHMAT BAGI MANUSIA KEPADA JALAN YANG LURUS. Allah Ta'ala berfirman :

وَلَقَدْ جِئْنَٰهُم بِكِتَٰبٍ فَصَّلْنَٰهُ عَلَىٰ عِلْمٍ هُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Sungguh, Kami telah mendatangkan Kitab (al Qur an) kepada mereka, yang Kami jelaskan atas dasar pengetahuan SEBAGAI PETUNJUK DAN RAHMAT bagi orang orang yang beriman.  (Q.S al A'raf 52).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa'di berkata : Yakni dengan al Qur an orang orang beriman : (1) Mendapat hidayah atau petunjuk untuk menjauh dari kesesatan. (2)  Penjelasan tentang yang haq dan yang bathil. Dengan itu pula orang orang beriman mendapatkan rahmat yaitu kebahagian di dunia dan diakhirat. (Kitab Tafsir Taisir Karimir Rahman) 

Sungguh, tidak ada satu petunjuk untuk keselamatan manusia di dunia dan di akhirat  yang terluput dari al Qur an termasuk petunjuk UNTUK MEMBINA AKHLAK DAN MEMBENTUK KARAKTER SEORANG HAMBA.

Lalu bagaimana kaitan akhlak dan karakter. Menurut para pakar karakter adalah sesuatu yang ada pada diri seseorang  yaitu berupa sifat sifat kejiwaan terutama berkaitan dengan akhlak atau budi pekerti YANG MEMBEDAKAN SESEORANG DENGAN YANG LAIN.

Oleh karena itu, hamba hamba Allah  sangat dianjurkan untuk terus mempelajari al Qur an karena KARAKTER DAN AKHLAK TERBAIK SESEORANG MESTILAH BERSANDAR KEPADA AL QUR AN, diantaranya :   

Pertama : Orang  yang menyeru kepada kebenaran. Allah Ta'ala berfirman :

وَمِمَّنْ خَلَقْنَآ أُمَّةٌ يَهْدُونَ بِٱلْحَقِّ وَبِهِۦ يَعْدِلُونَ

Dan diantara orang yang telah Kami ciptakan ada manusia yang memberi petunjuk dengan dasar kebenaran dan dengan petunjuk itu (pula) mereka berlaku adil (Q.S al A'raf 181).

Kedua : Orang  yang mencintai Allah dan Allah pun mencintai mereka. Allah Ta'ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ 

Wahai orang-orang yang beriman !.  Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya. (Q.S  al Maidah 54).

Ketiga : Orang orang yang saling melindungi dan saling mengingatkan satu sama lain serta taat menjalankan ajaran agama. Allah Ta'ala berfirman :

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ 

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. (Q.S at Taubah 71).

Keempat : Orang orang  yang memenuhi janjinya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Allah Ta'ala berfirman :

الَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَلَا يَنْقُضُونَ الْمِيثَاقَ

(Yaitu) orang-orang yang memenuhi  janji (kepada) Allah dan tidak merusak perjanjian. (Q.S ar Ra’du  20).

Itulah sebagian karakter atau akhlak orang orang beriman yang disandarkan kepada petunjuk Allah Ta'ala dan Rasul-Nya. Karakter dan akhlak  itulah yang akan menyelamatkan diri setiap hamba di dunia dan di akhirat serta memiliki mental juang dan jihad dalam membela agama Islam. Wallahu A'lam. (3.083)

 

Senin, 04 September 2023

PILIH SAHABAT DAN BERSAHABATLAH KARENA ALLAH

 

PILIH SAHABAT DAN BERSAHABATLAH KARENA ALLAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Manusia adalah makhluk sosial yang hidup berkelompok dan bersahabat satu sama lainnya. Tetapi ketahuilah bahwa ketika bersahabat maka janganlah bersahabat dekat atau bersahabat karib dengan semua orang.

Ketika seseorang tidak memilih sahabat karibnya maka akan mendatangkan penyesalan di akhirat kelak yaitu sebagaimana firman-Nya :  

يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا

لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا

Wahai, celaka aku !. Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si Fulan itu teman karib (ku). Sungguh dia telah menyesatkan aku dari peringatan (al Qur an) ketika (al Qur an) itu telah datang kepadaku. Dan syaithan memang pengkhianat manusia. (Q.S al Furqan 28-29).

Oleh karena itu sebelum bersahabat karib dengan seseorang maka perhatikanlah nasehat Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam dalam perkara ini :

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu,  seseorang di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman akrab. (H.R Abu Dawud dan at Tirmidzi).

Imam Ibnu Qudamah al Maqdisi memberikan nasehat tentang memilih teman (sahabat atau teman akrab). Beliau berkata :   Secara umum, hendaknya orang yang engkau pilih menjadi sahabat memiliki lima sifat berikut : (1) Orang yang berakal. (2)  Memiliki akhlak yang baik, (3) Bukan orang fasik (yang banyak berbuat dosa). (4) Bukan ahli bid’ah (yang mengada ada dalam agama) dan  (5)  Bukan orang yang rakus dengan dunia. (Mukhtashar Minhajul Qashidin) 

Selain itu, ketahuilah bahwa ketika salah dalam memilih sahabat  bisa menimbulkan PENYESALAN DI AKHIRAT KELAK. Allah Ta'ala telah mengingatkan dalam firman-Nya :

الأخلاء يومئذ بعضهم لبعض عدو إلا المتقين 

Teman-teman akrab pada hari itu (hari Kiamat) sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali (persahabatan) orang-orang yang bertakwa. (Q.S az Zukhruf 67).

Sewaktu di dunia berkawan akrab dan saling setia tetapi pada hari kemudian di akhirat saling bermusuhan. Kenapa bisa begitu ?. Syaikh  Abdurrahman bin Nashir as Sa'di berkata : Karena persahabatan mereka dan kecintaan mereka sewaktu di dunia dibangun bukan karena Allah sehingga berbalik menjadi permusuhan pada hari kiamat. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Sungguh, persahabatan yang dibangun untuk mencari keridhaan Allah akan terus berkelanjutan sampai hari kiamat dan membawa kebaikan yang besar di akhirat hingga ke surga. Adapun persahabatan yang dijalin karena kepentingan  dunia, mencari keridhaan manusia, menghalalkan segala cara, kelak di akhirat akan saling menyalahkan dan berujung kepada penyesalan dan kesengsaraan.

Wallahu A'lam. (3.082)                               

HAMBA HAMBA ALLAH HARUS BERUSAHA UNTUK BISA BERSABAR

 

HAMBA HAMBA ALLAH HARUS BERUSAHA UNTUK BISA BERSABAR

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Salah satu sikap yang harus dipelihara oleh hamba hamba Allah dalam menjalani hidup didunia ini ADALAH SIFAT SABAR. Kenapa ?, karena hidup di dunia ini tidak terbebas dari berbagai ujian dan cobaan berupa musibah baik terhadap diri, keluarga, harta dan yang lainnya. Sungguh memiliki sifat sabar tidaklah mudah sebagaimana mudah mengucapkannya kecuali bagi orang orang mendapat petunjuk.

Jadi sabar itu adalah berat karena harus sungguh sungguh menahan diri dari dari sesuatu yang tidak menyenangkan. Ibnu Rajab al Hambali berkata : Ini sejalan dengan makna suatu kaidah yang besar yaitu al jaza-u min jinsil amal, balasan yang didapat seorang hamba adalah sesuai dengan jenis (berat) perbuatannya. (Jami’ul Ulum wal Hikam).

Namun demikian ketahuilah bahwa ketika seseorang berusaha sungguh sungguh untuk mendapatkannya maka Allah Ta'ala akan menjadikannya bisa bersabar. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda : 

وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنْ الصَّبْرِ

Barangsiapa yang berusaha menjaga diri, maka Allah menjaganya, barangsiapa yang berusaha merasa cukup, maka Allah mencukupinya. Barangsiapa yang BERUSAHA BERSABAR, maka Allah Ta'ala  akan menjadikannya bisa bersabar dan tidak ada seorang pun yang dianugerahi sesuatu yang melebihi kesabaran. (H.R Imam Bukhari).

Dari zhahir hadits ini juga dapat diambil pelajaran bahwa ternyata bahwa berbagai anugerah karunia tidaklah melebihi karunia kesabaran.

Sungguh sangatlah banyak keutamaan yang diperoleh hamba hamba Allah yang bersabar terhadap setiap ujian dan cobaan, diantaranya adalah mendapat pahala tanpa batas.  Allah Ta'ala berfirman :

قُلۡ يٰعِبَادِ الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوۡا رَبَّكُمۡ‌ ؕ لِلَّذِيۡنَ اَحۡسَنُوۡا فِىۡ هٰذِهِ الدُّنۡيَا حَسَنَةٌ ‌ ؕ وَاَرۡضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌ ‌ ؕ اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوۡنَ اَجۡرَهُمۡ بِغَيۡرِ حِسَابٍ

Katakanlah (Muhammad) : Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman !. Bertakwalah kepada Rabbmu. Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang DISEMPURNAKAN PAHALANYA TANPA BATAS. (Q.S az Zumar 10).

Syaikh Utsaimin berkata : Adapun kesabaran, pahalanya berlipat ganda tidak terbatas. Ini menunjukkan bahwa ganjarannya sangat besar sekali hingga tak mungkin bagi seorang insan untuk membayangkan pahalanya karena tidak bisa dihitung dengan bilangan. 

Bahkan juga, pahala sabar termasuk pahala yang maklum diisi Allah tanpa bisa dibatasi. Tidak pula dapat disamakan dengan mengatakan satu kebaikan dilipat gandakan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat.  Kesabaran itu pahalanya tanpa batas. (Syarah Riyadush Shalihin)

Oleh karena itu hamba hamba Allah hendaklah tetap berusaha untuk bersabar ketika didera oleh berbagai keadaan yang tidak menyenangkan. Selain itu mohonlah pertolongan kepada Allah Ta'ala agar mampu bersabar dengan sebenar benarnya. Diantara doa yang diajarkan Allah Ta'ala untuk memohon diberi kesabaran adalah sebagaimana disebutkan dalam surat al Baqarah ayat 250 :

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Rabbanaa afrigh alainaa shabra wa tsabbit aqdaamanaa wanshurnaa alal qaumil kaafiriin

Ya Rabb  kami, limpahkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A'lam. (3.081)

 


 

Sabtu, 02 September 2023

DUNIA DILAKNAT TERKECUALI EMPAT PERKARA

 

DUNIA DILAKNAT TERKECUALI EMPAT PERKARA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh sangat banyak manusia di zaman ini yang berjuang keras bahkan seperti racing atau balapan untuk mendapatkan dunia dan segala yang menghiasinya.  Seolah olah semua perhiasan dunia ingin didapatkan, ingin dikumpulkan seperti pangkat, jabatan, popularitas, harta dan yang lainnya.

Ketahuilah bahwa dunia itu hanya permainan dan senda gurau. Allah Ta’ala berfirman :

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Dan tidaklah kehidupan dunia kecuali hanyalah permainan dan senda gurau belaka. Dan sungguh negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Apakah kalian tidak mau berpikir ?. (QS. Al-An’am: 32).

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang hakikat kehidupan dunia dan akhirat. Hakikat kehidupan dunia adalah sekadar permainan dan senda gurau, permainan dengan anggota badan dan senda gurau dalam masalah hati .

Hati akan menjadi bingung dan bimbang karena dunia. Jiwa pun akan berusaha memiliki sesuatu yang dicintai serta memiliki keinginan yang kuat di dalamnya. Akhirnya akan menyebabkan seorang hamba sibuk dengan dunia SEPERTI ANAK ANAK YANG SIBUK DENGAN MAINANNYA. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Bahkan Allah Ta’ala mengingatkan pula bahwa dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya yaitu sebagaimana firman-Nya :

وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ

Kehidupan dunia adalah kesenangan yang memperdaya. 
(Q.S Ali Imran 185).

Selain itu ketahuilah bahwa TERNYATA DUNIA INI DILAKNAT kecuali empat perkara sebagai mana dijelaskan Rasulullah Salallahu 'alahi Wasallam dalam sabda beliau :

 أَلَا إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُوْنَةٌ مَلْعُوْنٌ مَا فِـيْهَا إِلَّا ذِكْرُ اللهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِـمٌ أَوْ مُـتَـعَلِّـمٌ

Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu dilaknat dan dilaknat apa yang ada didalamnya, kecuali (1) Dzikir kepada Allah dan (2) Ketaatan kepada-Nya, (3) Orang orang yang berilmu atau (4) Orang yang mempelajari ilmu. (H.R Imam at Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Abdil Barr. Hadits ini Hasan).

Berkaitan dengan hadits ini, Syaikh Sulaiman ar Ruhaili berkata : Para ulama membagi dunia menjadi dua :

(1) Bagian yang baik, diberkahi, tenang dan terpuji yaitu mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala maka niscaya kehidupan menjadi baik. Meskipun dia menikmati kehidupan dunia tetapi tidak membuat dirinya jauh dari Allah. Inilah kehidupan yang baik.

(2) Kehidupan yang sia sia yaitu menjuhkannya dari Allah Ta'ala. Berkata para ulama bahwa makna dunia dilaknat oleh Allah yaitu kehidupan dunia yang jauh dari Allah Ta'ala. Kenapa ?, karena kehidupan tersebut membuat dia jauh dari Allah. Adapun kalau kehidupan itu membuat dia semakin dekat kepada Allah Ta'ala yaitu dengan mengingat-Nya dan mempelajari ilmu itulah kehidupan yang baik. Intinya kehidupan yang tidak menjauhkannya dari Allah Ta'ala itulah kehidupan yang baik. (Arofta TV).

Wallahu A'lam. (3.080).  

 

   

 

Jumat, 01 September 2023

TAK BOLEH MERASA RIDHA TERHADAP KEMUNGKARAN

 

TAK BOLEH MERASA RIDHA TERHADAP KEMUNGKARAN

Disusun oleh : Azwir B.Chaniago

Bagaimana semestinya sikap orang orang beriman ketika melihat kemungkaran telah dijelaskan Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam dalam sabda beliau : 

عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ

Dari Abu Sa’id al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Siapa yang melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman. (H.R Imam Muslim).

Dari zhahir ini kita mengetahui bahwa TIDAK BOLEH RIDHA DENGAN KEMUNGKARAN, paling tidak seorang beriman harus menolaknya dalam hatinya dengan menimbulkan rasa bencinya.

Jika seseorang tak mencegah kemungkaran semampunya yaitu minimal dengan hatinya (membenci kmaksiat dan kemungkaran) maka akan mendapat laknat  yaitu dijauhkan dari rahmat atau kasih sayang Allah Ta’ala. Sungguh Allah Ta’ala telah menjelaskan bagaimana orang orang Bani Israil dilaknat karena tidak melarang perbuatan mungkar di antara mereka yaitu sebagaimana firman-Nya : 

لُعِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ عَلٰى لِسَانِ دَاوٗدَ وَعِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَۗ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ

كَانُوْا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُّنْكَرٍ فَعَلُوْهُۗ لَبِئْسَ مَا كَانُوْا يَفْعَلُوْنَ

Telah dilaknat orang orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain tidak melarang perbuatan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amatlah buruk apa yang selalu mereka perbuat itu. (Q.S al Maidah 78-79).

Syaikh as Sa'di berkata : Artinya, mereka melakukan kemungkaran tetapi sebagian dari mereka tidak melarang sebagian yang lain MAKA PELAKU DAN YANG LAINNYA YANG MENDIAMKAN PADAHAL DIA MAMPU MENGINGKARINYA MAKA (KEDUDUKANNYA) ADALAH SAMA. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Ketahuilah bahwa adzab Allah juga akan menimpa orang orang yang tak melakukan kemungkaran karena mereka tak berusaha mencegah kemungkaran. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda : 

«إِنَّ اللهَ لاَ يُعَذِّبُ الْعَامَةَ بِعَمَلِ الْخَاصَةِ حَتَّى يَرَوْا الْمُنْكَرَ بَيْنَ ظَهْرَانِيْهِمْ وَهُمْ قَادِرُوْنَ عَلَى أَنْ يُنْكِرُوْهُ فَلاَ يُنْكِرُوْهُ فَإِذَا فَعَلُوْا ذَلِكَ عَذَّبَ اللهُ الْعَامَةَ وَالْخَاصَةَ»

Sesungguhnya Allah tidak akan menyiksa masyarakat umum karena perbuatan orang-orang tertentu hingga masyarakat umum melihat kemungkaran di hadapan mereka sedang mereka mampu mengingkarinya tetapi mereka tidak mengingkarinya. Jika mereka berbuat demikian maka Allah akan menyiksa masyarakat umum dan orang-orang tertentu itu. (H.R Imam Ahmad dan ath Thabrani).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : Siapa saja yang ridha terhadap perbuatan suatu kaum maka dia akan dikumpulkan bersama mereka, seperti istri Nabi Luth dikumpulkan bersama mereka padahal dia tidak pernah melakukan homoseksual, karena hal itu memang tidak bisa dilakukan oleh wanita, tetapi ketika dia ridha dengan perbuatan mereka maka adzabpun menimpanya bersama mereka.  (Majmu’ul Fatawa).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa juga menceritakan satu kisah yang terjadi pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, yakni :  (Pada suatu kali) dilaporkan kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz sekelompok orang yang tertangkap sedang minum khamar. Beliau lalu memerintahkan agar menghukum semua mereka dengan hukum cambuk. 

Lalu ada yang mengatakan : Diantara mereka (ada yang tidak ikut minum khamer, mabuk mabukan) karena ada yang sedang berpuasa. Umar bin Abdul Aziz berkata : Jadikan dia sebagai orang yang pertama kali mendapatkan hukuman cambuk diantara mereka. 

Kemudian Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkata : Tidakkah kalian mendengar  Allah Ta'ala telah berfirman, lalu beliau membacakan surat an Nisa’ ayat 140 : 

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِى ٱلْكِتَٰبِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا۟ مَعَهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا۟ فِى حَدِيثٍ غَيْرِهِۦٓ ۚ إِنَّكُمْ إِذًا مِّثْلُهُمْ

Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka.

Wallahu A'lam. (3.079).

 

 

 

JANGAN BERLEBIHAN DALAM MENCINTAI HARTA

 

JANGAN BERLEBIHAN DALAM MENCINTAI HARTA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Salah satu tabiat manusia umumnya adalah mencintai harta. Tetapi ketahuilah bahwa seorang hamba mesti menjaga diri terhadap harta. Sangat tidak dianjurkan untuk mencintai harta dunia secara berlebihan sehingga membuat lupa kepada urusan akhirat.

Tentang kecintaan manusia terhadap harta, dijelaskan Allah Ta'ala dalam firman-Nya :

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa wanita wanita, anak anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. (Q.S Ali Imran 14).

Syaikh as Sa’di berkata : Allah Ta’ala mengabarkan bahwa manusia dihiasi dengan perkara perkara (harta) tersebut hingga mereka meliriknya dengan mata mereka dan mereka ilusikan manisnya dalam hati mereka. Jiwa jiwa mereka terbuai dalam kenikmatan kenikmatannya. Pada hal itu semua hanyalah kenikmatan yang sedikit yang akan lenyap dalam waktu sekejap. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Rasulullah juga mengingatkan tentang  fitnah harta. Beliau bersabda :  

لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةٌ وَفِتْنَةُ أُمَّتِيَ الْمَالُ 

Sesungguhnya setiap umat itu ada fitnahnya dan fitnah umatku ada pada harta. (H.R at Tirmidzi, Hasan Shahih).

Selanjutnya, mari kita ikuti bagaimana nasehat ulama tentang kecenderungan manusia terhadap harta. Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata : Mencintai harta itu merupakan tabiat manusia. Ini sebagaimana djelaskan Allah Ta’ala dalam firman-Nya : “Dan sesungguhnya dia  sangat bakhil karena cintanya kepada harta”.  (Q.S al ‘Adiyaat 8).

Juga berdasarkan firman Allah : “Dan kalian mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan”.   (Q.S al Fajr 20) 

Namun jika kecintaan seseorang terhadap harta itu dengan tujuan mengembangkan harta itu agar bisa melakukan amal shalih maka kecintaan itu menjadi baik karena harta itu menjadi terbaik ketika berada pada tangan orang yang shalih. Betapa banyak orang yang Allah Ta’ala anugerahkan kekayaan kepada mereka lalu harta mereka itu menjadi sesuatu yang bermanfaat dalam berjihad di jalan Allah, penyebaran ilmu, menolong orang yang sedang membutuhkan bantuan dan dalam berbagai perbuatan baik lainnya. (Fatawa Nuur ‘alad Darb).

Syaikh Utsaimin juga mengingatkan : Hampir tidak ada seorang pun yang selamat dari rasa cinta yang dalam terhadap harta. Tetapi tidak semua orang mencintai harta dengan berlebihan. Sebagian ada yang menyukai harta sekedar untuk mencukupi kebutuhan sehari hari agar dapat beribadah kepada Allah. Sebagian lagi ada yang ingin lebih dari yang demikian dan sebagian lagi menginginkan harta yang berlimpah ruah. 

Kesimpulannya, kata beliau, bahwa setiap manusia menyukai (mencintai) kebaikan (harta), namun kecintaan tersebut bertingkat tingkat. Lain orang maka lain pula kadar kecintaannya kepada harta. (Tafsir Juz ‘Amma)

Oleh karena itu, hamba hamba Allah jangan berlebihan mencintai dunia karena bisa melalaikan yang lebih utama yaitu mencintai keselamatan di negeri akhirat. Wallahu A'lam. (3.078)